BERSALAMAN dan cium tangan adalah BID’AH

II.15. BERSALAMAN BID’AH

Mengenai bersalaman merupakan hal yang sunnah, diperbolehkan oleh Rasul saw, dilakukan oleh Rasul saw, bahkan diperintahkan oleh Rasul saw.

Demikian dijelaskan Dalam :

Tafsir Imam Qurtubi Juz 4 / 107

Tafsir Imam Qurtubi Juz 9 / 266

Tafsir Imam Qurtubi Juz 13 / 199

Tafsir Imam Qurtubi Juz 15 / 361

Imam Ibn Majah hadits no.3702 dengan sanad Shahih.

Muwattha’ Imam Malik hadits No.1617.

Sesekali bukanlah hal yang Bid’ah.

II.16. CIUM TANGAN BID’AH

Masya Allah…, bagaimana cium tangan dikatakan Bid’ah sedangkan para sahabat menciumi tangannya Rasul saw bahkan mengusapkannya ke wajah mereka. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jahiifah ra kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya kewajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan kewajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra”

(Shahih Bukhari 3289 Bab Manaqib).

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy :

Berkata Imam Ibn Battal :

mengambil tangan adalah bermakna bersalaman, dan hal itu adalah hal yang baik dilakukan demikian dijelaskan para ulama, dan sungguh berbeda pendapat mengenai mencium tangan, hal ini diingkari oleh Imam Malik dan ia mengingkari apa – apa yang diriwayatkan dalam hal ini, dan yang lainnya memperbolehkannya, mereka berdalil dengan yang diriwayatkan Umar ra bahwa ketika diantara para sahabat pulang dari peperangan, dan dikatakan pada mereka : Kalian lari dari peperangan!, maka Umar ra berkata : Bahkan kalian ‘akkaaruun, akulah pimpinan orang orang mukmin, maka kamipun mencium tangan beliau. Dan dikatakan bahwa Abu Lubabah dan Ka’ab bin Malik dan sahabat mereka mencium tangan Nabi saw ketika Allah menerima taubat mereka, dan dikatakan oleh Al Abhariyy bahwa Abu Ubaidah ra mencium tangan Umar ra ketika datang. Dan Zeyd bin Tsabit ra mencium tangan Ibn Abbas ra ketika Ibn Abbas ra memegang tali kudanya, dan berkata Al Abhariy bahwa Imam Malik mengingkarinya jika disebabkan kesombongan dan kecongkakan, namun jika disebabkan kedekatannya pada Allah swt, karena kuatnya imannya, atau karena ilmunya, atau karena kehormatannya maka hal itu diperbolehkan, dijelaskan oleh Imam Ibn Battal bahwa Imam Tirmidziy menukil riwayat hadits shafwan bin Assal, bahwa orang – orang Yahudi datang dan menanyakan pada Nabi saw akan 9 ayat, dan pada akhir hadits mereka mencium tangan Nabi saw dan kaki beliau saw, dan berkata Imam Tirmidziy bahwa hadits ini hasan shahih. Kukatakan (menanggapi hal ini) dengan hadits Ibn Umar ra yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al Adabul Mufrad dan Imam Abu Dawud, dan Hadits riwayat Abi Lubabah yg diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Addalail, dan hadits Ka’ab dan kedua sahabatnya yang dikeluarkan oleh Ibn Al Muqriyy, dan hadist Abi Ubaidah yang diriwayatkan Sufyan dalam Jami’ nya, dan hadits Ibn Abbas ra yang diriwayatkan Imam Attabariy dan Ibnul Muqriy, dan hadtist Shafwan yang diriwayatkan pula olehnya dan oleh Imam Nasa’iy dan Imam Ibn Majah dan dishahihkan oleh Imam Hakim, dan telah dilkumpulkan oleh Al Hafidh Abubakar Ibnul Muqriyy dalam sebuah bab khusus tentang “Cium tangan” dan telah ia riwayatkan dalam hadits yang banyak dan perbuatan para sahabat.

Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al’abdiy, ketika wafd abdulqeis berkata : kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium tangan Nabi saw dan kaki beliau saw. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dan dari hadits riwayat Mazidah Al Ashriy drngan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi saw, dan sanadnya kuat. Dan dari hadis Ibn Umar ra bahwa Umar ra berdiri kepada Nabi saw dan mencium tangan beliau saw, dan dari hadits buraidah dalam kisah seorang dusun dan pohon, seraya berkata : Wahai Rasulullah (saw), izinkan aku untuk mencium dahimu dan kedua kakimu!, maka Rasul saw mengizinkannya, dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al Aadabul Mufrad dari riwayat Abdurrahman bin Waziin, berkata : diriwayatkan pada kami oleh Salmah bin Al Uku’ ra bahwa ia mengeluarkan telapak tangannya yang kasar dan besar seperti telapak tangan unta, (tanganku ini membai’at tangan Nabi saw), maka kami berdiri dan menciumnya. Dan dari tsabit ra bahwa ia sungguh mencium tangan Anas ra. Dan dikeluarkan pula bahwa Sungguh Ali kw mencium tangan Abbas ra dan kedua kakinya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnul Muqriyy, dan diriwayatkan dari Abi Malik Al Asyja’iyy berkata : kukatakan pada Ibn Abi Awfa : ulurkan tanganmu yang kau berbai’at dengannya pada Nabi saw, maka ia mengulurkannya dan aku menciumnya.

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi : Mencium tangan orang karena zuhudnya (sederhana dalam hidup karena keshalihannya), atau karena shalihnya, atau karena ilmunya, atau karena kemuliaannya, atau kebaikannya atau yang semisalnya dari kemuliaan pada agama bukanlah hal makruh bahkan hal yang baik, namun jika karena kekayaannya atau kejahatannya atau karena kedudukannya pada ahli dunia maka sangat makruh, dan berkata Abu Sa’id ALmutawalli hal itu dilarang. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari oleh Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy Bab Al Akhdz bilyadayn Juz 8 hal 1).

Dijelaskan pada kitab Aunul Ma’bud : Dan Al Hafidh Abu Bakar Al Ashbahaniy Almuqriyy telah menulis sebuah risalah sebuah Bab dalam dibolehkannya mencium tangan, menyebut padanya hadits Ibn Umar ran dan Ibn Abbas ra dan Jabir bin Abdillah ra dan Buraidah bin Al Hashab ra, dan Shafwan bin Assal ra dan Buraidah Al Abdiy, dan Azzari bin Amir Al Abdiy, dan Azzari bin Amir Al Abdiy, dan menyebutkan padanya perbuatan sahabat yang shahih dan para Tabi’in Radhiyallahu’anhum, dan sebagian dari mereka menyebutkan bahwa Imam Malik mengingkarinya, dan mengingkari riwayatnya, dan dibolehkan oleh yang lainnya.

Dan berkata Imam Al Abhariy sungguh Imam Malik mengingkarinya hanya jika untuk kesombongan dan pengagungan yang berlebihan bagi yang melakukannya, namun jika seorang manusia mencium tangan manusia lainnya atau wajahnya, atau badannya, yang selain auratnya semata mata ingin dekat pada Allah swt, karena keimanan orang tsb pada agamanya, atau ilmunya, atau kemuliaannya (disisi Allah swt) maka hal itu diperbolehkan, dan mencium tangan Nabi saw mendekatkan diri kepada Allah swt, dan itu sungguh bukan memuliakan keduniawian atau kekuasaan, atau menyerupai bentuk bentuk kesombongan, jika untuk kesombongan dan keduniawian maka tidak dibolehkan.

Selesai ucapan Imam Almundziry. (Aunul Ma’bud, Bab Qublatul Yad Juz ii hal 259).

Demikian pendapat para Muhadditsin, para Imam, dan Para sahabat, yang diajarkan oleh

Rasul saw. Wallahu a’lam

 

habib Munzir Al Musawa

Kenalilah akidahmu 2

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *