dua anak cukup, lebih banyak lebih baik

hari-hari ini melihat televisi, lumayan banyak iklan masyarakat yang menganjurkan “2 anak cukup” yang merupakan salah satu progam KB, yang dulu pada zaman bapak Soeharto sangat banyak disosialisasikan. Dan sekarang mulai digalakkan lagi.

Salah satu penjelasan yang sering saya pahami, kenapa program ini dipopulerkan kembali adalah bahwa dengan sedikit anak dengan jarak yang ada, bisa mempersiapkan anak lebih baik. Hal ini mau mengalahkan slogan orang dulu “banyak anak banyak rezeki”.

analisis yang sering dikemukakan oleh para pendukungnya adalah banyak anak banyak rezeki itu hanya berlaku karena orang dulu itu pekerjaannya di sawah atau tambak, pertanian, sehingga semakin banyak anak semakin banyak orang yang dapat membantu bekerja di sawah.

apakah benar seperti itu? kalau alasan ini sih saya kurang setuju, mengapa? bukannya pernyataannya bisa digeneralisasi? kalau saya boleh tanya? bukannya dizaman ini juga begitu, kalau banyak anak maka banyak yang bekerja, banyak yang menghasilkan uang, banyak yang dapat membantu orang tua?

kalau menurut saya, pertanyaan atau mungkin bisa dijadikan penelitian ilmiah, terutama oleh para ahli pendidikan adalah “bagaimana orang dahulu dapat memanage/ memberikan pendidikan karakter kepada anaknya sehingga anak-anaknya bersedia membantu mereka?” “mengapa orang dahulu sukses mendidik anak-anaknya yang banyak dan orang sekarang kurang sukses mendidik anak-anak yang sedikit?”

Teringat, orang-orang dulu, ketika menanam pohon, ada orang yang bertanya kepada mereka, untuk apa menanam pohon sedangkan usia sudah tua, iapun dapat menjawab. ini saya menanam untuk anak turun saya kelak, agar buahnya bisa mereka nikmati …

Ada juga salah satu keluarga ulama yang pernah saya temui, ia punya 39 anak, dan alhamdulillah semua dari mereka, tidak ada yang terlantar bahkan menjadi orang-orang yang disegani didaerahnya.

 

ini lagi ada banyak sponsor yang mengusung pernikahan dini. lebih baik bla-bla. Kalau menurutku bila anaknya sudah mengenal lawan jenis dan rawan akan “hal-hal yang tidak diinginkan”, mengepa harus dihalangi? siapakah yang bertanggung jawab akan banyaknya seks bebas? aborsi? perzinaan dll? siapa?

bahkan agama mengajarkan, bila mengkhawatirkan terjatuh dalam zina dan ia mempunyai modal, maka nikahkan hukumnya “wajib” sedang bila tidak mampu maka dianjurkan untuk berpuasa (bila dengan puasa tetap tidak dapat menahan, maka menikah adalah jalan satu-satunya), hayoo siapa yang mengikuti ajaran ini?

menikah itu kalau menurut agama sih gak butuh banyak modal, dengan mengundang wali, 2 saksi, cincin besi pun minimal sudah cukup untuk menikah. Mengapa zaman saat ini dipersulit untuk menikah, tapi dipermudah untuk “zina”? siapakah yang salah? kita

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *