Halal Bihalal

Pada Hari pertama masuk sekolah, senin kemaren. DI Tanada diadakan Halal Bi Halal di masjid AT Tamim WadungAsri dihadiri oleh semua siswa-siswi dan guru-guru dari TKM, MI, MTs, MA dan SMK Tanada dengan pembicara Ust. Zainul Arifin dari Sidoarjo.

Kemudian dilanjutkan dewan Guru berkunjung, bersilaturrahmi kepada pengurus Yayasan Tanada serta para Tokoh di sekitar Wadung Asri.

Salah satu yang menarik adalah ketika berkunjung di KH. Abdul Wahab putra dari KH. Musthofa Nur. Beliau karena tidak ingin berbicara dengan salah satu orang sehingga terkesan mengabaikan yang lain, maka beliau berbicara kepada umum dan yang dibahas ketika itu dalah kebiasaan-kebiasaan di masyarakat.

sedikit yang tersampaikan adalah setiap orang pasti melakukan dua hal, yaitu syariat dan adat. dimana Adat (kebiasaan) itu ada yang baik juga ada yang buruk, dan harus kita akui bahwa tidak semua Syari’at dapat kita adatkan (menjadi kebiasaan) contoh sederhana saja, ketika bersin kita di sunnahkan alhamdulillah dan yang mendengarnya haruslah mendoakan kemudian yang bersin membalas mendoakan, apakah ini sudah kita adatkan dan kita selalu melakukan? oleh karena itu maka kita harus bisa mengadatkan syariat.

seperti berkunjung di dan saling memaafkan di hari idul fitri, saling memaafkannya itu syariat, tetapi memilih harinya adalah adat, dan karena adat maka hal ini hanya berlaku pada suatu daerah saja, tidak dapat mendunia, dan adat yang baik patut dilestarikan tetapi tidak boleh diposisikan seperti kewajiban. hanya adat yang baik dan adat yang baik tentu saja ada pahalanya. saling meaafkan dan bersilaturrahmi adalah syariat sedang memilih hari adalah adat.

Adat memilih ini ada juga minusnya seperti sehingga terkadang melengahkan kita terhadap keutamaan akhir bulan Ramadhan karena mempersiapkan adat ini, tatapi adat ini juga banyak sekali nilai plusnya seperti orang yang akhirnya tidak akur karena adat ini menjadi akur kembali, orang yang tidak bisa bersilatrrahmi karena kesibukan akhirnya dapat bersilaturrahmi.

Seperti halnya berjabat tangan, yang disunnahkan (disyariatkan) itu hanyalah ketika bertemu saja, trus bila akan berpisah tidak ada syariatnya, tapi di lingkungan kita sudah menjadi adat bahwa akan berpisah juga berjabat tangan. apakah boleh? ya tidak apa-apa itu kan adat.

Dan diakhir perpisahan (berpamitan) KH. Wahab bercanda, “ini berjabat tangan mengikuti adat atau tidak?” dewan guru sepakat menjawab, “kita mengikuti adat saja” kemudian kami berpamitan dengan berjabat tangan dengan beliau

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *