Kategori: psiko evolution

yang membentuk kita adalah memori kita

klo gk salah itu yg sy tangkap dr film nextgen, dlam bahasa lain mbah kyai bilang walau kelakuan sama dan semuanya sama, tetapi tetap masing2 mempunyai cerita yg berbeda … contoh, didaerah baru kmd ia kecopetan, kmd prgi dr daerah tsb, bisa jd ia akan crita, disna loh banyak copetnya, hati2. brbeda dg org lain

melihat

ketika aku mulai melihat dan mengamati sekeliling aku mulai menyadari dan melihat bahwa setiap orang punya peran masing-masing ibarat melihat film (bukan dari sudut pandang pemain, melainkan sebagai pemirsa), keelokan film akan terlihat, semua hal telihat saling melengkapi aku takjub dengan semuanya, semuanya begitu berjasa dalam lingkaran kehidupan tidak ada yang tidak bermanfaat, tidak ada

dakwah bil qolbi

Setelah posting sensasi energi, permen spiritual, sekarang mengenai dakwah …. Dakwah adalah mengajak kepada fitrah kita, mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada rahmat Allah, mengajak kepada Rahmat lil ‘Alamin , mengajak ke Rosululloh. Setelah dipahami bahwa segala aktifitas kita menimbulkan suatu energi/ aura yang bahkan mempengaruhi sekitarnya. Maka dakwah dapat kita klasifikasikan menurut energi tersebut 1. 

permen spiritual, nikmatnya beribadah

Kebaikan/ibadah/dzikir yang kita lakukan akan menimbulkan suatu energi. Getaran dari dzikir lisan kita akan menimbulkan gelombang yang memindahkan energi, getaran dari gerakan/perbuatan kita juga begitu, bahkan getaran hati kita juga menimbulkan gelombang energi.  Energi yang timbul dan mengalir ini akan menimbulkan sensasi-sensasi energi, dan ini dapat anda baca dipostingan sebelumnya, sensasi energi, pengalaman spiritual Tentu

sensasi energi, pengalaman spiritual

wejangan kemaren jum’at mengingatkan lagi bagaimana “sensasi spiritual” atau lebih enak dibilang “sensasi energi” di awali oleh curhat seseorang, bagaimana tentang apa yang dirasakan ketika ikut berdzikir atau keadaan-keadaan tertentu di hati. saya sih gak ngerti “spritualisme” benar-benar buta akannya …. dihubungkan dengan energi saja biar enak dipahami, karena memang kemaren dianalogkan dengan energi, teima

belajar Ikhlas dari "pup"

jorok emang, mbahas kok bahas BAB/ “pup”, tapi ini terinspirasi oleh diskusi emnegnai ikhlas, dan ada yang melontarkan “ikhlas itu ibarat pup” bukan berarti menyamakan ikhlas dengan pup, tetapi apaun itu, kejadian apapun dapat kita ambil hikmah dan pelajarannya. sehingga tidak salah bila kita mengaji “PUP” Vs Ikhlas 1> tidak makan maka tidak “pup”, karena

ngaji dan dzikir, dengan fikiran ngelantur ????

Saya gak ngerti dengan yang lain, ketika ngaji di depan guru atau ikut majelis dzikir wah fikiran malah neglantur, jalan-jalan ke sana ke mari. Malu (hanya omongan tog) terutama di hadapan guru/orang yang dapat membaca isi hati ini, tapi ya gitu ….. saya bilang omong tog, terbukti, fikiran tetap saja melayang walau berkata malu. Seumur-umur,

robot dan pertanian

beberapa wktu yang lalu mendengar obrolan jama’ah, salah satunya yang menarik hati adalah komentar beliau mngenai pendidikan kita. mengapa pembelajaran membuat robot lebih diutamakan? dalam kurikulum, memang robotik dan elektronik ini seperti mendapat porsi yang lumayan, menungkin dengan tujuan meningkatkan teknologi bangsa. membuat lebih banyak orang yang melek teknologi. komentar beliau “kita itu dibodohi, mengagungkan

penjajahan dulu dan sekarang

beberapa waktu yang lalu, membaca sekilas tentang pelajaran sejarah indonesia k13 kelas xi. mengenai penjajahan, bagaimana negara asing mulai menemukan nusantara dan bagaimana mereka menjajah kita, misalkan VOC. membaca lahirnya VOC, petkembangan sampai perkembangan, penjajahan dllx. mereka mula-mula hanya mengincar hasil pertanian kita, mereka berinvestasi, bernegoisasi hingga mulai ikut campur akan kebijakan-kebijakan karena menginginkan keuntungan

tema demo hari buruh

hari buruh, seingat saya, ada tuntutan yang gak pernah ketinggalan, “NAIKKAN GAJI KITA!” pernahkah berdemo? “BERI PEKERJAAN TEMAN DAN TETANGGAKU” salah satu efek dari naiknya gaji para buruh adalah semakin meningkatnya daya beli buruh tersebut, tetapi dilain fihak, akan memicu harga dagang semakin mahal juga, yang kasihan adalah para buruh (bukan pabrik besar) yang sekup