Mencium tangan ulama perlu dilestarikan

Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wabarakatuhu
Mencium tangan ulama merupakan hal yang sangat di anjurkan oleh agama, dan merupakan kebiasaan salaf dan orang-orang shalih terdahulu, akan tetapi sudah mulai tidak di kenali lagi di zaman sekarang ini. Bahkan sebagian orang menganggapnya hal itu merupakan perbuatan ghuluw dan kultus. Tentu saja anggapan itu salah, dikarenakan begitu banyak dalil dan uraian ulama yang menerangkannya.
1- Cium Tangan Rasulullah saw
“Para sahabat menciumi tangannya Rasul saw bahkan mengusapkannya kewajah mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jahiifah ra kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya kewajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan kewajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (Shahih Bukhari 3289 Bab Manaqib).
‘Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya lalu ia menyebutkan kisahnya. Ia berkata, “Kami mendekat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami mencium tangannya.” (Sunan Abu Daud Kitab Adab)
Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi s.a.w. (H.R. Abu Dawud).
masih banyak hadits lainnya.

2- Cium Tangan selain Rasulullah saw
Ibnu Jad’an ia berkata kepada Anas bin Malik, apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tanganmu ini?. Sahabat Anas berkata : ya, lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut. (Shahih Bukhari dan Musnad Ahmad)
Para tabiin mendatangani ibnu Uku’ ra, lalu Ibnu Uku’ ra berkata : “aku berbai’at pada Rasulullah saw dengan tanganku ini menjabat tangan Rasul saw“, maka para tabiin itu mendekat dan menciumi tangan Ibnu Uku’ ra. (Adabul Mufrad Imam Bukhari)
Para tabiin mendatangi Anas bin Malik ra dan bertanya : “Apakah kau pernah menyentuh kulit Rasul saw dengan tanganmu?”, maka Anas bin Malik ra berkata : betul, maka para tabiin itu mendekat dan menciumi tangan Anas ra (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari).
Ali bin Abi Thalib karamallahu wajha mencium tangan dan kaki pamannya Abbas bin Abdulmuttalib ra. (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari).
3- Cium Tangan Ulama dan Ahlul Bait Nabi
Ibnu Abbas ra berjalan kaki sambil menuntun kuda Zeyd bin tsabit ra, dan Zeyd ra pun melarangnya. Lalu Ibn Abbas ra berkata : “Beginilah kita diperintah untuk memuliakan ulama-ulama kita“, Lalu turunlah Zeyd bin tsabit ra dari kudanya seraya mengambil tangan kanan Ibn Abbas ra dan menciumnya sambil berkata : “beginilah kita diperintah memuliakan Ahlulbait yang melihatnya” (Faidhul Qadir juz 3 hal.253),
Ibnu Abbas ra berkata : “beginilah kita diperintah untuk memuliakan ulama-ulama kita”
Zeyd bin Tsabit ra berkata : “beginilah kita diperintah memuliakan Ahlulbait yang melihatnya”
Lihat kalimat keduanya “beginilah kita diperintah“, siapakah yg memerintahkan mereka? Adakah guru lain mereka selain Rasulullah saw?
4- Imam Muslim Raja Hadits malah ingin mencium Kaki Imam Bukhari sang Raja Hadits lainnya.
Imam Muslim menemui banyak masalah dalam hadits dan tak menemukan jawabannya, sehingga ia datang pada Imam Bukhari dan ternyata Imam Bukhari menjawab dg mudanhnya, maka berkata Imam Muslim : “Biarkan aku mencium kedua kakimu wahai Raja Ahli Hadits..!” (Siyar A’lamunnubala, Tadzkiratul Huffadh).
5- Penjelasan Ulama
Al Hujjatul Islam Al Imam Nawawi menjelaskan : “Sangat dianjurkan mencium tangan shalihin dan orang-orang utama dari kalangan ulama. Serta, dibenci (makruh) mencium tangan selain mereka (tangan orang kaya, penguasa, orang yang disegani dalam hal duniawi) dan tidak mencium tangan pemuda yang tampan berdasarkan keadaannya. (Fatawa al-Imam al-Nawawi al-Masail al-Mantsurah)
Al Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy menjelaskan : hal itu (cium tangan ulama) merupakan hal yang baik, namun Imam Malik memakruhkannya, namun ia memakruhkan adalah jika demi kesombongan, namun jika untuk kemuliaan Diin (agama), dan memuliakan ulama, maka hal itu diperbolehkan, dan berkata Imam Nawawi bahwa cium tangan orang shalih, ulama, berilmu, orang baik, maka hal itu tidak makruh bahkan hal yang disukai, yang makruh adalah mencium tangan konglomerat dan penguasa” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Akhadz biyadayn).
Imam Al-Bajuri menjelaskan : “Dan disunnahkan men­cium tangan karena alasan keshalih­an dan alasan-alasaan keagamaan lain­nya, seperti ilmu dan kezuhudan. Tetapi perbuatan mencium tangan itu dibenci jika karena faktor kekayaan dan alasan-alasan keduniaan yang lain, seperti ke­kuasaan atau kedudukan.” (Hasyiyah Bajuri)
Imam As-Sifaraini ulama Mazhab Hanbali berkata bahwa Al-Marwadzi menyebutkan : “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) mengenai men­cium tangan. Maka beliau menjawab, “Jika itu dilakukan karena alasan agama, tidak apa-apa. Tetapi bila karena alasan dunia, tidak dibolehkan.” (Ghidza’ Al-Albab)

Ibnu ‘Abidin, ulama Madzhab Hanafi, mengatakan : “Tidak apa-apa mencium tangan seorang alim yang waro‘ untuk mendapatkan keberkahan (tabarruk), dan ada pula yang mengatakan bah­wa itu sunnah.” (Hasyiyah Ibn ‘Abidin)
Az-Zaila‘i mengatakan, “Dalam Al-Jami’ush Shaghir dikatakan: Syaikh As-Sarkhasi dan sebagian ulama mu­taakhirin membolehkan mencium ta­ngan seorang alim atau seorang yang wara‘ dengan maksud mendapatkan ke­berkahan (tabarruk).” Sedangkan Ats-Tsauri me­ngatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil adalah sunnah.” (Tabyin Al-Haqaiq)
Inilah salah satu ajaran syariah yang patut untuk dilestarikan dan dihidupkan lagi di zaman sekarang ini, dimana orang-orang sudah banyak yang melupakannya.
wallahu a’lam
http://suraukecil.blogspot.com/2014/01/cium-tangan-ulama-adalah-sunnah-bukan-ghuluw-atau-kultus.html

Tinggalkan Balasan