Hati-hatilah kepada siapa kalian belajar! Kemurnian Islam hanya dapat diperoleh melalui Orang yang mendapat Otorisasi atau ijazah yang diberikan melalui silsilah mata rantai dari syekhnya hingga kepada Imam, Tabi’in, Sahabat dan akhirnya kepada Nabi (s)

Shuhbat: Jangan Mengklaim sebagai Seorang Syekh

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

6 September 2004, Jakarta, Indonesia

Nawaytu ’l-arba`iin, nawaytu ’l-`itikaaf, nawaytu ’l-khalwah, nawaytu ’l-`uzla, nawaytu ’s-saluuk, nawaytu ’r- riyaadha lillahi ta`ala al-`azhiim fii hadza ’l-masjid.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

 

Ya ayyuhalladziina aamanuu athi`ullaha wa athi`u ’r-Rasula wa uuli ’l-amri minkum. – “Hai orang-orang yang beriman, patuhilah Allah (swt), patuhilah Rasul (s) dan patuhilah ulil amri di antara kalian.” [4:59]

 

Dan kita berharap bahwa kita akan menjadi patuh kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya (s), dan kepada para syuyukh kita, karena kita tidak ingin mengklaim sesuatu yang tidak kita miliki.

 

Ada orang yang mengklaim bahwa mereka mengetahui sesuatu.  Ada orang yang mengklaim bahwa mereka tahu banyak.  Ada juga orang yang mengklaim bahwa mereka tahu akan “segalanya” dan mereka menunjuk diri mereka sendiri sebagai Syekh meskipun mereka masih jauh untuk menjadi seorang Syekh.  Tingkatkan seorang syekh sangat sulit dicapai, jadi janganlah mengklaim sesuatu yang tidak kita miliki.

 

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

 

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

 

huwa a`lamu bikum… wa idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahatikum fa laa tuzakkuu anfusakum huwa a`lamu bi mani ’ttaqa – “Dia lebih mengetahui (tentang keadaanmu) …dan ketika kamu masih tersembunyi di dalam rahim ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.  Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa.” [53:32]

 

Jangan memuji dirimu sendiri, atau jangan mengklaim sesuatu yang tidak kalian miliki.  Ada orang-orang yang jika mereka mendapat sebuah gelar dari suatu universitas, bahkan belum sampai PhD, mereka pikir bahwa mereka dapat mengatur negara.  Bahkan mereka yang telah meraih gelar PhD, mereka pikir mereka bisa mengontrol dunia.  Dan ada juga orang-orang yang berpikir, jika mereka mengikuti seorang wali –seorang Syekh sejati, mereka pikir mereka mengetahui segala hal.  Dan mereka mulai menyebarkan kontaminasi ego mereka, karena ego mereka bangga, jadi mereka menyebarkan penyakit ini ke seluruh murid, tanpa mereka menyadarinya.

 

Dan ada lagi orang-orang, jika mereka memasuki khalwat, lalu keluar, mereka berpikir bahwa dirinya telah menjadi seorang wali, dan nama mereka harus dicetak dan dipublikasikan dengan menonjol untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang suci, dan orang-orang harus mendengarkan mereka.

 

Kita harus menyadari bahwa jika kita mengikuti seorang Syekh sebagai muridnya, dan  jika  kita mendapat beberapa kemajuan dalam belajar darinya, atau kita memasuki khalwat, tetap saja kita ini masih bukan apa-apa, dan kita masih dalam proses pelatihan.  Kita belum menghilangkan penyakit-penyakit kita. Tetap saja kita masih harus dikarantina agar setelah itu kita bisa dilepas di masyarakat.

 

Beberapa orang, jika mereka menjadi imam di masjid, mereka pikir bisa mengatur semua umat Muslim.  Beberapa orang yang bertanggung jawab atas sebuah sekolah atau universitas, mereka mengira mereka dapat mengatur setiap orang.  Mereka tidak merasa bahwa mereka bukan apa-apa.  Jika seseorang tahu bagaimana melakukan zikir, dan ia duduk dan mulai berzikir, ia pikir bahwa ia akan menyebarkan spiritualitas kepada semua orang—ia tidak sadar bahwa dirinya masih terkontaminasi dengan kebanggaan dan arogansi.

 

Otorisasi adalah penting dalam Islam, dalam Syari`ah dan tarekat.  Kita menyebut izin ini Ijazah.  Artinya sebuah pelimpahan wewenang untuk seorang kandidat yang telah belajar pada Syekh, dari seorang Syekh ke Syekh-Syekh berikutnya sampai salah satu dari keempat Imam.  Ini dalam Syari`ah.  Seseorang harus memilikinya—seperti saat ini di universitas ada gelar PhD dalam Syari`ah Islam.  INI TIDAK ADA NILAINYA dibandingkan ajaran Syari`ah terdahulu.  Karena ajaran Syari`ah terdahulu harus mendapat transmisi langsung dari Syekh kalian, dari Syekhnya lagi sampai Grandsyekhnya, dan terus… sampai Imam Syafi’i (r).  Ia harus terhubung seperti itu.  Dan Imam Syafi’i (r)—dari Tabi`iin yang mana beliau mengambil instruksinya?  Dan Tabi`iin itu, dari Sahabat yang mana beliau mengambil instruksi?  Itu harus mempunyai silsilah seperti ini.  Atau silsilah ini dapat pula menuju Imam Abu Hanifa (r) atau Imam Ibn Hanbal (r), atau Imam Malik (r).  Harus mempunyai rantai transmisi.  Kalau tidak, ijazah mereka adalah nol, tak diperhitungkan.

 

Di dalam tarekat, hal itu juga sama.  Dalam spiritualitas.  Dalam hakikat mengenai ruh, dalam mempelajari makrifat.  Pelajaran ini harus melalui suatu silsilah, mata rantai para Syekh.  Dari satu Syekh ke Syekhnya lagi dan seterusnya… sampai pada Grandsyekh, sampai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) atau  Sayyidina `Ali (r), karena dari merekalah asalnya tarekat, ke-41 tarekat.  Mereka semua bisa berasal dari  Sayyidina Abu Bakar (r) atau dari Sayyidina ‘Ali (r).  Mereka yang mengantarkannya langsung menuju kalbu Nabi (s).  Jika silsilah tersebut tidak ada, itu artinya, orang itu, yang  merasa bahwa dirinya telah diberi otoritas—otorisasinya adalah nol.  Tak seorang pun dapat mengatakan dan mengklaim bahwa, “Nabi (s) datang kepadaku lewat mimpi, atau datang kepadaku dalam ini, atau aku memasuki itu dan melihat diriku mendapat otorisasi dalam ini atau itu.”  Hal ini tidak dapat diterima.

Sekarang ini, Syekh yang mengira diri mereka karena mereka bermimpi, atau mereka sedang tidur dan saat bangun mereka melihat sesuatu, lalu seketika itu mereka menjadi orang yang mempunyai otoritas.  Jika demikian, lebih baik bagi Nabi Muhammad (s) diberi otoritas melalui sebuah mimpi atau penglihatan.  Namun bukan seperti itu kejadiannya.  Beliau (s) memerlukan Sayyidina Jibril (a).

 

Sayyidina Muhammad (s) melakukan khalwat, suluk selama selama 40 hari di Gua Hira, dan beliau (s) memerlukan … Beliau (s) tidak pernah mengatakan, “Aku melihat ini, aku berdoa kepada Allah, aku bersujud kepada Allah,” hingga Jibril (a) datang pada beliau dan memberinya (wahyu)  secara fisik.  Tidak mungkin melalui mimpi!  Bukan pula  dalam kondisi koma!  Tidak mungkin pula saat pingsan!  Tak mungkin dalam keadaan apapun kecuali secara fisik.  Itu harus diberikan.

 

Dan kita mengikuti jejak Nabi (s).  Hal itu diberikan pada Nabi (s) – dari Allah (swt) kepada Jibril (a); kemudian dari Jibril (a) kepada Nabi (s).  Ada mata rantai transmisinya.

 

Jika kita berpikir bahwa segala sesuatu datang melalui mimpi, itu boleh saja.  Tetapi mengapa Nabi (s) tidak menerima wahyu lewat mimpi?  Atau mengapa Nabi (s) tidak menerima wahyu dalam kondisi koma, hasya!  Atau mengapa beliau (s) tidak menerima wahyu dengan berbagai cara lain tanpa cara fisik?  Beliau (s) melihat Jibril (a) secara nyata!  Jibril (a) memeluknya.

 

Ia mengatakan, Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, dengan sebuah risalah Islam, “Iqra.”  “Iqra bismi Rabbik alladzii khalaq.”  – “Bacalah dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta.”  Sayyidina Jibril (a) datang dari cakrawala, menutupi seluruh cakrawala, dan ia datang kepada Nabi (s) dan berkata, “Ya Muhammad (s), Iqra– bacalah.”  Nabi (s) bertanya, “wa ma ana bi qaari`?” “Apa yang akan kubaca?”  Ia berkata, “Iqra bismi Rabbik alladzii khalaq, Khalaq al-insaana min `alaq.  Iqra’ wa Rabbuk al-Akram, Alladzii `allama bi ’l-qalam, `allama ’l-insaana ma lam ya`lam.” “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.  Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”  [QS 96:1-5].  Jibril (a) mengajari Nabi (s) secara nyata.

 

Di bulan Ramadan, Nabi (s) sering mempelajari Quran dari Jibril (a).  Dalam Hadits Nabi (s), “kaana yatadarras al-Qur’an ma` Jibriil.” “Ia sering mempelajari Qur`an  dengan Jibril (a).”  Jadi, Nabi (s) memerlukan wahyu yang disampaikan secara nyata, dari Allah (swt).  Allah mengutus Jibril (a) kepadanya.

 

Jadi bagaimana kita mengklaim sekarang ini–beberapa orang di seluruh dunia, bahwa mereka telah mendapat sebuah mimpi atau diberi perintah melalui mimpi.  Ya, ini boleh saja.  Jika kalian diperintahkan untuk melakukan sesuatu, kalian laksanakan.  Namun yang kalian lakukan adalah terbatas.  Ia tidak mempunyai dukungan.  Ia tidak mempunyai seseorang yang mendukungnya dari belakang.  Tanpa dukungan, suatu saat ia akan berhenti, selesai.  Habis!

 

Bahkan saat datang dengan wahyu, Jibril (a) melatih Nabi (s), ia mengangkat Nabi (s), ia ia mengirimkan pesan-pesan dari Allah (swt).  Setelah 2 tahun, Jibril (a) dikirim kepadanya secara nyata.  Setiap waktu, ketika ia datang, Jibril selalu datang secara nyata dari Allah membawakan wahyu.  Nabi (s) tidak pernah mengatakan, “Aku menerima Qur’an lewat mimpi.”  Nabi (s) menerima Quran lewat wahyu melalui Jibril (a).  Dan zikrullah diambil dari Qur’an, juga Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah.  Jadi untuk melakukan zikir, harus secara fisik melalui seorang guru.  Kalian tak bisa mengatakan, “Aku tidak memerlukan seorang guru.  Aku tidak memerlukan seorang mursyid!”  Allah (swt) menjadikan Jibril (a) sebagai pemandu bagi Nabi (s).

 

Dan dalam waktu 2 tahun setelah Nabi (s) menyampaikan wahyu, Allah (swt) memanggil Nabi (s) ke Hadirat-Nya.  Jadi Jibril (a) harus membawanya secara fisik pada  malam Isra wa ‘l-Mi`raaj.  Seperti bulan ini, kita berada di malam Laylatu ‘l-Isra’i wa ‘l-Mi`raj.  Secara fisik Jibril (a) membawa beliau dan Allah (swt) memberinya kendaraan, al-Buraaq.  Nabi (s) mampu berjalan tanpa Buraaq.  Nabi (s) mampu melihat mi`raj itu melalui mimpi, tanpa tubuhnya ikut naik.  Tetapi, pada malam itu,  beliau (s) melakukan mi`raj bersama tubuhnya.  Ruhnya bergerak menuju ke Hadratillah.  Itu artinya bahwa secara fisik kalian memerlukan seorang guru untuk mengajari kalian dan membimbing kalian, sebagaimana Nabi (s) memerlukan buraaq, dan memerlukan Jibriil (a), untuk membawanya ke Hadratillah.

Ada buah-buahan asli dan ada pula buah-buahan plastik.  Buah asli mempunyai rasa, di mana ketika kalian memakannya, kalian merasakan manisnya buah itu.  Buah dari plastik, atau yang terbuat dari kertas –kalian masih bisa memakan kertas, namun tidak ada rasanya.  Kalian dapat memakan plastik, tetapi tak ada rasanya.

 

Jadi zikrullah dengan seorang Syekh yang telah diotorisasi melalui mata rantai para awliya hingga kepada Nabi (s)— zikirnya mempunyai rasa.  Zikrullah itu, setiap  Asma-ullah ul-Husna— Nama-Nama yang Indah dari Allah (swt)— mereka akan membusanai kalian dengan rahasia-rahasia dari Nama-Nama ini.  Kalian akan mendapatkan tajalinya dan Allah (swt) akan mencurahkan rahmat-Nya pada orang itu ketika ia berzikir, karena ia terhubung, melalui kalbunya, melalui Syekhnya, kepada Grandsyekh, dan seterusnya hingga Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) ataupun Sayyidina `Ali (r), dan kemudian kepada Nabi (s).

 

Syekh yang lain, yang mengira dirinya seorang Syekh namun tanpa otorisasi ataupun melalui suatu silsilah, yang mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang Syekh—zikirnya tidak terasa manis.  Suatu saat ia akan hilang.

 

Allah (swt) memberi sebuah karakteristik yang tidak diberikan kepada orang lain selain kepada Nabi (s), yaitu kerendahan hati, tawaduk.  Sayyidina Muhammad (s) adalah yang paling tawaduk.  Jika kalian tawaduk, kalian akan mendapat ilmu spiritual.  Bila kalian sombong dan bangga pada diri sendiri, kalian akan dicampakkan seperti  orang-orang yang mempunyai gelar Studi Islam dari universitas, tetapi tidak mempunyai ruh, tidak ada jiwanya—tak ada rasa di dalamnya.  Mereka mempelajari huruf-huruf yang digabung bersama.

 

Di sisi lain, seorang`arif billah— ahli makrifat, ia tidak mempelajari huruf-huruf.  Tetapi guru mereka mengajari makna dan rahasia di balik huruf-huruf tersebut.  Jadi mereka dapat mengekstrak makna yang tidak bisa diekstrak oleh orang lain.  Dan semua ini dilakukan dengan tawaduk.  Jika sombong, kalian akan seperti Iblis.  Iblis sombong.  Jadi jangan menjadi orang yang sombong.  Jadilah orang yang tawaduk.  Bila kalian tawaduk, orang-orang akan mencintai kalian.  Ketika orang-orang mencintai kalian, Syekh kalian akan membawa kalian kepadanya.  Ketika ia membawa kalian kepadanya, ia akan membawa kalian ke seluruh silsilah untuk mencapai cinta dan penglihatan Nabi (s).

 

Dulu ada seorang raja yang dihadiahi seorang budak—pada masa itu raja-raja biasanya mempunyai banyak budak.  Orang-orang biasa membeli budak dari berbagai negara di seluruh dunia.  Dalam periode tertentu, mereka diperjualbelikan.  Jadi mereka memberi hadiah kepada raja, seorang budak.  Tetapi ia adalah seorang hamba yang baik—jika kalian tak mau menyebutnya budak.  Lalu raja menanyakan beberapa pertanyaan.  Ia bertanya saat mereka menghadiahkan hamba itu, “Siapa namamu?”  Ia berkata, “Wahai tuanku, seorang budak tidak mempunyai nama.  Apapun panggilan dari tuannya, ia harus menjawabnya.  Sebelum tuan, saya telah mempunyai tuan-tuan yang lain.  Dan mereka memanggil saya dengan sebutan yang berbeda-beda.  Tugas saya adalah menjawab panggilan tuan.  Dulu tugas saya adalah menjawab mereka.  Jika seseorang memanggil saya ini atau itu, atau dengan panggilan yang lain, saya akan menjawabnya.  Tugas saya bukanlah untuk mempunyai sebuah identitas, sebuah nama.  Saya tidak mempunyai nama.”

 

Lalu raja bertanya, “Pakaian apa yang kau inginkan agar aku dapat memberikannya?”  Ia berkata, “Wahai tuanku, aku tidak mempunyai pilihan.  Di hadapan tuan, aku tidak mempunyai pilihan, juga di hadapan tuan-tuanku sebelumnya, aku tidak mempunyai pilihan.  Seorang budak menjawab apa yang dikatakan oleh tuannya.  Jika tuanku mengatakan, ‘Pakailah baju merah ini,’ aku akan melakukannya.’  Jika ia mengatakan, ‘Pakailah baju biru ini,’ aku akan memakainya.  Jika hijau, aku akan memakainya.  Jika ia mengatakan agar aku tidak memakai apa-apa, maka aku tidak akan memakai apa-apa.  Ini adalah pilihan tuan, bukan pilihanku.”

 

Dengarkan baik-baik!

 

Raja bertanya, “Makanan apa yang paling kau suka?”  Ia berkata, “Wahai tuanku, makanan apapun yang mereka berikan kepadaku untuk dimakan, aku akan memakannya.  Jika mereka memberi nasi, aku makan nasi.  Jika mereka memberi roti, aku makan roti, jika mereka memberi daging, aku makan daging.  Jika mereka memberi rumput, aku makan rumput.  Jika mereka memberi buah, aku makan buah.  Tak ada pilihan buatku di hadapan tuan.”

 

Lalu raja akhirnya berkata, “Wahai budakku, hambaku, lalu apa yang bisa kulakukan untukmu?”  Ia berkata, “Wahai tuanku, apakah seorang budak mempunyai kehendak di hadapan tuannya?”  Budak berada di bawah kehendak raja, tuannya.  Engkau yang memilih apa yang baik untukku, dan tuan berikan kepadaku.”

 

Raja berkata, “Wahai hambaku, kau adalah seorang Muslim sejati.  Dan lebih baik bila engkau yang memimpin negara ini daripada aku.  Engkau adalah seorang raja, dan aku adalah pendukungmu.”  Ketika hamba itu memperlihatkan bahwa ia tidak mempunyai kehendak, Allah (swt) menjadikannya sebagai raja.  Saat kalian tidak menunjukkan suatu keinginan…  Nabi (s) tidak pernah memperlihatkan suatu keinginan.  Allah (swt) menjadikannya sebagai Khatam ar-Rasul, Penutup para Rasul.   Para Awliya, mereka pasrah pada Kehendak Allah (swt) dan kehendak Nabi (s).  Allah menjadikan mereka sebagai wali.  Ketika kalian tunduk pada kehendak guru kalian, maka guru akan mengangkat kalian dan mempercayai kalian untuk membawa amanat umat di bawah pengajaran kalian.  Jadi, itulah hal yang penting, tunduk.  Tidak merasa bangga dengan opini dan pikiran kalian sendiri.  Ini adalah suatu kutukan, jika kalian bangga dengan pikiran dan opini kalian, kalian menjadi pecundang.

 

Sekarang, karena kesombongan, kebanggaan, anak-anak tidak menerima apa yang dikatakan oleh orang tua.  Orang tua tidak menerima apa yang dikatakan oleh orang yang lebih tua.  Setiap orang berjalan di jalannya masing-masing.  Mereka tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Islam dan Qur’an.  Mereka hanya mau mendengar apa yang dunia katakan kepada mereka, dan apa yang dikatakan oleh Setan kepada mereka, dan apa yang dikatakan oleh nafsu buruk mereka.

 

Lihatlah anak muda itu, siapa namanya?  Hamdaan.  Bagaimana ia melantunkan (zikir Asma-ul Husna)?  “Berapa umurmu?”  “12 tahun.”  Ia membaca lebih baik daripada semua orang yang berada di ruangan ini.  Ia berumur 12 tahun, sementara kita berumur 70, 80, 90, 60, 50, 40, 30.  Dunia ini tidak ada di dalam hatinya.  Yang lain,  Allah memberi mereka—bukannya belajar membaca seperti Hamdan, mereka belajar bagaimana menyanyikan lagu-lagu, MTV, video klip, diskotik, mengejar wanita cantik, artis, aktris.  Ini (seperti Hamdan) adalah gaya hidup seorang yang masih sangat muda yang dibesarkan dalam kepatuhannya kepada Allah (swt).  Ia akan berada dalam naungan singgasana Allah pada Hari Kiamat nanti.

 

Nabi (s) bersabda, “Ada tujuh (kelompok) yang akan berada di bawah naungan Allah pada Hari Kiamat,” ketika matahari akan membakar otak semua orang.  Allah (swt) akan memberi naungan kepada ketujuh kelompok itu.  Salah satu di antara mereka adalah “waladun nasya `ala ta`athillah,” –seorang anak yang dibesarkan dalam kepatuhan kepada Allah (swt).”  Yang lainnya adalah walad, yang tidak pernah mengatakan bahkan kata “uuf” kepada ibunya atau ayahnya di dalam hidupnya.  Allah (swt) akan menaunginya.

 

Orang kaya sekarang ini, atau orang-orang yang berpenghasilan menengah ke atas mengejar hal-hal yang kotor; dan anak tadi yang tidak mempunya apa-apa mengejar kepatuhan kepada Allah.  Bukannya orang kaya mengejar kepatuhan kepada Allah, mereka justru melakukan yang sebaliknya.

 

Tetpi kita masih mengatakan bahwa Allah (swt) selalu Maha Pemurah.  Dan Allah (swt) telah mengatakan kepada Nabi (s),

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

 

“wa maa arsalnaaka illa Rahmatan lil `aalamiin.”

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”  [QS 21:107]

 

Jadi insya Allah kita akan, kita semua akan berada di bawah Rahmat Allah.  Mereka yang sedang berlari ke sana ke mari, Allah akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya.  (amin).

 

Wa min Allahi ’t-tawfiq, bi hurmati ’l-Fatiha

 

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/suhbat-dont-claim-to-be-a-shaykh/

https://docs.google.com/document/d/1PAXSoYwDEXpslY8ujpeavzf8aN9B3neZG3W6IynSRgo/edit?pli=1

Indeks shuhba:

  • Kita bukan apa-apa, jangan mengaku/mengklaim sesuatu yang tidak kita miliki.

  • Otorisasi atau ijazah diberikan melalui silsilah mata rantai dari syekhnya hingga kepada Imam, Tabi’in, Sahabat dan akhirnya kepada Nabi (s)

  • Suatu pesan spiritual atau perintah diberikan secara nyata/fisik, bukan melalui mimpi atau cara-cara non fisik.

  • Peristiwa isra mi’raj dilakukan secara fisik

  • Zikir memerlukan seorang guru atau mursyid

  • Zikrullah melalui seorang Syekh yang telah diotorisasi akan memberikan rasa

  • Kisah seorang raja dan budak yang bijaksana

  • Orang yang tawaduk dicintai Allah

  • Anak yang dibesarkan dalam kepatuhan kepada Allah akan mendapat naungan Allah di Hari Kiamat

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *