Cukup dengan cinta

Saya pernah bercerita tentang seorang Badui, yang datang pada Nabi SAW saat salat Jumat.  Dia datang dan berdiri di pintu masjid dan berkata, “Kapan HariKiamat itu, ya Muhammad SAW?”

[Mengapa dia bertanya tentang Hari Kiamat?  Apakah kita menanyakan tentang Hari Kiamat?  Tak seorang pun dari kita yang menanyakan hal itu.   Betapa orang Badui lebih baik dari kita yang menyebut diri kita sendiri sebagai kaum beradab, kaum modern.  Kita tidak menanyakan saat kiamat.  Apa yang kita tanyakan?  Kapan saatnya berdisko? Yang kita tanyakan adalah nafsu.]

Nabi SAW tidak menjawab. Dia bertanya lagi. Nabi SAW meneruskan berbicara pada sahabat-sahabatnya.  Saat Badui itu bertanya untuk yang ketiga kalinya, Jibril pun datang dan berkata, “Jawablah dia.”

Walaupun hanya seorang Badui, Nabi SAW menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari itu?  Itu adalah perjalanan yang panjang.  Apa yang akan engkau persiapkan untuk hari itu?”

[Kita harus bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang kita siapkan untuk hari itu.  Seorang Badui yang tak tahu tentang Islam,  kaki dan badannya telanjang. Apa yang dia jawab?]

Dia menjawab dengan sederhana, ”Cintamu, ya Muhammad SAW adalah cukup untukku.”  Dia tidak tahu apa-apa.  Lalu apa yang Nabi SAW katakan, “Itu sudah cukup.”

Badui itu pun bahkan tidak memasuki masjid dan salat.

Sayyidina Abu Bakar RA bertanya pada Nabi SAW, “Apakah ini, ya Rasulallah SAW?”  Nabi SAW berkata, “Yuhsyharul maru ma man ahbabt.”  Seorang manusia akan dibangkitkan bersama yang dicintainya.”

Dengarlah firman Allah SWT, “Qul in kuntum tuhibbuuna Allaha fat-tabi`uunii yuhbibkumullahu… Katakanlah: Jika engkau mencintai Allah SWT, ikutilah aku; niscaya Allah SWT akan mencintaimu…”

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *