The Secret of the Naqshbandi Tariqah is in the Hands of Shah-i-Mardaan

The Secret of the Naqshbandi Tariqah  is in the Hands of Shah-i-Mardaan

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

20 September 2014   Feltham, UK

Program at Manor House

As-salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem. Alhamdulillahi rabbi ‘l-`alameen, `alaa ashrafi ‘l-mursaleena wa ‘s-salaat wa ‘s-salaam `alaa Sayyidina Muhammad (s) wa `alaa aalihi wa sahbihi ajma`een.

It is honor to be among you, because if not for you, I will speak to whom? So I need you and that is why I am here, because everyone is a flower to Mawlana Shaykh, everyone is a different color, a different taste of honey that bees are sucking from the flower, and each one is dear to Mawlana Shaykh Nazim, may Allah bless his soul!

And that is why Grandshaykh `AbdAllah (q) used to say, “Awliyaullah are in need for mureeds. The mureeds are not in need for the shaykh, but the shaykh is in need of the mureeds or then what is he going to do? To whom is he going to speak?” He said more than that, but I cannot say, I will keep this. But I can say, “Yaa Sayyidee, yaa Rasoolullah, yaa Habeebullah, yaa Qurrat al-`Ayyun, yaa man arsalnaak Allahu ta`ala, yaa Rahmatan li ‘l-`Alameen, yaa Shaf`ee ’l-mudhnibeen, anta ‘l-Muda`fi `ani ‘l-muzhlimeen, anta ‘l-Nabiyy, anta ‘r-Rasool, anta ‘l-Habeebi ’Lladhee turja shafa`atuhu li kulli hawlin min al-ahwali muktahimi, nahnu fee ahwaalin katheeratin, wa nahnu `alaa abwaabin huroobin, fa narju yaa Rasoolullah, an taj`alana bayna yadayk wa tahta rijlayk, inshaa-Allah!

You are the Intercessor, the one whom we turn to for salvation from every disaster! We are in many disasters and on the door of big wars, and we seek from you, yaa Rasoolullah, to make us between your hands and under your feet!)

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Wa law annahum idh zhalamoo anfusahum ja’ooka f ’astaghfaroollaaha w ’astaghfara lahumu ‘r-rasoolu la-wajadoo ’Llaaha tawwaaba ‘r-raheema.

If they had only, when they were unjust to themselves, come to you and asked Allah’s forgiveness, and the Messenger had asked forgiveness for them, they would have found Allah indeed Oft-returning, Most Merciful. (Surat an-Nisa, 4:64) Read more »

sanad emas ke 20. Ubayd Allah al-ahrar

Alhamdulillah tugas yang diberikan oleh pak madyo telah rampung dan telah saya serahkan kepada zawiyah sebagai dokument yang barangkali ada jamaah memerlukannya. ini postingnya awalnya dari bawah dahulu sanad ke 40 naik ke sanad 21 tapi kemudian mulai atas sanad pertama (Rosululloh SAW) sampai sanad ke 20, karena sanad ke 1 – 20 saya ketikkan ke tempat rental puskrip dengan lama pengerjaan 2 minggu dan semua biaya ditanggung oleh pak Madyo, semoga amalnya dibalas kebaikan berlipat oleh Allah, karena beliau berkeinginan agar jama’ah juga mengetahui sanad dari jamiyah kita, dan apabila ada yang menanyakan kita dapat menunjukkannya atau bila ada jama’ah lain yang kebetulan sanad gurunya bertemu di salah satu sanad emas maka dapat dengan mudah menelusurinya. disebabkan tidak semua jamiyah  dapat menunjukkan sanad serta biografinya.

Semoga Membawa Manfaat, bagi pak Madyo, jamiyah dan semuanya saja.

(2 September 2013)

20. Ubayd Allah al-ahrar

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

Begitu aku mengingat-Mu, rahasia diriku, hatiku,

Dan jiwaku mengganguku di saat aku mengingat-Mu

Hingga seorang pengamat datang dari Mu berseru kepadaku.

“Waspadalah ! waspadalah ! Dalam mengingat waspadalah “

Tidak kau lihat Yang Nyata? Bukti-bukti diri-Nya muncul makna dari totalitas bergabung dengan MaknaMu orang orang yang berdzikir ketika mengingat Dia adalah lebih pelupa dari orang yang lupa untuk mengingat Nya. Nabi saw bersabda “Barang siapa yang mengetahui Tuhan, Iidahnya kelu”

 

 

 

Shaykh Ubayd Allah al-Ahrar adalah Qutub dari lingkaran para Arif di jalan Allah, Samudera Pengetahuan yang Takkan Habis, meski semua ciptaan meminumnya untuk memuaskan dahaga pengetahuan spiritual.

Shaykh Ubayd al-Ahrar adalah seorang Raja yang memiliki cahaya murni dari Dzat yang Unik dan melepaskannya dari persembunyiannya kepada para Arif. Beliau mengungkapkan rahasia dari Atribut Ilahiah semenjak dalam buaian hingga akhirnya beliau meraih maqam kesempurnaan. Beliau menerima otoritas pada usia muda dan mulai menerima rahasia dari rahasia dan membuka hijab dan dari seluruh hijab. Beliau tidak pernah mempunyai keinginan duniawi.

Beliau terus berkembang hingga beliau mencapai tingkat tertinggi dari Kewalian, dimana pengetahuan tentang Dzat Yang Ghaib diberikan dan Rahasia dari Ketiadaan Absolut menjadi terungkap. Kemudian beliau berjalan dari Ketiadaan Absolut menuju Cahaya Absolut. Tuhan mernbangkitkan Jalan ini melalui beliau di masanya dan mendukung beliau dengan Kehendak-Nya.

Dia membuat beliau menjadi salah satu Jalur emas dari Mata Rantai Emas dan Dia mengangkat beliau sebagai pewaris utama dari Nabi Muhammad saw. Shaykh Ubayd Allah al-Ahrar selalu berupaya dengan gigih untuk mernbasuh hati setiap orang dari kotoran yang meliputinya. Beliau menjadi sebuah matahari yang menyinari jalan para pencari untuk mencapai Hakikat Keyakinan dan harta tersembunyi dari pengetahuan spiritual.

Beliau lahir di sebuah desa bernama Shash pada tahun 806 H (1404 M), di bulan Ramadhan. Dituturkan, sebelum beliau lahir, Ayah beliau mengalami suatu tingkat penyangkalan diri yang luar biasa yang menyebabkan beliau meninggalkan urusan dunia dan memulai khalwat. Ayah beliau hampir tidak pernah makan dan minum, mengasingkan dirinya dari orang banyak dan menjalani jalan spiritual dari tariqah sufi.

Ketika ayah beliau dalam tingkat spiritual, istrinya mengandung Ubayd Allah. Ini alasan yang menyebabkan beliau mencapai maqam yang tinggi, latihan spiritual dimulai ketika beliau masih di dalam kandungan. Ketika ibunya mulai hamil, kondisi spritual ayahnya yang tadinya tidak biasa berakhir dan ayahnya kembali ke kehidupan normal.

Sebelum Ubayd Allah lahir, berikut penuturan yang menyebutkan tentang kedudukan beliau yang tinggi telah diketahui sebelum beliau lahir. Shaykh Muhammad as-Sirbili mengatakan :

Ketika Shaykh Nizamuddin al-Khamush as-Samarqandi sedang duduk di rumah ayahku, sedang bermeditasi, beliau tiba-tiba berteriak dengan suara yang keras. Hal ini membuat semua orang takut. Beliau berkata,”Aku melihat sebuah pandangan seseorang yang luar biasa datang dari timur, dan aku melihat seluruh dunia ini untuk dia. Sosok itu bernama Ubayd Allah, dan dia akan menjadi seorang Syaikh Besar di zamannya nanti. Tuhan akan membuat seluruh dunia tunduk kepadanya dan aku berharap aku menjadi salah satu pengikutnya”

 

Awal Mula dan Tingkatan dan Tingkatan

Pada Awal Mulanya

 

Tanda kebahagiaan tampak diwajah beliau ketika masih belia. Cahaya petunjuk tampak di wajahnya. Salah seorang keluarganya berkata,” dia tidak pernah menyusu kepada ibunya kecuali ibunya dalam keadaan bersih dari darah”.

Ubayd Allah menyatakan “Aku masih ingat apa saja yang aku dengar ketika aku berusia satu tahun. Dan sejak umur tiga tahun aku ada di Hadirat Ilahi. Ketika aku mempelajari Al-Qur’an, hatiku selalu berada di Hadirat-Nya. Ketika itu aku berpikir orang lain juga mengalami hal yang sama”.

Suatu hari ketika musim salju, aku sedang di luar ketika hujan turun dan kaki serta sepatuku terjebak di dalam lumpur. Saat itu sangat dingin sekali. Aku mencoba menarik kakiku dari lumpur. Aku kemudian menyadari bahwa hatiku dalam bahaya besar, karena untuk sesaat aku lupa untuk mengingat Tuhan. Dengan segera memohon ampunan.

Beliau dibesarkan di rumah paman beliau, Ibraim ash-Shashi, Ulama besar saat itu. Pamannya mengajar Ubayd allah dengan sangat baik hingga beliau menyelesaikan pendidikannya, kemudian paman mengirim beliau dan Tashkent ke Samarqand.

Beliau berkata kepada pamannya,”setiap saat aku berjalan untuk mencari ilmu aku menjadi sakit” paman beliau menjawab,” oh Anakku, aku mengetahui tingkatan dirimu saat ini, jadi aku akan memaksa engkau untuk melakukannya, lakukan apa engkau suka. Kamu bebas !”

 

Ubayd Allah menuturkan:

“Suatu hari aku berziarah ke makam Shaykh Abi Bakar al-Kaffal. Aku tertidur dan mengalami suatu penglihatan. Aku melihat Jesus as, Aku segera bersujud dan menciumnya. Beliau mengangkat kepalaku dan berkata,”Oh anakku, jangan bersedih, aku yang mengambil tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik engka,” penglihatan itu berakhir, aku menceritakan mimpi inike banyak orang. Salah satunya adalah seorang yang ahli tafsir spiritual”.

Dia menerangkan sebagai berikut,”Engkau akan menjadi seorang yang ahli dalam pengobatan,” Aku tidak menyukai penjelasan ini Aku berkata kepadanya, “Aku lebih rnengetahui arti dari penglihatan itu : Jesus as melambangkan tingkatan Yang Hidup (Ya Hayy) di dalam pengetahuan spiritual. Barangsiapa yang meraih tingkatan para wali ini akan bergelar Yang Hidup.

Tuhan berfirman di dalam Al-Qur’an sebuah ayat yang mendeskripsikan tentang mereka : “sesungguhnya mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan rnenerima rezki,” (3: 16) dan sejak beliau berjanji untuk mendidikku di jalur ini, ini artinya aku akan mencapai tingkat Hati yang Hidup. Tidak berapa lama kemudian aku menerima tingkatan itu dan Yang Maha Hidup di dalarn hatiku.

Aku melihat Nabi Muhammad saw pada suatu penglihatan yang Agung. Sekumpulan besar keramaian menemani Nabi Muhammad saw, Dia melihat kepadaku dan berkata ,“ Oh Ubayd Allah, angkat gunung itu dan pindahkan ke gunung yang lain.” Aku mengetahui bahwa tidak mungkin seseorang bisa memindahkan gunung, tetapi ini adalah perintah langsung dari Nabi saw. Aku mengangkat gunung itu dan memindahkan ke tempat yang diminta Nabi saw.

Kemudian Nabi saw menatapku dan berkata “aku mengetahui kekuatan itu ada pada dirimu. Aku ingin orang-orang mengetahui dan melihat kekuatan yang engkau emban,” dari sini aku tahu bahwa aku akan menjadi pembimbing banyak orang memasuki jalan ini.

Ketika aku muda aku mencari pertolongan spiritual dari seorang berasal dari suku Turk,” mohon engkau perhatikan aku dan kirimkan pertolongan dalam tujuanku!” orang itu terheran-heran oleh permintaan diriku. Dia berkata,”aku adalah seorang pengembara padang pasir bahkan aku hampir tidak pernah tahu cara membersihkan diriku sendiri.”

Aku berkata,”Aku telah mempelajari bahwa seseorang mesti menghormati setiap orang yang ditemuinya, karena bisa saja dia lah Khidir as dan juga untuk menganggap ibadah setiap malam adalah  seperti malam Lailatul Qadar.” Dia mengangkat tangannya memohon kepada Tuhan untuk diriku dan kemudian aku banyak menerima perhatian Ilahi.

Suatu malam aku melihat Shah Naqshband dating kepadaku dan bekerja di bagian internal diriku. Ketika dia pergi, aku mengikutinya. berhenti dan tensenyum kepadaku. Dia berkata,”semoga Tuhan memberkatimu, wahai putraku. Engkau akan menjadi seseorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi.”

Aku mengikuti pelajaran dari seorang kutub Spiritual, Shaykh Nizamudddin al-Khamush, di Samarqand. Saat itu aku berusia dua puluh dua tahun, aku pergi menuju Bukhara dan kemudian aku menemui seorang yang sangat Arif bernama Shaykh Sirajud Birmisi. Beliau tinggal empat mill dari Bukhara. Ketika aku  mengunjungi beliau, dia menatapku dengan tajam dan menginginkan aku tinggal bersamanya.

Tetapi hatiku mengatakan bahwa aku harus ke Bukhara. Aku hanya tinggal sebentar saja dengan beliau, beliau bekerja siang hari membuat pot dari tanah hat dan di saat malam beliau duduk di ruang ibadah. Setelah menunaikan ibadah malam, beliau akan duduk sampai waktu subuh tiba. Aku tidak pernah melihat beliau tidur saat siang ataupun malam. Aku tinggal beliau selama tujuh hari dan tidak pernah melihat beliau tidur. Beliau adalah seseorang yang sangat maju di dalam pengetahuan internal dan eksternal.

Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju Bukhara, aku bersama Shaykh Jamaluddin ash-Shasi dan Shaykh Alauddin al-Ghujdawani Mereka adalah para pengikut Shah Naqshband, Alauddin Al Attar dan Yaqub Al-Charkhi. Shaykh Alauddin al-Ghujdawani terkadang ketika mengajar akan hilang dan muncul kembali. Beliau sangat santun berbicara. Beliau tidak pernah berhenti berdzikir dan melatih dirinya. Beliau berusia 90 tahun saat itu. Aku sering berkunjung tempat beliau.

Suatu hari aku berjalan kaki menuju makam Shah Naqshband. Ketika aku kembali, aku melihat Shaykh Alauddin al-Ghujdhawani d untuk menemui aku. Beliau berkata,’Aku rasa lebih baik engkau tinggal bersama kami malam ini.”

Kami melaksanakan shalat isya kemudian beliau menyuguhkan makan malam. Kemudian dia berkata kepadaku,”oh anakku mari kita hidupkan malam ini.” Beliau duduk bersila dan aku duduk di belakangnya. Beliau dalam kondisi meditasi dan zikir yang sempurna penglihatan spiritual bahwa orang-orang seperti inisedang berada di hadirat-Nya. Aku kagum pada usia 90 tahun, beliau tidak terhihat merasa lelah. Ketika tengah malam tiba, aku mulai kelelahan.

Aku mulai membuat suara berharap beliau akan memberikan izin untuk berhenti. Beliau tenlihat acuh saja. Kemudian aku berdiri untuk mencari perhatiannya, tetap saja beliau tidak memperhatikan. Aku merasa malu dan duduk kembali. Saat itu juga aku mengalami suatu penglihatan dimana aku melihat beliau menuangkan ke hatiku rahasia pengetahuan kekuatan dan keteguhan. Sejak saat itu, setiap kesulitan datang, aku mampu mengembannya tanpa ada gangguan. Aku menyadari jalan ini berdasarkan dukungan sepenuhnya dan shaykh bagi sang murid.

Beliau mengajarkan bahwa seseorang harus berjuang untuk menjaga kekuatan dan keteguhan ketika berzikir, karena apapun yang engkau dapat dengan mudah, tanpa kesulitan, itu tidak akan membekas pada dirimu, apapun yang engkau dapatkan dengan keringat dari dahimu, itu akan membekas dalam dirimu.

Dalam kesempatan yang lain Shaykh Ubayd Allah menuturkan :

Suatu hari aku mengunjungi Shaykh Qasim at -Tabrizi di Herat. Di sana aku mengikuti cara hidup asketis dengan meninggalkan hal duniawi. Ketika beliau makan, beliau akan memberikan sisanya padaku. Aku kemudian memakannya tanpa berkata apapun. Suatu hari beliau menatapku dan berkata,” engkau akan menjadi orang yang sangat kaya. Aku memprediksinya untukmu.”

Saat itu aku tidak memiliki apapun, ketika aku kembali ke negeriku, aku menjadi seorang petani. Aku mempunyai satu acre tanah dan beberapa sapi. Tidak lama kemudian, prediksi beliau menjadi nyata. Luas tanahku bertambah sehingga aku memiliki banyak tanah dan ternak. Semua kekayaan ini tidak mempengaruhi hatiku. Aku pergunakan semuanya untuk di jalan Allah.

 

Keutamaan Pelayanan dan Perilaku

Kebaikan beliau baik secara pribadi maupun dalam bermasyarat adalah sifat beliau, beliau berkata:

Suatu hari aku pergi ke sekolah Qutub ad-Din as-Sadar di Samar. Aku menemukan empat orang dalam kondisi sakit demam yang sangat tinggi. Aku mulai menjaga mereka, mencuci baju mereka dan memberi makan, sampai aku sendiri akhirnya ikut terjangkit penyakit juga. Tapi hal ini tidak mempengaruhi aku untuk melayani mereka. Demam yang aku alami semakin tinggi dan aku merasa aku akan mati. Aku bersumpah pada diriku sendiri,” biarkan aku mati, tapi biarkan empat orang ini tetap aku layani.” Keesokan harinya diriku sembuh dan mereka tetap sakit.

Menolong dan melayani orang, di dalam pengertian Jalan ini, adalah lebih baik daripada berzikir dan meditasi. Beberapa orang berpikir melakukan ibadah sunnah lebih penting daripada menolong dan melayani orang yang membutuhkan, Dalam pandangan kami bagaimanapun juga bahwa menolong dan melayani masyarakat dan menunjukan rasa cinta kasih kepada mereka adalah lebih baik dari apapun.

Mengenai hal ini, Shah Naqshband sering berkata :

“Kita senang untuk melayani dan bukan dilayani. Ketika kita memberikan pelayanan, Tuhan senang dengan kita dan ini membawa perhatian lebih dari Hadirat Ilahi dan Tuhan akan membuka tingkatan yang lebih tinggi untuk kita. Bagaimanapun juga, dilayani membawa kesombongan dan kelemahan pada hati dan menyebabkan kita menjauh dari Hadirat Ilahi”.

Syaikh Ubayd Allah berkata: “Aku tidak mengambil Jalan Spiritual ini dari buku-buku, tetapi aku mengejarnya melalui pelayanan kepada setiap orang”.

“Setiap orang memasuki pintu yang berbeda. Aku memasuki Jalan Spiritual ini melalui pintu pelayanan”.

Beliau terkenal sangat ketat menjaga prilaku internal maupun eksternal, ketika khalwat maupun bersama orang-orang. Abu Saad Awbahi berkata: “Aku menemani beliau selama 35 tahun, aku selalu bersama beliau, selama itu aku tidak pernah melihat beliau membuang kulit atau biji dari buah-buahan yang dimakan beliau, juga tidak pernah mulutnya terbuka ketika ada makanan di mulutnya. ketika beliau tidur tidak pernah mendengkur. Aku tidak pernah melihat beliau meludah. Aku tidak pernah melihat beliau menyakiti orang. Aku bahkan tidak pernah melihat beliau duduk bersila, beliau selalu duduk bertumpu dengan lutut, dan dengan sikap yang sempurna.

 

Dari Karamah Beliau Tentang Pengetahuan Al-Qur’an Yang Mulia

 

Seperti yang dikutip dari Shaykh Ubayd Allah:

Aku akan memberitahukan suatu rahasia dari berbagai rahasia dari ayat “segala Puji bagi Tuhan Semesta Alam” (1:2) Pujian yang sempurna adalah kepada Tuhan dan dari Tuhan. Kesempurnaan dari pujian adalah ketika seorang hamba memuji Tuhan, dia menyadari dirinya bukanlah apa-apa. Seorang hamba mesti mengetahui dirinya kosong, tidak ada tubuh atau bentuk, tidak ada nama dan tindakan dari dirinya, tetapi dia bahagia karena Tuhan Yang Maha Tinggi, ini menyebabkan Sifat-Nya muncul pada dirinya.

Apakah arti dari firman Tuhan di dalam Al-Qur’an : “ dan sedikit hamba Ku yang bersyukur” (34:13) hamba yang benar-benar bersyukur adalah orang yang bisa melihat kebaikan Sang Pemberi, kepada manusia.

Apakah arti dari ayat, “Dan tinggalkan seseorang yang berbalik dalam mengingat Kami”? (53:29) ini menunjukkan bahwa seseorang yang sedang dalam perenungan yang dalam di Hadirat Ilahi dan telah mencapai tingkat dimana dia tidak melihat sesuatupun kecuali tidak perlu lagi melakukan tindakan untuk mengingat Dia. Jika dia sedang dalarn perenungan yang sempurna, jangan perintahkan dia untuk berzikir karena itu akan menyebabkan kebekuan di hatinya. Ketika dia mengalami tingkatan penglihatan yang total, segala hal adalah gangguan yang akan menghambat tingkatan ini.

Muhyiddin Ibnu Arabi berkata mengenai hal ini: “Dengan mengingat Tuhan dosa bertarnbah, penglihatan dan hati akan terhijab. Untuk tidak melakukan zikir adalah tingkatan yang terbaik karena matahari tidak pernah terbenam.

Maksud dari beliau di sini adalah, ketika seorang Arif sedang berada di Hadirat Ilahi dan berada dalam kondisi penglihatan mutlak akan Ke Esaan Tuhan, saat itu segala hal akan musnah di Hadapan Tuhan Bagi dia zikir akan menjadi gangguan. Seorang Arif hadir di Kehadiran-Nya dan tampak ada di dalam Keberadaan-Nya. Dia telah berada di tingkat musnah di Hadirat Nya, dimana jika dia berzikir Allah, dia akan berada dalam tingkatan tidak hadir dan membutuhkan suatu pengingat bagi dirinya bahwa Tuhan itu ada.

Apakah yang makna dan ayat, “Selalulah bersama orang yang bisa dipercaya”? (9:19). Ini artinya agar kita selalu bersama mereka baik fisik maupun spiritual. Seorang bisa saja duduk secara fisik bersama para pencari kebenaran. Memperhatikan, mendengar mereka. Dan Tuhan akan menerangkan hatinya dan akan mengajarkan dia agar seperti mereka. Dengan menjaga hubungan spiritual dengan para pencari kebenaran, seorang pencari harus terus menerus mengarahkan hatinya kepada hati spiritual mereka.

Para pencari mesti menjaga perkumpulan spiritual itu selalu di hatinya hingga mereka memantulkan seluruh rahasia dan seluruh maqam yang mereka miliki ke hatinya. Dia tidak boleh memalingkan wajahnya kepada apapun di dunia ini kecuali kepada Guru besar yang akan membawa dia ke Hadirat Allah. Cintai dan ikuti para Pecinta. Kemudian kamu akan seperti mereka dan cinta mereka akan memantul kepadamu.

Tentang zikir dengan ucapan “la ila ha ill-Allah”, beberapa guru besar mengatakan bahwa zikir ini adalah zikir orang awam, “Allah” adalah zikir dari orang khusus, dan zikir Huwa adalah zikir dari orang-orang yang khusus dari yang khusus. Tetapi bagiku zikir “la illaha ill-Allah” adalah zikir dari orang yang khusus dari yang khusus, karena zikir ini tidak mempunyai akhir.

Sebagaimana Tuhan adalah Sang Pencipta setiap saat, jadi di setiap saat pengetahuan bertambah bagi para Arif. Bagi para Arif, pengetahuan yang dia dapat sebelumnya menjadi tidak ada artinya ketika dia memasuki pengetahuan baru yang lebih tinggi. Seorang yang Arif menegasikan suatu tingkatan dengan meninggalkannya dan menerima tingkatan yang baru diterimanya. Ini adalah manifestasi dari “la ilaha ill-Allah” bagi hamba Tuhan.

Apakah arti dari ayat,” hai orang beriman, berimanlah (4:136) adalah “oh orang beriman ! engkau di dalam keselamatan” engkau aman karena engkau telah menghubungkan hati engkau dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tinggi dan barangsiapa yang telah menghubungkan hatinya dengan Tuhan pasti mendapatkan keselamatan.

Apakah arti dari ayat “siapakah pemilik Kerajaan hari ini? Hanya Allah yang Esa dan tak Terkalahkan” (40:16) ayat ini banyak mempunyai makna dan penjelasan, tetapi kunci unuk memahaminya adalah bahwa maksud dari Kerajaan adalah hati dari seorang pencari. Jika Tuhan melihat hati dari seorang pencari dengan Pandangannya, kemudian Dia akan menghapus keberadaan dari seluruh eksistensi kecuali Tuhan di dalam hatinya. Ini yang menyebabkan Bayazid berkata, “Maha Agung Aku atas Kebesaran-Ku” dan Hallaj, “Akulah Kebenaran” dalam tingkatan ini hati yang Tuhan telah hapuskan segalanya kecuali Dirinyalah yang berbicara.

Apakah arti dan ayat,”setiap saat Dia mernanifestasikan Dirinya dengan cara yang luar biasa (55:29) ayat ini rnempunyai dua aspek dari keberadaan setelah kemusnahan (Baqa setelah fana).

Pertama, pencari, setelah dirinya menyadari Kebenaran melalui hatinya dan pandangannya telah menguat akan Dzat Yang Unik dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tinggi, kembali dari stasiun penyangkalan diri menuju stasiun kehadiran yang sempurna. Seluruh indra dari sang pencari akan menjadi wadah bagi Nama dan Kehendak Tuhan. Sang pencari akan menemukan di dalam diri jejak dan atribut surgawi dan atribut duniawi. Dia akan mampu untuk membedakan dari dua tingkatan atribut ini. Dan dia juga mampu untuk mengambil manfaat dari setiap Atribut dan Pengetahuan.

Arti kedua dari ayat itu adalah bahwa pencari spritual menemukan dirinya, di dalam setiap waktu dan bahkan di setiap pecahan terkecil dari waktu, sebuah jejak dari Zat Yang Unik dari Tuhan, yang tidak akan ditemukan di luar tingkat musnah di dalam Pandangan yang Satu. Dari setiap pecahan waktu ke waktu yang lain, dia akan melihat bagian dari tingkatan Zat Ilahi yang Unik dan memahami “keterhubungan” dan semua hal di dalam Kesatuan-Nya. Keterhubungan ini beragam warna dan dampaknya bagi seseoran ini akan dibedakan sesuai dengan saat munculnya.

Tingkatan ini sangat langka dan sedikit dan para wali yang mencapainya. Para Wali yang mencapai tingkat ini di setiap abad adalah mereka yang meraih Kehormatan yang besar dan mereka mengamati makna dari ayat “ Setiap hari Dia memanifestasikan Dirinya dalam berbagai cara yang luar biasa.” (55:29)

Apakah makna dari hadist, “Tutuplah semua pintu yang menghadap mesjidku kecuali pintu Abu Bakar?” Abu Bakar As Shidiq ra berada dalam tingkatan cinta yang sempurna kepada Nabi saw. Semua pintu tertutup kecuali pintu Cinta, yang dilambangkan dengan pintu Abu Bakar As Shidiq ra. Jalan dari para Mursyid Naqshbandi terhubung dengan Abu Bakar as Shidiq ra dan menuju Nabi saw. Cinta kepada Mursyid akan membawa pencari ke pintu Abu Bakar As Shidiq ra yang akan membimbing mereka kepada Cinta Nabi Muhammad saw dan dari Cinta kepada Nabi saw akan membawa Cinta kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Tinggi.

 

Makna dari Shidiq

 

Shaykh Ubayd Allah al Ahrar menuturkan : “Jika seorang wali yang benar (shidiq), pada saat berjalan di Jalan Tuhan, melakukan kelengahan hanya sekejap, dia kehilangan suatu waktu yang setara dengan seribu tahun. Jalan kita ini adalah sebuah jalan dimana setiap tingkatan berlipat ganda dalam waktu yang sangat singkat disetiap waktu. Satu detik bisa setara dengan nilai seribu tahun.

Ada sebuah kelompok dan muridku, yang telah dilaporkan kepada khalifah sebagai hipokrit. Sang Khalifah dianjurkan,” Jika engkau menghukum mati mereka, engkau akan mendapat pahala karena engkau menyelamatkan orang-orang dari kesesatan” Ketika mereka dibawa ke hadapan Khalifah, dia memerintahkan agar mereka dihukum mati. Sang Algojo mendekat untuk membunuh orang pertama. Temannya berteriak dan berseru “bunuh aku terlebih dahu1u” dan berulang terjadi kepada mereka berempat.

Sang algojo menjadi terkejut. Dia bertanya “kelompok apakah ini? Sepertinya kalian lebih suka untuk mati.” Mereka menjawab “ kami adalah kelompok yang lebih menyukai orang lain dibandingkan diri kami. Kami telah mencapai tingkat dimana setiap tindakan yang kami lakukan, pahala kami akan menjadi berlipat ganda dan pengetahuan spiritual kami bertambah.

Setiap dari kami berusaha hal yang terbaik bisa dilakukan untuk yang lain, walau hanya dalam waktu yang singkat, untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi lagi di hadapan Tuhan,” sang algojo gemetar dan tidak mampu untuk membunuh mereka. Dia pergi menghadap khalifah dan melaporkan tingkatan mereka. Khalifah akhirnya segera melepaskan mereka dan berkata, “jika mereka ini hipokrit, berarti tidak ada lagi orang yang benar (shidiqin) tinggal di muka bumi”

 

Esensi dari Zikir

 

Khaja Ahrar berkata : “Jika seseorang mengabdikan dirinya secara total untuk berdzikir, dia akan mencapai suatu tingkatan, dalam lima atau enam hari, bahwa teriakan dan perkelahian atas seseorang akan terdengar seperti zikir. Hal yang sama berlaku ketika dia berbicara”.

 

Adab dan Shaykh dan Murid

 

Seorang ulama besar menulis surat kepada Shaykh Ubayd Allah, “Jika kamu ingin mendidik siapa saja dari muridmu, silahkan kirim orang dan aku akan mengajar dia.” Beliau membalas, “aku tidak mempunyai murid, tapi jika engkau membutuhkan seorang Shaykh, aku punya banyak”.

“Sufisme meminta kamu untuk memikul beban orang lain dan tidak meletakan beban dirimu kepada orang lain”.

“Waktu yang terbaik dari setiap han adalah satu jam setelah shalat Ashar. Saat itu, seorang murid harus berkembang di dalam ibadahnya. Salah satu ibadah yang terbaik adalah duduk mengevaluasi perbuatan baiknya hari itu. Jika seorang pencari menemukan dirinya baik. Dia mesti bersyukur kepada Tuhan. Jika dia menemukan dirinya melakukan kesalahan, dia harus memohon ampunan”.

“Salah satu ibadah yang baik adalah mengikuti Shaykh yang sempurna. Ikuti dia dan selalu bersama dengan kelompoknya akan membuat sang pencari meraih Hadirat Allah Yang Maha Kuasa dan Tinggi”.

“Bersama kelompok orang yang berbeda mentalitas akan menyebabkan kita jatuh kepada perbedaan”.

Suatu saat Sayidina Bayazid qs duduk dalam suatu asosiasi. Dia menemukan ketidakkompakan di kelompok itu. Beliau berkata “Perhatikan baik-baik disekeliling kamu. Siapakah yang bukan bagian kita?” mereka melihat dan tidak menemukan orang asing beliau berkata,” lihat lagi adakah sesuatu yang bukan dari kita,”

Mereka mencari dan menemukan sebuah tongkat milik orang lain bukan dari kelompok mereka. Beliau berkata,”Buang tongkat itu segera, karena itu memantulkan pemiliknya dan pantulan itu menyebabkan ketidakkompakan”.

Suatu hari seorang sufi bergabung dengan kelompok ulama, Mawlana Zainudin at Tibabi, sang sufi ditanya, “siapakah yang engkau lebih cintai, Shaykh kamu atau Imam Abu Hanifa?” dia menjawab “untuk waktu yang lama, aku mengikuti jalan dari Imam Abu Hanifa dengan sangat hati-hati. Tetapi setelah beberapa tahun, prilaku bijruk di dalam hatiku tidak mau lepas dari diriku. Setelah aku mengikuti Shaykh ku hanya beberapa hari, semua prilaku burukku hilang. Jadi bagaimana bisa aku mencintai Imam Abu Hanifa lebih baik baik dari Shaykhku walau aku sangat menghormati Imam Abu Hanifa?”

 

Hubungan dengan Shaykh (Rabithah)

 

Shaykh harus selalu hadir di setiap keberadaan sang murid yang berpakaian yang baik, bersih dan rapi. Adalah melalui hati sang murid, hubungan hati antara murid dan Shaykh terhubung. Jika dia kotor, akan menjadi sulit bagi sang murid untuk melakukan kualitas

hubungan yang baik dengan Shaykhnya. Untuk alasan itulah Nabi, saw menganjurkan pengikutnya untuk menyisir rambut dan berpakaian terbaik setiap beribadah.

Beliau menuturkan : “Seseorang bisa saja menatap Shaykh Bahauddin Naqshband karena cinta dan rasa hormat. Untuk menghindari pengikutnya kecewa, Shaykh menganjurkan dia untuk melakukan adab yang baik : yaitu untuk memfokuskan kepada satu titik di antara alis mata Shaykh dan untuk menjaga dengan teguh pengetahuan spiritual yang tampak pada Shaykh. Kemudian dia harus menghiasi dirinya dengan kemuliaan dari Shaykh dan dengan ini dia memurnikan dirinya dari prilaku buruk”.

Beliau berkata: “Engkau harus mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak penting dan menempatkan diri pada hati Shaykh! Biarkan semua kehendak Shaykh menjadi kehendakmu. Dari Shaykh kamu harus belajar jalan untuk meraih Fana’ di Hadirat-Nya”.

Salah satu dari murid Shaykh Ubayd Allah berkata;

Suatu saat kami sedang duduk bersama beliau dan kernudian beliau meminta tinta dan kertas. Beliau menulis banyak nama. Kemudian beliau menulis satu nama di atas kertas yang lain dan nama itu adalah Abu Said. Beliau mengambil kertas itu dan meletakannya di turban. Kami bertanya kepada beliau, “siapakah dia yang namanya engkau taruh di turban?” beliau menjawab” itu adalah nama seseorang akan dikuti seluruh orang dari Tashkent, Samarqand dan Bukhara. Setelah satu bulan, kami mendengar bahwa Raja Abu Said telah mengambil alih Samarqand. Tidak seorang pun pernah mendengar tentang dia sebelumnya.

Suatu hari Raja Abu Said bermimpi bahwa di mimpi itu dia melihat salah seorang Imam besar Ahmad al-Yasawi, seorang khalifah dari Shaykh Yusuf al Hamadani, meminta Ubayd Allah al Ahrar untu membaca surat pertama dari Al Qu’an, Al-Fatiha dengan niat agar Allah memberikan dukungan kepada Abu Said. Di mimpi itu Abu Said bertanya, ‘Siapakah Shaykh itu?” dan dia diberitahu “Ubayd Allah al Ahrar” ketika dia terbangun, dia masih ingat rupa dan Shakh itu dipikirannya. Dia memanggil salah seorang penasihatnya di Tashkent dan menanyakan kepadanya,”Adakah seseorang yang bemama Ubayd Allah?” dia mejawab “Ya.” kemudian Sultan Abu Said berangkat ke Tashkent untuk bertemu beliau dan dia bertemu dengan beliau di suatu desa bernama Farqa.

Shaykh keluar untuk menemui dia. Sang Sultan mengenali beliau dengan seketika. Hatinya tertarik seketika. Dia turun dari tungganganya dan berlari menuju Shaykh, mencium tangan dan kakinya. Dia meminta Shaykh membaca al Fatiha untuknya. Shaykh berkata,” Oh anakku, ketika kita butuh sesuatu, kita membaca al Fatiha satu kali dan itu sudah cukup. Kami telah melakukannya seperti yang engkau lihat di mimpimu.’

Raja sangat heran bahwa Shaykh mengetahui isi dari mimpinya. Dia kemudian meminta izin untuk pindah ke Samarqand dan Shaykh berkata, “Jika niat kamu untuk menegakkan Aturan Ilahi dari Nabi SAW, maka aku akan bersamamu dan Tuhan akan mendukungmu” sang raja berkata “itu memang niatku” Shaykh berkata “ketika kamu melihat musuh datang untuk melawanmu, bersabarlah, jangan langsung menyerangnya.

Tunggu sampai kerumunan burung Gagak datang dari belakangmu. Kemudian serang.” Ketika saat itu datang dan dua pasukan tentara saling berhadapan, Abu Said menunggu walau saat itu pasukan AbdulIah Mirza yang lebih besar, telah menyerang. Para jenderal memaksa untuk memulai melakukan serangan balasan. Abu Said berkata “tidak, sampai kita melihat burung gagak hitam itu datang, sebagaimana Shaykh telah beritahukan. Maka kita akan menyerang. Ketika beliau melihat burung gagak datang, dia memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Kuda Abdullah Mirza terjebak di dalam lumpur. Dia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian Abu Said berhasil untuk menguasai seluruh teritorial.

Dia kemudian meminta Ubayd Allah al Ahrar untuk pindah ke Tashkent dari Samarqand. Shykh Ubayd Allah menerimanya dan pindah bersama seluruh pengikutnya. Beliau menjadi penasihat Raja. Setelah beberapa tahun, Sultan Abu Said menerima kabar bahwa Mirza Babar, keponakan dari Abdullah Mirza, sedang bergerak ke arah Khurasan dengan 100.000 prajurit untuk membalas kekalahan pamannya dan mengambil alih Kerajaan.

Sultan Abu Said melaporkan hal ini kepada Ubayd Allah dan berkata “Kita tidak mempunyai jumlah prajurit yang cukup” Syaykh menjawab, “Jangan khawatir.” Ketika Mirza Babar mencapai di Samarqand, Sultan Abu Said menemui penasihatnya untuk konsultasi, mereka menganjurkan untuk mundur ke Turkistan. Dia bersiap-siap untuk mundur ke Turkistan. Shaykh dating menemui dia dan berkata “Mengapa engkau tidak mengikuti perintahku? Aku telah katakana untuk tidak taku.

Aku sendiri cukup untuk menghadap 100.000 tentara mereka.” Besoknya wabah penyakit mcnyerang pasukan Mirza Babar, menyebabkan ribuan orang mati. Sultan Mirza Babar akhirnya membuat perjanjian damai dengan Sultan Abu Said. Kemudian Mirza Babar meninggalkan Samarqand berrsama pasukan yang tersisa.

 

Tentang Tingkatan Diri Beliau

 

Ketika kita mengambil peran Syaikh, tidak seorangpun dari teman sebaya akan ditemukan sebagai pengikut,. Tetapi itu bukan urusan kita. Hal yang kita perhatikan adalah untuk melindungi orang dari tirani. Untuk itulah tugas kita untuk berhubungan dengan penguasa dan menarik hati mereka, dengan ini kami mengarahkan hati mereka, sesuai dengan apa yang kami harapkan.

Beliau berkata “Tuhan memberikan kekuatan besar untuk mempengaruhi setiap orang yang aku suka. Bahkan jika aku mengirim surat kepada Raja Khata, yang telah menyatakan dirinya Tuhan. Dia akan datang merangkak telanjang kaki kepadaku. Aku tidak pernah menggunakan kekuatan itu, karena di jalan ini, setiap keinginan harus mengikuti Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tinggi

 

 

 

 

Wafatnya Beliau

 

Shaykh Ubayd Allah al Ahrar meninggal dunia setelah Shalat Isya pada hari sabtu, 12 Rabiul Awal, 895H/1490M di kota Kaman Kashan, di Samarqand. Melalui bukunya, beliau meninggalkan banyak kumpulan kebijaksanaan yang langka, salah satunya adalah Anas as-salikin fi-t-tasawuf dan al-Urwatu-l-wuthqa li arbaba-l-itiqad. Beliau mewariskan sebuah universitas Islam yang sangat diakui reputasinya dan mesjid yang masih ada sampai sekarang.

Putra beliau, Muhammad Yahya dan banyak orang yang hadir saat beliau menghembuskan nafas melihat cahaya yang sangat terang benderang dari mata beliau dan itu membuat cahaya lilin menjadi redup. Semua orang di Samarqand termasuk Sultan terguncang dengan kepergian beliau. Sultan Ahmad menghadiri pemakaman beliau dengan seluruh pasukannya. Sultan sendiri juga ikut mengangkat keranda Shaykh dan menghantarkanya ke peristirahatan terakhir di dunia ini.

Ubayd Al Ahrar mewariskan rahasia dari Mata Rantai Emas kepada Shaykh Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi.

 

sanad emas ke 19. Syekh Yakub al-Carkhi

19. Syekh Yakub al-Carkhi

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

 

“Aku sudah mengenal Tuhan dan

aku tidak melihat yang lain kecuali-Nya

Sehingga ‘yang lain’ dilarang menampakkan diri. mmmmmmmmmmmmmmmm

Sejak aku menyadari tentang penyatuan,

aku tidak lagi takut akan keterpisahan;

Hari ini aku sudah datang dan menyatu.”

(Anonim)

 


Ulama Para Wali dan Wali Para Ulama

 

Kemunculan beliau ditengah-tengah manusia dengan mengenakan buah pengetahuan, yaitu pengetahuan lahir dan bathin. Tabiat dan karakter beliau yang begitu murni merefleksikan atribut-atribut Tuhan kepada semua orang. Beliau menghidupkan kembali spiritualitas dengan Hukum Illahiah dan menghidupkan kembali Hukum Illahiah (syari’ah) dengan spiritualitas. Orang-orang mengikutinya karena jalan dialah yang terbaik, karena diwariskan Pengetahuan Kasat Mata dari Sang Nabi saw.

Beliau lahir di kota Jarkh, sebuah wilayah di luar kota besar bernama Garnin yang terletak di antara 2 buah kota yaitu Kandahar dan Kabul di Transoxiana. Saat usia belia beliau pergi ke Kota Herat untuk bersekolah. Kemudian pergi ke Mesir, disinilah beliau mempelajari ilmu-ilmu syara’a dan logika. Beliau dapat mengingat Kitab Suci Al-Qur’an sebaik mengingat 500.000 buah hadits, baik hadist benar dan yang salah.

Salah satu guru beliau adalah Shihabuddin ash-Shirawani, dikenal sebagai Sang Ensiklopedia pada zaman itu. Beliau melanjutkan pendidikan sampai meraih tingkatan dimana beliau dapat memberikan farwa (keputusan resmi) pada hal-hal yang dihadapkan oleh kaum Muslim Beliau adalah seorang mujtahid mutlaq (pandai dalam dalil-dalil resmi tersendiri) dalam 2 buah pengetahuan, yaitu lahir dan bathin. Beliau kembali ke negeri asalnya dan mengikuti Baha’uddin Naqsyband q.s lalu Alauddin al-Attar q.s untuk mendidik dirinya sendiri dalam pengetahuan tersembunyi.

 

Dia berkata Tentang pengetahuan Tersembunyi,

“Aku tulus dan setia dalam mencintai Syekh Bahauddin bahkan sebelum aku mengenal beliau. Ketika aku memperoleh ijazah (ijin) untuk menjadi seorang mujtahid mutlaq dan memberikan fatwa, aku kembali ke kampung halaman dan mengunjungi beliau dan menyerahkan penghargaanku. Aku berkata kepada beliau dengan penuh tawaadhu’ dan kepatuhan, “Tolong jaga aku agar selalu berada dalam Dzat penglihatanmu.”

Beliau menjawab, “Kau datang kepadaku dalarn perjalanan kembali ke negeri asalmu di Jarkh?” Aku berkata, “Aku mencintaimu dan akula hambamu karena kau memiliki kemasyuran terbesar dan diterima oleh semua orang.” Beliau berkata, “Itu bukanlah sebuah alas an yang bagus bagiku untuk menerimamu.” Lalu aku menjawab, “Wahai Syekhku, Sang Nabi (saw) bersabda dalam hadist qudsi, “Jika Allah mencintai seseorang, Dia akan mempengaruhi hati orang-orang untuk mencintai orang tersebut.”

Kemudian Syaikh Bahauddin qs tersenyum seraya berkata, Aku adalah pewaris spiritual dari Azizan. Apa yang kau katakan benar.” Ketika beliau mengucapkan kalimat ini aku begitu terkejut, karena aku telah mendengar dalam sebuah mimpi satu bulan sebelumnya, sebuah suara berkata kepadaku ‘Jadilah murid Azizan.’ Pada waktu itu aku tidak mengetahui siapakah Azizan. Namun beliau menyebutkan kata tersebut seakan-akan beliau sudah mengetahui tentang mimpi tersebut.

lalu aku memperoleh ijinnya. Beliau berujar, “Kau boleh pergi, tapi biarkan aku memberimu sebuah hadiah yang akan mengingatkanmu akan diriku” Beliau memberikan aku turbannya. Beliau melanjutkan, “Ketika kau melihat turban ini atau menggunakannya, kau akan mengingatku dan saat kau mengingatku kau akan menemukanku dan saat kau menemukanku maka kau akan menemukan Jalanmu menuju Allah.”

“Beliau memberitahuku, ‘Dalam perjalanan kembali ke negeri asalmu Balkh, kalau kau bertemu dengan Mawlana Tajuddin al-Kawlaki, jagalah hatimu dari pergunjingan saat berada dalam pertemuannya karena beliau seorang wali besar dan dia akan mencaci makimu.’

Aku berkata dalam hati, ‘Aku akan kembali ke Herat melalui Balkh, tapi aku tidak akan melewati Kawlak diinana Mawlana Tajuddin tinggal. Jadi aku tidak berpikir akan bertemu dengannya.’ Tetapi dalam perjalanan sebuah peristiwa terjadi pada karavan yang aku tumpangi untuk bepergian dan mengharuskan kami pergi ke arah Kawlak. Aku mengingat ucapan-ucapan Syekh Bahauddin, ‘Jika kau melewati Kawlak, lalu kunjungilah Syekh Tajuddin a1-Kawlaki.’ Ucapan itu datang ke hatiku bahwa Syekh Baha’uddin penyebab peristiwa tersebut sehingga aku akan bertolak mengunjungi sang Syekh.

Saat kami tiba di Kawlak, hari telah gelap tanpa bintang-bintang menghiasi langit. Aku pergi ke mesjid untuk bertanya mengenai Mawlana Tajuddin Kawlaki. Seseorang mendatangiku dari belakang sebuah pilar dan berkata, ‘Apakah kau Ya’qub al-Charkhi?’ Aku amat terkesima. Beliau berkata, ‘Jangan kaget. Aku sudah tahu tentangmu sebelum kau datang ke sini. Syekhku, Syekh Bahauddin mengutusku untuk membawaku kepada Syekh Tajuddin al-Kawlaki.’

Dalam perjalanan menemui Syekh Tajuddin al-Kawlaki, kami bertemu dengan seorang lelaki tua yang berkata, ‘Oh putraku, jalan kami penuh dengan kejutan. Siapa pun yang memasukinya dapat mengerti. Para pencari (saalik) harus meninggalkan pikirannya.’ Kami lalu masuk menghadap Mawlana Tajuddin dan sangatlah sulit menjaga hatiku bebas dari berbagai gunjingan.

Mawlana Tajuddin memberiku sepenggal pengetahuan spiritual yang beliau miliki dan belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku begitu gembira dengan syekhku, Syekh Baha’uddin, dan jalan yang beliau atur bagiku agar bertemu Mawlana Tajuddin, cintaku teruntuk beliau semakin membesar dengan cepat.”

“Setelah aku tiba di negeri asalku, dari waktu ke waktu, aku bepergian ke Bukhara mengunjungi Syekh Baha’uddin. Di Bukhara ada majdhub (gila), yaitu orang yang tersesat dalam Cinta Illahi, yang sangat terkenal dan biasanya orang-orang datang untuk mendapat berkahnya. Satu hari ketika aku bermaksud untuk mengunjungi Syekh Baha’uddin, aku memutuskan untuk mampir dan mengetahui kira-kira apa komentarnya.

Ketika melihatku dia berkata, ‘Bergegaslah pergi ke tujuanmu dan jangan berhenti. Apa yang telah kau putuskan adalah yang terbaik,’ Dia mulai menggambar banyak garis di debu. Datanglah ke hatiku untuk menghitung garis-garis ini. Jika jumlah garis adalah ganjil maka diindikasikan sebuah pertanda baik bagiku karena Sang Nabi saw pernah berkata, ‘Allah adalah Esa dan Dia menyukai angka ganjil.’ Aku menghitung garis dan jumlahnya menunjukkan angka ganjil. Hal itu membuat hatiku bahagia.

Aku berlalu mengunjungi Syekh Bahauddin dan meminta beliau mem-bay’at dan mengajari aku dzikir. Jadi, beliau mengajariku maqam Kesadaran akan Angka, wuquf’ adadi, dan beliau berkata kepadaku bm’ ,bahwa telah bersamaku ketika aku berternu dengan majdhub, ‘Wahai putraku, jaga selalu angka-angka ganjil, seperti Ketika kau berharap jumlah garis adalah ganjil, dan aku akan memberikanmu sebuah tanda, jadi jagalah kesadaran tersebut ketika kau melakukan dzikir.”

Aku begitu tenggelam dalam pancuran cahaya dan cinta yang adalah Syekhku, bahwa aku mengunjunginya lebih banyak dan lebih dan cinta bagi beliau semakin meningkat dalarn hatiku. Suatu hari aku membuka Kitab Suci Al Qur’an ke ayat, ulaa’ik alladziina hada-l-Lahu fa bi hudaahum uqtadih (‘Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka’) [Al An’aam 6:90).

Aku begitu gembira membaca ayat tersebut. Pada saat itu aku tinggal disebuah kota bernama Fatahabad. Diakhir hari aku memutuskan mengunjungi masjid dan makam Syekh al-Bakharazi. Dalam perjalanan, sebuah pikiran datang ke hati yang membuatku kacau sehingga  aku memutuskan bertemu dengan Syekh Baha’uddin.

When I came into his presence, it was as if he had been waiting for me. He looked into my eyes and then said, ‘The time of the prayers has come and then we will speak.’ After the prayers he said, ‘Look at me.’ I saw in his face a majestic vision, which made my heart shake. I kept my mouth closed and he said to me ‘Knowledge is of two kinds: knowledge of the heart, and this is the beneficial knowledge and it is the knowledge of Prophets and Messengers; and the knowledge of the tongue, the external knowledge, and this is, as all visible and audible teaching, the Proof of Allah to His Creation. I wish that Allah will give you good fortune in the Internal Knowledge. And it came through hadith: ‘If you sit with the People of Truth, sit with them with a true heart, because they are the spies of the heart. They can enter and see what is inside your heart.'”

 

He continued, “I have been ordered by Allah, Almighty and Exalted, and by the Prophet (s), and by my Shaykh, not to accept anyone in my way unless Allah, the Prophet and my Shaykhs accept that person. So I will look tonight to see if you are accepted.’ This was the most difficult day of my life. I felt I would melt from the fear that they would not accept me on this Way. I prayed Fajr behind him and I was so afraid. When he looked into my heart everything disappeared and he was appearing everywhere. I heard his voice saying, ‘May Allah bless you. He accepts you and I accept you.’ Then he began to recite the names of the Masters of the Golden Chain from the Prophet to Abu Bakr, Salman, Qassim, Jacfar, Tayfar, Abul Hassan, Abu cAli, Yasuf, Abul cAbbas, cAbdul Khaliq. Every Shaykh he mentioned appeared in front of him. When he mentioned cAbdul Khaliq he stopped and cAbdul Khaliq appeared in front of me. He said, ‘Give him to me now,’ and he taught me more of the knowledge of wuquf al-cadadi, the Science of numbers. He told me that knowledge came to him through Khidr (s). Then my Shaykh continued reciting the silsilah (chain), cArif Mahmoud, cAli Ramitani, Muhammad Baba as-Samasi, Sayid Amir Kulal. They were each appearing by turn and giving me initiation. I continued serving him, standing at his door, learning from him, until he gave me permission to be a guide to people on this Way. He said to me, ‘This Way is going to be the greatest happiness for you.'”

Ubaydullah al-A rar reported that Yaqub said to him: “O my son, I received an order from Shah Naqshband (q) to accompany Shaykh cAla’uddin al-cAttar after his [Shah Naqshband’s] death. By the order of my Shaykh I was in his company as his murid from the time of Baha’uddin’s death until cAla’uddin’s death in Jaganyan in Bukhara. By the blessing of his companionship my state was elevated and my training completed.”

Ubaidullah al-Ahrar said that Shaykh Yacqub al-Charkhi and Shaykh Zainuddin al-Khawafi were like brothers when they studied together in Egypt under the teaching of the scholar, Shaykh Shihabuddin as-Shirwani. Shaykh Zainuddin said that Shaykh Yacqub al-Charkhi used to disappear and appear during his lectures. This miracle symbolizes the state of complete self-effacement into the Presence in Allah Almighty. This was his state in Egypt, until he came and followed Shah Naqshband, and then he reached a state of perfection.

He died in the village of Hulgatu, on the 5th of Safar, 851 H. He had many khalifs. He passed the Secret of this Order to Shaykh Ubaydullah al-Ahrar, may Allah bless his secret.

sanad emas ke 18. Ala’uddin al-Bukhari al-Attar

18. Ala’uddin al-Bukhari al-Attar

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

Pada pelupuk mataku,

selalu hadir bayangan dirimu

di setiap gerak bibirku,

menggetar kenangan akan dirimu

abadi dalam hatiku, pemikiran tentangmu

Di manakah Kau dapat bersembunyi dariku?

(Al-Hallaj)

 

Beliau adalah Bintang di antara para Awliya yang Sempurna. Beliau adalah seorang ulama yang bertindak berdasarkan dan apa yang diketahuinya (calimun camil). Beliau dikenal sebagai buah dari pohon Pengetahuan Ilahi dari Pengetahuan Spiritual.

Penghapus Kegelapan, Pemandu para bangsawan dan orang-orang kebanyakan, Sumur yang tidak pernah mengering, Pemandu terbaik yang menerangi Jalan menuju Kehadirat Ilahi.

Beliau adalah yang pertama dalam menghilangkan sinngasana kebohongan dari Jalur Kebenaran. Beliau berdiri di Pusat Bidang Kutub (aqtab) dan menanggung beban kekhalifahan spiritual. Beliau mengangkat jiwa saudara-saudaranya sampai seluruh alam semesta memanggil dan mengingatkannya. Karena kejujurannya, pengetahuan agama eksternal dan internal bersemi dalam dirinya. Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Rajab 802 H. Beliau meninggalkan semua warisan ayahnya kepada kedua saudaranya dan mengabdikan dirinya untuk belajar di sekolah di Bukhara. Beliau menjadi ahli di segala bidang seni, khususnya dalam Pengetahuan mengenai Sufisme dan Pengetahuan mengenai Islam. Beliau melamar putri Syaikh Naqsyband qs, memintanya untuk menikah dengannya. Jawaban Syah Naqsyband qs baru muncul di suatu hari, lewat tengah malam ketika beliau terbangun dari tidurnya di Qasr al-’Arifan, dengan segera beliau pergi ke sekolah di Bukhara di mana Alauddin qs tinggal.

Di sana beliau melihat semua orang tertidur, kecuali Alauddin qs yang tetap terjaga dengan membaca aL-Qur’an diterangi cahaya dan sebuah lampu minyak yang kecil. Beliau mendatanginya dari belakang dan menepuk pundaknya tetapi Alauddin qs tidak respons. Beliau mendorongnya lebih keras, tetapi tetap tidak ada reaksi.

Melalui pandangan spiritualnya, Syah Naqsyband qs mengerti bahwa Alauddin qs tidak berada di sana tetapi sedang berada dalam Kehadirat Ilahi. Beliau lalu memanggilnya secara spiritual dengan segera Alauddin qs menoleh dan berkata, “Oh Syaikhku”. Syah Naqsyband qs berkata, “Aku bermimpi bahwa Rasulullal telah menerima lamaranmu kepada putriku. Dengan alasan itulah, Aku datang sendiri ke sini, di tengah malam, untuk menyampaikan kabar gembira ini”.

Alauddin qs berkata, “Wahai Syaikhku, Aku tidak punya apa-apayang bisa dibelanjakan baik oleh putrimu maupun diriku sendiri, karena Aku sangat miskin, seluruh warisan ayahku telah kuberikan kepada saudara-saudaraku”. Syah Naqsyband qs menjawab, “Wahai anakku, apa pun yang telah dituliskan Allah swt kepadamu di Hari Perjanjian akan tetap menjadi milikmu. Jadi jangan khawatir, Allah akan menyediakannya”.

Beliau berkata, “Suatu hari seorang Syaikh bertanya kepadaku, “Bagaimana hatimu?” Aku berkata, “Aku tidak tahu bagaimana keadaan hatiku”. Syaikh itu berkata, “Aku tahu hatiku, dia bagaikan bulan sepertiga malam”. Aku lalu menceritakan hal ini kepada Syah Naqsyband qs dan beliau berkata, “Dia berkata berdasarkan keadaan hatinya”. Ketika beliau mengatakan hal ini beliau meletakkan kakinya di atas kakiku dan menekannya.

Tiba-tiba Aku meninggalkan tubuhku dan melihat bahwa segala yang ada di dunia ini dan seluruh alam semesta berada di hatiku. Ketika aku terjaga dari keadaan tidak sadar itu, beliau masih berdiri di atas kakiku, dan berkata, “Jika hati seperti itu, maka tak seorang pun yang dapat melukiskannya”. Sekarang bagaimana menurutmu hadits yang berbunyi, “Bumi dan langit tidak dapat memuat diriku, tetapi Aku berada dalam  hati orang-orang yang beriman”. Ini adalah salah satu rahasia yang harus kalian pahami.

Selanjutnya Syah Naqsyband qs bertanggungjawab sepenuhnya atas dirinya. Beliau mengangkatnya dari satu tingkat pengetahuan ke tingkat lainnya dan mempersiapkannya untuk hadir dalam Kehadirat Ilahi dan untuk mendaki menara Pengetahuan Spiritual yang agung dan meninggalkan segala macam kebodohan untuk mencapai tingkat Realitas. Beliau menjadi unik di antara sekian banyak murid pengikut Baha’uddin Naqsyband qs.

Selama hidupnya Syah Naqsyband qs memerintahkannya untuk memberi pencerahan kepada para pengikutnya yang lain. Begitu pula Syaikh Muhammad Parsa k yang menulis bahwa dia mendengar Syaikh Alauddin qs, “Aku diberi kekuatan oleh Syaikhku, Syah Naqsyband qs, sedemikian rupa sehingga bila Aku ingin memfokuskan setiap orang di alam semesta ini, Aku akan mengangkat mereka semua ke tingkat ihsan”.

Suatu ketika para ulama di Bukhara mempunyai beda pendapat mengenai kemungkinan melihat Allah swt di dunia ini. Sebagian dari mereka menyangkal kemungkinan itu sementara yang lain merasa yakin. Mereka semua adalah murid Syaikh Alauddin qs. Mereka rnendatanginya dan berkata, “Kami minta engkau menjadi juri dalam hal ini”. Beliau berkata, “Di antara kalian yang menyangkal kemungkinan untuk melihat Allah dalam kehidupan ini, ikutlah bersamaku selama 3 hari dengan tetap menjaga wudhu dan diam”. Beliau menjaga mereka selama 3 hari, mengarahkan kekuatan spiritualnya kepada mereka, sampai mereka semua memperlihatkan keadaan yang sangat kuat yang menyebabkan mereka menjadi lemah lunglai.

Ketika mereka sadar kembali, mereka mendatanginya dengan menangis, amanna wa saddaqna, “Kami percaya dan kami yakin bahwa hal itu benar!? sambil menciurn kakinya. Mereka berkata kepadanya, “Kami menerima apa yang engkau katakan, melihat Allah dalam hidup ini adalah suatu hal yang tidak mustahil”.

Mereka mengabdikan diri mereka kepadanya dan tidak pernah meninggalkannya. Mereka juga menjadikan kebiasaan untuk mencium ambang pintunya. Mereka menggubah syair berikut : Karena buta mereka bertanya, “Bagaimana kami mencapai Tuhan?” Menempatkan lilin kemurnian di tangan mereka. Mereka akan tahu bahwa kemungkinan untuk melihat tidaklah mustahil.

Syaikh Alauddin qs sangat disayang dan diistimewakan oleh Syah Naqsyband qs, sebagaimana Nabi Yusuf as yang sangat disayang oleh ayahnya, Nabi Ya’qub as.

 

Dari Pancaran Cahaya Kata-Katanya

 

Beliau berkata, “Niat dalam berkhalwat adalah untuk meninggalkan segala hubungan duniawi dan mengarahkan diri kepada Kebenaran Surgawi”.

“Dikatakan bahwa para pencari dalam pengetahuan eksternal harus memegang teguh Tali Allah, sedangkan para pencari pengetahuan internal harus terikat kuat kepada Allah swt”.

Ketika Syah Naqsyband qs mendapat pakaian baru, beliau akan memberikannya kepada orang lain untuk dipakai. Setelah mereka memakainya, beliau akan meminjamnya kembali”.

 

Tingkat Kefanaan

 

“Ketika Allah membuatmu lupa akan kekuatan duniawi maupun Kerajaan Surgawi, itu adalah Kefanaan yang Mutlak. Dan Jika Dia membuatmu lupa akan Kefanaan yang Mutlak itu, itu adalah Inti dari Kefanaan yang Mutlak”,

 

Perilaku yang Benar

 

“Kalian harus berada pada tingkat yang sesuai dengan orang-orang di sekitarmu dan menyembunyikan keadaanmu yang sebenarnya dari mereka, karena Rasulullah saw bersabda, “Aku telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-orang sesuai dengan apa yang bisa dimengerti oleh hati mereka”.

“Waspadalah dalam menyakiti hari para Sufi. Jika engkau menginginkan persahabatan mereka, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan mereka adalah jalan yang paling lembut. Disebutkan bahwa, “Tidak ada tempat di Jalan Kami bagi orang-orang yang tidak mempunyai perilaku yang baik”.

“Jika kalian berpikir bahwa kalian telah berperilaku baik berarti engkau salah, karena memandang dirimu baik adalah suatu kesombongan.

 

Mengenai Ziarah Kubur

 

“Manfaat yang dapat dipetik dari ziarah ke makam Syaikh kalian tergantung dari pengetahuanmu tentang mereka”.

“Berada di dekat makam orang-orang yang shaleh mempunyai pengaruh yang baik terhadap dirimu, walaupun lebih baik untuk mengarahkan dirimu kepada jiwa mereka adalah dan itu bisa membawa pengaruh spiritual yang tinggi. Rasulullah saw bersabda “Kirimkanlah do’a kepadaku di mana pun engkau berada”. Ini menunjukkan bahwa kalian dapat mencapai Rasulullah saw dimana pun kalian berada, dan itu juga berlaku untuk semua Walinya, karena mereka mendapat kekuatan dari Rasulullah sallallahu alayhi wasallam”.

“Adab, atau perilaku yang benar dalam berziarah adalah dengan mengarahkan dirimu kepada Allah swt dan membuat jiwa-jiwa ini sebagai jalanmu (wasilah) menuju Allah swt, merendahkan hatimu kepada Ciptaan-Nya. Kalian merendahkan hati secara eksternal kepada mereka dan secara internal kepada Allah.

Menunduk di hadapan orang lain tidak diizinkan kecuali kalian memandang mereka sebagai perwujudan Tuhan. Dengan demikian kerendahan hati itu tidak diarahkan kepada mereka, tetapi diarahkan kepada Tuhan yang tampak dalam diri mereka, dan itulah Tuhan.

 

Dzikir yang Terbaik

 

“Jalan untuk berkontemplasi (merenung) dan meditasi lebih tinggi dan lebih sempurna daripada berdzikir dengan kalimat La ilaha illallah. Para pencari, melalui kontemplasi dan meditasi (muraqabat), dapat meraih pengetahuan internal dan mampu memasuki Kerajaan  Surgawi. Dia akan diberi kekuasaan untuk melihat Makhluk Allah swt dan mengetahui apa yang terlintas dalam benak mereka, bahkan gossip atau bisikan terkecil pun dapat diketahuinya. Dia akan diberi kekuasaan untuk mencerahkan hati mereka dengan cahaya inti dari inti tingkat Ke-Esaan.”

 

Melindungi Hati

 

“Diam adalah keadaan terbaik, kecuali dalam tiga kondisi : kalian tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi gosip buruk yang menyerang hatimu, kalian tidak boleh berdiam diri dalam mengarahkan dirimu untuk mengingat Allah swt, dan kalian tidak boleh berdiam diri ketika pandangan spiritual dalam hatimu memerintahkan untuk bicara”.

“Melindungi hatimu dari pikiran jahat sangatlah sulit, dan Aku melindungi hatiku selama 20 tahun dengan tidak membiarkan ada satu godaan pun yang memasukinya”.

“Amalan terbaik dalam Thariqat ini adalah menghukum godaan dan gosip di dalam hati”.

“Aku tidak senang terhadap beberapa murid karena mereka tidak berusaha untuk menjaga keadaan pandangan spiritual yang muncul kepada mereka”.

 

Cinta terhadap Syaikh

 

“Jika hati para pengikut (murid) dipenuhi dengan cinta terhadap Syaikh, maka cinta ini mengalahkan semua cinta dalam hatinya, kemudian hati itu dapat menerima transmisi Pengetahuan Ilahi, yang tidak berawal dan tidak berakhir”.

“Murid harus menceritakan semua keadaannya kepada Syaikhnya, dan dia harus merasa yakin bahwa dia tidak akan mencapai tujuannya kecuali melalui kepuasan dan cinta Syaikhnya. Dia harus mencari kepuasan itu dan dia harus tahu bahwa semua pintu telah terkunci, internal dan eksternal, kecuali satu pintu, yaitu Syaikhnya. Dia harus mengorbankan dirinya demi Syaikhnya.

Walaupun dia telah rnempunyai pengetahuan tertinggi dan mujahada (kapasitas untuk berusaha) yang paling tinggi, dia harus meninggalkan semuanya dan sadar bahwa dia tidak ada artinya di hadapan Syaikhnya. Para pencari harus memberikan otoritas penuh kepada Syaikh dalam segala urusannya, baik religius maupun duniawi, sedemikian sehingga dia tidak mernpunyai keinginan selain keinginan Syaikhnya.

Tugas Syaikh adalah melihat aktivitas murid sehari-hari, memberi nasihat dan memperbaiki dirinya dalam kehidupan dan agamanya serta menolong mereka untuk menemukan jalan terbaik untuk mencapai realitasnya.

“Mengunjungi Awliya adalah suatu Sunnah Wajiba, yaitu suatu kewajiban setiap pencari, paling tidak setiap hari, atau setiap hari lainnya, sementara menjaga batas dan kehormatan antara dirimu dengan Syaikh. Jika jarak antara kalian dengan Syaikh cukup jauh kunjungilah beliau paling tidak sekali sebulan atau dua bulan sekali agar hubungan kalian tidak terputus. Jangan hanya tergantung pada koneksi antara dirimu dengan hati mereka”.

“Aku memberi jaminan kepada setiap pencari dalam thariqat ini, jika dia meniru Syaikh dengan hati yang tulus, pada akhirnya dia akan menemukan realitasnya. Syah Naqsyband k memerintahkan Aku untuk meniru beliau dan apa yang Aku lakukan untuk meniru beliau dengan segera Aku memetik hasilnya”.

Namun demikian beliau juga memperingatkan, “Para Guru dalam thariqat kita tidak dapat dikenali kecuali dalam Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan (Maqam at-Talwin). Siapa pun yang meniru tingkah laku mereka dalam maqam itu, dia akan berhasil. Namun demikian, barang siapa yang meniru tingkah laku mereka dalam  Maqam Ihsan, Maqam yang Penuh Kesempurnaan, dia akan tersesat. Dan dia hanya akan selamat dari penyimpangan itu jika gurunya memberi rahmat dan mengungkapkan Realitas dari Maqam itu kepadanya.”

Apa yang beliau maksudkan, dan sesungguhnya Allah Maha Tahu, adalah bahwa para pencari tidak dapat meraih Kesempurnaan sampai dia disempurnakan. Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan adalah tempat di mana para pencari berjuang keras dengan puasa, ibadah, khalwat, dan dengan mempertahankan cinta dan penghormatannya kepada gurunya dari satu kesulitan kepada kesulitan yang lain.

Meniru gurunya dalam tahap ini akan mendatangkan keberhasilan, karena gurunya sangat ahli dalam semua urusan ini. Namun, jika dia meniru gurunya ketika sedang berada dalam Maqam Kesempurnaan, dia akan berada dalam bahaya, seperti halnya ketika dia ingin terbang tanpa mengembangkan sayapnya lebih dahulu. Penting sekali bagi para pencari untuk mendaki gunung sebelum dia menikmati pemandangan di puncak.

Untuk mendaki gunung, para pencari harus melakukan perjalanan dari dunia yang rendah menuju Kehadirat Ilahi. Dia harus menenpuh perjalanan dari dunia ego yang penuh realitas sensual menuju kesadaran jiwa akan Realitas Ilahi. Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, para pencari harus membawa gambaran mengenai Syaikhnya (tasawwur) ke dalam hatinya, karena itu merupakan jalan terkuat untuk melepaskan seseorang dan genggaman rasa. Dalam hatinya Syaikh menjelma menjadi cerminan dari Inti yang Mutlak.

Jika dia berhasil, keadaan ghayba atau ‘absen’ dari dunia yang penuh rasa akan tampak pada dirinya. Untuk mengukur bahwa keadaan ini semakin meningkat dalam dirinya, ketertarikan terhadap rasa duniawi melemah dan hilang lalu pada dirinya mulai tampak Maqam kehampaan Mutlak untuk Merasakan yang Lain selain Allah swt.

Tingkat paling tinggi dari maqam ini disebut Maqam Pemusnahan (fana’). Syah Naqsyband qs menasihati muridnya, “Ketika Aku mengalami keadaan tanpa kesadaran, tinggalkanlah Aku sendiri dan serahkan dirimu pada keadaan itu dan terimalah haknya atas diri kita”.

Mengenai perjalanan ini, Syaikh Alauddin qs berkata kepada muridnya,

“Jalur terpendek menuju sasaran kita, yaitu Allah swt adalah saat Allah swt menghilangkan sekat dari Inti Wujud Ke-Esaan-Nya yang tampak pada semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan hal ini dengan Maqam Penghapusan (Ghayba) dan Peleburan dalam Ke-Esaan-Nya yang Mutlak (Fana’), sampai Inti Kemegahan-Nya mulai tampak dan menghilangkan kesadaran akan segala hal selain Dia. Ini adalah akhir dari Perjalanan Mencari Allah swt dan awal dari Perjalanan yang lain.”

“Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Keadaan yang Penuh Daya Tarik muncullah Keadaan Tanpa Kesadaran dan Pemusnahan. Inilah yang menjadi target semua ummat manusia sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Aku tidak menciptakan Jinn Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Ibadah disini maksudnya Pengetahuan Yang Sempuma (Ma’rifat).

Pada tanggal 2 Rajab 802 H, Syaikh Alauddin k berkata, “Aku akan meninggalkan kalian menuju kehidupan yang lain dan tak seorang pun yang dapat menghentikan Aku”.

Beliau wafat pada tanggal 20 Rajab 802 H dan dimakamkan di kota. Jaganyan, salah satu bagian dan Bukhara. Beliau meneruskian rahasianya kepada satu di antara sekin banyak khalifahnya, yaitu Syaikh Yaqub al-Charkhi qs.

 

 

sanad emas ke 17. Muhammad Baha’uddin Syah Naqshbandi

17. Muhammad Baha’uddin Syah Naqshbandi

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

Kidung subuh sang merpati hutan, haru sendu membirukan

Air mataku membangun lelapnya,

tidurku pun tergugah tangisnya

Tak saling kami mengerti, tatkala saling mengeluhkan

dan dukaku pun telah dipahaminya

(Abul-Hasan an-Nuri)

 

Syah Naqshband qs adalah Samudra Ilmu yang tak bertepi. Ombaknya dianyam oleh mutiara Ilmu Ilahi. Beliau menjernihkan kemanusiaan dengan Samudra Kemurnian dan Kesalehan. Beliau melepaskan dahaga jiwa dengan air yang berasal dari dukungan spiritualnya. Seisi dunia, termasuk samudra dan benua, berada dalam genggamannya. Beliau adalah bintang yang berhiaskan Mahkota Petunjuk. Beliau mensucikan seluruh jiwa manusia tanpa kecuali dengan nafas sucinya.

Beliau menghiasi bahkan setiap sudut yang sulit terjangkau dengan rahasia dari Muhammadun Rasul-Allah sallallahu alayhi wassalam. Cahayanya menembus setiap lapisan ketidakpedulian.

Keluarbiasaannya melahirkan bukti terhempasnya asa tertepis dari keraguan hati kemanusiaan. Keajaibannya yang penuh kekuatan membawa kehidupan kembali ke dalam hati setelah kematiannya dan menyiapkan jiwa-jiwa dengan perbekalan mereka bagi kehidupan spiritual di masa mendatang. Beliau terpelihara di Maqam Busur Perantara tatkala beliau masih dalam buaian.

Beliau menghisap nectar ilmu ghaib secara terus-menerus dari Cangkir Makrifat (Realitas). Jika Muhammad saw bukanlah Rasul yang terakhir, mungkin beliau akan menjadi Rasul. Segala Puji bagi Allah swt yang telah mengirimkan seorang mujaddid (yang menghidupkan agama Islam). Beliau mengangkat hati manusia, menyebabkan mereka mengangkasa ke langit spiritual. Beliau membuat raja-raja berdiri di pintunya.

Beliau menyebarkan petunjuknya dari Utara hingga Selatan, dan dari Timur ke Barat. Beliau tidak meninggalkan seorang pun tanpa dukungan surgawi, termasuk binatang-binatang liar di rimba raya. Beliau adalah Ghawts teragung, Busur Perantara, Sultannya para Awliya, Kalung bagi seluruh mutiara spiritual yang dipersembahkan di alam semesta ini oleh Hadirat Ilahi. Dengan cahaya petunjuknya, Allah membuat yang baik menjadi yang terbaik, dan mengubah yang jahat menjadi baik.

Beliau adalah Guru dari thariqat ini dan Syaikh dari Matarantai Emas serta merupakan pembawa alur Khwajagan yang terbaik.

Beliau dilahirkan di bulan Muharaam pada tahun 717 H/1317 M, di desa Qasr al-‘Arifan, dekat Bukhara. Allah menganugerahkannya kekuatan-kekuatan ajaib di masa kecilnya. Beliau telah diajari rahasia thariqat ini oleh guru pertamanya, Sayyid Muhammad Baba As-Samasi qs. Kemudian beliau diberikan rahasia dan kemampuan dari thariqat ini oleh Syaikhnya, Sayyid Amir al-Kulal qs. Beliau juga merupakan Uwaysi dalam hubungannya dengan Rasulullah saw, karena beliau dibesarkan dalam hadirat spiritual Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs, yang telah mendahuluinya selama 200 tahun.

 

Awal Mula dari Bimbingannya dan

Bimbingan Dari Awal Mulanya

 

Syah Naqsyband qs berumur delapan belas tahun ketika beliau dikirim kakeknya ke kampung Samas untuk melayani Syaikh thariqat, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang telah memintanya. Dari awal persahabatannya dengan Syaikh tersebut, Beliau melihat anugerah yang tak terhitung di dalam dirinya, dan kebutuhan yang amat sangat akan kesucian dan ibadah. Dari masa mudanya, beliau bercerita,

Aku akan bangun lebih awal, tiga jam sebelum shalat Fajar, berwudhu, dan setelah melaksanakan shalat sunnah, Aku akan bersujud, memohon pada Tuhan dengan do’a berikut, ‘Wahai Tuhanku, berilah hamba kekuatan untuk menjalankan kesulitan –kesulitan dan rasa sakit dari Cinta-Mu.’ Lalu Aku akan shalat Fajar bersama dengan Syaikh.

Ketika beliau keluar, suatu hari beliau melihat ke arahku dan berkata, seolah-olah beliau telah bersamaku ketika Aku berdo’a tadi, ‘Wahai anakku, kau harus mengubah cara berdo’amu. Daripada berkata, ‘Ya Allah swt! Anugerahkanlah ridha-Mu pada hamba yang lemah ini.’ Tuhan tidak senang hamba-Nya berada dalam kesulitan. Walau Tuhan dalam Kearifan-Nya mungkin memberikan kesulitan pada hamba-Nya untuk mengujinya, sang hamba tak boleh meminta untuk berada dalam kesulitan. Hal ini berarti tidak menghormati Tuhanmu.’

Ketika Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs wafat, kakekku membawaku ke Bukhara dan Aku menikah di sana. Aku tinggal di Qasr al-‘Arifan, yang merupakan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt bagiku, karena Aku menjadi dekat dengan Sayyid Amir Kulal qs. Aku tinggal dan melayaninya, dan beliau mengatakan padaku bahwa Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs telah berkata jauh hari sebelumnya bahwa, ‘Aku tak akan senang denganmu bila engkau tidak memeliharanya dengan baik.’

Suatu hari, Aku duduk bersama seorang teman, dalam pengasingan (khlwat), tiba-tiba langit terbuka dan suatu pemandangan yang agung datang padaku dan Aku mendengar sebuah suara yang berkata, ‘Tidaklah cukup bagimu meninggalkan setiap orang dan datang ke Hadirat Kami sendirian saja?’ Suara ini membuatku gemetar dan lari dari rumah itu. Aku berlari ke sebuah sungai di mana Aku lalu menyeburkan diri.

Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang belum pernah Aku lakukan sebelumnya, Aku merasa seolah-olah sedang shalat dalam Hadirat-Nya. Segalanya begitu terbuka ke dalam hatiku dalam bentuk tanpa sekat (kashf). Seluruh semesta lenyap dan Aku tak menghiraukan apa pun kecuali berdo’a ke Hadirat-Nya.

Di awal keadaan ketertarikanku, Aku pernah ditanya, ‘Mengapa engkau ingin memasuki Jalan ini?’ Aku menjawab, ‘Agar apa pun yang Aku katakan dan Aku kehendaki akan terjadi.’ Aku dijawab, ‘Itu mustahil. Apa pun yang Kami katakan dan apa pun yang kami kehendaki, itulah yang akan terjadi.’

Dan aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Dan Aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Kemudian Aku pun ditinggalkan sendirian selama lima belas hari, hingga Aku menderita depresi yang luar biasa. Kemudian Aku mendengar sebuah suara, ‘Wahai Baha’uddin qs, apapun yang kau inginkan, akan Kami kabulkan.’ Aku amat bergembira. Aku berkata, ‘Aku ingin diberi sebuah thariqat yang akan memimpin siapa pun yang berjalan di atasnya akan langsung menuju ke Hadirat Illahi.’ Dan Aku melihat suatu pemandangan yang agung dan sebuah suara berkata, ‘Apa yang kau minta, telah dikabulkan.’

 

Kemajuan dan Perjuangannya dalam Thariqat

 

Syah Naqshband qs menyatakan, “Suatu saat Aku sedang mengalami ekstase dan tanpa akal pikiran (tidak sadar), berpindah dari sini ke sana, tak menyadari apa yang tengah kulakukan. Kakiku robek dan berdarah karena duri pada saat gelap. Aku merasa diriku diarik ke rumah Syaikhku, Sayyid Amir Kulal qs.

Saat itu malam sungguh gelap tanpa bulan dan bintang. Udara amat dingin dan Aku tak memiliki apapun kecuali sebuah jubah kulit yang sudah usang. Ketika Aku tiba di rumahnya, Aku menemukan beliau sedang duduk bersama para sahabatnya.

Ketika beliau melihatku, beliau berkata kepada para pengikutnya, ‘Bawa dia keluar, Aku tak menginginkan dia berada di rumahku.’ Mereka lalu mengeluarkan aku dan Aku merasakan ego berusaha menguasaiku, mencoba meracuni kepercayaanku kepada Syaikhku. Pada saat itu hanya Perlindungan Allah swt dan Rahmat-Nya-lah satu-satunya pendukungku dalam menerima penghinaan ini Demi Allah swt dan demi Syaikhku.

Lalu aku berkata pada egoku, ‘Aku tak memperkenankanmu untuk meracuni kepercayaanku terhadap Syaikhku. ‘Aku begitu lelah dan tertekan sehingga Aku merendahkan hati di depan pintu kesombongan, meletakkan kepalaku di bawah pintu rumah guruku, dan bersumpah dengan Nama Allah bahwa Aku tak akan pindah sampai beliau menerimaku kembali. Salju mulai turun dan udara yang begitu dingin menembus tulangku, membuatku gemetar dalam gelapnya malam. Bahkan cahaya rembulan pun tak ada untuk sedikit membuatku merasa nyaman.

Aku ingat keadaan tersebut, hingga Aku membeku. Namun cinta akan pintu Ilahi Syaikhku yang ada dalam hatiku, membuatku tetap hangat. Subuh pun datang dan Syaikhku keluar dari pintu tanpa melihatku secara fisik. Beliau mengajak kepalaku, yang masih berada di bawah pintunya. Merasakan adanya kepalaku, dengan segera beliau menarik kakinya, membawaku ke dalam rumahnya dan berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, kau telah dihiasi dengan pakaian kebahagiaan. Kau telah dihiasi dengan pakaian Cinta Ilahi. Kau telah dihiasi dengan pakaian yang tidak pernah Aku dan Syaikhku kenakan.

Allah swt senang denganmu, Rasulullah saw senang denganmu, semua Syaikh dari Matarantai Emas senang denganmu.’ Kemudian dengan telaten dan sangat hati-hati beliau mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh lukaku. Pada saat yang sama beliau menuangkan ilmu pada hatiku yang tak pernah Aku alami sebelumnya. Hal ini membukakan suatu pandangan di mana Aku melihat diriku memasuki rahasia Muhammadun Rasul-Allah saw. Aku melihat diriku melalui rahasia ayat yang merupakan Haqiqa Muhammadiyya (Realitas Muhammad saw).

Hal ini mengantarkanku aku untuk memasuki rahasia dari LA ILAHA ILLALLAH yang merupakan rahasia dari wahdaniyyah (Keunikan Allah). Hal ini lalu mengantar aku untuk memasuki rahasia Asma’ Allah dan Atribut-Nya yang dinyatakan dengan rahasia ahadiyya (Ke-Esa-an Allah). Keadaan-keadaan tersebut tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya dapat diketahui lewat rasa di dalam hati.

Di awal perjalananku di thariqat ini, Aku biasa berkeliaran di malam hari dari satu tempat ke tempat lainnya di pinggiran kota Bukhara. Sendirian di gelapnya malam, khususnya di musim dingin, Aku mengunjungi pemakaman untuk memetik pelajaran dari yang telah meninggal. Suatu malam Aku dibimbing untuk mengunjungi nisan Syaikh Ahmad al-Ajgharawa qs dan membacakan al-Fatihah baginya.

Ketika Aku tiba, Aku menemukan dua orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Mereka menungguku dengan seekor kuda. Mereka menaikkan aku ke atas kuda dan mengikatkan dua bilah padang di sabukku. Ketika kami tiba, kami semua turun dan memasuki makam dan masjid Syaikh tersebut. Aku duduk menghadap qiblat, tafakur, dan menghubungkan hatiku dengan hati Syaikh itu.

Selama proses meditasi tersebut sebuah pandangan terbuka padaku dan Aku melihat dinding yang menghadap qiblat tiba-tiba runtuh. Sebuah singgasana raksasa muncul. Seseorang yang tinggi besar dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata sedang duduk di singgasana itu. Aku merasa mengenalnya. Kemanapun Aku palingkan wajah di semesta ini yang kulihat adalah orang itu. Di sekelilingnya terdapat kerumunan besar yang terdiri dari Syaikh-Syaikhku, Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs dan Sayyid Amir Kulal qs.

Kemudian Aku merasa takut dengan orang yang tinggi besar itu sementara pada saat yang bersamaan Aku juga merasakan cinta terhadapnya. Aku memiliki ketakutan akan kehadirannya yang makin besar dan cinta kasih akan kecantikan dan pengaruhnya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Siapa gerangan manusia agung ini?” Aku mendengar sebuah suara di antara orang-orang di kerumunan itu berkata. ‘Orang agung yang membesarkanmu di jalan spiritualmu ini adalah Syaikhmu. Dia melihat jiwamu manakala masih berupa atom di Hadirat Illahi.

Kau telah berada dalam pelatihannya selama ini. Dialah Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs dan kerumunan yang sedang kau lihat itu adalah khalifah yang membawa rahasia agungnya, rahasia Matarantai Emas.’ Kemudian Syaikh tersebut mulai menunjuk kepada masing-masing Syaikh seraya berkata, ‘Yang ini Syaikh Ahmad qs, ini Kabir al-Awliya qs, ini ‘Arif Riwakri qs, ini Syaikh Ali Ramitani qs, yang ini Syaikhmu, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang semasa hidupnya memberikan jubahnya untukmu. Apakah kau mengenalnya?” ‘Ya’, kataku.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Jubah itu, yang dia berikan kepadamu beberapa saat silam sekarang masih ada di rumahmu, dan dengan berkata Allah telah menyembuhkan banyak penderitaan dalam hidupmu.’ Lalu suara lain datang dan berkata, Syaikh yang berada di singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau perlukan selama berjalan lewat jalan ini.’ Aku bertanya apakah mereka akan mengizinkan Aku untuk bersalaman dengannya. Mereka mengizinkannya dan membuka hijab-nya (sekat) dan aku pun mengambil tangannya. Kemudian beliau mengambil tangannya. Kemudian beliau mulai menceritakan tentang suluk (perjalanan), awal, pertengahan dan akhirnya.

Beliau berkata, ‘Kau harus membenahi sumbu yang ada dalam dirimu sehingga cahaya dari yang tak terlihat dapat dikuatkan dalam dirimu dan rahasia-rahasianya dapat terlihat. Kau harus memperlihatkan ketetapanmu dan kau harus kukuh dalam syari’ah Rasulullah saw dalam setiap keadaanmu. Kau harus “menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar” (QS 3:110, 114) dan tetap pada standar tertinggi dari syari’ah dan meninggalkan kemudahan-kemudahan, dan menyingkirkan penemuan baru dalam segala bentuknya (bid’ah), dan buatlah al-Hadits sebagai qiblatmu.

Kau harus menyelidiki kehidupannya (sirah) dan sirah para sahabatnya, dan membuat orang untuk mengikuti dan membaca al-Qur’an baik siang maupun malam, serta melaksanakan shalat dengan segala ibadah tambahannya (nawafil). Jangan abaikan hal sekecil apapun dari kebaikan dan perbuatan-perbuatan mulia yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw.’

Begitu Abdul Khaliq qs selesai, khalifahnya berkata padaku, ‘Agar yakin akan kebenaran pandangan ini, beliau mengirimkan suatu tanda bagimu. Besok, pergi dan kunjungilah Maulana Syamsuddun al-Ambikuti qs, yang akan menghakimi dua orang. Katakan padanya, ‘Kau mencoba membantu si Saqqa, namun kau salah. Perbaikilah dirimu dan bantulah si Turki.’ Bila si Saqqa menyangkal apa yang kau ketakan, dan si hakim terus membela si Saqqa, katakan padanya, ‘Aku memiliki dua bukti. Yang pertama harus bilang pada si Saqqa, ‘Wahai Saqqa, engkau sedang dahaga.’ Dia akan mengerti apa arti dahaga itu.

Sebagai bukti kedua, kau harus bilang kepada si Saqqa, ‘Kau telah meniduri seorang wanita dan dia menjadi hamil, dan kau telah memiliki bayi yang telah digugurkan, dan kau kuburkan bayi itu di bawah pohon pinus.’ Dalam perjalananmu menuju Maulana Syamsuddin qs, bawalah tiga butir kismis dan lewati Syaikhmu, Sayyid Amir al-Kulal qs. Dalam perjalananmu menuju beliau kau akan bertemu dengan seorang Syaikh yang akan memberimu sebantal roti. Ambillah rotinya dan jangan bicara sepatah kata pun dengan Syaikh tersebut.

Lanjutkan hingga kau menemukan sebuah caravan. Seorang petarung akan mendekatimu. Nasihati dan dekati dia kembali. Dia akan menyesal dan akan menjadi salah seorang pengikutmu, Kenakan topimu dan bawa jubah Azizan kepada  Sayyid Amir Kulal qs.’

Setelah itu mereka memindahkan aku dan pandangan itu pun berakhir. Aku kembali pada diriku sendiri. Hari berikutnya Aku pulang ke rumahku dan bertanya kepada keluargaku tentang jubah yang telah disebutkan dalam pandangan itu. Mereka membawanya ke hadapan ku dan berkata, ‘Ini telah ada di sana sejak lama sekali.’ Ketika melihat jubah itu keharuan yang mendalam melandaku. Aku mengambil jubah itu dan pergi ke desa Ambikata, di pinggiran Bukhara, menuju masjid Maulana Syamsuddin qs.

Lalu aku mengajak orang-orang yang berada di masjid itu untuk pergi ke pohon pinus yang ada di dekat masjid. Mereka menurut dan menemukan seorang anak terkubur di sana. Si Saqqa lalu datang dan menangis serta memohon maaf atas apa yang telah dia perbuat, namun semuanya telah berakhir. Maulana Syamsuddin qs dan orang lain yang berada di masjid itu benar-benar terkejut.

Aku bersiap untuk melakukan perjalanan keesokan harinya ke kota Naskh dan telah memegang ketiga kismis kering. Maulana Syamsuddin qs mencoba menahan ku dengan berkata: “aku sedang melihat dalam dirimu ada penyakit karena merindukan kami dan hasrat yang membara untuk menggapai Ilahi. Penyembuh mu berada di tangan kami.” Aku menjawabnya, “Wahai Syaikhku, aku adalah anak dari orang lain dan aku adalah pengikutnya. Bahkan bila kau tawarkan untuk merawat ku dengan susu maqam yang lebih tinggi, aku tak dapat menerimanya, kecuali dari seseorang yang kepadanya aku berikan hidupku dan dari padanya.

Aku mengambil bay’at.’ Kemudian beliau terdiam dan mengizinkan aku untuk melanjutkan perjalanan. Aku bergerak seperti yang telah diperintahkan hingga aku bertemu dengan Syaikh itu dan dia memberiku sebantal roti. Aku tidak bicara dengannya. Aku mengambil rotinya seperti yang diperintahkan. Kemudian aku menemukan sebuah karavan. Mereka bertanya dari mana aku berasal. Aku bilang ‘Ambilkata!’ Mereka bertanya kapan aku berangkat. Aku bilang, ‘pada saat matahari terbit.’ Mereka terkejut dan berkata, ‘Desa itu bermil-mil jauhnya dan aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menempuh jarak itu.

Kami meninggalkan desa itu tadi malam dan  kau di saat matahari terbit, anamun kau telah menyusul kami.’ Aku melanjutkan (perjalanan) hingga aku bertemu dengan seorang tukang kuda. Dia menyapaku, ‘Siapa kau?’ aku takut kepadamu!’ aku bilang, ‘Di tanganku lah kau akan bertobat.’ Dia lalu turun dari kudanya, menunjukkan seluruh kerendahannya di hadapanku dan bertobat dan melemparkan seluruh botol anggur yang dibawanya. Di menemaniku menemui Syaikhku, Sayyid Amir Kulal qs.

Ketika aku menemuinya, aku menyerahkan jubah kepadanya. Beliau terdiam untuk beberapa saat dan kemudian beliau berkata, ‘Ini adalah jubah Azizan. Aku diberitahu tadi malam bahwa kau akan membawanya kepadaku, dan aku telah diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapisan penutup.’ Lalu beliau menyuruhku untuk memasuki ruangan pribadinya. Beliau mengajariku dan menempatkan dzikir khafa di dalam hatiku. Beliau memerintahkan aku untuk memelihara dzikir itu siang dan malam. Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Shaykh ‘Abdul Khaliq al Ghujdawani qs dalam pandangan itu untuk berketetapan pada cara yang sulit, maka aku memelihara dzikir khafa yang merupakan bentuk dzikir tertinggi.

Sebagai tambahan, aku biasa menghadiri kumpulan murid-murid luar untuk belajar ilmu syariah dan al-Hadist, dan belajar mengenai sifat-sifat Rasulullah saw dan para Sahabatnya. Aku melakukannya karena pandangan itu menyuruhku demikian, dan hal ini menyebabkan perubahan besar dalam kehidupanku. Semua yang diajarkan Shaykh Abdul Khafi al-Ghujdawani qs dalam pandangan itu melahirkan buah yang diberkahi dalam kehidupanku. Rohnya selalu menemani dan mengajariku.

 

Tentang Dzikir Zahar Dan Dzikir Khafa

 

Disebutkan dalam kitab al-Bahjat as-Saniyya bahwa dari masa Mahmud al-Faghnawi qs hingga masa Sayyid Amir al-Kulal qs mereka terbiasa melakukan dzikir zahar (dengan suara keras) pada saat berkumpul dan dzikir khafa (dalam hati) bila sedang menyendiri. Namun ketika Syah Baha’uddin Naqsyband qs menerima rahasianya, beliau hanya menjalankan dzikir khafa.

Walaupun pada saat berasosiasi dengan sayyid Amir Kulal qs, bila mereka mulai berdzikir zahar, beliau biasanya beranjak dan pergi ke kamarnya untuk mengerjakan dzikir khafa. Namun beliau tetap melayani Syaikhknya sepanjang usianya.

Suatu hari, saat Shaykh Baha’uddin qs dn semua pengikut Sayyid Amir Kulal qs sedang beristirahat dari pekerjaan membangun sebuah masjid yang baru, Sayyid Amir Kulal qs berkata, ‘Barang siapa yang memiliki prasangka buruk tentang anakku baha’uddin qs, dia adalah salah. Allah telah menganugerahinya suatu rahasia yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya. Bahkan aku pun tak mampu untuk mengetahuinya.’ Beliau lalu berkata padanya,

Wahai anakku, aku telah memenuhi wasiat dan nasehat Shaykh Muhannad Baba as-Samasi qs ketika beliau menyuruhku untuk membesarkanmu dan merawatmu dalam  jalan latihanku hingga engkau menjadi lebih baik dari padaku. Hal ini telah ku kerjakan, dan engkau telah memiliki kapasitas untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi dan tiggi lagi. Jadi, anakku tercinta, saat ini aku sepenuhnya mengizinkan engkau untuk pergi ke mana pun yang engkau hendakki dan untuk mendapatkan ilmu dari siapapun yang engkau temui.

 

Tentang Shaykh-Shaykh Berikutnya

 

Suatu saat aku mengikuti Maulana ‘Arif ad-Dik Karrani qs selama tujuh tahun. Kemudian aku mengikuti Maulana Kuthum shaykh qs selama beberapa tahun lamanya. Suatu malam aku tertidur di hadapan shaykhku dan aku menemui shaykh al-Hakim ‘Attar qs, salah seorang shaykh ynag termashur dari Turki, menyampaikan sesuatu kepada seorang darwis yang bernama Kahalil Ghirani qs. Ketika aku terbangun, gambaran darwis itu masih melekat di benakku. Aku mempunyai seorang nenek ynag solehah, kepadanyalah aku menyampaikan mimpiku itu.

Nenekku berkata, ‘Wahai anakku, engkau akan mengikuti banyak Shaykh berkebangsaan Turki.’ Jadi dalam perjalanan ku , aku menyinggahi shaykh- shaykh dari Turki dan aku tak pernah melupakan gambaran darwis yang satu itu. Lalu suatu hari di kampung halaman ku sendiri di Bukhara, Aku melihat seorang darwis dan aku mengenalinya sebagai orang yang aku temui dalam mimpi itu. Aku menanyakan namanya kepada beliau, dan beliau menjawab, ‘Aku adalah Kahlil Ghibrani qs.’

Aku harus meninggalkannya, namun begitu berat rasanya. Pada saat magrib seseorang mengetuk pintuku. Aku menjawab dan seorang tak dikenal berkata, ‘Darwis kahlil Gibrani qs sedang menantimu.’ Aku begitu terperanjat. Bagaimana orang itu telah menemukanku? Aku membawa sebuah hadiah, dan pegi bersamanya. Ketika aku sudah berada di hadapannya, aku lalu menceritakan mimpi itu. Beliau berkata, ‘Tak perlu kau ceritakan mimpi itu karena aku sudah tahu.’ Hal ini lebih melekatkan hatiku kepada beliau, Bersamanya, beberapa pengetahuan gaib yang baru, dibukakan ke dalam hatiku.

Beliau selalu merawat ku, memuji ku, dan mengangkatku. Penduduk Transoxiana menempatkan beliau sebagai raja mereka. Aku terus menemani beliau, walau dalam masa kesultanannya. Hatiku tumbuh dalam cinta kepada beliau lebih dan lebih lagi dan hatinya telah mengangkatku ke pengetahuan yang lebih tinggi lagi. Beliau mengajariku bagaimana caranya untuk melayani seorang Shaykh aku bersamanya selama enam tahun. Baik dihadapannya maupun dalam do’a, aku selalu menjaga hubungan dengan beliau.

Di awal perjalanan ku di thariqat ini, aku bertemu dengan seorang Sufi, dan dia berkata, ‘Sepertinya kau berasal dari kami’ aku berkata kepadanya, ‘Aku berharap kau berasal dari kami dan aku berharap dapat menjadi temanmu.’ Suatu saat dia bertanya kepadaku, ‘bagaimana kau memperlakukan dirimu sendiri?’ aku menjawab, ‘Bila aku menemukan sesuatu aku bersyukur kepada Allah, dan bila tidak, aku bersabar.’ Dia tersenyum dan berkata, ‘Itu mudah caranya bagimu adalah dengan membebani egomu dan mengujinya. Bila dia kehilangan makanan selama seminggu, kau harus mampu untuk menjaganya untuk mematuhimu.’

Aku amat berbahagia dengan jawabannya dan aku meminta dukungannya. Dia menyuruhku untuk membantu yang memerlukan dan untuk melayani yang lemah dan untuk membesarkan hati orang yang putus asa. Dia menyuruhku untuk menjaga kerendahan, ketawadhu-an dan tenggang rasa. Aku menjaga perintah-printahnya dan aku habiskan berhari-hari dalam hidupku dengan cara seperti itu. Kemudian dia memerintahkan aku untuk merawat binatang, menyembuhkan penyakitnya, membasuh luka-lukanya, dan membantu meeka untuk menemukan persediaan makanan dan minumnnya. Aku menjalankannya hingga aku mencapai suatu keadaan dimana bila aku bertemu binatang di jalanan, maka aku akan berhenti, dan memberikan mereka jalan.

Kemudian dia menyuruhku untuk memelihara anjing-anjing melalui penyatuan pikiran dengan penuh kejujuran dan kerendahan, dan meminta bantuan mereka. Dia mengatakan, ‘Karena pelayanan mu terhadap salah satu dari mereka, maka engkau akan mencapai kebahagiaan yang sangat.’ Aku terima perintah tersebut dengan  harapan bahwa aku akan menemukan satu anjing dan melalui pelayanan terhadapnya, aku akan menemukan kebahagiaan itu.

Suatu hari pikiranku menyatu dengan salah satu dari mereka dan aku merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Aku mulai menangis di hadapannya hingga hingga dia terlentang dan menengadahkan kaki depannya ke langit. Aku mendengar sebuah suara ynag amat sedih yang berasal darinya lalu akupun menengadahkan tangan, berdo’a dan mulai mengatakan ‘amin’ mendukung doa’a hinga akhirnya dia tidak bersuara lagi. Yang kemudian terbuka padaku adalah suatu pandangan yang membawa ku pada suatu keadaan dimana aku merasa menjadi bagian dari setiap manusia dan juga bagian dari setiap makhluk di muka bumi ini.

 

Setelah Mengenakan Jubah

 

Suatu hari aku sedang berada di kebunku di Qasr al-Arifan, mengenakan jubah Azizan dan di sekitar ku terdapat para pengikut ku. Tiba-tiba aku merasa di sandangkan dan dihiasi dengan Atribut-Nya.

Belum pernah aku segemetar ini sebelumnya, dan aku tak kuat lagi berdiri. Aku berdiri. Aku berdiri menghadap kiblat dan aku memasuki pandangan agung. Aku melihat diriku melebur (fana’) sepenuhnya dan aku tak lagi melihat wujud lain melainkan Tuhanku, lalu aku melihat diriku keluar dari Hadirat-Nya, memantul lewat cermin Muhammadun Rasul-Allah saw, dalam bentuk sebuah binatang di tengah samudra Cahaya tanpa awal dan akhir.

Kehidupan eksternalku berakhir dan aku hanya melihat makna dari LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUN RASUL-ALLAH saw. Ini membawaku kepada makna yang inti sari Nama ‘Allah’ yang membawaku kepada Yang Maha Gaib, yakni inti sari dari Asma Huwa (Dia). Ketika aku memasuki samudra itu jantungku berhenti berdetak dan seluruh hidupku pun berakhir, maka mengantarku kepada keadaan kematian.

Ruh ku meninggalkan jasad ku, dan semua yang ada di sekelilingku saat itu berfikir bahwa aku telah meninggal, dan mereka pun menangis. Kemudian setelah enam jam, aku diperintahkan untuk kembali kepada jasadku. Aku merasakan ruhku perlahan memasuki jasadku kembali dan pandangan itu pun berakhir.

Untuk menyangkal keberadaanmu dan untuk mengacuhkan dan mengabaikan egomu adalah yang berlaku dalam thariqaat ini. Dalam keadaan ini aku memasuki setiap tingkat keberadaan, yang membuatku menjadi bagian dari semua makhluk dan yang mengembangkan keyakinan dalam diriku bahwa setiap orang lebih baik dari pada aku sendiri. Aku melihat bahwa setiap orang menyediakan sesuatu manfaat dan  hanya Akulah yang tak memberikannya.

Suatu hari sebuah keadaan yang amat mencengangkan terjadi kepadaku. Aku mendengarkan suara Ilahi berkata, ‘Mintalah apapun ynag kau suka dari kami.’ Lalu aku memohon, ‘Ya Allah swt, Anugerahilah aku dengan setetes dari samudra rahmat dan berkah-Mu.’ Dan jawabannya datang, ‘Kau hanya memita setetes dari ke-Maha Pemurahan Kami?’

Hal ini laksana jutaan tamparan keras di wajahku dan sengatannya tersisa di pipiku selama berhari-hari. Kemudian suatu hari aku berkata, ‘Ya Allah swt anugerahilah hamba dari samudra rahmat ini adalah untukku. Berikanlah dia kepada hamba-hamba ku.’

Aku menerima rahasia dari beberapa sisi, khususnya dari Uwais al-Qaran ra, yang amat mempengaruhi aku untuk meninggalkan hal-hal duniawi dan untuk melekatkan diri hanya pada hal-hal rohaniah.

Aku menjalankannya dengan tetap berpegang teguh pada Syari’ah dan perintah Rasulallah saw, hingga aku mulai menyebarkan pengetahuan –pengetahuan Ghaib dan rahasia-rahasia yang di anugerahkan dari Yang Maha Esa yang belum pernah diberikan oleh siapapun sebelumnya.

 

Keajaiban dari Perkataan-Perkataannya dan

Perkataan-Perkataan Tentang Keajaibannya

 

Imam at-Thariqah Syaikh Bahaudin Naqsbandi

Muhammadinil Uwaysiyil Bukhari qs

 

 

Tentang Perbedaan Di antara Imam-Imam

 

Dalam suatu majelis ulama-ulama besar di Baghdad beliau ditanya tentang perbedaan-perbedaan dalam perkataan keempat khalifah Rasulullah saw/ Beliau berkata,

Suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra berkata, ‘Aku tak pernah melihat sesuatu pun, kecuali Allah berada di depannya,’ dan Umar al-Faruq ra berkata, ‘Aku tak pernah melihat sesuatu pun, melainkan Allah selalu berada di belakangnya.’ Dan Utsman ra berkata, ‘Aku tidak pernahg melihat sesuatu pun, melainkan Allah berada disampingnya,’ dan ‘Ali ra berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sesuatu pun melainkan Allah swt berada di dalamnya.’

Beliau mengomentari bahwa, perbedaan dalam perkataan-perkataan ini didasarkan pada perbedaan situasi pada saat mereka berkata-kata dan bukannya perbedaan dalam kepercayaan dan pemahaan.

 

Tentang Berjalan dalam Jalur ini

 

Apakah di balik cerita Rasululah saw, ‘Sebagian dari iman adalah memindahkan apa-apa yang membahayakan dari Jalan?’ Yang beliau maksud dengan ‘yang membahayakan’ itu adalah ego, dan yang Beliau maksud dengan ‘Jalan’ adalah Jalan Menuju Allah swt, sebagaimana Dia berfirman kepada Bayazid al-Bistami qs, ‘Tinggalkan egomu dan datanglah pada Kami.’

Suatu ketika beliau ditanya, “Apa yang dimaksud dengan Berjalan dalam Jalur?” Beliau berkata, “Detailnya dalam pengetahuan spiritual.” Mereka bertanya, “APakah detail dalam pengetahuan spiritual iu?” Beliau menjawab,

Orang yang mengetahui dan menerima apa yang dia ketahui akan diangkat dari keadaan bukti nyata kepada keadaan penglihatan. Barang siapa yang meminta untuk berada di Jalan Allah maka dia telah meminta jalan penderitaan. Diriwayatkan oleh Rasulullah saw, ‘Barang siapa yang mencintaiku maka aku akan membebaninya.’ Seseorang dating kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Nabi saw, Aku mencintaimu,’ dan Nabi saw berkata, ‘Maka bersiaplah untuk menjadi miskin.’ Lain waktu orang lain lagi datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Ya, Rasulullah saw, Aku mencintai Allah,’ dan Rasulullah saw berkata, ‘Maka siapkanlah dirimu ntuk penderitaan.’

 

Beliau membaca sebuah ayat :

“Setiap orang mendambakan kebaikan,

Namun tak seorang pun telah meraih kenaikan,

Melainkan dengan mencintai Sang Pencipta kebaikan”.

 

Beliau berkata, “Barang siapa yang mencintai dirinya sendiri, harus menyangkal dirinya, dan barang siapa yang menginginkan yang lain selain dirinya sendiri, sesungguhnya yang diinginkannya hanyalah dirinya sendiri.”

 

Tentang Pelatihan Spiritual

 

Ada tiga jalan di mana murid meraih pengetahuannya :

 

Muraqaba – Perenungan (kontemplasi)

Musyahada – Penglihatan

Muhasaba – Penghitungan

 

Dalam keadaan perenungan, si pencari melupakan makhluk dan hanya mengingat Sang Khalik saja.

Dalam keadaan penglihatan, ilham dari Yang Ghaib mendatangi hati suci pencari dengan disertai dua keadaan : penciutan dan pengembangan.

Pada keadaan penciutan, penglihatan adalah tentang ke MahaKuasa-an, dan pada keadaan pengembangan penglihatan adalah tentang Ke-Maha-Indahan.

Pada keadaan penghitungan, si Pencari mengevaluasi setiap jam yang telah lewat : apakah dia berada seluruhnya bersama Allah ataukahg berada seluruhnya bersama dunia?

Si pencari dalam thariqat ini pastilah amat sibuk menolak bisikan Setan dan godaan egonya. Dia mungkin menolaknya bahkan sebelum mereka mencapainya; atau dia mungkin menolaknya setelah mereka mencapainya namun sebelum mereka memegang kendali atasnya. Pencari lain, mungkin saja tidak menolaknya hingga mereka mencapainya dan mengendalikannya. Dia tak akan mendapatkan buahnya, karena pada saat seperti itu adalah mustahil untu mengeluarkan bisikan-bisikan itu dari hatinya.

 

Tentang Maqam Spiritual

 

“Bagaimanakah hamba-hamba Allah melihat perbuatan yang tersembunyi dan bisikan-bisikan hati?” Beliau menjawab, “Dengan cahaya penglihatan yang dianugerahkan Allah pada mereka, seperti yang tertera dalam Hadits suci, ‘Waspadalah dengan penglihatan orang-orang yang beriman, karena dia melihat dengan Cahaya Allah swt.”

Beliau diminta untuk memperlihatkan kekuatan ajaibnya. Beliau berkata, KEajaiban apakah yang lebih dahsyat yang ingin kaulihat daripada kenyataan bahwa kita masih berjalan di muka bumi ini dengan semua dosa di atas dan sekeliling kita.

Beliau ditanya, ‘Siapakah para pembaca dan siapakah gerangan sang Sufi yang dimaksud oleh Junayd qs, “ Putuskanlah dirimu dari para pembaca kitab-kitab, dan bergabunglah dengan para Sufi?”

Beliau berkata, ‘Para pembaca adalah orang yang sibuk dengan kata-kata dan nama-nama, dan Sufi adalah sesorang yang sibuk dengan inti sari dari nama-nama tersebut.’

Beliau memperingatkan, ‘Bila seorang murid, seorang Syaikh atau siapa pun bicara tentang suatu keadaan yang belum didapatkannya, Allah swt akan mencegahnya dari mencapai keadaan tersebut. Beliau berkata, ‘Cermin dari setiap Syaikh memiliki dua arah. Namun cermin kita memiliki enam arah.’

Apa yang dimaksudkan dengan al-Hadits, ‘Aku beserta orang-orang yang mengingat-Ku,’ merupakan bukti nyata yang mendukung orang-orang yang di dalam hatinya senantiasa mengingat-Nya. Dan sabda Nabi saw yang lainnya berbicara atas Nama Allah, ‘Puasa itu adalah bagi-Ku’ merupakan suatu pernyataan bahwa sebenar-benarnya puasa adalah puasa dari segala sesuatu selain Allah swt.

 

Tentang Kemiskinan Spiritual

 

Beliau ditanya, “mengapa mereka disebut al-fuqora (orang yang miskin)?” Beliau menjawab, “Karena mereka miskin, namun mereka tak perlu memohon. Seperti halnya Nabi Ibrahim as, ketika beliau dilemparkan ke dalam api dan Jibril as datng dan bertanya ‘Apakah kau perlu pertolongan?,’ dijawabnya, ‘Aku tak perlu meminta sesuatu, Dia Maha Tahu keadaanku.’

Kemiskinan merupakan pertanda penghancuran dan penghapusan atribut-atribut kebendaan.

Beliau pernah ditanya, ‘Siapakah si miskin itu?’ Tak seorang pun menjawabnya. Beliau berkata, ‘Si miskin adalah orang yang di dalamnya selalu berjuang dan di luarnya berada dalam ketenangan.’

 

Tentang Adab terhadap Syaikh Seseorang

 

Amatlah penting bagi para pengikut, bila dia merasa bingung terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan Syaikhnya dan tak dapat memahami alasannya, untuk bersabar dan menjalankannya, dan tak menjadi curiga. Bila dia seorang pemula, dia mungkin bertanya namun bila dia seorang murid, dia tak punya alasan untuk bertanya dan harus tetap bersabar dengan apa yang belum dia pahami.

Adalah tak mungkin untuk meraih cinta dari hamba-hamba Allah hingga engkau keluar dari dirimu sendiri.

 

Dalam Thariqat, terdapat tiga kategori adab :

 

Adab karimah terhadap Allah swt yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, mengharuskan murid untuk menyempurnakan ibadahnya baik secara eksternal maupun internal, menjauhi semua larangan-Nya dan menjalankan segala apa yang telah diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala sesuatu selain Allah swt.

Adab karimah terhadap Nabi Muhammad saw, mengharuskan murid untuk membumbung tinggi pada keadaan yang disebutkan dalam ayat in kuntum tuhibbun Allah fattabi’unii (bila kamu ingin mencintai Allah, maka ikutilah aku) [3:31]. Dia harus mengikuti semua keadaan Rasulullah saw. Dia harus tahu bahwa Rasulullah saw adalah jembatan antara Allah swt dengan makhluk-Nya dan bahwa segala sesuatu di bumi ini berada di bawah perintahnya yang mulia.

Adab karimah terhadap para Syaikh merupakan suatu keharusan bagi setiap pencari. Para Syaikh merupakan penyebab dan alat untuk mengikuti jejak Rasulullah saw. Adalah suatu kewajiban bagi para pencari, baik dalam kehadiran mereka maupun dalam ketidakhadirannya, untuk menjalankan perintah-perintah dari Syaikh tersebut.

Suatu saat salah satu pengikutku memberiku salam. Aku tidak menjawabnya, meskipun merupakan keharusan dalam Sunnah untuk membalas salam. Hal ini membuat pengikutku tersebut kecewa. AKu mengirim seseorang kepadanya untuk meminta maaf, berkata kepadanya, ‘Pada saat itu, ketika engkau memberiku salam, pikiranku, hatiku, jiwaku, ragaku, ruhku sedang hilang sepenuhnya dalam Hadirat Ilahi, mendengarkan apa yang dikatakan Allah kepadaku. Hal ini membuatku begitu terpenuhi dalam Firman Allah sehingga Aku tak mampu membalas siapapun.’

 

Tentang Niat

 

Sangatlah penting untuk meluruskan niat, karena niat itu dari dunia ghaibm, bukan dari dunia materi. Untuk alasan tersebut, Ibnu Sirin (penulis buku tabir mimpi) tidak berdo’a pada shalat jenazah Hasan al-Basri qs. Beliau berkata, ‘Bagaimana Aku dapat berdo’a ketika niatku belum mencapaiku dan menghubungkanku dengan apa yang ghaib?’ Niat (niyyah) sangat penting, karena dia terdiri atas 3 huruf, yaitu : Nun, yang melambangkan nur Allah, Cahaya Allah; ya, yang melambangkan yad Allah, Tangan Allah; dan ha, yang melambangkan hidayat Allah, Bimbingan Allah. Niat adalah hembusan jiwa.

 

Tentang Tugas-Tugas Para Awliya

 

Allah swt menciptakan aku untuk menghancurkan kehidupan materialistic, tetapi orang-orang menginginkan aku untuk membangun kehidupan materialistik mereka.

Hamba-hamba Allah menanggung beban penciptaan agar semua ciptaan belajar darinya. Allah swt melihat pada hati Awliya-Nya dengan cahaya-cahaya-Nya, dan siapa pun yang berada di sekeliling wali itu dia akan mendapat berkah dari cahaya tersebut.

Syaikh harus mengetahui tingkatan muridnya dalam tiga kategori yaitu di masa lalu, masa kini, dan masa depan agar dia dapat menaikkan (maqam)-nya.

Siapa pun yang melakukan bay’at dengan kita dan mengikuti kita dan mencintai kita, apakah dia dekat atau jauh, di mana pun dia berada bahkan jika dia berada di Timur dan kami di Barat, kami memeliharanya dengan aliran cinta dan memberinya cahaya dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Tentang Dzikir Keras (Zahar) dan Dzikir Dalam Hati (Khafi)

 

Dari kehadiran al-Azizan ada dua metode dzikir, yaitu dzikir khafi (dalam hati) dan dzikir zahar (keras). Aku menyukai dzikir dalam hati karena dia lebih kuat dan lebih bijaksana.

Izin untuk melakukan dzikir harus diberikan oleh orang yang sempurna, agar bisa  mempengaruhi orang yang menggunakannya sebagaimana halnya panah dari seorang yang ahli memanah lebih baik daripada panah yang dilepaskan dari busur orang biasa.

 

Beliau menambahkan 3 Prinsip ke dalam 8 prinsip Syaikh Abdul Khaliq :

 

Kesadaran akan Waktu (Wuquf Zamani)

 

Kesadaran akan waktu berarti memperhatikan ketenangan seseorang dan mengecek kecenderungan seseorang kepada kelalaian. Para pencari harus mengetahui berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bergerak menuju kematangan spiritual dan harus mengenal di tempat apa dia telah sampai dalam perjalanannya menuju Hadirat Ilahi.

Para pencari harus membuat kemajuan dengan segala usahanya. Dia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk satu tujuan yaitu sampai di maqam Cinta Ilahi dan Hadirat Ilahi. Dia harus menjadi sadar bahwa dalam segala usahanya dan dalam segala tindakannya Allah menyaksikan sampai sedetail-detailnya. Para pencari harus membuat catatan mengenai tindakan dan niatnya setiap hari dan setiap malam dan menganalisa tindakannya setiap jam, setiap detik, dan setiap saat. Jika semuanya baik, dia bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Jika tindakannya buruk, dia harus bertaubat dan memohon ampun kepada Allah swt.

Ya’qub al-Charki qs berkata bahwa Syaikhnya, Ala’uddin al-Attar qs berkata,

Dalam keadaan depresi, engkau harus banyak beristighfar (memohon ampunan Allah), dan dalam keadaan bergembira, harus banyak bersyukur kepada Allah swt.

Sebagai pertimbangan kedua keadaan ini, kontraksi (menciut) dan ekspansi (mengembang), adalah arti dari wuquf zamani.

Syah Naqsyband qs menerangkan keadaan tersebut dengan berkata, “Engkau harus menjadi awas akan dirimu. Jika engkau mengikuti syari’ah maka engkau harus bersyukur kepada Allah swt, bila tidak, maka engkau harus memohon ampun”.

Yang penting bagi seorang pencari dalam keadaan ini adalah menjaga periode waktu terkecil agar tetap aman. Dia harus menjaga dirinya dan menilai apakah dia dalam Hadirat Allah atau dalam hadirat egonya, setiap saat dalam hidupnya. Syah Naqsyband qs berkata, ‘Engkau harus mengevaluasi bagaimana engkau menghabiskan waktumu : dalam Kehadiran atau dalam Kelalaian.’

 

Kesadaran akan Jumlah (Wuquf ‘Adadi)

 

Kesadaran akan jumlah berarti para pencari yang sedang berdzikir harus memperhatikan bilangan dzikir yang tepat yang diperlukan dalam dzikir khafi. Menjaga hitungan dzikir ini bukan untuk perhitngan itu sendiri tetapi demi menjaga hati agar tetap aman dari pikiran buruk dan untuk meningkatkan konsentrasi dalam usaha mencapai jumlah pengulangan yang telah ditetapkan oleh Syaikh secepat mungkin.

Pilar dzikir melalui perhitungan adalah untuk membawa hati kepada Hadirat Ilahi yang disebutkan dalam dzikir tersebut dan tetap menghitung, satu demi satu, untuk membawa perhatian seseorang kepada realitas bahwa setiap orang membutuhkan Dia Yang Maha Esa yang tanda-tanda (Kebesaran)-Nya tampak pada setiap makhluk.

Syah Naqsyband qs berkata, “Memperhatikan jumlah dzikir adalah langkah pertama dalam tahap mendapatkan Pengetahuan Surgawi (‘ilm ul-ladunni).” Ini berarti perhitungan itu mengantarkan seseorang untuk mengenali bahwa hanya Satu yang dibutuhkan dalam hidup. Semua persamaan matematismemerlukan nomor Satu. Semua makhluk membutuhkan Zat Yang Maha Esa.

 

Kesadaran akan Hati (Wuquf Qalbi)

 

Kesadaran akan hati berarti mengarahkan hati para pencari menuju Hadirat Ilahi, dimana dia tidak akan melihat yang lain kecuali Yang Paling Dicintainya. Hal itu berarti untuk mengalami manifestasi-Nya (tajjali) dalam semua keadaan. Ubayd Allah al-Ahrar qs berkata, “Tingkat kesadaran Hati adalah tingkaan untuk hadir dalam Hadirat Ilahi sedemikian rupa sehingga engkau tidak bisa melihat apa yang lain selain Dia.”

Dalam situasi demikian seseorang memusatkan tempat dzikirnya dalam hati sebab inilah pusat kekuatan. Semua pikiran dan inspirasi, baik maupun buruk, jatuh dan muncul satu demi satu, berputar dan mengalir, bergerak di antara terang dan gelap, dalam perputaran yang konstan, di dalam hati. Dzikir diperlukan untuk mengontrol dan mengurangi gejolak dalam hati.

 

Makna dari Ummat Muhammad saw

 

Syah Naqsyband qsberkata, “ Ketika Rasulullah saw bersabda, ‘Porsi ummatku yang ditakdirkan untuk apineraka adalah seperti porsi Ibrahim as yang ditakdirkan untuk api Namrud,’ beliau memberi kabar gembira tentang penyelematan bagi ummatnya sebagaimana Allah telah menggariskan penyelematan untuk Ibrahim as, Ya naru kunii bardan wa salaman ‘ala Ibrahiim (‘Wahai api, jadilah dingin dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim as’) [21:69]. Ini dikarenakan Rasulullah saw bersabda, ‘Ummatku tidak akan setuju dengan suatu kesalahan,’ menegaskan bahwa Ummat tidak akan menerima perbuatan yang salah, dan dengan demikian Allah akan menyelematkan ummat Muhammad saw dari api neraka.”

Syuaikh Ahmad Faruqi qs mengatakan bahwa Syah Naqsyband qs berkata, Ummat Muhammad saw meliputi semua orang yang muncul setelah Rasulullah saw. Dia terdiri atas 3 macam ummat, yaitu :

 

Ummatu-d-Da’wah :

Yaitu setiap orang yang benar-benar muncul setelah Rasulullah saw dan mendengar pesannya. Dari berbagai ayat dalam al-Quran, sudah jelas bahwa Rasulullah saw datang kepada semua manusia tanpa kecuali, lebih jauh lagi ummatnya cukup menjadi saksi bagi ummat-ummat yang lain, dan Rasulullah saw adalah orang yang menjadi saksi bagi setiap orang, termasuk ummat-ummat yang lain dan saksi-saksi yang mewakili mereka masing-masing.

  1. 1.      Ummatu-l-Ijaba :

yaitu orang-orang yang menerima pesannya.

 

  1. 2.      Ummatu-l-Mutaba’a :

Yaitu orang-orang yang menerima pesan dan mengikuti jejak Rasulullah saw.

 

Semua golongan ummat Rasulullah saw tersebut akan selamat. Jika mereka tidak diselamatkan melalui amalnya, mereka akan diselamatkan melalui Perantaraan Rasulullah saw, menurut sabdanya, ‘Perantaraanku adalah untuk para pendosa besar di antara Ummatku.’

 

Dalam Mencapai Hadirat Ilahi

 

Beliau berkata, “Apa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah saw, as-shalatu mi’raj ul-mu’min (‘Shalat adalah mi’raj bagi orang yang beriman’), adalah indikasi yang jelas mengenai tiongkatan Shalat yang sejati, di mana orang-orang yang shalat naik ke Hadirat Ilahi dan padanya terdapat manifestasi rasa hormat yang mendalam, kepatuhan dan kerendahan hati, dimana hatinya mencapai keadaan kontemplasi melalui shalatnya.

Ini akan mengantarkannya kepada suatu panorama dari Rahasia Ilahi. Itu adalah deskripsi mengenai shalatnya Rasulullah saw dalah sirah (sejarah hidupnya). Dikatakan bahwa ketika Rasulullah saw mencapai keadaan tersebut, orang-orang di luar kota pun dapat mendengar suara yang berasal dari dadanya yang menyerupai dengungan lebah.

Salah satu ulama di Bukhara bertanya kepada beliau, “Bagaimana seorang hamba mencapai Hadirat Ilahi dalam shalatnya?” Beliau menjawab, “Dengan memakan dari hasil jerih payahmu dan dengan penyucian diri dan dalam setiap peristiwa hidupmu.”

 

Tentang Politheisme Tersembunyi – Syirik

 

Syaikh Salah, seorang pelayannya melaporkan, Suatu ketika Syah Naqsyband qs berkata kepada para pengikutnya, ‘Suatu hubungan antara hatimu dengan sesuatu selain Allah adalah hijab terbesar bagi seorang pencari,’ setelah itu beliau membaca bait puisi berikut,

‘Hubungan dengan selain Allah, ‘Adalah hijab (sekat) terkuat,’ Dan meninggalkannya, ‘Adalah Jalan Pembuka bagi suatu Pencapaian.’

Segera setelah beliau membacakan bait tersebut, terlintas dalam benakku bahwa baliau merujuk pada hubungan antara Imam dan penyerahan diri pada Kehendak Ilahi. Beliau menoleh kepadaku, tertawa dan berkata, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hallaj? “Aku menolak agama Allah, dan penolakan itu adalah wajib agiku meskipun tampak menyeramkan bagi kebanyakan Muslim.”

Wahai Syaikh Salah, apa yang terlintas dalam benakmu – bahwa hubungan itu adalah dengan Iman dan Islam – bukanlah hak yang penting. Yang penting adalah Iman Sejati bagi Orang yang Benar adalah membuat hatinya menyangkal apapun selain Allh. Itulah yang membuat Hallaj berkata, “Aku menyangkal agama-Mu dan penyangkalan itu adalah wajib bagiku, meskipun tampak menyeramkan bagi Muslim.” Hatinya tidak menginginkan yang lain kecuali Allah swt.

“Tentu saja Hallaj tidak menyangkal Imannya dalam Islam, tetapi beliau menekankan bahwa hatinya hanya terkait kepada Allah saja. Jika Hallaj tidak menerima segala sesuatu selain Allah, bagaimana mungkin orang mengatakan bahwa sebenarnya beliau menyangkal agama Allah? Pernyataannya tentang realitas Kesaksiannya mencakup segalanya dan membuat kesaksian Muslim yang awal menjadi mainan anak-anak.’

Syaikh Salah qs melanjutkan, “Sya Naqsyband qs berkata, ‘Hamba-hamba Allah tidak bangga dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukannya karena cinta kepada Allah swt.’

‘Rabi’a al-‘Adawiyya qs berkata, “Ya Allah, Aku tidak beribadah untuk mencari balasan Surga-Mu, tidak pula karena takut akan siksa-Mu, tetapi Aku menyembah-Mu hanya untuk Cinta-Mu.’ Jika ibadahmu untuk menyelamatkan dirimu atau untuk mendapat balasan tertentu bagi dirimu sendiri, maka itu adalah syirik yang tersembunyi, karena engkau telah menyekutukan Allah baik dengan pahala maupun azab. Inilah yang dimaksud oleh Hallaj.’

Syaikh Arslan ad-Dimasyqi qs berkata sebagaimana yang diceritakan oleh Syah Naqsyband qs,” Ya Allah, agama-Mu bukanlah apa-apa melainkan syirik yang tersembunyi, dan untuk tidak beriman kepadanya adalah wajib bagi sleuruh hamba yang benar. Orang-orang yang beragama tidak menyembah-Mu, mereka hanya beribadah untuk mendapat Surga atau agar selamat dari Neraka. Mereka menyembah keduanya sebagai berhala, dan ituylah seburuk-buruknya kemusyrikan”.

“Engkau telah berkata, man yakfur bi-t-taghuti wa yu’min billahi faqad istamsaka bil-‘urwati-l-wutsqa (“Barangsiapa yang ingkar terhadap taghut (berhala) dan beriman kepada Allah swt, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada Pegangan (Tali) yang Kokoh”) [2:256]. Untuk ingkar kepada berhala-berhala oini dan beriman kepada-Mu adalah wajib bagi orang-orang yang benar”.

Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili qs, salah seorang Syaikh Sufi agung pernah ditanya oleh Syaikhnya, “Wahai anakku, dengan apa engkau akan bertemu Tuhanmu?” Beliau berkata, “Aku datang kepada-Nya Wahai anakku, jangan kau ulangi lagi hal ini. Ini adalah berhala terbesar, karena engkau masih mendatangi-Nya dengan sesuatu. Bebaskan dirimu terhadap segala sesuatu baru kemudian engkau dating kepada-Nya. Para fuqaha (ahli hukum) dan pemegang ilmu eksternal memegang teguh pada perbuatan mereka dan dengan dasar tersebut mereka mengembangkan konsep pahala dan azab.

Jika mereka baik, mereka akan mendapat kebaikan dan bila mereka buruk mereka menemukan keburukan, apa yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah perbuatannya dan apa yang menyakitinya adalah perbuatanyya juga. Bagi penganut thariqat, hal ini adalah syirik tersembunyi, karena seseorang menyekutukan sesuatu dengan Allah.

Meskipun untuk melakukan (perbuatan baik) adalah suatu kewajiban, tetap saja hati tidak boleh terikat dengan perbuatan tersebut. Perbuatan itu hanya dilakukan karena Allah dan untuk Cinta-Nya, tanpa pamrih apa pun.

 

 

Tentang Thariqat Naqsybandi

 

Syah Naqsyband qs berkata, “Thariqat kita sangat langka dan sangat langka dan sangat berharga. Ini adalah ‘urwati-l-wutsqa (‘Memegang Teguh’), jalan untuk memegang jejak Rasulullah saw dan para Sahabatnya dengan teguh dan kokoh. Mereka membawaku ke jalan ini dari pintu Nikmat, karena pada awal dan akhirnya, Aku tidak melihat apapun kecuali Nikmat Allah swt. Di jalan ini pintu-pintu besar dari Pengetahuan Surgawi akan dibukakan bagi para pencari yang mengikuti jejak Rasulullah saw.

Untuk mengikuti Sunnah Rasulullah saw adalah jalan terpenting yang akan membukakan pintu kepadamu. Barangsiapa yang tidak datang ke jalan kita, maka agamanya berada dalam bahaya.

Beliau perna ditanya, ‘Bagaimana seseorang datang ke jalanmu?’ Beliau menjawab, ‘Dengan mengikuti Sunnah Rasulullah saw.’

Kami telah membawa penghinaan dalam Jalan ini, dan sebagai balasannya Allah swt memberkati kita dengan Kemuliaan-Nya.

Beberapa orang berkata tentang beliau bahwa kadang-kadang beliau terlihat arogan. Beliau berkata, ‘Kami bangga karena Dia, karena Dia adalah Tuhan kami, yang memberi kami Dukungan-Nya!

Beliau berkata, ‘Untuk mencapai Rahasia Ke-Esaa kadang-kadang mungkn, tetapi untuk meraih Rahasia Pengetahuan Spiritual (ma’rifat) adalah sangat sulit sekali.’

Pengetahuan Spiritual bagaikan air, dia mengambil warna dan bentuk cangkirnya. Pengetahuan Allah begitu luar biasa, sehingga berapapun yang kita ambil, itu hanya seperti sebuah tetes dalam Samudra yang Maha luas. Dia bagaikan taman yang sangat luas, berapa pun yang kita pangkas, seolah-olah kita hanya memangkas sekuntum bunga saja.

 

Pandangannya terhadap Makanan

 

Syah Naqsyband qs, semoga Allah mensucikan jiwanya, berada dalam tingkatan tertinggi dalam menolak keinginan terhadap dunia ini. Beliau mengikuti jalan yang shaleh, terutama dalam hal tata cara makannya. Beliau mengambil segala jenis pencegahan sehubungan dengan makanannya. Beliau hanya mau makan dari barley yang ditanamnya sendiri. Beliau akan memanennya, menggilingnya membuat adonan, menanak dan memanggangnya sendiri. Semua ulama dan para pencari di masanya membuat jalan mereka menuju rumahnya, agar bisa makan di mejanya dan mendapatkan berkah dari makanannya.

Beliau mencapai suatu kesempurnaan dalam hal penghematan di musim dingin, beliau hanya meletakkan selembar karpet tua di lantai rumahnya dan ini tidak memberi perlindungan dari udara dingin yang menusuk. Di musim panas beliau meletakkan tikar yang sangat tipis di lantai. Beliau mencintai orang yang miskin dan membutuhkan. Beliau mendorong para pengikutnya untuk mencari nafkah dengan cara yang halal, yaitu dengan membanting tulang. Beliau mendorong mereka untuk membagikan uangnya kepada fakir miskin. Beliau memasak untuk fakir miskin dan mengundang mereka untuk makan bersama. Beliau melayani mereka dengan tangannya sendiri yang suci dan mendorong mereka agar tetap berada di Hadirat Allah. Jika salah seorang di antara mereka memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan cara yang tidak baik, beliau akan menegurnya, melalui pandangan spiritualnya terhadap apa yang telah mereka lakukan dan mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah ketika sedang makan.

Beliau mengajarkan bahwa, “Salah satu pintu yang paling penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan dengan Kesadaran. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh”.

Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama Ghaziat di mana salah seorang muridnya telah menyiapkan makanan baginya. Ketika mereka duduk untuk makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Tuan rumah menjadi terkejut. Syah Naqsyband qs berkata, “Wahai anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan makanan ini. Sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah. Makanan ini bercampur dengan kemarahan itu. Jika kita memakan makanan itu, Setan akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh kita.”

i waktu yang lain beliau diundang ke kota Herat oleh rajanya, Raja Hussain. Raja Hussain sangat senang dengan kunjungan Syah Naqsyband qs dan memberikan pesta besar baginya. Raja mengundang semua mentrinya, Syaikh-Syaikh dari kerajaannya dan seluruh tokoh terhormat. Beliau berkata, “Makanlah makanan ini. Ini adalah makanan yang murni, yang dibuat dari uang yang halal yang kudapat dari warisan ayahku.” Semua orang makan kecuali Syah Naqsyband qs, hal ini mendorong Syaikh ul-Islam pada saat itu, Quth ad-din, untuk bertanya, “Wahai Syaikh kami, mengapa engkau tidak makan?”

Syah Naqsyband qs berkata, “Aku mempunyai seorang hakim tempat Aku berkonsultasi. Aku bertanya kepadanya dan hakim itu berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, mengenai makanan ini terdapat dari kemungkinan. Jika makanan ini tidak halal dan engkau tidak makan bila engkau ditanya engkau dapat mengatakan Aku datang ke meja seorang raja tetapi Aku tidak makan. Maka engkau akan selamat karena engkau tidak makan. Tetapi bila engkau makan dan engkau ditanya, maka apa yang akan kau katakan? Maka engkau tidak akan selamat.’

Pada saat itu, Qutb ad-Din begitu terkesan dengan kata-kata ini dan tubuhnya mulai bergetar. Beliau harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan makannya. Raja sangat heran dan bertanya “Apa yang harus kita lakukan dengan semua makanan ini?” Syah Naqsyband qs berkata, “Jika ada keraguan mengenai kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir miskin. Kebutuhan mereka (akan makanan-red) akan membuatnya halal bagi mereka. Jika seperti yang engkau katakan, makanan ini halal, maka akan lebih banyak lagi berkah dalam pemberian makanan ini sebagai sedekah kepada mereka yang membutuhkan daripada menjamu orang-orang yang tidak (benar-benar membutuhkannya).

Sebagian besar hari-harinya dijalani dengan berpuasa. Jika seorang tamu mendatanginya dan beliau mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan kepadanya, maka beliau akan duduk menemaninya membatalkan puasanya dan makan bersamanya. Beliau berkata kepada para pengikutnya bahwa para Sahabat Rasulullah saw biasa melakukan hal yang sama. Syaikh Abul Hasan al-Kharqani berkata dalam bukunya, Prinsip-Prinsip Thariqat dan Prinsip-prinsip dalam Meraih Makrifat,

Jagalah keharmonisan dengan para sahabat, tetapi tidak dalam berbuat dosa. Ini berarti bahwa jika engkau sedang berpuasa, lalu ada seseorang yang berkunjung sebagai teman, maka engkau harus duduk bersamanya dan makan bersamanya demi menjaga adab dalam berteman dengannya. Salah satu prinsip dalam puasa, atau ibadah lainnya adalah menyembunyikan apa yang dilakukan oleh seseorang. Jika seseorang membukanya, misalnya dengan berkata kepada tamunya bahwa dia sedang berpuasa, maka kebanggaan bisa masuk ke dalam dirinya sehingga menghancurkan puasanya. Inilah alasan di balik prinsip tersebut.

Suatu hari beliau diberikan seekor ikan yang telah dimasak sebagai hadiah. Di sekitarnya terdapat banyak orang miskin, di antara mereka terdapat seorang anak yang sangat shaleh dan sedang berpuasa. Syah Naqsyband qs memberikan ikan itu kepada orang-orang miskin dan mengatakan kepada mereka, “Silakan duduk dan makan,” demikian pula kepada anak yang sedang berpuasa itu, “Duduk dan makanlah.” Anak itu menolak.

Beliau berkata lagi, “Batalkan puasamu dan makanlah,” lagi-lagi anak itu menolak. Beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu salah satu di antara hari-hariku di bulan Ramadhan? Maukah engkau duduk dan makan?” Sekali lagi dia menolak. Beliau berkata kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu seluruh Ramadhanku?” Namun masih saja dia menolak. Beliau berkata, “Bayazid al-Bistami qs pernah suatu kali dibebani orang sepertimu.” Sejak saat itu anak itu terlihat berpaling untuk mengejar kehidupan duniawi. Dia tidak pernah berpuasa dan tidak pernah beribadah lagi.

Insiden yang dirujuk oleh Syah Naqsyband qs terjadi ketika Syaikh Abu Turab an-Naqsybandi qs mengunjungi  Bayazid al-Bistami qs. Pelayan beliau menawarkan makanan. Abu Turab q.s berkata kepada pelayan itu, “Datanglah ke sini, duduk dan makan bersamaku.” Pelayan itu menolak, “Tidak, Aku sedang berpuasa.” Beliau berkata, “Makanlah, dan Allah akan memberimu pahala puasa selama satu tahun.” Dia tetap menolak. Beliau berkata lagi, “Ayo makan, Aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia memberimu pahala dua tahun puasaasa.” Kemudian Hadrat Bayazid qs berkata, “Tinggalkan dia.

Allah swt tidak lagi memeliharanya.” Hari-hari berikutnya kehidupannya semakin buruk dan dia menjadi seorang pencuri.

 

Keajaiban-Keajaiban dan Kemurahannya

 

Keadaan Syah Naqsyband q.s, berada di luar jangkauan untuk dilukiskan dan tingkat pengetahuannya pun tidak dapat dilukiskan. Salah satu keajaiban terbesamya adalah eksistensinya itu sendiri. Beliau sering menyembunyikan tindakannya dengan tidak memperlihatkan kekuatan ajaibnya. Namun demikian banyak keajaibannya yang tercatat.

 

Syah Naqsyband qs, semoga Allah memberkati jiwanya, berkata,

“Suatu hari Aku pergi bersama Muhammad Zahid qs ke gurun. Beliau adalah seorang murid yang dapat dipercaya dan kami memiliki sebuah kapak beliung (pickaxe) yang kami gunakan untuk menggali. Ketika kami sedang bekerja dengan beliung itu, kami berdiskusi tentang tingkat pengetahuan yang dalam seperti itu dimana kami melempar beliung dan masuk lebih dalam ke pengetahuan spiritual. Kami bergerak semakin dalam sampai pembicaraan kami mengantarkan kami pada asal penyembahan (ibadah)”.

Dia bertanya kepadaku, ‘Wahai Syaikhku, sampai batas mana yang bisa dicapai oleh ibadah?’ Aku berkata, ‘Ibadah mencapai tingkat kesempurnaan di mana orang yang beribadah dapat berkata kepada seseorang ‘meninggal’ dan orang itu akan meninggal.’ Tanpa sadar Aku menunjuk pada Muhammad Zahid qs. Dengan segera dia meninggal. Dia berada dalam keadaan meninggal sejak matahari terbit hingga tengah hari. Hari itu sangat panas. Aku merasa cemas karena tubuhnya menjadi rusak akibat panas yang berlebihan.

Aku menariknya ke bawah bayangan pohon dan Aku duduk disana merenungkan persoalan ini. Ketika Aku merenung sebuah inspirasi dari Hadirat Ilahi masuk ke dalam hatiku dan mengatakan kepadaku agar berkata kepadanya, ‘Wahai Muhammad, hiduplah!  Aku mengucapkannya 3 kali. Hasilnya, jiwanya mulai memasuki tubuhnya, dan kehidupan mulai kembali lagi padanya. Secara perlahan dia kembali ke keadaan semula. Aku pergi ke Syaikhku dan menceritakan apa yang terjadi. Beliau berkata, Wahai anakku, Allah memberimu suatu rahasia yang belum pernah diberikan kepada orang lain.’

 

Syaikh Alauddin al-‘Attar qs berkata,

Suatu ketika Raja Transoxiana, Sultan Abdullah Kazgan, datang ke Bukhara. Beliau memutuskan untuk berburu di sekitar Bukhara dan banyak orang yang menemaninya. Syah Baha’uddan Naqsyband qs berada di desa sekitar. Ketika orang pergi berburu, Syah Naqsyband pergi ke puncak bukit dan duduk di sana. Ketika beliau sedang duduk di sana, dalam benaknya terlintas pikiran bahwa Allah memberikan kemuliaan yang berlimpah kepada para awliya. Karena kemuliaan itu, semua raja di dunia ini akan membungkuk kepada mereka.

Belum lagi pikiran itu hilang dari hatinya, seorang penunggang kuda dengan mahkota di kepalanya seperti seorang raja, datang ke hadiratnya dan turun dari kudanya. Dengan rendah hati dia menyalami Syah Naqsyband qs dan berdiri di hadiratnya dengan sangat sopan. Dia membungkuk di hadapan Syaikh tetapi Syaikh tak menoleh kepadanya. Beliau membiarkannya berdiri selama satu jam. Akhirnya, Syah Naqsyband qs melihatnya dan berkata, ‘Apa yang engkau lakukan di sini?’ Dia berkata, ‘Aku seorang raja, Sultan Kazgan.

Aku sedang pergi berburu, dan Aku mencium aroma yang sangat indah. Aku mengikutinya ke sini dan Aku menemukan engkau duduk di tengah cahaya yang sangat kuat.’ Pikirannya yang tadi, ‘Semua raja di dunia ini akan rnembungkuk kepada para awliya’ langsung menjadi kenyataan. Itulah bagaimana Allah memuliakan , pikiran para awliya-Nya.

Salah satu pengikutnya yang melayaninya di kota Merv melaporkan “Suatu hari Aku ingin menemui keluargaku di Bukhara setelah mendengar bahwa saudaraku Syamsuddin meninggal. Aku membutuhkan izin dari Syaikhku untuk pergi. Aku berbicara dengan Amir Hussain, Pengeran dari Heart, untuk memintakan izin kepada Syah Naqsyband qs atas namaku. Dalam perjalanan sepulang sholat Jumat, Amir Hussain mengatakan kepadanya tentang kematian saudaraku dan bahwa Aku meminta izin untuk pergi menemui keluargaku”.

Beliau berkata, ‘Tidak, hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin engkau berkata bahwa dia telah meninggal karena Aku melihatnya masih hidup. Lebih dari itu, Aku bahkan dapat mencium wangi tubuhnya. Aku akan membawanya ke sini sekarang.’ Beliau baru saja mengakhiri ucapannya ketika saudaraku muncul. Dia mendekati Syaikh, mencium tangannya dan menyalami Amir Hussain. Aku memeluk saudaraku dan itu kebahagiaan yang sangat besar antara kami.

 

Syaikh Alauddin Attar qs berkata,

Syaikh Syah Naqsyband qs suatu kali duduk di sebuah asosiasi yang besar di Bukhara dan berbicara mengenai pembukaan tabir pandangan spiritual. Beliau berkata, ‘Sahabat terbaikku, Mawa’ Arif yang berada di Khwarazm, (400 mil dari Bukhara) telah meninggalkan Khwarazm untuk gedung pemerintah, dan beliau sampai di stasiun kereta berkuda. Ketika beliau sampai di stasiun tersebut beliau tinggal di sana untuk beberapa saat dan sekarang kembali lagi ke rumahnya di Khwarazm.

Beliau tidak melanjutkan perjalanannya ke Saray. Inilah bagaimana seorang wali dapat melihat dalam maqam pengetahuannya spiritualnya.’ Setiap orang kaget mendengar cerita ini tetapi kami semua tahu bahwa beliau adalah seorang wali besar, maka kami mencatat waktu dan harinya. Suatu hari Mawla ‘Arif datang dari Kwarazm ke Bukhara dan kami memberitahu dia mengenai kejadian itu. Dia sangat kaget dan berkata, ‘Sebenarnya, itulah kejadian yang sesungguhnya.’

Beberapa ulama dari Bukhara bepergian ke Iraq bersama beberapa murid, Syah Naqsyband qs ketika mereka tiba di kota Simnan. Mereka mendengar bahwa ada sosok yang diberkati yang bernama Sayyid Mahmoud, yang merupakan murid Syaikh. Mereka pergi mengunjungi rumahnya dan bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau bisa berhubungan dengan Syaikh?” Beliau berkata,

Suatu ketika Aku melihat Rasulullah saw dalam sebuah mimpi, duduk di sebuah tempat yang sangat baik, dan di sampingnya duduk seorang dengan penampilan yang sangat elok. Aku berkata kepada Rasulullah saw dengan penuh hormat dan rendah hati, ‘Ya Rasulullah saw, Aku tidak diberi kemuliaan untuk menjadi sahabatmu semasa hidupmu. Apa yang dapat kulakukan dalam hidupku agar bisa mendekati kemuliaan itu?’

Beliau berkata, ‘Wahai anakku jika engkau ingin dimuliakan dengan menjadi sahabat kami dan duduk bersama kami dan diberkati, engkau harus mengikuti anakku, Syah Baha’uddin Naqsyband qs.’ Aku lalu bertanya, ‘Siapakah Syah Baha’uddin Naqsyband qs?’ Beliau menjawab kepadaku, ‘Apakah engkau lihat orang yang duduk disebelahku? Inilah orangnya. Jagalah kebersamaanmu dengannya.’ Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ketika Aku bangun, Aku menulis namanya dan deskripsinya dalam sebuah buku yang kumiliki di perpustakaanku. Hari-hari pun berlalu setelah mimpi itu, sampai suatu hari, ketika Aku sedang berdiri di sebuah toko, Aku melihat seseorang dengan penampilan yang anggun bercahaya mendatangi toko dan duduk di sebuah kursi. Ketika Aku melihatnya, Aku ingat mimpi itu dan apa yang terjadi di dalamnya.

Dengan segera Aku menghampirinya dan bertanya kepadanya apakah beliau berkenan mengunjungi rumahku dan tinggal bersamaku.

Beliau menerimanya dan mulai berjalan di depanku sementara Aku mengikutinya. Aku malu untuk berjalan di depannya, bahkan untuk menunjukkan jalan menuju rumahku. Beliau tidak menoleh sekali pun kepadaku, tetapi langsung mengambil jalan menuju rumahku. Aku baru saja ingin mengatakan, ‘Inilah rumahku’, beliau berkata, ‘ini rumahmu.’ Beliau berjalan ke dalam dan langsung menuju ruangan istimewaku.

Beliau berkata, ‘ini kamarmu.’ Beliau pergi ke lemari dan mengambil sebuah buku di antara ratusan buku. Beliau memberikan buku itu dan bertanya padaku, ‘Apa yang engkau tulis di sini?’ Apa yang telah kutulis adalah apa yang kulihat dalam mimpi.

Dengan segera suatu keadaan tidak sadar menguasaiku dan aku merasa pusing dengan cahaya yang masuk ke dalam hatiku. Ketika Aku bangun, Aku bertanya kepadanya apakah beliau akan menerimanya. Beliau adalah Syah Baha’uddin Naqsyband qs.

 

Syaikh Muhammad Zahid qs berkata,

Di awal perjalananku dalam Thariqat ini, Aku duduk di sampingnya suatu hari di musim semi. Sebuah keinginan akan semangka masuk ke dalam hatiku. Beliau melihatku dan berkata, ‘Muhammad Zahid qs, pergilah ke sungai di dekat kita itu dan bawakan kepada kita apa yang engkau lihat dan kita akan memakannya.’

Dengan segera Aku pergi ke sungai itu. Airnya sangat dingin. Aku menyelam ke dalamnya dan menemukan sebuah semangka di bawah air, sangat segar, seolah-olah baru saja dipotong dari dahannya. Aku sangat bergembira dan Aku mengambilnya dan berkata, ‘Wahai Syaikhku terimalah aku.’”

 

Salah satu muridnya melaporkan hal berikut mengenai kunjungannya menemui beliau.

Sebelum kunjungan itu beliau menanyakan Syaikh Syadi, salah seorang murid senior, untuk menasihatinya, “Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai saudaraku, bila engkau pergi mengunjungi Syaikh atau ketika engkau duduk di tengah kehadiran Syaikh, berhati-hatilah agar jangan meletakkan kakimu sedemikian rupa sehingga kakimu menghadap ke arahnya.’ Segera setelah Aku meninggalkan Ghaziut dalam perjalananku ke Qasr al-‘Arifan.

Aku menemukan sebuah pohon dan berbaring di bawahnya dengan kaki berselonjor. Sayangnya seekor binatang datang dan menggigit kakiku. Kemudian aku tertidur lagi dengan rasa nyeri, dan ketika aku tertidur seekor binatang menggigitku lagi. Tiba-tiba aku sadar bahwa Aku telah membuat suatu kesalahan besar, Aku telah menghadapkan kakiku ke arah Syaikhku. Dengan segera Aku bertaubat dan binatang yang menggigitku itu pun pergi.

Suatu saat beliau didesak untuk memperlihatkan kekuatan ajaibnya untuk mempertahankan salah satu penerusnya di Bukhara, Syaikh Muhammad Parsa qs. Hal ini terjadi ketika Syaikh Muhammad Syamsuddin al-Jazari datang ke Samarkand, di masa Raja Mirza Aleg Beg, untuk menentukan pembenaran atas mata rantai transmisi dalam narasi Hadits. Beberapa ulama korup yang iri mengeluh bahwa Syaikh Muhammad Parsa qs telah memberikan narasi-narasi hadits yang rantai transmisinya tidak dikenal.

Mereka berkata kepada Syamsuddin, “Jika engkau mencoba perbaiki masalah itu, Allah akan memberimu pahala yang besar.” Syaikh Muhammad Syamsuddin meminta Sultan untuk memerintahkan Syaikh Muhammad Parsa qs agar muncul. Syaikh ul-Islam di Bukhara, Husamuddin an-Nahawi, berada di sana, bersama dengan sejumah ulama dan imam dari daerah itu.

Syah Naqsyband qs datang bersama Muhammad Parsa qs ke temuan itu. Lalu Syaikh Husamuddin menanyakan Muhammad Parsa qs mengenai sebuah hadits. Muhammad Parka qs menarasikan hadits itu bersama dengan mata rantai transmisinya. Syaikh Muhammad al-Jazari berkata, “Tidak ada yang salah dalam haditsnya, tetapi mata rantainya tidak benar.”

Ketika mendengar ini para ulama yang iri merasa gembira. Mereka meminta Muhammad Parsa qs memberi mata rantai yang lain hadits tersebut. Beliau melakukannya, tetapi tetap saja dikatakan bahwa itu tidak benar. Mereka meminta mata rantai yang lain, beliau memberikannya dan tetap saja mereka menemukan kesalahan dalamnya.

Syah Naqsyband qs turun tangan, karena beliau tahu bahwa apa mata rantai yang diberikan, mereka akan mengatakan bahwa salah. Beliau memberi inspirasi kepada Muhammad Parsa qs bertanya langsung kepada Syaikh Husamuddin dan kepadanya, “Engkau adalah Syaikh ul-Islam dan seorang mufti. Dan apa yang telah engkau pelajari mengenai pengetahuan eksternal dan syari’ah serta pengetahuan mengenai hadits, apa yang engkau katakan mengenai narator-narator tersebut?”

Syaikh Husamuddin berkata, “Kami menerima orang itu dan kami mendasarkan banyak pengetahuan mengenai hadits pada nama mereka, dan buku-buku mereka kami terima, dan silsilahnya oleh semua ulama, dan tidak ada beda pendapat mengenai hal itu Muhammad Parsa qs berkata, “Buku orang itu, yang engkau terima ada di rumahmu di perpustakaanmu, di antara buku ini dan ini. Dan  terdiri atas 500 halaman dan warnanya adalah ini dan ini sampulnya terlihat seperti ini dan ini, dan hadits yang engkau tolak oleh orang tersebut ada di halaman ini dan ini.”

Syaikh Husamuddin merasa bingung dan keraguan mendatang hatinya, karena dia tidak ingat pernah melihat buku seperti itu di perpustakaannya. Semua orang terkejut bahwa Syaikh mengetahui buku itu tetapi pemiliknya tidak mengetahuinya. Tidak ada alternatif lain kecuali untuk mengutus seseorang untuk mengecek. Hadits tersebut ditemukan sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Parsa qs. Ketika raja mendengar kisah ini, para ulama yang membawa masalah ini dihinakan sementara Syah Naqsyband qs dan Muhammmad Parsa qs mendapat kemuliaan.

Keadaannya ketika Meninggalkan Dunia ini

 

Syaikh Ali Damman, salah seorang pelayan dari Syaikh berkata, Syaikh menyuruhku untuk menggali makamnya. Ketika aku menyelesaikannya, aku bertanya dalam hati, ‘Siapa yang akan menjadi penerusnya?’ Beliau bangkit dari bantalnya dan berkata kepadaku,, ‘Oh anakku, jangan melupakan apa yang kukatakan kepadamu ketika kita dalam perjalanan ke Hijaz. Siapa pun yang ingin mengikutiku dia harus mengikuti Syaikh Muhammad Parsa qs dan Syaikh Alauddin Attar qs.’

Di hari-hari terakhirnya, beliau tinggal di kamarnya. Orang-orang mengunjunginya dan beliau memberi nasihat kepada mereka. Ketika beliau memasuki sakitnya yang terakhir beliau mengunci dirinya di dalam kamar. Bergelombang-gelombang pengikutnya mulai berdatangan mengunjunginya dan beliau masing-masing memberi nasihat yang mereka butuhkan. Pada suatu saat beliau memerintahkan mereka membaca surat Yaa Sin. Kemudian ketika mereka menyelesaikannya, beliau berdo’a kepada Allah lalu mengangkat jari telunjuk kanannya untuk rnengucapkan syahadat. Segera setelah beliau mengucapkannya, jiwanya kembali kepada Allah swt.

Beliau meninggal pada hari Minggu malam, 3 Rabiul-Awwal, 791 H (1388 M). Beliau dimakamkan di halaman rumahnya sebagaimana permintaan beliau. Penerus Raja Bukhara menjaga madrasah dan masjidnya, memperluas dan meningkatkan waqafnya.

AbduL Wahhab asy-Sya’arani qs, seorang Kutub Spiritual di masanya mengatakan, “Ketika Syaikh dikuburkan di makamnya, sebuah pintu surga terbuka baginya, menjadikan makamnya sebagai taman dari Surga. 2 makhluk spiritual yang indah mendatanginya dan memberinya salam dan berkata kepadanya, ‘Sejak Allah swt menciptakan kami sampai sekarang, kami telah menunggu untuk melayani engkau.’ Beliau berkata kepada kedua makhluk spiritual ini, ‘Aku tidak berpaling kepada yang lainnya kepada-Nya. Aku tidak membutuhkan kalian tetapi Aku membutuhkan Tuhanku.’

Syah Naqsyband qs meninggalkan banyak penerus, yang paling terhormat di antara mereka adalah Syaikh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmi al-Bukhari al-Attar qs dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmoud al-Hafizi qs, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa qs, penulis Risala Qudsiyya. Kepada yang pertamalah Syah Naqsyband qs meneruskan rahasia dari Mata Rantai Emas.

 


 

 

sanad emas ke 16 Shaikh as-Sayyid Amir Kulal Ibn as-Sayyid Hamza

16. Shaikh as-Sayyid Amir Kulal Ibn as-Sayyid Hamza

Semoga Allah Mensucikan Ruhnya

 

Kita mempunyai jalan dari dunia nyata menuju alam ghaib,

karena kita adalah sahabat dari Sang Utusan dalam Agama.

Kita mempunyai jalan di rumah ke taman,

kita adalah tetangga dari pohon cemara dan melati.

Setiap hari kita datang ke kebun dan melihat ratusan bunga.

Untuk menaburkan mereka di antara para pecinta,

kita penuhi jubah kita sampai penuh sesak.

Perhatian ucapan kita!

Mereka adalah wewangian bagi mawar itu?

kita adalah semak mawar dari kebun mawar keyakinan.”

(Rumi, Diwan)

Sayyid Amir Kulal dikenal bagaikan Mawar dalam hal Karakter dan Atribut Rasulullah saw, mencapai maqam yang tertinggi dan pohon Lote terjauh, penunjuk jalan menuju Singgasana Utama, pemilik rahmat, guruyang memiliki Singgasana Utama, pemilik rahmat, guru yang memiliki rahasia nafas suci Tuhan.

Dia adalah mujaddid atau pembaharu dalam syariah (Hukum), guru besar dalam thariqat, pendiri haqiqat (Realitas), and pembimbing bagi khaliqa (Ciptaan). Beliau diakui sebagai guru besar para wali di zamannya, yang menyandangkan ucapan, “Wali dari Guru besar  adalah Guru besar bagi para Wali.” Terhadap beliau.

Beliau dilahirkan di desa Sukhar, dua mil dari Bukhara. Keluarganya adalah sayyid, keturunan Rasulullah, Ibunya berkata, ? Ketika Aku mengandungnya, setiap kali tanganku ingin mengambil makanan yang meragukan, Aku tidak bisa memasukkannya ke dalam mulutku. Hal ini sering kali terjadi. Aku tahu bahwa bayi yang berada di rahimku adalah seseorang yang istimewa. Oleh sebab itu Aku sangat berhati-hati dan memilih makananku dari makanan yang terbaik dan halal.”

Di masa kanak-kanaknya, beliau adalah seorang pegulat. Beliau sangat suka mempelajari berbagai macam aliran gulat, sehingga beliau menjadi pegulat yang terkenal di masanya. Seluruh pegulat akan berkerumun dan belajar darinya.

Suatu hari, ada seseorang yang menyaksikannya bergulat. Terbersit dalam benaknya, “Bagaimana mungkin seseorang yang merupakan keturunan Rasulullah yang sangat menguasai syari’at dan thariqat, melakukan latihan seperti itu? “ . Tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi kalau dia berada di Hari Pembalasan. Dia merasa dirinya berada dalam kesulitan dan akan tenggelam.

Kemudian Syaikh Sayyid Amir al-Kulal muncul di hadapannya dan menyelamatkannya dari air. Ketika terbangun, dia mendapati Sayyid Amir al-Kulal di dekatnya dan berkata, “Apakah kamu telah menyaksikan kekuatanku dalam bergulat dan kekuatanku dalam memberi perantaraan”.

Suatu ketika seseorang yang akan menjadi Syaikhnya, yaitu Syaikh Muhammad Baba as-Samasi, melewati arena gulat bersama para pengikutnya. Beliau berhenti dan berdiri di sana. Setan berbisik kepada salah satu pengikutnya dengan berkata, “Bagaimana seorang Syaikh melihat muridnya itu dan berkata, “Aku berdiri di sini demi seseorang. Dia akan menjadi seorang yang luas pengetahuannya. Setiap orang akan mendatanginya untuk meminta bimbingan dan melalui dia orang bisa meraih posisi tertinggi dari Kecintaan Allah dan Kehadirat Ilahi. Aku bermaksud untuk membawa orang itu di bawah pengawasanku”.

Pada saat itu Syaikh Amir Kulal menoleh kepadanya, dia merasa tertarik, lalu meninggalkan gulatnya. Beliau mengikuti Syaikh Muhammad Baba As-Samasi ke rumahnya. Syaikh Samasi mengajarinya dzikir dan prinsip-prinsip thariqat yang paling mulia ini, dan berkata kepadanya, “Sekarang engkau adalah anakku”.

Syaikh Kulal mengikuti Syaikh Samasi selama 20 tahun, menghabiskan waktunya dengan berdzikir, khalwat, ibadah, dan melakukan penyangkalan diri sendiri. Tidak ada yang melihatnya dalam kurun waktu 20 tahun itu kecuali bersama Syaikhnya. Beliau akan mendatangi Syaikhnya di Samas setiap hari Senin dan Kamis, meskipun jaraknya 5 mil dan perjalanannya sangat berat, sampai beliau mencapai keadaan tidak tersekat (mukashafa). Pada saat itu ketenarannya mulai tersebar ke mana-mana sampai beliau meninggalkan dunia ini.

Beliau mempunyai empat orang anak, as-Sayyid al-Amir Burhanuddin, as-Sayyid al-Amir Hamza, as-Sayyid al-Amir Syah, and as-Sayyid al-Amir Umar. Beliau juga mempunyai empat orang khalifah, tetapi beliau meneruskan rahasianya hanya kepada satu orang di antara mereka, Guru dari para Guru, yang Paling Tahu di antara yang Tahu, seorang Busur Perantara yang Terbesar (al-Ghawts al-Azam), Sultanul Awliya, Syaikh Muhammad Baha’uddin Shah Naqshband qs.

Syaikh Sayyid Amir Kulal wafat di desa yang sama dengan tempat beliau dilahirkan, Sukhar, pada 8 Jumadil Awwal, 722 H.

 

 

sanad emas ke 15. Syaikh Muhammad Baba as-Samsi

15. Syaikh Muhammad

Baba as-Samsi

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

Kita salami Lautan bersama, dan berdiri pada suatu titik di pantainya

Tepat di atasnya adalah sang mentari

yang terbit menerangi cakrawala

Tenggelamnya ada pada kita

pun dari kitalah merekah fajarnya

Jiwa kita memancar dari kilau permata,

yang tersentuhkan oleh kedua tangan kita

Akhirnya mereka sepakat bahwa orang yang paling terpercayalah

yang harus meletakannya, dan itu adalah Nabi

Saat itu kitapun menjadi permata

Beritahukanlah pada kami,

makna dan rahasia sang mentari

mutiara apakah itu yang keluar dari Lautan ini;

Kita selama semesta yang namanya

dalam buku kita belum pernah ada

Semesta terlalu sempit untuk dapat melingkupi kita

bahkan dapat terlingkupi dalam kita

Kita tinggalkan Lautan penuh gelombang badai

Bagaimanakah orang lain mengerti apa yang telah kita gapai?

(Diambil dari Abu Madian)

Shaikh Muhammad Baba as-Samsi qs adalah seorang pelajar al Azizan yang ternama dan merupakan seorang Cendikia dari para Wali dan seorang Walo dari para Cendikia. Beliau unik dalam dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan internal dan eksternal. Berkahnya menembus seluruh umat di masanya. Dari keinginan belajarnyab yang tinggi, beliau menyebabkan ilmu-ilmu ghaib da rahasia menjadi tampak.

 

Beliau adalah puncaknya Matahari Pengetahuan Eksternal dan Internal di abad ke-8 H. Salah satu tanda keajaibannya adalah mi’raj beliau dari Kubah Batu, yang merupakan hatinya ke maqam Cendikian dari para Cendikia. Para cendikia yang menguasai hikmah spiritual banyak yang menggali dari lading ilmunya dan ikut berthawaf mengelilingi Ka’aba dibawah bimbingan beliau.

 

Beliau dilahirkan di Sammas, sebuah desa di pinggiran Ramitan, tiga mil dari Bukhara. Beliau mengalami kemajuan dalam perjalananya dengan memahami Ilmu dalam Al-Qur’an, menghafalkan al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw serta menjadi ahli di bidang Jurisprudensi. Kemudian beliau memulai Teologi Spekulatif, Logika, Filosofi (‘ilm al-Kalam) dan Sejarah, sampai beliau dijuluki ensiklopedia berjalan bagi segala bidang ilmu dan seni.

 

Beliau mengikuti Syaikh Ali ar-Ramitani al-‘Azizan qs dan terus menerus berperang melawan dirinya sendiri. Beliau melakukan khalwat setiap hari sampai mencapai maqam kemurnian sehingga Syaikhnya diizinkan untuk mentransfer Pengetahuan Surgawi yang bersifat Ghaib ke dalam hatinya. Beliau menjadi sangat terkenal dengan kekuatan ajaib dan ketinggian maqam kewaliannya. Syaikh ‘Ali Ramitani qs memilih beliau sebagai penerusnya sebelum beliau meninggal dan memerintahkan semua murid untuk mengikutinya.

Read more »

sanad ke 14. Ali ar-Ramitani

14. Ali ar-Ramitani

Semoga Allah Menyucikan ruhnya

“Tidak ada hal seperti hatiku akan Dirimu;

Kebenaran, dariku kepadaMu

seluruh sel ditubuhku adalah hati.”

Abu Bakr ash-Shibli.

Dia adalah Bendera Islam Terhormat dan ulama besar yang membuka kunci harta karun hati dan menjelaskan rahasia dari yang Tak terlihat. Dari Kerajaan Yang Berpengetahuan, dia menerima, Bayaran, Hadiah dan Kehormatan. Dia memandu orang yang perlu ke tingkat Pengetahuan Spiritual. Namanya berkibar di angkasa Panduan, dan tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan pengetahuan maupun tingkatannya. Bagi kami, dia digambarkan sebagai ibu dari Buku (Qur’an Suci), sebagai “yang ditulis dalam tingkat yang tinggi.”

 

Dia dilahirkan di desa Ramitan, dua mil dari Bukhara. Dia tinggal disana, dan tekun dalam mempelajari pengetahuan Hukum Illahiah (sharica), hingga sampai pada Ilmu-Ilmu Tradisi (Hadith), Qur’an, Jurisprudensi (Fiqh), dan Contoh Jalan Nabi (Sunnah). Dia menjadi referensi (marjac) bagi siapapun yang menerima keputusan hukum (Fatwa).

 

Kemudian dia menghubungi Shaikh Mahmad al-Anjir al-Faghnawi untuk panduan spiritual. Dihadapan Shaikh, dia diangkat ke tingkat yang tinggi dari Manifestasi Cinta Ilahiah dan Kehadirat Illahiah. Dia menjadi terkenal dengan nama Azizan, suatu kata bahasa Persia yang berarti orang yang berada di tingkat tinggi.

 

Dari Kata-Katanya

 

“Lakukan dan jangan lakukan hitungan. Akui kekuranganmu dan teruskan bekerja.”

 

“Capailah Kehadirat Illahiah, terutama saat kau makan dan berbicara.”

Read more »

sanad ke 13. Khwaja Mahmoud al-Anjir

13. Khwaja Mahmoud al-Anjir

al-Faghnawi

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

“Saat berulang kali kuucap NamaMu,

bukan karena aku takut akan lupa,

Tetapi menyebutnya lewat lidah

adalah kebahagiaan zhikr.”

Abul –Hasan Simnan.

Dia adalah seorang Guru yang hatinya mengalir Air Pengetahuan dan Hikmah. Hatinya telah digosok oleh Pancaran illahiah yang membuatnya salah satu terbaik Yang Terpilih, dimurnikan dari seluruh kegelapan dan penderitaan yang membuatnya sebening Kristal.

 

Dia dilahirkan di desa Anjir Faghna, tiga mil dari Bukhara. Semasa muda, ia bekerja di bidang konstruksi. Dia mengabdikan hidupnya untuk memandu manusia ke Hadirat Allah. Dia adalah Guru Hikmah (Khwajagan) yang pertama mengenal metode zikir bersuara sesuai keperluan masanya dan sesuai kondisi para pencari. Ketika dia ditanya kenapa melakukan zikir bersuara, dia menjawab, “Untuk membangun yang tidur.”

 

Kontroversi Zhikr Bersuara

 

Suatu hari Khwaja Mahmoud menghadiri perkumpulan ulama dan Shaikh Shams al-Halwani berkata pada Shaikh Hafiz ad-Din (seorang berpengetahuan eksternal), untuk bertanya kepada Shaikh Mahmad Fagnawi kenapa dia melakukan Zikir bersuara.

Read more »

sanad emas ke12. Arif ar-Riwakri

 

12. Arif ar-Riwakri

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

“Apa ada tempat yang tidak dikuasai Raja kita?

Namun sihirNya membutakan yang melihat.

Ia membutakan mata kalian

seperti kalian melihat debu di siang hari,

tetapi tidak melihat Matahari yang besar

Sebuah kapal di lautan, tetapi tanpa gelombang samudera.

Guncangan kapal akan bercerita kepada kalian tentang lautan,

seperti gerakan orang yang berkata kepada si buta

bahwa saat itu siang hari.

Tidaklah kalian membaca ayatnya.

Tuhan telah membuat kunci……[2:7]

Tuhanlah yang membuat kunci,

dan Dialah yang membuka

dan mengangkat tabirnya [50:22].

Rumi, Divan.

Ia adalah seseorang yang Berpengetahuan yang Kebenaran Hatinya tampak dalam seluruh terang da cahayanya. Ia adalah Matahari Pengetahuan yang menerangi langit gelap di Jamannya. Ia disebut dengan Cahaya di Taman Realita dan Cahaya di Taman Nabi.

 

Arif qs dilahirkan di desa Riwakar yang berjarak 6 mil Bukhara dan 1 mil dari Ghujdawan. Ia berdiri di pintu Shaikhnya, Abdul Khaliq, dan melayaninya sampai diberi ijin untuk irshad (member nasehat). Ia mendapat Rahasia Jalan ini dari Shaikhnya yang menyaksikan usahanya sampai pada tingkat kesempurnaan. Ia memenuhi negara-negara sekitar Bukhara dengan wangi berkahnya. Ia membuka pikiran dan hati orang-orang di jamannya terhadap rahasia pengetahuannya.

 

Para muridnya mencatat banyak perkataanya, yang antara lain sebagai berikut:

Read more »

sanad emas ke 11. Abdul Khaliq al-Ghujdawani

11. Abdul Khaliq al-Ghujdawani

Semoga Allah Meridhoinya

“Cahaya beberapa orang mendahului zikir mereka,

sementara zikr beberapa orang mendahului cahaya mereka.

Ada yang melakukan zikir bersuara agar hatinya diterangi;

dan ada yang hatinya telah diterangi dan berzikir dalam hati”

Ibn Ata’Allah

 

Dia dikenal sebagai Shaikh dengan berbagai  Keajaiban, Yang Bersinar Bagai Matahari, dan seorang Guru dengan tingkatan spiritualitas tertinggi di jamannya. Ia Pemilik Pengetahuan Yang Sempurna (carif kamil) dalam sufisme dan marifat. Ia dianggap sebagai Sumber Air Terjun Jalan Sufi Terhormat ini dan Sumber Mata Air Khwajagan (Guru Asia Tengah).

 

Ayahnya adalah Shaikh ‘ Abdul Jamil, salah seorang ulama terkenal di jaman Byzantine, baik dalam pengetahuan eksternal dan internal. Ibunya adalah seorang putri, anak dari raja Seljuk Anatolia. Abdul Khaliq dilahirkan di Ghujdawan, sebuah kota dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan). Disanalah ia tinggal, hidup dan dimakamkan. Ia adalah keturunan Imam Malik ra.

 

Semasa kecil ia mempelajari Qur’an dan tafsirnya, ‘ilm al-Hadits (studi tentang Sunah Nabi), ilmu bahasa Arab, dan Jurisprudensi dibawah bimbingan Shaikh Sadrudin. Setelah menguasai ilmu Syariah, ia melanjutkan ke bidang jihad an-nafs, sampai ia mencapai tingkatan tinggi kemurnian. Kemudian ia pindah ke Damascus, dimana ia mendirikan sebuah sekolah yang berhasil meluluskan banyak murid. Masing-masing murid tersebut menjadi guru ilmu fiqih, hadits dan juga spiritualitas, baik di wilayah Asia Tengah dan Timur Tengah.

 

Penulis buku al-Hada’iq al-Wardiyya menceritakan bagaimana ia mencapai tingkatan tinggi didalam Rantai Emas: “Ia bertemu Khidr (as) dan menemaninya. Ia menerima pengetahuan surgawi dan menambahkannya pada pengetahuan spiritual yang telah diperolehnya dari shaikhnya, Yusuf al-Hamdani qs.

Read more »

sanad emas ke 10. Abul ‘Abbas, al-Khidr as

10. Abul ‘Abbas, al-Khidr as

Baginya Keberkahan dan Kedamaian Allah

 

“Siapapun yang akan melalui Jalan tanpa pemandu,

maka ia akan memakan ratusan tahun untuk perjalanan dua hari.

Nabi bersabda, ‘Di Jalan ini, kau tidak akan punya sahabat setia

Kecuali pekerjaanmu.’

Bagaiman kerja dan usaha di jalan kebenaran ini

Diselesaikan tanpa guru, wahai bapakku?

Dapatkah kau melakukan profesi tak berupa di dunia ini

Tanpa panduan guru?

Siapapun yang melakukan profesi tanpa guru,

Menjadi tertawaan orang kota,”

Rumi, Mathnavi.

 

Abul ‘Abbas is Khidr, yang disebut Allah didalam Qur’an Suci [18:65f]. sebagai hamba Allah yang bertemu dengan Nabi Musa, Ia menjaga dan memelihara Realitas Rantai Emas sampai kaitan terakhir pada rantai tersebut, ‘Abdul Khaliq, mencapai maqamnya. Dalam buku Nabi-nabi, Imam Bukhari menuliskan bahwa Nabi berkata, “Al-Khidr (‘Manusia Hijau) disebut demikian karena ketika ia duduk di suatu daratan putih gersang, ternyata menjadi hijau subur oleh tumbuh-tumbuhan.”

 

Peran penting Khidr sebagai murshid (initiator) para wali digambarkan oleh pentingnya perannya sebagai murshid para nabi, khususnya Nabi Musa. Musa adalah seorang nabi yang sangat kuat, salah satu dari 5 nabi terkuat yang dikirim Allah ke dunia ini: Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus, dan Muhammad, Damai dan Bekah bersama mereka. Meskipun Musa berpengetahuan tinggi, Allah membuatnya perlu akan Khidr, meskipun Khidr bukan seorang nabi. Hal ini adalah ajaran, seperti sabda Alah di Qur’an, bahwa “Di atas semua yang mengetahui ada ynag lebih mengetahui” (Yusuf, 76).

 

Cerita tentang Musa bertemu Khidr disebutkan dalam Surat al-Kahf (65-82) sebagai berikut: Musa dan hambanya bertemu dengan salah satu hamba Allah yang terhormat dan diberi pengetahuan oleh Allah sendiri. Musa berkata kepada Khidr, “aku ingin menemanimu,” dan dijawab: “kau tidak akan tahan menemaniku.” Musa terkejut dan memaksa bahwa ia akan tahan.

Read more »

sanad emas ke 9.Abu Ya’qub Yusuf ibn Ayyab ibn Yusuf ibn al-Husayn al-Hamadani

9.Abu Ya’qub Yusuf ibn Ayyab ibn Yusuf ibn al-Husayn al-Hamadani

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

“Jangan berfikir tidak ada pengelana di jalan,

atau orang beratribut sempurna tidak meninggalkan jejak.

Hanya karena kau tidak terhubung dengan rahasia,

Hingga kau pikir orang lain juga tidak?”

Rumi, Fihi ma Fihi.

 

 

Ia merupakan salah satu seorang Yang  Mengetahui Tuhan, sebuah Pilar bagi Sunnah Nabi dan wali yang unik. Ia juga imam (pemimpin agama), ‘alim (siswa agama), dan ‘arif (Yang Mengetahui Tuhan secara spiritual). Ia seorang guru yang mengangkat maqam pengikutnya. Orang terpelajar dan alim dalam jumlah besar sering berkunjung kezawiyahnya di kota Merv, sekarang Turkmenistan, untuk mendengarnya.

 

Lahir di Buzanjird dekat Hamadan di tahun 440 H. ia hijrah dari Hamadan ke Bagdad ketika berusia 18 tahun. Ia belajar di sekolah figh Shafi’I dibawah pengawasan guru di masanya yaitu, Shaykh Ibrahim ibn Yusuf al-Fairuzabadi. Di Bagdad ia bergabung dengan, Abu Ishaq ashaq ash-Shirazi ynag terkenal, yang memberikan perhatian besar baginya dibandingkan murid-murid yang lain meskipun ia yang termuda.

 

Ia sangat berprestasi sehingga menjadi referensi di masanya bagi semua murid di bidang tersebut. Ia juga dikenal sebagai pusat pengetahuan Islam tidak hanya di Baghdad tapi juga di Isfahan, Bukhara, Samarqand, Khwarazm, dan pelosok Asia Tengah.

 

Di masa-masa akhir hidupnya, ia berkhalwat dan meninggalkan duniawi. Ia menjadi seorang sufi dan konstan melakukan ibadah dan mujahada (perjuangan spiritual). Ia bergaul dengan Shaykh Abdullah Ghuwayni dan Shaykh Abu ‘Ali al-Farmadhi adalah yang memberikannya rahasia.

 

Ia meningkatkan penolakan–diri dan tafakur hingga menjadi Ghawth (Busur Perantara) pada masanya. Ia dikenal sebagai Hujan realitas, Kebenaran dan Pengetahuan Spiritual serta akhirnya berdomisili di Merv. Tak terhitung keajaiban yang terjadi dengan dirinya.

Read more »

sanad emas ke 8. Abu ‘Ali al-Farmadhi at-Tusi

8. Abu ‘Ali al-Farmadhi at-Tusi

Semoga Allah Menyucikan Rohnya

 “O anakku! Kata Luqman sang Bijak,

Jangan biarkan ayam jantan lebih awas darimu,

memanggil Allah kala fajar saat kau tertidur.’

Dia benar, dia yang bersabda:

“Malam hari kura-kura penyelam

meratap di dahannya

Dan aku terus tertidur

kebohongan apa, dengan cinta palsu yang kumiliki?

Jika aku pecinta sejati,

Tak akan kura-kura penyelam mengambil alih diriku.

Aku hanya pecinta Tuhan tanpa air mata,

Sementara hewan meratap!

 

(Ghazali, Ayyuha-I-Walad)

 

Ia disebut sebagai Pengenal Ampunan dan Pembawa Cinta Ilahiah. Ia seorang siswa di sekolah jurisprudensi Shafi’i dan seorang arif (di berkahi pengetahuan spiritual) yang unik. Ia sangat terlibat dengan Sekolah Salaf (siswa Abad Kesatu dan Kedua) dan Sekolah Khalaf (siswa lanjutan), tetapi ia berprestasi dlam ilmu pengetahuan tentang Tasawwuf. Dari ilmu ini, ia meringkas beberapa pengetahuan surgawi yang ada dalam Qur’an dengan referensi dari al-Khidr “dan Kami telah mengajarinya dari pengetahuan Surgawi” [18:65].

 

Kilauan cahaya jihad an-nafs (perjuangan-diri) dibuka dalam hatinya. Pada masa itu, ia dikenal dimana saja, sampai ia menjadi shaykh terkenal dalam Hukum Ilahiah Islam dan teologi. Seorang shaykh paling terkenal di masanya, as-Simnani, berpendapat tentang dirinya, “Ia adalah Lidah Khurasan dan shaykh serta guru untuk peningkatan maqam pengikutnya.

 

Lingkungan sosialnya bagaikan sebuah taman dengan bunga-bunga indah, dimana pengetahuan mengalir dari hatinya dan membawa pendengarnya kepada kegembiraan dan kebahagiaan.” Dimana gurunya yaitu, al-Qushayri dn al-Ghazali al-Kabir berpendapat, “Ia adalah seorang shaykh yang memiliki cara unik mengingatkan orang tak ada orang yang lebih darinya, dalam hal kefasihan, kelembutan, etika, akhlak baik, moralitas, maupun cara pendekatannya ke orang .” anak laki-lakinya, Abu Hamid al-Ghazli, nama kecilnya Hujjat ul-Islam-bukti Islam, banyak meniru Farmadi dalam hal ihya ‘Ulumad-Din.

Suatu saat ia berkata, “Aku masuk di belakang guruku, al-Qushayri, ke pemandian umum, dan kuambil seember air dari sumur untuknya.

Read more »

sanad emas ke 7. Abul Hasan ‘Ali

7. Abul Hasan ‘Ali

Ibn Ja’far al-Kharqani

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

 “Semoga Kerendahan hatimu menjadi manis

Dan biarkan hidup menjadi pahit!

Jika kau berpuas diri, kenapa orang harus marah.

Biarkan semua antara aku dan Tuhan berkembang,

Antara aku dan dunia

Biarkan semua menjadi padang pasir!

Jika yakin akan cinta Tuhan, semua akan mudah,

Karena semua di bumi adalah selain bumi.”

Anonim

 

Ia adalah Ghawth (Busur Perantara) di masanya dan memiliki maqam ynag unuk. Ia juga adalah Qiblah, pusat perhatian umatnya dan Samudera pengetahuan dari siapa para wali masih menerima gelombang cahaya dan pengetahuan spiritual.

 

Ia menghindari dari segala hal keesaan Allah  dan menolak segala gelar dan aspirasi bagi dirinya. Ia tidak ingin dikenal sebagai pengikut ilmu apapun, bahkan     ilmu spiritual, dan ia berkata: “Aku bukan rahib (pertapa). Aku bukan zahid (ascetic). Aku bukan pembicara. Aku bukan Sufi. O Allah, Kau adalah Esa, dan aku bersatu dalam KeesaanMu.”

 

Dalam hal pengetahuan dan ibadah, ia berpendapat: “Di dunia ini banyak yang berilmu dan berhamba tetapi hal itu tidak bermanfaat kecuali kau melibatkan diri untuk kepuasan Allah, dan dari pagi sampai malam dilalui dengan perbuatan yang diridhoi Allah.”

Read more »

sanad emas ke 6. Tayfur Abu Yazid al-Bistami

6. Tayfur Abu Yazid al-Bistami

Semoga Allah Mensucikan Ruhnya

 

 

Bismillahir Rohmaanir Rohim

Saya telah menanam cinta kedala hati saya

Dan tidak akan terlihkan hingga hari penghitungan

Kau telah melukai hatiku, ketika Kau mendekatiku

Nafsuku berkembang dan cintaku berhamburan

Dia menaburkan ku seteguk untuk kuminum

Dia telah mempercepat hatiku dengan secangkir cinta

Yang di isinya dari Samudera Persahabatan

Attribute kepada Bayazid.

 

 

Kehidupannya

 

Kakek dari Bayazid adalah penganut Zoroaster dari Persia. Bayazid melakukan study mendalam statute Hukum Islam (shari’a) dan menjalankan disiplin penolakan dari (zuhd). Selama hidup ia rajin dalam kewajiban beragamanya dan dalam penghambaan suka rela.

 

Ia menghimbau para murid agar mengikhlaskan masalah mereka di tangan Allah dan mendorong mereka menerima dengan tulus ajaran tauhid (keesaan Tuhan). Ajaran ini terdiri dari lima hal pokok: menjaga kewajiban menurut Qur’an dan sunnah, selalu berkata benar, menjaga hati dari kebencian, menghindari makanan yang dilarang dan menghindari inovasi (bid’a).

 

 

Perkataannya

 

Salah satu perkataannya ialah, “Saya mengenal Allah melalui Allah dan saya mengenali selain Allah cahaya Allah.” Ia berkata, “Allah telah memberikan hambanya  rahmat dengan maksud mendekatkan mereka kepadaNya. Sebaliknya mereka terpana oleh rahmat tersebut dan menjauh dariNya.“ Dan ia berkata, berdoa kepada Allah,” O Allah, kau telah menciptakan makhluk ini tanpa pengetahuan dan memberikan mereka kepercayaan yang tidak diinginkan. Kalau Kau tidak menolong mereka, maka siapa yang akan menolong mereka?”

 

Bayazid mengatakan bahwa tujuan utama Sufi adalah mendapatkan pengalaman visi Allah di Akhirat. Ia berkata, “Ada hamba khusus Allah yang, jika Allah selubungi Dirinya dari pandangan mereka di Surga, maka akan memohon kepadaNya agar mengeluarkan mereka dari Surga seperti penghuni Api memohon kepadaNya agar melepaskan mereka dari Naraka.”

Read more »

snad emas ke 5 Imam ja’far as-sadig

Imam ja’far as-sadig

Semoga Alloh Ridho dan Memberi Kedamaian Kepadanya

“ Saya telah menemukan

dan membesar-besarkan bukanlah sifatku

Bahwa dia yang menjadikan makananku

akan datang kepadaku.

Saya berlari mengejarnya,

dan pencarianku kepadanya

adalah suatu penderitaan bagiku,

disaat aku tetap duduk,

dia akan datang kepadaku tanpa paksaan.”

‘Urwa ibn Adhana.

Imam Ja’far As-Sadig adalah putera dari Imam Muhammad Al-Baqir, anak dari imam Ali Zainal A’bidin, anak dari Imam Husein, anak dari Imam Ali bin Abi Tholib Kw. Sayyidina Ja’far (as) dilahirkan pada tanggal 8 Ramadhan tahun 83 H. Ibunya adalah putri dari Sayyidina Qosim Ra, yang kakek moyangnya adalah Sayyidina Abu Bakar  as-Sidiq Ra.

 

Beliau menghabiskan umurnya dalam ibadah2 dan kegiatan2 kesalehan di Jalan ALLOH. Beliau menolak berbagai macsm posisi penting dan populer demi untuk Uzlah atau meng-Isolasi diri dari dunia rendah. Salah satu orang yang hidup sezamannya, Umar bin Abi-Mugdam, mengatakan, “Ketika saya melihat Ja’far bin Muhammad yang saya lihat adalah Garis Silsilah dan Rahasia Nabi Muhammad Saw menyatu dalam dirinya”.

 

Beliau menerima dari Nabi Saw “Dua Garis Warisan Suci”: Rahasia Nabi Saw melalui sayyidina Ali Kw dan Rahasia Nabi Saw melalui Sayyidina Abu Bakar Ra. Dalam dirinya bertemu dua garis silsilah dan karena itu Beliau mendapat julukan “Pewaris Maqam Kenabian (Maqam an-Nubuwa) dan Pewaris Maqam Kebenaran (Maqam as-Siddiqiyya).” Dalam dirinya terpancar cahaya pengetahuan akan Kebenaran dan Hakekat. Cahaya kemilau itu terus bersinar dan pengetahuan akan Kebenaran dan Hakekat terus tersebar luas melalui dirinya sepanjang hayatnya.

 

Imam Ja’far (as) menceritakan dari ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir (as), bahwa seorang laki-laki datang kepada kakeknya, Imam Ali Zain al-A’bidin (as), dan berkata, “ ceritakan kepadaku tentang Abu Bakar !” Dia menjawab, “ Maksutmu adalah as-Siddiq?” Laki-laki tersebut menyahut, “Bagaimana kamu memanggilnya dengan as-Siddiq sedangkan dia melawanmu, Ahlul Bait Nabi Saw?” beliau kembali menjawab, “Celaka-lah kamu. Nabi Saw memanggilnya as-Siddiq, dan Alloh menerima gelarnya sebagai as-Siddiq. Jika kamu ingin datang kembali kepadaku, Jagalah selalu cintamu kepada Sayyidina Abu Bakar Ra dan Sayyidina Umar Ra dalam hatimu”.

 

Imam Ja’far (as) berkata, “ Campur tangan /  Tawassul terbaik yang saya harapkan adalah Tawassul/Wasilah dari sayyidina Abu Bakar as-Siddiq Ra. Dari beliau juga dinyatakan ada sebuah do’a sebagai berikut : “ Ya ALLAH, Engkau menjadi saksiku bahwa aku mencintai Sayyidina Abu Bakar (Ra) dan aku mencintai Sayyidina Umar al-Faruq (Ra) dan jika apa yang saya katakan ini tidak benar, Semoga Alloh memotong bagiku Wasilah (Intercession)  dari Nabi Muhammad Saw.”

Read more »

sanad emas ke 4. Qassim ibn Muhammad

4. Qassim ibn Muhammad

Ibn Abu Bakr

Semoga Allah Ridho Kepadanya

“Selama kau belum merenungi sang Pencipta,

kau adalah milik makhluk yang dicipta;

tapi kalau kau telah merenungiNya,

makhluk ciptaan menjadi milikmu.”

Ibn ‘Ata’Allah, Hikam.

Ia merupakan salah satu dari tujuh ahli hokum terkenal di Madinah al-Munawwara. Melalui ketujuh Imam besar inilah hadits, fiqh (jurisprudensi) dan tafsir Qur’an disebarkan kepada umat. Ibunya adalah anak perempuan dari raja Persia terakhir, yaitu Yazdagir. Kakeknya adalah khalifa pertama, Abu Bakar as-Shiddiq. Ia bertemu beberapa Tabi’in, seperti Salim bin ‘ Abdullah ibn Umar.

 

Ia adalah seorang imam yang soleh dan berpengetahuan tinggi dalam narasi hadits. Abu Zannad berkata, “Aku tidak pernah melihat siapapun yang lebih baik darinya dalam hal mengikuti Sunnah Nabi. Pada masa kami, tidak ada yang dianggap sempurna sebelum sempurna dalam mengikuti Sunnah Nabi. Dan Qassim merupakan salah satu yang tersempurna.”

Abdur Rahman ibn Abi Zannad berkata bahwa ayahnya bercerita “Aku tidak menemukan seorangpun yang mengetahui Sunnah lebih baik daripada al-Qassim. “Abu Nu’aym juga bercerita tentangnya didalam Hilyat al-Awliya: “Ia mampu memahami peraturan hukum terdalam dan ia unggul dalam berperilaku dan beretika.”

Read more »

sanad emas ke 3. Salman al – Farisi

3. Salman al – Farisi

Semoga Allah Ridho Kepadanya

“Hatiku telah menjadi berbagai bentuk

Padang rumput  bagi para kijang,

Biara bagi para Biksu,

Kuil bagi Pemuja,

Kabah bagi para Jamaah,

Tablet untuk Torah,

Dan Sebuah Kitab Al-Qur’an

“Aku mengakui agama Cinta

Arah menapun cinta melangkah,

Maka ia adalah agama dan takdirku”.

( Ibnu Arabi, Tarjumlah al-Azwaq )

Salman al Farisi dikenal sebagai “Imam”, “Pewaris Islam” ,Hakim yang bijaksana” , “Ulama yang Berpengetahuan Luas” , “Ahlul Bayt” . Semua julukan tersebut diberikan kepadanya oleh Nabi Muhammad saw.

 

Salman Al-Faisi ra, selalu berdiri tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan untuk membawa Nur ala Nur, Cahaya Diatas Cahaya, dan menyebarkan Rahasia Hati. Mengangkat manusia dari kegelapan kepada Cahaya. Beliau adalah seorang sahabat Nabi saw yang terhormat, yang menuliskan Enam Puluh Tradisi, Sunah Nabi Sallallahu alayhi wassalam.

 

Salman Farisi ra, berasal dari keluarga Zoroastrian yang dihormati dari sebuah kota dekat Isfahan. Suatu hari ketika melewati sebuah gereja, ia tertarik mendengar suara orang yang sedang bersembahyang. Tertarik oleh cara pemujaan mereka, maka ia pun masuk dan menemui bahwa agama itu lebih baik dari agamanya (Zoroaster). Setelah mempelajari bahwa agama itu berasal dari Syiria, maka ia meninggalkan rumahnya, meskipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan ayahnya.

 

Salman al-Farisi ra pergi ke Syiria bergabung dengan pengikut Nasrani. Salman ra mengetahui dari mereka tentang kedatangan Nabi terakhir dan tanda-tanda yang menyertainya. Kemudian Salman berkelana ke Hijaz, disana dia ditangkap dan kemudian dijual sebagai budak ke Madinah, dimana akhirnya ia dapat bertemu dengan Nabi Muhammad. Ketika ia mengetahui semua tanda-tanda pada diri Nabi seperti yang telah dikatakan guru Kristianinya, maka kemudian iapun memeluk islam.

 

Perbudakan menghalangi Salman ra untuk berada pada perang Badar dan Uhud. Kemudian Nabi Muhammad saw menolong dia terlepas dari perbudakan melalui bercocok tanam dengan tangan Beliau saw sendiri sebanyak 300 pohon palm dan member Salman ra sebongkah besar emas untuk terlepas dari perbudakan. Setelah menjadi manusia bebas ia mengambil bagian dalam setiap perang bersama Nabi saw.

 

Didalam Kitab Ibnu Ishaq, Sirah Rasulullah saw kita menemukan perjalanan Salman ra dengan Nabi Muhammad saw dalam mencari agama yang sebenar-benarnya.

 

Asim Ibnu Umar Ibnu Qatadah mengatakan bahwa Salman dari Persia berkata pada Nabi saw, bahwa gurunya di Amuria menyuruhnya pergi ke suatu tempat di Syiria dimana tinggal seorang lelaki diantara dua belukar. Setiap tahun saat ia melakukan perjalanan dari satu kota ke kota yang lain, orang yang berpenyakit akan berjajar sepanjang  jalan yang dilaluinya dan meminta doanya kemudian meeka disembuhkan dari penyakitnya.

Read more »

sanad emas ke 2. Abu Bakar as-Siddiq

2. Abu Bakar as-Siddiq

Semoga Allah Ridha Kepadanya

Hanya satu malam saja

sang bulan mengarungi gugusan bintang

Mengapakah mi’raj kau bantahkan?

Sang Nabi-Mutiara indah tak terkirakan

bagaikan beratus-ratus rembulan

Ia yang hanya dengan sedikit pergerakan

terbelah dualah sang rembulan

Keajaiban ditunjukkannya sesuai batas pemahaman

Semesta tak bertepi dan kerlip bintang

di sanalah segala urusan para nabi dan utusan

Lampauilah semesta,

Lampauilah perputarannya

Kan kau lihat segala urusan yang dimaksudkan

Rumi, Matsnawi.

Rahasia diteruskan dan mengalir dari Guru seluruh umat, Rasulullah kepada Khalifah Pertama, Imam dari semua Imam Abu Bakar as-Shiddiq. Melalui beliau agama mendapat dukungan dan kebenaran dilindungi. Allah swt menyebut dan memujinya dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang suci,

 

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah swt) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami sediakan jalan yang mudah.” (al-Lail 5-7).

 

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertaqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya ( di jalan Allah swt) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia (memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (al-Lail 17-20)

 

Ibn al-Jawzi menyatakan bahwa seluruh ulama Muslimin dan para Sahabat yakin bahwa ayat-ayat tersebut merujuk kepada Abu Bakar. Di antara orang yang banyak, beliau dipanggil dengan sebutan “Al – Atiq, “artinya “yang paling shaleh dan dibebaskan dari api neraka.”

 

Ketika ayat 56 Surat al-Ahzab diturunkan, yaitu bahwa, “Allah swt dan malaikatnya bershalawat kepada Rasulullah, “Abu Bakar bertanya apakah beliau termasuk yang mendapat berkah tersebut. Kemudian ayat 43 diturunkan dan dinyatakan bahwa,

 

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab 43)

Ibn Abi Hatim menerangkan bahwa ayat ke-46 Surah Ar-Rahman merujuk kepada Abu Bakar ash-Shiddiq

Read more »

sanad emas 1 Rasulullah Muhammad Ibn Abdullah

  1. Rasulullah

Muhammad Ibn Abdullah

 

Bagaimana manusia di dunia ini merengkuh realitasmu Ya Nabi?

Maka siapapun yang tertidur dan mendapat kehormatan

bermimpi bertemu dengan Nabi saw,

maka mereka akan mengetahui,

betapa indahnya Realitasmu Ya Rasulullah

Cahayamu adalah segalanya,

dan yang lainnya hanyalah partikel

                                Wahai Nabi, tentaramu dalam setiap waktu

adalah sahabatmu  yang selalu bersamamu.

Imam Busayari, al-Burda.

Para Shaykh Naqshbandi dikenal dengan Rantai Emas karena hubungan mereka dengan manusia Tertinggi dan Paling Sempurna yaitu Muhammad, Yang Pertama diciptakan, Yang Pertama disebut, Yang Pertama dihormati.

 

Ketika Allah memerintahkan Pena untuk menulis, ia bertanya, “Apa yang harus kutulis?” dan Allah bersabda, “Tulis ‘La Ilaha III-Allah.”’ Kemudian Pena menulis “La Illaha III-Allah” selama 70.000 tahun dan kemudian berhenti. Satu hari Allah sebanding dengan 1000 tahun, hari manusia. Kemudian Allah memerintahkan untuk menulis kembali, dan Pena bertanya, “Apa yang harus kutulis?” dan Allah menjawab, “Tulislah Muhammadun Rasul-Allah.” Dan Pena berkata, “O Allah, siapakah Muhammad ini, yang Kau tulis namamu disebelahnya?” Allah berkata, “Kau harus tau bahwa kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan Mencipta apapun.” Sehingga Pena menulis Muhammadun Rasul-Allah untuk 70.000 tahun berikutnya.

 

Kapan Allah memerintahkan Pena menulis? Kapan menulisnya ? Kapan penulisan “La ill-Allah Muhammadun Rasul-Allah” terjadi? Tidak ada yang tahu. Sebutan nama Nabi oleh Allah Yang Maha Kuasa, terjadi sebelum adanya ciptaan apapun, dan realitasnya terjadi sebelum Keabadian. Itulah alasan sebutan Nabi , “kuntu Nabiyyan wa adamu bayni-I-ma’i wa-t-tin” – “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam berwujud antara air dan tanah.”

 

Ia adalah seorang Manusia Sempurna. Ia adalah Penutup bagi semua nabi dan utusan. Apa yang bisa dikatakan hamba yang lemah untuk menghormati Tuan dari para Utusan? Kalau bukan karenanya, tidak seorangpun yang mengetahui Allah, Yang Maha Kuasa. Tidak akan serat alam semesta dijalin seperti yang sudah tercipta. Karena itu, Pena tidak bisa menggambarkan kesempurnaan dari Manusia yang Paling Sempurna, Pemimpin dari semua pemimpin, Raja dari semua Raja, Sultan dari semua Sultan Kehadirat Illahi.

 

Ia adalah jantung Kehadirat illahi. Ia adalah jantung dari Esensi Keunikan. Ia adalah Tanda bagi Keesaan dan Tanda Keesaan itu sendiri. Ia adalah Rahasia dari Semua Rahasia. Ialah satu-satunya yang disapa oleh Allah Yang Maha Kuasa, karena ialah satu-satunya yang Bertanggungjawab di Kehadirat Allah dengan perkataan, “Kalau tidak karenanya, Aku tidak akan menciptakan apapun.” Semua ciptaan itu diberikan kepada Nabi sebagai tanda kehormatan dari Allah. Maka dari itu, Nabi bertanggungjawab atas ciptaan tersebut, yang merupakan wujud kehormatan dan kepercayaannya. Untuk alasan itulah ia menjadi satu-satunya yang disapa di Kehadirat Illahi.

 

Status tunggal Nabi adalah jantung dari Inti kalimat tauhid [Lailaha ill-Allah Muhammadun Rasul-Allah] dan dasar bagi Sufisme. Nabi adalah “ruh tunggal” yang disebut dalam ayat Qur’an, “[O Manusia] CiptaanMu dan kebangkitanmu adalah satu ruh individual  “[31:28]. Nabi adalah “kehidupan tunggal” yang diwakili dalam ayat, “Jika seseorang menggelincirkan orang lain …. Seperti menggelincirkan semua orang: Dan jika seseorang menyelamatkan satu kehidupan maka seperti menyelamatkan hidup semua orang.” [5:32]

 

Terlebih lagi, Nabi, merujuk pada tanggung jawab beliau dalam hadits: a’malakum tu’radi’alayya kulla yawm, “Semua perlakuanmu diperlihatkan kepadaku setiap hari. Kalau baik, aku berdoa untuk kalian; kalau buruk, aku mohonkan ampunan Allah untuk kalian.” Artinya Nabi menjadi penanggungjawab seluruh Komunitasnya dihadapan Tuhan. Maka, “ialah satu-satunya yang diajak bicara.” Itulah makna Perantaraan. Allah mensitir perantaraan ini pada ayat, “Kalau saja, ketika mereka tidak adil kepada diri mereka sendiri, datang kepadaku dan mohon ampunan Allah, dan seorang Utusan memohon ampunan bagi mereka, maka mereka pasti akan dapatkan Allah Kembali, Maha Pengampun” [4:64]

 

Biografi, sabda dan perilaku beliau yang terhormat tidak akan pernah tercakup dalam buku. Tapi kita dapat katakan bahwa beliau adalah Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muttalib ibn Hashim dimana garis keturunannya berasal dari Ibrahim. Ia dilahirkan di Mekah Al-Mukarrama pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal, 570 Hijriyah, pada tahun Gajah. Ibu beliau, Sayyida Amina, ketika melahirkannya melihat cahaya dari tubuhnya yang membuat semua kegelapan menjadi terang seperti Persia. Hal yang dilakukan sesaat lahir adalah bersujud. Ayah beliau wafat sebelum ia lahir. Ia dirawat oleh Thuayba dan kemudian oleh Halima as-Sa’diyya, dimana ia tinggal bersamanya selama empat tahun.

Read more »