Habib Luthfi dan Peringatan Kemerdekaan

“Kemerdekaan ini adalah hasil jerih payah yang dilalui oleh tetesan darah dan keringat para pendiri bangsa,”

“kemerdekaan yang telah ditorehkan pada 17 Agustus 1945 itu harus dilalui dengan bertumpah darah dan perjuangan. Wujud nyatanya dibuktikan dengan korban nyawa dan keluarga yang dikorbankan. Tetapi ia menyayangkan, sudah sekitar setengah abad bangsa ini tertidur pulas melupakan jejak para pendahulu. Sehingga nasionalisme bangsa ini semakin luntur.”

“Mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan agar bangsa kita tidak menjadi bangsa tontonan tetapi menjadi bangsa tuntunan. Bisa menjadi teladan bagi bangsa-bangsa yang lain,”

“Bendera merah putih itu memiliki sejarah yang penuh dengan pengorbanan. Jika bendera merah putih tibo (jatuh) itu artinya kita kalah. Jadi menghormat bendera merah putih sama dengan menghormati harga diri bangsa,”

“upaya kita selaku generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka, yaitu para pahlawan dengan mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang bermanfaat buat umat.”

“Membangun negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat Nabiyullah Muhammad Saw diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada, setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses.”

”Mengucap terima kasih itu gampang di lisan, jika manusia menjadikan bekal terima kasih untuk kehidupannya maka dunia ini akan aman, karena dengan terima kasih kita akan saling menghargai satu sama yang lain,”

“Cara paling mudah untuk menghargai jasa-jasa pahlawan, lanjutnya, dengan memasang foto para pahlawan di rumah-rumah, khususnya warga nahdliyyin. “Agar kita selalu terkenang akan jasa-jasa mereka,”

ada upaya dari sekelompok orang yang ingin mengaburkan fakta sejarah dengan membuat seolah-olah generasi ini tidak perlu mengenang dan berterimakasih kepada para pahlawan, mencabut umat dari akar sejarahnya. “Hal ini terbukti semakin jarangnya kita temukan di kediaman warga foto-foto yang terpasang, apalagi mendoakan para pahlawan dengan tahlil dan membacakan surat yasin,”

“NU dan warga nahdliyyin adalah benteng terakhir dari keutuhan bangsa, maka banyak kelompok-kelompok di luar sana yang menginginkan NU lemah. Jika NU lemah, maka Negara ini secara otomatis akan lemah pula,”

“ Saat ini, Indonesia dengan mudah diobok-obok. Wibawa kita sebagai bangsa besar dipertaruhkan. Meski demikian, sekali lagi, selagi Ulama, TNI-Polri bersatu, kewibawaan Indonesia akan kembali lagi. Tidak perlu diperdebatkan, apa lagi kita membahas hal-hal lain”

”Kalau tidak mau hormat pada Bendera Merah Putih, silahkan enyah dari Indonesia. Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama. Harusnya, kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia”.

“Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap,”

“Kita harus berubah, ketika negara lain sudah maju, kita masih memperdebatkan tahlil, maulidan, penentuan tanggal satu ramadhan, syawal dan lain sebagainya. Bagaimana kita bisa maju? Negara luar, ada yang mempunyai nuklir, membuat pesawat tempur, bom, kapal perang, pesawat reguler dan lain sebagainya. Apa yang telah dilakukan negeri ini? Kedua, di bidang kedokteran, alat-alat bedah dan lain sebagainya, negara luar yang memproduksi. Apa negara kita tidak mampu mendirikan universitas tingkat internasional yang mampu mengangkat dunia Islam? Lihat juga pertanian kita yang amburadul. Padalah kita mempunyai tanah yang sangar luas dan subur,”

“Negeri ini mempunyai posisi yang sangat strategis. Kita mempunyai jangkauan ke seluruh penjuru dunia. Andai letak itu kita manfaatkan dengan baik dan benar, sisi lain, kita kuat, kita akan menjadi negara yang besar, berwibawa dan makmur. Negara tetangga pun akan berfikir panjang untuk macam-macam terhadap kita”

“Mari kita tata diri kita masing-masing, hindari saling menyalahkan atau menata orang lain, karena pada dasarnya kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa campur tangan Allah SWT,”

“Apabila Ulama, TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecahbelah. Persatuan kita sangat penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini”

“Ulama, TNI dan Polri adalah orang tua kita semua. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak, maka akan mengurangi kewibawaan ulama, TNI dan Polri sendiri.”

Rasulullah Saw sangat nasionalis dan selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada para sahabatnya. “Rasul Saw sangat mencintai Bumi Arab. Beliau sering menyatakan diri; Saya adalah Bangsa Arab. Nah, untuk itu, kita Bangsa Indonesia, harus bangga dan lantang menyatakan; Saya Orang Indonesia, apa pun suku kita, baik Jawa, Sunda, Arab, India, China atau mana pun, jika kita terlahir di negeri ini, teriakkan dengan lantang; Saya Orang Indonesia,”

” Para Walisongo misalnya, dengan kesantunan mereka dalam berdakwah, kerajaan majapahit justru menjadi simpatik terhadap perjuangan dan upaya mereka mengenalkan Islam. Bahkan, pada generasi pertama walisongo, para pendakwah yang santun itu malah mendapatkan tanah yang luas dari pihak kerajaan untuk mendukung perjuangan dakwah mereka,”

“Air laut mempunyai jati diri dan nasionalisme yang luar biasa. Meski selalu mendapatkan air tawar dari daratan dan hutan, meski mendapatkan bermacam-macam limbah, namun air laut tetap berasa asin. Apa pun yang mengotori laut, tidak mampu menghilangkan rasa asin air laut. Meski demikian, penghuni laut, tidak pernah mengintervensi ikan air tawar. Mereka mampu memposisikan diri dengan sangat luar biasa”

 

dari berbagai sumber

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *