Doa QUNUT NAZILAH

 

  1. 1.     ma,mum masbuq 

Assalam mualaikum Wr. Wb.
Semoga Allah melindungi Habib beserta keluarga dan dalam sehat wal afiat.
Habib saya mau naya tentang ma, mum masbuk . ketika kami (5 orang)sholah kami mengikuti orang yg di depan untuk menjadi imam sedangkan kami menjadi ma,mum masbuk setelah imam selasai dn salam maka salah satu dari kami ini maju kedepan untuk menjadi imam, tetapi ada yg mengikuti dan ada juga yg tidak bagaimanakah ini?.
mohon jawabanya
terimakasah
wassalam

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullaj wabarakatuh,

Limpahan Anugerah Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

mengenai masbuq memang terdapat ikhtilaf, boleh salah seorang maju mengimami lainnya, namun pendapat yg Mu’tamad (lebih kuat)) bahwa setelah Imam salam, maka masbuq menyempurnakannya sendiri sendiri. bermakmum dengan Imam kedua makruh hukumnya, namun tetap sah shalatnya, demikian pendapat yg Mu’tamad.

wallahua’lam

 

 

  1. 2.     surat setelah al-fatihah

Assalamu’alaikum wr.wb

semoga Habib Munzir selalu sehat wal afiat beserta keluarga Habib dan selalu membangkitkan semangat kami untuk selalu beridolakan Nabi Muhammad SAW.

Yaa Habib ane mau tanya tentang surat – surat al-qur’an yang dibaca setelah surat Al- Fatihah dalam sholat fardu. Selama ini ane selalu membaca surat al-qur’an pada dua raka’at pertama dengan membaca mundur. maksudnya pada raka’at pertama ane baca surat al-kafirun dan pada raka’at kedua misalnya surat al-ikhlas. Namun ane terkejut ketika ane bermam’mum kepada salah seorang teman kuliah ane dan ane juga pernah berma’mum pada seorang ustadz di masjid dan keduanya ini membaca surat al-qur’annya maju misalnya pada raka’at pertama mereka membaca surat an-anas dan pada raka’at kedua misalnya mereka membaca surat al-falaq. menurut Habib bagaimana? karena selama ini dari ane ngaji sejak kecil ustadz ane mengajarkan membacanya mundur dan ane juga mau tanya kenapa demikian ya Habib?

wassalamu’alaikum wr. Wb

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keluhuran Nya semoga selalu menaungi anda dengan kebahagiaan,

mengenai pembacaan surat dalam surat tersebut memang disunnahkan mengikuti aturannya, sebagaimana Rasul saw melakukan demikian, mendahulukan Al Baqarah dari Ali Imran, mendahulukan Al A’la dari Al Ghasyiah, mendahulukan Al Ikhlas Alfalaq dari Annaas, demikian sebagian besar riwayat.

namun tak adapula larangan yg mengharamkan untuk membaliknya.

mengenai panjangnya ayat, itu teriwayatkan, bahwa pada urutannya Al A’la lebih dahulu dari Al Ghasyiah, namun Al A’la lebih pendek dari Al Ghasyiah, tetapi Rasul saw membaca Al A’la terlebih dahulu.

wallahu a’lam

 

 

  1. 3.     Doa QUNUT NAZILAH

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Semoga Allah SWT selalu menaungi dakwah Habib Mundzir dgn Tangan-Tangan ALLAH yang Maha Lembut dan juga menjaga serta memberikan kesehatan bagi Habib Mundzir beserta keluarga.

Habib, sudi kiranya Habib memberikan isi dari doa Qunut Nazilah dan sudikah kiranya mengkoreksi apabila qunut Nazilah di bawah ini salah.

Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh Umar Bin Khatab) :

Alloohummaghfir lilmu’miniina wal mu’minaat
Wal muslimiina wal muslimaat
Wa allif baina quluubihim
Wa ashlih dzaata bainahum
Wanshur ‘Alaa ‘Aduwwika wa’aduwwihim
Allohummal’in kafarota ahlil kitaabil ladziina
Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka
Alloohumma khollif baina kalimaatihim
Wazalzil Aqdaamahum
Wa anzilbihim ba’sakalladzii layuroddu ‘anil
qaumil mujrimiin
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allohumma innaanasta’iinuka

Saya pernah mendengar Qunut Nazilah yg Habib baca di akhir rakaat terakhir sholat berbeda dgn yg di atas.
Sudi kiranya Habib memberikan koreksinya apabila ada kesalahan pada doa qunut Nazilah tersebut.
Krn saya berniat ingin mengamalkannya seperti yg Al-Habib Umar bin Hafidz perintahkan ke Habib Mundzir.

mohon di berikan penjelasan bagi murid Habib yg lemah pemahamannya ini.

jazaakumullah khairan katsiira

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keridhoan Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

mengenai Qunut Nazilah teriwayatkan dalam banyak riwayat, namun dasar hukumnya adalah Rasul saw berdoa bila ada kejadian penting yg menimpa muslimin, tentunya doanya disesuaikan dengan situasi yg terjadi, boleh ditambah atau dikurangi, karena pd hakekatnya adalah berdoa di akhir rakaat untuk mendoakan Muslimin.

mungkin kita sering melihat di tayangan televisi bahwa di Masjidil haram saat witr malam malam terakkhir di bulan ramadhan, dibaca doa Qunut Nazilah yg hampir 30 menit panjangnya, gabungan dari ayat ayat Alqur’an, hadits dan atsar shahabah dll,

seyogyanya kita membaca Qunut Nazilah kini, karena memang musibah atas muslimin tak henti hentinya,

Insya Allah esok (Kamis malam 20 juli 06) pada Majelis di kediaman saya di Rawa Kemiri saya akan membagikan doa Qunut Nazilah yg dibaca oleh saya dari guru saya.

dan bagi yg tak sempat mendapatkannya dapat mendapatkannya di Kios Nabawiy atau menghubungi Sekertaris Umum Majelis Rasulullah saw Sdr Mahfud di hp (08 180 888 97 95). untuk di emailkan bagi mereka yg diluar jakarta.

wallahu a’lam

 

 

  1. 4.     Adab imam dan Bacaan wirid

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuhu

Semoga Allah swt. selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada Habib dan keluarga.

Ya Habib, ada bbrp hal yg mengganjal di pikiran saya perihal wirid setelah sholat fardhu.
Saya pernah melihat dan mendengar bacaan wirid setelah fardhu seorang imam dgn suara (maaf) agak kencang sehingga terdengar hingga agak jauh dr masjid, sehingga apabila ada makmum (jamaah) sholat datang terlambata maka dia akan terganggu dgn suara wirid sang imam tersebut.
Ada juga seorang imam yg membaca wirid tersebut dgn suara sedang dan agak lirih namun makmum bisa mendengar dgn jelas.

Dan saya pernah membaca di sebuah buku adab seorang imam setelah salam dari sholat fardhu maka dia “harus” membalikkan badannya menghadap ke makmum.

Yang ingin saya tanyakan adalah;
1. Bagaimakah adab imam setelah salam dari sholat fardhunya termasuk adab wiridnya

2. Perihal doa, saya pernah membaca di Kitab karya Imam Al-Ghazali bahwa doa yg didengar oleh Allah adalah di mulai dan diakhir dgn sholawat. Krn Allah pasti mendengar doa yg berada di kedua sholawat tersebut. dan dibagian lain dari ” kitabIhya” saya pernah membaca juga adab doa adalah di mulai dgn pujian kepada Allah lalu bersholawat dan diakhiri dgn doa kita.

Mohon bantuan Habib untuk memberikan adab doa yg baik dan benar kepada ana yg lemah pemahamannya ini.

Semoga Allah membalas semua perhatian dan curahan ilmu Habib di media ini dan semoga Habib selalu di jaga kesehatnnya oleh Allah sehingga dapat meneruskan dakwahnya.

Wassalamualaikum wrwb.

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan Anugerah Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

mengenai Doa setelah shalat memang ad hadits shahih bahwa Rasul saw setelah salam, membaca Laa ilaaha illallahu wahdahu Laa Syariikalah, Lahulmulku walahuljhamdu wahuwa alaa kulli syai’in Qadir 10 X, riwayat lain 7 X, dan riwayat lain membaca Allahumma Ajirna minannar, riwayat lain dg dzikir yg lain, dan Rasul saw membaca nya dengan suara keras, namun tentunya bukanlah berteriak teriak hingga merusak ketenangan doa dan munajat, namun bukan pula terlalu pelahan karena dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa sahabat mendengarnya dengan suara yg jelas.

mengenai menghadap jamaah saat berdoa merupakan sunnah, bukanlah wajib, disunnahkan menghadap kekanan, tidak menghadap hadirin dengan membelakangi Kiblat dan tak pula membelakangi makmum, tapi menghadap kekanan barulah ia berdoa, demikian hal yg diajarkan, namun adapula riwayat menghadap kepada jamaah atau yg tetap menghadap kiblat.

memang disunnahkan berdoa dengan mengawalinya dg pujian kepada Allah dan Shalawat atas Nabi saw.

anda dapat merujuk pada kitab Al Adzkar oleh Imam Nawawi yg menjelaskan sejelas jelasnya mengenai hadits hadits akan hal diatas,
demikian saudaraku yg kumuliakan.

wallahu a’lam

 

 

  1. 5.     Cara Sholat Tahajud

Assalamu’alaikum.

Semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahmat dan Maghfirahnya kepada Habib dan keluarga,sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada Nabi Yang Mulia satu-satunya Nabi yang memberikan Syafaatnya diyaumil akhir nanti Sayyidina Muhammad SAW .
Ya Habib Munzir ana mau tanya :
1.Bagaimana tata cara kita melaksanakan sholat tahajud,apakah sholat tahajud itu harus tidur malam dahulu atau tidak.teman ana mengatakan yang namanya sholat tahajud itu tidak perlu tidur malam,kata teman ana bahwa sholat tahajud ada yang mengatakan harus tidur malam dahulu itu tidak berlandasan dan adapun hadits nya dhoif,
bagaimana tanggapan habib.

2.Mengenai bacaan sujud sahwi itu sumbernya dari mana Habib,ana pernah baca buku bahwa bacaaan sujud sahwi itu berasal dari mimpi seorang sufi.

Mohon penjelasan habib dan sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan ana bertanya.Habib dapat salam dari KH.Salman Yahya dan Tim Pencak Silat Cingkrig.

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keluhuran semoga selalu menaungi anda setiap saat,

Shalat Malam (Qiyamullail) mempunyai dua cara, tidur dulu dan tidak.
Rasul saw mengerjakan keduanya, sebagaimana diriwayatkan pada Shahih Bukhari, demikian pula shahih Muslim dan lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat malam sebelum tidurnya dan adapula riwayat lain juga pada Shahih Bukhari (hadits no.1091, 1095 dan banyak lagi), juga pada Shahih Muslim dan lainnya bahwa Rasul saw melakukannya dan memerintahkannya dengan tidur terlebih dahulu, demikian dilakukan para sahabat, Tabi’in dan selanjutnya hingga kini, itulah yg dinamakan Qiyamullail, ada yg mengerjakannya dengan tidur dulu, atau sebelum tidur, namun yg paling afdhal adalah yg tidur dahulu, karena lebih banyak hadits yg meriwayatkannya.

mengenai Tahajjud, adalah Qiyamullail yg didahului oleh tidur.
wahai saudaraku, sampaikan pada teman anda yg mengatakan bahwa Tahajjud adalah boleh saja sebelum tidur itu, agar ia mempelajari bahasa arab dahulu sebelum berbusa mulutnya dengan sembarang mengatakan dhoif seenak perutnya, “TAHAJJUD” itu maknanya bangun malam setelah tidur, kalau ia mengatakan bahwa Tahajjud tak perlu tidur dulu berarti ia mempunyai bahasa sendiri dalam memahami hadits, barangkali ia menggunakan bahasa cina atau lainnya, kalau dalam bahasa Arab tak ada makna lain untuk kalimat TAHAJJUD selain bangun malam selepas tidur,
kasus ini seakan ada orang yg berkata kepada anda bahwa makna kalimat KEPALA adalah KAKI, dan ia mengatakan kalau hadits yg menjelaskan bahwa KEPALA adalah ujung atas tubuh manusia yg padanya terkandung akal, kedua telinga, kedua mata dll, ia akan mengatakan bahwa ucapan itu dhoif, karena yg benar adalah makna KEPALA adalah alat berjalan, yaitu KAKI.
mengenai makna TAHAJJUD adalah bangun setelah tidur dapat dirujuk pada Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal 308, bahwa yg disebut Tahajjud adalah tidur dahulu, karena Tahajjada berarti Tanwiim, (bangun setelah tidur), demikian pula pada Tafsir Imam Attabari Juz 15 hal 141,dan Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 3 hal 55, dan tak ada makna lain dalam kalimat TAHAJJUD dalam bhs arab selain bangun malam setelah tidur.

2. Mengenai bacaan sujud sahwi memang tak teriwayatkan dalam ahadits, namun para ulama mengambil cara Istihsan, karena doa apapun boleh boleh saja dalam sujud, mengenai mereka yg alergi terhadap mimpi, ketahuilah bahwa Adzan pun berawal dari mimpi para sahabat radhiyallahu ‘anhum, bahkan Nama “Muhammad” (saw) atas Rasul saw pun berawal lewat mimpi ibunya, Aminah ra.

demikian wahai saudaraku yg kumuliakan, salam Takdhim untuk saudara saudara pecinta Rasul saw sekalian.

wallahu a’lam

 

 

  1. 6.     Hukum Sholat Jum’at

Bagaimana hukumnya orang yang tinggal bersebelahan dengan masjid ketika khutbah jum’at ia mendengarkan di rumah dan ketika sholat baru masuk ke masjid, apakah diterima sholat jum’atnya secara keseluruhan?
Bagaimana hukumnya membuat]tanggul di jalan umum? apakah menghancurkannya tanpa izin termasuk imathotul ‘adza?
Bagaimana menyikapi orang yang menjadikan masjid wakaf seperti milik sendiri?[u]

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

1. jumatnya sah, namun pahalanya sirna, karena pahala dicatat hingga khatib naik mimbar.

2. membuat tanggul di jalan umum merupakan hal yg terlarang, namun kita tak dapat main hakim sendiri karena penyingkiran itu pun dg hukum syariah, paling tidak dimusyawarahkan dg warga lainnya atau rt atau rw atau tokoh masyarakat setempat.
sebagaimana hukum potong tangan misalnya, tidak bisa dilakukan oleh siapa saja yg menangkap pencuri, namun ada Qadhi yg akan memutuskan hukumannya, walaupun sudah jelas bahwa hukuman orng yg mencuri adalah dipotong tangannya bila melebihi Haddulqath’.

Imathatul Adza (menyingkirkan gangguan bagi pelintas) merupakan hal yg tidak berkaitan dg Huququnnaas, bila berkaitan dg huququnnaas maka perlu bayan apakah orang itu mengerti hukum atau tak mengerti, dan perlu musyawarah dg warga lainnya.

3. perlu dinasihati karena mengakui wakaf sebagai hak milik adalah perbuatan mungkar, bagi yg tak menegurnya maka ia terkena dosanya dan tuntutannya di hari kiamat, namun teguran pun dilakukan bila akan membawa maslahat dan kebaikan bagi orng tersebut.

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 7.     Qodho Sholat jamak qosor

Ass. Wr. Wb.

Semoga Habib dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT, Amin.
Begini Habib saya mau bertanya mengenai qodho sholat.
Beberapa hari yang lalu saya menjalani operasi sehingga tidak dapat melaksanakan kewajiban sholat, dan saat ini kondisi sudah baikan tapi belum sehat benar.
Pertanyaan saya adalah :

1. Untuk melaksanakan qodho sholat tersebut apakah boleh di Jamak Qoshor ?
2. Atau boleh saya ganti dengan kafarat, seandainya boleh ukurannya berapa dalam setiap waktunya ?

Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Wassalam.

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan Rahmat Nya semoga selalu tercurah kepada anda dan keluarga,

mengenai shalat fardhu itu tak dapat kita menggqadha nya dengan Jama’ atau Qashar, terkecuali bila saat anda ingin men Qadha nya, kebetulan anda sedang dalam perjalanan,

maka boleh meng Qadha nya dengan jama’, atau Qashar, atau Jama’ Qashar.

namun bila anda sedang tidak dalam perjalanan maka anda meng Qadha nya seperti biasa,
hal inipun tak boleh di bayar dengan Kaffarat.

namun Allah swt memberikan pada kita kelonggaran dengan boleh menunda meng Qadha nya kapanpun, tak mesti fauran (segera), selama anda meninggalkan shalat itu karena udzur (tdk mampu, saat operasi dll).

maka meng Qadhanya bisa kapan saja diwaktu luang.

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a’lam

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply