melihat

ketika aku mulai melihat dan mengamati sekeliling

aku mulai menyadari dan melihat bahwa setiap orang punya peran masing-masing

ibarat melihat film (bukan dari sudut pandang pemain, melainkan sebagai pemirsa), keelokan film akan terlihat, semua hal telihat saling melengkapi

aku takjub dengan semuanya, semuanya begitu berjasa dalam lingkaran kehidupan

tidak ada yang tidak bermanfaat, tidak ada yang sia-sia, mereka dengan kebaikan mereka

banyak diantara mereka mungkin tidak menyadari kebaikan dirinya, aku salut, mereka memberikan manfaat bagi yang lain

Mungkin ada sebagian yang merasa terganggu oleh mereka, tetapi apabila diselidiki, ia memberikan guna bagi yang lainnya,

memang tidak ada yang sempurna, tetapi yang mengagumkan adalah kelemahan mereka berguna bagi orang lain, ada juga ditutupi yang lain, kelemahan yang satu memicu kelebihan yang lain dan menjadi inisiator orang lain untuk memunculkan kelebihan terhadap dirinya,

jadi secara keseluruhan, terjadi suatu dinamika yang indah, mereka semua luar biasa, mereka memiliki andil untuk keluarga mereka, masyarakat mereka, semuanya, mereka mendapat peran mereka

tapi kemudian aku mencoba melihat diri, dulu ada hal-hal yang ku banggakan, eh setelah aku amati lebih seksama, rasanya nyesek, “APA GUNAKU?”

selalu bertanya dan bertanya, sebernarnya apa gunaku? semua prilaku, fikiran dan segalanya, berisi hanya kesalahan, apa manfaatku? aku benar-benar tidak bermanfaat, aku malu pada semua, aku malu pada diriku,

mungkin yang dapat ku lakukan hanyalah berdoa, bagi mereka semua yang sebenar-benar bermanfaat, semoga Allah Allah melimpahkan pahala berlimpah untuk mereka

terselip juga doa, “ya Allah, janganlah sekelilingku, mereka semua terimbas oleh ketidakbergunaanku, terimbas keburukanku” aku juga berdoa “aku ingin bersama mereka, mereka penuh kebaikan, aku ingin meniru mereka, bagaimana aku berguna, berharap barokah dari mereka”

 

dakwah bil qolbi

Setelah posting sensasi energi, permen spiritual, sekarang mengenai dakwah ….
Dakwah adalah mengajak kepada fitrah kita, mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada rahmat Allah, mengajak kepada Rahmat lil ‘Alamin , mengajak ke Rosululloh.

Setelah dipahami bahwa segala aktifitas kita menimbulkan suatu energi/ aura yang bahkan mempengaruhi sekitarnya. Maka dakwah dapat kita klasifikasikan menurut energi tersebut

1.  dahwah secara kaffah, dakwah dimana da’i (orang yang dakwah) hatinya selalu berdzikir (dekat dengan Allah), perkatan dan perbuatannya baik, membaiki orang lain serta mengajak kepada kebaikan, energinya akan sngat dhasyat, karena setiap energi dzikir darinya bersatu padu dan saling menguatkan, akan mempengaruhi orang lain secara luar dalam, menumbuhkan orang-orang yang ikhlas (satunya hati dan perbuatan dalam beribadah).

2. dakwah bil lisan, dakwah dengan berceramah, dengan berbicara kepada orang lain untuk mengajak kepada kebaikan. Dan ini ada kategori, yang hatinya ikut berdakwah (berdzikir) dan ini terbaik, kemudian ada kategori omdo (omong doang, hanya berbicara) dimana tubuh atau mulutnya memancarkan energi “kasar” sehingga menubruk fisik dan pemkiran orang lain hingga penerima dapat mengalami penerimaan (jika cocok dengan pemikirannya) atau penolakan (jika tidak cocok dengannya) tetapi energi hati “yang lebih halus nan lembut” yang tidak dapat ditolak akan selalu diterima oleh hati sang pendengar, hingga lambat laun akan menyebar ke setiap partikelnya dan mempengaruhi mental, adab dan akhlaknya.

3. dakwah bil qolb, dakwah dengan getar hati —- sesungguhnya orang yang beriman adalah yang bergetar hatinya ketika disebut nama Allah —- ini adalah dakwah dasar yang sesungguhnya (sejati), walau kita tidak mengajak orang lain, dengan kita memperbaiki hati kita, maka hati kita akan bergetar dan menimbulkan energi positif yang semakin kuat dan kuat seiring peningkatan kebersihan hati kita dan getaran dzikir hati kita. Energi tersebut akan memancar kesekitar dan memperaruhinya menjadi positif pula, akan terjadi resonansi, ikut bergetarnya hati orang lain karena getaran dzikir hati kita, yang selanjutnya akan mempengaruhi sikap dan perbuatannya. Energi ini akan lebih kuat memancar ke alam sekitar bila kita arahkan, dengan doa-doa kebaikan kita untuk alam sekitar dan sesama. Inilah esensi dari dakwah, selalu membersihkan hati dan brdzikir serta mendoakan kebaikan untuk semuanya.

Allah A’lam

permen spiritual, nikmatnya beribadah

Kebaikan/ibadah/dzikir yang kita lakukan akan menimbulkan suatu energi. Getaran dari dzikir lisan kita akan menimbulkan gelombang yang memindahkan energi, getaran dari gerakan/perbuatan kita juga begitu, bahkan getaran hati kita juga menimbulkan gelombang energi.  Energi yang timbul dan mengalir ini akan menimbulkan sensasi-sensasi energi, dan ini dapat anda baca dipostingan sebelumnya, sensasi energi, pengalaman spiritual

Tentu saja gelombang energi tersebut (kita sebut saja energi dzikir) akan berbeda, berbeda lafadz/kalimat akan menimbulkan frekuensi yang berbeda, antara frekuensi dzkir lisan dan hati tentu saja akan memiliki frekuensi yang berbeda pula. Sehingga bisa dipahami dzikir lisan dapat kita dengar dengan telinga kita, tetapi dzikir hati ini tidak dapat terdengar karena energi dzikir jenis ini lebih halus lagi. Tetapi bagi orang yang sensitif, energi dzikir ini dapat ditrafsirkan hingga menimbulkan sensasi-sensasi energi, seperti ketenangan hati, penglihatan-penglihatan, gerakan, atau lain-lain.
(mohon maaf bila menguraikan/menganalogkan dzikir dengan energi, karena mungkin ini pendekatan yang enak, dan sedang dari sudut ruh, wah ini bagi orang khusus yang saya gak bisa membayangkannya)

Seperti postingan sebelumnya, sensasi-sensasi seperti ini ada yang menganggapnya sebagai “PERMEN SPIRITUAL”, yang ibarat anak kecil, kita akan lebih giat ibadah bila diberi reward permen. Dan seperti saya, permen saja belum mendapatkan, hehehe …. jadi sibuk bayangkan permennyaa….

Apakah “permen spiritual” “sensasi-sensasi energi” seperti itu salah? Karena saya masih tingkat mencari permen, ya tentu saja jawaban saya “hal tersebut OK, bahkan oleh banyak orang, hal ini diperlukan sebagai motivasi ibadah” (berbeda orang yang imannya sangat kuat, yang tetap istiqomah tanpa permen, bahkan tetap istiqomah dengan jamu pahit). Yang menjadi salah, apabila menafsirkannya dengan hawa nafsu kita (dapat terjebak dengan tipu daya nafsu dan setan) sehingga menimbulkan sesuatu yang salah diakhirnya. Maka sangat penting untuk merahasiakan “rasa permen” tersebut dan hanya boleh membicarakan/konsultasi hanya dengan orang yang kompeten dalam hal tersebut.
Salah konsultasi/bercerita dengan orang yang salah, dapat menimbulkan rasa sombong atau salah menafsirkannya hingga tidak mendorong kepada ridlo Allah, malah terjebak dengan was-was atau mengikuti tipudaya nafsu dan setan. Seorang mursyid “guru spiritual” yang memenuhi kualifikasi sangat diperlukan. Beberapa ciri utamanya, perbuatannya sesuai sunnah nabi, rendah hati (memandang orang lain lebih baik dari dirinya), menyayangi semua orang tanpa membedakan status, agama, perilaku dll (karena beliau hanya melihat, semuanya adalah hamba Allah, seperti halnya sifat Rohman Rohimnya Allah).

Btw……. saya pernah terpancing dengan sebuah sponsor minuman kemasan yang katanya “teh dapat mengatasi lemak” setelah beli, kemudian mengamati label komposisinya, ternyata disitu hanya tertulis teh 2%, ada juga yang teh tradisional alami, eh ….. dilihat labelnya tehnya hanya 4%, dan rasa yang lain adalah perisa identik teh dan penguat rasa.

Hehehe ….. mengapa kok cerita teh ? ini dapat dianalogkan dalam pembahasan permen spiritual ini. Sebelumnya saya mengatakan bahwa “permen seperti ini OK” tetapi yang harus diperhatikan adalah …… apakah ini permen “asli alami”? ….. permen yang yang dibuat dari sari buah dan gula asli akan memberkan manfaat, tetapi permen campuran bahan kimia berbahaya, maka akan menimbulkan masalah dibelakang hari, walau awalnya sama manisnya bahkan lebih enak dari pada yang “asli alami”
Bukan hanya permen fisik, permen spiritual dapat dipandang seperti itu juga, karena kurang sensitif kita akan “spiritual sesungguhnya” diakibatkan oleh kerak-kerak hati dan banyak tumpukan persepsi-persepsi yang telah tertanam di alam bawah sadar kita, sehingga kita tidak dapat membedakan antara “permen alami” dengan “permen sintesis”.

Dalam hal dakwah misalnya ….. dakwah adalah mengajak kepada agama (spiritual) dan kebaikan …. dapat saja seorang da’i berbicara penuh dengan Al Qur’an Hadizt, kata-kata kebaikan … dan ini menimbulkan energi di frekuensinya, energi ini yang masuk ke telinga kita kemudian disampaikan ke otak kita untuk diterima dan diolah ….. tapi jangan lupa, gerak hati juga menimbulkan suatu energi difrekuensinya, energi ini akan ditangkap oleh seluruh tubuh kita terutama oleh hati kita yang sensitif dengan energi semisal ….. bagaimana jika antara lisan dan hati tidak singkron? Lisan mengatakan kebaikan tetapi hati penuh keburukan? Maka telinga/otak kita akan menerimanya sebagai kebaikan, tetapi hati kita akan menerima “perkataan” hati si da’i …. maka sangat tepat nasehat “banyak yang hafal Al Qur’an Hadist, tetapi sukanya mengkafirkan orang lain” … banyak orang yang mengakwahkan kebaikan tetapi keburukan justru yang malah merajalela.

Energi yang masuk ke hati/jantung akan berjalan melalui nadi/jalur-jalur energi sehingga menyebar ke selurh tubuh yang akibatnya akan terefleksi kedalam orang tersebut, bahkan energi dari otak dapat terblok olehnya (pernahkan ingin berbuat kebaikan tetapi menunda-nunda atau malah gak jadi? …… alam bawah sadar inilah, energi halus inilah yang lebih mempengaruhi orang daripada alam sadarnya. ….. ungkapan dakwah adalah dari hati hati mungkin sangatlah tepat …. ilmu adalah cahaya dihati …. ilmu adanya dihati, karena dari hati inilah energi ilmu/dzikir akan menyebar  dan mempengaruhi seluruh tubuh.

Kembali kepada permen ….. indra fisik + otak dapat peka akan gelombang energi-energi pada rentang tertentu, kasar-halus, dan energi hatii ini lebih halus lagi, hingga energi yang terpancar dari hati lebih sulit untuk dirasa, sehingga sensasi-sensasi spiritual hati juga lebih sulit terasa oleh kebanyakan orang, …. sehingga adakalanya permen tersebut diberi penguat rasa, sehingga oleh otak lebih mudah merasakan, tetapi dengan ini juga sangat dimungkinkan diberikan zat adiktif-adiktif dengan cita rasa identik agar “permen sintesis” terasa enak dan terasa alami.

Di zaman akhir ini, akan banyak yang berbau islami tetapi tidak islami, bercitarasa spiritual tetapi jauh dari spiritualisme, pengalaman fikiran berlabel pengalaman ruhani …… permen sintesis (banyak zat tak bermanfaat atau bahkan berbahaya) awalnya akan terasa nikmat bahkan membuat ketagihan, tetapi setelah bertahun-tahun, zat-zat ini akan menumpuk dalam tubuh hingga memicu timbulnya penyakit-penyakit yang berbahaya bahkan dapat lebih berbahaya daripada penyakit fisik secara langsung.

Maka akan banyak metode-metode yang mempermainkan fikiran dan perasaan, otak seseorang sehingga menimbulkan sensasi-sensasi “kebenaran” yang dibalik itu semua hanyalah permen-permen sintesis. Ingatkah ceramah atau lagu yang mendayu-dayu hingga kita tertawa senang atau menangis sedih? Gelombang energi kuat oleh sang penceramah atau penyanyi mengalir pada diri kita, bila hal itu bercampur dengan energi hati (yang lebih halus) yang kotor, maka semua akan mempengaruhi kita, sensasi energi/emosi yang telah menguasai kita dapat menutupi sampah/racun energi yang masuk, sehingga kita merasakan sensasi luar biasa dan dipihak lain kita sedang menumpuk energi penyakit (penyakit hati).  Sangat sesuailah nasehat …. telitilah darimana engkau akan mengambil ilmu.
Sungguh luar biasa orang yang hati dan lisannya berdzikir, ia berirama sama, dalam frekuensi kesesuaian, interferensi saling membangun, yang dalam keterangan-keterangan, inilah dzikir yang terbaik, keduanya berdzikir. Tetapi bila tidak dapat maka, dzikir dengan hati lebih baik, dan bila masih belum sanggup, maka paksalah hati untuk berdizikir dengan dzkir lisan dengan keras, agar telinga mendengar tembus ke fikiran dan hati.

….. HOW …… kalau difikir fikir, ni saya posting begini tu karena rasa iri terhadap orang yang telah merasakan sensasi-sensasi spiritual, karena saya belum merasakannya, dan juga untuk menguatkan kesombongan diri memberi alasan untuk memandang rendah orang-orang  yang telah merasakan nikmatnya ibadah. …. astaghfirulloh …. bagaimanapun, semoga ini juga ada manfaatnya bagi yang lain.

—- By The Way ‘’’’’’’’ bolehlah bagi anak kecil seperti saya (dalam hal agama, walau usia dah besar) sesekali membeli makanan instan/permen sintesis, tetapi tidak boleh terlalu sering agar tidak terlalu banyak racun ditubuh hingga tubuh tidak dapat menghilangkannya. Dan harus berusaha mencari permen “asli alami bergisi” dengan jalan apa? Karena juga tidak dapat membedakan mana yang organik dan mana yang kimiawi, maka dengan bersama dengan teman yang dapat membedakannya atau yang mengeti tempat-tempat untuk membelinya, dan atau membeli hanya kepada penjual terpercaya yang menjual permen bergizi untuk kita. …… tombo ati iku …… kumpulono wong kang sholeh.

Note ….. untuk memberi asupan gizi pada anak kecil, maka metode mengemas makanan bergizi menjadi permen atau hal-hal menarik diperlukan agar si anak menyukainya (tapi utamanya adalah asupan gizi tersebut) …… harga permen “organik bergizi” lebih mahal daripada permen “sintesis” ….. maka sangat mungkin dalam membeli permen spiritual “sintesis” ibadah akan terasa lebih enteng dan rajin, tetapi terkadang membeli permen spiritual “bergizi” ibadah terasa berat untuk melaksanakannya dan penuh perjuangan rasanya dalam melaksanakan hal tersebut, maka tetap laksanakan ibadah tersebut dengan istiqomah, belilah permen yang bergizi walau dengan harga yang lebih mahal, karena lebih menyehatkan.

Bagi orang dewasa …. permen mungkin sudah tidak menarik untuknya, kebutuhannya adalah makan makanan sehat bergizi walau hambar rasanya, bahkan bila merasa sakit, jamu pahitpun akan dimunumnya, bahkan operasi yang menyakitkan akan dijalaninya agar sembuh dari penyakitnya. Kita? Permen saja belum kita dapat.
Salam dari fakir, pengemis, pemulung, pencari permen.

sensasi energi, pengalaman spiritual

wejangan kemaren jum’at mengingatkan lagi bagaimana “sensasi spiritual” atau lebih enak dibilang “sensasi energi”

di awali oleh curhat seseorang, bagaimana tentang apa yang dirasakan ketika ikut berdzikir atau keadaan-keadaan tertentu di hati.

saya sih gak ngerti “spritualisme” benar-benar buta akannya …. dihubungkan dengan energi saja biar enak dipahami, karena memang kemaren dianalogkan dengan energi, teima kasihku nara sumber ….

yang selanjutnya diolah sendiri agar lebih enak dipahami.

mungkin sebelumnya bisa search di blog ini mengenai aura, energi, sensitifitas, cos klo gak salah ingat, dah pernah share (copas lebih tepatnya …. hahahaha …… masih plagiat super copas, maklumnya miskin ilmu)

sekilas saja, energi? setiap orang memliki energi untuk beraktifitas, diantaranya adalah gelombang elektromagnetik (aura) (gelombang adalah getaran yang merambat kata fisika, setiap partikel yang ada selalu bergerak hingga terpancar suatu energi darinya, bahkan aktifitas hidup adalah proses peralihan energi, menyerap dan memancarkan)

kalau dihubungkan dengan spiritual, maka dzikir kita, suara kita adalah gelombang dari lidah dan pita suara kita yang bergetar, sehingga suara kita adalah energi (kasar karena dapat kita dengar), tubuh kita juga bergerak mengikuti dzikir kita, ini pun menimbulkan gelombang energi, jatung/hati kitapun bergetar berdzikir, ini juga menimbulkan energi gelombang (halus, karena tidak terdengar/terlihat dll)

gelombang sendiri dapat juga bersifat sebagai partikel (dualisme gelombang), sehingga sangat dimungkinkan gelombang yang terpancar akan menubruk partikel yang lain, mempengaruhi gelombang atau partikel yang berhubungan dengannya.

merasakan aura? coba saling hadapkan telapak tangan, konsentrasi (fokus) untuk meningkakan sensitifitas kita, dengan merasakan “sensasi” apapun yang terasa di telapak tangan, panas, dingin, kesemutan, semilir angin, adanya tekanan tertentu, tak terlihat atau yang lain …… coba gerakkan sangat perlahan mendekat dan menjauh sekitar 10-30 cm (sangat perlahan), insyalloh mudah merasakannya.

sensasi tersebut? adanya gelombang/partikel/energi yang “menyentuh” sistem sensorik kita, sistem saraf akan bereaksi mengirimkan bio-bio listrik ke otak untuk mengolah data yang diterima, kemudian ditafsirkan agar lebih dimengerti. hasil tafsirannya dapat jadi seperti tafsiran pada kulit, sentuhan-sentuhan, pada lidah rasa-rasa, pada mata penglihatan-penglihatan, pada telinga suara-suara dll.

“gila” mungkin dikarenakan adanya konsleting, salah jalan atau overlap pada saraf pengolah, dapat jadi saraf ketawa yang bekerja hingga ia selalu ketawa, rangsangan apapun direspon dengan ketawa dll.

mengapa jin bentuk pocong hanya lazim di indonesia? zombie, vampir dll di luar negeri? mengapa hantunya kok beda-beda tiap negara? kemungkinan besar karena tafsiran rangsangan dari otak, ketika ada “energi tak dikenal” maka ia akan mengadakan pendekatan-pendekatan sesuai ingatan orang tersebut. Jin ->ada hubungan dengan alam ghoib-> alam ghoib dekat dengan kematian-> kematian dekat dengan perawatan mayat -> diindonesia mayat biasa dipocong (maka terlihat mirip pocong), ada yang alam bawah sadar takut monyet berbulu (hingga terlihat sosok berbulu), ada yang pernah melihat kecelakaan dengan mayat sangat berantakan (maka terlihat wajah buruk berantakan), dll atau campuran ingatan-ingatan tersebut, sesuai dengan ingatan “terpendam” kita untuk lebih dapat mengerti energi tersebut.

an sangat mungkin saja, energi yang sama, akan dideteksi (ditafsirkan) berbeda oleh orang yang berbeda, karena sistem saraf berbeda yang mengsekusi dan juga ingatan berbeda yang telah tertanam didalamnya.

mengapa ada yang dapat melihat/merasakan hal-hal tsb dan sebagian tidak? sangat terkait dengan sensitifitas orang, ingatkah kita merasakan masakan pedas, untuk kita biasa saja, tapi menurut orang lain terasa sangat pedas, mengapa? panas-dingin juga begitu, bagaimana dengan energi/pertikel/gelombang yang halus? Sensitifitas orang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun kejiwaaannya.

apakah sensasi yang dirasakan mempengaruhi jenis dan besar energi? telah disebutkan diatas bahwa sensifitas tip orang berbeda, contoh ada sambal dengan 5 cabe rawit, si A merasakan sangat pedas, si B merasakan nikmat dan si C tidak merasakan apa-apa, apakah rasa yang berbeda dari si A, B atau C mempengaruhi jumlah cabe? jumlahnya tetap 5, hanya saja sensasi mereka berbeda-beda. jadi jenis dan besar energi yang sama akan dirasakan berbeda oleh tiap orang.

Tapi sebaliknya, jenis dan besar energi yang berbeda akan menimbulkan sensasi yang berbeda, bahkan dapat memaksa orang yang tidak sensitifpun akan merasakannya. ontoh si A, B dan C tersebut memakan 5 cabe seperti diatas, bagaimana jika dipaksa makan 30 cabe? dapat saja si C  yang awalnya tidak merasakn apa-apa, dengan cabe sigitu juga akan merasa kepedasan juga. untuk si A? bisa jadi pingsan atau malah jadi mati rasa…. Hal ini mungkin juga analog untuk orang yang merasakan energi, dengan energi sgini ada yang sensitif dan ada yang tidak, tetapi ketika energinya diperbesar, maka semua akan dapat merasakan hal tersebut.

apakah energi yang tidak terasa itu tidak kuat? ini juga tidak dapat dibuat patokan, tetapi secara wajarnya memang iya, tapi ….. contoh tersebut diatas bahwa si A dengan cabe 30 dapat saja pingsan atau lidahnya mati rasa hingga tidak terasa apa-apa, pernah minum air yang sangat panas? suara yang dapat kita dengar antara 20-20.000 Hz, sehingga suara dibawah atau diatas frekuensi tersebut tidak dapat kita dengar, cahaya (penglihatan) juga hanya gelombang rana cahaya tampak saja yang dapat kita lihat dengan mata kita. sangat bergantung dari toleransi dari sensitifitas kita, bila energi tersebut lebih kecil atau jauh lebih besar dari toleransi sensitifitas kita, maka kita juga tidak akan dapat merasakan atau menafsirkan juga.

bagaimana menyikapi dengan sensasi energi ini? sensasi-sensasi “metafisik” merupakan persepsi dari otak kita, jadi sangat penting membersihkan persepsipersepsi (ingatan-ingatan terpendam/taksadar) agar memberikan tafsiran yang lebih objektif. Penting juga untuk mengasah kepekaan ini agar lebih banyak memahami hikmah-hikmah yang telah diberikan kepada kita. TAPI HAL YANG PENTING seperti yang disampaikan oleh beliau narasumber “tidak perlu diperhatikan apakah sensasi tersebut bercampur dengan persepsi kotor kita atau objektif seperti apa adanya, yang lebih penting adalah mengembalikan hal tersebut kepada Allah, dipasrahkan ke Allah, di ikhlaskan ke Allah untuk mencari ridlo Allah saja, ridlo ALlah yang terpenting dan yang lain kurang penting”

Ini semua hanya ruang lingkup energi, dalam istilah narasumber sih “jiwa” bagaimana dengan ruhaniyah? “spiritual sejati” Allah yang lebih mengetahui dan orang-orang pilihanNya yang diperitahukanNya.

wal hasil ….

kita harus berusaha menggetarkan pitasuara/lidah untuk berdzikir dengan lisan, menggetarkan tubuh untuk berdizir dengan perbuatan, menggetarkan jantung/hati untuk berdzikir dengan qolb, menggetarkan setiap sel/partikel tubuh dengan kullujasad.

akhir ……

Allah A’lam

 

belajar Ikhlas dari “pup”

jorok emang, mbahas kok bahas BAB/ “pup”, tapi ini terinspirasi oleh diskusi emnegnai ikhlas, dan ada yang melontarkan
“ikhlas itu ibarat pup”
bukan berarti menyamakan ikhlas dengan pup, tetapi apaun itu, kejadian apapun dapat kita ambil hikmah dan pelajarannya.
sehingga tidak salah bila kita mengaji “PUP” Vs Ikhlas

1> tidak makan maka tidak “pup”, karena “pup” adalah mengeluarkan sisa makanan dari makanan yang telah dimakan sbelumnya.
keikhlasan juga bisa seperti itu, amal kita ibarat makanan. jadi bila tanpa amal, bagaimana kita akan ikhlas? sehingga keliru apabila punya prinsip, lebih baik tidak beramal dari pada tidak ikhlas. hal tersebut dapat dibenarkan apabila, kita sudah terlalu banyak amal seperti para ulama dan sholikhin, sehingga kita dapat memilihnya, mana yang ikhlas dan yang mana yang tidak, meninggalkan yang tidak ikhlas dan hanya mengerjakan yang ikhlas. untuk kita? belum pantas kiranya, amal kita begitu sangat sangat kurang, sehingga mungkin pantas menggunakan, dalam hal darurat maka diperbolehkan makan seadanya.

2> makanan sehat mendorong “pup” yang sehat pula. makanan yang kotor “beracun” tidak sehat, akan membuat tubuh sakit, “pup” juga akan bermasalah.
bila sebelumnya, kita harus beramal sebanyak-banyaknya, yang perlu diperhatikan adalah, kita harus beramal yang baik, jangan dulu memikirkan ikhlas atau tidak, cukup berusaha memperbanyak amal yang baik dan meninggalkan amal yang buruk.

3> makanan yang dimakan, masuk ke tubuh melalui mulut, kerongkongan, lambung, usus baru dapat “pup”. ada proses yang terjadi sebelum “pup”
keikhlasan juga seperti itu. hal tersebut bukanlah terjadi bim salabim, melainkan ada proses yang terjadi. Hal ini harus kita sadari bahwa keikhlasan akan tumbuh setelah kita berlatih dan berlatih dalam beramal. jangan pernah meninggalkan amal hanya karena alasan tidak ikhlas, justru beramal terus dan terus, dengan istiqomah dan memperbaiki amal tersebut, hingga suatu saat keikhlasan itu dapat diperoleh.

4> “pup” sehat itu apabila didalam usus besar didukung oleh air yang cukup, serat yang cukup, bakteri baik yang banyak, dan cacing pengganggu yang sedikit.
keikhlasan dapat tercapai dengan baik bila amal kita cukup, niat pendorong untuk beramal juga baik, memiliki teman yang baik dan godaan beramal yang harus dihadapi. pahala yang kita peroleh bergantung pada niat yang terbersit dalam hati (alasan mengapa beramal), bagaimanakah amal tersebut, usaha yang kita laukukan dan berapa kesulitan yang harus kita hadapi untuknya?

5> “pup” terkadang juga tidak tuntas, terasa masih mengganjal. hal ini sudah lebih baik dari pada tidak dapat “pup” sama sekali.
keikhlasan juga bertingkat-tingkat, Ada yang HANYA ALLAH, ada yang mencari akhirat karena Allah atau juga mendapatkan dunia seperti yang diperintahkan Allah dalam meraih akhirat. sudah ada unsur ikhlas itu sudah luar biasa walau dari tingkat terbawah, yang harus diusahakan adalah menigkatkan kadar keikhlasan kita. dengan apa? pup sehat dengan badan yang sehat, makanan sehat dan pola hidup sehat.

6> kegiatan “pup” adalah kegiatan jujur. bila sudah kebelet yang akan “pup”, tidak dapat membohongi diri, misalkan pura-pura pup.
keIkhlasan adalah mengenai kejujuran kita, samanya lahir dan batin. kita bersedekah karena hati kita ingin bersedekah, bukan kita bersedekah karena kita ingin terkenal (misalnya). meraih keihlasan juga dapat kita latih dengan belajar jujur akan kata hati, jujur dalam bertindak, jujur dalam berbicara.

7> bila “pup” apalagi kebelet berat, maka kita tidak akan perduli dengan pikiran orang lain. sebisanya kita mencari toilet, bila tidak tertahan, keluar tak tertahan juga dapat terjadi.
keikhlasan adalah mengenai ketidak perdulian kita atas penilaian orang lain terhadap amal yang kita lakukan. kita hanya melakukan, “dah begitu saja”. awalnya kita berusaha untuk berusaha agar amal kita tidak diketahui orang lain, tetapi bila terpaksa, maka dilihat-orang lain atau tidak juga tidak dapat menahan kita dalam beramal. kita beramal karena Allah (harus), bukan karena prikiran orang lain, bahkan walau dicela sekalipun tidak akan menahan kita.

8> selesai “pup”, kita akan merasa ringan, bahkan sensasi ketika “pup” juga akan lupa, berapa yang telah dikeluarkan juga tidak pernah dihitung.
keikhlasan adalah mengenai lupa akan amal kebaikan kita, mungkin sebelum beramal, banyak hal yang terlintas dalam benak kita, tetapi setelah beramal, kita akan melupakannya, kita tidak ingat berapa amal yang telah kita lakukan, tidak pernah memilih ini dari amal ini atau itu, atau alsan beramal ini atau itu, bahkan lupa bahwa pernah beramal.

9> membicarakan “pup” adalah hal tabu, memikirkanya saja dapat memancing muntah. membicarakan “pup” pada orang yang makan dapat memicu muntah atau menghilangkan nafsu makan.
keikhlasan bukanlah suatu pembahasan, keikhlasan mengenai perbuatan. tidak perlu membahas terlalu dalam, karena dapat saja memicu malas beramal dengan alasan belum dapat ikhlas, mengingat amal-amal yang sebelumnya hingga memuntahkan (membicarakannya) dan terjebak riya’. cukup lakukan amal baik, nikmati prosesnya, pasrahkan kepada Allah dan lupakan, karena Allah maha mengetahui. itulah Ikhlas.

maaf
Allah A’lam

ngaji dan dzikir, dengan fikiran ngelantur ????

Saya gak ngerti dengan yang lain, ketika ngaji di depan guru atau ikut majelis dzikir wah fikiran malah neglantur, jalan-jalan ke sana ke mari.

Malu (hanya omongan tog) terutama di hadapan guru/orang yang dapat membaca isi hati ini, tapi ya gitu ….. saya bilang omong tog, terbukti, fikiran tetap saja melayang walau berkata malu.

Seumur-umur, sangat penasaran, apa itu khusuk? bagaimana rasanya khusuk itu?

Di dalam majelis “guru” mulia, sungguh memalukan membawa fikiran buruk dan aneh-aneh, padahal sebelum berada dalam majelis tersebut, fikiran juga tenang-tenang saja, kemudian segera dalam majelis, fikiran fikiran penuh kotoran memenuhi kepala.

Hal ini yang biasa menyebabkan, “malu” untuk datang, “buat apa” datang apa ada pahala dll, bejibun alasan-alasan itu timbul, agar tidak datang.

Tapi beberapa waktu yang lalu, ada nasehat yang luar biasa menurut saya!

beliau bercerita, ketika menghadap para ulama yang “waskita”, beliau akan bercerita lepas, semua yang ada di fikirannya, termasuk yang jelek-jelek. beliau juga mengatakan, “pak kyai, saya ini datang ke jenengan untuk memperbaiki diri, jadi saya tidak akan pergi sebelum pak memperbaiki saya” begitu kira-kira yang saya tangkap.

dari sini, saya mulai membangun “niat”, biarlah saya datang ke majelis “guru” mulia, atau majelis-majelis “surgawi” lainnya dengan hati dan fikiran yang penuh kotoran dan berlumur dosa. Toh memang saya datang itu adalah untuk memperbaiki diri.

Untuk apa saya malu? ya memang harus malu, tapi bagaimana lagi, diri ini memang manusia buruk, yang datang ke majelis-mejelis seperti itu sebagai bengkel hati. Jika datang ke sebuah bengkel, justru kebobrokan-kebobrokan jangan ditutup-tutupi agar dapat segera diperbaiki. bila ditutupi malah tukang servisnya tidak mengetahui dan tidak tertangani. bagaimana jika ternyata hal tersebut adalah vital?

biarlah banyak penceramah yang bilang, tidak berguna ibadah yang tidak khusuk. itu bukan tingkatan saya. tingkatanku adalah datang ke bengkel untuk perbaikan, entah kapan mobil ini dapat dikendarai.

ya Allah, ya Rosululloh, ya Sayyidi, saya datang kepadamu tidak membawa kebaikan sama sekali, melainkan membawa semua keburukanku. Engkau telah berkata “syafaatku adalah untuk orang pendosa”,maka aku mohon syafa’atmu ya Sayyidi, ya Rosululloh.

Apakah ini riya’? dah biarlah, toh semua ibadahku penuh dengan riya’. Bagaimanakah khusuk? dah biarlah, toh itu bukan untukku, untukku hanyalah terpaksa melakukan ibadah, dan berharap belas kasihan.

ya Allah, ya Sattar ya Ghoffar Tutuplah aib ini.

robot dan pertanian

beberapa wktu yang lalu mendengar obrolan jama’ah, salah satunya yang menarik hati adalah komentar beliau mngenai pendidikan kita.

mengapa pembelajaran membuat robot lebih diutamakan?

dalam kurikulum, memang robotik dan elektronik ini seperti mendapat porsi yang lumayan, menungkin dengan tujuan meningkatkan teknologi bangsa. membuat lebih banyak orang yang melek teknologi.

komentar beliau

“kita itu dibodohi, mengagungkan robot dll, sehingga lupa bahwa banyak sekali orang di indonesia yang menganggur, apakah kita akan membawa penggantian tenaga manusia menjadi robot?

mengapa pendidikan kita tidak diarahkan dengan keunggulan Indonesia, pertanian dan perikanan, membawa teknologi untuk mendorong kemajuan pertanian.”

bagaimana pertanian kita menjadi swasembada pangan, mengapa juga ya, pertanian kita luar biasa, bahkan banyak para penjajah zaman dahulu mengincar pertanian kita, tetapi kita kok semuanya pada impor?

penjajahan dulu dan sekarang

beberapa waktu yang lalu, membaca sekilas tentang pelajaran sejarah indonesia k13 kelas xi. mengenai penjajahan, bagaimana negara asing mulai menemukan nusantara dan bagaimana mereka menjajah kita, misalkan VOC.

membaca lahirnya VOC, petkembangan sampai perkembangan, penjajahan dllx. mereka mula-mula hanya mengincar hasil pertanian kita, mereka berinvestasi, bernegoisasi hingga mulai ikut campur akan kebijakan-kebijakan karena menginginkan keuntungan yang lebih. Dan kemudia lebih memuncak lagi tanpa memperhatikan nilai kemanusiaan. Para penguasa yang menginginkan untung banyak dengan lebih mudah, mereka memberikan kekuasaan kepada para “investor/penjajah”. Penjajahan merajalela lebih dan lebih lagi dengan dukungan penguasa-penguasa lokal.

membaca sekilas alurnya, dan terfikir.

“apa kita tidak lagi di “ekspansi” seperti dulu?”

di berita-berita ekonomi, yang lebih banyak bahasan adalah inverstor-investor asing, sepertinya mereka segalanya, di sisi pemerintah juga kelihatannya begitu, lagi semangat mencari investor sana sini, bahkan mungkin beberapa kebijakan dibuat agar memuluskan hal tersebut.

dalam politik “uang” masih ada apa enggak ya??? orang asing bermodal besar, walau tidak memiliki hak suara, tapi ia dapat mengatur suara, yang kemudian mengatur kebijakan. (tidak semua investor itu jahat, saya hanya berfikir “nakal” setelah membaca buku mapel SI)

rakyat kita semakin susah, semakin miskin.

apakah ini penjajahan strategi baru?

gerakan “membeli Indonesia kembali” hehehe ada loh di internet, mereka menghimpun dana dari masyarakat (sebagai modal), kemudian dia gunakan beli tanah (atau yang lain) kemudian dijual kembali, keuntungannya sebagian dibagi kepada pemodal.

misal umr 3 jt, diambil saja sebulan 100rb, dalam setahun 1,2 jt x 2 jt orang (1% dari 200 jt jiwa) di Indonesia = 2.4 triliuan => bisa dibuat buka usahakan?? itu kalau mw mengumpulkan dan tidak dikorup. hanya 100rb padahal banyak orang yang lebih mampu lagi, gerakan “Membumikan Sedekah”

maaf, maaf, curhatan orang pelit n suka uang, hehehe

 

tema demo hari buruh

hari buruh, seingat saya, ada tuntutan yang gak pernah ketinggalan,

“NAIKKAN GAJI KITA!”

pernahkah berdemo?

“BERI PEKERJAAN TEMAN DAN TETANGGAKU”

salah satu efek dari naiknya gaji para buruh adalah semakin meningkatnya daya beli buruh tersebut, tetapi dilain fihak, akan memicu harga dagang semakin mahal juga, yang kasihan adalah para buruh (bukan pabrik besar) yang sekup kecil, dan masyarakat lain yang tidak bisa membayar dengan  standar yang ada, maka mereka akan semakin miskin dengan kesenjangannya.

belum lagi pengusaha yang gak pengen keuntungannya berkurang, atau tidak dapat mengimbangi biaya operasionalnya, mereka melakukan pengurangan pekerja. semakin banyak pengangguran.

ya Allah cukupkanlah aku dan semua orang.

“curhatan yang gak dapat gaji umr”

tanda kesombongan

tanda kesombongan adalah ketika kita sudah dapat melihat orang lain sombong.

tanda kesombongan adalah ketika kita sudah dapat melihat kelemahan orang lain.

tanda kesombongan adalah ketika kita merasa tidak sombong.

tanda kesombongan adalah ketika kita telah merasa tidak sombong.

guru antara cahaya dan bayangan

menulis ini mungkin dipicu oleh anak-anak, curhat mereka juga tidak salah, dan yang salah adalah diri ini ……

teringat dulu banget dan bahkan mungkin sampai saat ini, ada sebuah pengajaran yang terus terngiang di fikiran “guru adalah panutan, dan tanpa guru bagaimana engkau akan masuk surga? bagaimana mendapat berkah? guru adalah segalanya, guru adalah contoh sempurna”

mungkin hal tersebut juga yang terbayang dalam benak ketika ngaji ta’lim muta’alim yang begitu kerasnya menuntut seorang murid untuk menghormati guru.

tapi dalam perjalanannya, ternyata teori tersebut tidak seindah angan…..

ketika fikiran udah mulai “nakal” dan su’udzon melingkupi hati, maka kita akan mudah melihat kesalahan guru, apalagi guru yang dekat dengan kita, guru yang sering kita bersamanya, “gambaran ideal, rasanya pecah”

“guru kok gini?” “apanya yang dihormati” “ternyata ya sama saja” “ternyata omdo doang toh”  “ngapusin ……” dll

suatu ketika saya dijangkiti penyakit tersebut (mungkin sekarang masih kali yaaa???? apa lagi dah jadi guru formal, “eeeehhhh podo wae”)

diperjalan berikutnya, secara tidak sengaja (mana ada kebetulan??? pasti udah takdir) menemukan website majelisrasulullah.org yang ketika itu masih diasuh oleh pendirinya Mawlana Habib Munzir Al Musawa, dan beraudiensi (curcol) melalui forum tanya jawab beliau ……

Rasanya menemukan oase baru setelah beberapa kekeringan. kalimat “salam beliau” langsung membuat pecah air mata ini, kerinduan langsung menyergap, aneh memang, orang yang belumpernah aku temui, dan hanya lewat komunikasi online forum aja dapat menyentuh relung hati ini ….. alfatihah tuk guruku mawlana habib Munzir yang walau mata ini belum pernah bertemu, tapi hati ini merasa dekat.

satu hal yang ku pelajari kemudian tentang “fenomena guru ideal” yang telah melekat dan terdoktrin dikepala ini adalah ….

“GURU ADALAH MANUSIA BIASA, ya memiliki kebaikan ya memiliki keburukan,

GURU ADALAH PERMATA, yang telah dimulyakan Allah dengan cahayaNya”

karenanya ada nasehat yang luar biasa menurutku …

“lihatlah keburukannya dalam bertemen, agar engkau mampu toleran akan keburukannya,

dan lihatlah kebaikannya dalam berguru, agar engkau bersedia menerima bimbingan dan ilmunya”

iya…

bagaimanapun seorang guru, ada sesuatu yang istimewa padanya yang telah diberikan oleh Allah kepadanya untuk kita ambil sebagai murid.

kita begitu naif bila mengatakan ada orang yang sempurna atau ada orang yang cacat sepenuhnya, karena Allah menciptakan setiap orang begitu unik dengan segala kelebihan dan kekurangan. tapi bila itu menghalangi kita untuk belajar kepada orang lain, maka itulah tanda bahwa kita merasa lebih dari orang lain, kita sudah sombong, kita hendak menyaingi Allah? kita lupa akan kekurangan kita, naudzubillah.

untuk kita lebih mudah menyerap ilmu seseorang, maka kita harus merasa bahwa orang tersebut memiliki kelebihan melebihi kita, sehingga ada ilmu yang jatuh pada kita. bila tidak? maka hanya akan ada penolakan pada diri…. naudzubillah

makanya ada yang mengajarkan doa “ya Allah, aku berlindung padaMu agar dijauhkan dari melihat keburukan guruku, ……..”

Sifat manusia adalah ketika fokus pada sesuatu, maka hal lain akan diabaikan, begitu juga dalam memandang oarang lain.

bila kita fokus akan keburukan seseorang, maka yang terlihat pada kita hanyalah keburukannya, lain lagi bila kita fokus akan kebaikannya maka kita merasa ia penuh dengan kebaikan dan keburukannyapun terabaikan.

makanya cobaan terberat bagi seorang murid adalah bila “dekat” dengan seorang guru, sehingga ia dapat melihat semua sisi kemanusiaan dari sang guru. apakah ia tetap melihat kebaikan gurunya sehingga ia tetap tulus kepada gurunya atau ia mulai melirik keburukannya yang menggiring kepada penyamaan dirinya dengan sang guru atau bahkan meremehkan sang guru, meremehkan guru akan menghalangi kita menerima kucuran ilmu darinya, apapun yang datang darinya akan kita sepelekan , naudzubillah.

terkadang, berada “jauh” dari sang guru adalah keberuntungan, untu menjaga hati lemah kita yang mudah su’udzon (lemah iman) untuk melihat kelemahan-kelemahan guru, sehingga kita tetap cinta dan patuh kepadanya.

kok lemah iman? njh loh, kata pak kyai, “orang mukmin itu tidak dapat melihat keburukan orang lain” ia dipenuhi khusnudzon, prasangka baik dengan hatinya yang murni.

pernah juga mendapat sms oleh pak kyai mengenai hal ini “pencari ilmu sendiri haruslah hanya mencari cahaya dan ridlo Allah” suatu sindiran yang ketika itu lagi kecewa akan salah seorang guru. hmmm … aku melihat keburukannya hanyalah karena diri ini buruk … hati ini menjadi buta sehingga tidak dapat melihat caha ya Allah melaluinya, setiap orang tercipta dari cahayaNya.

bila kita mau merendah, maka kita akan bersedia menerima ilmu darinya, bersedia belajar kepadanya, bila kita merasa lebih rendah dari semua orang, maka kita akan dapat menerima ilmu dari semua orang, semua orang akan menjadi “guru” kita, menjadi “syekh” kita.

Mungkin inilah nasehat “lihatlah setiap murid mawlana sebagai syekh” bukan kalimat syekh secara semu, bukan kalimat guru secara semu, tetapi tidak ada manfaat yang dapat di ambil disebabkan kesombongan kita.

Kita memanggil guru/syekh tapi dalam hati mengumpat “engkau sama saja denganku, bahkan engkau punya beberapa keburukan lagi”, akan lebih bermakna kita memanggil sesuai tingkatan formalnya “adik, saudara, tuan, pak, bos, teman, dll” tetapi dalam hati “orang ini lebih baik dari ku, aku harus dapat mengambil manfaat darinya, aku ingin belajar kepadanya, ia adalah guruku/syekhku, orang yang dikirim Allah untuk aku belajar kepadanya”

lah dalah ……. mulai ngelindur kesana kemari …..

lebih lagi, …..

katanya….

ilmu Nabi dibanding ilmu sahabat adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu sahabat dibanding ilmu awliya adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu awliya dibanding ilmu ulama adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu ulama dibanding ilmu orang awam adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

nah mungkin untuk mengetahui sedikit dari ilmu apa sih yang telah dikaruniakan Allah kepada Nabinya, adalah dengan belajar dan mengambil ilmu dari semua makhluk yang ada tanpa kecuali,

akhir kalam …

rendah hati

mungkin kuncinya …

tidak masuk surga orang yang dihatinya ada setitik kesombongan,

Allah A’lam

 

silaturrahmi

silaturrahmi adalah urusan hati, bagaimana hati hati saling tertaut.
contohnya : diterminal begitu banyak orang dekat secara fisik, tetapi tidak ada kedekatan hati, begitu juga ditempat lain.
ada pula yg jauh secara fisik tetapi sangat dekat di hati.
menyambung silaturrahmi adalah menyambungkan hati, kedekatan jiwa, saling perduli…..

Silaturrahmi bukan sekedar, saling sapa tetapi diiringi kesinisan atau kebencian.

Silaturrahmi juga bukan hanya saling berkunjung, tetapi saling curiga dan keirian.

silaturrahmi juga bukan hanya berkumpul bersama tetapi saling dendam, dan bertengkar.

Silaturrahmi adalah saling menyapa dengan hati, dan sapaan terbaik adalah sapaan dengan doa kita yang baik untuk mereka dengan tulus, inilah “assalamualaikum” salam yang terucap di bibir ketika bertemu secara fisik dengan mereka, dan salam yang terucap dalam kesendirian kita dengan Allah.

Silaturrahmi adalah saling menziarahi dengan hati, dan kunjungan terbaik kita dalah dengan rasa cinta kepada mereka karena Allah, kita menginginkan kebaikan untuk mereka, kita berikan kebaikan kita untuk mereka, kita hadiahkan pahala dan doa-doa kita untuk mereka. kita kunjungi hati dan ruh mereka dengan ruh kita bersama ruh junjungan para hati yaitu Rosululloh saw. kunjungan secara fisik yang menyenangkan mereka, juga kunjungan secara hati yang membawa mereka kepada kebahagiaan hakiki bersama Rosululloh.

Silaturrahmi adalah saling berkumpul, bersahabat, bersaudara dalam lingkungan surgawi, kita tidak pernah melepaskan saudara kita (umat nabi saw) dalam kesusahan kecuali kita membantunya, kita selalu menemaninya dalam perjalanannya menuju Allah. dalam setiap aktivitas kebaikan kita, kita sertakan juga mereka, karena mereka dan kita adalah saudara dalam rahmat, Rosululloh saw adalah rahmat dan rohim Allah. Keperdulian, kedekatan hati dan kebersamaan kita adalah bukti kekeluargaan kita, terutama perhatian kita dihadirat ilahi, karena dihadirat Allah tidak ada jarak antara kita dan mereka.

Allah a’lam

golongan darahku O, ternyata ini maknanya …

Orang-orang dengan golongan darah O adalah orang yang istimewa, karena mereka bisa mendonorkan darahnya ke semua golongan darah lain, namun orang-orang dengan golongan darah O cuma bisa menerima darah dari sesama golongannya.

Orang-orang bergolongan darah O, senantiasa terlihat menonjol diantara yang lain. Mereka mempunyai jiwa kepemimpinan, proaktif, energik serta mempunyai kemampuan untuk selalu terus fokus. Mereka juga cenderung sangatlah kuat serta produktif.

Di Jepang, orang-orang bergolongan darah O senantiasa dikaitkan dengan jenis ciri-ciri tertentu. Waktu lakukan wawancara kerja, pewawancara sering menanyakan apa golongan darah mereka.

Orang-orang dengan kelompok darah O digambarkan sebagai orang yang bertanggung jawab, berkomitmen, terorganisir, fokus, teliti serta praktis. Mereka juga diakui lebih pintar serta lebih baik dari pakar logika. Hal semacam ini karena nenek moyang mereka yaitu seorang pemburu, yang senantiasa akurat dalam memperkirakan serta mengamati lingkungan sekitar untuk dapat bertahan hidup.

Lalu, apakah orang-orang yang mempunyai golongan darah O mempunyai kelemahan? Ya, sudah pasti ada, karena tidak ada manusia yang sempurna didunia ini. Orang bergolongan darah O lebih rentan pada penyakit spesifik, seperti maag, disfungsi tiroid, rendahnya tingkat hormon tiroid serta kekurangan yodium. Disfungsi tersebut bisa menyebabkan efek samping, seperti kelebihan berat badan serta retensi air.

Ketika sedang stres mereka dapat sangatlah marah, jadi hiperaktif serta impulsif. Pola makan yang jelek, kurang olahraga, lakukan kebiasaan tak sehat serta kecenderungan untuk stres bikin mereka rawan alami sistem metabolisme yang berbahaya, seperti resistensi insulin, memperlambat kesibukan kelenjar tiroid serta obesitas.

Mereka juga memiliki tingkat lebih tinggi asam lambung di banding golongan darah yang lain, mempunyai kondisi perut yang sensitif serta rentan menderita ulkus. Orang-orang dengan kelompok darah O, mesti hindari cafein serta alkohol. Cafein sangatlah berbahaya untuk mereka karena bisa meningkatkan adrenalin, yang memanglah telah tinggi pada orang-orang bergolongan darah itu. Orang-orang bergolongan darah O disarankan untuk melakukan aktivitas fisik, setidaknya 3-4 kali seminggu.

Sumber : Cuisine and Health, http://7mediakita.blogspot.co.id/2016/01/bergolongan-darah-o-wajib-baca-ini.html?spref=fb

PESAN UNTUK ORANG TUA DAN GURU

Romo Kyai Abdul Aziz Manshur dalam acara Madrasah di Lirboyo sering kali berpesan kepada para guru :
“Sak durunge ngajar, ajaren disik nafsumu. Nek bengi ojo lali shalat tahajjud, dungakno anak2mu murid2mu paling setitik di wacakne fatihah ping 41. Syukur2 di riyadloi poso senin-kemis. Bocah-bocah podo nakal kuwi mergo kurang olehe nirakati.. kurang olehe dungakne”.
“Sebelum mengajar, hajarlah terlebih dahulu nafsumu… kalau malam jangan lupa shalat tahajjud, doakan anak2 dan murid2-mu dengan membacakan Fatihah sedikitnya 41 kali. Kalu bisa di riyadloi dg puasa senin-kemis. Mereka nakal… karena kurang di riyadloi, kurang di doakan”.

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1688395954762224&set=a.1381465945455228.1073741828.100007755067158&type=3

semua akan masuk surga

Sangat marak dengan serangan tuduhan syi’ah, bid’ah, syirik dll, sehingga dibutuhkan benteng yang sangat kokoh yaitu ahlussunnah wal jama’ah, para pengikut Nabi serta jama’ah beliau, dimulai dari sahabat, tabi’in, tabi’ittabi’in, ulama salaf, ulama kholaf, kepada kita. sehingga akan banyak sekali perbedaan yang terjadi karena mengikuti imamnya sendiri-sendiri, dan itu oke saja karena nabi juga mengajarkan sahabat tidak sama, sesuai dengan sahabat tersebut, sehingga pengajaran Rosululloh sangat unik dan mengacu kepada individual tsb untuk lebih dekat dengan Allah.

Post dari ustad luthfi begitu menggugah dan asyik di simak. sejalan dengan

“kunci surga adalah lailahaillalloh” dan tidak perlu ribut bila berbeda dengan kita berarti masuk neraka, cos ya selama “lailahaillalloh” maka masuk surga.

berikut post beliau :

————————-

Andaikata hadist berikut ini yang banyak beredar di kalangan umat Islam, pasti kehidupan umat ini lebih damai :
Imam as Sya’roni menyebutkan dalam kitab al Mizan, Hadist dari jalur Ibnu an Najjar yang dishohihkan oleh Imam al Hakim:
ستفترق أمتي على نيف وسبعين فرقة، كلها في الجنة إلا واحدة.
“Umatku akan terpecah menjadi 70 sekian kelompok, semuanya berada di surga kecuali satu”.
dan diriwayatkan dari Anas bin Malik:
… كلها في الجنة إلا الزنادقة.
“Semuanya di surga kecuali kaum zindiq”.
Dan disebutkan juga dalam Takhrij Ahaadist Musnad al Firdaus karya Ibnu Hajar:
تفرق على بضع وسبعين فرقة، كلها في الجنة إلا واحدة، وهي الزنادقة.
“(Umatku) terpecah menjadi 70 sekian kelompok, semuanya berada di surga kecuali satu, yaitu kaum zindiq”.
– dikutib dari buku Dr. Abdul Halim Mahmud, Grand Syekh al Azhar, AT TAFKIR AL FALSAFI FI AL ISLAM. Dar al Maarif.
nb: Ibnu Qudaamah menjelaskan dalam kitab al Mughni, bahwa Zindiq adalah orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakan keislaman, alias munafiq.
.
Wallahu A’lam.

sumber : https://www.facebook.com/luthfi.kamiel/posts/10205575595412625

belajar pada mbah google

Akhir Zaman gini, banyak dari kita (termasuk saya) yang kurang menghargai seorang guru. Kita lebih suka bertanya kepada mbah google sebagai sarana memecahkan semua problematika kita.

Kita sering lupa, si “mbah google” ini adalah orang yang paling pandai karena hampir semua hal dia dapat memberikan infonya kepada kita, tetapi yang perlu diingat adalah bahwa ia juga adalah yang paling bodoh karena ia tidak mengetahui mana yang benar atau tidak, ia hanya menyediakan tanpa memilah. sehingga banyak orang yang terbantu juga banyak orang yang tersesatkan.

Makanya penting mempunyai seorang pembimbing, agar dapat membantu kita mengenali kebenaran tersebut. agar dapat mengarahkan melalui jalan yang baik.

Ingatlah banyak sekali berita/info yang di internet hanya HOAX saja, semua orang dapat menulis, hal bohong. hal sok ngerti, hal hayalan, hal iseng, semua hal. maka seleksilah dalam menerima informasi.

3 level muslim menghadapi musibah/kesulitan

Setiap muslim diharapkan memiliki adab, sebagaimana Rosululloh diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Dalam menerima Musibah, ada 3 level yang mungkin ada oleh seorang muslim.

  1. adab level 1 , ketika ia mendapat bencana/musibah, ia akan menahan nafsunya, menahan untuk tidak mengeluh, berusaha tegar dalam menghadapinya.
  2. adab level 2 , ketika mendapat musibah/bencana, ia akan menundukkan dirinya, merendahkan dirinya dihadapan Allah dan makhluknya serta mengoreksi setiap gerak-geriknya, ia dapat memandang kesalahannya dan memandang rahmat Allah.
  3. adab level 3, ketika mendapat penderitaan/ bencana/ musibah, maka ia akan tersimpuh malu dan memohon kepada Allah untuk mengampuni setiap kesalahannya, serta mendoakan kebaikan untuk dirinya, untuk orang yang menyakitinya (dalam pandangannya, orang tersebut adalah perantara Rahmat Allah), mendoakan kebaikan dan pahala bagi seluruh keluarganya, tetangga dan sekitarnya, berdoa agar kesulitan yang ditimpanya juga merupakan kafarat untuk mereka semua.

“semoga kesembuhan bagi istri dari guru tercinta yang mengajarkan adab luar biasa”

pahala kita yang sesungguhnya

Dulu diajarin bahwa “uang yang kita pegang itu bukanlah uang kita yang sesungguhnya” mengapa? uang uang kita pegang hanyalah uang yang sementara dititipkan ke kita,

bisa aja itu uang pedagang, hingga kemudian kita membeli sesuatu dan mengembalikannya ke pedagang,

bisa jadi itu uang anak kita, yang ketika kita mati, uang tersebut akan diambil kembali oleh anak kita,

bisa juga hilang, sakit, kecelakaan dll yang membuat uang tersebut sudah tidak menjadi milik kita lagi, harta kita adalah harta orang lain yang kita akui, atau sementara dititipkan kepada kita.

“uang kita yang sesungguhnya adalah uang yang kita sedekahkan ke jalan Allah” harta yang tetap kita miliki walau sampai besok di hari kiamat, dan tidak akan pernah hilang.

senada dengan itu ……

bagaimana dengan pahala kita?

mungkin kita mendapat pahala dari sholat kita, dari puasa kita, dari sedekah kita, dari dzikir kita, dari kebaikan kita, tapi apakah kita yakin pahala kita akan tetap milik kita?

ingatlah !

sesungguhnya hasud itu membakar pahala seperti kayu bakar membakar kayu bakar,

segungguhnya gunjing, menggosip, menyakiti orang lain dll akan menyedot semua pahala kita,

sesungguhnya riya’, sombong dll akan menghancurkan semua pahala kita,

banyak hal yang menyebabkan pahala kita hilang, semua keburukan kita dhohir batin akan menghanguskan pahala kita.

maka …….

ikatlah pahala tersebut dengan mensedekahkan kepada orang lain, hadiahkan pahala kebaikan kita untuk kedua orang tua kita, guru-guru kita, Rosululloh saw, orang-orang disekitar kita, kepada muslimin wal muslimat.

dengan kita menghadiahkan kepada mereka, mereka akan mendapat kiriman pahala sebagai bakti kita, dan kita mendapat kebaikan dengan sedekah kita, yang akan dijaga oleh Allah,

dan barang siapa berdagang kepada Allah, maka tidak akan pernah rugi, barang siapa berinvestasi dijalan Allah maka Allah akan mengembangkannya menjadi 10x lipat, 700x lipat hingga tidak terhingga.

#gerakan ihda pahala kebaikan kita!

amar ma’ruf nahi mungkar

Kemaren malam maen ke Salah satu Ustad, eh ada bahasan menarik dari beliau tentang amar ma’ruf nahi mungkar dan tafsir hadistnya jadi teringat juga dengan dawuh pak Kyai bahwa “ubahlah kemungkaran dengan tanganmu atau lisanmu atau hatimu dan itu adalah selemah-lemah iman mungkin cocok dengan riwayat di akhir zaman, Islam akan ditolong oleh orang-orang yang lemah, tapi jangan menganggap orang yang berdoa itu lemah”

Berikut akan saya uraikan sepemahaman saya, yang saya tangkap dari sang ustad, dan kok saya cocok ya dengan penjelasan beliau, anda? terserah saja …..

Pembicaraan diawali ketika saya cerita ada seorang teman yang mengajak mengadakan group untuk siskamling syari’ah, yang merazia tempat-tempat yang dianggap maksiat atau menjual barang haram.

Kemudian beliau mulai mencoba mengshare tentang tafsir hadist berikut :

 ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﲑﻩ ﺑﻴﺪﻩ، ﻓﺈﻥ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ، ﻓﺈﻥ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ‫ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﳝﺎﻥ

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Biasanya para ustad dan penceramah mengartikan ﺫﻟﻚ merujuk kepada kalimat sebelumnya, sehingga memberikan pengertian bahwa “keimanan paling lemah adalah orang yang merubah dengan hatinya” padahal kalimat ﺫﻟﻚ merupakan kalimat isyaroh baidh (jauh), mengapa ﺫﻟﻚ tidak kembali kepada ﺑﻴﺪﻩ atau yang lebih dekat lagi yaitu ﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ?

secara logika saja, bagaimana orang yang lemah iman mau berdoa? orang tidak akan mau berdoa bila ia meyakini bahwa doanya tidak akan terkabul, maka orang yang berdoa itu memiliki keyakinan kepada Allah yang kuat.

ﺫﻟﻚ lebih cocok ke “tangan” mengapa? karena lihatlah orang yang hanya menggunakan tangannya untuk merubah kemungkaran, ia malah berbuat kemungkaran yang baru, merusak dll (seseorang kan maksimal dihukum setara dengan perbuatannya, qishosh) bila melebihi batasnya maka “orang yang merasa pembela syari’ah” malah berbuat kedholiman????

atau merujuk kepada “lisan” mengapa? lihatlah seseorang yang menggunakan lisannya, akan sangat dimungkinkan terpeleset pada perkataan buruk atau salah.

“tangan” dan “lisan” lebih mudah dikuasi oleh ego yang mengakibatkan bukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dapat berbalik amar mungkar dan nahi ma’ruf yang baru. berbeda dengan doa, sangat kecil kemungkinan dirasuki dengan seseuatu yang buruk (kecuali berdoa buruk), “ya Allah berilah hidayah hingga ia berubah dari berlaku maksiat menjadi ahli ibadah yang dekat dengan Engkau” (misalkan), mana buruknya?

Jadi Orang yang berdoa adalah orang yang kuat imannya sebagaimana riwayat “doa adalah senjatanya orang mukmin” dan memang orang yang memiliki iman saja yang akan berdoa.

…….

kemudian mungkin bila puzzle ini dirangkai maka, 3 perkara (tangan, lisan dan hati) ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jadi bisa diuraikan

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran

,maka hendaklah ia merubah dengan tangan+lisan+hati

, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan lisan+hati

, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya

, dan dengan hati SAJA itulah keimanan yang paling lemah.”

jadi bukan hanya dengan tangan saja (yang sangat mudah ditunggangi ego dan setan), bukan dengan lisan saja (yang juga lebih mudah ditunggangi ego dan setan). Tetapi dizaman ini yang tidak seperti zaman nabi, dimana Hati para sahabat isinya kecintaan dengan Allah serta Nabi saw dan setiap tindakan dikonsultasikan (dipantau langsung) oleh sang pemegang syari’at yaitu nabi saw, berbeda dengan zaman sekarang (akhir) yang sangat banyak orang di hatinya “ingin pengakuan sebagai pembela/mengerti Syari’at” (ego) buktinya? bila dikatain bahwa ia salah maka ia akan marah (siapakah orang yang mengerti segalanya?)

Orang yang ikhlas, maka ia tidak memperdulikan pandangan orang, ia lebih mementingkan pandangan Allah, hingga terkadang ia sering difitnah sebagai orang sesat atau orang gila, dan ia tidak marah, tetapi ia tetap istiqomah dalam Ahlussunnah Wal Jamaah, karena perhatiannya hanya untuk Allah semata.

Maka di Zaman ini yang ia menggunakan hatinya maka ia adalah orang yang sangat kuat imannya. (di Zaman Nabi, golongan ini adalah orang yang lemah imannya, tetapi di Zaman Akhir, golongan ini adalah orang yang sangat kuat imannya)

Tambahan, Teringat juga sebuah cerita, Bahwa Di suatu pertempuran, Sayyidina Ali Kw Sahabat Nabi bertempur dengan salah satu orang kafir, Di saat pedang Sayyidina ALi mengayun ke Orang tersebut yang terpojok tak berdaya, tiba-tiba ia meludahi Sayyidina Ali Kw, Terkena ludah, Sayyidina Ali Kw berhenti dan berpaling dari Orang tersebut dan membiarkannya, Orang tersebutpun heran, ia bertanya kepada Sayyidina ALi “wahai Ali, mengapa engkau tidak jadi membunuhku?” Sayyidina ALi menjawab “Aku berperang karena Allah, tapi disaat engkau meludahiku, aku menjadi marah, sehingga aku tahu bahwa nafsu (ego) menguasaiku, aku menyadari bila aku meneruskan seranganku, aku adalah hamba nafsuku bukan hamba Allah, maka Aku hentikan seranganku, karena aku berperang karena Allah”

Allahu A’lam

kritis

hati-hati dalam mengeluh dan mengkitisi orang atau suatu hal,
karena kita tidak mengetahui, apakah kita di waktu mendatang akan berada pada posisinya.
coba angan-angan, setiap tindakan kita saat ini, apakah tidak mirip dengan keluhan kita di masa lalu?
renungkan!
astaghfirulloh

besarnya majlis

salah satu kata mutiara habub syech di wawancara sudut pandang tv 9 yang menarik hati
“banyaknya orang yang datang di majlis bukanlah ukuran keberhasilan dakwah, berarti nabi Nuh gagal dong, umatnya berapa (nabi Nuh termasuk 5 nabi utama, ulul azmi)”
yang menjadi ukuran adalah kualitas dari umat tsb, juga ikhlas dan dekatnya sang pendakwah dengan Allah, seberapa senang Allah terhadapnya,itu lebih penting (lah ni ijtihad pemikiran tambahan)