Apa dan Mengapa PISA?

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah seminar kok denger bahwa ujian nasional mulai diarahkan mengikuti PISA. banar kagak ya?

Apa dan Mengapa PISA?

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tentang kemampuan matematika, membaca, dan sains siswa berumur 15 tahun di banyak negara di dunia. PISA pertama kali dilakukan pada tahun 2000 dan kemudian dilakukan kembali setiap 3 tahun. Hasil PISA banyak digunakan oleh negara-negara yang berpartisipasi untuk memperbaiki kualitas dan kebijakan pendidikan masing-masing.

“Apa yang penting untuk diketahui dan untuk dilakukan oleh masyarakat?” adalah pertanyaan yang mendasari dilaksanakannya PISA. PISA mengukur pengetahuan dan keterampilan penting yang berguna bagi kehidupan moderen. Pada tes ini siswa tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan yang mereka pelajari, tetapi jugamengekstrapolasi pengetahuan tersebut dan menggunakannya pada kondisi-kondisi yang belum mereka kenal sebelumnya.

Sejak pertama kali mengikuti tes ini pada tahun 2003, prestasi siswa Indonesia tidak pernah beranjak jauh dari posisi terbawah. Sementara di sisi lain siswa Indonesia berhasil memborong kemenangan pada olimpiade sains matematika, fisika, astronomi dan lainnya. Ada apa gerangan? Mengapa kita begitu terpuruk di PISA?

 

Matematika Tidak Sekedar Menghafal dan Berhitung

Yang membedakan PISA dari tes sejenis adalah PISA mengukur kemampuan literasi matematika, bukan sekedar kemampuan berhitung. Literasi matematika dalam PISA terfokus pada kemampuan siswa dalam menganalisa, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif, merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi. Penilaian yang digunakan adalah fokus kepada masalah-masalah dalam kehidupan nyata, diluar dari situasi atau masalah yang sering dibahas di kelas. PISA menuntut siswa untuk menggunakan kemampuan-kemampuan yang relevan dalam konteks yang tidak terlalu terstruktur, di mana petunjuk tidak begitu jelas bagi siswa. Siswa harus mampu menentukan pengetahuan apa yang relevan, proses apa saja yang harus dilalui untuk dapat mengantarkannya kepada solusi yang mungkin dari permasalahan tersebut, dan bagaimana cara menggambarkan kebenaran dan kegunaan dari jawaban atau solusi yang diperoleh.  [1]

Dikutip dari publikasi resmi OECD terkait pelaksanaan PISA 2012, literasi matematika didefinisikan sebagai berikut: [2]

Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasi, mengerjakan, dan menginterpretasi hal-hal matematis pada berbagai konteks yang berbeda. Termasuk di dalamnya penalaran secara matematis dan penggunaan konsep, prosedur, fakta, dan perangkat matematis untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi suatu fenomena. Kemampuan ini akan membantu seseorang untuk memahami peran matematika di dunia nyata dan untuk membuat penilaian dan keputusan yang berdasar pada penalaran mumpuni, yang akan dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat yang konstruktif, bersatu, dan reflektif.

Pengetahuan yang diujikan di olimpiade cenderung didominasi oleh pengerjaan soal-soal matematis saja. Begitu juga dengan UN (Ujian Nasional). Berbeda dengan olimpiade dan UN, soal yang muncul pada PISA menuntuk siswa untuk memiliki 4 kemampuan sekaligus seperti yang tergambar pada bagan di atas. Sekarang jelas sudah mengapa prestasi siswa Indonesia di PISA dan di olimpiade bagaikan Bumi dan langit.

Menurut Iwan Pranoto, dosen Matematika ITB, hasil PISA yang buruk dapat menunjukkan indikasi sebagai berikut: [3]

  • Siswa kita tidak terbiasa menyelesaikan permasalahan tak rutin. Ini berarti bahwa siswa kita hanya biasa dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang sudah dibahas di kelas. Mereka kesulitan jika menghadapi permasalahan baru.
  • Siswa kita lemah dalam memodelkan situasi nyata ke masalah matematika dan menafsirkan solusi matematika ke situasi nyata. Padahal kecakapan bermatematika yang dituntut dunia adalah kecakapan bermatematika yang utuh: dari memodelkan, mencari solusi matematika, menafsirkan ke masalah awal. Siswa kita umumnya terbiasa menyelesaikan masalah matematis semata tanpa menafsirkannya ke masalah di dunia nyata. Artinya siswa kita fokus pada dunia matematika semata, tetapi tidak utuh melengkapinya dengan pengalaman berinteraksi antar dunia nyata dan dunia matematika.
  • Jenjang bernalar merangkum (comprehension) dan menganalisis sangat kurang. Ini berarti bahwa kecanggihan bernalar yang dituntut dunia lebih tinggi dari yang berjalan dalam praktik pembelajaran matematika Indonesia. Sebaliknya, tuntutan dunia terhadap keterampilan menyelesaikan perhitungan ruwet sudah berkurang.

Padahal kecakapan yang lebih dibutuhkan pada saat ini adalah kecakapan memecahkan masalah tak rutin. Kecakapan kognitif seperti menghafal serta kecakapan berfikir tingkat tinggi semakin tidak dibutuhkan di dunia kerja sejak akhir abad ke-20, karena telah berkembangnya alat bantu seperti komputer dan kalkulator. Justru kecakapan memecahkan masalah tak rutin dan kecakapan berkomunikasi komplekslah yang semakin dibutuhkan.

Tampaknya yang menjadi pokok masalah di negara kita bukanlah pada belum atau tidak diajarkannya suatu pengetahuan, tetapi pada pembelajaran yang terlalu difokuskan pada transfer pengetahuan semata ketimbang pembangunan kecakapan berpikir deduktif. Hal ini bisa terjadi sebagai manifestasi kurangnya penguasaan guru pada kecakapan bermatematika. Dampaknya, pembelajaran tak dapat menyediakan pengalaman kebermatematikaan yang penuh makna, tetapi sekedar penyampaian fakta nirmakna yang tidak mendukung tumbuhnya kecakapan bernalar. [5]

Rendahnya pencapaian Indonesia di ajang PISA bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi. Tidak perlu pula kita mencari-cari pembenaran sekedar agar kita tetap merasa nyaman dengan kebodohan yang kita miliki. Rendahnya pencapaian ini seharusnya menjadi titik penyadaran bagi kita bahwa selama ini kita dicekoki dengan ilmu-ilmu kuno yang sudah tidak relevan digunakan untuk bersaing di masa depan.

Kehidupan bangsa yang cerdas membutuhkan suburnya budaya bernalar. Sudah saatnya guru, orang tua, dan pemerintah bahu-membahu menciptakan atmosfer pembelajaran bernalar yang baik bagi generasi muda. Guru perlu menggeser orientasi belajar siswa dari sekedar pencapaian nilai baik menjadi pemahaman materi secara mumpuni. Orang tua perlu mengajarkan sejak dini kebiasaan bernalar pada anak, dan tidak lagi menuntut rapor anak terisi dengan nilai besar namun semu. Pemerintah melalui Kemdikbud juga perlu mengubah kurikulum pendidikan dan menambah bobot materi guru atau calon guru matematika agar kelak saat mengajar mereka tidak hanya sekedar meminta siswa menghafalkan rumus.

Tanpa kemauan dan upaya untuk evaluasi diri dan perbaikan kualitas pendidikan, maka lupakan saja cita-cita menjadi bangsa yang disegani karena kemajuan teknologinya.

Negara ini tidak butuh orang-orang yang sekedar pandai. Negara ini butuh orang-orang yang mampu memanfaatkan kepandaian yang mereka miliki.

sumber : http://blogs.itb.ac.id/appledore/2014/02/18/32/

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *