Bacalah Surat Al Qur’an Seluruhnya

kemarin mendengar sebuah pengajian di salah satu masjid di Surabaya, sang ustad mengkritik kebiasaan banyak orang yang memilih-milih surat untuk dibaca, menurut keterangan beliau bahwa nabi menjelaskan beberapa surat yang dibaca itu hanya bersifat mubah saja. karena kita tidak boleh membeda-bedakan surat dalam Al Qur’an.

Dan inilah yang mengusik akal saya, dengan beberapa argumen

1. Bila nabi melakukan sesuatu itu adalah mubah-mubah saja, apa artinya hadist? katanya orang yang membela nabi dan mengikuti “hanya hadist dan al qur’an” saja? kok ini nabi melakukannya, tapi enggan diikuti?

2. Banyak digunakan alasan hadist lemah dll bukan hasan apalagi shohih (masalah hadist doif ini sangat baik bila membaca postingan di kategori kenalilah akidahmu), lah ya, imam hadist yang sangat tinggi ilmunya, hafal ribuan hadist saja, tidak berani menghapus hadist tersebut dari kitabnya (walau diberi komentar dhoif) karena tidak berani mengkorupsi ajaran nabi, ini ada ustad yang mau mengeliminir? gimana ini?

3. Saya merasa geli sendiri saja, karena ketika mengimami witir, surat yang dibaca kok yang biasa terdengar ya, ngapain tidak membaca suat yang lain, atau memulai dari Al-Baqoroh ayat pertama dan seterusnya, sebagai konsistensi penjelasan beliau?

 

Huft, semoga argumen saya ini tidak menyakiti hati seseorang, dan saya mohon maaf bila ada yang salah, karena ini hanya pendapat pribadi oleh orang yang tidak menguasai ilmu agama.

maafkan atas kebodohan saya.

Semoga saya termasuk orang yang mengikuti ajaran-ajaran guru saya, walau belum mengetahui dalil-dalil yang ada. karena belum mengetahui bukan berarti tidak ada. Seperti halnya jamaah dan anak-anak kecil yang mencontoh para ustad yang tidak suka dengan taqlid buta (mengikuti tanpa tahu dalil) yang saya yakin banyak jama’ahnya atau anak-anak kecilnya bila ditanya, sebutkan dalil al-Qur’an Hadistnya! maka mereka tidak hafal, atau hanya bilang penjelasan ustad atau artinya saja (yang belum tentu sama dengan bahasa aslinya)

kita harus terus berusaha menjadi ahlus “Sunnah” wal “Jama’ah“, karena itulah sanad ilmu sangat penting dalam ilmu, beliau harus memiliki guru yang diakui keilmuannya oleh gurunya, yang diakui oleh gurunya, yang diakui oleh gurunya smapai kepada Nabi Muhammad saw tanpa terputus, bukannya hanya dari buku kemudian menafsiri sendiri sesuai ilmunya(karena akan syarat dengan nafsunya) , melainkan harus menafsiri dengan tafsir guru yang telah dijelaskan oleh gurunya, yang telah memperoleh penjelasan dari gurunya, yang telah memperoleh penjelasan dari gurunya sampai tidak terputus hingga rosululloh, dan dengan cara inilah, ajaran islam terpelihara kemurniannya. Karena itulah banyak ulama-ulama, yang dapat menyebutkan sanad keguruannya sampai ke rosululloh.

semoga saya tercatat kedalam golongan yang ingin surga, hingga walau belum mengerti dalilnya, ya tetap dilakukan saja, agar lebih cepat masuk surga, dan bila ada yang mengkritik, ya tinggal bilang “waduh, maaf ustad, saya belum mengerti, monggo, silakan menemui guru saya untuk penjelasannya

maafkan saya, bila banyak yang salah

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *