amar ma’ruf nahi mungkar

Kemaren malam maen ke Salah satu Ustad, eh ada bahasan menarik dari beliau tentang amar ma’ruf nahi mungkar dan tafsir hadistnya jadi teringat juga dengan dawuh pak Kyai bahwa “ubahlah kemungkaran dengan tanganmu atau lisanmu atau hatimu dan itu adalah selemah-lemah iman mungkin cocok dengan riwayat di akhir zaman, Islam akan ditolong oleh orang-orang yang lemah, tapi jangan menganggap orang yang berdoa itu lemah”

Berikut akan saya uraikan sepemahaman saya, yang saya tangkap dari sang ustad, dan kok saya cocok ya dengan penjelasan beliau, anda? terserah saja …..

Pembicaraan diawali ketika saya cerita ada seorang teman yang mengajak mengadakan group untuk siskamling syari’ah, yang merazia tempat-tempat yang dianggap maksiat atau menjual barang haram.

Kemudian beliau mulai mencoba mengshare tentang tafsir hadist berikut :

 ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﲑﻩ ﺑﻴﺪﻩ، ﻓﺈﻥ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ، ﻓﺈﻥ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ‫ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﳝﺎﻥ

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Biasanya para ustad dan penceramah mengartikan ﺫﻟﻚ merujuk kepada kalimat sebelumnya, sehingga memberikan pengertian bahwa “keimanan paling lemah adalah orang yang merubah dengan hatinya” padahal kalimat ﺫﻟﻚ merupakan kalimat isyaroh baidh (jauh), mengapa ﺫﻟﻚ tidak kembali kepada ﺑﻴﺪﻩ atau yang lebih dekat lagi yaitu ﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ?

secara logika saja, bagaimana orang yang lemah iman mau berdoa? orang tidak akan mau berdoa bila ia meyakini bahwa doanya tidak akan terkabul, maka orang yang berdoa itu memiliki keyakinan kepada Allah yang kuat.

ﺫﻟﻚ lebih cocok ke “tangan” mengapa? karena lihatlah orang yang hanya menggunakan tangannya untuk merubah kemungkaran, ia malah berbuat kemungkaran yang baru, merusak dll (seseorang kan maksimal dihukum setara dengan perbuatannya, qishosh) bila melebihi batasnya maka “orang yang merasa pembela syari’ah” malah berbuat kedholiman????

atau merujuk kepada “lisan” mengapa? lihatlah seseorang yang menggunakan lisannya, akan sangat dimungkinkan terpeleset pada perkataan buruk atau salah.

“tangan” dan “lisan” lebih mudah dikuasi oleh ego yang mengakibatkan bukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dapat berbalik amar mungkar dan nahi ma’ruf yang baru. berbeda dengan doa, sangat kecil kemungkinan dirasuki dengan seseuatu yang buruk (kecuali berdoa buruk), “ya Allah berilah hidayah hingga ia berubah dari berlaku maksiat menjadi ahli ibadah yang dekat dengan Engkau” (misalkan), mana buruknya?

Jadi Orang yang berdoa adalah orang yang kuat imannya sebagaimana riwayat “doa adalah senjatanya orang mukmin” dan memang orang yang memiliki iman saja yang akan berdoa.

…….

kemudian mungkin bila puzzle ini dirangkai maka, 3 perkara (tangan, lisan dan hati) ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jadi bisa diuraikan

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran

,maka hendaklah ia merubah dengan tangan+lisan+hati

, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan lisan+hati

, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya

, dan dengan hati SAJA itulah keimanan yang paling lemah.”

jadi bukan hanya dengan tangan saja (yang sangat mudah ditunggangi ego dan setan), bukan dengan lisan saja (yang juga lebih mudah ditunggangi ego dan setan). Tetapi dizaman ini yang tidak seperti zaman nabi, dimana Hati para sahabat isinya kecintaan dengan Allah serta Nabi saw dan setiap tindakan dikonsultasikan (dipantau langsung) oleh sang pemegang syari’at yaitu nabi saw, berbeda dengan zaman sekarang (akhir) yang sangat banyak orang di hatinya “ingin pengakuan sebagai pembela/mengerti Syari’at” (ego) buktinya? bila dikatain bahwa ia salah maka ia akan marah (siapakah orang yang mengerti segalanya?)

Orang yang ikhlas, maka ia tidak memperdulikan pandangan orang, ia lebih mementingkan pandangan Allah, hingga terkadang ia sering difitnah sebagai orang sesat atau orang gila, dan ia tidak marah, tetapi ia tetap istiqomah dalam Ahlussunnah Wal Jamaah, karena perhatiannya hanya untuk Allah semata.

Maka di Zaman ini yang ia menggunakan hatinya maka ia adalah orang yang sangat kuat imannya. (di Zaman Nabi, golongan ini adalah orang yang lemah imannya, tetapi di Zaman Akhir, golongan ini adalah orang yang sangat kuat imannya)

Tambahan, Teringat juga sebuah cerita, Bahwa Di suatu pertempuran, Sayyidina Ali Kw Sahabat Nabi bertempur dengan salah satu orang kafir, Di saat pedang Sayyidina ALi mengayun ke Orang tersebut yang terpojok tak berdaya, tiba-tiba ia meludahi Sayyidina Ali Kw, Terkena ludah, Sayyidina Ali Kw berhenti dan berpaling dari Orang tersebut dan membiarkannya, Orang tersebutpun heran, ia bertanya kepada Sayyidina ALi “wahai Ali, mengapa engkau tidak jadi membunuhku?” Sayyidina ALi menjawab “Aku berperang karena Allah, tapi disaat engkau meludahiku, aku menjadi marah, sehingga aku tahu bahwa nafsu (ego) menguasaiku, aku menyadari bila aku meneruskan seranganku, aku adalah hamba nafsuku bukan hamba Allah, maka Aku hentikan seranganku, karena aku berperang karena Allah”

Allahu A’lam

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *