Citra Gus Mus

 “Saya ini korban pencitraan”, kata Gus Mus

1970-an, sekelompok anak muda NU intens berkonsolidasi. Bediskusi, bergerak, menulis, bicara di berbagai forum, membangun jaringan, merintis tapak menuju masa depan yang lebih baik bagi NU dan Indonesia. Dipimpin Gus Dur, Gus Mus termasuk salah seorang di antara mereka.

Publik pun lantas mengenal mereka sebagai “kelompok muda NU”, suara kaum muda, pemimpin-pemimpin muda. Atribut “muda” itu begitu kuat melekat pada citra diri mereka sehingga kehadiran mereka senantiasa “terasa muda”.

“Sekarang ini orang lupa kalau aku sudah tua. Dikiranya muda terus…” kata Gus Mus.

Pada mulanya Gus Dur mengajak Gus Mus ikut tampil membacakan puisi-puisi karya penyair-penyair Palestina dalam sebuah pentas solidaritas penyair-penyair Indonesia untuk Bangsa Palestina. Sejak saat itu, orang memandang Gus Mus sebagai penyair.

“Karena terlanjur dianggap penyair, terpaksa saya juga menulis puisi-puisi”, kata Gus Mus.

Kokohlah citra Gus Mus sebagai penyair, seniman, dan budayawan. Pentas-pentas baca puisi, seminar-seminar dan diskusi-diskusi ilmiah ala intelektual kota dilalapnya.

Orang menjadi lupa-lupa ingat bahwa Gus Mus terlahir sebagai santri kendil. Hidup sebagai santri kendil, menyikapi hidup dengan naluri santri kendil, menjalaninya ala santri kendil. Saya pernah dimarahi habis-habisan gara-gara membuat proposal permintaan bantuan dana kepada Pemerintah untuk bangunan pondok.

“Hati-hati mencari uang!” katanya, “Abahmu dan embahmu tidak pernah mementingkan bangunan yang bagus-bagus. Apa pun adanya, yang penting barokah!”

http://teronggosong.com/2014/09/citra-gus-mus/

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *