4 pesantren di jombang

Pesantren Mamba’ul Ma’arif (Denanyar)

Denanyar merupakan nama sebuah desa yang terletak kurang lebih satu kilo di sebelah barat kota Jombang. Di sinilah letak pesantren Mambaul Ma’arif didirikan pada 1917 oleh Kiai Bisri Syansuri. Dibanding tiga pesantren besar lainnya (Tambak Beras, Tebu Ireng dan Rejoso), pesantren Denanyar memang yang paling muda. Karena pesantren ini dibangun setelah Kiai Bisri lebih dahulu mengajar di pesantren Tambak Beras, yang diasuh oleh mertuanya, Kiai Hasbullah, ayah dari Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

Kiai Bisri sendiri lahir di Pati, Jawa Tengah pada 18 September 1886. Putera ketiga dari lima bersaudara, dari pasangan Kiai Syansuri dan Nyai Mariah. Sejak santri, ia berkarib dengan santri lainnya, dari Tambak Beras, Abdul Wahab dan berguru pada beberapa kiai yang sama. Mulai dari Kiai Cholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng, hingga belajar ke beberapa ulama yang sama pula di Makkah. Bahkan hingga konsolidasi ke kiai-kiai se-Jawa-Madura untuk mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama pun mereka bersama-sama.

Kiai pecinta fiqh sepanjang hayat ini semenjak belia bersama-sama para kiai muda saat itu antara lain KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansyur, KH. Dahlan Kebondalem, dan KH. Ridwan, membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran) dan sekolah agama dengan nama yang sama, yaitu Madrasah Taswirul Afkar. Ia pun menjadi peserta aktif dalam musyawarah hukum agama, yang sering berlangsung di antara lingkungan para kiai pesantren. Dan tetap berlangsung hingga kini dengan sebutan bahtsul masail.

Pada awalnya pesantren Mamba’ul Ma’arif hanya dikhususkan bagi santri putra. Karena pada saat itu, tidak lazim, ada santri putri mondok di pesantren. Namun, Kiai Bisri akhirnya dengan seizin gurunya mulai membuka pesantren untuk santri putri pada tahun 1921. Inilah pesantren putri pertama kali di Indonesia. Selanjutnya, dua tahun kemudian, yaitu mulai tahun 1923, Kiai Bisri membuka sistem pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) Mambaul Huda. Yang selanjutnya berganti nama menjadi Mambaul Maarif. Mulai saat itu, pesantren Denanyar juga dikenal dengan nama pesantren Mamba’ul Ma’arif.

Sebagai kelanjutan dari sistem pendidikan dasar, maka pada tahun 1925, dibukalah Madrasah Tsanawiyah Putra. Disusul dengan Madrasah Tsanawiyah Putri pada tahun 1958. Kemudian, pada tahun 1962 dibuka Madrasah Aliyah Putra Putri. Akhirnya berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 24 tahun1969, lembaga Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah yang sebelumnya masih berstatus swasta menjadi negeri, yaitu MTsN dan MAN.

Dan sebagai upaya untuk terus meningkatkan pengembangan institusi pendidikan masa kini dan masa depan, maka didirikanlah Madrasah Tsanawiyah Mambaul Ma’arif (status swasta) tahun 1993. Kemudian Madrasah Aliyah Mambaul Ma’arif (status swasta) pada tahun 2000. Dengan menggunakan sistem kurikulum terpadu yang mengacu pada kurikulum tetap dan kurikulum pesantren dengan spesifikasi ilmu-ilmu agama, bahasa Arab, bahasa Inggris. Ada juga sekolah kejuruan dengan nama SMK Bisri Syansuri yang mulai dibuka pada tahun 1999.

Di samping itu, Yayasan Mamba’ul Ma’arif juga mendirikan institusi pendidikan penunjang sebagai peletak tata nilai Islam dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Di antaranya: Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyah serta lembaga Bahasa Arab dan Inggris (LBAI).

Pesantren Denanyar tercatat pernah juga mempunyai Ma’had Aly dan MAPK/MAKN. Bahkan santri-santri dari MAPK/MAKN seringkali mengharumkan nama Pesantren dengan berbagai torehan prestasi di tingkat daerah maupun nasional.

Kini banyak alumni Pesantren Denanyar yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia serta aktif menjadi tokoh di tengah-tengah masyarakat. Baik di tingkat lokal maupun nasional. Dan yang menjadi penting adalah dari pesantren Denanyar inilah terbukti bahwa pesantren sejak awal mendidik, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Keduanya pun bisa berperan sama baik di berbagai kehidupan masyarakat tanpa membeda-bedakannya.

(http://muktamar.nu.or.id/pesantren-mambaul-maarif-pesantren-denanyar/)

Pesantren Tebuireng

Tebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim.

Pesantren Tebuireng berawal dari sebidang tanah milik seorang dalang terkenal di dusun Tebuireng yang dibeli oleh Kiai Hasyim. Lalu pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H (bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M), Kiai Hasyim mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu (Jawa: tratak), berukuran 6 X 8 meter. Bangunan sederhana itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat shalat (mushalla). Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Kehadiran Kiai Hasyim di Tebuireng tidak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat. Gangguan, fitnah, hingga ancaman datang bertubi-tubi. Tidak hanya Kiai Hasyim yang diganggu, para santripun sering diteror. Teror itu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak menyukai kehadiran pesantren di Tebuireng. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berupa pelemparan batu, kayu, atau penusukan senjata tajam ke dinding tratak. Para santri seringkali harus tidur bergerombol di tengah-tengah ruangan, karena takut tertusuk benda tajam. Gangguan juga dilakukan di luar pondok, dengan mengancam para santri agar meninggalkan pengaruh Kiai Hasyim. Gangguan-gangguan tersebut berlangsung selama dua setengah tahun, sehingga para santri disiagakan untuk berjaga secara bergiliran.

Ketika gangguan semakin membahayakan dan menghalangi sejumlah aktifitas santri, Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santri untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, guna menamui Kiai Shaleh Benda, Kiai Abdullah Pamuragan, Kiai Syamsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Keempatnya merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan kanuragan selama kurang lebih 8 bulan. Selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif dalam menulis. Karena itu, Kiai Hasyim menjadi figur yang amat dibutuhkan masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi sebagai petani.

Dengan tumbuhnya pengakuan masyarakat, para santri yang datang berguru kepada Kiai Hasyim bertambah banyak dan datang dari berbagai daerah baik di Jawa maupun Madura. Bermula dari 28 orang santri pada tahun 1899, kemudian menjadi 200 orang pada tahun 1910, dan 10 tahun berikutnya melonjak menjadi 2000-an orang, sebagian di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Pembangunan dan perluasan pondok pun ditingkatkan, termasuk peningkatan kegiatan pendidikan untuk menguasai kitab kuning.

Bisa dikatakan, Pesantren Tebuireng pada masa Kiai Hasyim merupakan pusatnya pesantren di tanah Jawa. Dan Kiai Hasyim merupakan kiainya para kiai. Terbukti, ketika bulan Ramadhan tiba, para kiai dari berbagai penjuru tanah Jawa dan Madura datang ke Tebuireng untuk ikut berpuasa dan mengaji Kitab Shahih Bukhari-Muslim.

Keberadaan Pesantren Tebuireng akhirnya berimplikasi pada perubahan sikap dan kebiasaan hidup masyarakat sekitar. Bahkan dalam perkembangannya, Pesantren Tebuireng tidak saja dianggap sebagai pusat pendidikan keagamaan, melainkan juga sebagai pusat kegiatan politik menentang penjajah. Dari pesantren Tebuireng lahir partai-partai besar Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Masyumi (Majelis Syuro A’la Indonesia), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), serta laskar-laskar perjuangan seperti Sabilillah, Hizbullah, dan sebagainya.

Masa-masa menjelang kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan nasional baik Bung Karno, Tan Malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu. 

Pada awal berdirinya, materi pelajaran yang diajarkan di Tebuireng hanya berupa materi keagamaan dengan sistem sorogan dan bandongan. Namun seiring perkembangan waktu, sistem pengajaran secara bertahap dibenahi, di antaranya dengan menambah kelas musyawarah sebagai kelas tertinggi, lalu pengenalan sistem klasikal (madrasah) tahun 1919, kemudian pendirian Madrasah Nidzamiyah yang di dalamnya diajarkan materi pengetahuan umum, tahun 1933. Di sinilah peran penting KH. Wahid Hasyim, putera Kiai Hasyim Asy’ari dalam melakukan pembaruan pendidikan pesantren. Memadukan unsur-unsur modernitas dengan salaf yang bisa berdampingan hingga kini.

Menapaki akhir abad ke-20, Pesantren Tebuireng menambah beberapa unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA). Bahkan unit-unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly, di samping unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya. Semua unit tersebut (selain UNHASY), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang.

(http://muktamar.nu.or.id/pesantren-tebuireng/)

Pesantren Darul Ulum (Rejoso/Njoso)

Pondok pesantren Darul Ulum (juga dikenal sebagai pondok Njoso), terletak di desa Rejoso, kecamatan Peterongan, kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pondok pesantren Darul Ulum (PPDU) adalah salah satu pusat Thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Indonesia. Pesantren ini didirikan oleh KH. Tamim Irsyad dan menantunya, KH. Kholil (yang waktu kecil bernama Muhammad Juraemi). Pondok Pesantren ini adalah salah satu yang tertua dan menjadi tempat menimba ilmu masyarakat NU.

Pondok pesantren Rejoso mulanya adalah sebuah mushala dan jamaah thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang dipimpin oleh KH. Kholil. Surau atau mushala ini dibangun pada tahun 1885. KH Kholil adalah murid dari Kiai Asy’ari (ayah Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari) di pesantren Keras dan dalam hal thariqah menjadi murid dari Syaikh Ahmad Khatib al-Sambasi di Makkah. Kiai Kholil mendapatkah ijazah irsyad sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dari Ahmad Hasbullah (yang merupakan murid Kyai Abdul Karim dan Syaikh Ahmad Khatib al-Sambasi di Makkah) untuk mengajarkan ilmu di wilayah Nusantara khususnya Jawa bagian timur.

Di tempat yang sama pula didirikan pengajian ilmu fiqih yang dipimpin Kiai Tamim Irsyad. Seorang yang ahli dalam syariat Islam di samping memiliki ilmu kanuragan kelas tinggi. Tamim Irsyad dilahirkan di Desa Pareng, Bangkalan, Madura dan menjadi murid Syaikhona Cholil. Pada mulanya, setelah hijrah dari Madura KH. Tamim Irsyad tinggal di Desa Pajaran Jombang sebelum akhirnya pindah ke Rejoso menempati sebidang tanah di samping rumah menantunya,  Kiai Kholil.

Setelah KH. Tamim Irsyad dan KH. Cholil wafat, pesantren dikelola oleh penerusnya yakni Kiai Romly Tamim, Kiai Dahlan Cholil (putra Kiai Cholil), dan Kiai Ma’sum Cholil (putra kiai Cholil).

Kyai Romly Tamim memegang kebijakan umum Pondok Pesantren serta ilmu tasawuf dan Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Kiai Dahlan Cholil memegang kebijakan khusus siasah (manajemen) dan pengajian syariah serta Al-Qur’an. Sementara Kiai Ma’soem Cholil mengemban organisasi sekolah. Pada masa ini pondok Rejoso mengembangkan sistem pengajaran yang lebih sistematis dari masa sebelumnya dan cukup terkenal dalam melahirkan dua hal.

Pertama, salikin atau pengamal Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Yaitu para murid thariqah di bawah asuhan KH Romly Tamim Irsyad. Kedua, huffadz atau penghafal Al-Qur’an. Yaitu para lulusan madrasah huffadz Al-Qur’an diasuh langsung oleh KH. Dahlan Cholil.

Ketiga kiai tersebut adalah alumni Darul Ulum Addiniyyah di Makkah yang kemudian menginspirasi mereka untuk memberi nama pesantren Rejoso secara formal dengan nama Pondok Pesantren Darul Ulum pada tahun 1933.

Pada tahun 1938 M didirikanlah sekolah klasikal yang pertama di Darul ‘Ulum yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyyah Darul ‘Ulum. Sebagai tindak lanjut sekolah tersebut pada tahun 1949 M didirikan arena belajar untuk para calon pendidik dan dakwah, dengan nama Madrasah Muallimin (untuk siswa putra) dan pada tahun 1954 didirikan sekolah yang sama untuk kaum putri.

Selain madrasah-madrasah tersebut terdapat keluarga besar Darul ‘Ulum yaitu Jam’iyah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang jamaahnya datang dari berbagai kota di Nusantara. Ribuan jamaah thariqah ini mengadakan pertemuan khusus tiga kali dalam setahun yaitu pada pada bulan sya’ban.

Setelah Kiai Dahlan dan Kiai Romly wafat pada tahun 1958, kemudian KH Ma‘shum Kholil wafat pada tahun 1961, kepemimpinan Pesantren dipegang oleh KH Musta’in Romly dan dibantu oleh saudara-saudaranya.

Kiai Musta’in Romly tidak hanya memoderiasai pesantren namun juga mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Sebagaimana para pendahulunya. KH. Musta’in Romly juga sangat aktif dalam gerakan thariqah. Salah satu kekhasan pesantren Darul Ulum adalah para kiai-nya memperkenalkan praktik thariqah kepada para santri. Kendati para santri tidak diwajibkan menjadi anggota thariqah, pengenalan praktik thariqah menjadi bagian dari program-program pesantren.

Kini PPDU semakin percaya diri dengan capaian prestasi santri-santrinya. Dengan memegang teguh filosofi pendidikan, “tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum,” PPDU telah membuktikan keunggulan di sekolah umumnya. Selain memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap, sekolah-sekolah di bawah manajemen PPDU ini memiliki kualitas unggul. Bahkan lebih unggul dari sekolah negeri di luar pesantren.

Beberapa sekolah sudah memenuhi standard internasional, dan menjadi percontohan sekolah swasta yang sukses memperoleh sertifikat berstandard internasional. Prestasi santri yang membanggakan di tingkat nasional maupun internasional.

Pondok pesantren Darul Ulum (PPDU) saat ini memiliki 14 unit pendidikan formal dengan berbagai kualitas yang mumpuni dan sudah teruji prestasinya. Dari Jenjang Madrasah ibtidaiyah/Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

(http://muktamar.nu.or.id/pesantren-darul-ulum-rejosonjoso/)

Pesantren Bahrul Ulum (Tambak Beras)

Sekitar tahun 1825 di sebuah dusun Gedang desa Tambakrejo, pesantren Bahrul Ulum (Tambak Beras) dirintis oleh seorang yang ‘alim, ulama sekaligus pendekar, bernama Kiai Abdus Salam yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Shoichah. Kiai Abdus Salam adalah putra Kiai Abdul Jabbar bin (putra) kyai Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin (putra) kyai Abdurrohman (Joko Tingkir).

Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan pondok Selawe atau pondok Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri 3 lokal beserta mushollanya. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M, kondisi tersebut adalah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Sementara itu, menurut versi lain, istilah 3 (telu) adalah merupakan representasi dari pengembangkan ilmu-ilmu syari’at, hakikat dan kanuragan. Hal itu didasarkan pada manifestasi keilmuan mbah Shoichah sendiri yang mencakup ketiganya.

Setelah Kiai Shoichah berusia lanjut tampuk pimpinan pondok Selawe atau pondok telu diserahkan kepada dua menantunya yang tidak lain adalah santrinya sendiri. Kedua menantunya tersebut adalah Kiai Utsman dan Kiai Sa’id. Dengan mendapat restu dari mertuanya, Kiai Utsman dan Kiai Sa’id menjadikan pondok menjadi dua cabang, Kiai Utsman mengembangkan pondok di dusun Gedang yang tidak jauh dari pesantren ayah mertuanya yaitu di sebelah timur sungai pondok pesantren, sedangkan Kiai Sa’id mengembangkan pesantren di sebelah barat sungai. Lalu sebagian santri dari Kiai Utsman inilah diboyong oleh menantunya yang bernama Kiai Asy’ari (ayah dari KH. Hasyim Asy’ari) ke desa Keras yang nantinya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang.

Lalu kepemimpinan pesantren ini dilanjutkan oleh Kiai Hasbullah, seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas. Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak. Konon karena hal itulah daerah ini disebut dusun Tambak Beras dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambak Beras. Hingga hari ini, masyarakat sekitar lebih mengenal nama pesantren Tambak Beras dari pada Pesantren Bahrul Ulum. Sedangkan nama Bahrul Ulum sendiri beserta lambangnya merupakan inisiatif dan pilihan dari KH. Abdul Wahab, pada tahun 1965. Bahrul Ulum yang artinya Lautan Ilmu yang kelak diharapkan Tambak Beras benar-benar menjadi lautan ilmu.

Setelah itu beliau mengadakan sayembara pembuatan logo/lambang pondok pesantren. Setelah didapatkan pemenang pembuatan logo, Kiai Abdul Wahab meminta pada lambang pondok pesantren tersebut disisipkan ayat Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 109, bahkan untuk prosesi ritualnya Kiai Abdul Wahab memerintahkan salah seorang santri bernama Djamaluddin Ahmad (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhibbin sekarang), asal Gondang Legi, Prambon, Nganjuk untuk membacakan manaqib. Hingga saat ini nama dan lambang tersebut abadi menjadi identitas resmi, eksistensi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Seiring dengan perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang semakin pesat, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada diperlukan suatu manajemen kepemimpinan pondok pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari pemikiran tersebut maka manajemen kepemimpinan pondok pesantren didasarkan pada kepemimpinan kolektif, yang terdiri dari Majelis Pengasuh, Pengurus Yayasan, dan Dewan Pengawas.

Di usianya yang jauh melebihi kemerdekaan bangsa ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang telah berkembang pesat dan memiliki beragam jenis dan jenjang pendidikan. Hingga saat ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki 35 unit asrama pondok pesantren (putra-putri) dan 18 unit pendidikan formal mulai dari Pra Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi.

(http://muktamar.nu.or.id/pesantren-bahrul-ulum-tambak-beras/)

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *