karomah seorang murid karena kepatuhannya

Sayyidina ‘Ubaidullah QS berkata pada muridnya, “Pergilah, aku akan datang.” Sang murid pun pergi, hanya berpikir, “sang Syekh berkata ‘Pergi’, maka aku pun pergi”. Waktu Maghrib pun tiba, dan Sang Syekh belum tiba. Ia (sang murid) pun menunggu. Hari berikutnya, sang Syekh masih juga belum datang. Sang murid mulai untuk makan buah-buahan yang ada sampai tak ada lagi makanan yang tersisa. Satu minggu berlalu dan sang Syekh pun masih belum datang. Satu bulan berganti menjadi tiga bulan.Berlalu pula musim penghujan dan musim kemarau. Hari demi hari berlalu, namun sang murid tetap menunggu dengan penuh kesabaran baik dalam guyuran air hujan yang lebat maupun dalam cuaca buruk lainnya. Dan saat salju mulai turun, bumi pun membeku dan ia tidak menemukan apa-apa untuk dimakan. Tetapi Allah SWT, Yang Maha Pemurah, mengirimkan baginya seekor rusa. Rusa itu datang di pagi hari, dan sang murid memerah susu darinya, dan ia pun puas dan bersyukur sepanjang hari. Ia paham benar akan ayat, “Ma khalaqta al-jinna wal ins illa li ya`buduna la uriidu minhum min rizq wa la uriid an yut’imuun“. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Aku tidak meminta dari mereka rizki, tidak pula Aku minta mereka untuk memberi makan pada-Ku”. Allah SWT menyediakan bagi murid ini karena ia adalah seorang PENGIKUT yang baik yang menginginkan untuk membangun akhirat-nya lebih dari keinginan lain apa pun.
Allah SWT menyediakan makanan untuk memberinya energi. Makan, bukanlah sekedar suatu jawaban terhadap perasaan lapar secara biologis. Makan menyediakan bahan bakar bagi tubuh kalian untuk beribadah. Kalian harus memulai setiap makan dengan niat untuk memperoleh energi untuk ibadah. Dan kalian harus menggunakan energi ini untuk membangun akhirat kalian. Jika kalian memperhatikan baik-baik pesan ini, dan mengikuti Sunnah untuk membangun akhirat kalian, Allah SWT akan membuat kalian merasa puas dan kenyang sekalipun dengan hal yang paling kecil dan sederhana. Sang murid tadi menunggu kedatangan Syekh-nya selama tujuh tahun. Ia minum susu dari rusa tadi setiap hari dan kemudian membaca Quran. Hewan-hewan akan berkumpul di sekelilingnya untuk mendengar zikir-nya dan mendengar bacaan ayat-ayat Quran, dan mereka pun menjadi amat jinak. Kebalikannya, kita, adalah hewan-hewan liar dan buas—bahkan terhadap satu sama lain.
sumber : muhubbunnaqsybandi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan