kebaikan

Seorang mursyid atau wali itu bertingkat-tingkat seperti analog, ada wali yang bertanggung jawab tingkat RT, ada yang tingkat RW, ada yang kota, …. ada yang dunia, Syekh Nadzim dapat diibaratkan sekjen PBB yang wilayahnya adalah seluruh dunia.

Suatu saat ada seorang jerman bermimpi aneh, ia melihat seorang laki-laki tua bersurban dan berkata “oh my son, try to see me!”, malam pertama ia tidak percaya, malam kedua bermimpi hal yang sama dengan kalimat yang diulang 2x, malam ketiga bermimpi yang sama dengan kalimat berulang 3x. Iapun penasaran bertanya kepada temannya dengan menceritakan detailnya beserta penampilan orang dalam mimpinya. Temannya menyimpulkan bahwa penampilan seperti gambaran tersebut adalah orang turkey, maka cobalah pergi kesana, setelah sampai dibandara turkei, ia bertanya dengan orang sekitar dengan menceritakan mimpinya, orang yang ditemuinya menafsirkan bahwa orang yang engkau cari itu mungkin adalah syekh nadzim yang ada di lefkey, maka terbanglah ke sana, setelah sampai di lefkey ia menanyakan kemana ia harus pergi untuk menemui syekh nadzim, dan beruntung orang yang ditemui juga ingin bertamu ke Syekh nadzim. Berangkatlah mereka bersama, setelah sampai di pekarangan beliau, syekh nadzim menyambut orang tersebut “selamat datang, engkau ke sini, aku sudah menunggumu lama” orang tersebutpun jatuh tersungkur, setelah dibangunkan, mengapa engkau jatuh? Aku belum pernah mengalami ini, selama ini kami dikuasai logika kami, kemudian sang orang tersebut bersyahadat masuk Islam.

Karomah Syekh nadzim yang tidak mengenal batas wilayah salah satunya adalah menolong para penambang chili, yang beliau dapat keluar masuk kedalam tempat tambang yang terkubur, dan mengajarkan kepada mereka bismillah yang mereka baca hingga keluar dari sana dan pergi menemui syekh nadzim ke siprus.

Ada seorang wanita yang orang tuanya beragama kristen dan ia baru masuk Islam, ia menginginkan orang tuanya masuk Islam juga, usut-punya usut ternyata kakeknya adalah seorang muslim, maka diperintahkanlah ziarah dan berdoa untuk leluhurnya dan juga memintakan kepada kakeknya agar mendoakan orang tuanya agar kembali kepada islam.

Suatu saat ketika nabi berjalan, tiba-tiba beliau berhenti di dekat pekuburan orang kafir, kemudian beliau berbicara dengan ahli kubur tersebut. “apakah kalian sudah mengetahui yang haq?” dst …. setelah lwat ada sahabat yang bertanya “wahai nabi, apakah mereka dapat menjawab?” “iya, mereka dapat mendengar, dan menjawab, hanya saja kamu tidak mendengarnya”

Doakan selalu leluhurmu yang sudah meninggal, sehingga kebaikan mereka menetes hingga kita.

Orang yang meninggal dunia itu telah menyaksikan yang haq, ia masih memberikan imbas terhadap orang-orang yang hidup (dengan doanya)

Orang yang meninggal tetap bisa kekal dengan

  1. Sholat Sunnah
  2. Al Qur’an
  3. Tangan yang terulur menolong

Rosululloh tidak Mati, kitalah yang mati.

Beliau berkata bahwa beliau sungguh malu, karena diajari adab oleh seseorang yang baru masuk Islam 3 tahun, suatu saat ketika menghadiri acara Syekh nadzim di inggris, setelah selesai, orang-orang berdesakan berebut ingin bersalaman dengan mawlana, ketika beliau hendak ikut berdesakan, dicegah oleh seseorang yang baru masuk islam, “tidak perlu berdesakan, tidak perlu memperkenalkan diri kepada beliau, beliau sudah mengetahui” dan terkaget setalah Syekh Nadzim berada sekitar 6 meteran dari beliau dan menyapa dengan bahasa Indonesia sambil melambaikan tangan “apa kabar profesor” kemudian berkata “benar wahai … apa yang kamu katakan”.

Suatu saat beliau menghadiri acara Syekh Nadzim, beliau melihat orang berdesakan, berebutan untuk menyalami Mawlana, terbersit di hati beliau “mereka seperti keledai yang tidak punya adab” Syekh Nadzim tiba-tiba berkata “are you can find the donkey?” apakah kamu sudah menemukan keledai itu? Begitu malu beliau akan hal tersebut.

Seorang Wali dapat mencium keharuman (kebaikan) atau kebusukan (keburukan) yang ada di kepala kita.

Menahan diri, menahan hawa nafsu itu adalah bagian dari adab, ketawadhukan (kerendahan hati) merupakan adab yang lebih dalam lagi, menyenangkan orang lain, maslahat untuk orang lain adalah adab yang lebih dalam lagi.

