guru antara cahaya dan bayangan

menulis ini mungkin dipicu oleh anak-anak, curhat mereka juga tidak salah, dan yang salah adalah diri ini ……

teringat dulu banget dan bahkan mungkin sampai saat ini, ada sebuah pengajaran yang terus terngiang di fikiran “guru adalah panutan, dan tanpa guru bagaimana engkau akan masuk surga? bagaimana mendapat berkah? guru adalah segalanya, guru adalah contoh sempurna”

mungkin hal tersebut juga yang terbayang dalam benak ketika ngaji ta’lim muta’alim yang begitu kerasnya menuntut seorang murid untuk menghormati guru.

tapi dalam perjalanannya, ternyata teori tersebut tidak seindah angan…..

ketika fikiran udah mulai “nakal” dan su’udzon melingkupi hati, maka kita akan mudah melihat kesalahan guru, apalagi guru yang dekat dengan kita, guru yang sering kita bersamanya, “gambaran ideal, rasanya pecah”

“guru kok gini?” “apanya yang dihormati” “ternyata ya sama saja” “ternyata omdo doang toh”  “ngapusin ……” dll

suatu ketika saya dijangkiti penyakit tersebut (mungkin sekarang masih kali yaaa???? apa lagi dah jadi guru formal, “eeeehhhh podo wae”)

diperjalan berikutnya, secara tidak sengaja (mana ada kebetulan??? pasti udah takdir) menemukan website majelisrasulullah.org yang ketika itu masih diasuh oleh pendirinya Mawlana Habib Munzir Al Musawa, dan beraudiensi (curcol) melalui forum tanya jawab beliau ……

Rasanya menemukan oase baru setelah beberapa kekeringan. kalimat “salam beliau” langsung membuat pecah air mata ini, kerinduan langsung menyergap, aneh memang, orang yang belumpernah aku temui, dan hanya lewat komunikasi online forum aja dapat menyentuh relung hati ini ….. alfatihah tuk guruku mawlana habib Munzir yang walau mata ini belum pernah bertemu, tapi hati ini merasa dekat.

satu hal yang ku pelajari kemudian tentang “fenomena guru ideal” yang telah melekat dan terdoktrin dikepala ini adalah ….

“GURU ADALAH MANUSIA BIASA, ya memiliki kebaikan ya memiliki keburukan,

GURU ADALAH PERMATA, yang telah dimulyakan Allah dengan cahayaNya”

karenanya ada nasehat yang luar biasa menurutku …

“lihatlah keburukannya dalam bertemen, agar engkau mampu toleran akan keburukannya,

dan lihatlah kebaikannya dalam berguru, agar engkau bersedia menerima bimbingan dan ilmunya”

iya…

bagaimanapun seorang guru, ada sesuatu yang istimewa padanya yang telah diberikan oleh Allah kepadanya untuk kita ambil sebagai murid.

kita begitu naif bila mengatakan ada orang yang sempurna atau ada orang yang cacat sepenuhnya, karena Allah menciptakan setiap orang begitu unik dengan segala kelebihan dan kekurangan. tapi bila itu menghalangi kita untuk belajar kepada orang lain, maka itulah tanda bahwa kita merasa lebih dari orang lain, kita sudah sombong, kita hendak menyaingi Allah? kita lupa akan kekurangan kita, naudzubillah.

untuk kita lebih mudah menyerap ilmu seseorang, maka kita harus merasa bahwa orang tersebut memiliki kelebihan melebihi kita, sehingga ada ilmu yang jatuh pada kita. bila tidak? maka hanya akan ada penolakan pada diri…. naudzubillah

makanya ada yang mengajarkan doa “ya Allah, aku berlindung padaMu agar dijauhkan dari melihat keburukan guruku, ……..”

Sifat manusia adalah ketika fokus pada sesuatu, maka hal lain akan diabaikan, begitu juga dalam memandang oarang lain.

bila kita fokus akan keburukan seseorang, maka yang terlihat pada kita hanyalah keburukannya, lain lagi bila kita fokus akan kebaikannya maka kita merasa ia penuh dengan kebaikan dan keburukannyapun terabaikan.

makanya cobaan terberat bagi seorang murid adalah bila “dekat” dengan seorang guru, sehingga ia dapat melihat semua sisi kemanusiaan dari sang guru. apakah ia tetap melihat kebaikan gurunya sehingga ia tetap tulus kepada gurunya atau ia mulai melirik keburukannya yang menggiring kepada penyamaan dirinya dengan sang guru atau bahkan meremehkan sang guru, meremehkan guru akan menghalangi kita menerima kucuran ilmu darinya, apapun yang datang darinya akan kita sepelekan , naudzubillah.

terkadang, berada “jauh” dari sang guru adalah keberuntungan, untu menjaga hati lemah kita yang mudah su’udzon (lemah iman) untuk melihat kelemahan-kelemahan guru, sehingga kita tetap cinta dan patuh kepadanya.

kok lemah iman? njh loh, kata pak kyai, “orang mukmin itu tidak dapat melihat keburukan orang lain” ia dipenuhi khusnudzon, prasangka baik dengan hatinya yang murni.

pernah juga mendapat sms oleh pak kyai mengenai hal ini “pencari ilmu sendiri haruslah hanya mencari cahaya dan ridlo Allah” suatu sindiran yang ketika itu lagi kecewa akan salah seorang guru. hmmm … aku melihat keburukannya hanyalah karena diri ini buruk … hati ini menjadi buta sehingga tidak dapat melihat caha ya Allah melaluinya, setiap orang tercipta dari cahayaNya.

bila kita mau merendah, maka kita akan bersedia menerima ilmu darinya, bersedia belajar kepadanya, bila kita merasa lebih rendah dari semua orang, maka kita akan dapat menerima ilmu dari semua orang, semua orang akan menjadi “guru” kita, menjadi “syekh” kita.

Mungkin inilah nasehat “lihatlah setiap murid mawlana sebagai syekh” bukan kalimat syekh secara semu, bukan kalimat guru secara semu, tetapi tidak ada manfaat yang dapat di ambil disebabkan kesombongan kita.

Kita memanggil guru/syekh tapi dalam hati mengumpat “engkau sama saja denganku, bahkan engkau punya beberapa keburukan lagi”, akan lebih bermakna kita memanggil sesuai tingkatan formalnya “adik, saudara, tuan, pak, bos, teman, dll” tetapi dalam hati “orang ini lebih baik dari ku, aku harus dapat mengambil manfaat darinya, aku ingin belajar kepadanya, ia adalah guruku/syekhku, orang yang dikirim Allah untuk aku belajar kepadanya”

lah dalah ……. mulai ngelindur kesana kemari …..

lebih lagi, …..

katanya….

ilmu Nabi dibanding ilmu sahabat adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu sahabat dibanding ilmu awliya adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu awliya dibanding ilmu ulama adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

ilmu ulama dibanding ilmu orang awam adalah bagaikan samudra dengan setetes air darinya

nah mungkin untuk mengetahui sedikit dari ilmu apa sih yang telah dikaruniakan Allah kepada Nabinya, adalah dengan belajar dan mengambil ilmu dari semua makhluk yang ada tanpa kecuali,

akhir kalam …

rendah hati

mungkin kuncinya …

tidak masuk surga orang yang dihatinya ada setitik kesombongan,

Allah A’lam

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *