bergabung dengan Naqsybandi Nadzimiyyah

Hubungan Ruhaniyyah melalui awliya ke awliya, dari generasi ke generasi sampai Rosululloh, dapat diibaratkan  makmum yg di shaff yg keseratus tetap mendapat pahala jamaah dan tetap bersambung pada shalat Imamnya, demikian shaf pertama melihat gerakan Imam, shaf kedua tidak melihat gerakan imam namun melihat gerakan makmum shaf pertama, lalu shaf ketiga melihat gerakan makmum shaf kedua, demikian dari generasi ke generasi ummat ini hingga kini, bersambung satu sama lain, demikian kita dengan para imam imam kita, demikian ahlussunnah waljamaah, kita bagaikan rantai yg tak terputuskan, jika bergerak satu mata rantai maka bergetar seluruh rantai hingga ujungnya.

Bagi teman-teman yang ingin terhubung secara ruhaniyah dan mendapat berkah dari rantai sanad Naqsybandi Nadzimiyah, silakan saja melakukan bai’at online melalui link ini

—————————————–

Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi نقشبندی berasal dari Bahasa Arab iaitu Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang berarti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshband Bukhari. Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”. Perlu dicatat pula bahwa dalam Tarekat Naqsyabandiyah, silsilah spiritualnya kepada Nabi Muhammad adalah melalui khalifah Hadhrat Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, sementara kebanyakan tarekat-tarekat lain silsilahnya melalui khalifah Hadhrat Sayyidina Ali bin Abu Thalib Karramallahu Wajhahu.

mwln syekh NadzimPenamaan Naqsybandi Nadzimiyah karena dinisbathkan sebagai penghormatan bagi mursyid Tarekat Naqsybandi yang diikuti yaitu Mawlana Syekh Muhammad Nadzim. Seperti halnya Tarekat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah  karena dinisbatkan kepada Kiai Utsman, yang penyebarannya salah satunya melalui Alm. KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi Surabaya yang merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi.

Dimana menurut cerita yang saya dapat, awal Naqsybandi Nadzimiyah masuk ke Indonesia, diawali oleh kedatangan Khalifah Syekh Nadzim, yaitu Syekh Hisyam Kabbani, ke Indonesia di Tahun 1997, yang kemudian mengangkat KH. Mustafa Mas’ud (lebih akrab dipanggil Syekh Mustafa) sebagai representatif Mawlana Syekh Nadzim untuk Indonesia. dan kemudian pada kedatangan beliau ke Indonesia yang kedua. Saat berada dalam kereta, Syekh Mustafa bertemu dengan Habib Luthfi (Ro’is ‘am JATMAN – Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah) yang dalam dialog beliau, Habib Luthfi bertanya kepada Syekh Mus “itu siapa?” “lihat saja sendiri, anda kan bisa melihat sendiri””katakan kepada beliau, saya ingin berbaiat” dan Akhirnya Syekh Hisyam Kabbani membai’at Habib Luthfi di kereta tersebut. Sehingga bila ingin mengetahui lebih jelas mengenai Tarekat ini, Beliau Syekh Mustafa Mas’ud atau Habib Luthfi akan lebih berhak menjelaskan, karena beliau-beliau lebih memahami.

Bai’at artinya sumpah setia, bisa saja murid sumpah setia pada gurunya, anak pada ayahnya, atau teman pada temannya. Bai’at dalam tarekat dapat diartikan bahwa hal tersebut adalah pernyataan sadar dari seseorang untuk terhubung secara ruhaniyah dengan Mawlana Syekh Nadzim atau kesediaan memperoleh irsyad atau  bimbingan dari Syekh Nadzim. Baya` tabarruk, bay’at untuk keberkahan adalah “Cahaya di atas Cahaya”. jadi semua orang diperkenankan untuk mengambil bay’at kepada Syekh Nadzim, bahkan walau ia telah mengikuti tarekat / guru yang lain, sebagai tambahan barokah seperti berwudlu setelah berwudlu  (cahaya di atas cahaya).

 

——–

Tata Cara Ba’iat Online tarekat Naqsybandi Nadzimiyah (siapapun boleh bergabung)

bukalah link http://www.naqshbandi.org/baya-initiation/  kemudian bacalah bacaan yang ada yang terdiri atas :

– Syahadatain

– membaca salah satu ayat Al Qur’an

– pernyataan kesediaan menerima Allah sebagai tuhan kita, menerima Islam sebagai agama kita, menerima Nabi Muhammad sebagai nabi kita, menerima Al Qur’an sebagai kitab kita, dan menerima Syekh Nadzim sebagai mursyid.

– mengucapkan الله الله الله حق الله الله الله حق الله الله الله حق

– menghadiahkan Fatihah untuk Nabi Muhammad, para Rosul dan Nabi, para imam dan para masyayikh Naqsybandi Khususnya Syekh Nadzim.

Setelah itu mengisi Form biodata (http://www.sufilive.com/webBaya/index.cfm) agar data tersebut dikirimkan ke Syekh sebagai informasi bahwa anda telah melakukan bai’at melalui Internet.

Selanjutnya untuk menjaga hubungan ini, alangkah baiknya bila kita berusaha mendawamkan membaca Fatihah dihadiahkan untuk Mawlana Syekh Nadzim sesering kita bisa.

 

———-

mursyiduna

Bai’at terbaik adalah langsung bertatap muka dengan Syekh Nadzim atau Khalifah beliau (Syekh Hisyam, Syekh Adnan, Syekh Muhammad) atau melalui representatif beliau yang tersebar diseluruh Dunia. tetapi bila anda memilih melalui Internet hal tersebut juga boleh, karena telah mendapat izin (ijazah) dari beliau.

Sedikit catatan apa yang saya peroleh dari Majelis dapat dibaca di link http://farid.zainalfuadi.net/category/catatan-ngaji-hati/ dan bila ingin mengetahui sanad keguruan (rantai awliya) yang membentuk Naqsybandi Nadzimiyyah juga bisa di baca di http://farid.zainalfuadi.net/category/sanad-emas/

bila ingin berkumpul dengan teman-teman lainnya atau ingin mengetahui amalan hariannya silakan menghubungi zawiyah di sekitar kita yang alamatnya dapat dilihat melalui link http://indonesiazawiyah.blogspot.com/  atau http://suficenters.com/ dan siapapun boleh datang ke zawiyah atau mengikuti acaranya walau belum berbai’at.

Untuk Website resmi Yayasan Naqsybandi Indonesia http://naqsybandi.com dan sebagian nasehat, hikmah atau suhbah bisa dibaca di http://percikanhikmah.wordpress.com/

Suhbah-suhbah dari Masyayikh Naqsybandi Nadzimiyah juga dapat di ikuti di www.sufilive.com atau tanya jawab internasional di http://eshaykh.com/

Maulana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani bersama Mawlana Syaikh Nazim al HaqqaniMaulana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani bersama Habib Syech Assegaf

Berikut sedikit suhbah keterangan mengenai Bai’at oleh As-Sayyid Syekh Muhammad Hisyam Kabbani :

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

“Semoga Allah menerima kalian semua. Di masa lalu, mereka tidak memberikan bay’at dengan begitu mudah, dan Syuyukh kita, Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q), Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) dan seluruh Mata Rantai Keemasan Tarekat Naqsybandi tidak diberi otorisasi untuk memberi bay’at.

Saya ingat bahwa Grandsyekh (q) memberi bay’at hanya kepada dua orang, dan tidak ada yang lain, karena bay’at mempunyai persyaratan. Kalian harus mempelajari Syari’ah dengan benar, artinya kalian harus menyelesaikan studi kalian mengenai tafsir, hadits, Qur’an dan Fikih. Ketika kalian sudah membangun infrastruktur kalian, barulah mereka memberi bay’at.

Jadi bay’at tidaklah murah, tetapi ketika Grandsyekh (q) wafat dan tarekat berada di tangan Mawlana Syekh Nazim (q), beliau banyak bepergian dan melihat bahwa kegelapan telah menyebar begitu luas ke seluruh dunia.

Beliau ingin agar setiap orang dibusanai dengan Rahmat Allah. Jadi, beliau memberi bay’at kepada setiap orang yang datang dan memintanya, baik secara fisik, melalui telepon, atau website atau melalui para perwakilannya yang tersebar di seluruh penjuru dunia, sebagaimana Mawlana Syekh Nazim (q) mempunyai ribuan representatif. Mereka mempunyai otoritas untuk memberi bay’at untuk menyebarkan rahmat itu.

Jadi ini adalah Rahmat di mana kita diberkati dengannya dan itulah sebabnya mengapa bay’at sekarang diberikan tanpa mengecek terlebih dahulu orangnya, melainkan hanya dalam pengertian bay’at untuk membawa Rahmatullah. Semoga Allah memberkati kita, mengampuni kita, dan menerima dari kita.”

Bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

© Sufilive.com

———–

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *