profil Syekh Abdul Qadir al-Jaylani

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat Islm Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban.

Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.

NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin sekaligus Huseiniyin.

MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang disebut ‘pengalaman-pengalaman mistik’. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk bersama para orang saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-A’dzam atau wali Ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang Ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama’ besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur’an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusta dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.

Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: “Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.” Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.

Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.

Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.

BELAJAR DI BAGHDAD
Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah*).

Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.

Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.
Read more »

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah Mengais Sisa-sisa Makanan Karena Lapar

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam kitabnya Dzailu Thabaqatil Hanabilah,I:298, tentang biografi Imam Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah (wafat tahun 561 H.), “Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku memunguti selada, sisa-sisa sayuran dan daun carob dari tepi kali dan sungai. Kesulitan yang menimpaku karena melambungnya harga yang terjadi di Baghdad membuatku tidak makan selama berhari-hari. Aku hanya bisa memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang untukku makan.

Suatu hari, karena saking laparnya, aku pergi ke sungai dengan harapan mendapatkan daun carob, sayuran, atau selainnya yang bisa ku makan. Tidaklah aku mendatangi suatu tempat melainkan ada orang lain yang telah mendahuluinya. Ketika aku mendapatkannya,maka aku melihat orang-orang miskin itu memperebutkannya. Maka, aku pun membiarkannya, karena mereka lebih membutuhkan.

Aku pulang dan berjalan di tengah kota. Tidaklah aku melihat sisa makanan yang terbuang, melainkan ada yang mendahuluiku mengambilnya. Hingga, aku tiba di Masjid Yasin di pasar minyak wangi di Baghdad. Aku benar-benar kelelahan dan tidak mampu menahan tubuhku. Aku masuk masjid dan duduk di salah satu sudut masjid. Hampir saja aku menemui kematian. Tib-tiba ada seorang pemida non Arab masuk ke masjid. Ia membawa roti dan daging panggang. Ia duduk untuk makan. Setiap kali ia mengangkat tangannya untuk menyuapkan makanan ke mulutnya, maka mulutku ikut terbuka, karena aku benar-benar lapar. Sampai-sampai, aku mengingkari hal itu atas diriku. Aku bergumam, “Apa ini?” aku kembali bergumam, “Disini hanya ada Allah atau kematian yang telah Dia tetapkan.”

Tiba-tiba pemuda itu menoleh kepadaku, seraya berkata, “Bismillah, makanlah wahai saudaraku.” Aku menolak. Ia bersumpah untuk memberikannya kepadaku. Namun, jiwaku segera berbisik untuk tidak menurutinya. Pemuda itu bersumpah lagi. Akhirnya, akupun mengiyakannya. Aku makan dengantidak nyaman. Ia mulai bertanya kepadaku, “Apa pekerjaanmu? Dari mana kamu berasal? Apa julukanmu?” Aku menjawab, “Aku orang yang tengah mempelajari fiqih yang berasal dari Jailan bernama Abdul Qadir. Ia dikenal sebagai cucu Abdillah Ash-Shauma ‘I Az-Zahid?” Aku berkata, “Akulah orangnya.”

Pemuda itu gemetar dan wajahnya sontak berubah. Ia berkata, “Demi Allah, aku tiba di Baghdad, sedangkan aku hanya membawa nafkah yang tersisa milikku. Aku bertanya tentang dirimu, tetapi tidak ada yang menunjukkanku kepadamu. Bekalku habis. Selama tiga hari ini aku tidak mempunyai uang untuk makan, selain uang milikmu yang ada padaku. Bangkai telah halal bagiku (karena darurat). Maka, aku mengambil barang titipanmu, berupa roti dan daging panggang ini. Sekarang, makanlah dengan tenang. Karena, ia adalah milikmu. Aku sekarang adalah tamumu, yang sebelumnya kamu adalah tamuku.”

Aku berkata kepadanya, “Bagaimana ceritanya?” Ia menjawab, “Ibumu telah menitipkan kepadaku uang 8 dinar untukmu. Aku menggunakannya karena terpaksa. Aku meminta maaf kepadamu.” Aku menenangkan dan menenteramkan hatinya. Aku memberikan sisa makanan dan sedikit uang sebagai bekal. Ia menerima dan pergi.”

Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Zam-Zam Mata Air Ilmu, 2008
Judul asli: Shafahat min Shabril ‘Ulama’, Syaikh Abdul Fatah, Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah cet. 1394 H./1974 M.

http://alkhidmah-batam.blogspot.com/2013/02/kesabaran-syaikh-abdul-qaidr-al-jailani.html

Karomah Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Kekaromahan Syekh Abdul Qodir Al Jilani ialah pakaiannya yang tdak pernah dihinggapi lalat, karena mewarisi eyangnya yaitu Nabi Muhammad saw. Maka ditanyakan kepadanya lantaran apa yang menyebabkan? Maka Syekh Abdul Qodir AL Jilani menjawab “untuk apa lalat higgap pada diriku, yang pada diriku tidak ada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan madunya akhirat (melaikan hanya semata-mata ikhlas karena Allah)

Dari sebagian karamahnya ialah “Suatu ketika beliau duduk mengambil Air wudlu, kemudian kejatuhan kotoran burung, lalu beliau mengangkat kepalanya, maka jatuhlah burung itu dan mati. Kemudian beliau melepas pakaiannya (untuk dicuci) lalu disedekahkan sebagai tebusan atas burung tadi. Dan beliau berkata “bila pada saya ada dosa, maka itulah sebagai tebusannya”

Dan diantara kekaromahannya lagi adalah ada seorang perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya untuk diserahkan kepada beliau agar menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Kemudian beliau menyuruh sang putra tadi memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukkan ulama-ulama salaf. SUatu hari ibunya datang menghadap beliau, dilihat anaknya menjadi kurus dan dilihatnya ia sedang makan roti, kemudian si ibu masuk ke kamar Syekh Abdul Qodir Al Jilani dan ia melihat didepannya tulang-tulang ayam dari sisa makanan Syekh Abdul Qodir Al Jilani. Maka ibu tadi menanyakan tentang arti semua itu. Syekh Abdul Qodir Al Jilani kemudian meletakkan tangannya di atas tulang-tulang ayam tadi sambil berkata “berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur”, maka berdirilah tulang-tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLH SYEKH ABDUL QODIR WALIYULLAH” (tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rosul Allah dan Syekh Abdul QOdir adalah salah seorang wali Allah), maka beliau berkata kepada si ibu “kalau anakmu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya”

Read more »

ni’mat dan bala’ bagi Syekh Abdul Qodir Al Jilani

Tidak senang dan tidak merasa nikmat menerima bala’, kecuali orang yang tahu kepada dzat yang menurunkan bala’ yaitu Allah SWT.

Syekh Abdul Qodir berkata “ikutilah sunnah Rosululloh saw, dan jangan melakukan bid’ah, berbaktilah kepada Allah dan RosulNya, jangan sampai keluar dari islam, bersabarlah dan jangan menggumam, berharaplah untuk mendapat kesejahteraan dan jangan putus asa, berkumpullah dalam majelis dzikir kepada Allah, jangan bercerai berai, bersihkan dirimu dengan bertobat dari segala dosa dan jnagan berlumuran dosa dan secvara rutin menghadap pintu Allah untuk memohon ampunan dan jangan meninggalkannya”

Syekh Abdul QOdir AL Jilani juga berkata “jika terkena cobaan, jangan menginginkan mendapat kenikmatan dan menghindar dari cobaan, karena suatu kenikmatan pasti akan datang juga kepadamu sesuai ketentuan Allah, kamu harapkan ataupun tidak. Demikian pula cobaan, pasti akan menimpamu walaupun kamu tidak menyukainya, karena itu berserah dirilah dalam segala urusan kepada Allah yang mengatur sesuai dengan kehendakNya. Apabila kenikmatan datang kepadamu, maka sibukkanlah dirimu dengan kesabaran dan kesadaran. Apabila kamu ingin mendapatkan tempat tertinggi di sisi Allah, maka apabila kamu ditimpa bala’, kamu harus rela dan merasa diberi kenikmatan. Dan ketahuilah bahwa cobaan yang menimpa orang mukmin bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk menguji imannya”

Sabda nabi “Allah SWT berfirman “apabila Aku menimpakan bala’ kepada hambaKu dengan suatu bala’, kemudian ia mau bersabar dan tidak mengadu kepada para penjenguknya maka Aku ganti ia dengan daging (yang baru) yang lebih baik dari dagingnya (yang lama). Dan aku ganti ia dengan darah yang lebih baik dari darahnya (yang lama), maka apabila Aku menyembuhkannya dan tidak dosa baginya (karena semua dosanya sudah Aku ampuni) dan Aku matikan ia dengan kembali kepada rahmatKu (disurga).

Read more »

Sikap Syekh Abdul Qodir

Syekh Abdul Qodir Al Jailani tidak mau mengagungkan orang kaya dan berdiri karena datangnya seorang raja dan juga tidak karena datangnya orang-orang yang mempunyai kedudukan. Dan sering kali beliau melihat seorang raja bermaksud menemuinya, padahal beliau sedang duduk-duduk kemudian beliau tinggalkan masuk kamar pribadinya.

beliau melakukan hal tersebut sesuai dengan sabda nabi “barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena kekayaannya, maka hilang dua pertiga agamanya”

Kemudian baru keluar lagi untuk menemui Khalifah setelah khalifah itu duduk. Hal ini dilakukan karena memulyakan prilaku ahli tasawuf yang tidak tertarik dengan kedudukan dan harta serta tidak berdiri sekedar kedatangan raja.

lagi pula beliau tidak mau berdiri di depan pintu-pintu raja atau menteri dan tidak mau menerima hadiah dari raja, sehingga raja itu mencemoohnya atas tidak diterimanya pemberian itu, maka syekh ABdul Qodir  berkata kepada raja “kalau begitu bawa sendiri hadiah itu ke sini, raja pun menerimanya.

Kemudian raja membawa sendiri hadiah untuk Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Tiba-tiba apel itu di dalamnya penuh darah dan nanah. Maka Syekh Abdul Qodir berkata kepada raja “kenapa raja selalu mencemooh saya? padahal saya tidak mau memakan buah ini, karena seluruhnya penuh darah manusia” maka raja itu minta maaf dan bertaubat di hadapan syekh Abdul Qodir AL Jilani, selanjutnya raja itu sring mengunjungi beliau sebagaimana kebanyakan orang yang menjadi sahabatnya sampai meninggal.

Syekh Abdul Qodir Al Jilani yang mempunyai derajat tinggi, namanya harum tersebar ke mana-mana dan luhur namanya, beliau masih mau menghormati fakir miskin, menemani duduk mereka, membersihkan kutu-kutu yang ada di pakaian mereka. Beliau pernah mengatakan “seorang fakir yang mau bersabar lebih utama dari orang kaya yang bersyukur, dan orang fakir yang bersyukur lebih dari keduanya dan orang  fakir yang mau bersabar dan bersyukur lebih utama dari semuanya.

hal tersebut senada dengan hadist nabi “rendahkanlah diri kalian dan duduklah kalian bersama-sama orang miskin , maka kalian termasuk golongan orang yang besar di hadapan Allah dan keluar dari sifat sombong”

Tasawufnya Syekh Abdul Qodir

Syekh ABdul QOdir ra berkata “tidak boleh terjadi pada seorang ahli tasawuf, siap dan bertindak menjadi juru penerang manusia (mursyid), kecuali sudah mendapat anugrah Allah tiga hal, yaitu ilmunya ulama, politiknya pimpinan negara dan hikmahnya para ahli hukum. Syekh Abi Fatah juga mengatakan “Pada suatu hari ada seorang melapor kepada SYekh Abdul Qodir, mengaku bahwa ia pernah melihat ALlah Ta’ala dengan kedua matanya, maka beliau bertanya “benarkah apa yang dikatakan orang-orang, bahwa engkau pernah melihat Allah dengan kedua matamu?” maka orang itu menjawab “iya benar”. mendengar jawaban orang itu, Syekh Abdul Qodir melarangnya seraya membentaknya dan berpesan agar berhati-hati jngan sampai ucapannya itu dilang lagi.

kemudian beliau menoleh kepada mereka yang hadir yang bertanya kepadanya “pengakuan seperti ini benar atau salah?” syekh Abdul Qodir menjawab ” iaya benar, tetapi dalam kebimbangan sesungguhnya yang melihat nur keindahan Allah itu adalah mata hatinya, kemudian mata hatinya menembus kedua mata kepalanya, mata kepalanya bisa melihat mata hatinya, cahaya mata hatinya menyatu dengan cahaya keindahan Allah, sehingga orang itu berprasangka bahwa mata kepalanya melihat apa yang sebenarnya dilihat mata hatinya. Sesungguhnya yang dapat melihat keindahan Allah hanyalah mata hati, tetapi ia belum mengerti” mendengar jawaban Syekh Abdul Qodir AL Jilani tadi, para ulama dan ahli tasawuf gemetar dan kebingungan.

Read more »

Qiyamul Lailnya Syekh Abdul Qodir Al Jilani

Pakaian yang dipakai SYekh Abdul Qodir Al Jilani ialah pakaian ulama dan jubah Thoilusan (yaitu pakaian yang menutupi muka dan kepala), berkendaraan bighal (keledai), untuk menghormati kamu, beliau membuka penutup kepalanya, pada waktu mengajar, beliau duduk di kursi yang tinggi (agar bisa dilihat dan didengar), ucapannya terang dan lantang.

kadang-kadang SYekh ABdul Qodir AL Jilani bagaikan berjalan di angkasa, kemudian kembali ke kursinya (hal ini disaksikan oleh banyak orang-orang yang hadir), seluruh waktunya hanya diperuntukkan taat kepada Allah semata. Pembantu dekatnya yaitu Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Fattah AL Harawi megatakan “saya menjadi pembantu beliau selama 40 tahun, selama itu apabila beliau shalat subuh masih menggunakan wudlu shalat isya’. Kalau berhadast, segera memperbaharui wudlunya, kemudian mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at.

Read more »

Turban Syekh Abdul Qodir AL Jailani

Bulan Rabi Al Tsani atau Rabiul Akhir merupakan bulan kelahiran seorang Sufi Agung dalam Islam dan juga leluhur dari As-Sayyid Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani, yaitu Sayyidina Syekh `Abdul Qadir al-Jilani (q) yang makamnya terletak di Baghdad, Iraq. [foto Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani memakai turban Syekh Abdul Qadir al-Jilani setelah menyelesaikan khalwat di makam beliau (foto kanan).

The Islamic Month of Rabi Al Thani which we have now entered represents the birth of a great Saint in Islam and also Sayyid Mawlana Shaykh Nazim Al Haqqanis Great-Great Grandfather.. Sayidina Shaykh Abdul Qadir Al-Jilani (q) whose Maqam is in the City of Baghdad (Iraq).. Share your favourite quotes of the great shaykh in the comment section below

Kealiman Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Syekh Abdul Qodir AL Jilani  pertama kali masuk kota Irak ditemani nabi Khidhir as dan beliau belum mengenalnya, kemudian nabi khidhir memberikan persyaratan-persyaratan yang tidak boleh sekalikali menyimpang, karena penyimpangan akan menjadi sebab perpisahan keduanya. Kemudian Nabi Khidhir berkata kepada Syekh Abdul Qadir “duduklah di tempat ini”. maka Syekh Abdul Qadir duduk ditempat yang diisyaratkan nabi Khidhir datang ke situ, dan berpesan “jangan sekali-kali meninggalkan tempatmu ini sampai aku dtang kembali kepadamu”

Sewaktu Syekh Abdul Qadir AL Jailani duduk ditempat yang diisyaratkan oleh nabi Khidhir itu, beliau mengalami berbagai macam godaan setan, tetapi berkat pertolongan Allah, beliau tetap tidak beranjak dari tempat itu kecuali hanya untuk bersuci dan shalat.

Pernah pada suatu saat Syekh ABdul Qadir Al Jilani tidur di emperan istana raja Kisra di daerah Madain di malam yang sangat dingin, tiba-tiba beliau bermimpi mengeluarkan mani (seketika beliau bangun), lalu pergi ke sungai untuk mandi. Kejadian itu sampai sempat puluh kali, pada malam itu juga. Kemudian beliau naik keatas pagar tembok emperan karena takut tertidur lagi, juga untuk menjaga kelanggengan suci (dari hadast). Inilah kebiasaan beliau apabila berhadast, beliau  terus berwudlu lalu sholat sunnah dua raka’at, sehingga beliau senantiasa dalam keadaan tidak pernah menanggung hadast (selalu dalam keadaan suci)

Read more »

Belajarnya Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Dan ketika usianya mendekati baligh. Syaikh Abdul Qadir Al Jilani gemar mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, mengunjungi para ulama yang mulia derajatnya lagi berpengetahuan tinggi, serta melaksanakan berbagai keutamaan. Langkah beliau (dalam menuntut ilmu pengetahuan, dalam mengunjungi para ulama dan adalam melaksanakan keutamaan) itu lebih cepat dari langkah burung merak jantan.

Syekh Abdul Qadir al Jilani belajar ilmu fiqih kepada Syekh Abu Wafa Ali bin Aqil dan kepada Syekh Abu Khatab Al Kalwadzani Mahfudh bin Ahmad Al Jalil dan kepada Syekh Abul Husain Muhammad bin Al Qadhi Abi Ya’la, juga kepada para ulama yang Nampak luhur ilmunya dan mulia derajatnya. DI bidang Adab, beliau belajar kepada Syekh Abu Zakariya Yahya bin Ali At Tibrizy, di situlah beliau menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menggali berbagai hal yang bermanfaat dan berguna. Kemudian beliau berbaiat belajar ilmu thariqat kepada seorang mursyid arif billah, yaitu Syekh Abu Khoiri Hammad bin Muslim Ad dabbas.

Read more »

Syekh Abdul Qodir Al Jailani kecil

Syekh Abdul Qodir Al Jailani dilahirkan di dusun Jilan. Kota terpencil di luar kota Thabaristan, pada tahun 471 H (1 romadlon 471H)

Kota Jilan ini ada juga yang menamakan Keylan, terletak di SUngai Dijlah, sekitar perjalanan sehari dari kota bagdad.

Syekh ABdul Qodir Al Jailani dilahirkan pada saat ibunya Fatimah berusia 60 tahun, hal ini termasuk diluar kebiasaan (Khowariqul Adad)

Beliau adalah seorang yang mempunyai akhlak persis seperti Akhlak Rosululloh, ketampanannya seperti ketampanan nabi Yusuf as, kejujurannnya seperti kejujuran Abu Bakar Ash Shiddiq, keadilannya seperti keadilan Umar Bin Khatab ra, kearifannya seperti kearifan Utsman bin Affan ra, dan keberaniannya seperti keberanian Sayyidina Ali Bin Abi Thalib kw.

pada Waktu beliau masih bayi, di siang hari bulan Ramadhan, beliau tidak mau disusui karena inayah (pertolongan) dari ALlah kepada beliau.

kebiasaan beliau tidak mau disusui, oleh penduduk daerah tersebut dijadikan sebagai pertanda bahwa apabila bayi itu sudah menyusu berarti matahari sudah terbenam dan waktu berbuka puasa telah tiba.

 

Tawasul kepada Syekh Abdul QOdir

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya Allah dengan perantaraan pembesarnya para wali yang bercahaya cemerlang, yaitu Syekh Abdul Qodir Al Jailani

langkahkanlah kami ke jalan petunjuk dan periharalah kami dari perbuatan buruk dan orang yang menentang kebenaran dan berbuat aniaya

Dengan Lantaran Ayah Syekh Abdul Qodir AL Jilani, yaitu Sayyid Abdullah, hapuslah kegelisahan kami dan kabulkanlah hajat hambaMu

Dengan lantaran Sayyid Musa Janki Dawsat wahai Tuhan kami berilah kekayaan kepada kami dan jadikanlah kami dalam lautan cinta kepadaMu yang telah hilang

Dengan lantaran Wali Qutub, Sayyid Abdulloh sembuhkanlah penyakit kami dan lantaran Sayyid yahya Az Zahid hidupkanlah hati kami dengan Ma’rifat kepadaMu

Dengan lantaran Sayyid Muhammad dan ayahnya, Sayyid Dawud, Anuhgerahkanlah pakaian taqwa dan cinta kepadaMu sepanjang zaman

Dengan lantaran ayahnya Sayyid Dawud, yaitu Sayyid Abdullah (tsani), luruskanlah prilaku kami dan agama kami serta peliharalah dari kekurangan

Kasihilah kami terhadap apa yang telah Engkau tentukan dengan lantaran Sayyid Musa Al Juni anuhgrahkan kepada kami surga-surga yang baik

Dan langaran Sayyid Abdullah Al Mahdi tntunlah kami ke derajat Ihsan serta anugrahkan pakaian terpuji

Dengan lantaran nurnya Hasan Al Mutsanna jadikanlah penerangan pada akal fikiran kami, dan hindarkanlah kami dari ketergantungan kepada selain Engkau

Dan dengan lantaran ayah Sayyid hasan Al Mutsanna yang menjadi pemuka wali Qutub yang bercahaya cucu nabi yang terpilih dari suku Adnan

Yaitu Sayyid Hasan yang bersih jiwanya, putra Imam Ali Bin Abi Thalib yang di ridloi Allah yang menghindari perang sesama muslim lagi dermawan bagaikan hujan deras

ya Allah mudahkanlah semua urusan kami, selamatkanlah kami dari rasa gelisah, bala’ serta kejahatan orang yang dhalim.

ya Allah bentangkanlah bau harum keridhoanMu kepada Syekh Abdul Qodir Al Jilani dan anugrahkan kepada kami berkat rahasia kewalian yang Engkau titipkan kepadanya

KH ASRORI RA Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Nama lengkap Syekh Abdul Qodir AL Jailani : Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Shalih Musa, bin Abdillah, Bin Yahya Al Zahid, Bin Muhammad, bin Daud, bin Musa, bin Abdillah, bin Musa Al Jawad, bin Abdullah Al Mahdi, bin Hasan, bin hasan, bin Sayyidah Fatimah binti Rosululloh saw

Kisah Syekh ABdul Qodir Jailani

mungkin beberapa saat dari sekarang, ingin berbagi tentang kisah seorang wali agung (kekasih Allah) yang sangat terkenal yaitu Syekh Abdul Qodir Al jailani dimana ajaran beliau sampai ke tanah air dan mendarah daging di sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, terbukti dengan banyaknya tawasul kepada beliau Syekh ABdul Qodir Al Jailani, disetiap doa ataupun tahlilan yang diadakan. walaupun mungkin dalam publishnya saya jadwal tidak sesuai ketika ngetik, agar kelihatan blog ini selalu hidup dan update

Dan ajaran beliau dalam hal tasawuf diteruskan dalam tarekat Qodiriyah, tetapi apabila ingin mendalami tasawuf melalui tarekat maka hal utama yang perlu diperhatikan adalah mursyid (guru), apakah beliau benar-benar seorang guru yang amanah, menerapkan semua ajaran nabi dan seorang mukhlis? bahkan ada cerita dalam kitab ta’lim muta’alim menyebutkan bahwa seseorang selalu memata-matai calon guru hingga beberapa bulan sehingga ia mantab bahwa calon guru tersebut tidak berbuat kesalahan sedikitpun menurut sunnah nabi, baru kemudian ia meminta menjadi muridnya.

atau juga dapat melakukan istikhoroh kepada Alloh berulang-ulang hingga Allah menyakinkan dirinya untuk menjadi murid dari guru tersebut atau menggerakkan hati sang guru mengambilnya menjadi murid dan dapat juga Allah menjauhkannya untuk dapat bertemu dengan guru yang lain, karena jangan sampai kita mengambil guru yang salah sehingga menyesatkan kita, semoga Alloh menolong kita, Allah A’lam.

mengapa kok perlu diulas kehidupan, kisah Syekh Abdul Qodir Al jailani kekasih Allah (waliyulloh)?

Read more »