Habib Lutfi bin Yahya : intinya NU itu ya orang-orang Thariqah

Nahdlatul Ulama (NU) memang sangat kental dengan nuansa sufi, sufisme, tasawuf dan Thariqah / Tarekat, karenanya, secara organisatoris  para sufi, pengamal ajaran taswuf dan pengikut Thariqah diberi ruang sendiri sebagai Badan Otonom yang diberi nama Jamiyyah Ahl Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyyah (JATMAN).

 

Cupilkan tanya jawab dengan Habib Lutfi bin yahya :

 

Tema Besar Multaqos Shufi adalah “Membangun Peradaban Dunia yang Damai, Adil dan Jujur Melalui Implementasi Ajaran Thariqah”. Bagaimana Penjelasannya?

Thariqah itu Min Ahli Laa Iilaaha Illallah, di mana ajarannya mencermikan setelah kita iman dan Islam lalu Ihsan. Makna Ihsan dalam hal ini adalah menyembahlah kepada Allah seolah-olah kita berhadapan dengan Allah. Kalau tidak mampu, kita harus yakin bahwa kita sedang menghadap Allah SWT. Dengan merasa didengar dan dilihat oleh Yang Maha Kuasa, itu akan mengurangi perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Apalagi kepada orang lain. Karena kita malu, takut kepada Yang Maha Kuasa.

Tasawuf itu sendiri berfungsi untuk menjernihkan hati dan membersihkan haws nafsu dari berbagai sifat yang dimiliki manusia, utamanya sifat kesombongan yang disebabkan oleh banyak hal. Jika ajaran Tasawuf itu diamalkan, tidak ada yang namanya saling dengki dan saling iri, justru yang muncul adalah saling mengisi.

Ada kesan kuat setiap aliran Thariqah sampai saat ini merasa paling benar sendiri, yang lain salah. Mengapa muncul pemikiran seperti itu di kalangan pengikutnya?

Thariqah tidak mengajarkan yang demikian itu. Antara thariqah yang satu dengan yang lainnya bertentangan atau pengikutnya merasa paling benar, tidak ada itu. Justru yang ada keutamaan amaliyah ma¬sing-masing Thariqah. Contohnya ada yang suka baca Surat Al-lkhlas karena Allah Ta’ala memberikan keistimewaan pada surat tersebut. Ada juga yang mengutamakan mu¬’awwidzatain. Allah SWT memang memberikan berbagai keutamaan pada surat-surat dalam Al-Qur’an tertentu, seperti Surat Yaasin, Waqi’ah, dll. Pertanyaannya, apakah dengan membaca salah satu surat yang diistimewakan Allah itu menunjukkan dirinya paling benar? Tidak ada itu. Apalagi mengklaim dirinya paling benar.

Antar Thariqah biasanya saling bersaing. Bagaimana cara mempersatukan persepsi mereka, sehingga bisa sejalan?

Sesuai pengetahuan saya tentang Thariqah di Indonesia, dari 41 Thariqah yang bernaung di bawah Nandlatul Ulama dapat dipersatukan. Kalau mereka mengklaim paling benar, ya tidak ada Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nandliyah, karena mereka sulit dipersatukan. Amaliyahnya sama, yakni bacaan utamanya kalimat “Laa Ilaaha Illallah”.

Habib, dalam pembicaraan seringkali bias antara Tasawuf dan Thariqah. Apa sebenarnya beda keduanya?

Tasawuf itu buah dari Thariqah, pakaian Thariqah adalah Tasawuf yang bersumberkan dari akhlak dan tatakrama (adab). Contohnya, orang masuk kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu, masuk masjd mendahulukan kaki kanan, dll. Itu semua ajaran Tasawuf. Contoh lain. Sebelum makan baca Basmalah dan setelah selesai baca Hamdalah. Apa yang diajarkan dalam Tasawuf sebagai bentuk rasa terima kasih kepada yang member rejeki. Kita ambil satu butir nasi, karena kita sadar bahwa kita tidak bisa membuat butir nasi, lalu kita bersyukur, itu semua ajaran Tasawuf.

Nah, kalau syari’at sudah terbatas. Makanya jika syariat yang diberlakukan, orang mabuk tidak boleh berdekatan dengan orang muslim. Kalau Tasawuf tidak demikian. Mereka harus diajak bicara, mengapa mereka mabuk. Kita tidak boleh tunduk dengan pejabat karena ada alasan tertentu, akan tetapi kita wajib menjaga wibawa pejabat di hadapan umum, sekalipun dengan pribadi kita ada ketidakcocokan. Akan tetapi jangan asal tabrak. Ini semua juga ajaran Tasawuf.

Apa betul Thariqah itu hanya untuk orang tua dengan batasan umur tertentu?

Lha mau belajar dzikir kepada Allah Ta’ala kok menunggu kalau sudah tua. Iya kalau umurnya sampai tua. Bagaimana kalau masih muda meninggal? Yang terpenting adalah mereka ngerti tata urutan berThariqah, ngerti syarat dan rukunnya dulu, seperti masalah wudlu dan shalat, mengerti sifat wajib, jaiz dan mokhal bagi Allah Ta’ala, mengetahui halal dan haram. Kalau menertibkan hati menunggu tua, nanti terlanjur hati berkarat tebal. Maka sejak usia muda seyogyanya mereka mulai mengamalkan ajaran Thariqah (seperti MATAN, Mahasiswa Ahli Thariqah An Nahdliyyah; Red.)

Kesan kaum Sufi masih identik dengan jubah putih kumal, pakai tongkat, mulut komat-kamit membaca wirid, tidak mikir dunia. Apa kaum Sufi memang harus seperti itu?

Saya sangat menyayangkan jika ada yang berpendapat demikian. Apa yang dilakukan para ulama Sufi seperti itu merupakan hak. Dia dalam kefakiran saja bisa menikmati hidup, apalagi kalau kaya raya. Satu atau dua hari saja tidak makan bisa menikmati hidup. Jangan melihat para ulama Sufi dari sisi pakaian, karena apa yang ditampilkan bukan cermin pribadi mereka. Karen pada dasarnya apa yang dia pakai, baik yang kumal maupun yang baik, semata-mata karena Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Tasawuf itu ada di hati, bukan di pakaian.

Bagaimana penganut Thariqah memandang dunia modern yang sudah serba digital ini?

Para ahli Thariqah enjoy saja melihat modernisasi zaman. Mereka tidak gelisah, karena dapat mengikuti dengan baik. Lihat saja ikan di laut bergelimang dengan air asin, dia tidak ikut asin juga bahkan bisa hidup bersama dengan air asin, masak kita tidak bisa. Sejak Nabi Adam hingga saat ini air laut ya tetap asin dan bahkan tidak akan pemah berubah, akan tetapi ikan-ikan yang hidup di laut tidak ada yang ikut menjadi asin. Ya begitulah gambaran para pengikut Thariqah. Mereka bisa hidup di segala zaman dan dapat mengikutinya dengan baik.

Ada kesan JATMAN merasa lebih tinggi dari NU, padahal Jatman adalah Banom NU. Menurut Habib?

Bukan begitu, yang ada adalah para pengurus dan pengikut Jatman adalah mayoritas para kiai sepuh. Lha intinya NU itu ya orang-orang Thariqah. Bukan Jatman-nya yang lebih tinggi dari NU, akan tetapi karena faktor ‘kesepuhannya’ yang menyebabkan seolah-olah Jatman lebih tinggi dari NU. Tapi secara organisatoris, posisi Jatman tetap di bawah naungan NU sebagai badan otonomnya. Untuk menjaga hal itu, kita kembalikan kepada peraturan organisasi, tidak kurang dan tidak lebih.

apakah boleh mengikuti bai’at thariqah, padahal masih belajar ilmu syariat ?

Setiap muslim tentu boleh bahkan harus berusaha menjaga serta meningkatkan kualitas iman dan Islam di hatinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan berthariqah. Namun berthariqah sendiri bukan hal yang sangat mudah. Karena, sebelum memasukinya, seseorang harus terlebih dulu mengetahui ilmu syariat. Tapi juga bukan hal yang sangat sulit, seperti harus menguasai seluruh cabang ilmu syariat secara mumpuni.

Yang diprasyaratkan untuk masuk thariqah hanya pengetahuan tentang hal-hal yang paling mendasar dalam ilmu syariat. Dalam aqidah, misalnya, ia harus sudah mengenal sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah. Dalam fiqih, ia sudah mengetahui tata cara bersuci dan shalat, lengkap dengan syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkannya, serta hal-hal yang dihalalkan atau di haramkan oleh agama.

Jika dasar-dasar ilmu syariat sudah dimiliki, ia sudah boleh berthariqah. Tentu saja ia tetap mempunyai kewajiban melengkapi pengetahuan ilmu syariatnya yang bisa dikaji sambil jalan. Syariat lainnya adalah umur yang cukup (min. 8 th), dan khusus bagi wanita yang berumah tangga harus mendapat izin dari suami. Jika semuanya sudah terpenuhi, saya (Habib Lutfi) mengimbau, segeralah ikut thariqah.

Semua thariqah, asalkan mu’tabarah, ajarannya murni dan silsilahnya bersambung sampai Rasulullah SAW, sama baiknya. Karena semua mengajarkan penjagaan hati dengan memperbanyak dzikrullah, istighfar, dan sholawat.

Yang terpenting, masuklah thariqah dengan niat agar kita bisa menjalankan ihsan. Jangan masuk thariqah karena khasiatnya atau karena cerita kehebatan guru-guru mursyidnya. Pengertian ihsan yang dimaksud adalah seperti yang tersebut dalam atas Nabi Muhammad SAW, “An ta’budallaha ka annaka tarahu, wa in lam yarah fa innahu yaraka”. Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, atau jika engkau tidak merasa melihat-Nya, Sesungguhnya Dia melihatmu

bagaimana cara membersihkan hati dari berbagai macam bentuk penyakit hati?

Siapapun yang ma’rifatnya hidup, hatinya hidup, akan resah dengan apa yang ada dalam hatinya. kalau-kalau ada penyakit bathiniyah. Bagi orang yang kesadarannya tinggi itu sangat meresahkan.

Cara mengatasinya, pertama, bertaqarub kepada Allah melalui thariqat. Mengganti sifat-sifat yang kurang baik, yang melekat dihati dengan sifat-sifat yang baik, yang senantiasa mengajak kita bertaqarub kepada Allah Swt.

Kedua, kita berusaha menganti ukiran-ukiran yang buruk dalam hati kita dengan ukiran-ukiran yang indah, dengan cara berusaha menjalankan perintah Allah Swt. dan sunnah Baginda Nabi Saw.. Kemudian mendekatkan diri kita pada ulama, menghadiri ta’lim-ta’lim mereka. Karena duduk bersama para alim ulama menimbulkan daya tarik tersendiri bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.

Ketahuilah, manusia itu tempatnya kekurangan. Siapapun mempunyai sipat kekurangan. Mari kita sama-sama belajar mengurangi (bukan menutup-nutupi) kekurangan yang ada pada diri kita masing-masing dengan cara berdzikir. Allah Swt. berfirman, “berdzikir itu menenangkan hati”. Jika hati kita tenang, insyaallah, kita akan lebih mudah mengndalikan keinginan kita untuk berbuat maksiat.

Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang tasawuf?

Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.

Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.

Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.

Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.

Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.

Bagaimana sikap kita berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut maut?
Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kita koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.

Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.

pernah membaca buku yang menyatakan sesatnya tarekat dan mengharamkan membaca sholawat. Saya bingung, bagaimana mungkin sebuah komunitas zikir disebut sesat. Alasannya, tak ada tuntunan Rasulullah.?

Islam adalah agama yang universal. Ini dapat dibuktikan dengan keuniversalan Al-Qur’an. Orang yang mempelajari Al-Qur’an atas dasar keuniversalannya justru akan selalu melihat bahwa manusia perlu dimodernisasikan. Untuk itu paling tidak diperlukan dan dibekali ilmu yang cukup dalam mempelajari Al-Qur’an.
Islam itu luwes. Sebab kejadian yang tidak terjadi di zaman Rasulullah bisa saja terjadi di zaman para sahabat. Demikian pula, kejadian yang tidak terjadi di zaman sahabat, bisa terjadi di zaman tabi’in yaitu orang-orang yang hidup pada generasi setelah para sahabat Nabi (saw), dan begitupun seterusnya.

Mestinya para ulama itu dapat memberikan jawaban sesuai dengan generasinya karena adanya sebuah perkembangan zaman. Namun itu bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak bisa menjawab persoalan. Al-Qur’an siap menjawab persoalan sepanjang masa. Tapi siapakah yang sanggup memberi penjelasan jika tanpa dibekali ilmu Al-Qur’an yang cukup.

Misalnya saja, pada zaman Rasulullah, pencangkokan mata, ginjal dan sebagainya belum terjadi. Namun, kemungkinan ilmu-ilmu untuk mencangkok sudah ada. Tapi peristiwa itu secara syariat di zaman Rasul belum ada. Mungkin saja terjadi di suatu zaman, contohnya ada seseorang memerlukan kornea mata, dan ahli medis siap untuk melakukannya sebagai sebuah ikhtiar. Untuk orang yang bersangkutan, apakah ini tidak dibenarkan?

Untuk masalah zikir, siapa yang bilang tidak ada ajaran tentang zikir dari Rasulullah. Misalnya, satu Hadist Qudsi -Hadist yang diyakini sebagai firman Allah, bukan ucapan Nabi (saw)- menyebutkan, diriwayatkan oleh Imam Ali Ridha, “Kalimat La ilaha Illallah itu benteng-Ku. Barang siapa mengucapkan kalimat La ilaha Illallah berarti orang itu masuk ke dalam pengayoman-Ku (dalam benteng-Ku). Dan barang siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, berarti amanlah mereka dari siksa-Ku.” Apakah ini tidak bisa dianggap sebagai tuntunan?

Selanjutnya, mohon maaf, sebelum Anda ikut-ikutan mengatakan bahwa tarekat itu sesuatu yang bid’ah, ada baiknya Anda mempelajari dulu perihal tarekat. Setelah itu melaksanakan ajaran dalam tarekat tersebut dalam kehidupan Anda sehari-hari. Jadi bukan hanya bersumberkan pada pertanyaan tadi. Lebih dari itu, melaksanakan tarekat sesuai ajaran dan kaidah yang ada dalam tarekat. Nanti Anda akan langsung mengetahui, termasuk siapa ulama-ulama itu, tepat atau tidak bila seorang ulama itu telah mengatakannya sebagai bid’ah. Apakah sejauh itu prasangka kita pada ulama-ulama? Seolah-olah ulama-ulama itu tidak mengerti dosa, dan hanya kita sendiri yang mengerti bid’ah?

Harap diingat, melihat figur jangan sampai dijadikan ukuran. Sebab sebuah figur belum merupakan orang yang alim. Makanya syarat orang yang mengikuti tarekat itu, haruslah mengetahui arkan al-iman (rukun iman) dan Islam. Mengetahui batalnya shalat, rukun shalat, rukun wudhu, batalnya wudhu, dan sebagainya. Juga mengetahui sifat-sifat Allah yang wajib dan yang jaiz, juga tahu sifat para rasul, membedakan barang halal dan haram.

Setelah itu baru dipersilahkan mengikuti tarekat. Itulah dasar kita masuk tarekat. Bukan suatu yang bersifat ikut-ikutan. Sedangkan orang yang masuk terkadang tertarik oleh sebuah ritus, termasuk mendekatkan diri pada ulama. Tetapi di dalam dirinya masih ada banyak kekurangan, sehingga apa yang sebenarnya bukan merupakan ajaran sebuah tarekat, terpaksa dilakukan. Seperti, kita menjalankan tarekatnya namun justru meninggalkan yang wajib. Sekali lagi harus diingat, tarekat adalah buah shalat. Bukan sebaliknya.

sumber : http://sufiroad.blogspot.com/2012/05/hb-lutfi-benarkah-tarekat-itu-bidah.html http://islamagamaku.blogdetik.com/page/2/ http://santrigarut.blogspot.com/2009/11/santri-ikut-thariqah.html http://lpmaarifkabbandung.blogspot.com/2012/02/habib-lutfi-bin-yahya-intinya-nu-ya.html

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *