sholat di masjid dll

  1. Shalat makmum masbuk dan tafsir @ Surat Yasin

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh
Ya Habib Yang Kumuliakan,
Alfaqir ingin bertanya mengenai masbuk shalat. Misal seseorang ketika Imam Mulai ruku` ia baru bertakbir dan membaca al fathihah sampai selesai,pada saat imam mulai akan sujud baru1/3 , si masbuk mengejar ruku kemudian i`tidal kemudian sujud dengan Imam shalat.
 
1.Yang alfaqir ingin tanyakan terhitung dapat satu rakaat si masbuk tersebut apa tidak ya habib? Maaf jawabannya di kitab apa? Sebab si masbuk menanyakan ke alfaqir dalam kitab apa? Karena miskin ilmu sudilah kiranya habib mngikutsertakan referensinya.
2.Mengenai tafsir surat Yassin ayat 18 maksduny apa ya Habib?
Demikianlah pertanyaan si miskin ilmu ini semoga Habib ,keluarga dan Jamaah Majelis Rasulullah sealu dalam limpahan anugerah dan kasih sayang Nya. Amiin
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
1. dalam keadaan itu jika imam sudah naik dari rukuk sedangkan makmum belum rukuk maka ia tertinggal 1 rakaat, hal itu sudah Jumhur (kesepakatan) dalam madzhab syafii, dapat dilihat pada Syarh Baijuri Bab shalat Jamaah, juga pada Al Majmu oleh Imam Nawawi pada bab Masbuq, juga pada Al Iqna’ Bab shalar jamaah, dan seluruh kitab syarah fiqih madzhab syafii menjelaskan demikian.
2. makna ayat itu adalah berkata orang orang munafik dan kuffar bahwa para rasul itu hanya membawa kesusahan dan musibah, kedatangan mereka (para Rasul) hanya membawa kesialan, dan Allah menjawabnya jika mereka terus berbuat demikian maka akan kami hujani mereka dg hujan batu dari Allah dan siksaan yg pedih. demikian dalam Tafsir Imam Ibn Abbas ra dan Tafsir Imam Attabari dan Ibn Katsir dan lainnya
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
 

  1. Solat wajib 2x atau lebih

Assalamualikum ya Habiby..
Semoga kesehatan dan keberkahan selalu Allah berikan kepada habiby dan keluarga,
langsung aja bib, saya sedang mencoba untuk berusaha Sholat berjamaah dimushola (terutama subuh), dan saya juga ingin istri saya berjamaah bersama saya, jadi spulang dari mushola kembali sholat subuh mengimamai istri saya dirumah,
 
1. Apakah sholat seperti itu diperbolehkan bib?
jika diperbolehkan, bagaimanakah niat subuh saya baik yg pertama (dimushola) ataupun yg kedua (dirumah), apakah sholat yg kedua (dirumah) saya niatkan sunnah atau tetap wajib subuh, atau ada cara lain bib?
2. Apa benar bib utk sholat sunnah lebih baik dirumah, demi membawa kebaikan dan keberkahan dalam rumah, selama ini saya sholat qobliyah dirumah demi membawa keberkahan dalam rumah kami, sebaiknya solat dimana biib utk sholat sunnah ini, dimasjid/mushola ataukah dirumah?
2. Jika dimasjidkan kita sholat Tahiyatul masjid, namun sholat yg saya lakukan ini dimushola (karena masjidnya wahabiyun), dan saya tetap ingin sholat sunnah, kira2 pengganti utk sholat tahiyatul masjid yg cocok dg kondisi saya apa ya bib.
3. Seringkali ketika kami berjamaah dirumah, putra kami yg masih kecil (1,5 tahun) ikut sholat tapi terkadang tiba2 sujud sambil tidur didepan (disajadah) bahkan terkadang naik kepunggung saya ataupun istri saya bib, bagaimana menyikapi ini bib?
bahkan yg bingung jika putra kami itu sujud disajadah istri saya bib, sedangkan saya tidak mengetahuinya, jadi saya sebagai imam melanjutkan saja terus, sedangkan istri saya terhamabt gerakanya karena sikecil, bagaimana menyikapi ini bib? apa yg harus saya lakukan dan atau istri saya lakukan?
4. masih berkaitan dengan sikecil amanat Allah yg kami miliki bib, terkadang juga ketika kami sholat terlihat sikecil bermain2 berbahaya ataupun guling2 takut jatuh dari kasur, jadi konsentrasi kami dalam sholat terganggu, namun kami ingin sikecil ikut dalam sholat kami, minimal hadir disekitar kami, demi mencontohkannya, bagaimana ya bib menyikapi ini?
Mohon maaf jika pertanyaan saya mengganggu aktifitas dan kesibukan habib
Assalamualikum wr wb
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
1. boleh, dan anda mempunyai dua pilihan, yaitu shalat dg niat Iadatan (lafadh Adaa’an diganti dh Iadatan) yg berarti mengulangi tanpa sebab selain untuk beribadah pd Allah swt dan membantu orang yg belum shalat agar dapat berjamaah, atau menyempurnakan shalat kita yg pertama mungkin tidak berjamaah maka melakukan shalat lagi bersama orang lain dg niat mendapat pahala jamaah, atau dg niat qadha subuh yg lalu lalu yg mungkin pernah ditinggalkan, jika qadha maka niatnya diganti dg Qadha;an bukan adaa;an.
2. shalat sunnah memang lebih baik dirumah, namun di masjid pun sunnah.
3. bisa diniatkan shalat sunnah wudhu, shalat taubat, shalat hajat, dll.
 
4. singkirkan pelahan lahan, menyingkirkan sesuatu yg menghalangi shalat kita tak membatalkan shalat, namun Rasul saw pernah diam saja saat cucu beliau saw naik keatas punggung beliau saw saat beliau sujud, bukan tidak mau berdiri, tapi kasihan dan cinta pada cucunya, maka beliau terus sujud sampai cucu beliau saw pergi, namun hal ini cukup sulit jika kita lakukan, apalagi jika ia tidur.
5. baiknya turunkan ia dari kasur agar bernmain dilantai saja atau diberi alas lantainya, hingga ia tetap dekat dg kita saat ibadah, namun tidak teracnam bahaya.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
 

  1. Hukum Bermakmum Pada Imam Yang Kurang Fasih

Assalamu’alaikum warahmatullah warabarakatuh,
Semoga kesehatan dan kesejukkan lahir bathin senantiasa dikaruniakan oleh Allah SWT kepada Habibana dan keluarga termasuk seluruh kru Majelis Rasulullah…aamiin.
Mohon maaf Ya Habibana,
Ananda ingin langsung bertanya;
Bagaimanakah hukumnya bermakmum pada Imam yang bacaan al qur’annya tidak benar tajwidnya? Haruskah kita sholat sendiri (karena tidak ada jemaah yg lain)?
Demikian Habibana yang ananda muliakan.
Terima atas segala penjelasan Habibana.
Salam takdhim,

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Keindahan Anugerah Nya swt semoga selalu terlimpah pada hari hari anda dan keluarga,
Saudaraku yg kumuliakan,
 
1. bacaan fatihah yg salah namun tak merubah makna sebagian ulama berpendapat bila dinegeri luar bangsa Arab maka fatihahnya tetap sah, maka shalatnya sah, terkecuali bacaan fatihah yg salah hingga merubah makna maka fatihah nya tidak sah dan shalatnya pun tidak sah, namun berkata Al hafidh Imam Nawawi rahimahullah bahwa kesalahan makna dalam membaca fatihah dimaafkan bila di negeri yg tidak berbahasa arab, selama tidak disengaja, kecuali bila ia faham dan sengaja merubahnya maka fatihah nya batal dan shalatnya pun demikian.
di negeri kita, Tajwid yg difahami adalah ilmu untuk belajar membaca Alqur’an, padahal berbeda antara belajar membaca huruf arab, dan belajar untuk menyempurnakan membaca Alqur’an,
 
Ilmu tajwid adalah metode pembacaan Alqur’an yg indah dan sempurna, hal ini hukumnya sunnah.
yg wajib adalah ilmu membaca Alqur’an dg benar, dan ini bukan ilmu tajwid, ini adalah ilmu bahasa arab, karena semua orang yg berbahasa arab dan mengenal huruf arab akan mampu membaca surat Alfatihah dan Alqur’an karena mereka mengenal huruf arab, maka sifatnya umum, namun belum tentu orang arab atau yg berbahasa Arab mengetahui ilmu tajwid, karen ilmu tajwid adalah ilmu kesempurnaan membaca alqur’an, dan bukan membaca keseluruhan tulisan arab.
sah menjadi makmum orang yg rusak makhraj hurufnya seperti Ain diucap alif, di negeri selain negeri yg berbahasa arab, selama tak merubah makna, mengenai mana yg lebih didahulukan maka berkata Alhafidh Imam Ibn Hajar dalam Fathul Baari Almasyhur Juz 2 hal 171 agar mendahulukan yg lebih faqih daripada Qari’, karena Qari’ hanyalah baik bacaannya saja, sedangkan imam shalat dibutuhkan mendalami syariah dan hukum shalat secara keseluruhan, bukan hanya bacaan fatihah saja yg merupakan sebagian kecil dari rukun rukun shalat,
nah.. bila seorang ulama namun memiliki lidah yg tidak fashih, maka ia didahulukan daripada Qari’ yg bukan ulama, namun tentunya jika fatihah nya tak merubah makna.
Mengenai ummiy ini, maksud saya adalah sah menjadi makmumnya, walaupun tentunya lebih afdhal adalah yg bacaannya fashih, tapi si Ummiy tadi tetap sah menjadi makmumnya, shalat makmum tidak batal karena bermakmum kepadanya.
Dijelaskan bahwa batal shalatnya apabila bacaannya merubah makna fatihah, seraya mengetahui dan sengaja (Busyralkarim 148)
Anda dapat menjumpai ulama ulama Mesir yg mengucapkan Qaaf menjadi ‘Ain, padahal mereka ulama ulama kelas atas, atau anda dapat menemukan ada diantara kyai kyai besar yg sudah sangat mendalami syariah dan hukum, namun mereka memiliki lidah yg tidak fashih mengucapkan Zay, dan sebenarnya dijelaskan oleh para ulama bahwa tak ada yg lebih fashih dari Rasulullah saw, dan beliau saw bersabda : “akulah yg paling fashih mengucap “Dhaad”.
Banyak orang terjebak kesalahan saat mengucapkan huruf “Dhaad”, mereka mencampurkannya antara Daal dan Zay, dan masih banyak contoh lainnya,
sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tajwid bila seseorang mengucapkan “Raa”, masih bergetar lidahnya maka ia belum fashih mengucapkan “raa”, di pondok pondok Alqur’an di Jawa Timur, ada yg bertahun tahun tak pernah lulus mengucapkan huruf “raa”, karena masih bergetar lidahnya saat mengucapkannya.
Dan masih banyak lagi celah celah tajwid namun hal itu dimaafkan bila tak merubah makna, dan atau tidak sengaja.
 

  1. solat ditindik

Assalamualaikum wr.wb
solawat serta salam smoga tercurahkan kpada baginda nabi MUHAMMAD SAW…
dan smoga habibana slalu diberikan kesehatan untk menjalankan dakhwah di jalan ALLAH SWT…
ada beberapa yg mw fiqri tanyakan bib
1. syah gak bib kalau org lelaki solat sedangkan ia msih pke anting/ ditindik?
2. tmen saya nanya bib Apa hukum menjual ginjal untuk membayar hutang kpd bank,?
sekian bib pertanyaan dari fiqri klo ada kata2 yg salah mhn maklum bib…
dan fiqri mohon doanya supaya diberikan istiqomah dalam menjalankan perintah agama…
wassalamualaikum wr wb
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
1. sah shalat dibelakang semua muslim, kecuali imam yg mabuk. selain itu maka sah bermakmum padanya.
2. menjual anggota tubuh tak diajarkan dalam syariah kita, namun jika dalam keadaan darurat maka hal itu mubah selama tak membawa mudharat pada diri kita, sebagaimana ginjal kita adalah dua, kehilangan satu ginjal tidak mengancam nyawa, walau membuat kita harus lebih banyak menjaga satu ginjal itu dg memperbanyak minum air.
jika ia terjebak hutang dan risau akan terjebak pada hal yg haram jika tak menunaikannya, maka hal itu mubah, ia korbankan sebagian tubuhnya demi menghindar dari dosa.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
 

  1. Aurat Laki-laki

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Semoga kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin senantiasa dicurahkan oleh Allah SWT pada Habibana beserta keluarga.
Ijinkan tuk kali ini ananda kembali bertanya;
Langsung saja ya Habibana..
 
Bagaimanakah menurut Habibana dengan penjelasan tentang aurat laki-laki di bawah ini?
—————-
Aurat laki-laki terbagi menjadi tiga :
■Ketika shalat atau dihadapan orang laki-laki lain atau perempuan mahramnya, yaitu : antara pusar dan lutut.
■Dihadapan perempuan ajnabiyah, yaitu : seluruh badannya.
■Ketika sendiri (tanpa kehadiran orang lain), yaitu : dua kemaluannya.
Aurat wajib ditutup dan haram dibuka walaupun untuk tujuan wudhu’ atau lainnya.
——————–
Mohon penjelasan dan pencerahan dari Habibana (khususnya point yg ke 2).
Demikian dari ananda dan atas penjelasan yang Habibana berikan ananda haturkan terima kasih.
Salam takdhim,
 
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
aurat pria didalam shalat, umum, dan wanita non muhrim adalah diantara lutut dan pusar.
ketika sendiri boleh bugil atau saat bersetubuh, namun hukumnya makruh, jika sedang sendiri maka sangat makruh, namun tdk haram, jika dihadapan wanita muhrim, maka makruh membuka antara lutut dan pusarnya.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu
 

  1. 6.      Tidur ketika jumatan dan mutoharoh

Assalamualikum…
Semoga kesehatan habib dan guru mulia terus dipelihara oleh ALLAH SWT
Habib yg saya cintai
 
1. Bagai mana hukumnya jika kita tertidur dalam khutbah jumat, biasanya saya sangat mengantuk yg hebat jika mendengarkan khutbah
apakah ini membatalkan wudlu jika kita sampai tertidur?
Pernah ada yg mengatakan jika duduknya benar maka tidak mebatalkan wudlu, apakah hal itu dibenarkan bib?
jika memang dibenarkan duduk seperti apa yg diperkenankan ?
2. Jika ada orang yang sudah sepuh sakit, beliau sangat sulit berjalan (bangkit dari tempat tidur), sementara sesekali buang air kecil atau besar ditempat (kesulitan dalam bersuci),
apakah tetap diwajibkan sholat pada saat itu, atau kah bisa diqodlo, jika tetap diwajibkan, bagaimana caranya?
3. Berkaitan dengan nomer 2 bagaimana dengan cara bersucinya bib?
4. Bagaimana cara tayamum yg benar habiby?
Mohon maaf jika pertanyaan saya mengganggu kesibukan habib
wassalam
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
1. dalam madzhab syafii duduk yg bokong (maaf) dubur tertutup bumi maka tidak membatalkan wudhu jika tertidur, dan jumat anda sah, namun yg afdhal adalah mendengarkan khutbah, maka berwudhu lah berkali kali mengusap wajah sebelum masuk masjid, menambah kesegaran, dan boleh sambil makan permen pedas dg niat bukan untuk makan, tapi sekedar disimpan dimulut unutk membuat mulut terus pedas dan segar dan meringankan kantuk. hal itu boleh asal bukan diwaktu shalat.
2. tetap wajib shalat semampunya saudaraku, jika duduk, atau sambil rebah, shalat boleh dijamak jika sakit, bersihkan najisnya semampunya, lalu dwidhukan, lalu melakukan shalat
3. jika pingsan atau tak sadarkan diri maka diqadha selepas sakitnya, semampunya saja, jika wafat maka di qadha oleh ahli warisnya, atau dikeluarkan fidyahnya.
jika sudah lanjut usia, (pikun) maka sudah tidak lagi wajib shalat.
4. disucikan oleh orang lain, dg air atau tayammum
5. anggota tubuh yg disentuh tayammum hanya dua, yaitu wajah dan kedua tangan hingga siku, tidak mesti tanah, tapi debu pun cukup, dan debu ada dimana mana walau tidak terlihat mata, pertama adalah menghadap kiblat, lalu memukulkan kedua telapak tangan kebumi, maksud dipukulkan adalah agar debu debunya saja yg terkena dan menempel, bukan tanah yg kasarnya, lalu diusapkan ke keseluruhan wajah sambil niat tayammum, lalu memukulkan kedua telapak tangan yg kedua pada wilayah yg tidak sama dg bagian yg disentuh tadi, lalu ujung2 jari kiri diusapkan mulia ujung jari2 kanan terus kesiku, lalu dibalik posisi untuk meneruskannya kembali e ujung jari2 kanan yg sebaliknya.
lalu tangan kanan berbuat hal yg sama pada tangan kiri.
cincin, jam, dan semua yg menempel diwajah dan tangan mesti dilepas.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
 

  1. sholat di masjid

assalamualaikum ya habibana semoga habibana selalu sehat dan dipanjangkan umurnya
melalui forum ini hamba ingin betanya kepada habibana
1)bagaimana orang yang melakukan sholat jamaah dibawah sedangkan ruangan sholat utama berada diatas (conoh di attin) sehingga makmum yang dibawah tidak bisa melihat makmum yang dibelakang imam
2)yang kedua ada yang berkata bahwa sholat itu sah karena didepannya ada tv yang menyorot gambar dari ruang utama sholat?
3)sahkah jika sholat dibawah (seperti di masjid attin di halaman yang rumput)namun letaknya dihalamannya sehingga dapat melihat makmum yang dibelakang imam,dengan cara melhat ke atas ya habib
mohon maaf jika pertanyaan saya terlalu banyak sehingga meyita waktu habib.
wassalamualikum
 

Habib Munzir menjawab

 
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
1. dalam pendapat yg terkuat tidak sah shalat di lantai bawah (basement) masjid karena ia tidak termasuk masjid, menjadi sah kalau ada jalan dishaf pertama menuju imam yg jalan menuju imam itu bisa ditempuh tanpa kita berpaling dada dari kiblat (tidak berputar tangganya), demikian pendapat terkuat dalam madzhab kita, namun jika lantai atas, lantai dua tiga dst maka itu sah, karena masjid adalah yg sejajar dg bumi dan keatas, tapi lantai bawah bukan bagian dari masjid, boleh dimasuki wanita haid dan pria junub, demikian pendapat terkuat dalam madzhab syafii.
2. TV tidak menjadi hal yg diakui dalam syarah, sebagaimana kita bermakmum pd siaran langsung dari masjidil haram, tentunya tidak sah.
3. halaman luar selama shafnya terus berpadu sampai imam tetap sah shalatnya.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
 

Tinggalkan Balasan