Kearifan Kyai Atasi Santri Nakal

Suatu saat K.H. Ahmad Umar Abdul Manan (1916 – 1980), pengasuh Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan Solo, memanggil lurah pondok. “Aku dicatatkan nama-nama santri yang nakal ya! Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal dan terakhir agak nakal.”
Lurah pondoknya girang bukan main. Karena sudah beragam cara diupayakan untuk mengingatkan santri-santri nakal itu. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka sudah beku hatinya. Dengan penuh semangat, dijalankanlahperintah Kiai Umar tersebut. Nama-nama santri itu ditulis besar-besar dengan spidol. Ternakal fulan bin fulan asal dari daerah A. Nakal sekali fulan bin fulan dari daerah B, sampai santri yang agak nakal.
Setelah catatan selesai dibuat, kemudian diserahkan kepada Kiai. Lurah pondok itu menanti seminggu, dua minggu, kok tidak ada tindakan apa-apa. Pikirnya dalam hati, “Kok santri-santri yang nakal masih tetap nakal ya. Kok tidak diusir atau dipanggil Kiai.”
Akhirnya lurah pondok itu memberanikan diri matur kepada Kiai Umar. “Maaf Kiai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, ditakzir atau diusir?”

“Lho, santri yang mana?”

Read more »

Implementasi kurikulum 2013

Sekedar urun rembuk saja, mungkin bisa dianggap omdo, tetapi saya harap ada manfaat yang dapat diambil.

Mengapa kurikulum baru K13 gagal? he3x jawabnya simpel, mengapa pakai angka 13? angka itu terkenal sial di dunia, kalau saja pelaksanaannya nunggu 2017  mungkin akan lebih berhasil ………. he3x …….. bercanda …… apa benar ya?

BTW

Dalam berita dikatakan bahwa Menteri yang sebelumnya, M. Nuh menjelaskan bahwa kurikulum 2013 terinspirasi oleh suatu kesempatan dimana beliau menunaikan umroh tahun 2006. “Dalam perjalanan ke Madinah saya menyempatkan mengaji. Pada saat itu saya menemukan surat yang menerangkan tentang tilawah, tazkiyah dan ta’alim ini, saya baca berulang-ulang surat ini. Saya pikir inilah yang saya cari-cari selama ini,” jelas Nuh.

yang kemudian ditafsirkan dengan

KI satu = spiritual dari tazkiyah

KI dua = sikap dari tazkiyah

KI tiga = pengetahuan dari tilawah

KI empat = ketrampilan dari ta’lim

konsep dasar tazkiyah (pembersihan hati), ta’lim (pembelajaran) dan tilawah (pengkajian) memang sangat revolusioner bagi sistem pendidikan formal kita, walaupun kalau mau jujur konsep tersebut sudah jauh dilaksanakan oleh pesantren-pesantren salaf dimana pembelajarannya telah bertahan dari generasi ke generasi lamanya. (mungkin ini juga masukan bagi pemerhati pendidikan, studi banding ndak perlu jauh-jauh plus menghabiskan anggaran, dan akan lebih bermanfaat studi banding kepada ulama-ulama “khos” yang telah mempertahankan konsep pendidikan tersebut tanpa melupakan perkembangan zaman)

Jika ingin mengadakan revolusi pendidikan, menurut saya, hendaknya dimulai dengan pendidikan calon guru yang ada pada perguruan tinggi, disanalah tempat guru dicetak.

Read more »

pendidikan anti korupsi

Bila pendidikan ini sebagai wacana atau kajian, maka akan banyak sekali pembahasannya dan jalan yang dapat ditempuh ….

tetapi bila menginginkan mencetak orang anti korupsi ……???????? …….

mungkin sebagai pertimbangan jaa….

bagaimana Indonesia bisa mencetak menusia yang anti korupsi bila dimanapun disetiap sendi Indonesianya, termasuk di dalam pendidikan, yang selalu dibicarakan berkutat masalah EKONOMI – POLITIK, DANA – ANGGARAN, MENANG – KALAH

bagaimana bisa menciptakan orang yang tidak suka gratifikasi bila yang didengungkan dimana-mana dalah  GRATIS-GRATIS dan GRATIS

KITA akan anti korupsi, bila punya mental SEDEKAH – SEDEKAH dan SEDEKAH , bila punya pemikiran “apa milikku yang bisa bermanfaat untuk orang lain”

revolusi mental, DARI MENERIMA MENJADI MEMBERI

dan yang luar biasa TIDAK MENERIMA DAN SELALU MEMBERI

kurikulum 3001

saat ini kok lagi rame membahas perubahan kurikulum, sedih deh ….

tapi memang harus selalu ada perbaikan, “ajarilah anak-anak kalian persiapan untuk zamannya, zaman kita akan berbeda dengan zaman yang ditemui oleh anak-anak kita”

karenanya ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan. Ibarat sebuah pohon, yang kita inginkan adalah buahnya, tetapi dalam penanaman dan perawatannya harus diperhatikan juga seluruh pohon untuk menghasilkan buah yang berkualitas dan menyehatkan.  akar, batang, ranting, daun serta buah juga harus diperhatikan.

so dalam menelorkan kurikulum baru tidakkah memperhatikan banyak aspek???? karena kita menginginkan generasi penerus sebagai buah dari pendidikan yang berjalan saat ini adalah generasi terbaik, bukankah begitu ?????

and sebagai basic semuanya, pelopor pendidikan, pengonsep kurikulum, hendaknya “cinta kepada pendidikan dan generasi mendatang melebihi cintanya kepada dirinya sendiri”

ngomong enak ya??? tapi …. kita sendiri ?????

kita cinta pendidikan, kita menginginkan generasi mendatang lebih baik, tetapi kita masih cinta pada diri kita sendiri, kita masih belum dapat mengorbankan diri kita untuk generasi mendatang,

jujur saja, ketika kepentingan (kebutuhan)  kita dengan kepentingan orang lain berbentur, maka kita tidak dengan senang mengorbankan kebutuhan kita. saya begitu, anda ????? bahkan sering kita mengatasnamakan orang lain (orang banyak) untuk kepentingan kita/golongan

perumus pendidikan, sebisa mungkin adalah ORANG-ORANG SUCI, orang-orang yang tulus ikhlas serta orang yang memilki keilmuan yang mendalam dan luas serta mengerti kondisi diri dan lingkungan. yang dapat menghasilkan dasar pendidikan yang bahkan bertahan berabad lamanya.

untuk penelurkan sistematika pendidikan yang mempu bertahan sangat lama bingiittzzzz, perlu diperhatikan bahwa ada

– pendidikan wajib : pendidikan yang harus dikenyam oleh setiap individu dan dapat dikuasai oleh semua orang yang bahkan orang yang dianggap bodoh sekalipun. pendidikan ini berkaitan erat dengan penguasaan akan keyakinan (akidah), ibadah-badah wajib dalam agamanya masing-masing, adab (prilaku) kepada diri sendiri, dalam keluarga dan masyarakat agar tercipta pribadi yang santun dan menyejukkan “becik lan mbeciki, baik dan berbuat baik”

– pedidikan pokok : pendidikan yang dapat dikuasai oleh mayoritas masyarakat, guna menyelami dan mengerti serta mengambil hikmah dan inovatif dalam bersikap terhadap keadaan yang ada dalam kehidupan. seperti bagaimana menjadi pemimpin dan berorganisasi, menguasai tata bahasa dan sastra, kajian-kajian mengenai peristiwa-peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan serta hukum-hukum yang mengikutinya. Bila pendidikan wajib adalah persiapan untuk menjadi manusia yang hidup, maka pendidikan pokok adalah persiapan untuk hidup dalam bermasyarakat.

– pendidikan yang disarankan (peminatan)

– pendidikan yang diperbolehkan (pengayaan)

wah bersambung kapan-kapan dech ….. batreinya menipis ….

moga menambah bahan saja, he3

suami teladan

Cerita Habibana Munzir mengenai istri Beliau (semoga menjadi teladan bagi kita) :

mengenai istri, saya lebih senang memanggilnya bukan dg namanya, tapi dengan kata habibah (kekasih untuk wanita), atau sayang, atau ratuku, atau cintaku, atau sesekali dg
nama.

Saya tidak dan sangat takut menyentuh barang istri saya, saya tak pernah berani membuka isi tas istri saya, saya sangat tidak berani membuka lemari istri saya, dan saya tak berani menjamah hp istri saya, apalagi membuka sms atau isinya, jika berdering dering berkelanjutan saya biarkan saja tanpa berani menyentuhnya.

Saya sering menginap di markas jika sedang banyak tugas, dan saya jika akan pulang lebih sering izin dulu pada istri apakah saya diizinkan pulang atau tidak, jika dikamar, saya tanyakan padanya apakah akan tidur dg saya atau mau tidur dg anak anak, ia yg memilihnya,

Read more »

PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH (USIA 4 – 10 TAHUN)

Menasihati dan Mengajari Saat Berjalan Bersama

Berikut ini adalah kisah yang dituturkan Abdullah bin Abbas ketika diajak jalan bersama Rasulullah di atas kendaraan beliau. Dalam perjalanan ini, beliau mengajarkan kepadanya beberapa pelajaran sesuai jenjang usia dan kemampuan daya pikirannya melalui dialog ringkas, langsung dan mudah. Rasulullah bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran: peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusia persatu padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah bagimu, pena telah diangkat dan lembaran catatan telah mengering.”[1]

Menarik Perhatian Anak dengan Ucapan yang Lembut

Adakalanya Rasulullah memanggil anak dengan panggilan yang paling sesuai dengan jenjang usianya, seperti ungkapan, “Anak muda, sesungguhnya aku akan memberimu beberapa pelajaran.” Dan seterusnya. Adakalanya beliau memanggil dengan sebutan, “Anakku” seperti beliau lakukan kepada Anas saat turun ayat hijab, “Hai anakku, mundurlah kamu ke belakang.”

Rasulullah menyebut anak-anak Ja’far, putra pamannya, “Panggilkanlah anak-anak saudaraku.” Beliau pun menanyakan kepada ibunya, “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurus seperti anak-anak yang sakit?”[2]

Seseorang lebih terkesan bila dipanggil dengan julukan, gelar, dan predikat yang baik dari pada nama aslinya. Tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, yang sering kali kita dapati anak-anak yang dipanggil dengan julukan tidak enak didengar, seperti: gundul, gembrot, kribo, dan sebagainya.

Menghargai Mainan Anak dan Jangan Melarangnya Bermain

Apa yang akan Anda katakan ketika mengetahui bahwa Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya. Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyah membawa serta boneka mainannya ke rumah beliau, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Realitas seperti ini menunjukkan pengakuan dari Rasulullah terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan dan pemenuhan kecenderungan (bakat).

Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disuainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.”[3] Al Ghazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, dan berolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.”

Tidak Membubarkan Anak yang Sedang Bermain

Anas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, ‘Rasulullah pasti sedang istirahat siang.’ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali….”[4]

Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka perlukan sebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirkanlah dahulu untuk membubarkan mereka saat bermain. Kalau untuk memperingatkan karena waktu yang tidak tepat atau membahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.

Tidak Memisahkan Anak dari Keluarganya

Abu Abdurrahman Al Hubuli meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan Abu Ayyub berada dalam suatu pasukan, kemudian anak-anak dipisahkan dari ibu-ibu mereka, sehingga anak-anak itu menangis. Abu Ayyub pun segera bertindak dan mengembalikan anak-anak itu kepada ibunya masing-masing. Ia lalu mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”[5]

Rasulullah juga melarang seseorang duduk di tengah-tengah antara seorang ayah dan anaknya dalam suatu majelis. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang duduk di antara seorang ayah dan anaknya dalam sebuah majelis.”[6]

Jangan Mencela Anak

Anas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.”[7]

Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.”

Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”[8]

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimua dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”[9]

Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”[10]

Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa Keburukan

Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.”[11]

Orang tua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisa bermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.[12]

Meminta Izin Berkenaan dengan Hak Anak

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa disajikan kepada Rasulullah segelas minuman, lalu beliau meminumnya, sedang disebelah kanan beliau terdapat seorang anak dan disebelah kirinya terdapat orang tua. Sesudah minum, beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau setuju bila aku memberi minum mereka terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu.” Rasulullah pun menyerahkan wadah itu ke tangannya.[13]

Mengajari Anak Menyimpan Rahasia

Abdulllah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun.”[14]

Makan Bersama Anak Sembari Memberikan Pengarahan dan Meluruskan Kekeliruan Mereka

Umar bin Abu Salamah bercerita, “Ketika masih kecil, aku berada di pangkuan Rasulullah dan tanganku menjalar ke mana-mana di atas nampan. Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Hai bocah, sebutlah nama Allah (berdoa), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.’ Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”[15]

Abdullah bin Umar tidak pernah melakukan shalat malam, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar seandainya dia shalat malam.” Sesudah itu, dia hanya tidur sebentar saja setiap malamnya.[16]

Berlaku Adil Kepada Anak, Tanpa Membedakan Laki-laki atau Perempuan

Nu’man bin Basyir pernah datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Sungguh, aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.”  Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.[17]

Melerai Anak yang Terlibat Perkelahian

Rasulullah pernah memisahkan dua bocah yang terlibat dalam perkelahian. Beliau meluruskan pemikiran mereka dan menyerukan kepada orang-orang dewasa untuk menangkal kezaliman.[18]

Gali Potensi Mereka

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Di antara pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman terdapat sebuah pohon yang dedaunannya tidak pernah gugur, dan itulah perumpamaan seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Orang-orang menebaknya dengan beragam pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman tersebut. Ibnu Umar berkata, ‘Dalam hatiku terbetik bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma, tetapi aku merasa malu untuk mengutarakannya (karena saat itu usiaku masih sangat muda). Selanjutnya, mereka pun menyerah dan berkata, ‘Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Itulah pohon kurma’.”[19]

Rangsang dengan Hadiah

Rasulullah pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, Al Abbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini.” Mereka pun berlomba lari menuju tempat Rasulullah berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung dan ada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah menciumi mereka semua serta menepati janji kepada mereka.[20]

Menghibur Anak Yatim dan Menangis Karena Mereka

Rasulullah bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim itu di surga seperti ini.” Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan meregangkan sedikit saja.[21] Rasulullah pernah menciumi dan bercucuran air mata ketika melihat anak-anak Ja’far menjadi yatim karena ayahnya gugur dalam medan perang, beliau juga menghibur mereka.[22]

Tidak Merampas Hak Anak Yatim

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita.”[23] Dengan demikian, seleksilah benar-benar harta kita. Adakah di dalamnya hak anak yatim yang kita rampas? Sebab, ancaman memakan harta mereka begitu jelas dan gamblang.

Melarang Bermain Saat Setan Berkeliaran dan Lindungilah dari penyakit ‘Ain

Rasulullah bersabda, “Apabila malam mulai gelap (malam telah tiba), tahanlah anak-anak kalian, karena setan saat itu sedang bertebaran. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu maghrib, lepaskanlah mereka….”[24]

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah melihat anak yang sedang menangis kemudian beliau bersabda, “Mengapa bayi kelian menangis? Mengapa tidak kalian ruqyah dari penyakit ‘ain?”[25]

Mengajari Azan dan Shalat

Abu Mahdzurah bercerita, “Aku bersama 10 orang  remaja berangkat bersama Rasulullah dan rombongan. Pada saat itu, Rasulullah adalah orang paling kami benci. Mereka kemudian menyerukan azan dan kami yang 10 orang remaja ikut pula menyerukan azan dengan maksud mengolok-ngolok mereka. Rasulullah bersabda, ‘Bawa kemari 10 orang remaja itu!’ Beliau memerintahkan, ‘Azanlah kalian!’ Kami pun menyerukan azan.

Rasulullah bersabda, ‘Alangkah baiknya suara anak remaja yang baru kudengar suaranya ini. Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.’ Beliau bersabda demikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan dan bersabda kepadanya, ‘Tentu engkau sudah hafal bukan?’ Abu Mahdzurah tidak mencukur rambutnya karena Rasulullah waktu itu mengusapnya.[26]

Mengenai shalat, Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian shalat sejak usia 7 tahun dan pukullah ia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.”[27]

Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari aku pernah masuk ke tempat Rasulullah dan yang ada hanyalah beliau, aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Rasulullah menemui kami lalu bersabda, ‘Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?’ Kala itu bukan waktu shalat. Maka salah seorang berkata, ‘Bagaimana Anas di posisikan di dekat beliau?’ Beliau menempatkanku di kanan beliau lalu beliau shalat bersama kami…”[28]

Tanpa cangung, Rasulullah mengajak anak shalat berjamaah meski tak ada orang selain anak tersebut, tanpa ragu pula, beliau mengangkat pemuda yang membencinya untuk menjadi tukang azan atau muazin kota Mekkah.

Mengajari Anak Sopan Santun dan Keberanian

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada anak ketika beliau hendak memberi minum kepada tamu yang dewasa terlebih dahulu sebelum dia. Namun anak itu menolak. Saat itu Rasulullah tidak bersikap kasar dan tidak menegurnya.

Di antara keberanian yang beretika ialah anak tidak dibiarkan berbuat sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Al Ghazali mengatakan, “Anak hendaknya dicegah dari mengerjakan apa pun dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab, ketika anak menyembunyikannya berarti dia menyakini perbuatan tersebut buruk dan tidak pantas dilakukan.[29]

Menjadikan Anak yang Lebih Muda sebagai Imam Shalat dan Pemimpin dalam Perjalanan

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila kalian sedang berpergian, hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling bagus bacaannya di antara kalian, walaupun ia orang yang paling muda. Bila ia telah menjadi imam berarti ia adalah pemimpin.”[30] Dan dikuatkan dengan hadits shahih, Amru bin Salamah berkata, Rasulullah bersabda, “Hendaknya yang menjadi imam kalian adalah yang paling banyak bacaan Al Qur’annya.”[31]

 

Sumber:

Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010


[1] At Turmizi, Kitab Shifatul Qiyamah, 2516

[2] Muslim, 4075

[3] Ihya ‘Ulumuddin: III, 163

[4] Ahmad, 12956

[5] At Turmizi, 1204

[6] At Thabrani, Al Ausath: IV, 4429

[7] Muttafaq Alaih.

[8] Ihya ‘Ulumuddin: III

[9] At Turmizi, Kitab ‘Ilmi, 2602

[10] Ihya ‘Ulumuddin: III, 62

[11] Muslim, Kitab Zuhud wa Raqaiq, 5328 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 1309

[12] Untuk lebih jelasnya lihat hadits At Turmizi, Kitab Birri wash Shilah, 1828

[13] Muttafaq Alaih.

[14] Muslim, Kitab Haidh, 517 dan Abu Dawud, Kitab Jihad, 2186

[15] Bukhari, Kitab Ath’imah, 4957

[16] Muslim, Kitab Fadhuish Shahabah, 4528

[17] Bukhari, Kitab Hibah, 2398

[18] Lebih jelasnya lihat hadits Muslim, Kitab Birr wash Shilah, 4681

[19] Muttafaq Alaih.

[20] Majmu’uz Zawaid: IX, 17

[21] Bukhari, Kitab Thalaq, 4892 dan Kitab Adab, 5556; Tirmizi, Kitab Barri wash Shilah, 1841

[22] Lebih jelasnya lihat hadits Ahmad, Musnaddul Anshar, 25839 dan Musnadul Ahli Baith, 1695

[23] Ibnu Majah, Kitab Adab, 3668 dan Ahmad Musnadul Mukstirin, 9289

[24] Bukhari, Kitab Badil Khalq, 3038

[25] Shahih Al Jami’, 5662

[26] Ahmad, Musnadul Makkiyah, 14833

[27] Tirmizi, Kitab Shalat, 372 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 418

[28] As Silsilatush Shahihah, 140

[29] Ihya ‘Ulumuddin, III

[30] Al Bazzar, hasan menurut Al Haitsami, Majma’uz Zawaid: II, 64

[31] Shahih Al Jami’, 5350

http://mahluktermulia.wordpress.com/2011/01/06/pendidikan-anak-metode-rasulullah-usia-4-%E2%80%93-10-tahun/

PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH (USIA 0 – 3 TAHUN)

Berdoa Untuk Anak Saat Masih dalam Sulbi Ayah

Rasulullah bersabda, “Seandaianya salah seorang diantara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْناَ الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang engkau anugerahkan kepada kami, lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akan dapat mengganggunya selamanya.”[1]

Anjuran berdoa sebelum berhubungan suami-istri menunjukkan bahwa permulaan yang kita lakukan dalam berketurunan bersifat rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami-istri tersebut berlandaskan ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggu setan.

Zikir Untuk Keselamatan Bayi yang Akan Dilahirkan

Rasulullah memberi petunjuk kepada Asma’ dengan bersabda, “Maukah engkau aku ajari beberapa kata yang bisa kau ucapkan saat dalam kekhawatiran (yaitu doa untuk memperlancar persalinan). Ucapkanlah:

اَللهُ اَللهُ رَبِّيْ لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

“Allah, Allah rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”[2]

Apabila keguguran terjadi

Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surga bila ibunya rela dengan itu (ibunya bersabar dengan kehilangan anaknya).”[3]

Azan di Telingan Kanan Bayi Baru Lahir

Abu Rafi’ berkata, “Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fatimah.”[4] Ibn Qayyim berkata bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didegar adalah seruan yang mengandung makna keagungan Allah serta syahadat.[5]

Berita Gembira Kelahiran Bayi

Ucapan selamat dan hadiah atas kelahiran bayi jelas akan menyenangkan keluarga bayi yang baru lahir dan akan menimbulkan suasana gembira, serta mempererat tali kasih dan ikatan persatuan antara sesama kaum muslimin.

Mentahnik Bayi dengan Kurma dan Mendoakannya

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah sering didatangi para orang tua yang membawa bayinya untuk dimintakan berkah dan ditahnik.[6] Langkah-langkah Rasulullah mentahnik bayi yaitu: 1) sepotong kurma, 2) dikunyah-kunyah seperlunya, 2) buka mulut bayi, dan suaapkan kurma tersebut sambil digosok-gosok dilangit-langit mulut bayi.[7]

Membentangi Bayi dengan Zikir dan Bersyukur kepada Allah

Dari Anas, Rasulullah bersabda, “Allah tidak sekali-kali menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-Nya, lalu ia mengucapkan, ‘Segala puji hanya miliki Allah Rabb semesta alam’, melainkan apa yang diberikan lebih baik dari pada yang diambil-Nya’.”[8]

Bila ada bayi yang baru lahir diantara keluarganya, Aisyah tidak bertanya, “Laki-laki atau perempuan?” Tapi ia bertanya, “Apa organ tubuhnya sempurna (lengkap)?” Bila dijawab “Iya”, ia berkata, “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.”[9]

Memberikan Hak Waris Untuk Bayi yang Baru Lahir

Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah telah memutuskan bahwa bayi tidak boleh diberikan hak waris sebalum ia lahir dalam keadaan menangis (maksudnya: menangis dan menjerit atau bersin).”[10] Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Bila bayi yang baru dilahirkan menangis, ia berhak mendapatkan warisan.”[11]

Kewajiban Zakat Fitrah atas Nama Bayi yang Baru Lahir

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas setiap individu kaum muslimin, baik yang merdeka maupun budak, baik laki-laki maupun perempuan, baik masih bayi maupun sudah dewasa, yaitu satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.”[12]

Menyayangi, Meski Lahir dari Hasil Perzinaan

Ada wanita dari Bani Ghamidiyah yang datang kepada Rasulullah dan mengaku bahwa dirinya telah mengandung dari perzinaan, beliau bersabda kepadanya, “Pulanglah sampai kamu melahirkan.” Setelah melahirkan, ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan.” Akan tetapi, Rasulullah bersabda kepadanya, “Pulanglah, susuilah ia sampai kamu menyapihnya.” Setelah wanita itu menyapihnya, ia datang dengan membawa bayinya yang sedang memegang sepotong roti di tangan. Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini ia sudah bisa makan sendiri.” Rasulullah pun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah seorang lelaki dari kaum muslimin dan memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita itu. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segera merajamnya.[13]

Itulah kasih sayang Rasulullah terhadap anak hasil zina dan keinginan beliau yang kuat agar bayi itu tidak terlantar. Apa dosa anak yang baru lahir itu hingga ia harus menanggung konsekuensi perbuatan dosa orang tuanya?

Merayakan Kelahiran Bayi dengan Aqiqah

Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah bersabda, “Smua anak itu tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. Rambutnya dicukur dan ia dinamai.”[14] Dari Salman bin Amir, Rasulullah bersabda, “Anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Karena itu, sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya.”[15]

Ummu Kurz pernah bertanya kepada Rasulullah, maka beliau menjawab, “Untuk bayi laki-laki dua kambing (yang sepadan) dan untuk bayi perempuan satu kambing, baik kambing jantan maupun betina tidak ada masalah bagimu.”[16]

Abdullah bin Buraidah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Pada masa Jahiliyah dulu, bila ada bayi yang baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambing itu di kepala sang bayi. Setelah Allah menurunkan agama Islam, kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyak za’faran’.”[17]

Memberi Nama Yang Baik

Islam selalu menginginkan kemudahan, bahkan dalam persoalan pemberian nama. Islam tidak menginginkan kesulitan dalam hal pemberi nama. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam sabda Rasulullah. Beliau bersabda, “Nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.”[18]

Ibnu Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh, nama seseorang diantara kalian yang paling disenangi oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”[19]

Mencukur Rambut Bayi, Dibersihkan, dan Dihilangkan Kotorannya pada Hari Ketujuh

Ketika mencukur rambut bayi sebaiknya tidak mencukurnya seperti pelangi. Al Qaza’ artinya mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lainnya di beberapa bagian tanpa dicukur sehingga mirip pelangi.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang Qaza’. Aku bertanya kepada Nafi’, “Apakah Qaza’ itu?” Nafi’ menjawab, “Mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lain.”[20]

Makna yang dimaksud dan yang menjadi tuntunan ialah mencukur rambut kepada secara keseluruhan, karena mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain bertentangan dengan kepribadian seorang muslim yang seharusnya berbeda dengan kepribadian pemeluk agama lain (kafir).

Bercengkrama dengan Lidah dan Mulut

Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah keluar ke pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku.’ Al Hasan pun datang berlari, lalu langsung melompat ke pangkuannya. Rasulullah mencium mulutnya, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya (tiga kali)’.” Abu Hurairah berkata, “Setiap kali melihat Al Hasan, aku menangis.”[21]

Memberi Julukan Ayahnya dengan Nama Anak

Abu Syuraih menceritakan bahwa pada awalnya dia bernama Abul Hakam. Kamudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah, Dialah hakim yang memutuskan dan hanya kepada-Nyalah semua keputusan.”[22]

Kapan Menghitankan Anak ?

Abu Hurairah berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”[23]

Makhul mengatakan, “Ibrahim menghitankan anaknya, Ishaq, saat itu berusia 7 hari, dan mengkhitankan Ismail pada usia 13 tahun. Demikianlah seperti yang disebutkan oleh Al Khalil.”[24]

Sayangi di Kala Sakit, Maklumi Kalau Ngompol

Ummu Qais binti Mihshan berkata, “Aku pernah menemui Rasulullah dengan membawa bayiku yang masih belum makan makanan apa pun. Tiba-tiba ia kencing di pangkuan beliau. Baliau pun meminta air dan langsung menyipratkannya ke bagian yang terkena kencing (tanpa mencucinya).”[25]

Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah pernah mengambil dan mendudukanku di atas satu paha beliau dan mendudukkan Al Hasan di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau memeluk kami berdua dan berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku sungguh menyayangi keduanya’.”[26]

Kewajiban Menyusui dan Menjamin Nafkah Anak

Wahai para ibu, berikanlah kasih sayangmu kepada anakmu, susuilah ia dengan air susumu agar engkau dapat menyempurnakan makna ibu yang engkau sandang dan agar engkau mendapatkan pahala. Didiklah sendiri anakmu sesuai dengan manhaj Rasulullah. Lihatlah QS. Al Baqarah: 233 dan Ath Thalaq: 7.

Wahai ibu, cobalah engkau perhatikan. Apakah engkau pernah melihat burung, hewan lain, atau semua makhluk yang berstatus sebagai ibu pernah meninggalkan anaknya saat masih bayi dan menyingkir darinya? Sungguh merupakan perangai yang buruk bila hewan yang tidak berakal saja tidak meninggalkan anaknya yang masih kecil, sedangkan manusia yang berakal rela meninggalkan anaknya dan dipercayakan kepada orang lain.

Umar Memperhatikan Anak Sejak Lahir

Suatu malam Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata kepada ibunya, “Susuilah dia.” Ibu si anak, yang tidak menyadari bahwa yang menyuruhnya adalah Umar, menjawab, “Amirul Mukminin tidak memberikan santunan untuk bayi yang baru lahir sampai masa penyapihannya.” Umar berkata dalam hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.” Setelah itu ia berkata, “Susuilah dia, nanti Amirul Mukminin pasti akan memberikan santunan untuknya.” Sesudah itu, Umar mulai menetapkan santunannya untuk bayi yang baru lahir. Dengan demikian, tangis seorang bayi sanggup mengubah keputusan seorang kepala negara yang bernama Umar bin Khattab.

Boleh Menangisi Kematian Bayi dan Mengucapkan Belasungkawa Kepada Keluarganya

Anas berkata, “Kami masuk bersama Rasulullah lalu beliau mengambil putranya, Ibrahim, dan langsung menciumnya. Setelah itu kami masuk lagi pada hari yang lain. Ibrahim saat itu sedanga meregang nyawa. Air mata Rasulullah berlinang, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah engkau juga menangis?” Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman (beliau menangis lagi) mata ini menangis dan hati ini bersedih tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar sedih karena berpisah denganmu.”[27]

Mendoakan Anak Secara Khusus Saat Menshalatkan Jenazahnya

Sa’id bin Musyyab berkata, “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah yang sedang menshalatkan jenazah anak kecil yang belum pernah melakukan suatu dosa pun. Aku mendengar Abu Hurairah mengucapkan doa berikut:

اَللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنَ عَذَابِ اْلقُبْرِ

“Ya Allah, lindungilah anak ini dari azab kubur.”[28]

Anak yang Meninggal Ketika Masih Kecil Akan Masuk Surga

Aisyah berkata, “Rasulullah diundang untuk melayat jenazah seorang anak kecil dari kalangan Anshar. Aku (Aisyah) berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya anak ini. Ia salah satu burung diantara burung-burung di surga. Ia tidak pernah berbuat keburukan dan belum pernah menemuinya.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau tahu yang selain itu, wahai Aisyah? Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula. Dan Dia menciptakan penghuni neraka yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula.”[29]

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Anak-anak kaum muslimin itu berada di sebuah gunung di surga. Mereka diasuh oleh Ibrahim dan Sarah sampai mereka dikembalikan kepada ayah-ayah mereka pada hari kiamat.”[30]

Syafaat Anak Bagi Kedua Orang Tua yang Sabar Atas Kematian Anaknya

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidaklah sekali-kali sepasang muslim ditinggal mati oleh ketiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkan keduanya bersama anak-anak mereka ke dalam surga berkat karunia dan rahmat-Nya.” Abu Hurairah melanjutkan, “Dikatakan kepada anak-anak tersebut, ‘Masuklah kalian ke dalam surga!’ Anak-anak itu menjawab, ‘Kamu menunggu kedua orang tua kami’. Perintah itu diulangi tiga kali, tetapi mereka mengeluarkan jawaban yang sama. Akhirnya, dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian bersama kedua orang tua kalian ke dalam surga’.”[31]

Tidak Mendapat Anak di Dunia, Mendapatkannya di Akhirat

Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin itu bila sangat  menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya, dan tumbuh besar dalam sekejab, sebagaimana ia menginginkannya.”[32]

Mempercepat Shalat Karena Mendengar Tangisan Anak

Anas mengatakan, “Aku belum pernah shalat di belakang seorang imam yang lebih singkat dan lebih sempurna shalatnya, selain Rasulullah. Jika beliau mendengar suara tangisan anak, beliau mempercepat shalatnya karena khawatir akan mengganggu shalat ibunya.”[33]

Memanggil Anak dengan Julukan Sebagai Penghormatan

Anas pernah mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. “Aku punya seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair dan setahuku ia sudah disapih. Bila Rasulullah datang, beliau selalu menyapanya dengan panggilan, ‘Hai Abu Umair’.”[34]

Memanggil dengan Panggilan yang Baik

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, ‘Hai budak laki-laki! Hai budak perempuan!’ karena kamu semua, baik laki-laki maupun perempuan, adalah hamba-hambda Allah…”[35]

Mengajak Shalat Berjamaah

Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat (Maghrib atau Isya’), sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalat itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan, “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.” Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.”[36]

Abu Qatadah Al Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali.”[37]

Mengajarkan Kalimat Tauhid pada Anak

Anak kecil yang belum belajar berbicara itu ketika mendengar kalimat-kalimat azan, ia akan menirunya. Bahkan ia akan selalu memperhatikannya saat orang-orang dalam kelalaian. Maka ia tanpa sadar telah berusaha mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, seorang guru hendaknya membiasakan anak yang masih belum bisa bicara tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kelian pada permulaan bicaranya ucapan ‘laailaha illallah’ dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan ‘laailaha illallah’.”[38]

Rasulullah Pernah Menghentikan Ktatbah dan Meninggalkan Mimbar Untuk Menyambut Anak Kecil yang Berjalan Tertatih-tatih

Abdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Ketika Rasulullah sedang berkathbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husein yang keduanya mengenakan gamis berwarna merah dengan langkah tertatih-tatih. Rasulullah pun langsung turun dari mimbarnya lalu menggendong dan meletakkan keduanya di hadapan beliau. Kemudian beliau membaca QS. Ath Thaghabun: 15 dan bersabda, ‘Ketika aku memandang kedua anak ini berjalan dengan langkah tertatih-tatih, aku tidak sabar hingga kuhentikan khatbahku untuk menggendong keduanya.”[39]

Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut Anak

Nafi’ dan Ibnu Umar bahwa Rasulullah melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisi kepalanya dan dibiarkan pada sisi lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda, “Cukurlah semua atau biarkanlah semua.”[40]

Abdullah bin Ja’far meriwayatkan bahwa Rasulullah mengurungkan diri untuk mendatangi keluarga Ja’far sebanyak tiga kali, lalu beliau mendatangi mereka. Beliau bersabda, “Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini.” Beliau bermaksud agar hari berkabung disudahi. Kemudian beliau bersabda, “Panggilkanlah keponakan-keponakanku kemari.” Maka kami pun datang dan rasa takut kami seperti hilang. Beliau bersabda, “Panggillah tukang cukur kepadaku.” Maka beliau menyuruhnya agar mencukur rambut kami.[41]

Menggendong di Pundak, Mengajaknya Naik Kendaraan

Abdullah bin Ja’far berkata, “Apabila Rasulullah baru tiba dari perjalanan, beliau selalu disambut oleh anak-anak ahli ahli baitnya. Suatu hari beliau baru datang dari perjalanan dan aku adalah anak yang paling terdepan menyambutnya. Maka beliau langsung menaikanku di depannya, kemudian didatangkanlah salah seorang di antara kedua putra Fathimah, Hasan atau Husein lalu beliau memboncengnya di belakangnya, dan kami bertiga memasuki kota Madinah di atas kendaraannya.”[42]

Rasulullah pernah membawa Hasan dan Husein di kedua pundak beliau, lalu bersabda, “Sebaik-baik pengendara adalah keduanya, tetapi ayah keduanya lebih baik daripada keduanya.”[43]

Segera Mencari Begitu Merasa Kehilangan

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah menuju pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku’…”[44]

Mengajarkan Etika Berpakaian

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Rasulullah pernah melihatku mengenakan sepasang pakaian yang dicelup dengan warna kuning. Kemudian Rasululah bersabda, “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu mengenakan pakaian ini?” Aku menjawab, “Apakah aku harus mencuci keduanya?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi keduanya harus dibakar.”[45]

Anjuran Untuk Tersenyum dan Mencium Anak-anak

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah mencium Hasan, sedangakan dihadapan beliau saat itu ada Al Aqra bin Habis yang sedang duduk. Al Aqra berkata, ‘Saya punya sepuluh anak, tetapi saya belum pernah mencium seorang pun di antara mereka.’ Rasulullah memandang ke arahnya dan bersabda, ‘Barang siapa yang tidak punya rasa belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihi’.”[46]

Bercengkrama dengan Anak-anak

Ya’la bin Marrah berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba, Husein bermain di jalan. Rasulullah pun segera mendahului orang-orang lalu membentangkan kedua tangan beliau. Anak itu berlari menghindar ke sana kemari. Rasulullah mencandainya hingga akhirnya beliau dapat menangkapnya. Satu tangan beliau memegang dagu Husein dan tangan satu lagi memegang kepala lalu beliau memeluknya. Setelah itu, beliau bersabda, “Husein bagian dariku dan aku adalah bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah satu dari cucu-cucuku.”[47]

Rasulullah juga pernah berbaring lalu tiba-tiba Hasan dan Husein datang dan bermain-main di atas perut beliau. Mereka sering menaiki punggung beliau saat beliau sedang sujud dalam shalatnya. Bila para sahabat hendak melarang keduanya, beliau memberi isyarat agar mereka membiarkan keduanya.[48]

Memberi Hadiah, Mendoakan dan Mengusap Kepala Anak

Ibnu Abbas menceritakan bahwa apabila Rasulullah menerima buah yang pertama masak, beliau meletakkannya di kedua mata beliau lalu di mulut dan bersabda, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepada kami awalnya maka perhatikanlah juga akhirnya kepada kami.” Kemudian beliau memberikan buah itu kepada anak yang ada di dekat beliau.[49]

Menanamkan Kejujuran dan Tidak Suka Berbohong

Abdullah bin Amir berkata, “Ibuku memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang berada di rumah kami. Ibuku berkata, ‘Kemarilah aku akan memberimu sesuatu.’ Rasulullah bertanya kepada ibuku, ‘Apa yang akan engkau berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab, ‘Aku akan memberinya buah kurma.’ Rasulullah pun bersabda, ‘Ingatlah, jika engkau tidak memberinya sesuatu, hal itu akan dicatatkan sebagai kedustaan bagimu’.”[50]

Tidak Mengajarkan Kemungkaran Kepada Anak

Ali dan Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Pena itu diangkat dari tiga orang, yaitu: orang gila dan hilang akal hingga sembuh, orang tidur hingga bangun, dan anak-anak hingga baligh.”[51]

Diantara kasih sayang Allah terhadap anak ialah Dia membebaskan mereka dari beban taklif pada masa kecil mereka. Meskipun anak itu masih kecil dan belum baligh, seseorang tidak boleh mengajarinya untuk berbuat maksiat. Misalnya, mengajarinya minum-minuman keras, berbuat kejahatan, merokok, berbuat buruk, mencela, mencaci, berucap cabul, dan perilaku serta ucapan buruk lainnya.

Sumber:

Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010

 


[1] Muttafaq Alaihi.

[2] Abu Dawud dengan sanad hasan, 1525

[3] Ibnu Majah, Kitab Janaiz, 1632

[4] Abu Dawud, Kitab Adab, 5105 dan At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1514

[5] Tuhfatul Maudud, Ibnu Qayyim, 39

[6] Muslim, Kitab Adab, 4000

[7] Lihat Kitab Ash-Shahihain.

[8] Al Hadits Al Mukhtarah: VI, 2197

[9] Shahih Al Adabul Mufrad, 485

[10] Shahih Ibnu Majah, 2240 dan Majmu’uz Zawaid: IV, 225

[11] Shahih Al Jami’, 328

[12] Muslim, 1639

[13] Muslim, 3298

[14] Shahih Al Jami’, 4184; Ibnu Majah, Kitab Dzabaih, 3156; dan At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1442

[15] Shahih Al Jami’, 4185

[16] At Turmidzi, Kitab Adhahi, 1435

[17] Abu Dawud, Kitab Dhahaya, 2460 dan Fathul Bari: IX, 594

[18] Shaihul Mufrad, 625; Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: X, 578

[19] Muslim, Kitab Adab, 3975

[20] Muttafaq Alaih

[21] Muttafaq Alaih.

[22] Abu Dawud, Kitab Adab, 4304 dan Nasa’i, Kitab Adabul Qadha’, 5292

[23] Muttafaq Alaih.

[24] Zadul Ma’ad: II, 304

[25] Muttafaq Alaih.

[26] Bukhari, Kitab Adab, 5544; dan Ahmad, Musnadul Anshar, 20788

[27] Muttafaq Alaih.

[28] Muwattha’, Kitab Janaiz, 480 dan Aunul Ma’bad: VII, 362

[29] Shahih Sunan Ibnu Majah, 67

[30] Shahih Al Jami’, 1023

[31] Bukhari, Kitab Janaiz, 1171

[32] Shahih Al Jami’, 6649

[33] Bukhari, Kitab Adzan, 667

[34] Bukhari, Kitab Adab, 5375

[35] Muslim, Kitab Al Alfazh Minal Adab, 9585

[36] An Nasa’i, Kitab Tathbiq, 1129

[37] Muttafaq Alaih.

[38] Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’, At Turmizi: VI, 46

[39] At Turmizi, Kitab Manaqib, 3774; an Nasa’i, Kitab Shalatil ‘Adhain, 1567

[40] Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3663

[41] Abu Dawud, Kitab Tarajul, 3660

[42] Muslim, Kitab Fadhailush Shahabah, 4455

[43] Mu’jamul Kabir: III, 2677

[44] Takhrijnya telah disebutkan sebelumnya.

[45] Muslim, Kitab Libas waz Zinah, 3873

[46] Shahihul Adabul Mufrad, 67

[47] As Silsilatush Shahihah, 312

[48] Shahih Al Jami’, 4797

[49] Shahih Al Jami’, 4644

[50] Ahmad, Musnadul Makiyyin, 15247 dan Abu Dawud, Kitab Adab, 4339

[51] Shahih Al Jami’, 3512

http://mahluktermulia.wordpress.com/2011/01/04/466/

Berhati-hatilah dalam mencurigai orang lain

Pesan yang Sangat Penting untuk Seluruh Murid
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
26 Februari 2014 Lefke, Siprus

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Segala sesuatu berubah di seluruh dunia: perjanjian baru, perjanjian lama, orang baru, orang lama, masya-Allah di mana-mana terjadi perubahan. Kita berharap untuk yang lebih baik, bukan lebih buru.

As-salaamu alaykum, yaa ahli Rasuulillah, Wahai Ahli Rasulullah! Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana, kita mengharapkan persatuan, tetapi ada juga yang ingin memecah belah, semoga Allah tidak membuat kita bercerai-berai. Saya berdoa kepada Allah untuk semua perubahan yang terjadi di mana-mana, semoga Allah membuatnya mudah bagi setiap orang dan semoga Allah menyelamatkan kita dari tangan-tangan yang tidak benar.

Bismillahi ‘r-Rahmani’ r-Rahiim. Nabi (s) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman:

أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي
Anaa jaliisu man dzakaranii.
Aku bersama orang yang mengingat-Ku. (Ahmad, Bayhaqi)

Alhamdulillah, kita harus mengingat Allah dan melakukan zikir, tetapi bukan dengan kalbu yang penuh dengan nifaaq–nifaaq, munaafaqa, nifaaq adalah salah. Jangan melakukan zikir dan mempunyai nifaaq di dalam kalbu kalian!

Read more »

becik lan mbeciki

Malam Jum’at Kemarin (30,01,2014)ada dzikir bersama KH. Mushtofa Mas’ud (akrab dipanggil Syekh Mus) beliau merupakan cucu dari KH. Romli peterongan Jombang, penyusun Istighosah yang biasa dibaca oleh masyarakat sekitar.

Beliau banyak menasehati semua yang hadir untuk “becik mbeciki” baik dan berbuat baik. bahkan menjelaskan jangan sampai ada tidak hari tanpa melihat tetangga sekitar, apakah ada yang perlu bantuan, bantu-bantu semua orang dan orang itu tidak bisa dikatakan baik kecuali ia bersama orang lain kemudian ia berbuat baik kepada mereka. dan

menjelaskan perkataan Syekh Bahauddin Naqsybandi “khayru fii jama’iyyah” bahwa kebaikan seseorang itu hanya dapat terbukti  ketika banyak orang (jama’ah), apakah memberikan manfaat bagi orang lain.
Sholat dikatakan baik bila tercermin setelah salam dan berkumpul dengan keluarga dan orang lain, Haji tidak dikatakan baik kecuali bagaimana ia setelah pulang dan kembali ke masyarakat.

Read more »

bagaimana cara Memajukan Majelis Taklim?

Rahasia Habibana Munzir dalam memajukan Majelis Taklim hingga di banjiri para pemuda

ini dari Habibana Munzir dulu …

Habibana Munzir berkata :

Saudaraku ada teman kita yang bertanya bagaimana cara Memajukan Majelis Taklim?

wah saya ngga tau jawabannya nih, cuma beberapa hal yg saya lakukan dalam memajukan majelis adalah :

1. jiwa yg sangat teramat mencintai Nabi saw, merindukan beliau saw dan memuliakan beliau saw dg kecintaan yg melebihi cinta pada seluruh makhluk Nya swt, dan saya jadikan cinta kepada beliau saw itu merupakan bakti saya pada Allah swt.

2. semangat untuk mengamalkan sunnah beliau saw dan sangat haus terhadap segala hal yg bersifat sunnah.

Read more »

Ajaran Tarbiyah Rasulullah saw Untuk Para Umatnya , habib Munzir Almusawa

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Saturday, 10 May 2008
Ajaran Tarbiyah Rasulullah saw Untuk Para Umatnya
Senin, 25 Februari 2008

Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, Maha luhur, Maha menguasai kehidupan, Maha menguasai ruh dan menempatkannya di dalam jasad, Maha memilihkan tempat bagi ruh, untuk muncul di dalam jasad hambanya, sehingga ruh itu mempunyai alat untuk berbicara, sehingga ruh mempunyai alat untuk melihat, mendengar dan berbuat dengan pancainderanya,sehingga ruh diberi manqodzah dan derajat yang mulia oleh Allah untuk termuliakan, semakin dekat kehadiratullah jalla wa’ala, sehingga dijadikanlah tubuhnya ini alat untuk mencapai keridhoan Ilahi, sehingga dijadikanlah tubuhnya itu sebagai alat untuk mencapai keridhoan Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, Ketika selesai izin Robbul’alamin bagi seorang hamba untuk hidup di atas bumi Nya, selesai izin baginya untuk makam dan minum dari rizki di atas bumi-Nya, selesai izin dari Allah bagi bamba-Nya untuk memakai panca inderanya dalam hidupnya, maka Allah memisahkan ruh dengan jasadnya. Jasad dikembalikan kepada asalnya diperut bumi dan berpadu dengan tanah dan ruh mendapatkan pembawa kemuliaan yang dibawanya dimasa hidupnya ataupun membawa kehinaan yang ia lakukan dimasa hidupnya. Kembali ruh berpisah dengan jasad sebagaimana sebelum ia masuk ke alam dunia, iapun kembali berpisah dan selesai di alamulbarzah didalam pertanggungan jawab atas setiap detik masa hidupnya dimuka bumi.

Ya Allah yang Maha membangkitkan kealam penyeru kejalan keluhuran, yang seruan sang Nabi ini dilangsungkan dan diteruskan dari zaman-kezaman dari generasi ke generasi cahaya hidayah dilangsungkan oleh Allah dari jiwa mulia menuju jiwa mulia, menerangi hati si fulan menularkan cahayanya kepada jiwa lainnya, demikian rahasia kemuliaan kebangkitan (yaitu) sayyidina Muhammad SAW wabarik ‘alaih. Kemuliaan dari satu jiwa yang dipenuhi hikmah Ilahi, dipenuhi cahaya kemuliaan al-Qur’anulkarim, lantas disampaikan kepada jiwa-jiwa suci Muhajirin dan Anshor, mereka menerima kemuliaan cahaya risalah dan bimbingan-bimbingan sang Nabi, mereka menerima budi pekerti terindah, menyaksikan makhluk yang paling indah, menyaksikan budi pekerti yang paling indah, menyaksikan akhlak yang paling suci, sehingga mereka tenggelam meninggalkan seluruh idolanya, mereka tidak mengenal idola yang lain, selain Nabiyyuna Muhammad SAW, mereka lupa dengan semua yang mereka cintai, mereka asyik kepada manusia yang paling lembut dan berkasih sayang, manusia yang paling banyak tersenyum, manusia yang paling ramah, SAW wabarik ‘alaih, sehingga Allah memuji sang Nabi dalam Firman-Nya: “ Waman ahsana qoulan mimman da’aa ila Allah wa ‘amila sholihan wa qoola innanii minal muslimiin”
“Adakah ucapan yang lebih indah kata Allah selain ucapan orang yang menyeru kejalan Allah dan kepada amal sholeh dan berkata sungguh aku adalah orang yang muslim”

Maka jatuhlah memahaman kita sedemikian banyak para penyeru kejalan Allah dan kepada amal yang sholeh, akan tetapi pemimpin mereka semua Sayyidina Muhammad SAW. Pemimpin penyeru kejalan Allah.
“ Innaa arsalnaaka syahidan wa mubasyiron wa nadziron wa daa’iyan ila Allah bi idznihi wa siroojan muniroo”
Pelita yang terang benderang adalah gelar dari Allah, untuk Nabi-Nya Muhammad SAW. Alangkah indahnya gelar ini digelari oleh Allah “Siroojan muniroo” pelita yang terang benderang, yang para shahabat ketika dalam keadaan sedih maka mereka mencari-cara untuk sampai menghadap sang Nabi sehingga kesedihannya ketika memandang wajah manusia yang paling ramah, manusia yang paling tidak ingin menngecewakan orang lain, (adalah wajah) Muhammad Rasululah SAW.

Read more »

toko kecil-kecilan

Mungkin masih idaman, rasanya pengen punya toko walau kecil-kecilan, punya 2 pegawai (sift page dan sore).

Sift pagi sholat dhuha dandoa bersama sebelum buka, dan sift sore sholat malam dan doa bersama sebelum tutup.

moga tokonya bukan hanya manfaat di dunia tetapi juga ada manfaat buat akhirat.

 

Pengeluaran perbulan

untuk sewa/ listrik Rp. 1.000.000

gaji 2 pegawai Rp. Rp. 1.000.000

Bagian tetap pemilik Rp. 1.000.000

shodaqoh Rp. 100.000

Laba bersih dibagi 30% untuk pegawai, 10% shodaqoh, 20% kas toko (pengembangan), 40% pemilik

 

trus…………………

Tahlil Kubro

pengen cetak buku saku untuk pergi2 ziarah, ndk seperti kemaren. bacanya tidak terarah.

buku saku tersebut berisi

1. salam masuk makam dan niat

2. qosidah salam

3. Tawasul

4. Yasin

5. Tawasul

6. istighosah

8. tawasul

9. tahlil

10. doa

11. qasidah  rijalalloh

 

terinspirasi oleh buku yang ku terima dari jama’ah al ikhalas pimpinan ust. sofi dulu. isinya haruslah sesuai dengan yang masyhur di daerah sekitar agar dapat dipakai pegangan.

Siapa yang punya filenya ya? ada yang bisa bantu? cetaknya gimana?

Berhaji dengan Rp. 100.000

Hari ini ke bank jatim walau hanya untuk menabung sedikit (he3, ikut pedoman, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukti, amin), mengambil brosur untuk tabungan haji.

Rukun Islam ada 5

1. Syahadat tauhid dan rosul

2. Sholat

3. Zakat

4. puasa

5. haji bila mampu

Kalau mengikuti hal ini (maaf dengan bahasa sok tahu) maka setiap muslim haruslah berhaji karena rukun. Seperti halnya sholat memiliki rukun salah satunya berupa ruku’, dan bila sholat tanpa melakukan ruku’ bagaimana hukumnya? sholatnya tidak sah. Bagaimana bila beragama Islam tetapi tidak berhaji?

Read more »

sekolahku di masa depan

beberapa hari ini ngobrol ngalor ngidul seputar unas, duh kasihannya pak nuh yang “digoncang” berhubungan dengan unas yang barcode dan terpusat juga distribusi yang “lemot?” (tapi juga namanya orang yang tidak kompeten jadi ya, ngomongnya kurang bermanfaat juga hanya sarana mengisi waktu) . hingga beberapa trik yang dijalankan beberapa untuk bocorin unas ke peserta didik dengan 20 paket dan 10 cadangan.

 

Teringat pengajian yang ketika dulu masih marak-maraknya mengusung isu masyarakat madani (benar-benar isu ya??? dah ganti isu sekarang ini), rame-rame banyak orang ingin menegakkan syariat Islam.

Sang Ulama menjelaskan bahwa di masa nabi dulu hukum-hukum syariat mulai diperkenalkan dan diberlakukan di madinah setelah masyarakat siap untuk melaksanakannya juga diberikan secara bertahap. seperti perintah potong tangan bagi pencuri, hal ini diperintahkan ketika di madinah hampir tidak ada pencurian dan kalupun dulu ada pencuri mereka sudah bertobat. Nabi berusaha mengentaskan semua orang dari penyakit “pencurian” hingga mental dan hati sudah meninggalkannya. baru setelah itu ada perintah potong tangan (sebagai sarana memprotek)

Allohua’lam

Read more »

tips agar terhindar sulit melahirkan

masih seperti anak kecil, sukanya game online, habis maen game perjuangan semut lewat facebook, kemudian di wall ada update status dari teman yang isinya “Apresiasi Rasulullah terhadap 4 wanita di alam ini “Cukup bagimu dr segenap wanita di alam ini (empat wanita) Maryam putri Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah isteri Fir’aun””

teringat nasehat atau bisa dibilang tips bagi istri yang akan melahirkan dari ustad Munir dari karanganyar surabaya “agar menghadiahkan fatihah untuk,empat wanita, yaitu Maryam ibu nabi isa, Khadijah istri nabi Muhammad saw, Fatimah putri nabi Muhammad saw, dan Asiyah isteri Fir’aun, insyaAllah dengan wasilah beliau, Allah melancarkan dalam melahirkan.

 

Doa

sewaktu membuka email dengan tujuan mengecek tugas anak-anak MTs Tanada untuk membuat power point tentang internet yang harus dikumpulkan melalui email pribadi. Ternyata saya mendapat email dari sahabatyusufmansur@yahoo.co.id tertanggal 31 Jan 2013 yang isinya :

Perbanyak shalawat dan doa. Supaya bisa berangkat ke Baitullah. Ke Mekkah dan ke Madinah. Umroh, atau bahkan Haji. Sesiapa yang berdoa dengan pake shalawat ga tertolak. Tinggal rajin dan sabarnya aja. Sekalian kalo udah berdoa, berdoa untuk kekayaan, kemuliaan, kesuksesan, kemudahan, ketenangan keluarga, kesalihan amal, keturunan yang baik-baik, sholeh-sholeh, untuk panjang umur, sehat badan, husnul khotimah, enak dibawa ibadah badan dan pikiran, banyak dapat pertolongan, ampunan dapat iman islam yang bagus, dan lain lain doa.
Doakan juga yang lain sebanyak-banyaknya. Doakan sekeliling kanan kiri, depan belakang, dan semua muslimin muslimat seluruh zaman. Sesungguhnya juga Allah menempatkan Malaikat-Nya yang selalu mengembalikan doa menjadi doa baginya, jika ia mendoakan yang lain.
Salam dan doa dari Masjid Nabawi untuk semua hajat, keperluan, kebutuhan, doa, masalah, dosa, dan kebaikan dunia akhirat buat semua kawan-kawan, keluarganya, turunan-turunannya, dan segenap muslimin muslimat seluruh zaman dari awal hingga akhir zaman.
Al fatihah…

sungguh indah ajakan ini, saya juga mengajak bagi saudara yang melihat potingan ini

Alfatihah…..