Sejarah Pitung Betawi

Banyak yang salah mengerti tentang Pitung, Pahlawan dari tanah Betawi. Hal ini disebabkan pengaruh dari kisah-kisah yang beredar di masyarakat, yang menggambarkan Pitung sebagai sosok Jawara, yang membela kaum lemah, melalui keahliannya dalam ilmu beladiri.

Namun sejatinya Pitung itu adalah sebuah organisasi perlawanan rakyat Betawi, terhadap pemerintahan kolonial Belanda. PITUNG merupakan singkatan dari PITUAN PITULUNG, yang bermakna Tujuh Orang Penolong”, yang dipimpin oleh Ratu Bagus Mohammad Ali bin Raden Samirin.

Nama ke-7 Pendekar itu adalah :

Read more »

MANAQIB MAULANA MALIK IBRAHIM

NAMA LAIN DARI MAULANA MALIK IBRAHIM

adalah:
1. Sunan Gresik
2. Sunan Tandhes
3. Sunan Raja Wali
4. Wali Quthub
5. Mursyidul Auliya’ Wali Songo
6. Sayyidul Auliya Wali Songo
7. Ki Ageng Bantal
8. Maulana Makhdum Ibrahim I (sedangkan Maulana Makhdum Ibrahim II adalah gelar Sunan Bonang bin Sunan Ampel)
KELAHIRAN MAULANA MALIK IBRAHIM
Lahir di Samarqand, pada 9 Rabi’ul Awwal  759 Hijriyyahh (1356 Masehi). Wafat di Gresik, Jawa Timur, Indonesia. Dan dimakamkan di Desa Gapura Wetan, Gresik. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 Hijriah (1419 Masehi). Bukti ini nampak pada bingkai nisan Maulana Malik Ibrahim, terdapat pahatan ayat suci Al-Qur’an. Diawali dengan surat al-Baqarah ayat 225 yang lebih popular disebut ayat kursi, lalu surat Ali Imran ayat 185, Al-Rahman ayat 26-27, dan diakhiri dengan surat At-Taubah ayat 21-22. Menurut beberapa literatur yang saya teliti, nisan tersebut berasal dari Cambay, Gujarat dan nisan tersebutadalah persembahan Sultan Samudra Pasai sebagai tanda hormat atas keagungan sang Maulana Maulik Ibrahim.
Pada makam Maulana Malik Ibrahim, terdapat pula sebuah teks bertuliskan :“Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran, dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan Wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahir penguasa dan urusan agama : Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridho-Nya dan semoga menempatkannya di surga.”
Maulana Malik Ibrahim adalah cucu dari Wali Qutub [As-Sayyid Husain Jamaluddin]. Seorang Wali Allah yang menjadi Mufti dan Penasehat Kekhilafahan Turki Utsmani, yang dipimpin oleh Khalifah Muhammad I.Ayah Maulana Malik Ibrahim adalah As-Sayyid Barakat Zainul Alam, Seorang Wali Allah yang memiliki paras yang tampan, dan mempunyai keahlian sebagai orator yang ulung dan memukau.
NASAB MAULANA MALIK IBRAHIM
Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi al-Husaini adalah: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi Muhammad Rasulullah
ISTERI MAULANA MALIK IBRAHIM
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 4 isteri bernama:
1. Dewi Rasa Wulan binti Sayyid Ahmad Wilwatikta Azmatkhan, berputera 3: 1) Maulana Maghribi II/ Maulana Malik Maghribi, 2) Maulana Malik Israfil, 3) Abdurrahim Al-Maghribi (Jaka Tarub)
2. Syarifah Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh/ Maulana Maghfarah Al-Maghribi dan Syarifah Sarah
3. Syarifah Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah Al-Maghribi, Ibrahim Al-Maghribi, Abdul Ghafur Al-Maghribi, dan Ahmad Al-Maghribi
4. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas Al-Maghribi dan Yusuf Al-Maghribi.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan 3 putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran), Utsman Haji (Sunan Ngudung) dan Sunan Geseng .
Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].
Dakwah As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim ditunjuk oleh kakeknya As-Sayyid Husain Jamaluddin (Penasehat Khalifah Muhammad I) untuk menjadi anggota dari WALI SONGO. Wali Songo adalah nama dari Gerakan Dakwah atau Majelis Dakwah, yang kawasan dakwahnya adalah wilayah Nusantara (yang sekarang disebut Asia Tenggara).
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 – 1435 M. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, (Tahun 1419 M meninggal dan digantikan oleh Sunan Ampel)
2. Maulana Ishaq,
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi
5. Maulana Malik Isra’il,
6. Maulana Muhammad Ali Akbar,
7. Maulana Hasanuddin Al-Kubro,
8. Maulana ‘Aliyuddin Al-Kubro,
9. Syekh Subakir (Sayyid Muhammad Al-Baqir Azmatkhan),
Daerah yang pertama kali disinggahi oleh As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim adalah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Beliau lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan masjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.
AQIDAH DAN MADZHAB FIQIH MAULANA MALIK IBRAHIM
Maulana Malik Ibrahim beraqidah Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah, Dalam urusan Fiqih bermadzhab Syafi’i.
THARIQAHNYA MAULANA MALIK IBRAHIM
Maulana Malik Ibrahim merupakan Mursyid dari 9 Thariqah Mu’tabarah Wali Songo, yaitu:
1. Thariqah ‘Alawiyyah,
2. Thariqah Qadiriyyah,
3. Thariqah Naqsabandiyyah,
4. Thariqah Syadziliyyah,
5. Thariqah Sanusiyyah,
6. Thariqah Mawlawiyyah,
7. Thariqah Nur Muhammadiyyah,
8. Thariqah Khidiriyyah, dan
9. Thariqah Al-Ahadiyyah.
PARA GURU DARI MAULANA MALIK IBRAHIM
1. Nabi Khidir (Guru yang datang secara ghaib)
2. As-Sayyid Husain Jamaluddin (Guru Bidang Fiqih dan Ushul Fiqih)
3. As-Sayyid Ali bin Abdul Quddus (Mursyid/ Guru Bidang Tasawwuf)
4. As-Sayyid Barakat Zainal Alam (guru Bidang Hadits dan Ushulul Hadits)
5. As-Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar (Guru Bidang Dakwah dan Ushulud Dakwah)
6. As-Sayyid ‘Ali Nurul Alam (Guru Bidang Tata Negara Islam/ Fiqih Siyasah)
7. As-Sayyid Sultan Sulaiman Al-Baghdadi (Guru Bidang Tsaqafah Islamiyyah)
8. As-Sayyid Abdul Wahab Asy-Sya’rani (Guru Bidang Tafsir dan Ulumul Qur’an)
9. As-Sayyid Fadhal Sunan Lembayung (Guru Bidang Tasawwuf dan Akhlak)
PARA MURID DARI MAULANA MALIK IBRAHIM
1. As-Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel)
2. Sharifah Dewi Condrowati (istri Sunan Ampel)
3. Sharifah Zainab/ Thabirah/ Darawati binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar [Ibunda Raden Fattah]
4. As-Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raja Pandita]
5. Wan Abdurrahman bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar (Thailand)
6. Wan Jamilah (Thailand)
7. Wan Yahya (Thailand)
8. Wan Muhammad Yasin (Thailand)
9. Wan Husain (Thailand)
10. As-Sayyid Abdullah Umdatuddin (Champa)
11. As-Sayyid Ibrahim bin Abdul Ghafur [Keponakannya]
12. As-Sayyid Shalih bin Abdul Malik [Datuk Shalih]
13. Kiai Gusti Agung Rama bin Sunan Kramasari
METODE DAKWAH DARI MAULANA MALIK IBRAHIM
Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.
WAFAT
Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 Masehi/ 822 Hijriyyah. Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.Inskripsi dalam bahasa Arab yang tertulis pada makamnya adalah sebagai berikut:Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para Sultan dan Wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah (1419 M).Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel, 1999. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Songo Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung.
2. Azmatkhan, Syaikh Sayyid Bahruddin, Biografi Sayyid Maulana Malik Ibrahim, tahun 1960,
3. Drewes, G. W. J. 1968. New Light on the Coming of Islam to Indonesia?, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
4. Hasyim, Umar, 1981. Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Menara Kudus.
5. Meinsma, J.J., 1903. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage.
6. Moquette, J.P., 1912. “De oudste Mohammedaansche inscriptie op Java end Madura de graafsteen te Leran”.
7. Munif, Drs. Moh. Hasyim, 1995. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa, hlm 5-6, Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi, Gresik.
8. Nasab-Alwi (Ammu al-Faqih), Situs Asyraaf Malaysia (Situs Persatuan Alawiyyin Malaysia)
9. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S., 1830. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, Chap X, page 122.
10. Salam, Solichin, 1960. Sekitar Walisanga, hlm 24-25, Penerbit “Menara Kudus”, Kudus.
11. Tjandrasasmita, Uka (Ed.), 1984. Sejarah Nasional Indonesia III, hlm 26-27, PN Balai Pustaka, Jakarta.
12. Van Bruinessen, Martin, 1994. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150, 305-329.
13. Groeneveldt, W.P., 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Bhratara, Jakarta.
14. Al-Habib Bahruddin, Catatan Nasab dan Riwayat Maulana Malik Ibrahim, 1979
15. Shohibul Faroji Azmatkhan, Kitab Nasab Maulana Malik Ibrahim, 2000
http://madawis.blogspot.com/2013/06/23-maulana-malik-ibrahim.html
http://sejarahgunungbatu.blogspot.com/2013/07/manaqib-maulana-malik-ibrahim-azmatkhan.html

Read more »

di balik Sejarah hari pahlawan (10 Nopember)

Khutbah Jum’at kemaren, salah satu yang disampaikan oleh Khotib adalah peran serta pendiri NU atas perang 10 nopember yang mencetuskan hari pahlawan. Karena sepenangkap saya, pokok materi khutbah adalah PAHLAWAN

——————

Kilas balik Resolusi jihad Mbah Hasyim 10 November 1945

Telah berlalu peperangan 10 November 1945 di surabaya , 69 tahun silam kejadian heroik beberapa lapisan masyarakat bergabung menumpas penjajah yang kembali merangsek meski negara kita telah merdeka beberapa bulan . Kini , saatnya memori kenangan manis para pejuang kemerdekaan kita ungkap agar anak cucu mengetahui betapa dahulu kala makan saja sulit saat masa peperangan , agar kita yang sekarang berada dimasa makan serba gampang bisa bersyukur kepada Tuhan .

Peristiwa 10 november banyak yang mengenang sebatas pertempuran masyarakat dengan penjajah , namun dibalik itu ada kekuatan religius yang mengendalikan dan menyemangati Bung karno dan Masyarakat untuk bergerak melawan musuh . adalah keputusan resolusi jihad yang dicetuskan Kyai Hasyim Asy’ari kakek dari Mendiang Mantan Presiden RI Bapak Gusdur .

Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945.

Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

Dalam dialog keduanya , “Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datang niku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? “ tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim.

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas.

Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !” kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy’ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. “Lalu Kiai Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy’ari jadi orator perang,” ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy’ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, “Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” terang Ki Darmadi. Read more »

Legenda Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto

Diceritakan pada zaman dahulu pulau Jawa masih dalam keadaan bergoyang-goyang selalu berpindah-pindah menurut arus lautan. Dalam usaha untuk membuat pulau Jawa tetap tinggal di tempatnya Batara Guru memerintah­kan kepada para dewa untuk memotong puncak gunung Mahameru di India dan memindahkannya ke Pulau Jawa sebagai bahan pemberat.

Akhirnya puncak Mahameru berhasil dipotong dan ke­mudian dibawa ke pulau Jawa diletakkan di bagian barat. Tidak diduga akibatnya pulau Jawa menjadi miring ke arah barat. Kemudian dipin­dahkan ke arah timur yakni di tempat yang kini dikenal sebagai gunung Semeru namun tetap saja bergoyang-goyang. Hal ini disebabkan pemindahan puncak Mahameru dari barat ke timur beberapa bagian berceceran sepanjang jalan yang dila­luinya.

Ceceran-ceceran tersebut kemudian men­jadi gunung-gunung yang terkenal di Jawa. Ka­rena kesalnya para dewa kemudian memotong puncak Semeru dan melemparkannya ke tempat lain. Potongan puncak itulah kemudian yang menjadi gunung Pawitra atau gunung Penanggu­ngan.

Betara Guru kemudian menuju ke gunung Pe­nanggungan untuk bertapa. Selama bertapa setiap hari Betara Guru mandi sebanyak enam kali dalam sehari semalam; Akibatnya seluruh tandon air yang terdapat di gunung Penanggungan men­jadi habis. Karena kehabisan air Betara Guru terpaksa pindah mandi ke gunung di dekatnya yang bernama gunung Kemukus.

Sewaktu akan mandi airnya berbau belerang sehingga akhirnya gunung ini dikenal dengan gunung Welirang yang memang letaknya berdekatan dengan gunung Penanggungan. Karenanya dianjurkan kepada pariwisatawan untuk membawa bekal air sewaktu mendaki gunung Penanggungan karena dikawasan ini sulit mencari air, persediaan air telah dihabiskan Betara Guru sebagaimana diceritakan di atas. Believe or not.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Soeyono Wisnoe Whardono,  Pesona & Informasi OBYEK-OBYEK WISATA di DAERAH MOJOKERTO, KPN PURBAKALA MOJOKERTO. hlm. 64-65

http://jawatimuran.wordpress.com/2012/12/08/legenda-gunung-penanggungan-kabupaten-mojokerto/

Terjadinya Pohon Kapuk Randu

Pada zaman Hindu Jawa pernah hidup seorang raja yang ber­nama Prabu Ngarum. Istananya terletak di pesisir utara Pulau Jawa, sebelah barat kota Pasuruan atau sebelah barat laut Gunung Bromo. Kerajaannya merupakan kerajaan kecil yang dihuni hanya oleh para pengikut raja. Prabu Ngarum adalah seorang raja yang baik, yang memerintah dengan bijaksana dan adil. Oleh karena itu, dia sangat dihormati oleh rakyatnya.

Ketika melihat kerajaannya semakin berkembang, timbul hasrat­nya untuk mencari seorang permaisuri. Memang dia sudah memiliki pilihan hati, yaitu seorang puteri yang cantik jelita, puteri raja dari kerajaan sebelah timur. Sang raja merasa bahwa raja kerajaan tetangga itu menyukainya dan juga yakin bahwa dirinya akan direstui untuk menikahi sang puteri. Dia tetap yakin pada keberhasilannya meskipun puteri tersebut telah menolak lamaran dua pangeran dari kerajaan yang berada di dekatnya.

Namun, tiba-tiba rasa khawatir menyelimuti Raja Ngarum jika lamarannya ditolak. Hubungan yang sudah berjalan baik dengan ayahnya akan terganggu. Raja Ngarum kemudian membicarakan niat­nya dengan patih kerajaan. Raja juga menyatakan kekhawatiranya tentang retaknya hubungan yang sudah terjalin baik jika lamarannya itu gagal. Patih kemudian menganjurkan kepada raja untuk menggunakan Ngelmu Jaran GoyangPitune yang sudah dikuasai sang raja Sang raja menyetujui usulan tersebut.

Setelah mengirim dua utusan, raja berangkat disertai para pengiringnya. Sebelum berangkat, raja mengucapkan mantera Jaran Goyang Pitune dalam hati dan pikirannya. Dengan cara ini, dia percaya lamarannya pasti tidak akan ditolak. Sesampainya di kerajaan tetangga, dia diterima dengan ramah oleh raja dari kerajaan tetangga dan setelah menyatakan maksudnya dengan khikmat, melalui kekuatan ri ngelmu lamarannya diterima oleh sang puteri. Namun, sang puteri mengaju­kan syarat agar raja muda harus bisa melindunginya dari niat buruk kedua pangeran yang lamarannya sebelumnya ditolak. Sang puteri tahu bahwa kedua pangeran tersebut akan menanggung malu karena sang puteri menerima lamaran orang lain. Sang puteri takut mereka akan melakukan balas dendam.

Raja Ngarum menerima persyaratan ini, dan puteri yang cantik ini kemudian dibawa pulang ke kerajaannya. Raja dan permaisuri diterima oleh rakyatnya dengan penuh kegembiraan. Di seluruh kerajaan kemudian dilakukan pesta perkawinan yang meriah. Ketika kedua pangeran yang lamarannya ditolak mendengar bahwa puteri yang cantik ini akhirnya menikah dengan Raja Ngarum, mereka bersumpah untuk membalas dendam.

Raja Ngarum dengan ngelmu-nya, hidup bahagia bersama sang permaisuri, yang kemudian memberikan tiga anak (puteri) yang kecantikan mereka sebanding dengan ibunya. Tetapi, seiring per­jalanan waktu, kebahagiaan itu ada akhirnya. Permaisuri tiba-tiba sakit parah. Dukun pintar dari seluruh kerajaan tidak ada yang dapat mengetahui sebab sakitnya dan menyembuhkannya. Pada suatu hari, datanglah ke istana Kerajaan Ngarum seorang dukun yang meyakin­kan dapat menyembuhkan permaisuri, dengan syarat bahwa untuk sembuh harus minum susu dari binatang Sindu Upaka terlebih dahulu.

Read more »

Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Alasan Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Menurut penduduk Tengger, “bawang” adalah pemberian khusus dari Brahma. Berikut ini adalah kisah menurut legenda tersebut:

Ketika kaum Brahma pertama menetap di daerah Tengger, wilayah itu masih menjadi hutan belantara yang buas. Namun, anehnya mereka menemukan sebuah hunian manusia di lereng Gunung Semeru. Kiai Dadap Putih, seorang Brahma yang telah berusia lanjut dan menjadi pimpinan mereka menganjurkan kelompoknya untuk menyelidiki asal mula dari kasta mana manusia yang kelihatan di Gunung Semeru. Dia yakin bahwa mereka itu juga sama-sama berasal dari kasta Brahma.

Kiai Dadap Putih sendiri kurang mengerti tentang bagaimana orang-orang itu bisa berkebun di lereng Gunung Semeru, sedangkan di Tengger saja tanaman padi tidak bisa tumbuh. Itulah sebabnya dia sendiri beserta rombongannya menderita kelaparan. Oleh karena !tu, besar kemungkinannya adalah bahwa manusia yang mereka lihat di lereng Gunung Semeru itu berada di atas tanah yang lebih subur dibandingkan dengan tanah tempat mereka berada.

Maka pada suatu malam di malam bulan purnama, Kiai Dadap Putih bersama dengan beberapa pengikutnya berjalan ke tempat di lereng Gunung Semeru, tempat hunian tersebut. Sesampainya ditempat yang diperkirakan telah dihuni oleh banyak orang, mereka kaget. Ternyata, hunian itu hanya didiami oleh ^pasang manusia, “laki-laki” dan “perempuan”.

Read more »

Cerita rakyat Bengkulu: Bunda sejati

Dahulu disebuah hutan yang lebat, hiduplah seekor induk kucing. Dialah yang mencari makan untuk anak-anaknya meskipun anaknya sudah mulai besar. Karena selalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka, induk kucing akhirnya sakit. Induk kucing itu lalu memanggil anaknya. DIa memberi tahu tentang sakitnya dan menasehati anaknya agar mencari makan.

as itu keliru menerima nasehat ibunya. Anak kucing yang manja dan malas itu keliru menerima nasehat ibunya. ia merasa ibunya mengusir secara halus dan tidak sayang lagi kepadanya. Anak kucing itu lalu pergi meninggalkan induknya yang tua dan sakit-sakitan.

Anak kucing itu berjalan tak tentu tujuan. Suatu saat ia mendingakkan kepalanya ke atas. Dia melihat sinar matahari dengan sinarnya yang menyilaukan. DIa berangan-anagan kalau ibunya matahari, tentu hidupnya senang.

“wahai matahari yang perkasa, maukah kau mengambil aku sebagai anakmu?” katanya lantang kepada matahari.

“mengapa engkau ingin menjadi anakku?”

Read more »

Sunan Drajat dan Sunan Sendang

Tradisi lisan menuturkan bahwa Sunan Drajat ingin menemui R.Nur Rahmat. Sunan Drajat pergi berkunjung ke Kampung Patunon tempat tinggal Nur Rahmat yang kemudian menjadi sebuah desa perdikan cukup maju dan makmur dengan nama Desa Sendang Duwur. Diceritakan bahwa Sunan Drajat mula-mula menyatakan ingin minum legen dan makan buah siwalan. Sunan Drajat meminta izin R.Nur Rahmat untuk mengambilnya.

Dengan khidmat R.Nur Rahmat mempersilakan. Sunan Drajat menghampiri sebuah pohon siwalan yang   besar kemudian batangnya di tepuk tiga kali. Legen (air nira) dan seluruh buah siwalan tersebut jatuh tidak ada yang tersisa. R. Nur Rahmat mengatakan bahwa cara seperti itu akan membawa kerugian pada anak cucu, karena mereka tidak memperoleh bagian apa-apa nantinya. R. Nur Rahmat kemudian mengusap pohon yang besar tiga. kali dan dengan izin Allah pohon itu dapat merunduk tepat di hadapan Sunan Drajat. R.Nur Rahmat mempersilakan mengambil mana yang diinginkan legen atau siwalannya, setelah itu pohon itu kembali tegak.

Read more »

Dayung dan Ikan Talang, Kabupaten Lamongan

Perahu yang ditumpangi R,Qasim dihempas ombak di laut Jawa dan pecah. Dengan sebilah welah atau dayung beliau berusaha untuk berenang dengan mengambang di atas dayung (Jawa = nglangi) tersebut. Usaha tersebut ternyata tidak mudah. Dengan kekuasaan Allah, tiba-tiba datang ikan cucut dan ikan talang menyangga dan mendorong R.Qasim ke tepi pantai.

Sulit memperoleh bukti yang meyakinkan bahwa dayung yang sampai saat ini masih disimpan dengan baik oleh keturunan Sunan Drajat itu milik beliau, apalagi dayung itu pula yang dipakai Sunan Drajat untuk mengambang di laut. Tetapi cerita tersebut sangat melekat di hati masyarakat terutama semua keturunan Sunan Drajat, sehingga menjadi kepercayaan dan pemali. Kepercayaan tersebut sedemikian kuat sehingga sulit untuk berubah. Masyarakat, terutama para nelayan setempat, menganggap dayung yang menurut tradisi setempat dipakai oleh R. Qasim untuk berenang di laut tersebut sebagai fetisy, relic atau azimat dan menjadi benda yang dikeramatkan, dianggap dapat memberi berkah. Sampai dengan tahun 1950-an para nelayan di Drajat dan sekitarnya setiap menjelang musim “melaut” pada umumnya terlebih dahulu “meminta berkah kepada dayung” tersebut dengan perantaraan menyimpannya sebelum turun ke laut. Dayung yang diyakini memiliki yang n magis tersebut dikerik dan bubuk kerikannya itu dijadikan azimat ke Hivakini dapat mendatangkan berkah dengan memperoleh tangkapan ikan yang banyak.

Read more »

Legenda Telaga Ngebel, Kabupaten ponorogo

Dahulu kala waktu Ki Ageng Mangir merantau ke Jawa Timur sampai di Daerah Kabupaten Ngrowo yang akhirnya menjadi Tulungagung sedang Istrinya bernama Roro Kijang yang ikut serta merantau, pada hari waktu Roro Kijang hendak makan sirih, dicarinya pisau untuk membelah pinang namun tak dapat menemukan, akhirnya minta pisau kepada Suaminya oleh Suaminya diberi Pisau Pusaka, Seking dengan berpesan kepada Istrinya :

– Agar lekas dikembalikan

– Jangan sekali pisau itu ditaruh dipangkuannya.

Pisau Pusaka Seking diterima dan terus dipergunakan untuk membelah pinang, sambil makan sirih ia duduk – duduk, dengan enak ia menikrnati rasa daun sirih dan Pinangnya.

Kemudian lupa pesan Suaminya dan pisau pusaka itu ditaruh diatas pangkuannya, tetapi apa yang teijadi ia amat terkejut dan heran karena pisau diatas pangkuannya seketika itu hilang musnah dicari kesana kemari tidak ada.

Dengan ratap dan tangis iamenceritakan apa yang terjadi dan yang telah dialami kepada Ki Ageng Mangir. Suaminya menerima kejadian itu dengan sabar hati, karena hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan untuk menebus kesalahannya ini Roro Kijang harus bertapa di tengah – tengah Rawa.

Roro Kijang menerima segala kesalahan yang dilimpahkan kepadanya dan dengan rasa sedih hati ia melaksanakan perintah Suaminya bertapa di tengah Rawa sedang Ki Ageng Mangir lalu kembali bertapa di kaki Gunung Wilis sebelah barat.

Diceritakan bahwa Roro Kijang perutnya makin hari semakin bertambah besar seperti orang bunting, tepatnya waktu itu ia melahirkan tetapi apa yang teijadi, ia tidak melahirkan seorang anak manusia melainkan seekor

Jlar sekalipun ular tetapi tidak sembarang ular ia ular yang Ajalb kulitnya jercahaya berkilauan seperti emas kepalanya seperti Mahkota.

Roro Kijang terkejut dan sangat takut serta merasa malu untung tak ada rang mengetahuinya. Roro Kijang lalu mengambil sebuah Kelemting yang libawanya lalu dipasang pada leher si Ular kemudian di tutup dengan empayan setelah itu Roro Kijang pindah bertapa dilain tempat.

Read more »

Cerita Rakyat Jawa Barat : LUTUNG KASARUNG

Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.
Read more »

Sarip Tambakyoso

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Wijaya Kusuma Malang) Pimpinan Pelda Mulyono/Supriyadi

Sarip Tambakyoso sedang dikejar-kejar polisi dan lurah pemerintahan Belanda dengan tembakan-tembakan. Tetapi Sarip menantang mereka agar semua polisi dan lurah penjajah menghabiskan peluru untuk menembakinya karena Sarip mengetahui bahwa dirinya tak bakal mati ditembak dan tak dapat ditangkap. Sementara itu, Lurah Noto yang merasa sebagai jago penja­jah diserahi tanggung jawab menagih pajak kepada Mbok Sarip yang sudah menunggak selama tiga tahun.

Mbok Sarip menimbang-nimbang perasaannya terhadap anaknya yang tertua bernama Mualim dan adiknya bernama Sarip Tambakyoso. Ibarat telur satu sarang, setelah menetas berbeda warnanya. Sarip selalu menjadi pergunjingan tetangga dan masyarakat karena perbuatannya yang suka mencuri, merampok, dan membegal. Sedangkan Mualim rajin salat, pergi ke langgar, dan tekun mengaji agama di pondok. Tetapi, Mbok Sarip lebih cinta kepada Sarip daripada Mualim.

Datanglah Lurah Noto menagih pajak kepada Mbok Sarip, tetapi Mbok Sarip tak dapat membayarnya pada hari itu. Akibatnya, Mbok Sarip dipukuli, walaupun usianya sudah tua dan minta waktu membayar sampai kedatangan Sarip. Tiba-tiba datanglah Sarip dan ketika melihat Mbok Sarip berlumuran darah, Sarip naik darah dan langsung saja Lurah Noto dibunuhnya dengan pisau belati dengan alasan bahwa Lurah Nato adalah lurah desa Gedangan yang tidak berhak menarik pajak di desa Tambakyoso, lagi pula telah berani menyiksa ibunya yang sudah tua itu. Setelah membunuh Lurah Noto tersebut Sarip menantang semua lurah dan polisi pemerintahan Belanda di seluruh Kabupaten Sidoarjo agar menghabiskan peluru untuk menembaki dirinya.

Read more »

Cerita Rakyat Tanah Jawa : KEONG MAS

Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk orang yang disegani karena kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak membuat Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melakukan pekerjaan tersebut. Namun akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran sangat senang ; “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, demikian pikir Galoran.
Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean sampai dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, karena seringkali Jambean menegurnya karena selalu bermalas-malasan.
Read more »

Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Read more »

Cerita Rakyat Riau, Sumatera: BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Read more »

Asal Usul Desa Kedungsalam, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Desa Kedungsalam dahulu merupakan hutan belantara yang sangat angker, dalam bahasa Jawa dapat diibaratkan sato moro sato mati, Jalmo moro jalmo mati, yang maksudnya baik hewan maupun manusia jika masuk ke hutan tersebut akan menemui ajalnya. Mengapa terjadi hal demikian ?

Menurut masyarakat desa Kedungsalam dan sekitarnya, desa tersebut masih dalam kekuasaan mbok Nyai Ratu Mas yang terkenal sebagai Ratu Laut Selatan  sehingga siapa yang masuk wilayah tersebut tanpa ijinnya akan disingkirkan atau dimurkai. Oleh karena itu hanya ada beberapa orang saja yang berani bertempat tinggal di desa itu. Kemudian pada akhir abad ke 18 datanglah seorang pengembara dan beberapa orang pengikutnya dari Jawa Tengah (Mataram). Pengembara tersebut kemudian dikenal dengan nama Mbah Atun

Read more »

Legenda Rawa Pening, Kabupaten Tulungagung

Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening ini disebabkan karena ada seorang anak kecil yang merupakan jelmaan dari naga baru klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara beru­pa barang siapa yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Read more »

cerita sulawesi utara : penjaga gunung

Legenda ini berhubungan dengan adanya dua buah gunung yang berhadapan jauh, Gunung yang terletak di sebelah timur bernama Kamonsope. Masing masing terdapat di Labundoua dan di Kabaena- Sulawesi Utara.

Dahulu, gunung Saba Mpolulu itu diisebut gunung mata air. Pada suatu hari kedua gunung itu berkelahi gara-gara air. Air milik penjaga gunung Kamonsope diminta oleh penjaga gunung Saba Mpolulu. Tetapi, penjaga gunung Kamonsope tidak mau memberikan air kepada penjaga gunun Saba Mpolulu.  Meskipun begitu, penjaga gunung Saba Mpolulu tetap berupaya memiliki air itu. Maka ia tetap mencari jalan meskipun dengan cara paksa. Penjaga gunung Kamansope, tetap juga bertekad tidak mundur selangkahpun, walau untuk itu ia harus rela mengorbankan jiwanya.

Sesudah itu, penjaga gunung Saba Mpolulu berfikir sejenak. Dalam hatinya ” sesungguhnya aku ini laki-laki, sedangkan penjaga gunung Kamonsope seoorang perempuan. Masa aku dikalahkan oleh perempuan. Lebih baik aku paksa dia”. Namun segala siasat dan uasanya hanya sia-sia belaka. Walau penjaga gunung Kamonsope seorang perempuan, namun ia berpendirian teguh dan mati-atian mempertahankan haknya. Penjaga gunung perempuan itu tidak mau menyerah begitu saja. Penjaga gnung Saba Mpolulu bertambah marah kenyataaan ini.

Karena segala perundingan tak membuahkan hasil. maka penjaga gunung Saba Mpolulu mengangkat senjata, hendak memerangi penjaga gunung Kamonsope. tembakan meriam pertama tidak mengenai sasaran. tembakan kedua, peluru tidak sampai belum kena sasaran. Penjaga gunung Saba Mpolulu bertambah kesal.

kini, tiba giliran penjaga gunung Kamonsope yang menembak penjaga gunung Saba Mpolulu. Hanya sekali ia menembak langsung mengenai sasaran. Nyaris gunung Saba Mpolulu terbongkar puncaknya seperti bentuk kampak yang terpongkah akibat karena benda keras. Itu sebabnya gunung tersebut dinamakan gunung Saba Mpolulu.

sumber :kumpulan cerita rakyat, Legenda Nusantara  (MB Rohimsyah AR)

cerita maluku : pesan ibu

Kisah ini bermula di daerah Maluku Utara, tepatnya di daerah Tobelo. Beratus tahun yang lalu disuatu rumah yang berdindingkan daun rumbai diamlah satu keluarga. Sang ayah seorang nelayan yang siang dan malamnya hiduo di lautan mempertaruhkan nyawa untuk menghidupi anak istrinya.

Sang ibu adalah wanita setia dan sangat bijaksana, mereka memiliki dua orang anak. yang sulung anak perempuan bernama O Bia Moloku. kecantikannya melebihi kecantikan ibunya. sedangkan adiknya yang laki-laki bernama O Bia Makara, Ia ganteng dan berperawakan seperti ayahnya.

Pada suaTU hari ayah mereka pergi melaut dan seperti biasanya sebelum ayahnya bertolak ke lautan, tak lupa ditinggalkannya makanan dan telur ikan pepayana di rumahnya.

Beberapa setelah kepergian ayahnya ke laut. Ibunya pergi ke kebun. Sebelum ibunya pergi, ia berpesan kepada kedua anaknya “hai anak-anakku, jangan kau makan telur ikan yang ditinggalkan ayahmu ini. apabila kamu memakannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”.

Ibunya berkata dengan sunguh-sungguh, tetapi mereka berdua hanya tertawa saja. Setelah ibunya memberi nasehat maka ibunya pergi ke kebun.

Read more »

dongeng Puteri Niwerigading

tertarik dengan buku tentang cerita rakyat  indonesia dan akhirnya membelinya dengan judul “kumpulan cerita rakyat Nusantara”. dan kok hari ini ingin berbagi cerita yang ada di dalamnya, awalnya bingung sih cos dibuku tersebut tertulis “dilarang mengutip buku ini sebagian maupun keseluruhannya dan dilangrang memperbanyak tanpa seizin tertulis dari penerbit” trus kalo difikir2, lah wong bukunya dah saya beli, so itu hak milik saya, mau aku apakan ya terserah aku. he3

berikutnya akan saya share beberapa cerita rakyat yang ada, setidaknya untuk menjaa kelestarian cerita-cerita rakyat. lama-lama kalau diukur dengan uang melulu. bagaimana nasibnya? btw kalau punya uang atau ingin baca offline saya sarankan beli bukunya “kumpulan cerita rakyat nusantara yang disusun oleh yudhistira Ikranegara” bagus loh diberi ilustrasi gambar lagi…

 

Puteri Niwerigading

 

Alkisah, dahulu di Negeri Alas termasuk wilayah Nangro Aceh Darussalam, ada seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. ia memerintah dengan adil dan bijaksana. sehari-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya.

Namun sayang sang raja tidak mempunyai putera. mereka sedih, atas nasehat orang pintar, raja dan premaisuri kemudian tekun berdoa sampai berpuasa. beberapa bulan kemudian permeaisuri mengandung. setelah sampai waktunya permaisuri melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Amat Mude.

Belum genap setahun umur Amat Mude. ayahnya meninggal dunia.

Karena Amat Mude masih bayi maka adik sang raja atau paman (pakcik) Amat Mude diangkat menjadi raja sementara.

pakcik itu bernama Raja Muda. setelah diangkat menjadi raja, ia malah bertindak kejam kepada Amat Mude dan Ibunya.

Mereka diasingkan ke sebuha hutan terpencil. raja Muda Ingin menguasai sepenuhnya kerajaan yang sesungguhnya menjadi hak Amat Mude.

Walau dibuag jauh dari istana, permaisuri tidak mengeluh, ia terima cobaat berat itu dengan sabar dan tabah. ia besarkan Amat Mude dengan pebuh kasih sayang. tahun demi tahun berlalu, tak Terasa Amat Mude tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.

Read more »