Beliau diajari oleh kakek beliau, setiap ba’da subuh kakek beliau berdzikir hingga jam 7an, tiap beliau hendak berdiri, maka sang kakek memberi uang agar tidak berpindah, setelah selesai dan mendapat uang banyak, beliau diajak keliling desa, menyapa semua orang, bila bertemu dengan anak berbaju lusuh dan kumal, sang kakek mendekati, beliau disuruh memberikan uang yang di sakunya untuk anak tersebut, “kamu ingin hartamu ditambahi oleh Allah? Berrikan uangmu kepadanya”, bila bertemu orang yang lagi memberi makan ternaknya “apakah kamu sudah memberi makan kambingmu?” beliau memberikan keakraban kepada semua orang.

Suatu waktu rombongan yang terdiri dari 41 orang pergi bertamu ke Syekh Nadzim, di suatu kesempatan Syekh Nadzim menemui rombongan “kalian sudah memenuhi adab, kalian datang ke sini dahulu sebelum datang kepada Rosululloh Muhammad saw, rahmat Allah akan turun dari langit, bacalah surat Yasin 1x ketika sampai di kalimat “salamun qoulam min Robbirrohim” dibaca 7x”. Ketika membaca hujan tiba-tiba turun dan Syekh Nadzim ikut berhujan-hujan dengan rombongan.

Mbah Mualif mempunyai tempat suluk berbentuk sumur.

Mbah Joko Sengsoro adalah seseorang yang bersedia menanggung kesengsaraan orang disekitarnya hingga Allah tidak menurunkan kesengsaraan kepada mereka.

ketika hendak diulas silsilah beliau, maka beliau mencegah dan keberatan apabila silsilahnya diselidiki dan dipublikasikan.

Masjid bukan hanya sesuatu yang terbatas oleh tembok.

Ta’mir bukan hanya bertugas untuk mengatur jadwal atau menghitung uang, ta’mir bertugas untuk menjaga kehangantan dan keakraban jama’ah.

Sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat sendirian, 27 derajat, Nabi ketika sholat berjama’ah memerintahkan para sahabat agar menmpelkan tangan dengan jamaah sebelahnya “sentuhlah tangan saudaramu hingga engkau mendengar detak jantungnya” berjamaah bukan seperti orang yang antri di terminal, banyak berjajar tapi tidak saling mengenal, tidak saling bersapa, bersama tapi tanpa jiwa.

Kebaikan kita adalah dalam berjamaah.

Suatu kali ada seorang ibu yang menitipkan anaknya kepada Syekh Abdul Qodir jailani, setelah beberapa waktu, ia menengok putranya, dilihatnya sang putra memakan roti yang keras saja, sedang Syekh Abdul Qodir memakan makanan yang enak-enak, ia pun protes, Syekh kemudian berkata kepada tulang belulang ayam yang telah dimakannya “berdirilah” segera tulang-tulang itu menyatu dan tumbuh daging serta bulu kembali seperti semula, yam itu berkokok berteriak keras mengatakan “lailahaillalloh muhammadarrosululloh syekh Abdul Qodir waliyulloh” beliau berkata kepada sang ibu “bila anakmu sudah dapat seperti ini, maka ia boleh memakan apapun”.

Ada seorang santri yang setia melayani Syekh Abdul Qodir jailani, ia selalu bersiap didepan kamar sang syekh dengan membawa kendi bermullut panjang, untuk mengucurkan air wudlu bagi sang Syekh, suatu ketika ia melihat sang syekh keluar dari kamar langsung keluar dari madrasah, kemudian keluar kota berjalan melintasi gurun, si santri diam-diam mengikuti. Tiba-tba sampai di suatu daerah yang belum pernah dikenalnya, di situ ada sebuah tenda, di dalamnya ada beberapa kursi, dan hanya satu yang kosong. Di dalam ada orang yang mengerang, sang syekh memasuki ruangan dan suara itu telah berhenti, “saudara kalian telah meninggal” kemudian datang seorang tua dengan seorang pendeta, pendeta tersebut kemudian pakian ke pendetaannya dilepaskan kemudian bersyahadat “orang ini akan menjadi pengganti orang yang telah meninggal dunia tersebut” setelah itu beliau kembali dan si santri tetap mengikutinya. Pada saat pengajian ba’da subuh, si santri disuruh membaca kitab, ia pun menjawab “wahay syekh, saya tidak akan membacanya kecuali engkau menceritakan peristiwa semalam” kemudiaan Syekh Abdul Qodir menceritakan dan menerangkan bahwa mereka adalah para wali abdal, orang tua yang membawa pendeta itu nabi khidzir, pendeta itu setelah masuk islam diangkat menjadi wali abdal pengganti orang yang telah meninggal. Beliau berpesan untuk tidak menceritakan kejadian tersebut selama beliau masih hidup.

Catatan Ngaji tanggal 5 September 2015 di KS. Yang saat itu tidak membawa buku maupun bolpoin untuk mencatat, sehingga isinya disesuaikan dengan ingatan dan pemahaman saya kala itu, semoga Irsyad Guru menolong dan mengarahkan, sehingga cahaya tetap terpantulkan melalui catatan ini. amin

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *