Aku melakukan sunnah

Ketika kita melakukan suatu kebaikan, entah apalah bentuk kebaikan itu, mungkin puasa sunnah atau dzikir A, atau yang lain, kemudian kita bertemu dengan orang atau teman.

Kita mengetahui bahwa ia tidak melakukannya,terkadang (atau sering) kita merasa jengkel, “huft, kok kamu gak melakukan ini sih?”

atau kita merasa bangga “hmmmm, aku melakukan ibadah yang tidak ia lakukan”

atau merasa kasihan padanya “sungguh rugi bahwa ia melewatkan pahala yang begitu besar, alhamdulillah aku melakukannya”

dll dll

Apakah ada perasaan ini?

Mari berhenti sejenak, dan berfikir ulang.

“apakah bentuk ibadah hanya seperti yang kita lakukan, atau masih banyak lagi?”

“dari bermacam-macam ibadah, apakah kita telah melakukan semua sunnah nabi atau masih ada yang tertinggal?”

“berapa dosa kita? apakah pahala kita bisa mengganti dosa-dosa kita?”

“Apakah kita bersama dengan orang itu, teman kita 24 jam sehari, dan selalu mengamatinya?”

“Apakah kita mengetahui isi hatinya? ”

 

Coba kita fikirkan!

“kita mungkin melakukan ibadah A dan dia tidak, tetapi bisa jadi ia melakukan ibadah B, C, D, E, F, G, dan H, kita tidak bersamanya setiap waktu, bisa jadi ibadahnya sangat lebih banyak dari kita sedang kita tidak mengetahui (atau sok tahu)”

“Fikiran kita yang sering jelek, atau meremehkan orang lain, atau yang lain, kita mengetahui isi hati kita, tapi kita tidak mengetahui isi hatinya (gak perlu sok tahu!), bisa jadi setiap tarikan nafasnya, setiap detak jantungnya, hatinya selalu berdzikir, mengingat Allah, berapa kebaikannya?”

 

Coba bayangkan! seberapa jelaknya kita? kita telah jatuh kepada berbangga diri dan meremehkan orang lain, Sungguh Setan itu ibadahnya jauh-jauh-jauh lebih banyak pada kita, dan hanya karena setan sombong, setan diusir dari surga. Apakah kita hendak mengikuti jejak kesombongan?

Na’udzubillah min dzalik!

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *