Habibana Munzir Al Musawa

Di tahun 2007, dimana ketika itu cobaan rasanya mendera, dari keluarga, dari tempat belajar, dari teman dll. Di saat semua terasa tak kumiliki, aku tak punya siapa-siapa. aku patah. tak mungkin surga menerimaku, tak mungkin Allah menerimaku

Di saat itu, secara kebetulan (aku tahu tak ada kebetulan, semua adalah takdir) dalam browsing menemukan web yang menyejukkan hati, membacanya seperti hati ini juga ikut tenggelam di dalamnya, suatu yang mungkin belum pernah aku rasakan sebelumnya. Akupun bertanya, apakah ini web pengajian benaran ataukah hanya buatan untuk mengecoh ummat.

Di dorong penasaran, rindu, dll, mencoba mencari sumber, dan Alhamdulillah, ALlah membuatku yakin.

Saya pun dengan perasaan “putus asa” mencoba bertanya kepada beliau. Dalam salah satu kata beliau “saudaraku”.

kalimat itu langsung menyirami seluruh hati yang gersang dan mati, di saat merasa tidak ada yang menerimaku, semua menganggap aku durhaka, masih ada orang yan mengakuiku “saudaraku”, duh walaupun beliau menatakan kepada semua oran seperti itu karena kebaikan beliau, tapi untukku, itu adalah curahan rahmat, curahan kasih sayang yang ku rindukan, yang kemudian mencuri hatiku, membuatku mencintai beliau, aku jatuh cinta kepada beliau. aku sadar kecintaanku tidak sebesar para jama’ah beliau, tak pernah sekalipun aku membantu beliau, tak pernah berkorban untuk beliau. Tapi aku ingin beliau mengetahui, aku mencintai beliau.

Aku belajar tidak berputus asa terhadap Allah, terhadap rosululloh, terhadap awliya, terhadap ulama, terhadap umat. Aku belajar. aku belajar. aku masih belajar.

Semoga beliau tetap bersamaku, menjadi perantaraku. Semoa Allah menolongku dan meninggikan beliau.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *