Sholat

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimAllaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iinAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhAllah Allah Aziz AllahAllah Allah Subhan AllahAllah Allah Sulthon Allah
Saudara-saudaraku,Nanti di akherat akan digelar satu fase atau masa pertanggungjawaban diri, untuk menilai apakah kenormalan yang sejak semula itu terpelihara atau tidak. Sholat adalah bengkel yang stationer. Inna sholaata kaanat ‘alal mu’minina kitaaban mauquta. Sholat itu adalah keniscayaan yang mesti diselenggarakan untuk orang mukmin setiap waktu secara teratur. Untuk apa? Untuk normalisasi dan memelihara kenormalan itu. Dengan kata lain dapat dikatakan, sholat adalah latihan untuk mati. Itu seyogyanya merupakan bagian akhir dari kehidupan kita di alam fana ini untuk jasmani kita, kalau ruh kita abadi sejak dicipta di jaman azali sampai alam baqa, abadi dengan Allah. Barang siapa menjalani kehidupan ini dengan penuh kelalaian, maka akan penuh penyesalan. Husnul Khotimah adalah kita dijemput oleh malaikat, ruh kita untuk melewati alam barzah ke alam baqa dalam keadaan kita ‘normal’ seperti kita di alam azali, kalau dalam keadaan lalai itu yang menjadi masalah. Maka sholat yang kita lakukan seyogyanya kita kemas sebagai langkah sadar untuk menormalisir kembali pertalian kita dengan akherat, dengan Allah, dan dengan rosulullah. Sholat adalah saat mana dalam sekejap rangsangan badaniah, rangsangan dari luar badan kita, kita putus tali hubungannya. Pikiran tidak kita pekerjakan lagi. Hal-hal sebagai akibat dari rangsangan badaniah kita tidak difungsikan lagi. Sholat bukanlah rutinitas dan bukan mewujudkan ‘apalan donga’ (hapalan doa) dan bukan kearagaan kita, tapi sholat adalah untuk kembali ke normalitas. Terus kita fungsikan diri kita untuk sengaja melakukan sholat bahwa yang sedang sholat aadalah hamba allah yang sedang mencari ridho Allah, hamba Allah yang mencari husnul khotimah ,hamba allah yang mencari keselamatan diakherat nanti supaya bisa dipetik keberuntungan.
Saudara-saudaraku,Adalah langkah mengetuk dua pintu sekaligus, yaitu pintu wushul atau sampai dan nyambung kepada Allah dan mengetuk sendiri-sendiri katub yang ada pada diri kita. Habis setiap orang itu mengalami bentukan yang sifatnya menutup yang timbul sebagai karat dari kelalaian, keaniayaan diri dan kesembronoan. Semua orang dalam kehidupan ini automatically menginjakan kaki di potensi kebiasaan menunda. Hati ini menyimpan potensi Ruh dan Fitrah tetapi ketutup ‘ambek’ (baca dengan) jumlahnya sembrono, aniaya dan kelalaian. Sholat sekaligus mengetuk 2 pintu yaitu pintu Allah agar wushul dan sekaligus mengetuk pintu katub hati untuk membuang karat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan. Sedangkan alat untu untuk ‘wushul’ adalah kedekatan dan kebersamaan diri kita kepada Rosulullah Muhammad SAW. Sholat bukan rangkaian kegiatan yang given. Sholat itu perbuatan yang tergantung pada azam atau kesengajaan dan niat. Sholat adalah langkah kesengajaan yang dilakukan dengan mengatakan “Usholli” (dengan sengaja saya sholat).
Thoriqoh Naqshbandi adalah suatu asosiasi diantara sesama kita bersama guru supaya kita semakin terbimbing kearah kejelasan yaitu kejelasan yang merupakan adonan yang sejak jaman Rosululluh dibangun bersama para sahabat Beliau yang kita tarik sampai masa sekarang melalui mata rantai guru yang mengantarkan kita kepada perspektif seperti itu.
Insya Allah perjumpaan kita disini mencerminkan langkah kita untuk maju, bukan maju sedikit mundur banyak, maju sedikit mundur banyak, akhirnya menuju langkah kemunduran. Tolong itu dielakkan. Segala perbuatan yang kita lakukan harus mulai punya ancang-ancang. Ancang-ancang kesengajaan untuk selalu bersama Rosulullah. Mohon ini dicamkan untuk menjadi sesuatu yang disengaja benar untuk diorientasikan dan ‘disok’ (dituangkan) susunan kesadaran ke dalam diri kita, Semoga taufik dan inayah terlimpah kepada kita semua.
Dengan berkah Rosulullah dan berkah Syaikh Nazim… insya Allah… Bihurmati suratul fatehah…
Allah Allah Aziz AllahAllah Allah Sulthon AllahSejarah Dalail Khoirot Ada seorang alim (adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan dan kematian yang dipetik dari sunah nabi) bernama Abu Abdillah Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli. Dalam perjalanannya, ketika waktu ashar, beliau tiba di suatu gurun yang sangat panas, suhunya kira-kira pada posisi 45°. Beliau melihat dikejauhan ada Oase yang dapat ditempuh setengah jam. “Bila sholat disini, maka harus tayamum dan tempatnya sangat panas” maka akhirnya memutuskan untuk sholat di oase. Beliau sadar betul, beliau itu siapa, Allah itu siapa, hidup untuk apa, tujuan kemana, jadi sebetulnya pengalamannya is Ok. Di Oase hampir 1 jam. Dilihatnya ditepi oase ada sumur. Beliau kemudian menuju ke sumur. Beliau mencari timba untuk wudhu. Tiba-tiba beliau dikejutkan dengan seorang ‘genduk’ (anak perempuan) berumur 5 tahun. Si Genduk bertanya ‘Lagi ngapain pak ?’. ‘Ini waktu ashar sudah masuk, dan aku mau wudhu, tapi timbanya tidak ada.’ ‘Ooo mau wudhu, kata si Genduk.’ Sesaat kemudian dengan ‘umak-umik’ disedotnya banyu (air) dalam sumur tadi dan langsung mancur tibo ing ngarsane (keluar airnya dan diberikan kepada) Imanm Jazuli. Beliau sangat heran dan takjub. “Ya Bintah”, Nduk genduk,…rene’o (baca: Nak kesinilah). Apa lagi yang ingin kubantu ?’ kata si Genduk (perempuan kecil)’. Kepriye kok bisa nyedot banyu kuwi (mengambil air) kata Imam Jazuli? “Si Genduk bilang “Aku diajari abahku dari kecil untuk menyapa Rosulullah dengan sholawat.” Kalau ada apa-apa tinggal menyapa Rosulullah. Wajah Imam Jazuli seperti dipukul ambek Mike Tyson, mendengar jawaban Si Genduk. Imam Jazuli malu. ‘Aku kok kalah karo arek cilik si genduk iki (Aku merasa malu dengan si perempuan kecil ini). Dengan kata lain sholawatnya ‘si alim’ ora doyo yen ora menyatu karo rosulullah. Begitu terpukul…Imam Jazuli mengucapkan : Astagfirullah ya robb…astagfirullah ya habiballah. Kemudian beliau Imam Al Jazuli pulang ke rumah dan tidak keluar dari kamar selama 13 tahun untuk mengakses ke Rosulullah, dan tidak sedetikpun ingin lepas dari kebersamaan dengan Rosulullah, dan telurnya adalah Dalail Khoirot. Untuk melakukan Dalail Khoirot ini harus tergantung dengan azam (kesengajaan) dan niat. Kesengajaan dan niat untuk selalu bersama dan menyatu kepada Rosulullah, sehingga membaca Dalail Khoirot mesti dengan hati, dengan sense, karena rahmat allah terbesar adalah diturunkannya Rosulullah Muhammad kepada kita.
Saudara-saudarku,Perjalanan aku dan kamu ora bakal ‘jetis’ (tidak ada daya) bila tanpa kebersamaan dengan rosulullah. Maka setiap kita membaca sholawat seharusnya dengan hati dengan sense, bukan membaca with no heart, no sense. Suatu ilmu yang tidak disertai dengan kedekatan dengan nabi… almost nothing.Allah Allah Azis AllahAllah Allah Subhan AllahAllah Allah Sulthon AllahWa min Allah At Taufiq Al Fatehah.
Shohbet ini ditulis dengan bahasa asli yang keluar dari bahasa hati Syaikh Mustafa Haqqani melalui rekaman audio yang kami putar ulang. Semoga shohbet ini mengetuk pintu Allah agar wushul dan pintu karat hati akibat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan kita. Amiin.

Bersumber dari Syaikh Mustafa Haqqani
Friday, 18 February 2005

Kediaman Jokotry Abdul Haqq, Jalan Sawi 16A Semarang 50273Disarikan oleh Jokotry Abdul Haqq

http://condrobawono.blogspot.co.id/2008/11/merokok-memutuskan-dari-segala-kebaikan.html

ziarah

Untuk dapat melakukan ziarah dengan baik, perlu diperhatikan adab yang benar,agar tercapai tujuan yang semestinya, dan tidak meleset arahnya. Pastikan bahwa kita benar-benar sedang mengarah hanya pada apa-apa yang disukai dan di ridhoi Allah SWT, jangan pada arah yang tidak jelas.
Bahwa berziarah kepada para Awlia ataupun kekasih Allah SWT apalagi yang merupakan sahabat Nabi SAW ataupun umumnya para wali, merupakan perkara yang sangat dianjurkan, dan seyogyanya begitu rupa kita pentingkan. Rasulullah SAW sendiri nyata-nyata mengunjungi makam sahabat-sahabat beliau, yang merupakan awlia itu, di Baqi’ al-Gharqad, mendoakan ampunan Allah SWT bagi sahabat –sahabat beliau. Demikian juga beliau berziarah ke Uhud. Bahkan suatu ketika Rasulullah SAW juga menyapa suatu makam orang kafir…
Betul nggak janji-janji Allah SWT yang aku di suruh menyampaikannya kepadamu? Ancaman-ancamannya sudah kamu jumpai sekarang kan?”
Para sahabat lalu bertanya,”Apakah mereka dapat mendengar sapaanmu itu yaa Rasulullah SAW? Rasulullah SAW menjawab ”Mereka mendengar,namun (karena kafirnya di dunia dahulu,kini mereka sibuk dengan penderitaan yang sedang melilit dirinya di dalam kubur) tak mampu lagi menjawab sebagaimana mestinya.”
Nah, kalau orang kafir saja mendengar,walaupun tak berdaya menjawab, bagaimana halnya dengan orang mukmin? Bagaimana dengan orang saleh? Bagimana dengan dengan Awlia? Bagaimana dengan para Syuhada? Bagaimana dengan Anbiya? Bagaimana dengan sahabat-sahabat nabi yang mereka merupakan suluh bagi kita untuk dapat meraih petunjuk Allah SWT yang kita cari, dan yang sangat kita perlukan? Yang demikian ini sudah jelas terungkap dalam riwayat dan hadits yang shahih.
Hal-hal yang sepatutnya menjadi tujuan ziarah ke makam para wali ataupun orang-orang alim adalah agar kita menjadi semakin dekat (qarib/taqarrub) kepada Allah SWT itu sendiri. Kedua adalah agar kita berdo’a dengan tulus, dan bersungguh-sungguh untuk beliau, karena sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahi suatu bentuk barakah yang berlimpah kepada beliau dan karena lubernya barakah itu, semoga terlimpah kembali kepada para peziarah dan keluarganya yaitu dalam bentuk dan takaran rahmat yang semakin melimpah ruah.
Yang sepatutnya dilakukan oleh para peziarah adalah mengambil posisi berhadapan muka dengan yang diziarahi. Dalam jarak yang cukup dekat namun penuh hormat. Menyampaikan salam dengan sikap yang sopan,khusyuk, merunduk, memandang ke bumi dengan teduh, serta menghormati pribadi yang diziarahi, seraya menanggalkan aneka macam kesadaran diri yang ada. Imajinasikan seolah-olah kita sedang menatap muka beliau, dan sorot mata beliau pun seolah-olah menatap kita. Hati meliput cakrawala keluhuran martabat maupun asrar (rahasia rohaniah) yang dilimpahkan Allah SWT pada beliau, pada keluhuran kewalian beliau pada aspek kedekatan beliau dengan Allah SWT dan lantaran ketaatan beliau kepada-Nya yang telah mendatangkan limpahan wacana Rabbaniyah pada diri beliau itu. Lakukan hal ini dengan khidmat. Kalbu ataupun bashirah (mata batin) peziarah seharusnya terus menerus dan semakin cermat menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa betapa dangkal dan tumupulnya upaya diri kita untuk meraih taraf ”kasih” Allah SWT seperti yang telah beliau peroleh itu. Maka tumbuhkanlah sendiri suatu nuansa kesadaran diri untuk memulai semakin bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah SWT dengan meniru beliau yang sedang diziarahi itu, dan agar memperoleh pencerahan dari beliau.
Inilah nikmatnya berziarah yang dapat di tempuh untuk dapat lebih bergegas-gegas lagi menuju Allah SWT, bangunkan sendiri garis lurus dalam alam sadar (conscious) kita suatu energi ghaib (di dalam qalbu) seraya mengelakkan diri dari pesona (magnitude) maupun tarikan kuat ”selera duniawi”.
Ketahuilah, sesungguhnya getaran selera dangkal, atau duniawi itulah yang membutakan ”bashirah” dan menghalangi suatu kedekatan antara kita dengan Allah SWT atau pun dengan citra diri yang baik dan itu jugalah yang tak henti-hentinya membuat kita berputar-putar secara tak berkeputusan.
Hendaknya peziarah memandang diri sendiri dengan mata hatinya, betapa sesungguhnya dengan ziarah itu berarti Allah SWT, sedang bermurah hati menjadikan diri peziarah itu semakin mendekati seorang wali tertentu, dan bahwa dirinya mulai bersedia menyandang perilaku (akhlak) para kekasih Allah SWT itu, bahwa ia semakin mantap dalam berpegangan kepada model panutan, serta jalan hidup yang benar, dan penuh kesungguhan menuju Allah SWT seperti dilakukan beliau-beliau para Awlia itu. Dan agar dapat mencapai martabat kehambaan yang hakiki di sisi Allah SWT seperti yang saat ini menjadi reputasi beliau-beliau para wali itu.
Namun betapa kenyataan sehari-hari yang di jalani para peziarah justru mendepak kembali peluang, dan kondisi yang dihadapkan oleh Allah SWT itu menjadi hanya selintas maya. Jika memang demikian, seharusnya peziarah mulai membayangkan seolah-olah dirinya sedang hadir di hari kiamat, ataupun di hari kebangkitan. Saat itu para awlia yang bangkit dari makamnya itu pun dalam tampilan ataupun citra yang cerah dan penuh keriangan karena menyandang ridha Allah SWT dari sebab perilaku yang beliau-beliau lakukan di dunia dahulu dengan penuh ketaatan – disamping keterkaitan nya yang intens bersama Rasulullah SAW. Beliau-beliau mengendarai kereta cahaya yang menggambarkan karamah beliau, seraya dipayungi oleh para malaikat dengan payung gemerlap, yang berawal dari amalan-amalan salehnya. Di atas kepala beliau-beliau bertemaram cahaya tiara, sedemikian teduh, dan dapat kita jadikan tambatan yang dapat menyaput derita para pendosa ataupun orang-orang yang berbekal ketaatan, namun lantaran pengejarannya di dunia ini atas syahwat yg tak berkeputusan, dapat menjungkalkan yang bersangkutan ke derita kubur. Orang-orang seperti itu kini sedang melolong dalam tujuannya dan kebingungannya. Penuh ketakutan dan bersimbah peluh yang telah menenggelamkan dirinya dalam nestapa, seraya makin tak tahu apa yang bisa di perbuatnya.
Yakinlah dirimu wahai peziarah, jangan sampai kelak akan mengalami yang demikian itu. Maka bangkitkan rohanimu jangan lagi berlalai-lalai, berdukalah sekarang, menangislah saat ini, jangan nanti. Dan mulailah berdoa untuk kedua perspektifmu di dunia ini, terutama di akhirat nanti. Mohonlah agar Allah SWT yang Rahim membenahi dirimu dengan mengkaruniakan taufik kepadamu seperti halnya menjadi karunia Allah SWT bagi orang-orang saleh. Bacalah ayat-ayat Al Quran, perbanyak doa, istighfar, penyadaran diri kepada Allah SWT yang semakin bersunggu-sungguh dan penuh harap. Tentramkan dirimu bersama Awlia, anbiya, atau sahabat, dan merasakan cukup bersamanya sajalah, jika demikian ini dapat kita persembahkan kepada Allah SWT. Niscaya Dia makin melimpahkan rahmat, dan semakin berkenan mengjibahkan doamu.
Ketahuilah hanya dengan bersungguh-sungguh, orang akan mendapatkannya dan yang beruntung meraih pintu Sang Pemurah, pasti tak akan kandas dari segala apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Oleh karena itu hindarilah kecondongan hati yang tak bersungguh-sungguh melalui ziarahmu kepada orang saleh.
Berziarahlah dalam kekhusyukan dalam taqarrub kepada Allah SWT. Janganlah karena pertimbangan membutuhkan pengakuan orang, dan jangan pula supaya terkesan sebagai orang saleh, malah nanti akan menjadi tambahan puing petaka rohanimu saja.
Hindarilah dari bercakap yang tidak baik, ataupun tak senonoh, ataupun yang tak jelas perlu dan manfaatnya, di haribaan makam orang saleh. Sebab hal itu dapat menimbulkan murka Allah SWT dapat menimbulkan ”gelo” (kekecawaan – Jawa) ataupun kedukaan orang saleh itu sendiri, dan sekiranya malah akan menghampirkan dirimu sendiri kepada kehancuran secara tidak kita sendiri. Sekali lagi elakkan yang demikian ini.
Poin utama dalam ziarah adalah menggerakkan dzikir, shalawat, baca ayat Al-Quran, sepenuh jiwa dan raga.
Hanya Allah SWT saja yang dapat menunjukkan kita ke jalan yang benar dan membahagiakan. Maka kita bersandar, bertumpu, dan berserah diri ke jalan-Nya. Shalawat dan salam semoga makin terlimpah kepada Rasulullah SAW, pegangan kita hingga hari pembalasan kelak. La hawla wala quwwata illa billahil ’aliyyil ’adhiim.
Wa min Allah at Tawfiq

Bersumber dari Syaikh Mustafa Haqqani
Tuesday, 01 March 2005

http://condrobawono.blogspot.co.id/2008/11/merokok-memutuskan-dari-segala-kebaikan.html

SMM : misi thoriqoh

Rahmat & ujian adalah ibarat telapak tangan dan punggungnya. Seringkali rahmat datang dalam bentuk ujian. Sebaliknya, tidak jarang ujian datang dalam bentuk rahmat.
SMM. Purwomartani 3/1/2016.

=========================

Hening di hira
Hening di tsur
Hening di cakrawala terujung bersamamu ya Muhammad
Mengantar aku ke ampunan dan ridha Ilahi
Berjalan menyongsong akhlakmu dengan belajar dari khilaf ini selalu tiada henti Cahayamu menerangi lekuk2 kenistaanku untuk hidupkan gairahku menuju Engkau wahai kekasih..

-Syaikh Mustafa Mas’ud-

==========================

“Semoga NU akan menjadi suatu majelis yang bertumpu pada kesadaran, segala sesuatu karena rahmat Allah, supaya kami dapat merasakan betapa nikmatnya rahmat-Mu itu. Tercapai sudah perjuangan bangsa Indonesia untuk memulihkan kembali kemerdekaannya. Ini berkat rahmat Allah yang Mahakuasa,”

===========================

Lebaran adalah saat panen bagi orang yang menanam akal budi dan cinta sebagaimana Allah berkeinginan yaitu menjadi pribadi baik dan benar,tulus selalu bersyukur..
(Syaikh Mustafa Haqqani)

============================

AHLUSSUNNAH wal jama’ah adalah risalah nabi yang berkelanjutan, nubuatan yang TERPELIHARA oleh KAROMATUL AULIA, serta SIKAP NURANI-KREATIVITAS- KINERJA yang konstan mengusahakan KEMASLAHATAN orang banyak dengan ACUHAN TAWAJUH terus menerus ke Allah dan Rosululloh.

============================

“Orang yang hatinya selalu tergerak untuk memberi, mereka akan melihat pintu Allah selalu terbuka. Mereka masuki itu, karena mereka melihat pintu lain selain pintu Allah tertutup. Dan mereka hindari itu (yang selain Allah).
Mereka yang selalu di jalan Allah akan mendapat banyak kemudahan dan mereka tidak akan mendapat celaan.”

Kutipan ngaji kitab Al Fathur-Rabbani (Syaikh Abd Qadir Jilani qs) bersama Syaikh Mustafa Mas’ud Haqqani.
Zawiyah Hasbi Jakarta, 19 Maret 2015

=============================

“Misi Thoriqoh Naqsabandi Al-Haqqoni ialah bukan pada wiridnya, tapi menumbuhkan getar di hati seseorang, menumbuhkan rasa cinta terhadap Rosulullah. Agar para umat, khususnya anak-anak muda Mahasiswa bisa menangkap esensi Islam itu sendiri, yaitu akhlak kerendahan hati,”

===========================

mengenai ISIS : “Acuhkan dan tidak usah memikirkan hal tersebut. Sibukan diri dengan kebaikan, karena esensi dari pada Islam yaitu adalah konsisten dalam menebarkan kebaikan,”

============================

“Islam itu mengajarkan kerendahan hati. Dari hal itulah akan memancar sinar kemulyaan yang membuat nyaman orang-orang disekitarnya,”

============================

Yai Imam Mustofa Tegal Arum Kertosono itu abah dari mbahyai Munawir Kertosono, guruku. Yai Romli, mbahku, juga bai’at ke Yai Mustofa.Terjadi dialog antar mbahyai Munawir dan Syaikh Mustafa.
Syaikh Mustafa:”Saya ingin menyampaikan sesuatu yai..”
Mbahyai Munawir:”Saya sudah tahu..”
Mbahyai Munawir:”yai Mustofa ini (Syaikh Mustafa-red) adalah murid dari bapakku, sekarang menjadi muridku. Tapi aku senang yai Mustofa ini mendapat guru yang lebih hebat lagi, yaitu Sultan para wali-wali dizaman sekarang.”

Di atas adalah terjemahan dari WA SMM berikut:
Syaikh Mustafa Hq: Yai Imam Mustofa tegal arum kertosono iku abah mbahyai Munawir krtsno guruku, yai Romli mbhku jg ba’at keyai Imm Mstfa. Abahe mbahyai Munawir yai Romli yo bai’at yai Imam Mustofa iku, aku yo dibilang : yai Mustofa iki muride yai Imam Mustofa bapaku. saiki muridku jare mbahyai Munawir, tapi aku sueneng yai Mustofa iki entuk guru sing luwih top maneh Sulton wali2 zaman saiki. Aku wis roh yai ngndikane mbahyai Munawir ktk kubilang kulo badhe matur mbah lalu diatad td ucapane mbahyai Munawir

============================

sumber : https://www.facebook.com/SyaikhMustafaHaqqani/

Mawlid Nabi Muhammad SAW,Merayakan Kembalinya Nur Muhammad Dalam Diri

Kutipan Mauidoh Hasanah
Al Mukarrom Syaikh Mustafa Mas’ud
di acara Mawlid Nabi Muhammad SAW.

Cikampek,1 Mei 2016
(selalu) Ada sisi kemuliaan didalam diri kita, karena ada Nur Sayyidina Muhammad, kita mengikuti Maulid Nabi besar Muhammad SAW ini, hakikat sebenarnya kita sedang merayakan kembalinya Nur Muhammad (didalam diri dan kehidupan kita).Pada saat shalat kita baca “inni wajjahtu…-Dan seterusnya (bacaan iftitah),bacaan itulah yang harusnya juga kita “baca” sebelum memulai aktivitas harian kita. Khusyu’ dalam shalat itu mengingat Allah dengan hati.. jangan dengan pikiran… shalat itu dimulai dengan takbir dan diakhiri salam, sebenarnya (hakikat) shalat baru mulai setelah salam..,artinya  Bagaimana langkah-langkah kita setelah itu (shalat) untuk menjadi manusia yang baik dan benar..

Yaa Rasulallah.. salaamun alaik….yaa rafii ‘asysya niwaddaroji.. 


Tarekat itu adalah tentang bagaimana merasa di depan guru, di depan wali, di depan Rasulullah SAW, dimana beliau beliau berada di ruang dan waktu yang berbeda dengan kita.

Maulid itu memancarkan aura, yang berat jenisnya lebih ringan dari udara, Aura tersebut membumbung tinggi menyatu dengan Aura Rasulullah SAW, lalu menyentak para malaikat,dilihat para malaikat apa yang ada didalam kalbu kita, jika ada doa terpanjat maka insyaAlloh pasti diijabah oleh Allah. Baiat itu hati yg hadir yang dititipkan Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Subhanarrauf mahasuci Allah yang maha pengiba.. Puncak shalat kita adalah Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullaohi wabarkatuh… dan Assalaamu’alaika wa ‘alaina wa’alaa ‘ibadillahissholihin..  Subhanarrauf..ir’afna ya Rauf..

 

sumber : http://www.kampungsholawat.org/2016/05/mawlid-nabi-muhammad-saw-merayakan-kembalinya-nur-muhammad-ke-dalam-diri.html

Dengan Niat Kuat Kalian, Syekh dapat Mengangkat Kalian

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.

Dengan Niat Kuat Kalian, Syekh dapat Mengangkat Kalian

Segala sesuatu…subhaanAllah, Awliyaullah tahu, mereka mempunyai bakat dan mengatahui rahasia bagaimana cara mengangkat kalian lebih  tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan kita hanya melakukan  hal-hal kecil dan mereka  membuatnya begitu luar biasa.  Para ulama mengajari umat, tetapi mereka tidak mempunyai kemampunan seperti itu, untuk membuat sesuatu yang kecil menjadi besar.

Saya ingat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya, Syekh `AbdAllah al-Fa`iz ad-Daghestani, dan kita harus membedakan antara Grandsyekh `AbdAllah ad-Daghestani dan Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah mengangkat derajat mereka–Grandsyekh `AbdAllah berkata bahwa  ketika kalian salat, Allah (swt) akan mencurahkan kalian dengan pahala yang tidak kalian ketahui besarnya; misalnya, jika seseorang pergi ke masjid, untuk setiap langkah mereka berjalan atau menaiki kendaraan apa saja, untuk setiap langkah Allah memberi satu hasanat, amal baik, dan menghilangkan satu sayyia`at, dosa.

Bahkan itu masih di dalam batasan, Syekh Abdul Haqq datang ke sini dari Chicago, 325 mil, 520 kilometer, dan kira-kira 520 ribu meter, atau 1 juta 716 ribu langkah!  Di zamannya Grandsyekh (q) mengatakannya bahwa pada tanggal 27 Rajab (Laylat al-Bara`ah), Allah membukakan Nikmat-Nya pada semua orang yang membuat niat tetapi tidak memenuhinya, misalnya jika mereka ingin pergi ke Chicago tetapi mereka tidak pergi, tetap saja ia akan mendapat pahala seolah-olah ia pergi, dan dari Rahmat Allah di Hari Akhir ini, niat kalian akan mengangkat derajat kalian begitu tinggi sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah (swt) dan Nabi-Nya (s)!

Itulah sebabnya beliau berkata, setiap kali kalian melakukan salat, [atau melakukan ibadah apa pun,  atau melakukan amal baik, atau meminta sesuatu], buatlah niat kalian, Nawaytu ‘l-arba`iin,  “Yaa Rabbii! Aku berniat untuk duduk berkhalwat selama empat puluh hari.”  Jika kalian melakukan hal itu, saat kalian duduk melakukan tafakur, di mana kadang-kadang orang duduk selama lima atau sepuluh menit untuk melakukan refleksi dan meditasi mengenai ma`rifah, Keagungan Allah dan Ciptaan-Nya, itu seolah-olah kalian duduk selama empat puluh hari!  Menutupi diri kalian dengan sehelai kain dan melakukan zikrullah, “Laa ilaaha illa-Llah” atau zikir apapun yang kalian inginkan, dan dengan niat tersebut, itu seolah-olah kalian berada dalam khalwat selama empat puluh hari dan kalian akan diberi pahala yang sangat besar, begitu besarnya sehingga para malaikat tidak mampu menuliskan hasanaat dan pahala yang Allah berikan kepada kalian dengan niat tersebut!  Ibadah yang sama yang biasa kalian lakukan kini diperkuat dengan niat kalian.  Grandsyekh (q) juga mengatakan untuk membaca seluruh niat yang mudah diingat ini,

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.

Grandsyekh (q) berkata bila kalian menggabungkan semua niat ini, semua prinsip dan fundamental bila digabung dalam niat khalwat kalian yang dilakukan di dunia ini, maka di akhirat kalian akan bersama dengan orang-orang yang juga membuat niat ini (yaitu para Awliyaullah). Kalian bahkan dapat menambahkannya dengan nawaytu ‘sh-shiyaam, “Aku berniat untuk puasa” sebelum salat atau membaca Qur’an Suci, karena kalian tidak akan berbicara dengan orang lain, kalian mendedikasikan waktu kalian untuk salat atau zikir atau beribadah seolah-olah kalian berpuasa selama kurun waktu itu, bukan puasa sesungguhnya, tetapi kalian membuat niat ibadah puasa, jadi dengan Rahmat Allah dan syafaat Nabi (s), kalian akan diberi pahala untuk semua puasa dari orang-orang yang pernah puasa di dunia, semuanya digabungkan sejak Adam hingga Hari Kiamat!

Awliyullah adalah mercu suar dan mereka disebut “umat yang saleh dan ikhlas” di antara umat karena kebaikan apa pun yang diberikan kepada mereka, mereka juga rela membaginya dengan yang lain, karena itu merupakan salah satu prinsip iman, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidaklah seorang di antara kalian dikatakan beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya. (Bukhari dan Muslim)

Ketika Awliya melihat rahmat ini diturunkan kepada Ummah an-Nabi (s), mereka senang membaginya sesuai dengan level mereka.  Itulah sebabnya Grandsyekh (q) … sudah tidak ada sekarang, tetapi saya akan membaginya dengan kalian.  Demi kecintaan kalian pada syekh kalian, kalian ingin memberikan sesuatu kepadanya ketika kalian berjumpa dengannya dan kami sangat mencintai Grandsyekh (q) pada saat itu, dan insyaa-Allah pada saat ini dan setiap waktu!  Sebagaimana yang kami lakukan dan sebagaimana banyak murid yang memberi sesuatu kepada Mawlana Syekh Nazim, ketika kalian bertemu dengan syekh, kalian memberinya sesuatu, meskipun Hadits Nabi (s) mengatakan,

ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

[Di antara tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat adalah] orang yang memberi sedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. (Bukhari)

 

Jadi ketika kami mengunjungi Grandsyekh (q) kami menyerahkan sesuatu, saya tidak akan mengatakan apa itu, tetapi kami menyerahkan sesuatu dan saat itu sampai sekarang, setiap kali saya mengingatnya, saya masih bisa menggambarkan Mawlana Grandsyekh `AbdAllah (q) dengan busana yang dikenakannya dan bagaimana cara saya menyerahkan amanat itu kepadanya, hadiah itu kepadanya, dan beliau berkata, “Yaa waladii, wahai anakku! Insya’Allah engkau akan mewarisi `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin.”  Seolah-olah saya melihatnya sekarang.

Lihatlah, dengan kekuatan apa beliau mengangkat (derajat) kalian, karena cintanya kepada kalian dan cinta kalian kepadanya.  Beliau dapat melihat hubungan itu sementara kita tidak dapat melihatnya, beliau ingin memberikan yang terbaik kepada kalian, dan apakah yang terbaik itu?  Mewarisi setetes ilmu dari Samudra Nabi (s), `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin “Ilmu tentang Awal” dan “Ilmu tentang Akhir”, setetes dari ilmu tersebut, Grandsyekh sering mengatakan bahwa setetes ilmu tersebut akan membanjiri seluruh alam semesta.  Tidak akan ada lagi alam semesta jika Allah (swt) akan membukakan ilmu yang Dia berikan kepada Nabi (s)!

Itulah sebabnya Grandsyekh (q) berkata, “Semua ilmu awliyaullah, semua jutaan buku yang telah ditulis ini tidak sampai setetes dari Samudra ilmu Nabi (s) sehingga jika ada izin atas perintah Allah untuk membukanya, seluruh alam semesta akan banjir, ia akan musnah ketika kalian memasuki samudra yang dalam itu.”  Samudra apa?  Ketika kalian masuk ke dalam samudra dan berenang, kalian masih mempunyai nafs.  Ketika kalian masuk ke dalam samudra, ketika kalian melewati samudra, sebagian dapat melayang dengan punggungnya: itulah kepasrahan.  Ketika kalian pasrah, kalian tidak lagi mempunyai keinginan, mereka akan mengizinkan kalian untuk memasuki Samudra Ma`rifah, karena di sana kalian akan mendapatkan batu permata, tidak ada lagi batu kerikil, tidak ada lagi sampah–tetapi mereka ingin agar permata ini dijaga, dan dari partikel kecil berisi formula surgawi yang istimewa mereka percikkan pada Ummat an-Nabi (s) [itu menjadi sesuatu yang sangat besar], seperti di dalam Kimia, kalian menggabungkan berbagai unsur dan menghasilkan sebuah reaksi baru.  Setiap saat Awliyaullah mempunyai sebuah formula baru yang muncul dan itu tidak sama satu sama lain, masing-masing berbeda.

Di dalam Hadits an-Nabi (s), di antara jutaan buku di mana-mana, apakah yang terbaik untuk dibaca di dunia ini?  Dan sekarang mereka membuatnya lebih mudah bagi kalian, agar kalian dapat memilikinya di telepon selular, tablet atau apa pun, kalian dapat membacanya setiap saat dan kalian dapat menemukannya tetapi itu bukanlah yang terbaik yang dapat kalian baca! Yang terbaik yang dapat kalian baca adalah sesuatu yang seolah-olah kalian duduk di sebuah taman penuh bunga yang wangi semerbak, ketika kalian menciumnya kalian akan mensyukuri kehadiran kalian di dalam taman itu, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مررتم برياض الجنة فارتع. قالو وما رياض الجنة؟ قال “حلق الذكر”

Ibn `Umar melaporkan bahwa Nabi (s) bersabda: “Ketika kalian melewati Taman-Taman Surga, maka singgahlah di sana.”  Para Sahabat bertanya, “Apakah Taman-Taman Surga itu wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (Tirmidzi)

 

Hilaq adz-Dzikr adalah seperti majelis ini, atau majelis-majelis di masjid.  Taman Surga ini tergantung pada apa yang kalian ajarkan dan pada tingkatan apa kalian mengangkat derajat mereka.  Tetap saja dari semua ini yang terbaik yang dapat kalian pelajari dari zikrullah atau dari ilmu ini adalah al-Qur’an Suci. Nabi (s) bersabda,

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata, dan menemukan kesulitan dalam membacanya, baginya ada dua pahala. (Muslim)

Al-maahiru bi ’l-Qur’ani ma`a ’s-safarati ’l-kiraam al-barara. Orang yang pandai membaca al-Qur’an, karena suara dan tajwidnya baik, ia juga menjaga ahkaam Qur’an Suci, ia akan membacanya bersama malaikat, malaikat akan bersama mereka.  Oleh sebab itu sekarang, sayangnya, ketika kalian bangun tidur, apa yang kalian lakukan?  Kalian minum kopi dan membaca koran, bukankah begitu?  Kebanyakan begitu, tetapi tidak setiap orang.  Di negeri-negeri Arab, atau Inggris, atau Cina atau Jepang, Perancis, Italia atau Meksiko.  Yang pertama dilakukan orang adalah yalhuuq, mereka mengganggu kalian dengan sampah berita-berita yang mereka masukkan ke dalam koran.  Jadi, apa yang kalian baca bukannya bersama malaikat, karena ketika kalian membaca al-Qur’an, kalian membaca Kalamullah.  Koran adalah kata-kata Setan.  Ketika kalian membaca al-Qur’an kalian membaca Kalamullah, dan ketika kalian membaca kitab-kitab ulama, itu adalah kata-kata ulama, walaupun mereka mengutip dari Qur’an dan Hadits; ya Qur’an adalah Kalamullah dan Hadits adalah kata-kata Nabi (s), tetapi penjelasan lainnya adalah kata-kata para ulama itu.

Ketika kalian membaca Qur’an Suci, tidak ada campuran apa-apa di sana, tidak seperti sup, itu adalah Kalamullah secara langsung.  Jadi orang-orang yang pandai itu membaca dan para malaikat juga membaca bersama mereka dengan cara yang sempurna.  Jadi apa yang dilakukan oleh orang yang tidak bisa membaca al-Qur’an?  Ada banyak mualaf dan juga banyak Muslim yang bahasa aslinya bukan bahasa Arab, apa yang akan mereka lakukan?  Apakah mereka akan disingkirkan dari pahala?  Tidak.  Yang Allah (swt) inginkan dari kalian adalah niatnya, tunjukkan niat kalian, dan itulah sebabnya Nabi (s) bersabda,

إنما الأعمال بالنيات

Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.

Innama li kulli imrin ma nawaa, setiap amal yang ingin kalian lakukan dengan niat, para Awliya dapat mengangkat kalian lebih tinggi bahkan jika kalian tidak dapat melakukannya.  Misalnya, saya membaca al-Qur’an setiap pagi, tetapi sekarang ketika saya ingin membacanya, ada tamu yang datang, kemudian ketika saya mulai membaca Qur’an, tamu lainnya datang.  Setelah itu ketika saya ingin membacanya, telepon berdering.  Semua interupsi ini membuat kalian tidak bisa membaca, tetapi karena niat kalian adalah membaca al-Qur’an, maka dituliskan bagi kalian bahwa kalian telah membacanya.

Jadi orang yang tidak dapat membaca al-Qur’an karena ia tidak mengetahui bahasa Arab, niatnya adalah membaca al-Qur;an, melalui cintanya, Nabi (s) memberikan syafaat bagi umatnya dan apa yang dikatakan oleh Hadits?  “Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan membacanya bersama malaikat… dan mereka yang tidak mengetahui bagaimana membacanya dengan baik, wa yatat`at`a fi ’l-qur’an, mereka terbata-bata dalam membaca al-Qur’an sedemikian rupa sehingga orang yang mengerti bahasa Arab akan kesal mendengarnya, tetapi Allah tidak kesal, Nabi (s) tidak kesal, Awliya tidak kesal, dan Nabi (s) bersabda,  wa huwa `alayhi syaaq lahu ajraan. “Orang yang terbata-bata dalam membaca al-Qur’an Suci tetapi mempunyai niat yang kuat pada dirinya, ‘Aku harus membacanya meskipun aku melakukan kesalahan’, yatat`at`a [berjuang dalam mengeja], kalian akan mendapat dua pahala dan malaikat yang ditunjuk akan melipatgandakan pahala bagi kalian bila kalian membacanya seperti itu!   Itulah Hadits Nabi (s) dari Sahih Muslim.

Qaala `Ayesya radhiy-Allahu `anha qaala rasuulullah Al-maahiru bi ’l-Qur’an ka ’s-safarati ’l-kiraam al-barara, orang yang mahir dalam membaca al-Qur’an, ia membacanya bersama malaikat dan orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapat pahala ganda, dengan malaikat yang dua kali lipat.

Jadi Awliyaullah membawa kalian dengan usaha yang kecil.  Saya melakukan serangkaian uji lab dan salah satu uji itu bernilai 425 dolar dan perawatnya berkata, “Dapatkah Anda mengubah kodenya [tagihan asuransi]?  Itu adalah uji yang sama, tetapi dengan kode itu Anda membayar 400 dolar, sedangkan dengan kode ini Anda membayar 100 dolar.”   Awliyaullah mempunyai sebuah kode untuk mengangkat kalian lebih tinggi dan tinggi lagi, Allah memberikannya kepada mereka karena mereka membawa para pengikut mereka ke Samudra Makrifat bersama mereka, seperti seorang jenderal di angkatan bersenjata, ia tidak meninggalkan tentaranya ke tangan musuh, ia akan kembali untuk membebaskan mereka.  Jadi kode-kode ini adalah perlu sebagaimana menurut Hadits, innama ’l-`amaalu bi ’n-niyyaat, itu adalah sebuah kode di mana jika niatnya adalah untuk hijrah menuju Allah dan Nabi-Nya, niatnya untuk hijrah dari dunia dan menghadap Allah dan Nabi-Nya, ia akan diberi ganjaran seolah-olah ia telah melakukannya, bahkan jika ia tidak melakukannya, dan Nabi (s) akan memberi ganjaran padanya, awliyaullah akan membawa tangannya karena mereka adalah para pengikutnya, membawa mereka menuju marifa`ahtullah melalui kalbu mereka.  Jangan berpikir bahwa Syekh kalian tidak membantu kalian melalui kalbu kalian!  Tidak, ada Syekh-Syekh sejati, dunia ini penuh dengan mereka, penuh dengan Awliyaullah, ada 124.000 Awliya untuk mengangkat umat lebih tinggi dan tinggi lagi dengan dukungan Nabi (s).

Jadi ketika beliau mengatakan, `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin, kepada saya ketika saya menyerahkan amanat itu, beliau begitu gembira karena beliau ingin memberi kalian sesuatu atas apa yang kalian berikan untuk membuatnya gembira, itu adalah sebuah hadiah kecil, bukan sampai ke level Grandsyekh, tetapi pada saat itu saya merasakan bahwa inaayatullah, dan rahmatullah turun pada saat itu ketika beliau mengucapkannya, dan beliau membawa saya bersamanya Kekuatan inaayatullah dan rahmatullah itu dan beliau berdoa, “ Ya Rabbii `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin fii kulli lahzha, pada setiap saat,” dengan niat itu beliau ingin agar saya dapat “merasakan `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin dalam setiap saat kehidupannya,” dan itu adalah sebuah ganjaran dari Awliyaullah!  Hitunglah sekarang berapa banyak ganjaran yang mereka berikan kepada kalian sepanjang hidup mereka?  Bukan hanya dalam kehidupan mereka, tetapi bahkan lebih banyak lagi di Akhirat karena mereka lebih bebas di sana, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan,

القبر إما روضة من رياض الجنة ، أو حفرة من حفر النار

Kubur itu dapat berupa sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau sebuah jurang dari Jurang-Jurang Neraka. (Tirmidzi)

Mengenai kehidupan di alam kubur, setiap kubur itu dapat berupa bagian dari Surga atau bagian dari Neraka.  Bila ia merupakan bagian dari Surga, kalian akan bebas, kalian dapat pergi ke mana-mana, kalian tidak akan dibelenggu, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan di dalam banyak Hadits.  Jadi, ketika Syekh mampu melakukannya, karena Allah memberikan kekuatan itu, beliau akan membaginya kepada para pengikutnya dulu baru kemudian kepada umat.  Semoga Allah memberkati kita dengan berkah Qur’an Suci dan memberkati kita dengan berkah dari para masyaaykh ini yang nilainya tidak kita ketahui hingga mereka meninggalkan kita, terutama ketika seseorang adalah seorang kepala suku dan di zaman Nabi (s) semua orang adalah bagian dari suku-suku tertentu.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia!  Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu bisa saling mengenal satu sama lain. (Surat al-Hujuraat, 49:13)

Biasanya mereka mempunyai suku yang besar, 10,000, 20,000, 100,000 dan seterusnya, bukankah begitu?  Ketika sang amiir dari suku itu wafat, apa yang terjadi?  Terjadi kebingungan, kalian tidak dapat mengendalikannya lagi.  Itu seperti tasbih (rangkaian biji tasbih), ini dari Mawlana Syekh Nazim, itu seperti tasbih, qata` as-silka, dengan tali yang putus, apa yang terjadi?  Biji-bji tasbih ini akan jatuh berhamburan.  Jadi, pastikan untuk berdoa agar para Awliyaullah mempunyai umur panjang, karena jika sesuatu terjadi pada mereka, talinya akan putus, sehingga seluruh kelompok akan bercerai-berai.  Kita tidak mengetahui nilai mereka hingga wafatnya mereka, saat itu kalian melihat begitu banyak kebingungan dan sekarang kita lihat kebingungan di antara umat tanpa persatuan.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً

Jika Allah berkehendak, Dia akan membuat manusia sebagai satu bangsa. (Surat al-Hud, 11:118)

Orang-orang berkata, “Mari kita bersatu.”  Bagaimana bisa bersatu?  Pada ayat lainnya Allah berfirman, “Jika Allah berkehendak, Dia akan menjadikan kalian sebagai satu bangsa, satu suku, kalian tidak akan berselisih.”  Dia ingin agar kalian berselisih dan memiliki salah paham dan bersaing dalam hal siapa yang lebih banyak beribadah, berlomba-lomba dalam beribadah.  Allah membuat kita syu`uban wa qabaail agar kita saling mengenal satu sama lain.  Allah Maha Mengetahui.  Dia tidak mengatakan, “bersatu”, karena tidak ada orang yang mau bersatu, tetapi kelompok-kelompok akan bersatu, dan kita harus mengetahui bahwa membangun jembatan adalah penting, tetapi bersatu dulu di dalam rumah yang sama.  Apa gunanya membangun jembatan di luar ketika di dalam rumah berantakan?  Tanyalah pada orang di sampingmu. Benar?  Itulah masalahnya.

Semoga Allah (swt) membimbing kita untuk menyebutkan–itulah sebabnya mengapa Awliya mengatakan untuk membaca Silsilah paling tidak sekali sehari dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, saya ingat ketika Mawlana Syekh Nazim (q) sendiri menuliskan Silsilah dalam bahasa Arab, itu adalah… Saya ingin agar setiap orang mempunyai salinannya, insyaa-Allah minggu depan kita akan buatkan salinannya dengan gelar dari setiap wali dalam Silsilah Naqsybandi, beliau menuliskan dengan gelar mereka dan beliau mendiktekan kepada kami dan kami menulisnya.  Jadi insyaa-Allah minggu depan kalian akan mengkopinya dan kalian dapat memindainya sehingga setiap orang dapat memilikinya.  Itu bukanlah sesuatu yang sudah dimiliki banyak orang, itu adalah sesuatu yang tidak pernah orang lihat sebelumnya.  Saya pikir engkau sudah membacanya, bagus sekali. Insyaa-Allah kita akan menyebarkannya kepada setiap orang paling tidak untuk dihafal dan dibaca, jika engkau menerjemahkannya, maka setiap orang dapat mengerti apa saja gelar mereka.

Semoga Allah memberkati ruh para syuyukh kita dan menjadikan kita senantiasa  bersatu di seluruh dunia di bawah Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah atau Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah, al-Haqqaniyya, apa pun yang mereka inginkan, apa pun itu, itu tidak akan mengubah apa-apa, tidak mengubah awraad, tetapi hanya menambahkan satu nama, yaitu nama Mawlana Syekh Nazim.  Tidak apa-apa, semoga Allah memberkahi setiap orang dan semoga Allah mendukung setiap orang.

Bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

Syekh Hisyam Kabbani

5 September 2015   Burton, Michigan

Shuhbah Maghrib di Masjid As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM) (2)

http://sufilive.com/The-Intention-for-Any-Worship-in-the-Naqshbandi-Tariqah–5982.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

copas dari : http://naqsybandi.com/

perbedaan

“jangan menyepelakan diri kalian sendiri, jangan mengecilkan kontribusi kalian”

“lihatlah pentil di mobil, ia barang kecil dan bahkan tidak terlihat, apabila ia tidak ada, apa yang terjadi? mobil tidak dapat berjalan”

“Sayyidina Umar di masa kekhalifahannya, memerintahkan 4 orang sahabat untuk memilih khalifah yang berikutnya, “bila kalian semua sepakat memilihnya maka angkatlah ia menjadi khalifah, bila ada salah satu dari kalian yang berbeda, maka bunuhlah ia agar di masa depan tidak menimbulkan fitnah, dan bila masing-masing 2 orang berbeda pendapat, maka angkatlah anakku ibnu Umar menjadi Khalifah”

Ketika Syekh Ubaidillah Al Akhror meninggal dunia, beliau tidak menunjuk seseorang menjadi penerus beliau, beiau hanya berwasiat “sepeninggalku, lemparkanlah turbanku, dimana turban tersebut jatuh ke kepala seseorang, maka dialah penerusku” dan benarlah wasiat tersebut dilaksanakan, turban tersebut dilempar ke atas, turban tersebut berputar kepada orang yang hadir, orang-orang memasangkan kepalanya berharap agar turban tersebut ke kepalanya, anehnya turban tersebut berputar mengitari yang hadir dan jatuh ke kepala seorang yang kerjaan kesehariannya hanya menyapu, menata sepatu dan membantu, semua yang hadir merasa tidak pecaya, bagaimana ia menjadi penerus Sang Syekh, maka mereka mengulangi lagi hingga 3x dan kejadian yang sama terjadi, maka sadarlah mereka. Mereka bertanya kepada orang tersebut “bagaimana kau orang biasa ditunjuk oleh syekh?” beliau menjawab “setiap hari aku melayani murid-murid Syekh, dan bagaimana keadaanku tanpa Syekh, Aku bukanlah apa-apa” orang tersebut adalah Syekh Muhammad Al Zahid, Zahid bukanlah nama beliau, iatu adalah julukan beliau

“Di rejoso awal kali yang mengajarkan baik syariat maupun thariqat adalah KH. Kholil”

doa iftitah “kabiro ……” merupakan riwayat dari sahabat sedang “Allohumma Baidh …” merupakan riwayat dari sayyidatina Aisyah, perbedaan ini tidak perlu dibuat ribut, Sahabat menyaksikannya dimana? di masjid bersama para sahabat, Aisyah menyaksikannya dimana? di rumah, perbedaan tidak perlu menjadi perpecahan, ya dibaca semua …

“persaksiaan setiap sahabat berbeda-beda”

Persaksian (kesungguhan) terhadap Syahadatain dalam sholat oleh Sayyidina Abu Bakar, dimulai dengan Sholat Syukur Wudlu, Sholat Qobliyah, Al Ikhlas3x, tawassul, Sholat Wajib, …..

Setiap kejadian ada kalanya dimulai dengan sebab tapi Allah juga berkuasa menjadikan sesuatu tanpa sebab, contohnya anak dari afrika yang lahir di keluarga nasrani, ketika mau dibaptis, ia dapat membaca Al Qur’an, bagaimana seorang bayi dapat membaca Al Qur’an bila bukan karena Allah?

Al QUr’an bersifat “tidak terbatas” dan jangan sampai lupa membaca Al QUr’an.

Kyai Wahid Hayim selama menjadi menteri, dikantor beliau selalu mengaji, dari berangkat hingga pulang, beliau dapat satu khataman

Mursyid adalah orang yang mempunyai personaltouch, dan tidak dapat memaksakan seseorang untuk memiliki mursyid yang sama, karena tiap orang berbeda.

Mursyid akan mengenal muridnya dari masa lalunya, masa depannya dan masa sekarang serta memiliki “sentuhan pribadi terhadapnya secara langsung”

Tujuan pendidikan Nasional itu diambil dari PMII yang terinspirasi dari definisi pendidikan oleh Imam Ghozali.

Ketika beliau masih kecil, Kyai Romli menjelang Sholat memanggil “borek” untuk SHolat berjamaah, kemudian setelahnya berdzikir hingga terang, setiap akan bergerak, maka beliau ditimpuk uang receh oleh Kyai Romli, hingga banyak, kemudian setelah selesai berdzikir, beliau diajak berjalan-jalan keliling, menanyai para tetangga kabar atau kebutuhannya, bila ada yang butuh, Kyai bilang “kamu nggak ingin uang kamu bertambah?” beliau menjawab “mau” “maka ayo berikan uang kamu itu kepada mereka” hingga uang ditangan habis. begitulah Kyai Romli mendidik beliau.

Suatu saat ada Orang yang datang kepada Kyai Hamid dengan membawa bunga-bunga minta di doain, tetapi Kyai hamid memerintahkannya untuk menaruh bunga tersebut di sajadah dan tempat tidurnya agar ibadah nyaman, bersama istri juga senang, beberapa waktu kemudian ia kembali dengan membawa hasil tangkapan Ikannya untuk mengucapkan terima kasih, tetapi Kyai Hamid berkata “Loh Aku belum sempat berdoa” bagaimana Kyai hamid tidak berdoa? begitulah para wali menyembunyikan amal iabadahnya.

nawaitul Arbain ……. nawaitu Takhammul …….

Suatu saat beliau dengan beberapa murid di suatu acara diradio, begitu banyak yang menghubungi dan bertanya, beliau mengatakan kepada para murid beliau “ini karena kalian, hati kalian yang mengundang mereka”

Kalian adalah Anjing-anjing sang Syekh, dan Sang Syekhlah pemburu sebenarnya

 

 

pahing jagalan

maaf catatan berantakan, karena begitu penuh dan luar biasa, hingga oh dan oh serta berputar-putar bingung serasa diudek-udek, isi juga menggunakan “seingat saya dan sepaham saya serta sebahasa saya” maaf banget bila ada kesalahan dan kekurangan

Sesungguhnya Allah membukakan segala sesuatu kepada Nabi saw.

Catatan 28 Desember 2014, Di pondok Kyai Idris (Kyai Hamid) Pasuruan

Hamba yang paling tauhid adalah nabi Muhammad saw, sedangkan kita hanyalah orang yang berusaha mendekati nabi.

Barang siapa membaca Subhanalloh Wabi Hamdihi maka implementasinya adalah Surga.

Dalam kalimat “Allah” bila dihilangkan alifnya maka menjadi “lillah” karena Allah, dan bila “lillah” dihilangkan lamnya maka menjadi “lahu” untuk Allah, dan bila “lahu” dihilangkan lamnya maka yang tersisa adalah “hu” yang mengandung esensi Allah.

Syukur kita harus mendekati Syukurnya Nabi, dan walau tidak bisa seperti itu maka kita tetap tidak boleh berputus asa.

Arti Allah telah mengampuni dosa yang telah lampau dan dosa yang akan datang dari Nabi Muhammad saw adalah Nabi saw bersifat Maksum.

Sesungguhnya Allah membukakan segala sesuatu kepada Nabi saw.

Bagaimana nabi dapat memiliki dosa, Bila nabi adalah Maksum? Dan kemudian Allah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lampau maupun yang akan datang.

Diakhir hayat nabi saw, beliau menyebut ummati-ummati.

Agama adalah intinya nasehat, bagaimana untuk tawadlu’? bagaimana berbaik sangka kepada sesama? Bagaimana Mengikuti nabi saw?

Sebarkan Salam ! dan akan dapat dilakukan bila memiliki tawadlu’ dan ikhlas.

Bila memberi makan orang lain maka Allah akan memberinya makan.

Sholahlah kalian ketika orang lain sedang tidur.

 

Ilmu itu didasari oleh Akhlak.

Catatan 1 Juni 2015, Di IAIN/UNISA, kuliAah Dhuha  “Konseling Spiritual membangun pribadi terapiutik”

Barang siapa menjual masa depannya untuk kesenangan sesaat, maka hal tersebut menunjukkan kebodohannya.

Di tahun 1962 di jalan Jombang ada spanduk “gusti Allah Bongko (mati)” dan itu adalah saat kehidupan keras. Sehingga kerendahan hati merupakan isu Islam yang berkembang. Sekarang?

Menurut Imam Ghozali “ Islam adalah Anugrah dari Tuhan untuk bisa membimbing manusia dalam kemaslahatan diri sendiri dan kemaslahatan orang banyak”.

Di zaman Nabi Muhammad saw juga banyak terdapat anak-anak muda seperti Ali Bin Abi Thalib, Anas bin Malik dll.

Ketika Seorang tabi’in bertemu dengan Anas Bin Malik beliau berkata “ Engkau telah melayani Rosululloh saw, tentu tanganmu sering bersentuhan dengan rosululloh, Bolehkah aku menyentuh tanganmu?”

Keilmuan Modern didasarkan pada pertanyaan (apa, siapa, bagaimana dll) dan penyerapan.

Suatu saat Rosululloh dengan badan kuyup berkata “Apakah semua sudah saya sampaikan?”

“ Saya tidak kuat menanggung pengadilan Allah di dunia, apalagi di akhirat kelak”

Sholawat itu bukan pada kalimat-kalimatnya, melainkan seberapa dalam menyentuh hatimu!

Setelah meninggalnya nabi Muhammad saw, tiap kali Bilal melihat rumah/ masjid Rosululloh, beliau menjadi sangat sedih karena kerinduan beliau sehingga beliaupun pergi ke Syam. Setelah sebulan, beliau bermimpi bertemu dengan Rosululloh “apakah hanya engkau saja yang rindu? Aku juga rindupadamu, datang berziarahlah ke madinah !”

Nabi bertemu dengan seseorang yang sedang makan dan ia ditemani oleh Syetan. Nabipun berdoa “ya Allah, orang ini adalah tanggung jawabku, apakah hanya kurma saja dapat melupakan Engkau, Tolonglah dia ya Allah !” kemudian orang tersebut mengucapkan Bismillah dan Syetanpun Muntah.

Salah Satu sahabat nabi saw, Musa bin mnZair emninggal di usia 106 tahun, beliau biasa menjual minyak wangi si spanyol, karena kebaikannya banyak orang spayol yang simpati dan bertanya “ apakah orang Arab itu sepertimu, menyenangkan?” beliau menjawab “ akan ada orang Arab yang datang ke sini dengan akhlak yang sama denganku”, betullah setelah beberapa lama Thoriq bin Ziyad (tabi’it Tabiin) datang bersama bala tentaranya dengan menggunakan kapal. Setelah mendarat beliau berpidato kepada tentaranya “Siapa yang ikut saya untuk menegakkan kalimat Lailahaillalloh?” kemudian beliau membakar kapal dan melemparkan senjata diiukti semua tentaranya (membuat tentara spayol yang bersiaga menjadi melongo), islampun masuk ke spanyol dengan Akhlak, hal tersebut meniru nabi ketika terjadi fatful mekkah yang melepaskan senjata kemudian masuk ke Mekkah.

Ilmu itu didasari oleh Akhlak.

Malik bin Anas Bin Malik (Imam Maliki) Guru dari Imam Syafi’i berkata “jadikanlah semua ilmu itu garam pada roti dan tepungnya adalah akhlak”.

Abu Yazid Al Bistami selalu melihat kebaikan orang lain dan melihat dirinya penuh kejelekan. Ia senang melihat orang yang lebih muda karena merasa dosanya lebih sedikit darinya dan senang melihat orang yang lebih tua karena merasa ibadahnya lebih banyak darinya.

Islam dikembangkan dengan Mahabbah (cinta) dan Taat.

Leluhur Jawa selalu mengajarkan untuk menyerap akhlak baik.

Konseling adalah mengembalikan kepada takaran normalnya.

Dakwah itu bukan rektrorika, bila hanya rektorika maka tukang jamu (yg promosi) itu lebih sipp.

Salah satu metode dakwah Sunan Kudus adalah dengan mengharamkan makan Sapi, karena hewan Sapi dihormati di daerah tersebut sehingga Islam dapat lebih diterima oleh masyarak sekitar itu.”

Sholahuddin AL Ayyubi dalam peperangannya yang menang bergantian, suatu saat di tengah pertempuran, tiba-tiba ada aba-aba dari musuh bahwa perang dihentikan, setelah diselidiki ternya raja Richard sedang sakit, maka Sholahuddinpun pergi ke kemahnya dengan menyamar sebagai gembel, di depan kemah ia dihadang pengawal, dengan bahasa inggris terjadi dialog, keajaibannya adalah pengawal tersebut tidak curiga, bagaimana orang arab gembel dapat berbahasa inggris dengan fasih dan kemudian mengizinkannya masuk karena dikira dukun, hal ini karena tentara Islam sebelum berperang selalu bilang “ ya Rosululloh SalamunAlaik, Ya RofiAsyaniwaddaroji”, dan setelah masuk, Sholahuddin mendoakan raja Richard dengan Sholawat Tibbil Qulub kemudian berdoa “Ya Rosulloh engkaulah yang bertanggung jawab atas semuanya”, raja Richardpun akhirnya sembuh dan beberapa waktu kemudian ia menarik tentaranya.

Malik Abdulloh, pemimpin Jordan di Eropa berpidato “kami ini diajari orang tua kami untuk mencintai tetangga seperti mencintai diri sendiri, dan itulah ajaran nabi Muhammad saw”.

Orang yang jauh dari Rosululloh akan mengalami “ seperti orang yang waras tetapi gila”

Ketika mengucapkan Salam kepada Nabi saw maka nabi akan menjawab salam tersebut dan harus diserap, itulah hakekat Konseling.

Kyai hasyim Asy’ari memerintahkan KH. Wahab hasbulloh untuk ke Arab dan beliaupun memarahi raja Malik bin Saud “hai, jika kamu mengutik makam Rosululloh maka kami akan menghancurkan kalian!” mendengarnya Malik bin Saud gemetar dan mengurungkan rencananya, hal ini disebabkan karena KH. Wahab Hasbulloh selalu mengadakan Rosululloh.

Suatu ketika rosululloh di bwah pohon kurma, daksur mengancam “siapa yang akan menolongmu bila aku bunuh kamu di sini?” nabi Menjawab “ Allah” maka pedang daksur jatuh dan diambil oleh Rosululloh, dan dengan cinta Rosululloh mengampuni daksur.

Wisdom (kebijaksanaan) menjadi ini bagi dakwah Islam.

Habib merupakan keturunan Iran karena istri dari Sayyidina Husain adalah seorang putri dari Iran.

Sayyidina Ali membuka pintu benteng Khoibar sendirian, padahal gerbang tersebut hanya bisa diangkat oleh 70 orang. Bagaimana Sayyidina Ali dapat melakukannya?

Gusti Ratu Pambayun adalah orang yang telah membunuh jendral Belanda dan beliau adalah Istri dari Panembahan senopati.

Masjid Bintoro demak digunakan oleh Sunan Kali Jogo untuk memanggil para tentara untuk memberi kekuatan dan bertanya laporan-laporan yang telah terjadi.

Dakwah selalu berhadapan dengan problematika.

Kebencian sebagaimanapun tidak akan dapat melampaui kecintaan Rosululloh yang unlimited.

Alhamdulillah engkau dapat mudah ibadah dll karena kecintaan pada Rosululloh.

Nisfu Sya’ban isilah dengan ibadah seperti Sholat, membaca yasin, berdoa meminta umur barokah, rizki barokah, masalah dunia dan akhirat.

Ada 3 perkara yang walaupun pelaku telah meninggal dunia, maka hal tersebut akan tetap hidup, yaitu : Orang yang suka menolong orang lain, Al Qur’an yang dibaca terus menerus, Sholat Sunnah yang didawamkan.

Barangsiapa wudlu sebelum tidur, maka tubuhnya akan dikerubungi oleh malaikat, dan ruhnya ke Arsy dan Sholat. Coaba lakukan, maka engkau akan merasakan sesuatu.

Suluk adalah langkah mengendalikan ego.

Ketika tidak mencoba maka tidak akan mengetahuinya.

masjid adalah cantikknya jama’ah tetap.

Dr Muhammad Saleh walau telah dikubur puluhan tahun tapi jasad dan kafannya tidak berubah karena selama hidup beliau seperti kereta api diatas rel serta terkenal sebagai dokter gila, dokter kok malah membayari pasiennya.

Saat Mustajabah, dimana doa tidak ditolak, yaitu : malam Idul Adha, Malam Idul Fitri, Awal Bulan Rajab, Malam Jum’at pertama Bulan Rajab dan Malam Nisfu Sya’ban.

Ilmu adalah cahaya, ilmu itu bukan informasi.

Ilmu adalah cahaya yang menerangi hingga dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

Masjid di desa biasanya jama’ahnya terdiri atas 1 tipe, jama’ah tetap, sedang masjid di pinggir jalan ada dua tipe, yang tetap dan pejalan yang mampir.

Masjid bukanlah tembok, aksesoris tempelan, bangunan, tetapi masjid adalah cantikknya jama’ah tetap.

Tiap orang harus ada temannya untuk memanifestasikan kebaikan.

Nabi mensaudarakan secara formal sahabat muhajirin dan Anshor.

Bila pagi orang melakukan kebaikan maka malaikat mendoakannya.

di Masjid hendaklah melakukan Sholat, tidak pernah Gosip, dan tidak pernah membicarakan orang lain.

Siapapun yang engkau berbuat kebaikan maka ia akan tanggap, apalagi malaikat, apalagi Rosululloh.

Semua Masjid adalah tempat menghangatkan, saling menyayangi.

Apa-apa yang engkau infaqkan maka Allah akan membalas dengan berlebih dan berlebih.

Orang yang meninggal dengan prilaku baik, maka ia hakekatnya tidak mati.

Ketika tidur, hendaknya orang tua berbicara dengan ruhani anaknya.

Apa bila ada yang kurang pas, maka doakan, jangan malah dihina!

Dilangit pertama, nabi Adam ketika menengok ke kanan, beliau tersenyum karena melihat anak-anaknya yang becik mbeciki (baik dan berbuat baik), dan bila menegok ke kiri, beliau menangis karena melihat anak-anaknya yang buruk. Itu nabi Adam, bagaimana denganorang tua kita?

Sebelum Sholat, ucapkanlah Alhamdulillah agar turun dari kepala ke hati.

Sahabat nabi adalah orang yang cinta dan patuh kepada nabi saw.

 

->Catatan 1 Juni 2015 Di masjid Thoyyibah, legok gempol

 

 

Habib Luthfi dan Peringatan Kemerdekaan

“Kemerdekaan ini adalah hasil jerih payah yang dilalui oleh tetesan darah dan keringat para pendiri bangsa,”

“kemerdekaan yang telah ditorehkan pada 17 Agustus 1945 itu harus dilalui dengan bertumpah darah dan perjuangan. Wujud nyatanya dibuktikan dengan korban nyawa dan keluarga yang dikorbankan. Tetapi ia menyayangkan, sudah sekitar setengah abad bangsa ini tertidur pulas melupakan jejak para pendahulu. Sehingga nasionalisme bangsa ini semakin luntur.”

“Mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan agar bangsa kita tidak menjadi bangsa tontonan tetapi menjadi bangsa tuntunan. Bisa menjadi teladan bagi bangsa-bangsa yang lain,”

“Bendera merah putih itu memiliki sejarah yang penuh dengan pengorbanan. Jika bendera merah putih tibo (jatuh) itu artinya kita kalah. Jadi menghormat bendera merah putih sama dengan menghormati harga diri bangsa,”

“upaya kita selaku generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka, yaitu para pahlawan dengan mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang bermanfaat buat umat.”

“Membangun negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat Nabiyullah Muhammad Saw diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada, setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses.”

”Mengucap terima kasih itu gampang di lisan, jika manusia menjadikan bekal terima kasih untuk kehidupannya maka dunia ini akan aman, karena dengan terima kasih kita akan saling menghargai satu sama yang lain,”

“Cara paling mudah untuk menghargai jasa-jasa pahlawan, lanjutnya, dengan memasang foto para pahlawan di rumah-rumah, khususnya warga nahdliyyin. “Agar kita selalu terkenang akan jasa-jasa mereka,”

ada upaya dari sekelompok orang yang ingin mengaburkan fakta sejarah dengan membuat seolah-olah generasi ini tidak perlu mengenang dan berterimakasih kepada para pahlawan, mencabut umat dari akar sejarahnya. “Hal ini terbukti semakin jarangnya kita temukan di kediaman warga foto-foto yang terpasang, apalagi mendoakan para pahlawan dengan tahlil dan membacakan surat yasin,”

“NU dan warga nahdliyyin adalah benteng terakhir dari keutuhan bangsa, maka banyak kelompok-kelompok di luar sana yang menginginkan NU lemah. Jika NU lemah, maka Negara ini secara otomatis akan lemah pula,”

“ Saat ini, Indonesia dengan mudah diobok-obok. Wibawa kita sebagai bangsa besar dipertaruhkan. Meski demikian, sekali lagi, selagi Ulama, TNI-Polri bersatu, kewibawaan Indonesia akan kembali lagi. Tidak perlu diperdebatkan, apa lagi kita membahas hal-hal lain”

”Kalau tidak mau hormat pada Bendera Merah Putih, silahkan enyah dari Indonesia. Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama. Harusnya, kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia”.

“Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap,”

“Kita harus berubah, ketika negara lain sudah maju, kita masih memperdebatkan tahlil, maulidan, penentuan tanggal satu ramadhan, syawal dan lain sebagainya. Bagaimana kita bisa maju? Negara luar, ada yang mempunyai nuklir, membuat pesawat tempur, bom, kapal perang, pesawat reguler dan lain sebagainya. Apa yang telah dilakukan negeri ini? Kedua, di bidang kedokteran, alat-alat bedah dan lain sebagainya, negara luar yang memproduksi. Apa negara kita tidak mampu mendirikan universitas tingkat internasional yang mampu mengangkat dunia Islam? Lihat juga pertanian kita yang amburadul. Padalah kita mempunyai tanah yang sangar luas dan subur,”

“Negeri ini mempunyai posisi yang sangat strategis. Kita mempunyai jangkauan ke seluruh penjuru dunia. Andai letak itu kita manfaatkan dengan baik dan benar, sisi lain, kita kuat, kita akan menjadi negara yang besar, berwibawa dan makmur. Negara tetangga pun akan berfikir panjang untuk macam-macam terhadap kita”

“Mari kita tata diri kita masing-masing, hindari saling menyalahkan atau menata orang lain, karena pada dasarnya kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa campur tangan Allah SWT,”

“Apabila Ulama, TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecahbelah. Persatuan kita sangat penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini”

“Ulama, TNI dan Polri adalah orang tua kita semua. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak, maka akan mengurangi kewibawaan ulama, TNI dan Polri sendiri.”

Rasulullah Saw sangat nasionalis dan selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada para sahabatnya. “Rasul Saw sangat mencintai Bumi Arab. Beliau sering menyatakan diri; Saya adalah Bangsa Arab. Nah, untuk itu, kita Bangsa Indonesia, harus bangga dan lantang menyatakan; Saya Orang Indonesia, apa pun suku kita, baik Jawa, Sunda, Arab, India, China atau mana pun, jika kita terlahir di negeri ini, teriakkan dengan lantang; Saya Orang Indonesia,”

” Para Walisongo misalnya, dengan kesantunan mereka dalam berdakwah, kerajaan majapahit justru menjadi simpatik terhadap perjuangan dan upaya mereka mengenalkan Islam. Bahkan, pada generasi pertama walisongo, para pendakwah yang santun itu malah mendapatkan tanah yang luas dari pihak kerajaan untuk mendukung perjuangan dakwah mereka,”

“Air laut mempunyai jati diri dan nasionalisme yang luar biasa. Meski selalu mendapatkan air tawar dari daratan dan hutan, meski mendapatkan bermacam-macam limbah, namun air laut tetap berasa asin. Apa pun yang mengotori laut, tidak mampu menghilangkan rasa asin air laut. Meski demikian, penghuni laut, tidak pernah mengintervensi ikan air tawar. Mereka mampu memposisikan diri dengan sangat luar biasa”

 

dari berbagai sumber

Kiai-Kiai NU. Rasa dan getar di dada yang muncul karena dzikir, yang bahkan setelah kewafatan mereka pun mereka masih “online”.

Teman-teman Naqshabandi Semarang mengharapkan saya (Moh Yasir Alimi) menemani perjalanan mereka dan Syaikh Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani ke Jogja agar kami bisa ngobrol di mobil. Perjalanan kami melewati Salatiga, dan di sinilah, Syaikh Mus bercerita tentang Kiai Munajat.

Cerita ini dan juga cerita tentang Mbah Dimyati memberi ilustrasi tentang getar di dada, rasa yang hidup dan bergelora di dada Sayidina Abu Bakar dimiliki oleh Kiai-Kiai NU. Rasa dan getar di dada yang muncul karena dzikir, yang bahkan setelah kewafatan mereka pun mereka masih “online“.

Cerita ini menjadi semakin menarik dikaitkan dengan cerita Kiai Said tentang ulama-ulama Timur Tengah yang maju dalam intelektualitas tapi mereka gagal menjadi ruh bagi masyarakatnya. Santri bukan pakaian dan bukan identitas. Santri adalah rasa fana di dalam Allah dan keterkaitan dengan Rasullah. Menjadi santri adalah leburnya ego, hidupnya spiritual di dada, keterkaitan ruhani dengan Rasulullah dan menjadi rahmat bagi semesta. Berikut adalah wawancara saya dengan Syaikh Mustafa.

Ceritakan padaku tentang Kiai Munajat ini?

Kiai Munajat seorang kiai yang pemberani. Beliau menyelamatkan Kolonel Darsono meski dengan resiko. Setelah dua tahun lebih dari cerita Kolonel Darsono, Syaikh Mus baru datang ke sana. Sampai pada tepi sawah kemudian ketemu seorang petani.

“Ajeng teng pundi ki sanak? “Saya mau ke rumahnya Kiai Munajat”. “Oh saya antarkan, saya salah satu muridnya yang pertama.” Ternyata Kiai Munajat sudah wafat empat puluh hari sebelumnya. Kiai Munajat diteruskan oleh anaknya Kiai Munawir, Kiai Munawir ini seorang Kiai yang sangat tawadhu’. Walaupun sudah meninggal, teryata ada masih nyanbung. Santri-santrinya Kiai Munawair kalau menghapal Al-Qur’an di kuburan Kiai Munajat dan murid-murid merasa sangat gampang menghapal Al-Qur’an.

Di situ ngaji seperti suara lebah, karena ramainya mengaji. Saya pernah mengajak teman-teman mampir di sini, teman-teman pada bertanya “Ini ada acara apa?” “Ya ndak ada, ini memang seperti ini setiap harinya. Al-Qur’an tidak pernah berhenti.”

Kalau berkunjung, saya selalu mondok di sumur beliau. Airnya seger sekali. Tempat beliau dekat terminal Salatiga, dekat kantor NU. Kiai Munajat wafat tahun 1986 atau 1987. Hubungan saya dengan beliau begitu intens. Beliau Jenis orang yang sesudah meninggal masih “online”.

Subhanallah. Bagaimana dengan cerita tentang Mbah Dimyati?

Aulia jaman dahulu memang seperti Kiai Munajat itu. Yang model seperti itu di banyak tempat. Di Kedawung, Pemalang ada Mbah Dimyati. Sudah wafat pun masih membantu menghapalkan Al-Qur’an pada cucunya. Ternyata paman saya Kiai Dahlan Kholil mengambil ijah Al-Qur’an dari beliau. Isteri saya pernah dapat cerita dari anaknya bahwa cucunya kalau menghapal Al-Qur’an selalu di kamar Mbah Dim, dan dia merasa selalu disimak Mbah Dim.

Untuk mendapatkan perspektif bagaimana sosok Mbah Dim, ada suatu cerita begini. Suatu hari Mbah Dim menghadiri manaqib di Pekalongan. Ada Habib pulang duluan membawa mobil, Mbah Dim dengan sepeda onthel. Ternyata mobil tersebut mogok dan Mbah Dim mendapatinya.

“Mogok Bib?” tanya Kiai Dim.
“Ngenteni Njenengan, Kiai?” jawab Habib.
“Nggih mpun mriki. Ya sudah, ke sini. Kalau seperti itu tak lungguhani ‘Quran bodhol’.” (Saking tawadhu’nya beliau menyebut dirinya sebagai Al-Qur’an Bodhol, sudah awut-awutan, lepas-lepas kertasnya. MasyaAllah)
“Mpun monggo distater,” kata Kiai Dim.
“Sepedamu disendekke situ. Tak ampirke omahku. Ya sudah kuajak kau ke rumahku tak kei kopi” ajak sang Habib.

Itu tipikal ulama NU dulu yang sekarang semakin hilang. Linda yang akan kita kunjungi di Jogja ini, pernah bercerita pada saya begini. “Syaikh, ulama kalau bicara tentang kebaikan itu biasanya hanya omongan saja.” Apalagi sekarang, banyaknya kiai di TV. Itu profil scholarship yang ada sekarang. Hanya agama sebagai omongan saja.

Iya Syaikh. Kalau kita lihat sekarang agama di dunia Islam itu hanya omongan saja. Ketika orang bicara tentang kebaikan hanya ngomong saja. Allah pun menjadi sekedar omongan, bukan getar di dada. Allah menjadi sangat abstrak. Padahal Allah adalah Dhat yang Maha Lahir dan Maha Batin. Apa yang hidup di dada Abu Bakar, di Kiai Munajat, di Kiai Dimyati sebagai rukun Islam itu tidak ada. Apa sebabnya bisa menjadi begini?

Ada faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa operasi Yahudi agar umat Islam agar umat Islam saling bertengkar. Di Semenanjung Arabia, operasi Yahudi ini melahirkan wahabi.

Betul, Syaikh. Wahabi hanya menjadikan agama sebagai wacana saja, bukan keimanan. Al-Quran sebagai debat bukan sumber akhlak. Modus keagamaan Wahabi adalah debat. Melalui debat dan menyalahkan orang lain inilah mereka mendapatkan diri mereka sebagai Muslim. Bukan ibadah mereka pada Allah.

Di samping faktor eksternal itu ada juga faktor internal, yaitu internal weakness yang berupa: hubburiyasah (gila kekuasaan), karohiyatul maut (takut mati), dan hawa nafsu.  Di lingkungan NU, tekanan eksternal itu adalah Suharto dengan deulamaisasi dan denuisasi. Suharto merusak ulama dan pesantrennya dengan cara menyebar uang dan menarik mereka dalam kekuasaan. Suharto rusak pesantren dan ulama, sehingga figur-figur seperti Kiai Munajat dan Kiai Dimyati tidak ke permukaan lagi.

Belum lama ini saya ke putera bungsunya Kiai Hamid Pasuruan. Saya dekat sekali dengan beliau.

“Syaikh, orang datang ke kita seperti datang ke Kahin.”

“Mending Gus, mereka ini datang njenengan bukan datang ke Kahin beneran,” jawab Syaikh Mus.

“Dulu, waktu Mbah Hamid, ada orang Madura datang ke rumah, membawa buntelan. Terus ditanya: Apa itu?”
“Biasa” jawabnya. “Kembang”.
“Digawe apa?” Tanya Kiai Hamid.
“Sampean dongani, agar kapalku dapat banyak ikan dan besar.”

“Oh, Ditaruh kapal. Kalau kembange ditaruh kapal, kembange jadi amis atau ikannya yang wangi. Taruh saja di rumah, di tempat tidurmu biar tempat tidurmu menjadi wangi,” saran Kiai Hamid dengan lemah lembut. “Kon deleh di sajadahmu biar kalau sembahyang menghirup bau wangi”.

“Baiklah kalau begitu, Kiai.”
Beberapa hari berikutnya sang nelayan datang dengan ikan besar.

“Saya mau memberikan ikan-ikan ini kepada Kiai. Karena doa kiai saya mendapatkan ikan yang besar dan banyak.”
“Lho aku belum doa je..” jawab Kiai Hamid sambil tersenyum. Inilah persembunyian dan ketawadhuan Kiai Hamid. Sebenarnya, tentu saja sudah didoakan.

Inilah kekuatan dan kelemahan internal. Inilah internal strength yang aku maksudkan. “aku belum berdoa loh”. Wah, Inilah persembunyian Kiai Hamid. Luar biasa. Kalau tanpa internal strengthness di dalam hati, siapapun akan gampang terseret tsunami dunia yang besar.

Karena kualitas-kualitas seperti inilah, maka beliau-beliau para ulama itu menjadi spreader of love cahaya Muhammad di segala penjuru. Maka di mana-mana saya mengajak muslim untuk haul, kembali menghidupkan pertalian batin mereka dengan Rasulullah.

Saya melakukannya dengan action plan, bukan dengan penjelasan, bukan dengan frame of reference. Ulama dahulu menunjukkannya dengan karomah. “Karena saya khodimnya Syaikh Nadhim, dalam fana fi syaikh, ibaratnya saya hanya memegang gagang tombak. Ujung tombaknya adalah Syaikh Nadhim. Sedangkan Syaikh Nadhim dalam kefanaannya fi rasul, beliau tidak ada. Beliau hanya mengadakan Rasulullah SAW untuk orang banyak dan kehidupan saat ini dalam suatu transparani”.

Perjalanan kami sudah sampai Magelang. Cerita kami berganti tentang Kiai Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur, pertalian antara lailatul ijtima NU dengan majelis dzikir Walisongo di Masjid Demak.

Saya akan menuliskan cerita ini dalam edisi berikutnya. Dengan cerita di atas, semoga bisa mengambil manfaat. selamat menghidupkan kembali rasa di hati, senantiasa tenggelam dalam hadharah Qudsiyyah Allah, dan menjalin pertalian dengan Rasulullah SAW, sehingga bisa berkata pada masalah umat.

Kita yang Mati, Bukan Rasulullah

Moh Yasir Alimi, PhD, mantan pengurus PCI NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand (2005-2009) berdialog tentang jalan kesufian dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani. Sang syekh adalah khadim atau pelayan thariqat Naqsabandi Haqqani di Indonesia.

Syaikh Mustafa lahir di Jombang, 25 Januari 1947. Ia adalah ulama sufi Ahlusunnah Wal Jamaa’ah yang menempuh pendidikan di pesantren Darul ’Ulum Jombang, IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Setelah itu, Mustafa, yang kini membimbing 90 zawiyyah thariqat  Naqsabandiah Haqqani di Indonesia, melanjutkan studinya ke School of Oriental African Studies (SOAS) University of London, dan Studies Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt Am Mainz, Jerman.

Sebelum mengabdikan 100 persen waktunya untuk dakwah, ia pernah menjadi peneliti di LP3ES,dosen STAN Jakarta, dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dosen Universitas Kebangsaan Malaysia. Pernah juga ia bekerja di Kementerian Belia dan Sukan dan Kuala Lumpur HRDC Trainer Malaysia.

Tahun 1997, ia ditunjuk oleh Maulana Syaikh Nadzim Al Haqqani Ciprus dan Maulana Syaikh Hisyam Kabbani Ar Robbani USA sebagai The Representatif of The Naqsybandi Sufi Order Indonesia.

Sejak saat itu, Syaikh Mustafa melepaskan profesinya dan mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk dakwah berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia membimbing umat agar mencintai Rasulullah.

Di bawah perintah dan bimbingan Maulana Syaikh Nadzim, metoda dakwah Syaikh Mustafa mengedepankan semangat mencintai Rasulullah SAW, perdamaian, toleransi, cinta, kasing sayang dan persaudaraan. Dialog Yasir dan sang Syaikh, ada yang ketemu langsung, adapula melalui sms, maka gaya bahasa bisa bermacam-macam, dari bahasa sms, percakapan dan bahasa gaul. Berikut ini bagian pertama dialo kesufia.

Syaikh, terangkan kepadaku apa hakekat thariqat?

Thariqat adalah suatu kebersamaan dengan syaikh, untuk melebur ego, ke dalam suasana adab agar hati yang bersangkutan bisa merasakan arti fana missal fi adhomatil akhirat. Bukan suntuk cuma dengan dunia saja. Thariqat juga tentang azimah, keterkaitan dengan Rasulullah, akhlaknya, sunnahnya, tentang adhomatil Quran; tentang kemaslahatan hidup; tentang iklim saling kecintaan terhadap sesama manusia; tentang barokah kesalehan; tentang pertalian antara hamba dengan Allah; tentang hudhur, tentang getar dalam hati kita akan kehadiran Allah. Inilah  antara lain mutiara-mutiara Islam yang makin terasa hilang; maka temukanlah kembalimutiara itu melalui thariqat.

Bisa dijelaskan lagi Syaikh, tentang rasa cinta dan getar di dada itu?

Lihatlah kecintaan dan getar hati Abu Bakar. 1427 tahun yang lalu, ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah.

Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan “Penuh Adab yang Bersungguh”, di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang Madinah, lha kok ngidul, kenapa lewatTenggara?

Itu cermin apa, Syaihk?

Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rasulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yangmenjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang.

Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rasulullah, karena di hati Beliau ada “cinta” dan “percaya” dan sesuatu yang tidak lagi perlu tawar-menawar. Rasulullah Al Amin,tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai.Pribadinya begitu rupa menimbulkan `desire‘, suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangatpenting untuk dijelaskan.

Kisah Abu Bakar selanjutnya bagaimana, Syaikh?

Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar.  “Ooo … Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayidina Abu Bakar.” With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti’ syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi “The Matter of Transaction“, tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, “Oooo … Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur.”

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah ‘cinta’, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem.

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?

Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular.

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, “Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon.” Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah.

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?

“Nangis Sampean?” tanya Rasulullah.

“Tidak,” jawab Abu Bakar, “kakiku digigit ular.”

There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.

” Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.
“Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?

“Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. ”

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah.

Apa pesan dari cerita Sayidina Abu Bakar, Syaikh?

Rasa cinta Abu Bakar As-Shiddiq  pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam Al-Qur’an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada di dalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart.

Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rasulullah.

Iya Syaikh… 

Lihatlah kehidupan sekarang. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan “Assalamu’alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah”. Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rasulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akhirat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi `abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq, supaya kita semuanya berkhidmad.

Saya semakin paham maksud Syaikh. Thariqat adalah tentang azimah keterkaitan dengan Rasulullah. Terangkanlah lebih luas lagi kepadaku tentang hal ini agar kepala dan hati kami menjadi terang? 

Azimah adalah lawan kata dari ruskhsah, yaitu keringanan, selanjutnya yang enteng, kemudian dalam praktek bias jadi perilaku atau suasana hati yang ngentengin. Ini salah kaprah dalam ibadah. Bisakah tukmaninah dan khusuk dalam  bobot enteng-enteng saja, cuma sekilas sambil lalu?

Di situ ada nada yang hilang dan menguap; sejenis kesungguhan, ikhlas, istiqamah, ihsan, hudlur, getar hati. Ini bisa didapatnya melalui thariqat. Nah Rasulullah adalah mainstream kehadiran kita terhadap kehadiran Allah, dalam aneka perspektif yang ada, akhlak, aqidah, syariat, ibadah, sastra. Bukan Al-Quran hadits sendiri.

Kemasannya musti azimah, jangan sampai cuma suplemen, asesoris, cuma seremoni apalagi dikontroversikan sebagai bidah, perlu rumusan paradigm yang benar-benar akurat. Di sini pentingya istighfar di thariqat: min kulli ma yukholiful azimah.

Jadi  saat ini pun, kita semestinya senantiasa menjaga pertalian ruhani dan batin terhadap Rasulullah agar mendapatkan rahmat Allah.

Ya Yasir, berangkat dari aturan dalam tahiyat shalat, kita diniscayakan untuk direct communication dengan beliau, apakah telah cukup kadar esoteric dan kesungguhan dalam bersalaman kepada beliau? Di tharikat ini justru dijadikan urat nadi ibadah kita, bahkan hidup kita pada dasarnya dan secara menyeluruh bertumpu pada Rasulullah. Ini merujuk pada hadis Qudsi.

Hadits pertama, Ya Muhammad Aku berkenan untuk mencipta manusia, walau mereka suka seenak sendiri, Aku menjadikan mereka pilihan-Ku karena itu mereka Kuserahkan dan Kutitipkan kepadamu Muhammad, sentuhlah qalbu mereka olehmu agar tak ngaco-ngaco banget, kembalikan mereka kelak pada-Ku di akherat  dalam keadaan fitri sebagaimana ketika Kuserahkan padamu”.

Hadis Qudsi kedua. Suatu ketika Rasulullah memampak sosok yang tak beliau kenali, padahal beliau paham semua orang, maka sabda beliau:

“Siapa kamu?”
“Aku Iblis” tukas orang asing itu.
“Lho kok ngaku biasanya kan kamu menipu?” Tanya Rasulullah.
“Aku diperintah Allah untuk datang kepadamu dan menjawab secara benar”.
“Ooo.. “siapa yang paling tak kamu sukai?” tanya Nabi.
“Kamu,” jawab iblis tegas.
“Kenapa,” tanya Rasulullah.
“Orang yang bersama Kamu tak dapat kugoda,” jawab iblis.
Banyak orang sulit memahami ini karena menganggap Rasulullah sudah mati, Syaikh?

Yang mati kita, bukan Rasulullah.[]

 

sumber :

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,38915-lang,id-c,halaqoh-t,Kisah+Abu+Bakar+Digigit+Ular-.phpx

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,38934-lang,id-c,halaqoh-t,Kisah+Abu+Bakar+Digigit+Ular-.phpx

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,38955-lang,id-c,halaqoh-t,Kita+yang+Mati++Bukan+Rasulullah-.phpx

Dzikir dan Mbah Hasyim

Dzikir, bahasa Arabnya adz-dzikru atau dzikrun, artinya mengingat. Dulu, dzikir ‘disembunyikan’ dalam khazanah Islam Nusantara, kesannya kampung, membuang waktu, tidak keren dan tidak ilmiah.
Tapi kini, dzikir ditampilkan di muka, disiarkan langsung televisi, dihadiri orang-orang terkenal. Mereka mengenakan busana khusus dan bagus. Apakah dzikir itu? Untuk apa berdzikir? Simak dialog sufi kontributor NU Online Moh Yasir Alimi dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani.

Dalam tasawuf juga terdapat dzikir. Mohon Syaikh, jelaskan hakekat dzikir ini, pentingnya bagi ibadah dan bagi kehidupan kita.

Hakekat dzikir adalah awrod, wirid, bacaan  di shalat, kalimah thoyyibah yang diresapi oleh qalbu (hati), dzauq (rasa), sense of aesthetc jadi tawajjuh ataupun seseorang atas pengawasan Allah dan Rasulullah sehingga bergetarnya lathoif atau spiritual domains. Ini bukan hanya mencerahkan batin, namun juga memerdekakan diri dan pemikirannya dari kegelapan nafsu dan keburukan perangai.

Tumbuhnya kecintaan dan rindu ke arah keberuntungan akhirat; gairah terhadap ibadah, tidak memandang ibadah sebagai beban, melainkan kebutuhan bahkan menghanyutkan dalam keasyikan. Inilah hakekat bimbingan Rasulullah terhadap setiap zaman, tempat, komunitas, dan strata dalam kehidupan.

Apakah dzikir dan tasawuf dapat memperbaiki shalat kita menjadi lebih baik?

Syariat mengandung permukaan dan kedalaman. Permukaan adalah dataran untuk umum, ammatun nas atau awam. Yang kedalaman seperti tuma’ninah dan khusuk dalam shalat, empati dalam zakat, infaq dan sedekah; ihram untuk benar-benar mantap menghindari  menghindari rofast, fusuq dan jidal begitu juga dengan lempar jumrah, wuquf, dan masyairil haram; melibatkan hati, Al-Quran, tafakur dan tadabbur dalam puasa; syahadatu haq wal ihsan.

Semua itu item tasawuf, dan mengimplikasikan keniscayaan untuk kosongkan diri dari nafsul lawwamah wal mazdmumah, suatu takholli, pengurasan ketidakbaikan diri; supaya akhlak dapat ditata, sunnah nabi dapat diterapkan. Ibadah menjadi lebih terasa, resistensi terhadap kebejatan menjadi dapat terlaksana.

Apakah dzikir juga bias meningkatkan kreativitas dan tenaga kehidupan?

Ketika dzikir seseorang berlangsung, lataif-nya hidup, tawajjuh-nya akan membuahkan ihsan. Maka silsilah dalam thariqatnya jadi berfungsi dengan proper dengan pelayanan syaikh. Ini dapat mengantar yang bersangkutan mengendalikan dengan semakin baik gejolak dialektika kehidupan yang dijumpai agar ia istiqamah menuju hadirat Ilahi, kreativitas akan tercerahkan; kinerja semakin sehat dan penuh achievement, audauer dan appearance penuh kesukacitaan; ketemu orang serba mena’ke.

Hal ini karena dia mendapatkan hakekat jadzbah atau attraction berupa (1)  limpahan fadhail ilahi; (2) luberan fadhlun nubuwwah atau wali; (3) buah tawassulnya;  (4) esensi robithoh; (5) mendapatkan irsyad; dan (6) tasharruf wali atau mursyid.

Bagaiman menjelaskan Mbah Hasyim atau NU dan Tarekat, Syaikh?

Kebribadian seperti itu dimiliki oleh Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari. Suatu ketika saya ke Tebuireng dan bertemu dengan paman saya. Mengetahui kaki saya dalam kepayahan, maka paman saya memperkenalkan saya dengan seorang tua, bernama Mbok Dah. Kepada paman saya itu saya mengatakan “mesakne Lik wong tuwo kon mijeti”. Kata paman saya, walaupun tua beliau masih kuat dalam memijat. Maka akhirnya dipijatlah saya.

Mbok Dah kemudian bercerita bahwa jaman dulu Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari memiliki delman yang paling bagus di Jombang. Kegemaran Hadratu Syaikh adalah berkeliling dengan delman itu dan delman itu penuh dengan permen, buah-buahan dan makanan untuk dibagikan.

Mulianya, beliau…
Iya. Bahkan Hadratu Syaikh hafal nama semua anak-anak dari desa yang dikunjunginya. Inilah salah satu kewalian Hadratu Syaikh. Mbok Dah bercerita suatu saat Hadratu Syaikh tidak mendapati Dah, maka bertanya:

Endi iki Dah?”  (Di mana Dah?)
Nembe mboten sehat, Kiai”. (Baru tidak sehat, Kiai)
Kon rene,” pinta Hadratu Syaikh. Maksudnya, suruh datang.

Memang betul Mbok Dah kecil sedang mriang. Maka Hadratu Syaikh memegang mbun-mbunan Mbok Dah dan meniupnya.  Dan Mbok Dah pun sembuh.
Maka akupun  berkata pada Mbok Dah:

“Mbok Dah, jangan pijit aku dengan tanganmu, pijitlah aku dengan hatimu!”
“Kok awrat sangat permintaanya, Syaikh”.
“Bayangkan saat Mbok Dah dipegang mbun-mbunanmu oleh Hadratu Syaikh, dan  (barulah sentuh mbun-mbunanku).” Tiba-tiba saya merasakan sentuhan Hadratu Syaikh yang hadir.

Hadratu Syaikh dengan segala kebesarannya adalah orang yang berdzikir. Dzikir itulah yang menjadi sumber tenaga bagi Hadratus Syaikh untuk mewujudkan cita- cita.

sumber : http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,38966-lang,id-c,halaqoh-t,Tentang+Dzikir+dan+Mbah+Hasyim-.phpx

Allah menurunkan Al Qur’an sebagai pembeda.

Catatan 27 Desember 2014, Di lapangan Rampal

 

Allah menurunkan Al Qur’an sebagai pembeda.

Allah meminta kita untuk mencintai Allah, Rosululloh, sebagian dari kita mencintai sat dengan yang lain.

Orang yang tidak mencintai satu dengan lainnya berarti memiliki sifat sombong.

Ahli Surga, ada orang-orang lemah dan dipandang lemah bila ia bersumpah atau meminta kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya.

awrad bagi pengikut tarekat

Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
KL, 14 Des 2014

Ketika kita membeli peralatan elektronik, mereka memberikan buku manual yang mengatakan kepada kalian untuk melakukan langkah-langkah yang berbeda-beda. Jadi, untuk mengetahui rahasia penciptaan, kalian harus mengikuti prosedurnya. Awliyaullah memberi kita prosedur, memberi awrad. Tetapi mengapa sebagian orang melakukannya tetapi tidak mendapatkan manfaat bagi kehidupannya, mereka tidak menemukan suatu perubahan di dalam hidupnya? Tetapi sebagian lagi, mereka melakukan prosedur, dan mereka mendapati hal-hal yang dibukakan bagi mereka, satu per satu.

Itu adalah sederhana, ketika kalian membeli komputer, mereka mengatakan kepada kalian untuk melakukan langkah satu, dua, jika kalian mengikutinya maka itu akan terbuka; tetapi jika kalian tidak mengikutinya, maka dikatakan error. Kalian harus menghilangkan bagian yang error itu. Mengapa sebagian orang, ketika mereka melakukan awrad, mengikuti instruksi zikrullah, mereka merasakan sesuatu yang mekar, mereka mulai merasakan cahaya dalam kalbu mereka, mereka dapat melihat sesuatu yang tidak dapat terlihat, mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar, sebagaimana yang dikatakan dalam hadits; karena mereka mengikuti prosedur.
Anak-anak ini bermain games. Mereka bermain dari satu level ke level berikutnya. Gamenya tidak membawa mereka ke bagian awal lagi, kecuali terjadi error. Jika tidak terjadi error, mereka lanjut ke level berikutnya, terus dan terus, itu adalah sebuah samudra yang tidak bertepi, dari satu cakrawala ke cakrawala berikutnya, dari satu level ke level berikutnya, dengan mengikuti instruksi. Jika kalian tidak mengikuti instruksinya ketika melakukan awrad, seolah-olah kalian tidak melakukan apa-apa. Jika kalian tidak mengikuti instruksinya, kalian digolongkan sebagai awwaam an-naas, orang awam.

Ketika kalian ingin melakukan awrad kalian, level pertama adalah kalian harus mengingat Tuhan kalian, mengingat Allah (swt). Alladziina yadzkuruuna ‘Llaah, mereka yang mengingat Allah, yang menyebut nama Allah, yang mengagungkan Allah. Jadi, langkah pertama agar kita bisa maju ke Hadratillah adalah dengan melakukan zikrullah. Setuju? [yaa]q2

Yang terbaik dalam zikrullah adalah dengan mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah dari Syaythan. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.” Melalui 3 level dan nama, kalian mendorong diri kalian untuk melangkah. Melalui zikrullah, maka awrad kalian sekarang berada di jalur yang benar. Jadi apa yang harus kalian lakukan sekarang, level 2? Yaitu mengingat Allah. Dalam situasi apa? Qiyaaman, berdiri; qu`uudan, duduk, dan `alaa junuubihim, berbaring; jadi itu artinya dalam segala posisi kalian dalam kehidupan sehari-hari, kalian mengingat Allah (swt). Para awliyaullah melakukan hal itu.

Saya sering bepergian dengan Mawlana Syekh Nazim– semoga Allah memberkati ruhnya, membawa beliau ke sana ke mari, dan kadang-kadang tuan rumah tidak mempunyai cukup kamar, kecuali satu kamar dan satu tempat tidur, tetapi Mawlana mengatakan, “Tidak apa-apa,” dan beliau tidur di tempat tidur dan mengatakan agar saya tidur bersamanya. Dan kami berdua dalam satu tempat tidur. Saya tidak pernah melihat beliau kecuali dengna tasbeh di tangannya, kecuali ketika bangun untuk berwudu. Jadi itu untuk mengingatkan saya, untuk mengajari saya untuk melakukan zikrullah. Jadi itu menunjukkan kepada kita bahwa ketika beliau sedang berbaring, beliau melakukan zikrullah, begitu pula saat berdiri dan duduk.

Apa yang Allah katakan di dalam hadits qudsi? Allah berfirman kepada Nabi (s) dan Nabi (s) lalu menyampaikannya kepada umat, “Anaa jaliizu man dzakaranii.” Jika kita mengartikannya secara harfiah, sebagaimana yang dikatakan di dalam hadits, “Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku.” Apalagi yang kalian inginkan lebih dari itu? Jadi, mengingat Allah adalah dengan mengucapkan Allah, sekarang kita mengucapkan “Allah” dan Allah bersama kita. Ini adalah hadits qudsi, artinya hadits yang berasal dari Allah kepada Nabi (s). Dia berfirman, “Aku bersamamu, Aku akan mengaktifkan semua level yang dapat engkau lewati untuk sampai pada level di mana engkau dapat melihat apa yang orang tidak bisa lihat, dan mendengar apa yang orang tidak bisa dengar.

Jadi, kalian harus mengikuti instruksi ini, untuk mengingat Allah (swt) ketika kalian berdiri, ketika kalian duduk, dan ketika kalian berbaring, sampai kalian tertidur. Itu akan membawa kalian ke level yang lebih tinggi. Bila kalian melakukan hal itu, berdiri zikir, duduk zikir, berbaring zikir, Allah akan membukakan bagi kalian langit dan bumi. Sanuriyahum aayaatinaa fil-afaaq wa fii anfusihim. Kalian ingin melihat ayat-ayat Allah, maka masuklah ke dalam karavan. Masuklah, Aku akan menunjukkan ayat-ayat-Ku kepada kalian. Mereka yang memikirkan penciptaan langit dan bumi, masuklah ke dalam karavan, akan Ku-tunjukkan ayat-ayat-Ku. Bagaimana agar bisa masuk? Itu artinya duduk dan bertafakur. Ketika kita melakukan zikrullah, dengan menyebut Allah, atau La ilaha illAllah, karena kalian harus mengucapkannya antara 100-1000 kali sehari, ketika kalian mengucapkan La ilaha illAllah, kalbu kalian harus dalam keadaan bermeditasi dan memikirkan tentang Kebesaran Allah; bukannya sambil memegang tasbeh dan mengucapkan la ilaha illAllah tetapi hanya di lidah saja, tanpa meditasi itu. Memang dengan cara seperti itu, kalian dapat menyelesaikan awrad kalian, tetapi itu adalah level TK (taman kanak-kanak), kalian mendapat pahalanya, kalian mengucapkan Bismillah, kalian mendapat pahala, kalian mengucapkan Allah, kalian dapat pahala, mengucapkan, Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim, kalian mendapat pahala. Tetapi tanpa tafakur, orang-orang melakukannya tanpa bertafakur. Allah berfirman, yatafakaruun fii khalqi ‘s-samaawaati wa ‘l-ardh. Ya, memang nama kalian terdaftar, seperti halnya ketika kalian mendaftarkan anak-anak kalian ke sekolah, tetapi manfaatnya tidak didapat, kecuali anak-anak kalian belajar dengan baik dan lulus dalam ujiannya. Jadi, di sini ada banyak ujian. Orang kaya punya ujian, orang miskin punya ujian, orang menengah punya ujian. Segala macam orang mempunyai ujian. Laa raahata fiddiin, tidak ada istirahat di dalam agama. Ketika kalian menjadi seorang Muslim yang saleh dan tulus, Nabi (s) bersabda, al-qaabid `alaa diinihi kal-qaabidu `alaa al-jamr. Orang-orang yang memegang teguh agama mereka, mereka bagaikan memegang bara api di dalam tangannya.

Jadi memegang teguh agama di zaman sekarang adalah sangat berat, khususnya bagi wanita yang menutupi kepala mereka. Mereka menerima pahala yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali oleh Nabi (s). Dan kaum pria juga harus menutupi kepala mereka. Nabi (s) tidak pernah berjalan tanpa memakai penutup kepala.
Jadi, langkah-langkahnya adalah dengan berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring; kemudian memikirkan penciptaan langit dan bumi. Itu akan mengantarkan kalian untuk mengetahui rahasia-rahasia pada level-level berikutnya. Bahkan itu akan mengantarkan kalian untuk mengetahui rahasia setiap pasir yang Allah ciptakan. Ada berapa pasir yang kalian lihat di gurun? Kalian tidak dapat menghitungnya. Tetapi, kullu syay’in `inda hu bi miqdaar, segala sesuatu yang Dia ciptakan ada ukurannya. Ahsaahum wa `addahum `adda, Dia menghitungnya dan menomeri mereka satu demi satu. Segala sesuatu ada ukurannya. Allaahumma shalli `alaa Muhammadin. Mereka bertasbih, wa in min syay’in illa yusabihuu bi hamdihi, segala sesuatu bertasbih. Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an, bahkan butir pasir pun bertasbih. Bahkan atom, bahkan lebih kecil daripada atom, mereka bertasbih dan kalian tidak mengerti tasbih mereka. Kita tidak dapat memahaminya, tetapi Nabi (s) dapat mendengarnya. Ketika Nabi (s) meletakkan 7 kerikil di tangannya, para Sahabat di sekitarnya dapat mendengar tasbih kerikil tersebut. Kalian ingin naik ke level 2? Level pertama adalah mengingat Allah (swt) dan level kedua, Allah akan membukakan bagi kalian, untuk merefleksikan apa yang ada di bumi. Apa artinya? Itu berarti Allah akan memberi kalian rahasia tetapi rahasia itu disembunyikan dari kalian hingga kalian telah mencapai kematangan. Bukan akil balig sebagaimana yang kita pahami, tetapi matang di sini artinya kalian mulai melihat hal-hal ini, dan apa yang Allah berikan kepada setiap orang adalah berbeda. Jadi, jika kalian menginginkan level yang lebih tinggi, maka pikirkanlah tentang penciptaan langit dan bumi. Orang mengatakan dalam teori ini bahwa gas … berenang di galaksi dan mereka membentuk tahapan-tahapan unsur, unsur yang beku, dengan molekul dan jutaan tahun lalu membentuk gunung dan menjadi bumi. Ini semua akan hilang dari pikiran kalian dan semua teori ini, termasuk teori Darwin tentang bagaimana langit terbentuk, lalu kalian akan mulai mengetahui hakikat bagaimana langit ini dibentuk. Dan ketika mereka memberi, mereka memberi. Ketika Nabi (s) memberi, itu tidak akan diambil kembali. Ketika Syekh memberi, beliau memberi dan tidak ada yang dapat membatalkannya. Hanya Allah yang dapat membatalkannya di dalam al-Qur’an atau Nabi (s) membatalkannya di dalam hadits suci. Kalian tidak dapat membatalkan apa yang telah dikatakan oleh Syekh. Beliau memberi sesuatu kepada kalian, kalian menjadi terhormat, kalian tidak dapat membatalkannya, tetapi syekh dapat melakukanya.

Foto SufiLive.com.

Ketika kalian pergi ke Mekah dan Madinah, apa yang biasa orang beli di sana? Kurma. Setelah kurma? Tasbeh. Lupakan kurma dan zamzam, karena keduanya adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan. Tetapi mengapa kalian membeli tasbeh? Untuk mendapat berkah. Kalian membawa tasbeh dari Madinatul Munawwarah ke rumah kalian, meskipun tasbeh itu berasal dari Cina yang dibawa ke Madinah. Segala sesuatu yang berada di Madinah mendapatkan tajali dari nur, cahaya. Allah akan memberi kalbu kalian cahaya, untuk melihat apa yang orang tidak bisa lihat. Dan kalian tiba di rumah, dan memberi tasbeh itu kepada orang-orang, dengan mengatakan bahwa ini dari Madinah. Jadi ketika Syekh memberi kalian sebuah gelar, apapun yang orang katakan, mereka tidak dapat membatalkannya.
Dan Allah berfirman kepada Nabi (s), “Wahai hamba-Ku, patuhilah Aku! Aku akan membuatmu Rabbani.” Kalian mengatakan sesuatu “Kun!” maka jadilah ia. Dan apa yang diberikan Tuhan tiak seperti apa yang orang berikan. Kadang-kadang kita memberi, tetapi kemudian bertengkar. Jadi teruskan, ada instruksi-instruksi berikutnya, dan semakin kalian maju, semakin banyak rintangannya, instruksinya semakin berat. Walau semakin berat, tetapi lanjutkan terus dan terus bertafakur, lakukan zikrullah. Kalian akan melihat Surga dibukakan bagi kalian. Allah Mahaadil, Dia akan membukakan bagi kalian sebuah rawdhah, dari Taman Surga-Nya Allah. Tetapi jika kalian melakukan zikrullah tanpa bertafakur, itu akan seperti membaca koran. Seperti misalnya kalian membaca La ilaha illAllah…. (terus hingga seputaran tasbeh), selesai 200 (kali). Atau kalian mengucapkan La ilaha illAllah (secara perlahan) dari perut ke pundak kanan dan mengatakan bahwa Tiada Tuhan selain Allah di dalam kalbu kalian, dan kalian memikirkannya (bertafakur).

Jadi kita harus berhati-hati dan kita ikuti instruksi kita dan ikuti awrad sesuai dengan instruksinya, Allah, Allah, Allah. Ikuti sesuai instruksi dan Allah akan membukakan.

 sumber : https://www.facebook.com/haqqani.indonesia/posts/10204170565278755

duduk diantara dua sujud

رب اغفرلى < Ya Tuhanku ampunilah daku >

وارحمني < sayangilah daku >

واجبرنى < Cukupilah kekuranganku >

وارفعنى < Angkatlah derajadku >

ujburni itu artinya Ya Alloh Paksakn aku oleh Karsamu utk jd baik-bener sbb usaha sendiri seringnya keliru warfa’ni itu dr level manusiawi ke ptnghambaan,

وارزقني < Berilah aku rezeki >

warzuqni (rizqi sdh ditetpkn) agar rzqiku dlm prspktif mas lahat bukan ngeter aku keneraka Ya Alloh. Read more »

Adab

– Adab adalah menganggap Allah ada, akhirat menjadi tempat tujuannya.

– Mbah Mas’um 56 kali menghadiri majelis manaqib dalam seminggu

– menangkap sinyal awliya itu dengan mengunjungi orang tua

– masjid pertama Bintoro itu sering dikunjungi banyak Awliya tiap bulan purnama

– Seorang tukang penyaji makanan di masjid Demak, suatu saat diperintahkan oleh sunan KaliJaga “pergilah ke timur” beliau tanpa mengerti apa dan bagaimana bahkan kemana, beliau langsung saja pergi ke timur sebagai kepatuhannya kepada sunan kali Jaga. Hingga menemui suatu desa, beliau berhenti dan menunggu. sambil berinteraksi dengan masyarakat sekitar. dan setelah beberapa bulan, ada utusan dari Sunan Kali Jaga yang lain “kemana saja kamu, sudah ditunggu Sunan kali Jaga” dan berkah dari kepatuhan beliau, masyarakat di desa tersebut masuk Islam.

– Islamisasi itu bukan dengan kata-kata tetapi dengan adab. Read more »

Mutiara hikmah SMM

“Walau miskin jk ingin mmberi yg Maha Kaya sertamerta akn Bikin si Miskin jadi kaya (bs mmberi)”

“capailah kebulatan..
mulut kita mengumandangkn nama Allah..
hati juga Allah.. pikiran juga Allah..
agar supaya, sikap kita kepada siapapun,..
kapanpun, dimanapun didekat kita jangan tanpa Allah
kebulatan Allah dalam akumulasi digetar hati kita
akan mengimplikasikan utuhnya tauhid kita kepada Allah”

