Hati-hatilah kepada siapa cinta kau berikan !

Al Allamah Al ArifBillah Al Habib Zein Bin Ibrahim bin Sumith mengatakan bahwasanya :

“Siapa yang mencintai orang yang jahat, walaupun ia orang yang baik, maka ia akan dibangkitkan bersama orang yang jahat, dan siapa yang mencintai orang2 baik dan meskipun dia bukan orang baik, maka dia akan dibangkitkan bersama dengan orang2 yang baik”

Berhati hati dalam mencintai seseorang, jangan sampai kita mencintai atau memuja pelakon atau penyanyi atau pemain bola sepak terlebih lagi mereka yang dari kalangan musyrikin, ditakuti nanti di akhirat di bangunkan bersama dengan mereka.

Cintailah Ulama, para Auliya dan para solihin, dan cintailah Allah dan RasulNya, Minimal kita bisa mencintai orang yg mencintai Allah & RasulNya. Krn sesungguhnya sedikit diantara kita yg memikirkan dengan siapa kita berkumpul diakhirat, maka beruntunglah mereka yg sedikit itu.

Semoga aku dan kalian dikumpulkan bersama mereka para pecinta Allah & RasulNya.

Semoga bermanfaat

sumber : https://www.facebook.com/groups/172176142176/permalink/10153710979032177/

Melayani

beberapa waktu yang lalu mendengar kalimat bijaksana dari ustad Luthfi, “barang siapa Melayani maka ia akan dilayani” awalnya apaan tu, tapi itulah prinsip seorang santri kata beliau.

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar juga kalimat pak Kyai, “biarkanlah aku melayani kalian”, wah ini apalagi ?????

beberapa saat yang lalu membaca cerita dari murid mawlana habib Umar Qs.

Beginikah ….

Oh, sungguh. Apapun yang q lakukan salah, mengapa aku tidak bisa melayani malah ingin dilayani? inilah bukti ke-ego-anku, ke-AKU-an ku, hmmmm

berikut kisah nyata ……

KEINDAHAN AKHLAK SANG PUTRI KECIL HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“
Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:
“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.
Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.
Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.
Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:
“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.
Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang. Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.
Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.
Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku. Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

sumber:http://www.elhooda.net/…/kisah-nyata-keindahan-akhlak-sang…/

Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Turban mengikuti sunnah nabi saw

 

Memperhatikan Turban Rosululloh

turban nabi

Bila diperhatikan, akan mirip sekali dengan turban yang dipakai oleh para masyayikh maupun para habaib kita, Jadi hal tersebut bukan karena mengikuti budaya saja, tetapi lebih mengikuti Junjungan Rosululloh Muhammad saw.

turban syekhturban syekh abudul qodirsh nadzimturban mwlanash mushabib umarhabib anis hssshabib munzir habib syech

Bahkan Blankon sunan kalijaga juga mirip dengan Turban tersebut.

 

snnkalijaga

sunnah nabi

” Hakekat menjalankan sunnah Nabi bukanlah sekedar membawa anggota tubuh untuk mengikuti pesan dan perilaku Rosululloh, akan tetapi hadirnya beliau di hati saat kita menjalankan sunnah. Itulah hakekat. Alangkah banyaknya orang menjalankan sunnah Nabi namun yang diingat adalah kalimat hadits yang di bukukan atau diucapkan, dan bukan Rosululloh yang hadir di hatinya.”

‪#‎Mutiara_Hikmah_Buya_Yahya‬ Ke 20

sumber : https://www.facebook.com/buyayahya.albahjah/photos/a.225866950799681.65275.191390880913955/850908981628805/?type=1&theater

Menuntut ilmu harus jelas sanad ilmunya

berkata Ibnu Sirrin: “Ilmu adalah agama maka lihatlah darimana engkau mengambilnya” .. kalau bukan karena keberadaan sanad orang akan berbicara semaunya!

sanad merupakan khususiyah (yang hanya diberikan kepada para penuntut ilmu yang benar) ada sebagian orang ketika ditanya belajar islam dimana? Chicago!, mengambil sanad berguru (ilmu keislaman) dari pengajar Yahudi dan Nasrani,…

Ilmu yang benar adalah yang bersanad dari gurunya ke gurunya, dari ayahnya ke ayahnya hingga ke Nabi SAW, dari gurunya ke gurunya hingga ke Rosululloh saw, pemahaman harus nyambung

Penyakit orang zaman sekarang ada 2, ada orang yang bodoh dan tidak belajar ilmu agama dan orang yang salah memilih guru,

orang kalau sudah salah pilih guru ini yang susah…sudah merasa paling benar,…

maka perhatikanlah seharusnya ilmu membuat yang takabur menjadi tawadhu, durhaka menjadi bakti, khianat menjadi amanat, dengki menjadi cinta,..itu ilmu yang benar bukan malah sebaliknya,

selesai ikut pengajian malah berubah membenci sahabat Nabi, membenci keluarga Nabi, membenci mengkafirkan membid’ahkan semua muslimin…

ilmu itu mengajak orang untuk beramal,

kalau disambut maka akan menetap dihati, jika dibiarkan akan berlalu pergi

Ketahuilah bahwa ilmu dengan pengamalan, bukan dengan orasi, ilmu dengan sikap dan akhlak bukan dengan banyak berdebat, mencerminkan rasa takut kepada ALLAH SAW

Berkata Al-Imam Syehul Islam AbduLLAH bin Husain bin Thohir: ilmu yang Haq itu menjadikanmu lebih takut kepada ALLAH,,,,

Berhati hatilah…salah ngaji fatal gak ngaji fatal juga!,,,,,,,

Ya ALLAH kami berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat,dan Doa yang tidak didengar,dan hati yang tidak khusu’ (Do’a Nabi SAW),,,,,,

semoga ALLAH Menjadikan imu kita bermanfaat dan doa kita selalu diterima oleh ALLAH,serta di Khusyu’kannya hati kita,,,,,,Amiiiiin

sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1053638221330643&id=109415579086250&fref=nf

Jihad, antara sunnah nabi dan agenda iblis

Seorang Ulama pernah bertemu dengan seorang pemuda yang berpaham radikal.

kemudian Ia pun bertanya,

“Hai anak muda, jika kau melihat orang yang melanggar syariat Allah dan berbeda pandangan dengamu, apa yang kau lakukan?”

“Aku akan membunuhnya !” jawabnya.

“Setelah kau bunuh, mereka akan kemana?” tanya ulama’ tersebut.
“Jelas mereka akan masuk neraka !” jawabnya.

“Berarti kau telah membantu mensukseskan agenda Iblis yang ingin memenuhi neraka dengan anak Adam. Dan aku melihat kau berbeda dengan junjungan kita, Nabi Muhammad saw.” beliau menjelaskan.

“Apanya yang berbeda? Bukankah aku sedang memperjuangkan kebenaran dan syariat Allah?” bantah pemuda itu.

“Aku pernah membaca dalam sebuah riwayat, saat Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya, ada rombongan yang mengantar jenazah seorang yahudi lewat dihadapan beliau. Seketika Rasul berdiri melihat jenazah tersebut sambil menangis. Para sahabat pun bertanya kenapa beliau menangisi jenazah seorang yahudi. Rasul pun menjawab bahwa ia bersedih karena masih ada jiwa yang belum beliau selamatkan menuju surga.”

Kisah ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa ajaran Islam adalah menyelamatkan orang yang berada dalam jalan yang salah, bukan membunuh yang berbeda dan mengantarkannya ke neraka.
Melalui kisah ini kita dapat mengetahui siapa yang ingin memperjuangkan sunnah Nabi dan siapa yang ingin mensukseskan agenda Iblis.

Dalam satu kisah, Sayyidina Ali diberi bendera untuk keluar berperang dan dipesan untuk berjalan dengan tidak menoleh ke belakang lagi. Ketika berjalan, Sayyidina Ali berhenti bertanya tanpa menoleh ke belakang; “Ya Rasulullah, Atas dasar apa saya perangi mereka?” Yakni matlamat jihad bukan untuk membunuh, sekadar melawan orang yang menghalang tersebarnya agama Allah سبحانه و تعالى. Jawab Rasulullah ﷺ; “Perangilah mereka sehingga mereka mengucapkan Lailahaillallah.”

Diriwayatkan ketika berperang seorang musuh telah jatuh di hadapan Sayyidina Ali. Baginda pun ingin membunuhnya tetapi si kafir itu meludah mukanya. Sayyidina Ali lalu meninggalkan lelaki itu. Beliau sebenarnya takut niatnya membunuh kafir itu bukan lagi kerana Allah سبحانه و تعالى tapi mungkin karena nafsu marahnya karena diludahi. Beliau tidak ingin pedangnya digunakan kecuali untuk tujuan Allah سبحانه و تعالى.”

Bila ada dasar emosi dan nafsu bermain kepada nafsu orang yang berjihad, kena berhati-hati karena jangan sampai mengorbankan nyawanya, tapi tiada nilai apa-apa di sisi Allah سبحانه و تعالى. Jihad adalah kerana Allah سبحانه و تعالى, dan tidak boleh dilakukan kerana mengikut emosi atau karena semangat Asobiyah.”

Pesan Rasulullah ﷺ lagi kepada Sayyidina Ali ketika memegang bendera; “Dengan sebab engkau menjadi hidayah kepada walaupun satu orang adalah lebih baik daripada engkau mendapatkan dunia dan seisinya. Matlamat agama ini ialah memberi hidayah, dan bukannya membunuh kepada sesiapa saja.” Ini pesan terakhir Nabi ﷺ sebelum Sayyidina Ali keluar ke Perang Khaibar. Ini daripada perang dan jihad yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.”

Allah A’lam

Konsep ASWAJA (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah)

Konsep ASWAJA (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) selama ini masih belum dipahami secara tuntas, sehingga menjadi bahan “rebutan” setiap golongan. Semua kelompok mengaku dirinya sebagai penganut ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Tidak jarang, label itu digunakan untuk kepentingan sesaat. Jadi, apakah yang dimaksud dengan Aswaja sebenarnya?

Dalam istilah masyarakat Indonesia, ASWAJA adalah singkatan dari Ahlissunnah Wal Jama’ah. Ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut.

a.    AHL, berarti keluarga, golongan atau pengikut.
b.    AL – SUNNAH, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.maksudnya, semua yang datang dari Nabi SAW, berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi SAW. (Fath al-Baari juz XII hal 245)
c.    AL- JAMAAH, yakni apa yang telah disepakati para sahabat Nabi SAW pada masa Kulafaur Rasyidin

Kata jamaah ini diambil dari sabda Nabi SAW:
“ Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al jamaah (kelompok yang menjaga kebersamaan)”, (HR. Al Tirmidzi (2091), dan Al Hakim ( 1 / 77-78) yang menilainya Sahih dan disetujui oleh Al Hafidz Al Dzahabi). Al-Mustadrak juz I, hal 77-78.

Sebagaimana juga telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Qodir Al Jilani ( 471 – 561 H / 1077 – 4166 M )  dalam Al – ghunyah li thalibi thariq al – haqq, juz 1, hal. 80, bahwa Al – Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau).sedangkan Al – Jamaah  adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat nabi SAW pada masa khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah Radliyallahu ‘anhum.

Lebih jelas lagi, hadrotus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (1287-1336 H / 1871 – 1947 M) menyebutkan dalam kitabnya Ziyadat Ta’liqat, (hal .23 – 24 ) bahwa “ adapun ahli sunnah wal jamaah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadist, dan ahli fiqih.merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW dan sunnah khulafaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat ( Al firqoh Al najiyyah ). Mereka mengatakan bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat, yaitu pengikut madzhab Hanafi, Syafi’I, Maliki dan Hanbali”.

Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa Ahlusunnah Wal Jamaah bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang haqiqi. Tetapi Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para sahabatnya.

Kaitannya dengan pengamalan tiga sendi utama ajaran Islam dalam kehidupan sehari – hari, golongan Ahli Sunnah wal Jamaah mengikuti rumusan  yang telah digariskan oleh ulama salaf. Yakni :
(1)    Dalam bidang Theology ( Aqidah / Tauhid) tercerminlah dalam rumusan yang digagas oleh imam al Asy’ari dan imam al Maturidi.
(2)    Dalammdzhab fiqih terwujud dengan mengikuti madzhab empat, yakni madzhab al Hanafi, al Syafi’I, al Maliki dan al Hanbali.
(3)    Dalam tashawwuf mengikuti imam al Junaidi al Baghdadi dan imam al Ghazali.

Sebagai pembeda dengan yang lain, ada tiga ciri aswaja, yakni tiga sikap yang selalu diajarkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya yaitu :

(1)    Al Tawasshuth (sikap tengah – tengah, sedang – sedang, tidak ekstrim kiri ataupun kanan).Disarikan dari firmanAllah SWT:

“Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian( umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.” (QS. Al – Baqarah:143).

(2)    Al  Tawazun, (seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli maupun naqli.Firman Allah :

“ Sungguh kami telah mengutus Rasul – rasuil kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata, dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca” (QS. Al – Hadid: 25).

(3)    Al I’tidal (Tegak lurus ).Dalam  Al Qur’an Allah SWT berfirman:

“ Wahai orang – oaring yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang – orang yang tegak membela ( kebenaran ) karena Allah menjadi saksi ( pengukur kebenaran)yang adil.Dan janganlah kebencian kamu pada suatu qaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Aallah maha melihat pa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maidah: 08 ).

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah juga mengamalkan sikap tasammuh ( toleransi). Yakni menghargai perbedaan serta menghurmati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

“ Maka berbicaralah kamu berdua ( Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya ( Fir’aun) dengan kata – kata yang lemah lembut, mudah – mudahan ia ingat atau takut.”(QS. Thaha: 44 ).

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada nabi Musa AS dan Nabi Harun AS, agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun.Al Hafidz Ibnu Katsir ( 701 – 774 H / 1302 – 1373 M ) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, “ Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir’aun, adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan suipaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaidah”.(Tafsir Al – Qur’an Al Azhim, Juz 3,hal 206).

Oleh: KH. Muhyiddin Abdusshoma

mengenal Ahlussunnah Wal Jama’ah

PENGERTIAN ASWAJA

Ahlussunnah wal Jama’ah dalam sejarah islam adalah golongan terbesar umat islam yang mengikuti system pemahaman islam, baik dalam tauhid dan fikih dengan mengutamakan Al-Qur’an dan Hadits daripada dalil akal.

Dari Anas ra berkata, Rasululah saw bersabda, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan, maka apabila kamu melihat perbedaan pendapat maka kamu ikuti golongan yang terbanyak.”

“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kamu setelah wafatku maka ia akan melihat perselisihan-perselisihan yang banyak, maka hendaknya kamu berpegangan dengan sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat hidayah, peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin dengan kuat dan gigitlah dengan geraham.”

“Sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan, mereka (sahabat) bertanya : Siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab; “Mereka itu yang bersama aku dan sahabat-sahabatku.”

Dari sahabat A’uf ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Demi yang jiwa saya ditangan-Nya, benar-benar akan pecah umatku menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan 72 golongan masuk neraka,” ditanyakan, siapa yang masuk surga ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Golongan mayoritas (jama’ah).”

Rasulullah saw menyampaikan, “Akan pecah umatku akan menjadi 73 golongan, yang selamat satu golongan, dan sisanya hancur.” Ditanyakan siapakah yang selamat ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Ahlussunnah wal Jama’ah.” Ditanyakan lagi siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Beliau menjawab, “Golongan yang mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin.”

 

KEMURNIAN ASWAJA

 

Kita ahlussunnah waljamaah adalah rantai antara murid dan guru, terus kepada nabi saw, kita bukan bersanad pada buku, walaupun buku pun kita jadikan rujukan, namun kita tidak mungkin mengikuti/meneladani/ berpegang buku, karena buku tidak bisa berbicara dan dimintai penjelasan bila kita tak mengerti, apalagi dimintai pertanggung jawaban kelak dihari kiamat,

kita berpegang pada guru, dan guru kita berpegang pd gurunya, demikian hingga Nabi saw, jauh berbeda dengan ajaran ajaran baru yg muncul akhir akhir ini, mereka tak punya sanad guru, karena panutan mereka hanya buku semata, dan mereka lalu menafsirkan dengan kemampuannya yg dangkal, dan mengandalkan kemampuan buku.

 

Kita mengenal Imam Ahmad bin Hanbal itu hafal 1 juta hadits, namun ia tak mampu menuliskan semuanya di buku, ia hanya menuliskan sekitar 20 ribu hadits dalam musnad nya, karena tentunya ia sibuk dg ibadah dan pengajaran, di masa itu blm ada computer dan alat cetak, yg ada hanya tulis tangan.., anda dapat bayangkan dari 1 juta hadits yg dihafal Imam Ahmad, ternyata hanya 20 ribu yg tertulis dibuku, masih tersisa 980 ribu hadits yg tdk tertulis..!, demikian pula Imam Imam Muhadditsin lainnya, berarti mungkin puluhan juta hadits yg sirna,

Dan setelah hadtis2 itu ?ditulis tangan?, hanya beberapa persen saja yg sempat awet, tidak rusak dan sempat dicetak hingga masa kini, bagaimana tidak?, di Yaman di kota Tarim, disana terdapat ratusan ribu buku tulisan tangan yg belum pernah dicetak hingga kini, siapapula yg mau meluangkan waktu untuk mengetik ratusan ribu buku itu??,

 

Kalau ini sudah seperti ini dizaman sekarang, maka logika kita berapa juta buku yg pernah ditulis kemudian hilang, rusak, hancur, dll sebelum sempat dicetak..?, hilang dimakan zaman..

 

Lalu apa solusinya? Read more »

mengenal thariqah 4

Thariqat adalah suatu kebersamaan dengan syaikh, untuk melebur ego, ke dalam suasana adab agar hati yang bersangkutan bisa merasakan arti fana missal fi adhomatil akhirat. Bukan suntuk cuma dengan dunia saja. Thariqat juga tentang azimah, keterkaitan dengan Rasulullah, akhlaknya, sunnahnya, tentang adhomatil Quran; tentang kemaslahatan hidup; tentang iklim saling kecintaan terhadap sesama manusia; tentang barokah kesalehan; tentang pertalian antara hamba dengan Allah; tentang hudhur, tentang getar dalam hati kita akan kehadiran Allah. Inilah antara lain mutiara-mutiara Islam yang makin terasa hilang; maka temukanlah kembali mutiara itu melalui thariqat.

Lihatlah kecintaan dan getar hati Abu Bakar. 1427 tahun yang lalu, ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah.

Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan “Penuh Adab yang Bersungguh”, di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang Madinah, lha kok ngidul, kenapa lewatTenggara? Read more »

mengenal thariqah 3

 

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya bersyukur dapat berdialog karena dapat mengobati kerinduan saya sebagai pengamal tarekat Junaidi al-Bagdadi.

Di daerah saya ada penceramah yang mengatakan, shalat, puasa, zikir, shalawat dan lain-lain adalah tarekat atau jalan mendekat kepada Allah. Seolah kita tidak perlu mengambil salah satu tarekat yang muktabarah seperti yang kita kenal. Benarkah demikian? Beberapa penceramah pernah juga mengatakan, kita sebenarnya cukup belajar ilmu fikih. Karena amalan tarekat atau ilmu tasawuf adalah amalan wali. Sedangkan kita orang awam, bukan wali. Karena itu kami memohon petunjuk.

Lalu apa hukumnya bertarekat? Apa beda antara tarekat yang berbaiat dan amalan yang diambil dari kitab atau buku tanpa baiat? Apakah boleh mengamalkan tarekat lebih dari satu? Atas jawaban, kami ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Ananda dan keluarga dilindungi Allah (Swt). Perlu Ananda ketahui, tarekat itu sangat luas. Saya tekankan, tarekat tidak bisa dilepaskan dengan syariat. Shalat, zakat dan haji adalah sya

riat Allah. Dalam tarekat itu disebut menjalankan syariat Allah. Yang dimaksud di sini adalah thariqat al-ihsan atau tarekat yang mengajarkan jalan kebajikan. Jangan salah membedakan syariat dan tarekat. Suatu hari, bertanya Sayyidina Ali kepada Baginda Nabi, “Ya Rasulullah, ajari kami jalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.” Kata Rasulullah, “Bersembah sujudlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Bila tidak mampu melihat, merasalah dilihat dan didengar oleh Yang Mahakuasa.” Sekarang, mampukah kita menumbuhkan perasaan yang demikian di hati kita?

Saya tidak mau mengatakan orang lain, tapi saya katakan diri saya sendiri. Saya itu kalau membaca takbiratul ihram pada waktu itu saja ingat sedang berhadapan dengan Allah, tapi setelah membaca Iftitah atau surah Al-Fatihah, terkadang hati dan pikiran terbang melayang. Tidak merasa bahwa kita sedang dilihat dan didengar oleh Allah (Swt).

Menurut syariat, shalat seperti itu sudah sah. Sebab syariat hanya mengatur batal atau tidaknya berwudhu, sah atau tidaknya pakaian yang dikenakan. Itu cukup memenuhi syariat. Sedangkan tarekat tidak. Tarekat mengatur bagaimana hati kita pada waktu menghadap Allah, harus bersih dari yang lain. Sehingga merasa betul-betul bersih untuk bersembah sujud. Mampukah kita waktu sujud itu merasa sebagai hamba yang fakir? “Tiada yang wajib aku sembah melainkan Engkau.” Dan waktu bersembah sujud kita merasakan kekurangan yang ada pada diri kita. Nah, itulah tarekat. Itulah yang dimaksud ihsan. Sehingga Sayidina Ali diajarkan Baginda Nabi, pada waktu menanyakan cara mendekat kepada Allah. Rasulullah bersabda, “Pejamkan matamu, duduk yang baik dengan bersila.” Lalu ia ditalkin oleh Baginda Nabi, “La ilaha illallah, la ilaha illallah, la ilaha illallah, Muhammadur-rasulullah.” Dari situ lahirlah ijazah zikir, seperti yang diajarkan Nabi. Jika menjalankan ilmu syariat saja sudah dianggap cukup, mana mungkin Rasulullah mengajarkan hal itu pada Sayidina Ali? Padahal kita tahu siapa sebenarnya Sayidina Ali maupun sahabat yang lain. Jadi harus dipisah, mana yang merupakan syariat dan mana yang merupakan tarekat. Jadi berwudhu yang hanya sampai sebatas berwudhu—seperti menjaga agar tidak keluar angin dari belakang, tidak bersentuhan selain muhrimnya—itu baru dianggap memenuhi syarat saja.

Tarekat tidak. Anda dituntut menggunakan wudhu, bukan sekadar untuk mendirikan shalat. Tapi bagaimanakah akhlak orang yang berwudhu. Ketika kita sedang mengambil wudhu itu ada akhlaknya, ada adabnya. Bisakah wudhu membuat kita malu kepada Allah bila bermaksiat. Sedangkan tidak wudhu saja kita malu bermaksiat, apalagi menggunakan air wudhu. Selanjutnya, yang dimaksud dengan al-Muktabarah adalah tarekat yang asalnya dari Baginda Rasulullah (saw).

Ada jalurnya, ada sanad atau silsilahnya. Ada mata rantainya, yang kesemua berasal dari Baginda Nabi, sahabat, lalu kepada para wali.

Untuk pertanyaan yang terkait dengan ilmu fikih, harus diketahui bahwa ilmu fikih harus dipelajari oleh orang yang mau belajar ilmu tasawuf. Mereka ini hendaklah belajar ilmu syariat dulu dengan matang. Setelah itu baru melangkah ke dunia tarekat, terus tasawufnya. Tarekat tasawuf dan tarekat zikir itu berbeda. Kita harus mencapai tarekat zikir agar meraih ihsan. Karena tarekat tasawuf memerlukan orang yang alim betul dan cukup ilmunya. Kalau kita tidak mampu memahami dunia tasawuf, akibatnya bisa menyimpang. Terutama untuk memahami perkataan orang yang dekat kepada Allah. Mereka ini kerap memakai bahasa yang tinggi, yang sukar dicapai.

Tarekat akan menuntun kita memahami ihsan. Dari sinilah kita belajar ilmu tarekat. Dan tidak harus mengatakan bahwa ilmu tarekat adalah ilmu para wali. Itu tarekat tasawuf, jadi tasawufnya dahulu. Kita harus mencapai ihsan-nya dahulu.

Agar tidak tergolong sebagai manusia yang lalai kepada Allah (Swt), termasuk untuk menyambung hubungan antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, shalat Zuhur dan shalat Asar, shalat Asar dan shalat Magrib, Magrib dan Isya, kita harus bertanya, di tengah-tengah antara shalat-shalat itu ada apa, kita harus berbuat apa? Perbuatan kita itulah yang mengindikasikan apakah kita tergolong lalai atau tidak. Nah, tarekat berperan di situ. Yaitu, agar ada keterkaitan, misalnya antara Subuh dan Zuhur, lalu menerapkannya pada realitas perbuatan kita dengan sesama. Jangan sampai kita hanya merasa dilihat dan didengar oleh Allah saat mengucap takbiratul ihram.

Kalau Anda bertanya apa hukum bertarekat, jawabannya ada dua. Pertama, kalau bertarekat dengan dasar supaya banyak berzikir, itu sunnah. Tapi kalau dasarnya untuk menjauhkan hati dari sifat yang tidak terpuji, seperti lalai kepada Allah hingga menimbulkan takabur, sombong, hasut dan dengki, dalam hal ini hukumnya wajib. Yang dimaksud dengan baiat dalam tarekat adalah mengambil janji. Sebagaimana sahabat mengambil janji terhadap Nabi (saw). Yaitu janji meninggalkan perbuatan dosa besar, dan mengurangi dosa kecil. Mengapa kita mengurangi dosa kecil? Karena dosa kecil bermula dari kelalaian dan menganggap enteng. Sehingga disebut mengurangi, supaya kita betul-betul tidak lalai, walaupun sekecil apa pun. Kedua, janji taat kepada Allah dan Rasul-Nya, para wali dan para ulama, menaati Al-Qur’an dan Hadist, menaati negara dan pemerintahan. Ini yang disebut baiat. Baik antara pribadi dan Tuhannya, maupun pribadi dan Rasul-Nya.

Mengamalkan serangkaian wirid sebaiknya yang sudah diijazahkan, tidak secara ikhbar atau pemberitaan. Apalagi tidak melalui talkin (pengajaran langsung) dan baiat, dan tidak melalui seorang guru yang jelas. Sedangkan suatu ijazah, doa, ataupun membaca kitab tanpa seorang guru, terkadang akan salah memaknainya, termasuk tujuan yang ada di dalam kitab. Karena kita hanya memahami secara otodidak, sebatas kemampuan sendiri. Maka sebaiknya melalui seoarang guru.

Kalau dasarnya ada kemampuan, mengamalkan dua tarekat sekaligus dipersilakan saja. Kalau tidak, sebaiknya hanya satu saja, karena itu lebih baik. Sebab tarekat mempunyai madad (pertolongan) dan asrar (rahasia) yang berbeda. Dikhawatirkan, dua magnet yang berbeda ini menimbulkan ketidakstabilan. Itulah maksud para ulama melarang menduakan tarekat. Di sinilah masalahnya. Semoga Anda puas.

sumber : http://sufiroad.blogspot.com/2012/10/hb-lutfi-benarkah-tasawwuf-hanya-amalan.html

mengenal thariqah 1

Pendidikan Sejati Adalah Orientasi Hati

Kecerdasan tidak bisa menjadi jaminan keberhasilan didalam pendidikan (tarbiyah). Betapa banyak orang mengeluh karena kenakalan seseorang yang cerdas. Ilmu yang memadai tidak bisa menjadi jaminan bahwa seseorang telah benar-benar mendapatkan tarbiyah.

Sebagian kaum Yahudi yang 100% percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang akan di utus di akhir zaman (karena berita itu telah termaktub di dalam kitab suci mereka). Akan tetapi disaat tiba waktu kehadiran Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah mereka tidak mudah bagi mereka untuk menerimanya. Itu bukan karena mereka tidak tahu kalau beliau itu adalah Nabi yang mereka nanti-nanti. Tetapi karena ada yang salah di dalam tarbiyah sehingga ilmunya pun tidak membantu mereka untuk menginsyafi keberadaan Nabi Muhammagd SAW sebagai Nabi. Kesalahan tarbiyah tersebut menyebabkan kekosongan hatinya dari sifat insyaf dan akhirnya datang penggantinya sifat takabbur dan dengki kepada Nabi Muhamad SAW.

Medan tarbiyah adalah di dalam hati, dan karena tempatnya adalah hati, sulit sekali untuk dideteksi penyakit-penyakitnya. Yang terlahir dari tindak-tanduk itu hanya pancaran dari apa yang ada di dalam hati. Tidak mudah bagi orang yang melihat pancaran itu untuk membedakan apakah itu pancaran yang sesungguhnya atau palsu.

Dua orang yang memakai baju yang sama, bisa saja yang satu berniat menutup aurat dan berdandan untuk bertemu dengan sahabat sementara yang satu lagi hanya untuk menuruti hatinya yang penuh kesombongan atau karena meniru model seorang terkenal dalam kemaksiatan.

Maka hakekat tarbiyah itu adalah membenarkan jalinan kita kepada Allah SWT dan sesama manusia menuju esensi jalinan yang tertuang di dalam qalbu. Pergeseran nilai secara perlahan sering terjadi di dalam hati kita tanpa kita rasa namun tiba-tiba hati kita telah berubah dan subur oleh penyakit-penyakitnya. Seseorang yang merasa tawadhu ternyata disaat itu ia telah tersungkur ke dalam jurang ketakaburan. Yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain adalah orang yang telah mengalami krisis nilai tarbiyah yang drastis.

Oleh sebab itu para pakar tarbiyah yang sejati dalam terapi pengobatan penyakit hati di samping menyuruh para siswanya untuk sering mendengar wejangan-wejangan kerohaniahan tetapi mereka juga melatih siswanya mujahadah dan riyadloh ( memerangi hawa nafsu). Bahkan tarbiyah dengan terapi seperti ini lebih mereka dahulukan daripada ilmu itu sendiri. Sebab ilmu yang tidak dibarengi dengan tarbiyah yang benar hanya akan menjadikan hati penyandangnya semakin kotor.

Kesadaran seseorang akan kelemahan dirinya adalah kunci keberhasilan dalam tarbiyah. Bahkan tidak banyak artinya sejuta petuah bagi orang yang tidak merasa dirinya perlu kepada petuah. Introspeksi dengan selalu mewaspadai tercemarnya hati dari penyakit-penyakitnya adalah upaya menghadirkan sifat-sifat terpuji. Orang yang menginginkan tarbiyah akan selalu membuka hatinya untuk menerima apa saja yang menjadikan dirinya baik. Ia akan selalu melihat kebutuhan dirinya kepada resep-resep untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati. Kesadaran yang ada dalam dirinya akan kebutuhannya terhadap resep itu adalah kunci keberhasilan. Ia tidak sibuk mencocok-cocokkan resep itu untuk orang lain. Menjadikan dirinya obyek utama. Yang dituju pesan-pesan moral adalah kesiagaan di dalam menerima tarbiyah.
Wallahu a’lam bishshowab

Pendidikan yang Sesungguhnya
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Read more »

Habib Lutfi bin Yahya : intinya NU itu ya orang-orang Thariqah

Nahdlatul Ulama (NU) memang sangat kental dengan nuansa sufi, sufisme, tasawuf dan Thariqah / Tarekat, karenanya, secara organisatoris  para sufi, pengamal ajaran taswuf dan pengikut Thariqah diberi ruang sendiri sebagai Badan Otonom yang diberi nama Jamiyyah Ahl Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyyah (JATMAN).

 

Cupilkan tanya jawab dengan Habib Lutfi bin yahya :

 

Tema Besar Multaqos Shufi adalah “Membangun Peradaban Dunia yang Damai, Adil dan Jujur Melalui Implementasi Ajaran Thariqah”. Bagaimana Penjelasannya?

Thariqah itu Min Ahli Laa Iilaaha Illallah, di mana ajarannya mencermikan setelah kita iman dan Islam lalu Ihsan. Makna Ihsan dalam hal ini adalah menyembahlah kepada Allah seolah-olah kita berhadapan dengan Allah. Kalau tidak mampu, kita harus yakin bahwa kita sedang menghadap Allah SWT. Dengan merasa didengar dan dilihat oleh Yang Maha Kuasa, itu akan mengurangi perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Apalagi kepada orang lain. Karena kita malu, takut kepada Yang Maha Kuasa.

Tasawuf itu sendiri berfungsi untuk menjernihkan hati dan membersihkan haws nafsu dari berbagai sifat yang dimiliki manusia, utamanya sifat kesombongan yang disebabkan oleh banyak hal. Jika ajaran Tasawuf itu diamalkan, tidak ada yang namanya saling dengki dan saling iri, justru yang muncul adalah saling mengisi.

Ada kesan kuat setiap aliran Thariqah sampai saat ini merasa paling benar sendiri, yang lain salah. Mengapa muncul pemikiran seperti itu di kalangan pengikutnya?

Thariqah tidak mengajarkan yang demikian itu. Antara thariqah yang satu dengan yang lainnya bertentangan atau pengikutnya merasa paling benar, tidak ada itu. Justru yang ada keutamaan amaliyah ma¬sing-masing Thariqah. Contohnya ada yang suka baca Surat Al-lkhlas karena Allah Ta’ala memberikan keistimewaan pada surat tersebut. Ada juga yang mengutamakan mu¬’awwidzatain. Allah SWT memang memberikan berbagai keutamaan pada surat-surat dalam Al-Qur’an tertentu, seperti Surat Yaasin, Waqi’ah, dll. Pertanyaannya, apakah dengan membaca salah satu surat yang diistimewakan Allah itu menunjukkan dirinya paling benar? Tidak ada itu. Apalagi mengklaim dirinya paling benar.

Antar Thariqah biasanya saling bersaing. Bagaimana cara mempersatukan persepsi mereka, sehingga bisa sejalan?

Sesuai pengetahuan saya tentang Thariqah di Indonesia, dari 41 Thariqah yang bernaung di bawah Nandlatul Ulama dapat dipersatukan. Kalau mereka mengklaim paling benar, ya tidak ada Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nandliyah, karena mereka sulit dipersatukan. Amaliyahnya sama, yakni bacaan utamanya kalimat “Laa Ilaaha Illallah”.

Habib, dalam pembicaraan seringkali bias antara Tasawuf dan Thariqah. Apa sebenarnya beda keduanya?

Tasawuf itu buah dari Thariqah, pakaian Thariqah adalah Tasawuf yang bersumberkan dari akhlak dan tatakrama (adab). Contohnya, orang masuk kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu, masuk masjd mendahulukan kaki kanan, dll. Itu semua ajaran Tasawuf. Contoh lain. Sebelum makan baca Basmalah dan setelah selesai baca Hamdalah. Apa yang diajarkan dalam Tasawuf sebagai bentuk rasa terima kasih kepada yang member rejeki. Kita ambil satu butir nasi, karena kita sadar bahwa kita tidak bisa membuat butir nasi, lalu kita bersyukur, itu semua ajaran Tasawuf.

Nah, kalau syari’at sudah terbatas. Makanya jika syariat yang diberlakukan, orang mabuk tidak boleh berdekatan dengan orang muslim. Kalau Tasawuf tidak demikian. Mereka harus diajak bicara, mengapa mereka mabuk. Kita tidak boleh tunduk dengan pejabat karena ada alasan tertentu, akan tetapi kita wajib menjaga wibawa pejabat di hadapan umum, sekalipun dengan pribadi kita ada ketidakcocokan. Akan tetapi jangan asal tabrak. Ini semua juga ajaran Tasawuf. Read more »

perbedaan antara Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Wahabi dan Syiah

sebenarnya Islam telah menyatukan semuanya. Ahlussunnah Wal-Jama’ah Islam, Wahabi Islam, Syiah juga Islam. Jadi Islam telah menyatukan mereka. Hanya saja kemudian mereka dikotak-kotakkan dan dipisahkan oleh banyak perbedaan baik dalam masalah-masalah ushul (akidah) maupun dalam masalah-masalah furu’ (fiqih). [Tentu saja, Syiah masih dianggap Islam, selama mereka tidak menistakan para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mengakafirkan sahabat dan tidak meyakini kepalsuan al-Qur’an).

Sebenarnya bagaimana peta perpecahan antara aliran-aliran tersebut?

Jadi begini, 90 % umat Islam itu pengikut madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan yang 10 % ada yang Syiah, Zaidiyah, Khawarij (Ibadhiyah) dan Mu’tazilah.

Dari 90 % pengikut madzhab empat tersebut, apabila kita petakan akidah mereka adalah sebagai berikut:

1) Pengikut madzhab Hanafi, 30 % mengikuti akidah Asya’irah, dan 70 % mengikuti Maturidiyah

2) Pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i, 100 % mengikuti Asya’irah

3) Pengikut madzhab Hanbali, dalam akidah pecah menjadi tiga kelompok.

Pertama, mayoritas mereka, atau sekitar 60 % adalah pengikut Hasyawiyah, atau Mujassimah yang berkeyakinan Allah berdomisili di Arasy. Kelompok ini disebut dengan Ghulat al-Hanabilah (kaum ekstrem madzhab Hanbali).

Kedua, kelompok yang mengikuti madzhab Asya’iroh, seperti Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, Rizqullah bin Abdul Wahhab al-Tamimi dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. Kelompok ini disebut dengan fudhala’ al-hanabilah (kaum utama madzhab Hanbali).

Ketiga, mengikuti ajaran tafwidh, yakni tidak melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat, tapi menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga kelompok tersebut sama-sama mengklaim sebagai representasi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang akidah. Akan tetapi meskipun ketiga kelompok tersebut berbeda dalam soal-soal akidah, mereka sama-sama mengikuti ajaran tashawuf, melakukan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah kubur.

Pada abad ketujuh Hijriah, kelompok Ghulat al-Hanabilah hampir habis dan beralih haluan mengikuti Asya’irah, berkat kebijakan Raja Zhahir Baibars al-Bindiqdari, yang mengangkat Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) dari madzhab empat. Sehingga keempat madzhab tersebut sering melakukan diskusi, dan dampak positifnya, penyakit tajsim (menjasmanikan Tuhan) yang menggerogoti Hanabilah, sedikit demi sedikit terobati dan hampir habis.

Hanya saja setelah itu lahir Syaikh Ibnu Taimiyah, yang kemudian berhasil meradikalisasi madzhab Hanbali dalam bidang ushul dan furu’. Dalam bidang akidah, Ibnu Taimiyah mengembalikan mayoritas Hanabilah menjadi pengikut Hasyawiyyah dan membabat habis kelompok Fudhala’ al-Hanabilah yang mengikuti Asya’irah. Sedangkan dalam bidang furu’, Ibnu Taimiyah mengharamkan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wali dengan tujuan tabaruk. Dalam rangka radikalisasi tersebut, Ibnu Taimiyah membuat perangkat ideologi yang disebut dengan pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. Tauhid Uluhiyah dibuat untuk melarang amalan-amalan seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah. Sedangkan Tauhid Asma wa Shifat dibuat untuk menyesatkan mayoritas umat Islam yang berakidah tanzih (menyucikan Allah dari menyerupai makhluk) dan melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat. Akan tetapi perlu dicatat, Ibnu Taimiyah masih membolehkan membaca al-Qur’an di kuburan, tahlilan, dzikir bersama, maulid dan beberapa tradisi shufi lainnya.

Pada abad kedua belas Hijriah, muncul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, pendiri Wahabi. Dia meradikalisasi madzhab Hanbali, lebih keras dari Ibnu Taimiyah, dengan mengadopsi akidah Hasyawiyah. Hanya saja, beberapa amalan yang diharamkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah dengan alasan Tauhid Uluhiyah, oleh pendiri Wahabi tersebut dinaikkan status hukumnya menjadi syirik akbar, murtad dan kafir. Sedangkan beberapa tradisi shufi yang dibolehkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti dzikir bersama, membaca al-Qur’an di kuburan, maulid, tahlilan dan semacamnya diharamkan dengan alasan bid’ah dhalalah dan pemurnian agama.

Lalu bagaimana perbedaan mendasar dalam aspek akidah, antara Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Wahabi dan Syiah?

Perbedaannya tidak sederhana, dan tidak semudah Anda mengajak kami, mari kita bersatu menghadapi Syiah dan Liberal. Ini namanya menyederhanakan persoalan.

Sekarang kita melihat perbedaan akidah, antara Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Wahabi dan Syiah. Contohnya dalam konsep tentang ketuhanan. Dalam madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah, berkaitan dengan ketuhanan ada konsep sifat wajib dua puluh bagi Allah. Sifat dua puluh ini, selain sebagai internalisasi, atau membangun konsep yang benar tentang ketuhanan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah seperti yang dipahami oleh ulama salaf, juga sebagai respon terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan faksi-faksi di luar Ahlussunnah Wal-Jama’ah, seperti Mu’tazilah, Zaidiyah, Syiah, Wahabi dan lain-lain.

Secara sederhana begini, sifat dua puluh tersebut dibangun oleh para ulama dalam rangka menjawab pertanyaan paling mendasar tentang Allah.

Misalnya tentang sifat wujud. Ada sebuah pertanyaan, apakah Allah itu ada? Jawabannya, Allah itu ada, dan keberadaannya bersifat wajib ‘aqli (wajibul wujud). Dalam masalah ini, tidak ada perbedaan antara Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Wahabi, Mu’tazilah dan para pengikutnya, yaitu Zaidiyah, Syiah, Khawarij dan Hizbut Tahrir. Karena keempat kelompok tersebut secara ideologi mengikuti Mu’tazilah.

Pertanyaan kedua, apabila Tuhan itu ada, lalu sejak kapan keberadaan-Nya? Jawabannya, Tuhan itu bersifat qidam, keberadaan-Nya tanpa permulaan. Mengenai sifat qidam ini, umat Islam sepakat, bahwa wujudnya Tuhan tanpa permulaan, baik Ahlussunnah, Mu’tazilah, Syiah dan Wahabi. Hanya saja, dalam ajaran Hasyawiyah (yang diikuti Wahabi), sejak masa Ibnu Taimiyah, menolak penggunaan istilah qidam bagi Allah, dan menganggapnya bid’ah yang sesat, dengan alasan istilah qidam bagi Allah tidak ada dalam al-Qu’an dan hadits. Padahal penetapan sifat Qidam tersebut didasarkan pada dalil ijma’ ulama salaf. Oleh karena itu, para ulama sebelum Ibnu Taimiyah, termasuk Hasyawiyah sendiri menerima istilah Qidam bagi Allah.

Pertanyaan ketiga, sampai kapan wujudnya Tuhan? Jawabannya, Tuhan wajib bersifat baqa’, kekal dan abadi, yaitu wujudnya tidak ada akhirnya. Dalam masalah ini, semua umat Islam sepakat, karena istilah baqa’ bagi Tuhan memang ditegaskan dalam al-Qur’an.

Pertanyaan keempat, kalau Tuhan itu memang Wujud, Qidam dan Baqa’, lalu Tuhan itu seperti apa? Jawabannya, mayoritas umat Islam, Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Mu’tazilah dan Syiah sepakat menjawab, Tuhan itu bersifat mukhalafah lil-hawaditsi, yaitu Dzat Tuhan berbeda dengan apapun dari makhluk-makhluk-Nya yang baru. Sementara kaum Wahabi berbeda dengan mayoritas umat Islam. Karena itu, Wahabi disebut kaum Musyabbihah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk) dan Mujassimah (menjasmanikan Tuhan).

Pertanyaan kelima, kalau begitu, Tuhan tinggal di mana? Menjawab pertanyaan ini, ketiga kelompok tadi berbeda lagi. Mu’tazilah dan Syiah menjawab, Tuhan ada di mana-mana. Wahabi menjawab lain, dan berpendapat bahwa Tuhan bertempat di Arasy. Sedangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang merupakan mayoritas umat Islam menjawab, Tuhan tidak butuh pada tempat. Tuhan ada sebelum adanya tempat.

Masalah ini sebenarnya perbedaan yang paling utama dan paling pokok antara Wahabi dengan umat Islam yang lain dalam masalah ketuhanan. Sehingga menurut Wahabi, umat Islam yang tidak meyakini Tuhan berdomisili di Asrasy adalah kafir, karena telah melanggar Tauhid Asma wa Shifat. Dan dengan Tauhid Asma wa Shifat ini pula, Wahabi menganggap umat Islam yang melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat adalah sesat. Padahal ta’wil dalam hal tersebut telah dilakukan oleh kaum salaf yang shaleh sejak generasi sahabat. Jadinya, Tauhid Asma wa Shifat telah berdampat negatif, karena menyesatkan umat Islam sejak generasi salaf yang shaleh.

Sementara Ahlussunnah Wal-Jama’ah, berpendapat bahwa keyakinan Wahabi bahwa Tuhan berdomisili di Arasy adalah sesat dan menyesatkan. Karena keyakinan tersebut dapat menjerumuskan pada kekufuran. Kaum Wahabi memiliki keyakinan, bahwa setiap sesuatu yang ada pasti bertempat. Tuhan itu ada, berarti bertempat. Kalau tidak bertempat, berarti tidak ada.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berdialog dengan seorang Ustadz Wahabi. Saya bertanya kepada dia, Tuhan itu bertempat apa tidak? Dia menjawab, ya bertempat. Kalau tidak bertempat berarti tidak ada. Karena setiap sesuatu yang ada pasti bertempat. Lalu saya tanya, kalau begitu, tempat-Nya di mana? Dia menjawab, di Arasy. Lalu saya bertanya lagi, Arasy itu makhluk apa bukan? Kalau Anda menjawab bukan makhluk, Anda kafir, karena meyakini ada sesuatu selain Tuhan yang bukan makhluk Tuhan. Kalau Anda menjawab, Arasy itu makhluk, saya akan bertanya lagi. Dia menjawab, tentu saja Arasy itu makhluk. Lalu saya bertanya lagi, kalau begitu, sebelum Allah menciptakan Arasy, Allah bertempat di mana? Akhirnya Wahabi tersebut tidak bisa menjawab, dan berbicara ke mana-mana.

Pendapat Wahabi bahwa setiap sesuatu yang ada pasti bertempat, jelas menjerumuskan pada kekufuran, ketika mereka dihadapkan pada persoalan, di mana tempat Tuhan sebelum menciptakan tempat. Kalau mereka menjawab, Tuhan tidak ada, berarti mereka kafir. Kalau mereka menjawab, Tuhan ada tanpa tempat, berarti mereka paradoks dan membatalkan konsepnya sendiri.

Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga menolak konsep Mu’tazilah dan Syiah yang mengatakan Tuhan ada di mana-mana. Karena pendapat tersebut melecehkan Tuhan, dengan kesimpulan bahwa Tuhan ada di tempat-tempat yang baik seperti Masjid dan tempat ibadah, juga di tempat-tempat yang tidak baik seperti toilet dan semacamnya. Oleh karena itu, mayoritas umat Islam, Ahlussunnah Wal-Jama’ah meyakini Tuhan itu ada tanpa tempat.

Nah, dari jawaban saya yang agak panjang, pertanyaan Anda, mungkinkan Nahdlatul Ulama bersatu dengan Wahabi? Jawabannya, di sini harus dipahami bahwa perbedaan kami dengan Wahabi tidaklah sederhana. Kami mengikuti mayoritas umat Islam sejak generasi salaf yang shaleh dari kaum ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Sedangkan Wahabi mengikuti kaum Hasyawiyah, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi. Sedangkan Syiah mengikuti Mu’tazilah.

oleh KH Muhammad Idrus Ramli

sumber : https://www.facebook.com/MuhammadIdrusRamli/posts/424340924407819:0

janganlah kau bersedih

Sebuah pesan dari Syaikh Mustafa Mas’ud Al Haqqani :

” Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.
Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu. Dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasihatmu pada suatu hari…..

Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu.
Ekonomi akan tetap berlangsung!
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain.
Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3;
Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.
Kawan2mu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!
Di rumah ada kesedihan yg mendalam! Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah “Kisahmu telah berakhir di tengah2 manusia”.
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!
Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:
Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu??
Hakikat ini memerlukan perenungan.

Usahakan dengan sungguh2;
Menjalankan kewajiban kewajiban,
hal-hal yg disunnahkan,
sedekah rahasia,
merahasiakan amal shalih,
shalat malam,
Semoga saja engkau selamat.

Andai engkau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat. “Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin”

(Diterjemahkan oleh Ust. Ainul Haris, semoga Allah mengampuninya). ”

sumber : https://www.facebook.com/SyaikhMustafaHaqqani/photos/a.747060395304261.1073741828.385219538155017/920461317964167/?type=1

jangan kepincut slogan “kembali ke AL Qur’an dan Hadist” ! tapi ikutilah Ulama dalam rangka mengikuti Al Qur’an dan Hadist

Kiai atau ulama kita berpegang teguh pada al-Quran dan Sunah. Beliau semua menerapkan keduanya tanpa meninggalkan konteksnya, yaitu kebudayaan lokal. Tidak mengamalkan al-Quran dan Sunah secara harfiah. Membuka mesin yangg benar dengan menggunakan kunci-kuncinya, obeng dll. Ada juga yang membuka mesin dengan arit dan palu, yang penting terbuka.

Ulama kita memilih cara pertama, memahami dan menerapkan al-Quran-Sunah dengan perangkatnya “Asal” menerapkan al-Quran dan Sunah seperti membuka baud dengan arit dan palu bukan dengan alat atau cara semestinya. Anak-anak muda mudah sekali “kepincut” dengan slogan “menurut al-Quran- hadis”, padahal itu semakin menjauhkan dari Islam.

Sebab kembali atau merujuk pada al-Quran dan Sunah tanpa ilmu justru semakin menjauhkan umat dari keduanya. Malah menyesatkan, contoh yang terjadi saat ini pembantaian yang kita lihat di Syiria, Irak dan negara Islam lainnya. Apakah benar al-Quran dan Sunah Nabi mengajarkan pembantaian? Contoh lainnya dalam ilmu Tauhid, alih-alih merujuk langsung pada al-Quran-hadis malah menjadi faham “mujasimah”/ tajsim: Allah berfisik. Faham ini jauh dari ajaran al-Quran. Ahlu Sunah wal jamaah menerapkan al-Quran dan Sunah tanpa memisahkannya dengan konteks, tidak dogmatis. Ulama yang menerapkan al-Quran dan Sunah tanpa meninggalkan konteks akan moderat. Sebaliknya, orang yang menerapkan keduanya secara harfiah, setback.

Salah satu sarat mutlak merujuk pada al-Quran dan Sunah adalah dengan merujuk pada pendapat para ulama, sebab jaringan transmisi kita melalui beliau-beliau semua. Para ulama sinambung, menyambung secara terus menerus dengan para atba’ tabi’in, tabi’in dan para sahabat Nabi. Para Ulama itulah yang paling memahami atsar sahabat, dan para sahabat yang paling memahami sunah Nabi. Sebagai contoh, Sahabat Nabi saw, Sy. Abdullah bin Umar mempunyai Murid Imam Nafi’, Imam Nafi mempunyai murid Imam malik, Imam Malik mempunyai murid Imam Syafi’i, Imam Syafi’i mempunyai murid Imam al-Muzni, al-Muzni mempunyai murid Imam Thahawi terus sinambung sampai imam al-Juwaini, Imam Haramain, Imam Gazali sampai Syekh Zaini Dahlan, Syekh Nawawi al-Bantani, KH. Hasyim Asy’ari sampai pada kiai-kiai saat ini. Jadi bagaimana mungkin kita langsung merujuk pada para Sahabat atau Tabi’in dengan meninggalkan jaringan ini.

Oleh sebab itu, Imam`Ala’udin Ali al-Hanafi (W. 796 H) dalam kitabnya al-Ittiba’ mengatakan: ومن ظن أنه يعرف الأحكام من الكتاب والسنة بدون معرفة ما قاله هؤلاء الأئمة وأمثالهم فهو غالط مخطئ “Orang yang merasa bahwa dirinya mengetahui hukum-hukum (syariat) langsung dari al-Quran dan Sunah, tanpa merujuk pada penjelasan penjabaran para Imam-imam besar itu, ia orang yang salah dan menyesatkan”

Read more »

Makkah sudah seperti Manhattan atau Las Vegas. Sebanyak 98 persen situs Islam bersejarah sudah dihancurkan

Kita sudah terlambat buat selamatkan Makkah

Tengoklah Makkah, terutama di sekitar Masjid Al-Haram, tempat kiblat orang Islam berada. Hotel, pusat belanja, dan apartemen-apartemen mewah mengelilingi areal itu.

Kalau malam Makkah bermandikan cahaya. Semua kini akibat dari proyek modernisasi di kota suci itu. Sampai-sampai banyak pihak menyamakan Makkah dengan Manhattan (jantung kota New York, Amerika Serikat) atau kota judi Las Vegas.  “Kita sudah kehilangan 98 persen tempat bersejarah di Makkah dan Madinah,” kata Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation, London, Inggris, Dr Irfan al-Alawi saat dihubungi melalui WhatsApp sehari menjelang pergantian tahun. “Tapi ini hanya sepuluh persen dari apa bakal terjadi nanti.”

Berikut penjelasan Dr Irfan kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co.

Bisakah Anda jelaskan seberapa buruk akibat dari proyek perluasan Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi?

Ini adalah kehancuran Makkah dan namanya bukan lagi Makkah tapi Manhattan. Sebab hampir semua tempat bersejarah telah dihancurkan sekarang, termasuk tiang penanda lokasi rumah Ummu Hani di kawasan Masjid Al-Haram. Dia adalah bibi dari Nabi Muhammad. Dari rumah bibinya itulah Rasulullah melaksanakan isra dan mikraj.

Kediaman Hamzah, paman nabi, juga sudah lenyap, dan sumur Tuwa dalam ancaman digusur. (Di sumur Tuwa itulah Rasulullah menginap semalam sebelum paginya memasuki Kota Makkah. Tuwa adalah nama salah satu lembah di Makkah dan kini sudah dipenuhi banyak bangunan). Rumah kelahiran nabi sekarang sudah menjadi perpustakaan juga terancam dirobohkan.

Setelah proyek perluasan di Makkah selesai, Saudi bakal memulai perluasan serupa di Madinah. Sekarang saja hotel-hotel di sekitar Masjid Nabawi telah dihancurkan. Banyak masjid-masjid bersejarah di Madinah terancam dihilangkan. Read more »

Jangan seperti kafir Quroisy yang mengatakan Nabi Muhammad saw tidak punya keturunan!

Nabi Muhammad SAW yang beristrikan Sayyidatuna Khodijah Al Kubra juga ternyata merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan anak laki-laki, Beliau Rasulullah SAW sebagai seorang ayah cukup berbahagia ketika memperoleh anak laki-laki. Beliau berharap kelak putra putranya itu menjadi penerus perjuangan dakwah beliau. Rasulullah SAW sendiri dari istri beliau yaitu Sayyidatuna Khadijah Al Kubra mempunyai putra dan putri yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummi Kalsum, Fatimah Azzahra, Qosim, Abdullah (beliau wafat masih kecil), ada juga sejarawan Islam yaitu Ibnu Hazm yang menyebut nama Ibrahim sebagai anak Rasulullah SAW. Ibrahim sendiri adalah anak dari istri Rasulullah SAW yang bernama MARIYAH AL QIBTHIYYAH. Artinya keberadaan Ibrahim setelah wafatnya anak laki laki Rasulullah SAW dari rahim Siti Khadijah Al Kubra. Namun dari kesemua anak laki beliau ini, yang mahsyur adalah Qosim ini karena kelak dari Qosim inilah turunnya surat al quran, sehingga tidak jarang Rasulullah SAW sering dipanggil dengan gelar ABUL- QOSIM.

Nah saat Rasulullah SAW sedang menikmati kebahagiaannya sebagai seorang ayah dari anak anak beliau tersebut, ternyata Allah berkehendak lain. Abdullah wafat saat masih kecil…..Namun yang lebih mengguncang hati dan perasaan RasulullahSAW ketika Qosim yang sedang lucu-lucunya tidak lama kemudian dalam usia 6 tahun wafat melalui sakit…..Betapa sedih hati Nabi Muhammad SAW ketika mendapati keadaan jika anak laki-laki terakhirnya wafat. Tidak terbayang bagaimana perasaan Rasulullah SAW saat itu.

Disaat Rasulullah SAW sedang berduka, tiba tiba ada beberapa orang kafir Quraish mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa “MUHAMMAD KETURUNANNYA SUDAH TERPUTUS…..”. Salah satu manusia kurang ajar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW keturunannya terputus adalah AL’ASH bin WA’IL AS SAHMY. Manusia kurang ajar yang satu ini sering mengucapkan didepan khalayak ramai dengan ucapan “DIA (MUHAMMAD) ADALAH ORANG YANG PUTUS KETURUNAN (TIDAK AKAN PUNYA KETURUNAN), BILA IA SUDAH MATI KITA TIDAK AKAN BERHADAPAN DENGAN KETURUNANNYA DAN KALIAN AKAN DAPAT BERISTIRAHAT DARI GANGGGUANNYA…”. Begitu mendengar hinaan ini betapa hancur dan sedihnya hati Rasulullah SAW. Pernyataan AL Ash bin Wa’il As-Sahmy ini bahkan ditambahkan dan diperkuat lagi oleh UQBAH BIN ABI MU’AIT dengan mengatakan “TIDAK SEORANG ANAK LAKI-LAKIPUN YANG HIDUP BAGI MUHAMMAD, SEHINGGA KETURUNANNYA TERPUTUS”, sudahkah berhenti hinaan ini? Belum…..masih ada lagi yaitu hinaan yang datang dari AL-WALID BIN AL-MUGHIRAH dan biang kerok kafir quraish, siapa lagi kalau bukan si Dungu alias ABU JAHAL, kedua orang ini mengatakan “LIHATLAH, MUHAMMAD TIDAK AKAN PUNYA KETURUNAN”.

Tidak bisa dibayangkan betapa tersayatnya hati Rasulullah SAW mendengar hinaan dan caci maki ini. Namun Allah SWT rupanya tidak membiarkan Hambanya yang mulia ini bersedih, tidak lama kemudian turunlah ayat yang membantah pernyataan AL’ASH bin WA’IL AS SAHMY, yaitu SURAT AL KAUTSAR 1-3 yang berbunyi : SESUNGGUHNYA KAMI (ALLAH) TELAH MELIMPAHKAN BANYAK NIKMAT KEPADAMU (HAI MUHAMMAD), MAKA TEGAKKANLAH SHOLAT KARENA TUHANMU DAN BERKORBANLAH, ORANG YANG MEMBENCIMU ITULAH YANG SEBENARNYA PUTUS (DARI RAHMAT ALLAH). Beberapa ulama ahli tafsir seperti Imam As-Suyuthi dalam kitabnya “Asbabun Nuzul” dan dalam kitab tafsirnya “Ad-Dur Al Mantsur” bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW tidak terputus justru yang terputus keturunannya adalah orang orang yang menghina Nabi Muhammad SAW tersebut. Selain imam Assuyuti SURAT AL-KAUTSAR ayat 1-3 banyak diriwayatkan, bantahan dari surat Al Kautsar ini juga diantaranya misalnya diriwayatkan oleh Ibnu Jabir yang bersumber dari Syammar bin Athiyah, Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Terutama ayat 3 Yaitu INNA SYAA NIAKA HUWAL ABTAR, adalah merupakan jawaban penegasan untuk mereka yang sudah menghina Nabi. Kata “ABTAR” pada akhir surat tersebut antara lain bermakna “ORANG YANG TERPUTUS KETURUNANNYA “. Kata “ABTAR” dimaksud tidak bermakna lain selain keturunan.

Dan sejarah membuktikan, bahwa orang orang yang pernah menghina Nabi Muhammad SAW, keturunannya terputus semua…beberapa tokoh Quraish yang menghina Nabi Muhammad SAW, mereka terputus keturunannya, Abu Jahal (si dungu) keturunannya terputus, anaknya Ikrimah tidak melanjutkan nasabnya, Ikrimah justru masti syahid dalam peperangan, Allah masih mentakdirkan anak abu jahal selamat dari pengaruh bapaknya. Al Ash bin Wa’il As-Syahmi juga putus keturunannya. Salah satu anaknya adalah tokoh Islam yang bernama Amr bin Al Ash. Amr bin Al Ash adalah salah tokoh yang ikut menjatuhkan Imam Ali bin Abi Thalib dalam perundingan Tahkim, Amr bin Ash terkenal licin, cerdik, lihai dan licik dalam dunia politik. Amr bin Al Ash berhasil mengalahkan Abu Musa Al Asyari dalam perundingan tahkim. Amr bin Al Ash dalam sikap politiknya lebih cenderung mendukung muawiyah bin Abi sofyan, apalagi dukungan Amr bin Al Ash ini karena amr bin AL ‘ASH dijanjikan wilayah mesir oleh Muawiyah bin Abu Sofyan. Sikap Amr bin Al Ash banyak tidak disukai oleh para pendukung Imam Ali dan para sahabat Imam Ali yang jujur, termasuk Abdullah bin Abbas yang sangat mengetahui persis siapa amr bin Al ash ini sebenarnya, Abdullah bin Abbad sangat khawatir dengan Amr bin Al Ash ini dan terbukti, pada saat perundingan, ternyata kelicikan amr bin al ash berhasil mengecoh abu musa al asyari yang memang tikipalnya polos dan jujur. Kalahnya perundingan politik ini menyebabkan kedudukan Imam Ali makin lemah dan akhirnya kelak berhasil direbut oleh muawiyah melalui tangan anak Imam Ali yaitu Sayyidina Hasan. Mengenai Amr Bin Al Ash ini tidak diketahui keturunan dia mempunyai keturunan yang berlanjut apa tidak, yang jelas sikapnya yang pro kepada Muawiyah menyebabkan Banyak orang sakit hati.

Bagaimana dengan generasi selanjutnya pasca wafatnya anak Nabi Muhammad SAW yaitu Qosim atau Ibrahim dan hubungannya dengan Surat Al Kautsar itu? ternyata setelah hinaan hinaan tersebut muncul, justru Rasulullah SAW melalui anaknya SAYYIDATUNA FATIMAH melahirkan SAYYIDINA HASAN dan SAYYIDINA HUSEIN yang kelak memiliki banyak keturunan dan tidak terputus sampai sekarang!!!. Mereka keturunan Al Imam Hasan dan Al Imam Husein menjadi generasi penerus NASABNYA RASULULLAH SAW hingga saat ini. Surat AL Kautsar ayat 3 membuktikan bahwa keturunan Rasulullah SAW hingga kini langgeng pada saat ini. SAYYIDATUNA FATIMAH dengan pernikahannya dengan IMAM ALI bin ABI THALIB mendapat kehormatan sebagai wanita satu satunya penyambung nasabnya Rasulullah SAW dan hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dengan mengatakan “SEMUA ANAK ADAM BERNASAB KEPADA ORANGTUA LELAKI (AYAH MEREKA), KECUALI ANAK-ANAK FATIMAH.AKULAH AYAH MEREKA DAN AKULAH YANG MENURUNKAN MEREKA” (seperti yang terdapat pada tafsir al manar oleh syekh muhammad abduh), juga sebuah Hadist yang berbunyi “semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku (HR attobroni, Alhakim, Al Baihaqi)”, Dan pernyataan Rasulullah SAW ini juga dipertegas lagi dengan Hadist beliau yang berbunyi “DUA ORANG PUTRAKU (maksudnya adalah Al Hasan dan Al Husein) adalah Imam-imam baik disaat mereka sedang duduk maupun sedang berdiri” (terdapat dalam kitab Al Ahkam-Imam Bukhari, dan Al Imarah oleh Imam Muslim. Nah Rasulullah SAW dalam berbagai hadist tentang Ahlul Bait sering menyebut kedua cucunya adalah “PUTRA-PUTRAKU”. Kalimat “PUTRAKU-PUTRAKU (ANAK ANAK KAMI)” biasanya hanya disebutkan sebagai sebuah hubungan garis nasab. Nah dengan adanya kalimat penyebutan bahwa Al HASAN dan AL HUSEIN sebagai “PUTRA-PUTRA” RASULULLAH SAW maka berarti dengan dengan tegas dan diperkuat dengan adanya SURAT AL KAUTSAR maka keturunan Rasulullah SAW ada dan eksis.

sumber : http://sejarahgunungbatu.blogspot.com/2013/07/sejarah-munculnya-kalimat-terputusnya.html

Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya?

Pada 15 Januari lalu, Maulana Habib Luthfi mengisi pengajian Maulid Nabi di Masjid Jendral Besar Sudirman bersama TNI-POLRI yang diselenggarakan oleh Korem Wijayakusuma 071 Purwokerto. Dalam acara yang dihadiri oleh TNI-POLRI dan masyarakat itu, Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan: “salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiah, khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya”.

Habib Luthfi menambahkan, “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam’iyah Toriqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non muslim. Bahkan bangunan masjid kudus mengakomodasi arsitektur non muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik”.

Selain itu, Habib Luthfi juga berpesan, “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalikan air tawar, ia tetap asin  dan tak pernah memaksa ikan di dlmnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat merah putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jadi diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran. Anak-anak kita ajak ke makam pahlawan –anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya-. Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini. Agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun”.

Habib Luthfi menegaskan, “Walau hanya sebutir pasir, selama ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi saw mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng idiologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI. Demikian pesan yang disampaikan oleh Habib Luthfi pada kesempatan itu. (Tsi)

Terakhir diubah pada Sabtu, 17 Januari 2015 15:29
sumber : http://www.habiblutfi.net/show/story/439/pancasila-asas-negara-nkri-harga-mati.html

ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi

Seorang murid berjalan menuju rumah syaikhnya. Tampak di wajahnya sedang menginginkan sesuatu. Ketika sampai di rumah syaikhnya, dia duduk bersimpuh beradab di hadapan sang syaikh tak bergeming sedikitpun. Kemudian dengan wajah dan suara yang berwibawa itu, bertanyalah syaikh kepada muridnya,

“Apakah yang membuatmu datang kepadaku di tengah malam begini?” Dijawabnya dengan suara yang halus,

“Wahai syaikh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi, tetapi keinginanku belum terkabul juga.”

“Ooh…itu rupanya yang kau inginkan. Tunggu sebentar,” jawab syaikh.

Dia mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.

“Ini…bacalah setiap hari sebanyak seribu kali. Insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu.”

Pulanglah murid membawa catatan dari sang syaikh dengan penuh harapan ia akan bertemu dengan Nabi SAW. Tetapi setelah beberapa minggu kembalilah murid ke rumah syaikhnya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak berpengaruh apa-apa. Kemudian syaikh memberikan bacaan baru untuk dicobanya lagi. Sayangnya beberapa minggu setelah itu muridnya kembali lagi memberitahukan kejadian yang sama. Read more »

Siapakah Yang Disebut Ulama Salaf ?

Istilah ‘salaf’ artinya adalah sesuatu yang lampau atau terdahulu. Terjemahan salaf dalam bahasa Indonesia bisa bermacam-macam, seperti lampau, kuno, konservatif, konvensional, ortodhox, klasik, antik, dan seterusnya.

Kalau kita lihat dari sisi ilmu hukum dan syariah, istilah salaf sebenarnya bukan nama yang baku untuk menamakan sebuah medote istimbath hukum. Istilah salaf hanya menunjukkan keterangan tentang sebuah kurun waktu di zaman yang sudah lampau.

Kira-kira perbandingannya begini, kalau kita ingin menyebut skala panjang suatu benda dalam ilmu ukur, maka kita setidaknya mengenal ada dua metode atau besaran, yaitu centimeter dan inchi. Di Indonesia biasanya kita menggunakan besaran centimeter, sedangkan di Amerika sana biasa orang-orang menggunakan ukuran inchi. Nah, tiba-tiba ada orang menyebutkan bahwa panjangnya meja adalah 20 ‘masa lalu’.

Lho? Apa maksudnya ’20 masa lalu’ ?

Apakah istilah ‘masa lalu’ itu adalah sebuah besaran atau ukuran dalam mengukur panjang suatu benda? Jawabannya pasti tidak. Yang kita tahu hanya besaran 20 centimeter atau 20 inchi, tapi kalau ’20 masa lalu’, tidak ada seorang pun yang mengenal istilah itu.

Ya bisa saja sih segelintir orang menggunakan istilah besaran ‘masa lalu’ sebagai besaran untuk mengukur panjang suatu benda, tetapi yang pasti besaran itu bukan besaran standar yang diakui dalam dunia ilmu ukur. Jadi kalau kita ke toko material bangunan, lalu kita bilang mau beli kayu triplek ukuran 20 ‘masa lalu’, pasti penjaga tokonya bingung dan dahinya berkerut 10 lipatan.
Read more »

II.31. DAULAH ISLAMIYYAH

 

Sabda Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang ditindas oleh penguasanya maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa yang keluar dari perintah sultan (penguasa) sejengkal saja maka ia mati dalam kematian jahiliyah” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang melihat hal pada penguasanya sesuatu yang tidak disukainya maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja, lalu ia wafat maka ia wafat dengan kematian jahiliyah” (Shahih Bukhari Bab Fitnah) berkata zubair bin Adiy ra : kami mendatangi Anas bin Malik mengadukan kekejian Hajjaj dan kejahatannya pada kami, maka berkata Anas ra : “Bersabarlah kalian, karena tiadalah datang masa kecuali yang sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian akan menemui uhan kalian, kudengar ini dari Nabi kalian (Muhammad saw)” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah saw : “dengar dan patuhlah bagi seorang muslim selama ia tak diperintah berbuat maksiat, bila ia diperintah berbuat maksiat maka tak perlu dengar dan patuh” (Shahih Bukhari Bab Ahkam)

Kesimpulannya adalah Rasulullah saw dan kesemua para Imam dan Muhaddits ahlussunnah waljamaah tidak satupun menyerukan pemberontakan dan kudeta, selama pemimpin mereka muslim maka jika diperintah maksiat mereka tidak perlu taat, bila diperintah selain dosa maka mereka taati.

Sebagaimana dimasa merekapun terdapat kepemimpinan yg dhalim, walau berkedok dengan nama “KHALIFAH” namun mereka dhalim, diantaranya Hajjaj yang sering membantai dan menyiksa rakyatnya, namun ketika mereka mengadukan pada Anas ra, maka mereka diperintahkan bersabar, bukan diperintahkan merebut Khilafah dengan alasan khalifah itu dhalim.

Negeri kita ini muslim, pemimpinnya muslim, menteri – menterinya mayoritas muslimin, mayoritas masyarakatnya muslimin, maka apalagi yang mesti ditegakkan?, ini adalah khilafah islamiyah (kepemimpinan islam), adakah presiden kita melarang shalat?, adakah pemimpin kita melarang puasa ramadhan?

Mengenai kesalahan kesalahan lainnya selama ia seorang muslim maka kita diperintah oleh Rasul saw untuk bersabar.

Dan para Imam dan Muhaddits itu tak satupun menyerukan kudeta dan penjatuhan kekuasaan dari seorang pemimpin muslim.

Ringkasnya saudaraku, berteriak – teriak meneriakkan khilafah islamiyah adalah perbuatan terburu – buru, berdakwahlah pada muslimin sedikit demi sedikit hingga dalam bertetangga, di tempat kerja, di masyarakat, maka pelahan akan muncul Ketua RT yang mencintai syariah dan sunnah. Maka berlanjut dengan Ketua RW yang terpilih adalah Ketua RW yang mencintai syariah dan sunnah, Ketua RW yang mendukung majelis taklim dan melarang panggung maksiat, Ketua RW yang tak mau menandatangani pembangunan diskotek dan gereja, dan bila dakwah di masyarakat makin meluas akan sampai terpilihlah lurah yang demikian pula, lalu meningkat ke Bupati dan seterusnya. Ini akan tercapai dengan pelahan lahan tetapi pasti, dan negara akan ikut apa keinginan mayoritas rakyatnya, demikian pula televisi, radio, majalah, dan kesemuanya, tak ada diskotek bila tak ada pengunjungnya, tak ada miras dan narkoba bila tak ada yang membelinya, tak ada blue film bila tak ada yang mau menontonnya, ini semua akan sangat mudah.

Karena khilafah islamiyah dengan Syariah Islam bila ditegakkan sekarang maka yang akan menolaknya adalah muslimin sendiri, mereka tak mau kehilangan diskoteknya, mereka tak mau kehilangan mirasnya, mereka tak mau menutup auratnya, nah.., maka bagi yang berkeinginan menegakkan Khilafah Islamiyah agar meratakan shaf dan terjun berdakwah mengenalkan sunnah dan Nabi Muhammad Saw sebagai idola muslimin.

Bukan berteriak – teriak khilafah islamiyah lalu menuding muslimin lainnya sesat karena menolak khilafah dari golongan mereka, lalu saling bunuh antara muslimin demi kepemimpinan dari fihak mereka.

Sungguh metode Nabi saw ini sangat strategis dengan strategi keamanan yang sempurna, Rasul saw mengetahui akan banyak penguasa muslim yang dholim, namun Rasul saw memerintahkan kita bersabar atas mereka, kenapa?, karena jika muslimin berontak maka mereka akan dibantai penguasa yang dholim itu, maka orang – orang baik dan ulama akan jadi sasarannya, padahal orang – orang baik, orang shalih, dan ulama sangat diharapkan menyiapkan generasi baru yang baik untuk kelak menggantikan penguasa dholim itu, namun hal itu menjadi sulit dan mustahil jika ulama, shalihin dan orang baik memerangi penguasa, maka mereka dibantai dan masyarakat semakin kehilangan ulama, dan itu memperburuk keadaan. Dan keadaan ini akan membuat terbahak – bahaknya musuh – musuh Islam, mereka tak perlu menyerang muslimin, karena muslimin sudah saling bantai antara ulama dan penguasanya, dan Islam akan semakin bobrok dan hancur, sungguh sempurna strategi Sang Nabi saw, bersabar demi pembenahan dan regenerasi.

habib munzir dalam kenalilah akidahmu 2