budak dari 7 budak

Grandsyekh kita bercerita tentang suatu kisah untuk melukiskan seseorang yang patut kalian dengar.  Beliau adalah Ibrahim bin Adham QS yang dikenal sebagai sultan az-zahidiin, raja dari kaum yang zuhud.  Beliau  adalah seorang raja yang agung dan suatu hari beliau mendengar sebuah suara yang menyeru agar beliau datang ke jalan Tuhan.  Beliau meninggalkan segalanya dan memberikannya kepada ratu, keluarga kerajaan, para jendral dan panglimanya.  Ketika beliau siap meninggalkan kerajaan, beliau memanggil salah satu budaknya yang merupakan tukang kebun istana.  Beliau lalu menyerahkan jubah kerajaan kepada budak itu dan meminta pakaian tukang kebun sebagai gantinya.  Budak itu tercengang dengan kejadian ini dan dengan perasaan takut, dia berkata, “Bagaimana mungkin seorang hamba rendahan memakai jubah kebesaran raja, sementara raja yang mulia memakai pakaian tua ini.”  Raja menjawab, “Wahai anakku, tidakkah engkau mendengar bahwa tadi malam sultanmu telah menjadi budak dari budak dari budak…? Sekarang aku adalah budak dari 7 budak, yang tertinggi dari mereka menjadi hamba Allah SWT.”  Lihatlah betapa cepat beliau sampai pada level terendah, bagaimana beliau menganggap dirinya bukan apa-apa—sama dengan tanah.

Sekarang Grandsyekh berkata, “Wahai Nazim Effendi QS, siapa pun yang ingin mengajar orang lain di masjid dan zawiyah, maka dia harus sangat berhati-hati apalagi di masa sekarang, di masa kita hidup.  Pada masa Ibrahim bin Adham QS beliau hanya menghitung 7 tuannya.  Sekarang di masa kita, jika seseorang tidak menganggap dirinya lebih rendah dari ribuan orang, jika dia tidak menganggap dirinya sebagai budak dari orang banyak yang dia anggap lebih superior, maka dia tidak akan sanggup untuk mengemban tugasnya dengan efektif.  Dia tidak akan mampu membuat mereka percaya kepada Tuhannya, atau kalau mereka sudah percaya, dia tidak akan memperkuat keimanan mereka.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Sayyidina Ali hanya mengizinkan 2 orang untuk berkhotbah

Selama periode Kekhalifahan Sayyidina `Ali RA, KW di Kufa, beliau bepergian ke Basra dan mengunjungi semua masjid untuk mendengar orang yang memberi pengajaran di masjid-masjid.  Setelah mengunjungi mereka dan mendengar setipa instruktur berbicara dari mimbar, beliau mengeluarkan sebuah keputusan melarang semua instruktur untuk berkhotbah kecuali Hasan al-Basri QS dan Qadi Syureih QS.  Beliau melarang mereka berbicara kepada orang banyak di masjid.  Beliau berkata bahwa semua khatib tersebut kecuali kedua orang tadi hanyalah tukang dongeng, yang mengulang cerita tanpa memahami arti signifikan dari apa yang disampaikannya, bahkan walaupun mereka mengaku bahwa mereka mengajar dengan baik sekali, Sayyidina `Ali RA, KW memberi izin hanya kepada kedua orang itu untuk memberi khotbah di masjid—yang lainnya tidak!

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

kekuatan nabi Muhammad saw

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS — semoga Allah SWT memberkati rahasianya — berkata bahwa beberapa saat setelah Rasulullah SAW dilahirkan, beliau diambil oleh malaikat dari tangan ibunya. Dalam sekejap mereka sampai di Samudra al-Hayy.  Allah SWT mempunyai 99 Atribut, dan masing-masing merupakan Samudra Pengetahuan yang sangat luas sehingga tak seorang pun dapat memahaminya.  Salah satu Samudra itu adalah Samudra al-Hayy, Yang Maha Hidup.  Siapa pun yang mengetahui rahasia Nama itu, maka dia tidak akan mati.  Dia akan hidup selamanya–bukan dia sendiri, melainkan bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi dalam hatinya.  Ketika kalian berenang dalam Atribut Nama Ilahi tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada dalam hati setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang.  Itulah tempat di mana Rasulullah SAW diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan hatinya dalam “Ma’ul Hayat,” Air Kehidupan.  Segera setelah mereka meletakkannya dalam Air Kehidupan, beliau dengan segera memiliki dan dihiasi dengan “An-Nur al-Ilahi” Cahaya Ilahi.  Dan setelah beliau dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi hijab yang tersisa.  Selanjutnya Rasulullah SAW dihiasi dengan Samudra Kekuatan Ilahi, “Bahrul Qudra.”

Oleh sebab itu ketika keluar dari Ma’ul Hayat, Rasulullah SAW menerima tiga Atribut, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi.  Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi.  Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang.  Itulah arti dari ayat, “Wa’lamuu anna fikum rasuulullah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW ada bersamamu, di antara kalian dan dalam dirimu” [al-Hujurat: 7], karena beliau telah dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut.  Itulah sebabnya Rasulullah SAW dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian.  Allah SWT memberinya kekuatan itu.

Yang ketiga, Rasulullah SAW menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi. Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama.  Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudra,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa AS namun tidak diberikan oleh Allah SWT.  Nabi Musa AS meminta agar Allah SWT memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” dan jadilah dia, Allah SWT berkata, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu.  Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.”  Dan ketika Allah SWT mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa AS pun jatuh pingsan [al-A’raf: 143].  Itulah sebabnya Allah SWT  mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk nabi terakhir.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Tidak ada yang sakit

Suatu ketika Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Mesir. Beliau mendapat balasan berupa seorang dokter, pelayan, dan seekor keledai. Rasulullah SAW menerimanya dengan berkata, “Kami membutuhkan pelayan untuk melayani semua tamu yang berkunjung, keledai dapat digunakan untuk mengangkut barang-barang, tetapi Kami tidak memerlukan dokter.” Dokter itu menolak pergi dengan alasan ia telah diperintahkan Raja untuk mengabdi. Akhirnya dokter itu diizinkan untuk tinggal selama ia inginkan. Ia tinggal selama setahun sebelum kemudian memutuskan untuk pergi. “Selama setahun Aku di sini tak seorang pun yang datang untuk berobat, walaupun hanya sakit kepala, sakit gigi, atau sakit perut,” katanya kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Ya, sebab mereka tidak pernah makan sebelum merasa lapar dan makan dengan menu yang seimbang dan tidak makan sampai perutnya penuh tetapi selalu ada ruang yang dikosongkan.” Dokter itu berkata lagi, “Engkau benar! Dengan cara seperti itu tak satu pun penyakit yang akan datang.”

Penyebab utama datangnya penyakit berasal dari perut yang kekenyangan.

 

Maqam Cinta

Seperti ketika seorang murid Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS meninggal, dia dikunjungi 2 malaikat dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Murid itu menjawab, ”Abdul Qadir Jailani QS.”Siapa Nabimu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” Apakah agamamu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” ‘Tempatmu di neraka! Ke mana lagi tempat yang cocok bila seluruh pertanyaan dijawab dengan Abdul Qadir Jailani QS.’

Seketika itu Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS muncul dan mengatakan, “Siapa yang memberi kalian izin membawanya ke neraka? Dia telah menyebut namaku, paling tidak tanyalah dulu padaku! Aku tidak jauh, dia adalah muridku, jika mau menanyainya, tanyalah aku. Jangan memberi dia siksa kubur tanpa memberi kesempatan meminta dukungan. Hal ini sama dengan menghina aku, aku wakil Nabi Muhammad SAW!”

Read more »

semua bisa jadi sahabat

Imam Syaarani QS, salah satu dari hamba yang “tawakul”, seseorang yang percaya kepada Allah SWT sepenuhnya, ia berkata, ”Suatu  ketika aku sedang dalam perjalanan, dan waktu itu dekat saat Maghrib. Aku melihat kubah dan aku berjalan mendekatinya.  Ketika aku masuk, aku melihat kuburan di sana, di bawah reruntuhan bangunan.  Tiba-tiba seorang petani berlari ke arahku dan berkata, ”Wahai Syekh, jangan tinggal di sini, kau ikut kami saja, desa kami dekat sini.  Di sini adalah tempat yang sangat berbahaya, apalagi bila malam tiba.  Begitu banyak ular yang sangat besar datang dan pergi, apabila ada orang yang tidur di sini, pagi harinya kami hanya menemukan tulang mereka saja. Mereka memakannya, hanya tulangnya saja yang tersisa. Oleh karena itu kami memperingatkan engkau untuk tidak tidur di sini.”

Kemudian Imam Syaarani QS berkata kepada petani itu, ”Wahai saudaraku, ketika engkau katakan hal itu, aku tak dapat pergi, aku tak dapat pergi walau hanya satu langkah saja. Karena ketika kalian memperingatkan aku akan ular besar itu, egoku begitu takutnya akan ular itu, dan tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla.  Oleh karena itu aku tidak dapat pergi bersama kalian.  Aku tak dapat menerima tawaran kalian.  Aku harus tidur di tempat ini malam ini.  Ini lebih baik untuk mendidik nafsuku bahwa aku akan dimakan ular itu. Karenanya tak mungkin aku meninggalkan tempat ini. “Wahai Syekh, engkau mengetahui yang terbaik, engkau adalah Syekh dan kami orang biasa.  Kami mengundangmu dan kami juga telah memperingatkanmu akan ular besar itu.” “Ya, terima kasih banyak.”  Kalian boleh pergi dan aku akan tinggal di sini malam ini.  Jika kalian menawariku ke tempat kalian tanpa memperingatkanku tentang bahaya ular ini, tentu aku dengan senang hati akan menerima tawaran kalian. Tetapi ketika kalian mengatakan ular yang sangat berbahaya dan ini adalah tempat yang berbahaya, maka aku tak dapat pergi dari sini meski hanya satu langkah, pergilah kalian.”

Read more »

Allah yang menciptakan waktu

Pernah ada seorang suci, Imam Abdul Wahhab Sya’rani QS, yang biasa membaca al-Quran yang suci tujuh kali di antara Maghrib dan ‘Isya dari al-Fatihah hingga an-Nas. Dia memiliki 12.000 murid, dan ketika dia berbicara, setiap orang dari mereka mendengarnya seakan-akan sang Syekh duduk di sampingnya… Seorang suci yang lainnya biasa salat seratus rakaat dan di setiap rakaat dia menamatkan seluruh al-Quran… Itulah kekuatan yang telah Allah SWT karuniakan kepada orang-orang suci. Kekuatan spiritual mereka bekerja—suara kita bahkan tidak dapat mencapai dari sini ke pintu itu… Tetapi nanti saat Sayyidina Mahdi AS datang dan mengucapkan takbir, Allahu Akbar! ini akan terdengar di seluruh penjuru Timur dan Barat… Kalian harus percaya! Allah SWT menguasai ruang dan waktu. Dia adalah Qadir, Muqtadir, Dia menciptakan waktu dalam waktu dan ruang dalam ruang. Jika tidak, bagaimana lagi Rabi’ah QS dapat melakukan salat 1000 Rakaat dalam satu malam!?

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Umat nabi saw dibanding umat yang lain

Musa AS berkata, “Aku paham mengenai diriku, tetapi bagaimana dengan umatku? Apakah ada umat yang lebih baik dari umatku? Engkau telah mengirimkan kami bayangan dari matahari di gurun dan Engkau memberi kami manna dan salwah—buah-buahan dari Surga.

Fa qaala ta`ala: alam `alimta anna fadl ummata Muhammadin ala sa’ir al-umam kafadlii `ala jami’i al-khalq? Allah SWT berfirman, Apakah engkau tidak mengetahui bahwa kebesaran dari umat Muhammad SAW adalah seperti Kebesaran-Ku atas seluruh makhluk.” Sebagaimana Jumat adalah yang terbaik di antara hari-hari dalam seminggu, dan sebagaimana Hari Arafat adalah lebih baik daripada hari-hari lainnya dalam setahun dan sebagaimana hari lahirnya Sayyidina Muhammad SAW adalah lebih baik daripada seluruh hari, begitu pula umat dari Sayyidina Muhammad SAW dibandingkan dengan seluruh umat lainnya.

Dan Sayyidina Musa AS berkata, afa araahum –Dapatkah aku melihat mereka? Allah SWT berfirman, “Tidak, tetapi Aku akan membiarkan kamu mendengar suara mereka.” Dan Allah SWT berfirman, “Wahai umat Muhammad SAW, jawablah Aku.”

[Mawlana menangis]

Segera setelah mereka berkata bahwa mereka mendengar, bahwa mereka berbicara dalam satu suara, “Labayk Allaahumma labayka laa syariika laka labayk. Inna’l-hamda wa’n-ni’mata laka wa’l-mulk. labayk wa sa`daayk, wal-mulku bayna yadayk.” Mereka menjawab dalam satu suara sebagaimana yang mereka lakukan di `Arafat dalam kesatuan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, w’atasimu bi-habl’illahi jami’yyan wa laa tafaraquu. “Berpegang teguh kepada tali Allah SWT dan tidak bercerai-berai.”

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Keyakinan lebih banyak memberikan keuntungan

Hasan al-Basri QS, semoga Allah SWT merahmatinya, adalah Imam yang terkenal.  Pada masanya Habib al-’Ajami QS yang bukan berasal dari Arab, tetapi dari Persia atau Bukhara. Beliau tidak membaca Qur’an seperti layaknya orang Arab, beliau bahkan seorang yang buta huruf.  Suatu ketika Hasan al-Basri QS datang dan melihat Habib al-`Ajami QS sedang melakukan salat Maghrib. Ketika Hasan al-Basri QS mendengar bahwa Habib al-`Ajami QS tidak bisa mengucapkan “al-hamdu,” tetapi ia mengucapkannya “el-hemdu” maka Hasan al-Basri QS tidak mengikutinya menjadi makmum, tetapi ia melakukan salat sendiri.  Tiba-tiba Hatif ar-Rabbani, suara ilahi datang melalui kalbunya, Allah SWT kadang menelepon hamba yang dicintai-Nya, dan mereka mendengar apa yang diucapkan-Nya. ”Kecuali salat yang engkau lakukan tidak mengikuti Habib al-`Ajami QS, Aku menerima seluruh salatmu yang lain.”

Allah SWT mengatakannya melalui ilham yang dikirimkannya, dan Hasan al-Basri QS mendengarkannya. Allah SWT berkata, ”Engkau tinggalkan salat berjamaah hanya karena kata-kata yang diucapkannya, tidak melihat hati dari Imam di mana Aku bersamanya.  Aku melihat siapakah yang menjadi Imam dan Aku tak melihat pembacaannya,  Aku melihat ke dalam hatinya.  Jika hatinya bersama-Ku, maka Imam itu benar.  Jika hatinya tidak bersama-Ku, meskipun  ia membaca Quran dengan sangat indah, maka malaikat yang akan mengantarkan salatnya kepada-Ku.  Tetapi siapa pun yang salat dan hatinya bersama-Ku, maka Aku sendiri  yang langsung menerima salatnya tanpa perantaraan malaikat.”

Oleh sebab itu orang yang salat terbagi menjadi dua macam: pertama, adalah orang yang salat dan ketika ia mengucapkan, ”Allahu Akbar,” ia meletakkan segala sesuatunya bersama Allah SWT semata, dan Allah SWT mengambil salatnya langsung dalam Hadirat-Nya.  Tetapi untuk seseorang yang mengucapkan, ”Allahu Akbar,” tetapi hatinya berkelana, memikirkan pekerjaannya, makan-minum, maka malaikat yang membawa salatnya itu kepada Allah SWT.

“Wahai Hasan al-Basri QS, Aku akan menerima seluruh salatmu demi para Imam yang kau tinggalkan karena caranya melantunkan Quran.”  Dan Imam Hasan  al-Basri QS mencucurkan air mata mendengarnya.

Read more »

syafaat Awliya

Al Allamah Al Musnid Habib Umar bin Hafidz ketika lawatannya ke Inggris menuturkan , ada seorang yang hidup di masa Qutb Rabbani Syeich Abdul Qadir Al Jaelani. Ketika orang itu meninggal dunia dan di kuburkan, orang-orang yang berada di sekitar pekuburan mendengar jeritan, lolongan orang itu dari dalam kubur.
Para sahabat (murid-murid) syeich Abdul Qadir Al Jaelani bercerita kepadanya, dan segera syeich Abdul Qadir Al-Jaelani menghampiri kubur tersebut. Masyarakat menyaksikan dan memohon kepada beliau agar memohon kepada Allah subhanallahu wata`ala agar hukumannya di angkat.
Kemudian Syeich Abdul Qadir Al Jaelani bertanya kepada para sahabat-sahabatnya:
“Apakah ia salah satu dari sahabatku (muridku)?”
Mereka menjawab: “Bukan wahai syeikh”……
Lalu beliau bertanya kembali :
“Pernahkah kalian melihatnya hadir pada salah satu majelisku?”
Mereka menjawab : “Orang itu tidak pernah menghadiri majelismu.”
Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi :
“Pernahkah ia masuk ke salah satu masjid dengan tujuan untuk mendengarkan ceramahku, atau shalat di belakangku?”
Mereka menjawab : “Tidak pernah , ya syeikh..!!!!!”
Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi :
“Pernahkah aku melihatnya?”
Mereka menjawab : “Tidak pernah, ya syeikh…!!!”
Lalu Asy Syeikh Abdul qadir bertanya lagi :
“Apakah ia pernah melihatku?”
Mereka menjawab : “Tidak ya syeikh….!!”
Lalu salah seorang dari mereka berkata: “namun, wahai syeikh, aku pernah melihatnya melintas di suatu jalan setelah engkau dan para sahabatmu baru saja selesai dari majelis, dan ia melihat jejak jalanmu” (di masa itu Asy Syeikh Abdul qadir Al Jaelani bila berjalan dengan rombongannya , dengan mengendarai kuda, hingga menimbulkan debu-debu yang mengepul di udara, orang akan segera tahu..wah..konvoi Asy Syeikh Abdul qadir Al Jaelani barusan lewat nih)

Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani menengadahkan tangannya kepada Allah subhanallahu wata`ala seraya berdo`a :

“Ya Allah, orang ini adalah orang yang pernah melihat debu jejak jalan kami selesai majelis, jika Engkau mencintai kami Ya Allah…., kami memohon kepada-Mu berkat kecintaan-Mu kepada kami untuk mengangkat hukuman serta siksaan pada hamba ini.”

Seketika itu juga, jeritan dari dalam kubur terhenti. Subhanallah
Baru melihat debunya saja , seorang Wali Allah qutb rabbani As-syeikh Abdul qadir al Jaelani memberikan syafaat di alam kubur, bagaimana dengan para sahabatnya (muridnya) yang siang dan malam menghadiri majelis-majelis beliau, mengenal dan mencintainya.

Dari debu inilah Al qutb Rabbani Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani memohonkan , ampun, memberikan syafaat kepada orang tersebut. Bagaimana jika seandainya orang tersebut sulit di cari , apa alasan Asy syeikh Abdul Qadir Al Jaelani untuk memberikan syafaat kepadanya..Naudzubillah..
Oleh karena itu semasa hidupnya seorang muslim selayaknya mencintai para shalihin, para wali Allah. Sebab merekalah perantara antara kita dengan Allah, Para Wali Allah di cintai di langit dan di bumi sebagaimana Allah berfirman di dalam hadis qudsi riwayat Imam bukhari :

Jika Allah Ta`ala cinta kepada hamba-Nya, maka Allah akan berkata kepada malaikat Jibril yang merupakan pemimpin dari para malaikat di tempat tertinggi: “Wahai Jibril , Aku mencintai hamba itu, maka umumkanlah kepada semua penduduk langit untuk mencintai hamba tersebut.” Lalu malaikat Jibril as mencintai hamba tersebut karena Allah Ta`ala dan mengumumkannya, sehingga seluruh para malaikat ikut mencintainya.

Wallahu`alam

Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filajsad, wa alaa Qabrihi filqubuur

sumber : https://www.facebook.com/abu.nawas.129/posts/666330796817337

aku pikir engkau muslim

Ketika Abu Yazid Bistami QS bepergian, beliau tiba di sebuah desa yang masih asing.  Beliau salat di belakang imam. Selesai salat, sang imam menyapanya, “Siapa dirimu?”  “Seorang hamba Allah SWT.”  ”Apa pekerjaanmu?  Di kebun, toko, atau pabrik?  Punya gaji bulanan?”  “Aku pikir engkau seorang muslim, seorang imam, oleh sebab itu aku salat di belakangmu.  Tetapi sekarang kau meragukan dari mana makananku berasal, berarti kau meragukan Allah SWT. Sebelum menjawabnya, aku harus mengulang salatku dulu.”

Setelah salat, Abu Yazid QS berkata pada imam, ”Mengapa kau tidak menanyakan kucing dan anjing, bagaimana cara mereka hidup?  Dia yang menyediakan makanan bagi mereka, Dia juga yang menyediakan makan bagi Abu Yazid QS.”

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Sholat di angkasa

Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS mendatangi muridnya Muhammad al-Madani QS ketika sedang berkhalwat. Beliau berkata agar ia mengikutinya. Syekh Abu Ahmad QS berjalan di depan dan beberapa detik kemudian beliau meluncur bagaikan pesawat jet. Muridnya mengikutinya, mereka berdua berjalan di angkasa seperti halnya di darat. Mereka mencapai sebuah maqam dan Syekh Abu Ahmad QS meletakkan dua buah tongkat dan menggelar sajadahnya lalu salat 2 rakaat. Beliau juga mengajak muridnya untuk datang dan melakukan salat 2 rakaat. Tetapi ia merasa takut, tidak pernah membayangkan sebelumnya bagaimana ia berdiri di angkasa dan berjalan di atasnya. Itu adalah maqam di mana Rasulullah SAW melakukan salat 2 rakaat dan di mana setiap murid datang ketika hubungannya dengan dunia telah terputus.

Ketika Syekh Abu Ahmad QS melihat muridnya merasa takut, beliau loncat dari sajadahnya untuk menunjukkan bahwa itu cukup kuat, kemudian beliau mengirimkan kembali muridnya ke dalam posisi khalwat, “Engkau harus kembali, karena Engkau belum siap.”

tertipu

Sejak awal hingga sekarang Setan terus mengejar manusia, anak cucu Nabi Adam AS sebagaimana mereka telah mengejar Nabi Adam AS dan membuatnya keluar dari Surga.Musuh pertama dari manusia pertama adalah Setan.

Bahkan sebelum penciptaan Nabi Adam AS, ketika Allah SWT mengumumkan kepada malaikat bahwa yang akan diciptakan adalah perwakilan Allah SWT sendiri, Setan menjadi musuh karena dia menginginkan posisi tersebut. Dia berkata kepada malaikat, “Aku tidak akan menerima orang lain yang posisinya lebih tinggi atau lebih mulia dariku di alam semesta ini. Akulah yang seharusnya menempati stasiun tertinggi. Orang lain bisa saja mengakuinya tetapi Aku menolak untuk menerimanya.” Jadi Setanlah yang pertama kali merasa keberatan dan menolak kehendak Allah SWT.

Allah SWT meniupkan roh kepada Nabi Adam AS sehingga ia bisa berdiri di atas kakinya.Setan mengikutinya, memohon untuk menyakiti dan membuatnya jatuh. Ia mengetahui bahwa orang yang tidak patuh kepada Allah SWT akan terhina. Walaupun ia tahu tetapi ia tetap menolak sujud kepada Nabi Adam AS, sehingga semua kemuliaan yang telah diberikan kepadanya sampai hari itu dicabut oleh Allah SWT karena kemuliaan itu hanyalah untuk hamba-Nya yang patuh.

Ia tidak diizinkan untuk memasuki Surga, sehingga ia menggunakan akal liciknya. Ia ingin membuat Nabi Adam AS sebagai orang kedua yang tidak patuh dengan berkata kepadanya, “Wahai Adam AS, apakah kamu tahu alasan Allah SWT untuk tidak memakan buah dari pohon itu? Aku mengetahuinya, maka dengarkanlah Aku, sekarang Aku adalah penasihatmu. Jika ada orang yang memakan buah dari pohon itu ia akan berada di Surga selamanya. Pohon itu hanya milik Allah SWT, dan Dia tidak suka ada orang lain yang memakan buahnya.” Setan telah berbohong, pertama ia mendatangi Siti Hawa RA dan dengan mudah menipunya, lalu melalui Siti Hawa RA, Nabi Adam AS juga tertipu, keduanya menjadi hamba yang tidak patuh. Kemudian Allah SWT berbicara kepada mereka, “Wahai Adam AS, kau dan istrimu segeralah pergi dari Surga dan turunlah ke bumi.” Barulah mereka menyadari bahwa Setan telah menipunya. Mereka pun bertobat, memohon ampun kepada Allah SWT.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Hanya dengan cinta

Pada mulanya Sayyidina Muhammad SAW, kekasih Allah.  Allah SWT mencintai beliau dan susunan (jiwa) beliau bercampur dengan Cinta Ilahi.  Dia menjadi Habibullah (kekasih Allah).  Allah SWT memberkati beliau dari Cinta Ilahiah-Nya.  Sayyidina Muhammad SAWdiambil dari Allah SWT, inilah Muhabba, inilah Cinta Ilahiah dan beliau memberikannya juga kepada para Sahabat.  Apabila beliau tidak memberikan Cinta Ilahi kepada para Sahabat, maka Sahabat tidak dapat mencintai beliau.

Suatu hari Hazrat Umar RA—yang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW—berkata, “Ya Rasulallah SAW, aku mencintaimu, aku mencintaimu melebihi cintaku kepada keluargaku dan anak-anakku yang mengharapkan cinta yang kumiliki.”  Kemudian Nabi SAW bersabda padanya, “Ya Umar RA, sampai engkau mencintaiku melebihi kemampuanmu, kau tidak akan mencapai kamal ul iman (Iman yang sempurna).”  Mendengar ucapan Nabi SAW ini, Sayyidina Umar RA berusaha meningkatkan levelnya seperti yang diperintahkan Nabi SAW.  Inilah sebuah kekuatan mengagumkan (mukjizat) dari Nabi SAW.  Dengan sangat cepat, dan dalam waktu yang amat singkat, beliau membuat Sayyidina Umar RA mengatakan bahwa ia mencintai beliau melebihi dirinya sendiri.  Rasulullah SAW mengangkat Umar RA (ke level yang lebih tinggi) dengan diam-diam.  Semua Sahabat mencintai Nabi SAW dari jiwa mereka.  Jangan berpikir bahwa kejadian di atas hanya terjadi kepada Sayyidina Umar RA, tidak!  Itu terbuka bagi semua umat Nabi Muhammad SAW dan semua bangsa.  Ya, siapapun dapat mencintai Nabi Muhammad SAW lebih dari jiwanya sendiri.

Para Sahabat mencintai Nabi Muhammad SAW sepenuhnya.  Mereka dipenuhi Cinta Ilahi,Muhabbah.  Dengan perasaan penuh cinta kepada Rasulullah SAW, mereka menjelajah melintasi timur dan barat mengabarkan amanat Nabi SAW kepada semua orang.  Para Sahabat tidak mengetahui bahasa setiap bangsa yang mereka temui ketika berkhotbah. Ketika mereka berkhotbah, orang-orang berkumpul mengelilingi Sahabat dan mendengarkan walaupun mereka tidak mengerti bahasa yang dipakai, tetapi pusat cinta dalam hati mereka berbicara kepada Sahabat.  Mungkin para Sahabat hanya melafalkan Kitab Suci Alquran, tetapi cinta (yang dimiliki para Sahabat) tersalur melalui lafal (Alquran) telah menyentuh kalbu pendengarnya.  Karenanya Islam dapat berkembang dari timur dan barat dalam kurun waktu yang singkat, seperempat abad atau 25 tahun.  Itulah keajaiban. Jika orang Eropa mempunyai kepandaian untuk memikirkan hal ini, mereka akan masuk Islam.  Mereka akan mengucapkan, “Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah.” (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah Rasul Allah).

Wali mancing, kapalpun bisa terhenti

Nama beliau adalah Syekh `Ali al-`Omari QS, orang suci Tarekat Qadiri.  Saat kapal Italia tiba di pantai Lebanon pada tahun 1942, kapal itu penuh dengan paket makanan untuk masyarakat Lebanon.  Namun komandan kapal Italia itu menolak untuk membongkar muatan karena suatu alasan.  Perintahnya adalah untuk kembali lagi.

Syekh `Ali QS pergi ke pantai, mengambil sebuah kail ikan dan menarik kapal itu lalu memegangnya.  Hanya mengailnya dan kapal itu pun tak bisa bergerak.  Kata beliau, “Tak akan kubiarkan kapal bergerak kecuali muatan dibongkar.”  Setelah 2 atau 3 hari mereka pun masih terlibat negoisasi.  Beliau tidak ingin wudu, makan atau apapun.  Beliau berdoa sambil memegang kail.  Beliau tidak mau bergerak.  Setelah mereka membongkar muatan, beliau pun melepaskan kapal itu.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

Abu Bakar menangis

Suatu ketika Sayyidina Abu Bakr (r) sedang menangis dan Nabi (s) bertanya, “Yaa Abu Bakr! Mengapa engkau menangis?” Sudah lama beliau menghilang dari rumahnya dan orang-orang mencarinya, kemudian Nabi (s) menemukan beliau sedang duduk di Ka`bah, dan menangis.
Nabi (s) bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Abu Bakr (r) berkata, “Yaa Rasuulullah! Engkau pernah berkata, ‘Ya Allah! Jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.’ Wahai Nabi Allah! Jika engkau mengatakan hal ini, lalu bagaimana dengan kami? Itulah sebabnya mengapa aku menangis.” Nabi (s) bersabda, “Yaa Abu Bakr! Allah menyebutkan dirimu di dalam kitab suci Al- Qur’an sebagai shaahib, sahabatku. Engkau berada di dalam gua dan Dia menyebutmu sebagai ash- ‘shiddiq.'”

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

idz yaquulu li-shaahibihi laa tahzan inna Allaha ma`ana,
Dan ia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Tawbah, 9:40)

Sayyidina Abu Bakr (r) berkata, “Wahai Nabi Allah! Jika besok Allah berfirman, ‘Aku menjadikanmu shiddiq, tetapi sekarang Aku mencabutnya darimu,’ siapa yang dapat mengatakan tidak?”

 

memerangi setan

Sayyidina ‘Ali RA, KW adalah salah seorang tokoh yang terhormat bagi seluruh orang.Beliau tidak akan berjalan di depan orang yang lebih tua. Suatu kali di masa Rasulullah SAW, beliau membuka pintu rumahnya dan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh. Baru saja keluar beliau melihat seorang tua yang berjalan dengan lambat di depannya. Untuk menghormatinya Sayyidina ‘Ali RA, KW berjalan lambat di belakangnya sampai mencapai masjid. Tetapi melihat orang itu tidak masuk ke masjid dan malah menghindarinya, dan melihat di dalam Rasulullah SAW telah bangkit dari sujud di rakaat pertama, Sayyidina ‘Ali RA, KW mengerti bahwa orang tua itu adalah setan, datang untuk membuatnya terlambat mengikuti salat berjamaah. Dengan cepat beliau merenggut lehernya dan meletakkannya di bawah sebuah batu besar. Setelah salat Rasulullah SAW bertanya, “Wahai ‘Ali RA, KW apa yang terjadi?” Beliau menjawab, “Wahai Rasulku, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Musuh Allah SWT telah menipuku sehingga Aku kehilangan satu rakaat.” Rasulullah SAW dan para Sahabat keluar untuk melihat setan yang menggeliat di bawah batu, Sayyidina ‘Ali RA, KW sangat marah. Baginya satu rakaat di belakang Rasulullah SAW lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Beliah berkata, “Aku berniat untuk meninggalkannya di sini sampai hari kiamat, tetapi Aku tunduk kepada perintahmu wahai Rasulku.” “Wahai ‘Ali RA, KW jangan menjadi perampok. Jika engkau membiarkannya di sini, berarti engkau telah memotong jalan bagi seluruh umatku dalam mecapai maqam mereka di Hadirat Ilahi, menghilangkan derajat berperang mereka. Jangan cemaskan dia, dia hanyalah seorang budak bagi umatku. Akan banyak yang mencapai derajat yang tinggi karena memeranginya.” Maksud beliau kita sekarang lebih kuat daripada setan dan beliau mengisyaratkan kepada kita hikmah yang tersembunyi bahwa setan adalah alasan utama untuk peningkatan kehidupan spiritual. Kalian dapat menerimanya dan mendapat manfaat darinya. Kendarai dia dan pergilah, kalian bisa mencapai maqam mana saja dalam Hadirat Ilahi.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

meminta cinta

Salah seorang tetangga Musa AS pernah berkata, ”Wahai Musa AS, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”

Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang ingin dilakukan, Nabi Musa AS lupa akan pesan tetangganya, Allah SWT-lah yang mengingatkan beliau.

“Wahai Musa AS, mengapa engkau lupakan tetanggamu? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku?“

“Ya Tuhan, maafkan aku.” 
“Apa yang dia minta?”
“Dia membutuhkan cinta.” 
“Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah SWT, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.” 
“Tidak. Itu sudah cukup.”

Musa AS kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada di dunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikit pun ataupun merasakan sesuatu. “Oh tetanggaku,” kata Musa AS “Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.” Namun tetangganya itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa AS. Allah SWT pun memanggil Musa AS dan mengatakan, “Ya Musa AS, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apa pun, dia hanya merasakan Aku.”

batu bertasbih

Nabi (s) mengambil tujuh butir batu, hasaayaat dengan tangan sucinya, dan mereka (batu-batu itu) bertasbih, mengagungkan Allah (swt) di tangannya, dan kami dapat mendengar tasbih mereka. Aku mendengar suaranya yang merdu dengan kerinduan (dengan kecintaan pada Nabi [s] dan kerinduan dengan kecintaan pada Allah [swt]).
Kalian lihat bagaimana mereka dulu hidup?  Tidak seperti sekarang, kita duduk dan salat di atas karpet lalu kalian melangkah keluar dan melihat rumput yang dipangkas rapi dan jalan yang bagus aspalnya.  Dulu hanya ada jalan kecil dan gang di antara rumah-rumah, dan semuanya dipenuhi kerikil kecil.  Nabi (s) duduk bersama para Sahabat dan beliau (s) mengambil tujuh butir batu dari lantai, yang artinya beliau (s) sedang duduk di suatu tempat, mungkin di sebuah rumah, dan tidak ada apa-apa (di bawah mereka) kecuali kerikil.  Apakah kalian duduk di atas kerikil sekarang?  Kaki kalian akan terasa nyeri, tetapi mereka duduk di atas kerikil!

Dan Allah (swt) berfirman bahwa segala sesuatu bertasbih, tetapi kalian tidak dapat mendengarnya, tetapi ketika batu-batu itu berada di dalam tangan yang suci (dari Nabi (s)), para Sahabat (r) dapat mendengarnya!

Batu-batu itu bukan hanya memuji Allah (swt) dan bertasbih, tetapi mereka juga merindukan Nabi (s), untuk berada di tangannya, bukan di lantai.  Dan setiap sel dari tubuh kita juga bertasbih, tetapi kita terhalang untuk mendengar tasbih mereka dan oleh sebab itu kita perlu bekerja untuk membersihkan diri kita dari segala gangguan yang membuat kita tidak bisa mendengar tasbih batu-batuan atau tubuh kita.

Dan hadits itu berlanjut:

Read more »

Seorang wali tidak boleh sembarangan memperlihatkan karomah

Saat itu diBukhara, mereka biasa memanen gandum, menggilingnya, dan membuat roti untuk dimakan.  Suatu ketika, datang musim kering dan selama 2 atau 3 tahun tidak ada hujan.  Tak ada yang bisa dipanen dan tak ada tepung di kota.  Anak-anak mulai sekarat kelaparan.

Mereka tahu kalau Syah Naqsyband QS adalah orang suci yang agung.  Maka datanglah mereka pada beliau, “Tolonglah!  Seluruh kota sedang sekarat.”  Syah Naqsyband QS sangat termasyhur baik karena ilmu lahir maupun ilmu batinnya, dan beliau juga dipercaya sebagai ulama besar Islam.

Karena melihat mereka kelaparan, rasa iba pun timbul dan beliau berkata, “Berapa pun sisa gandum yang masih ada di kota bawalah kepadaku.”

Mereka menemukan sedikit gandum dari sebuah rumah orang paling kaya di kota itu.  Beliau membawa gandum berharga itu menuju penggilingan tepung.  Saat itu mereka menggunakan sapi-sapi untuk memutar batu.  Beliau menaruh gandum di antara dua batu dan meletakkan kepala beliau menggantikan sapi-sapi, dan mulailah beliau berputar menarik penggilingan tepung itu.  Semakin cepat beliau berputar, tepung pun keluar dan keluar terus dan beliau meminta seluruh kota untuk datang dan mengisi tas masing-masing.

Read more »

3 tanda sebelum imam Mahdi muncul

Ada tanda-tanda Hari Kiamat yang kita nantikan. Sebagian besar tanda-tanda yang telah diprediksikan oleh Nabi (s) telah muncul, tetapi ada dua tanda yang belum muncul. Jadi Mawlana Syekh ingin agar kalian ditulis sebagai orang-orang di masa Mahdi (a). Itu artinya, jangan panik! Jika kalian mengatakan kepada diri kalian bahwa kalian adalah orang-orang yang hidup di masa Mahdi (a), maka di mana pun kalian berada, kalian akan bersama beliau, dengan membaca “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.” Kalian akan dipindahkan dengan kekuatan surgawi menuju tempat di mana pun Mahdi (a) berada. Jadi jangan panik, lakukan saja apa yang kalian lakukan.

Apakah Mawlana mengatakan kepada orang-orang yang dekat dengannya untuk berhenti bekerja? (tidak) Lalu mengapa kalian pergi ke sana ke mari dengan arah yang berlainan untuk menemukan apa yang harus dilakukan? Mawlana Syekh berkata bahwa tiga tanda pasti akan terjadi sebelum munculnya Mahdi (a). Para awliyaaullah menantikannya dan jika ketiga tanda ini belum muncul, tetap saja kita menantikan kedatangannya. Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) menyebutkan ketiganya. Salah satunya adalah sebuah gunung yang besar di dekat Bursa akan meletus dengan debu dan lava merah yang mengalir ke Istanbul, membuat kota itu terbakar. Apakah hal itu sudah terjadi? Belum! Jadi kita masih menunggunya.

Yang kedua, Kairo akan tenggelam di bawah air akibat jebolnya Bendungan Aswan. Bendungan ini belum ada ketika Sayyidina Ibn `Arabi memprediksinya dalam kitabnya, Futuhat al-Makkiyya, yang mengatakan bahwa sungai Nil akan mengalami banjir dan airnya akan mencapai menara Masjid Muhammad `Ali di Kairo. Grandsyekh (q) berkata bahwa ada sebuah tanda di menara masjid itu, yang sangat tinggi, di mana air akan mencapainya. Hingga sampai tahun 1960 orang-orang belum tahu tentang Bendungan Aswan yang dibangun Gamal Abdel Nasser ini. Sekarang kita tidak tahu berapa banyak dari bendungan itu yang sudah terkikis, ia akan jebol dan terjadi banjir besar di sana. Jadi saya khawatir dengan orang-orang di Kairo, tetapi sebelumnya penghancuran Istanbul akan terjadi.

Tanda ketiga adalah ketika Siprus tenggelam ke laut, itu adalah prediksinya. Jadi selama Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani berada di Siprus, ketika beliau meninggalkan Siprus, barulah kalian boleh panik, telepon orang-orang dan kirimkan pesan!

Jadi, gabungkan semuanya! Ketika seorang wali, khususnya Sultan al-Awliya, Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani mengatakan sesuatu, kalian harus memberi perhatian. Juga, ketika Mawlana Syekh pindah, itu tidak akan ke Istanbul; beliau akan pindah ke Syam asy-Syariif. Mengapa kedua putra beliau tidak pindah (dari Siprus dan Istanbul)? Itu artinya persiapkan diri kalian dan dapatkan pahalanya, tetapi jangan panik dan bertanya-tanya apa yang harus kita lakukan!

Jika kalian tidak memahami Mawlana Syekh, kalian tidak akan pernah mengerti. Saya menunggu selama lima puluh tahun untuk Mahdi (a), jadi dengar dan pahamilah. Jika kalian hidup selama seribu tahun atau bahkan satu bulan dalam persiapan untuk kedatangan Mahdi (a) , maka itu akan sama dengan seseorang yang hidup selama satu bulan. Itu artinya bagi semua murid yang menantikan kedatangannya, akan dibukakan suatu pahala yang besar. Pembukaan itu muncul di bulan Rabi ul-Awwal, bahwa barang siapa yang menanti kedatangan Mahdi (a) ia akan disandangkan dengan pahala dan cahaya yang istimewa dari Nabi (s) dan Mahdi (a)!

Ketika ketiga tanda yang kami sebutkan itu telah muncul, tetap saja Mahdi (a) belum muncul. Pertama akan terjadi sebuah pertempuran yang sangat dahsyat antara dua pihak yang berselisih mengenai suatu isu. Itu akan terjadi sebelum Mahdi (a) muncul. Pertempuran itu tidak akan terjadi antara Timur Tengah melawan Eropa, tetapi antara dua kubu adikuasa di dunia. Itu adalah prediksi dari Nabi (s) mengenai Tanda-Tanda Hari Kiamat, bahwa sebuah perang besar akan berlangsung selama tiga bulan.

Jadi sekarang, kalian mempunyai tiga tanda yang akan muncul: Pegunungan di Bursa akan meletus dan lavanya akan masuk ke Istanbul; di Kairo akan terjadi banjir besar yang airnya akan mencapai atap menara Masjid Muhammad Ali dan kemudian Siprus akan lenyap. Lalu akan terjadi sebuah perang besar selama tiga bulan. Setelah itu, mereka akan datang ke Istanbul dengan takbir dan dindingnya akan runtuh, seperti bila ada kebakaran jika kalian mengucapkan takbir, api itu akan padam. Jadi pada saat itu dengan kekuatan Mahdi (a), seluruh teknologi akan berhenti.

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com