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur, Maha Perkasa, Maha mulia, Maha Tinggi, berkenan untuk hormat kepada Rosululloh. Wahai orang yang beriman, tundukkan hatimu kepada Rosululloh untuk mengikuti respectnya Allah dan seluruh Malaikat kepada Beliau.” Read more »

dakwah

  • Tidak ada yang lebih penting dari menyambung kepada Nabi Muhammad saw.
  • Ajarilah anak-anak kalian agar mereka menjadi anak di zamannya.
  • Hal yang paling penting adalah ibadah wajib kemudian perbuatan-perbuatan yang penuh hikmah.
  • Sykh Aljazuli (pengarang sholawat dalailul khoirot) suatu ketika dalam perjalanan melawati suatu gurun pasir. beliau melihat oasis, beliau melihat sumur yang ada airnya. beliaupun berusaha mengambil air tersebut, tetapi tidak berhasil karena tidak ada alat untuk mengambilnya. kemudian ada anak kecil perempuan yang berumur sekitar 5 tahun “bapak mencari timba untuk ambil air?” anak perempuan tersebut menyedot (menghirup dengan mulut) dan tiba-tiba air sumur menyembur keatas, dan dengan air tersebut Syekh AL Jazuli berwudlu kemudian sholat. setelah sholat beliau bertanya kepada anak kecil tersebut “kenapa kok kamu dapat melakukannya, air sumur langsung menyembur keluar?” dia menjawab “aku baca sholawat, dan aku telah disuruh oleh orang tua ku bersholawat sejak dari kecil terus menerus” mendengar jawaban itu, syekh Al Jazuli merasa terpukul dan kembali tidak jadi meneruskan perjalanan, “mengapa Sholawat saya kalah dengan sholawat anak kecil tersebut?” dan kemudian beliau berkhalwat selama 13 tahun.
  • Naqsybandi adalah bagaimana orang yang berada jauh dari Nabi saw dapat merasakan bersama dengan Allah.
  • Dr Muhammad Sholeh yang telah dikubur 22 tahun, ketika hendak dipindah kuburannya, ternyata tubuhnya masih utuh. dan keterangan dari anak beliau “beliau seperti kereta api, berjalan direlnya, tidak pernah tolah toleh yang berjalan lurus, tidak pernah memakan harta orang lain, beliau selalu hadir untuk orang yang susah dan bahkan sering ketika pasiennya adalah orang tidak mampu, beliau malah memberi uang kepada si paisen” ibadahnya “ia seorang dokter yang sibuk dengan pasiennya hingga tidak terlihat melakukan ibada sunnah,tapi sholat wajib dan puasa romadlon tidak pernah ditinggalkannya dan di umur 50 tahunan ketika sakit, beliau mulai membaca buku-buku agama dan mulai membaca sholawat”
  • Bung Karno ditahun 60 tahunan ketika menghadiri suatu konferensi di Amerika. kalau kepala negara yang lain menyiapkan teks pidato kemudian diserahkan kepenerjemah agar diterjemahkan kepada seluruh perwakilan negara yang hadir, tetapi berbeda dengan beliau, beliau ketika berpidato, tanpa teks berbicara dengan tegas “mulai saat ini, kami (Indonesia) tidak menginginkan dengan uang kalian, kami keluar dari PBB” dan inilah tipikal orang-orang yang dekat dengan Ulama, beliau tidak takut apapun. sehingga “mereka” takut dan berusaha bagaimana agar Bung Karno diturunkan dari jabatannya, dan kemudian bagaimana agar pemimpin dan rakyat Indonesia jauh dari Ulama.
  • di zaman dahulu, anak-anak muslim di waktu antara maghrib dan isya’ mengisi waktunya hanya dengan mengaji dll
  • kami (Indonesia) belajar bahasa arab bukan untuk berbicara dalam bahasa arab, karena kami telah memiliki ratusan bahasa lokal, sehingga kami tidak perlu bahasa baru, kami belajar bahasa arab untuk mengetahui Nabi saw
  • Suatu saat seorang awliya berziarah di makam sayyidina muawiyah, beliau mengucapkan “Assalamualaikum ya Sahabat Nabi, Wahai penulis Mushaf” mungkin kita tidak menyetujui sikap politik dari muawiyah, tetapi kita tetap harus menghormati beliau, beliau adalah salah seorang sahabat nabi dan bahkan dipercaya oleh nabi sebagai salah satu penulis Mushaf
  • Setelah kegoncangan politik, maka banyak keturunan sayyidina Hasan yang berada di maroko, sedang keturunan sayyidina Husein banyak yang berada di Yaman setelah Imam Al Muhajir hijrah ke Yaman dan dari sinilah dikenal dengan para habaib.
  • Dan salah satu dari keturunan Al muhajir, Sayyidina Malik pindah ke India, dan salah satu keturunan beliau adalah Assamarqondi (ayah sunan Ampel) menyebarkan Islam ke Indonesia
  • Islam masuk ke Indonesia melalui 2 jalur tersebut.
  • Di lain kesempatan, Presiden Gusdur (dan juga seorang Ulama) datang kepada salah pemimpin negara, sambil menunjuk, beliau berkata “aku mengetahui apa yang kamu lakukan di negaraku, hentikanlah !” merasa takut akan GusDur, ia mencari alasan-alasan diplomatik, tetapi di luar itu, berusaha agar GusDur dilengserkan dari jabatannya.
  • di Zaman Bung Karno, Haji disubsidi oleh negara, karena beliau menyadari bahwa kemerdekaan yang diperoleh Indonesia adalah banyak dari jasa orang-orang Islam
  • Penasehat Islam VOC adalah orang yahudi walau dia hafal Al Qur’an dan mengerti madzhab Syafi’i
  • Kyai Hasyim Asy’ari, selalu merasa dihadapanpan Allah dan Nabi saw
  • rembesan dari faidhul nabi adalah mahabbah Rosululloh. rembesan faidhul Ilahiyah adalah Taufiq dan maunah. Untuk memperolehnya maka harus didukung kimia Ilahiyah yaitu rasa Syukur untuk anugrah Allah dan Menyesal (istighfar) ketika berbuat salah
  • Sebelum Sholat, maka lakukanlah Syukur terhadap nikmat-nikmat Allah dan beristighfarlah agar Sholat disertai hati
  • Kyai Romli bila berwiridan setelah subuh maka akan selesai hingga jam 7, kemudian beliau berkeliling sambil menyapa para tetangga, beliau tidak mengajarkan doktrin tetapi beliau mengajarkan dengan akhlak dan contoh
  • Apabila melakukan ibadah/ kebaikan ditempat yang sama secara terus-menerus, maka tempat tersebut akan menjadi saksi, dan akan memancarkan magnetiknya (berkah)
  • Ketika Nabi saw sakaratul Maut, beliau ditemani oleh Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali, dan berpesan agar baju beliau diberikan kepada orang yaman (Uwaisy AL Qorni). dan ketika melaksanakannya, Uwaisy bertanya kepada mereka “berapa kali kalian melihat Nabi saw?” sayyidina Umar berkata “bagaimana kami tidak melihat beliau, kami selalu bersama beliau” beliau berkata “bukan itu maksudku” sayyidina Ali kemudian berkata “saya pernah melihatnya sekali, suatu ketika itu saya bertafakkur, kemudian Nabi saw datang mendekat, sayapun melihat beliau, melihat pancaran cahaya, melihat kening beliau lebih tinggi dari Arsy”. Bagaimana Sayyidina Ali pernah melihat Arsy? beliau melihat bukan dengan mata kepala, tetapi dengan hatinya

Catatan ngaji 1 Desember 2014 di Sidoarjo

bersyukur

CATATAN TAUSHIYAH MAULANA SYEKH HISYAM KABBANI DALAM MULTAQO NASIONAL THORIQOH NAQSYABANDIYAH NADZIMIYYAH – PONPES AL-HIKAM MALANG (28/12/2014):

1. Rasulullah bersabda bahwa siapa saja yang kelak di akhirat dihisab oleh Allah maka pasti dia mendapat adzab dari Allah, itulah mengapa beliau memberi nasehat kepada Sayyidah ‘Aisyah untuk senantiasa berdoa agar tidak dihisab atau dihisab tidak secara mendetail, karena ketika seseorang di hisab dg detil maka tentu perbuatan maksiat seorang hamba jauh lebih banyak dari pada amal kebaikan yang dilakukan.

2. Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bertaubat, jangan sampai ada perasaan dalam diri kita berputus asa dari rahmat Allah karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang hambaNya.

3. Di zaman Rasulullah, adonan roti dibuat dengan cara menggiling gandum menggunakan batu, karenanya banyak serpihan kecil dari batu tersebut yang bercampur dengan adonan roti, sehingga tidak sedikit para sahabat yang makan roti tersebut tersedak ketika memakannya bahkan sampai ada yang meninggal disebabkan hal tersebut, itulah mengapa DISUNNAHKAN menyediakan air minum ketika makan, agar disaat kita tersedak kita bisa segera minum. Meski dalam keadaan demikian para sahabat Rasulullah senantiasa bersyukur kepada Allah dengan berbagai kenikmatan yang mereka peroleh.

4. Jika kita memperhatikan keadaan tersebut lalu dibandingkan dengan keadaan kita sekarang, dimana makanan sudah dimasak dengan berbagai peralatan modern sehingga roti – roti begitu halus begitu juga dengan makanan – makanan lainnya, tapi kualitas syukur manusia saat ini semakin berkurang dan jauh dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah.

5. Permasalahan saat ini dan akan semakin parah keadaannya adalah kurangnya manusia bersyukur atas nikmat Allah, dari hal terkecil adalah bersyukur atas nikmat makanan. Sehingga sayyidah ‘Aisyah pernah berdoa dalam waktu yang cukup lama, “Semoga Allah mengirimkan penyakit pada gigi orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat Allah”, kemudian Syekh Abdullah Faiz Al Daghestani berkata,”Jika Sayyidah ‘Aisyah tidak menghentikan doa beliau tersebut, niscaya orang-orang saat ini rela giginya lepas satu – satu karena banyak orang-orang saat ini yang tidak bersyukur”

6. Allah telah menitipkan cinta kepada kita dengan menjadikan kita sebagai seorang muslim, maka perbanyaklah bersyukur dan berdoa kepada Allah agar Allah menambah nikmat kepada kita dan mengampuni dosa – dosa kita.

7. Senantiasalah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Allah berikan kepadamu. Jangan menjadi orang yang suka mengeluh karena hal tersebut akan mengurangi kadar kecintaan Allah kepada kita, satu alasan mendasar bagi kita bersyukur adalah Allah menjadikan kita sebagai muslim dan umat nabi Muhammad SAW.

8. Jika kita membaca hadits-hadits shohih tentang tanda – tanda hari kiamat, engkau akan menyadari bahwa ia semakin mendekat dan tidak bisa engkau mengundurnya, pahamilah itu!! (Ust. Afri Andiarto)

 

 

sumbar : https://www.facebook.com/surabayahubbunnabi/photos/a.412575725435711.114369.412520662107884/1033494430010501/?type=1&fref=nf

The True Meaning of “Suhbah” and its Importance

Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaha illa-Llah. Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi ‘l-hamd. Madad, ya Rijaalullah. Thumma as–salaat was salaam `ala Sayyid al-Awwaleen wa ’l-Akhireen, shukur ya Rabb, shukr lil-Llahi, an ja`lanee min ummati Habeebihi (s)

Thumma as-salaat wa ’s-salaam `alaa saa’iri ’l-anbiyaa wa ’l-mursaleen, w’alhamdullilahi rabbi ’l-`alameen.

Praise and peace upon Prophet Muhammad (s), and upon all prophets and messengers. All praise is for Allah, the Lord of the Worlds.

Madad, ya rijaalAllah. Sayyidee wa mawlay, shaykhuna, shaykh ul-mashaykh Sultan al-Awliya `AbdAllah al-Faiz ad-Daghestani Hazretleri, Allah Jalla wa `ala ja`alanee an akoon fee suhbatihi nahwa arb`eena `aaman.

My master, our shaykh, the Shaykh of Shaykhs, Sultan al-Awliya `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani, His Holiness, Allah made me to be in his association for around 40 years, alhamdulillah, without stopping. He would always say whenever he wanted to begin suhbat, “Our tariqah is based on association and the good is in the gathering.” These words were carried down from the Arch-intercessor of created beings, Shah Bahauddin Naqshband (q), and he took that precious jewel from the Presence of the Prophet (s) when the Prophet said, “Religion is advice.”

This is the manner which all our noble predecessors of the imams of the Naqshbandiyya kept, and in the same manner all other tariqahs since the beginning up to now. Man is in need of training/discipline. Without discipline he has no value and no weight, neither in this life or the next. But when Allah made them leaders of calling to Truth, all of them were making association with Allah’s servants.

Now nasiha, advice, indicates officiality, but association makes the servants become companions to the Prophet (s). An advice is official, but suhbat, association, advises the servant, particularly when he may feel very distant from him (s). Therefore, the Prophet (s) gave advice to the common people and gave suhbat in his gatherings, which were not “official.”

O Shaykh Hisham Effendi! Familiarity between persons will make each companion feel integrated, whereas in the official type of talk he cannot get close. Therefore suhbat makes the servant of Allah feel close to the one giving advice. That is the meaning of suhbat.

All of the noble Sahaba were often in association with the Prophet (s) until they felt that familiarity with him. The Prophet (s) said, “Religion is nasiha, advice” and because the awliyaaullah are inheritors of the Prophet (s), they choose familiarity and closeness, so that when they held an association the servants would feel that familiarity and become joyous. How many people came to the presence of the Prophet (a), and he ordered them based on the characteristics in which they were dressed. It is the character of prophets to deliver their message, but those who were able to become familiar with the spirituality of the Prophet (s) were those who sat with him, and however many did not reach that level took from the official instructions and advice.

Our Naqshbandi masters, and specifically Sayyidina Shah Naqshband (q) used to say, “Our way is association. Keep familiarity.” So as “religion is advice,” all the awliyaaullah that composed our tariqah also spoke from that ocean, advising, that our tariqah is suhbat. Suhbat brings familiarity between two persons, then the inheritors of Prophet (s) used that familiarity to be servants with the Muhammadan inheritor. So if “the way is association,” there is no officiality there. In Islam officiality is a danger, both in the proximity to kings or in familiarity with the Prophet (s), as he said, “Whoever imitates a people is one of them.”

We are not deserving nor able, but we are imitating. Men are inspired (during suhbat); in their gathering it will be light, not heavy; whereas officiality is heavy, association is light. In official gatherings, the Prophet (s) used official words, but in the time when they sat together for making closeness of hearts, there used to descend, on the basis of the levels of the hearts of those present and the listeners, something mulasfah, which they would study there and which would make their hearts closer to each other. And the intent is to make the hearts of al-insaan (Mankind) and insaan al-quloob, men (people) of hearts, inside the heart of the Prophet (s)!

 

SultaanAllah! Subhaanallah! And we say, a`oodhu billahi min ash-Shaytani ‘r-rajeem, with the intent that Allah makes us far from the association of Shaytan. I seek refuge in Allah: don’t come near, neither Shaytan nor those representing Shaytan! Allah said, “And don’t approach that forbidden tree,” and Shaytan was outside. In the case of our father, Sayyidina Adam (a), and our mother, Sayyidatuna Hawa, that was a divine matter, where Allah (swt) said:

وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ

wa laa taqrabaa hadhihi ’sh-shajarata

Do not (you two) approach this tree. (Surat al-Baqara, 2:35)

So every affair that Allah made to His servant from that tree was due to coming close and yantarid, “Do not approach this tree,” and there is no power and no might except with Allah the Almighty. “Do not approach this tree!”

Suhbat makes the servant awake and aware all the time, and in it is an indication of, “Do not approach the tree of your ego.” In the reality of every human being there is spirituality and ego is striving hard to overcome the servant, and to make the servant approach that tree which is forbidden, and to make the servant break his oath and commitment.

أعدى أعدائك نفسك التي بين جنبيك

A`ad `adoo laka nafasak allatee bayna jambayk.

“The most dangerous enemy is your ego that is between your two sides.”  (al-Bayhaqi)

That means, don’t look here or there outside yourself, but your enemy is your own self.

SubhaanAllahi l-`Aliyyi ’l-`Azheem. Qul, Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem! The Prophet (s) said, “Halaal is manifest and haraam is manifest.” Is there any doubt there? Halaal is clear and haraam is clear: there is no doubt. Those people all the time accuse people of shirk. Didn’t they hear the Prophet (s) say that halaal is clear and haraam is clear? Didn’t the Prophet (s) clarify things? He is the one who brought Shari`atullah, the firm law, from Allah (swt). (Mawlana says when you are in the presence of Prophet in his maqaam, you feel Allah’s Presence and you praise the owner of that maqaam.)  How do they accuse people of committing shirk when they do that, when Prophet said, “Halaal is clear.”

Let’s clarify the meaning of shirk. This is an introduction of that topic and inspiration we are receiving we will speak in order to clarify this for the ummah. Those who are ignorant or against the kernel of realities are blind in both worlds, and there is no importance or value for their words! Those who work against Allah’s law, Allah’s anger descends on them. When you look at their faces you see darkness and ugliness; they make people run away from them and there is no familiarity on their faces. The Prophet (s) said, “Ask for favors from those with beautiful faces.” Ugly faces you should stay away from. Forgiveness, O my Lord!

Fatihah.

Mawlana Shaykh Hisham: Mashaa-Allah, what a great tafseer for the meaning of “suhbah.” Amazing!

Mawlana Shaykh Nazim: This is your barakah, Shaykh Hisham. It’s coming from you.

        

Mawlana Shaykh Hisham: Your face is beautiful and familiar; your name should be “Anees” (kind, beautiful) because you make everyone happy. You should open a dargah there. Mashaa-Allah, beautiful suhbah. This should be an introduction in every book you arrange as no one understands that suhbah is familiarity with the shaykh and tariqah is to be serious and to struggle on the path.

[End]

The True Meaning of “Suhbah” and its Importance

Sultan al-Awliya
Mawlana Shaykh Nazim Adil al-Haqqani

28 April 2011   Lefke, Cyprus

(Translated from Arabic)

sumber :  http://sufilive.com/The-True-Meaning-of-Suhbah-and-its-Importance-3427-print.html