anak sholeh

banyak mendengar keluhan orang tua mengenai anak-anak mereka, jadi berfikir bagaimanakah anakku kelak?

Para guru menjelaskan, sejelek-jelek orang tua pastilah menginginkan anaknya menjadi orang baik

tapi kemudian bagaimana mempunyai anak sholeh?

njh….. harus belajar sesuai kebutuhan

– ketika menjadi anak, maka harus belajar bagaimana menjadi anak yang sholeh, bagaimana berbakti kepada orang tua.

– tetapi ketika menjadi orang tua, maka harus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik dan bagaimana mendidik anak yang benar.

JANGAN SAMPAI TERBALIK!

– bila si anak belajarnya adalah bagaimana menjadi orang tua dan mendidik anak, maka kemungkinan besar akan dijadikan senjata untuk melawan dan memberontak serta membantah kepada orang tua

– sedang bila orang tua hanya belajar bahwa anak hanya harus berbakti kepada orang tua saja tanpa belajar bagaimana menjadi orang tua, maka kemungkinan besar pekerjaannya hanyalah memarahi anak dan menuntut anak begini dan begitu saja

ANAK MEMPUNYAI KEWAJIBAN, ORANG TUA PUNYA KEWAJIBAN

ANAK PUNYA HAK, ORANG TUA JUGA PUNYA HAK

makanya yaa, di akhir-akhir ini sekolah-sekolah yang “bonafit” selain mendidik anak mereka juga mengadakan program parenting.

– ibda’ bi nafsik, mulailah dari diri sendiri! kita tidak perlu mengeluh terlalu banyak, bila kita melihat sesuatu yang tidak cocok dengan kita, maka mulailah dangan merubah diri sendiri agar lebih baik, yang insyaAllah, Allah akan mengubahnya untuk kita. Warna dari lingkungan kita adalah sesuai dengan bagaimana kita mewarnai lingkungan itu. tapi ini sangat sulit dimana digambarkan nabi, perang besar adalah perang melawan diri sendiri (hawa nafsu). bagaimana kita menginginkan anak kita berbahasa sopan bila kita kepada siapapun tidak berbahasa sopan?

– pembelajaran sejak dini, sudah banyak penelitian dan bahkan ingin diterapkan di sekolah-sekolah sehingga mereka mengusung pendidikan berkarakter (insyaAllah akan berhasil bila para gurunya ibda’binafsik, ni menasehati diri saya sendiri, mohon maaf bagi siswa siswi bila saya masih sangat jauh dari kebaikan). bahkan diketahui bahwa musik klasik yang dilantunkan di kandungan sangat membantu perkembangan si jabang bayi, kemudian bagaimana bila itu adalah Al Qur’an, kalam Ilahi? kemudian bagaimana bila yang melantunkannya adalah kedua orang tuanya? bukankah ini yang diajarkan para ulama dahulu?

Dan setalah lahir didik dengan baik sesuai dengan perkembangan kejiwaannya karena tiap-tiap fase, perkembangan anak akan berbeda, dan bahkan setiap individu anak akan berbeda, subhanalloh, tidak ada orang di dunia ini yang sama persis sehingga mereka semua berbeda, bagaimanakah Allah maha Kaya dan Maha Pintar hingga dapat menciptakan semua detail individu yang berbeda, berapa makhluk di dunia ini? sejak dulu? 1 trilun? 1 biliun? tak terhitung, SubHanaLLAH.

– pemberian lingkungan yang baik. teringat pelajaran biologi dahulu mengenai genetika penampakan dimana setiap individu memiliki 2 sifat, genotip (tingkat gen) dan fenotip (yang tampak), dimana penampakan fisiknya sangat dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan. Ada yang dominan, resesif maupun yang intermediet. Perlu disadari saja secara jujur bahwa setiap kita memiliki sisi baik juga sisi buruk. sebaik-baik manusia masih ada kelemahannya juga dan seburuk-buruk manusia masih ada kebaikannya juga. Karena itu tugas kita memberikan lingkungan baik yang mendorong sifat baik itu keluar, bila kita tidak dapat memberika lingkungan baik maka lebih baik dipindahkan, dan ini juga alasan beberapa orang tua mengasramakan anaknya (tapi jangan sampai salah pilih, selidiki dulu dimana anak kita akan berkembang) karena buah yang sama apabila ditanam di daerah yang sama maka rasanyapun akan berbeda. mungkin ini adalah hikmah Hijrah

– Doa, bagaimanapun manusia, tetap Allahlah pemilik segala sesuatu, pengatur Yang Maha Kuasa. Hanya Dia yang bisa merubah segala sesuatu dan menetapkan semuanya. teringat pengajian putranya KH. Jamaluddin Jombang. salah satu ciri Kyai atau Guru yang benar adalah bila mengajak yakin kepada Allah, bukan menyekutukannya, karena secara tidak sadar kita banyak menyekutukanNya dengan atasan kita (lebih patuh kepada atasan dari pada kepada Allah) juga pada uang (segala sesuai diukur dengan uang, dari uang, dengan uang dan untuk uang, sehingga terkesan Uang Yang  Maha Kuasa bukan Allah Yang Maha Kuasa) dan juga banyak hal lain. Astaghfirulloh. Semoga kita diarahkan Allah kepada pembimbing-pembimbing yang membimbing kita semakin yakin dan dekat dengan Allah.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami, dan jadikan anak-anak kami anak-anak yang Sholeh. Tolonglah kami, ya Allah, bi barokatil habibika Muhammad saw AL-FATIHAH ……….

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One response to “anak sholeh”

  1. ernamunifah says:

    Ass Wr wb
    Mohon info apabila ada artikel tentang Hynoparenting mhn dikirim ke Email saya terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *