demonstrasi, pengerahan anak-anak dan wanita

beberapa hari yang lalu ketika ngobrol, eh, teman ngobrol bercerita bahwa dulu ketika zaman PKI, kelompok tersebut kerap kali mengadakan demonstrasi dengan mengerahkan massa yang banyak terdiri atas para wanita dan anak-anak.

Hal ini bertujuan sebagai tameng hidup, “para intelek” dibelakangnya bersembunyi dengan benteng para wanita dan anak-anak tersebut, sehingga bila terjadi gesekan dengan petugas, maka yang pertama kali bentrok adalah para wanita plus anak-anak dengan aparat. mereka “laki-laki” dibelakang tetap aman.

kalau di fikir sih benar juga ……

yang berpanas-panas dan kelelahan adalah anak-anak dan wanita yang telah “dipanasi” oleh  “pihak-pihak tertentu” untuk tujuan politiknya. sedang mereka yang dimanfaatkan tidak menyadarinya.

Di masa kini, juga sering juga yang demo dengan massa wanita dan anak-anak atas nama “islam” atapun “kebenaran”. yang patut menjadi pertimbangan adalah bila menyangkutkan dengan islam, karena menurut pengetahuan saya, tidak pernah dizaman nabi ataupun sahabat wanita berjihat seperti itu.

mungkin jihad wanita adalah dengan menjadi istri sholehah, menemani suaminya agar menjadi hamba Allah yang diridloiNya serta menjadi ibu yang baik, guna mempersiapkan generasi penerus yang menegakkan agama islam. akan lebih mulya menurut pendapat pribadi saya.

demostrasi ????

monggo aja sih, hanya selintas saja, ada keterangan ” doa adalah senjata bagi mukmin”, alangkah mulyanya bila seluruh yang demo, bukan teriak-teriak kepada “orang-orang ” yang kemungkinan besar tidak akan mendengarnya, sedang orang lain yang mengetahui menganggap sebagai “pemandangan” atau bahkan menganggap mengganggu kepentingan publik lain. mereka semua sholat hajat berjamaah, berdoa bersama, bila dilakukan istiqomah? tidakkah Allah berjanji “doa akan diijabahi” , sekian banyak orang dengan niat tulus dan istiqomah, tidakkah menggetarkan arsy?

tapi ya ini omdo (omong doang), mungkin bisa jadi inspirasi

gak tau sih, kalau demonstrasi sarana promosi????? kan banyak juga demo masak agar yang mengincipi membelinya, he3

 

lain waktu juga ngobrol dengan teman yang dulu pernah berkecimpung dengan LSM advokasi pembela buruh, juga pengalamannya dulu menjadi “provokator”. menurut cerita, dalam memprovokasi orang berdemo atau melawan, yang biasa di junjung adalah hak-hak mereka,  mereka “dipanas-panasi” terus menerus agar merasa bahwa ia teraniyaya, bahwa ia menderita, diteruskan hingga jiwa pemberontaknya muncul karena merasa terdholimi, ia akan bertindak apapun untuk memperjuangkannya. bahkan berjalan puluhan kilometer tidak akan terasa (padahal dalam keadaan biasa, tidak akan dapat dilakukannya). mereka akan melakukan apapun sesuai “yang dipanas-panaskan”, tidak memikirkan benar salah, akibat-akibat di masa depan, segala carapun akan ditempuh.

aku fikir-fikir ya, masuk akal juga apa yang diceritakannya.

 

sekian sharing beberapa obrolan, cerita yang didapat dari “jagongan” tak terarah, apakah ada manfaat?

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *