Apakah kita pernah berpikir untuk berzakat, terutama bagi konglomerat??? Indonesia harus Berzakat

  1. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Semoga kesehatan selalu menaungi kehidupan habib dan keluarga,

    Habibana ….saya sering membaca artikel habib tentang Zakat di forum ini dan alhamdulillah saya sangat paham dan mengerti apa yang telah Habibana sampaikan tentang hal tersebut seperti zakat profesi dan harta/uang simpanan dll.

    Habibana bukan maksud membedakan tentang penjelasan tersebut, saya ingin lebih jelasnya saja, semingu yang lalu saya mendatangi majlis taklim rutin satu bulan 2x kebetulan minggu kemarin babnya zakat dalam kitab Fathul Qorib, oleh Assatidz yang sangat saya hormati, dalam menjelaskan zakat profesi beliau menjelaskan bahwa zakat profesi itu disamakan dengan zakat tijaroh karena berhubungan dengan jasa. seperti jasa dokter, atau jasa yang lain, dan kepemilikan mobil pribadi dihitung dengan nilai harga barang tersebut dan nishob dan haulnya samadengan zakat harta.

    Mohon penjelasan habibana…. barang kali beliau mempertimbangkan dari kitab-kitab yang lain, karena penjelasan habibana bahwa zakat profesi tidak diakui oleh jumhur dari seluruh para ulama, saya tidak bermaksud menghitung secara detil/pelit dalam beramal akan tetapi ingin lebih tahu tentang ilmu berzakat dan sedekah.

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

 

Habib Munzir Menjawab

 

alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan kelembutan Nya swt semoga selalu membimbing hari hari anda

saudaraku yg kumuliakan,
memang ada pendapat juga dalam madzhab syafii bahwa jasa terkelompokkan dalam zakat tijarah, namun itu bukan pendapat Jumhur dan Mu’tamad,

namun dalam pembahasan zakat profesi yg saya maksudkan adalah yg tidak padanya haul dan nishob, sebagaimana yg diajarkan masa kini tuk mengeluarkannya setiap bulan, maka seluruh madzhab tak mengakui zakat harta dikeluarkan setiap bulan,

maka jika dikatakan zakat profesi ini dikelompokkan dg zakat Tijarah, maka mestilah mencapai haul dan nishob, jika tidak maka tak satupun madzhab yg mengakuinya,

jikapun jasa / zakat profesi dikelompokkan dengan zakat tijarah, lalu mencapai haul dan nishob, itupun pendapat yg bukan mu’tamad dalam madzhab syafii

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

 

 

 

  1. Indonesia harus Berzakat

Assalamu ‘alaikum

Semoga Allah selalu melimpahkan berkah-Nya kepada rekan2 MR

Begini Para saudaraku, Indonesia telah banyak mengalami kesulitan, terkhususnya kemiskinan yang selalu menjadi tantang dari tahun ke tahun,

Apakah kita pernah berpikir untuk berzakat, terutama bagi konglomerat???

Sekarang BBM sudah naik, tidak menutup kemungkinan jika harga minyak mentah terus melambung maka bulan september akan naik lagi. Dan yang sama2 kita tahu Pemerintah baru punya solusi jangka pendek berupa BLT…sesudah itu apa???

Oleh sebab itu ana ingin mengimbau rekan2 MR tuk membuat kajian tentang efektifitas Zakat tuk memerangi kemiskinan. Insya Allah jika ada yang mengirim tentang kajiannya ke email ana ardee136@gmail.com dan ana lihat potensinya, tidak menutup kemungkinan Pemerintah kita akan mencanangkan program zakat ini di akhir tahun atau bahkan lebih cepat, perlu diketahui pula bahwa aspek sosial kita yang plural.

Insya Allahu Ta’ala

Jika rekan2 MR sudah ada yang punya kajiannya silakan dikirim ke imel ana.

Syukron

Wassalamu ‘alaikum

 

Habib Munzir Menjawab

 

alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Anugerah Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan

saudaraku yg kumuliakan,
terimakasih atas saran anda, sungguh niat yg sangat mulia, namun perlu diperjelas bahwa yg anda maksud adalah menyalurkan zakat bukan?, yaitu zakat yg sudah diajarkan dalam syariah dan bukan zakat baru yg tak berlandaskan Nash hadits dan hukum zakat yg telah diajarkan oleh Imam Imam Madzhab..

sebab jika yg dimaksud adalah zakat profesi dan zakat penghasilan maka hal itu tak bisa disebut zakat, hal itu lebih tepat disebut sedekah, sebab zakat profesi dan zakat penghasilan yg dikeluarkan bulanan itu tak pernah diajarkan dalam syariah, demikian Jumhur seluruh Madzhab besar.

sungguh mulia saran anda agar bangkitnya semangat muslimin berinfak kepada Fuqara

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

 

 

 

  1. yaa habib salam alaika

    habib munzir y saya cintai, sy InsyaAllah bulan ini akan mendapat gaji pertama sy =)
    he3

    sy sedang cari buku zakat, namun mumpung masih ad quota, sy mau menyanyakn dulu k habib

    zakat yg wajib sy keluarkan a gaji sy, setau sy 2,5 % dr total gaji setelah potong pajak ? bkn bgtu habib?
    itu baru zakat pendapatan
    kalau zakat mal itu d keluarkan setelah cukup nisab atas harta yg d tumpuk? iya kan bib?
    bukan 2.5% atas gaji setahun kan?

    jadi y sy pahami itu:
    gaji tiap bulan setelah potong pajak, di keluarkan zakatnya 2.5% tiap bulan
    terus bila masih ada sisa, sy tabung dan bila hanya tabungan itu telah se nisab emas baru d keluarkan lagi 2.5%…

    bukan begitu habib?

    trus misalnya sy ingin mengeluarkan zakat mal ny pas ramadhan walau pun belum sampai nisabnya? apakah tidak d anggap zakat?

    kalau misalnya sy tunda keluarkan zakat pendapatan dr gaji bulanan untuk d bayar pas ramadhan, gmna hukumnya ya ?

    maklum sy baru punya gaji sedikit, jadi masih itung-itungan =)

    mhn penjelasan habib

 

 

Habib Munzir Menjawab

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya kemuliaan Nya swt semoga selalu menerangi hari hari saudaraku dalam kebahagiaan,

gaji bulanan tidak terkena zakat, karena yg terkena zakat adalah 7 macam saja, yaitu :
1. Zakat Ni;am (ternak) terikat pada haul dan nishab
2. Zakat Badan (fitrah) terikat pada haul dan nishab
3. Zakat Tijarah (perdagangan) terikat pada haul dan nishab
4. Zakat Tsimar (buah buahan) terikat pada haul dan nishab
5. Zakat Maal (harta) terikat pada haul dan nishab
6. Zakat Ma’din (Tambang) terikat pada nishab saja tanpa haul
7. Zakat Rikaz (harta karun) terikat pada nishab saja tanpa haul

namun sebagian orang masa kini menambahnya dengan zakat bulanan, hal ini bertentangan dg syariah dan tidak selayaknya diberlakukan,

berikut jawaban saya di forum ini mengenai hal yg sama :

zakat profesi tidak diakui dalam seluruh madzhab ahlussunnah waljamaah, yg ada adalah zakat harta jika disimpan tanpa dipakai apa apa selama satu tahun,
bahwa zakat harta adalah setahun sekali jika melebihi nishab dan haul

Nishab : Batas jumlah / nilai yg ditentukan syariah yaitu seharga 84 gram emas murni. jika seharga itu atau seharga lebih dari itu maka terkena Nishab dan menanti syarat kedua yaitu haul.

haul : sempurna 1 tahun

jadi anda bekerja dan mendapat gaji itu tak ada wajib zakatnya, boleh anda bersedekah saja.

perhitungan zakat harta adalah jika anda menyimpan uang, atau emas anda baru kena zakat jika menyimpan uang itu sampai setahun, dan jumlah yg anda simpan telah melebih nishab selama setahun

uang yg dipinjam orang termasuk yg mesti dizakati.

mengenai harta berupa mobil, motor dlsb tidak terkena zakat harta, karena yg terkena zakat harta hanyalah Emas, perak, dan Uang, selain daripada itu tak terkena zakat harta.

maka emas,perak, dan uang yg disimpan melebihi nishob (84 gram harga emas murni), hingga haul (setahun penuh tidak turun dari jumlah nishob) maka terkena zakat.

namun jika anda menggunakannya untuk bertijarah, (asset dagang), maka seluruh asset termasuk dalam perhitungan zakat, yaitu rumah, mobil, motor dlsb, maka hal ini adalah Zakat Tijarah, berbeda dengan zakat harta.

zakat maal / harta dikeluarkan setahun sekali, terhitung hari sejak uang kita melebihi Nishob, dan Nishob zakat maal adalah seharga emas 84 gram, maka bila uang simpanan kita terus meningkat, misalnya mulai 4 Oktober 2006 uang simpanan kita mulai melebihi harga emas 84 gram, maka sejak tanggal 4 oktober itu terhitunglah kita sebagai calon wajib zakat, namun belum wajib mengeluarkan zakat karena menunggu syarat satu lagi, yaitu haul (sempurna satu tahun)

nah.. bila uang kita terus dalam keadaan diatas Nishob sampai 3 oktober 2007 maka wajiblah kita mengeluarkan zakatnya sebesar jumlah seluruh uang kita yg ada pd tgl 3 oktober sebesar 2,5%. (bukan uang kita yg pd 4 oktober 2006, atau uang kita bertambah menjadi 100 juta misalnya, lalu naik dan turun, maka tetap perhitungan zakat adalah saat hari terakhir ketika genap 1 tahun dikeluarkan 2,5% darinya).

bila uang kita setelah melebihi batas nishob, lalu uang kita berkurang misalnya pd januari 2007 uang kita turun dibawah harga emas 84 gram, maka sirnalah wajib zakat kita, kita tidak wajib berzakat kecuali bila uang kita mulai melebihi nishab lagi, saat itu mulai lah terhitung calon wajib zakat dg hitungan mulai hari tsb, dan itupun bila mencapai 1 tahun penuh tidak ada pengurangan dari batas nishob.

mengenai pendapat baru mengenai Zakat profesi ini, maka merupakan hal mungkar yg tak bisa diberlakukan, karena “Zakat” itu hukumnya fardhu ain, tak mengeluarkannya maka dosa dan haram,. masalahnya adalah orang yg tak mengeluarkan zakat maka halal dibunuh dan hartanya halal dirampas.

lalu maksud mereka ini mengada adakan zakat profesi seakan mereka ingin menambahkan hukum fardhu?, jadi mereka yg tak mengeluarkan zakat profesi maka halal darahnya, sebagaimana Khalifah Abubakar Assbhiddiq ra memerangi orang orang yg menolak berzakat,

kita terima kalau yg dimaksud adalah sedekah profesi, atau infak profesi, tapi jangan bicara zakat, karena zakat adalah fardhu,

hal yg fardhu adalah berlandaskan Nash Sharih dari Alqur’an dan Hadits, mereka berkata bahwa karena telah banyak orang yg murtad dikarenakan banyaknya kemiskinan, maka wajib kita menambah zakat..

duh.. kita terima keperdulian pada fuqara, namun jangan menambahkan hukum syariah lagi, sama saja jika anda menambah satu lagi shalat fardhu menjadi 6 waktu, dengan alasan orang masa kini lebih banyak dosa, maka perlu lebih banyak sholat..

tentunya hujjah ini tak bisa diterima karena bertentangan dengan Jumhur seluruh Madzhab,

berbeda dengan maulidan, tahlilan dll ini karena hal itu tak dijadikan fardhu, tapi sekedar penyemangat saja, namun fardhu tetap fardhu dan tak bisa dirubah lagi atau ditambah dan dikurangi.

nah.. saudaraku.., mengenai Gaji ini, boleh saja anda mewajibkan bagi anda sedekahnya, jikasedekah maka boleh 10%, boleh 50%, boleh seluruhnya pula, tapi bukan zakat lho saudaraku..

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *