Hijrah

ketika Rosulullah SAW harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayyidina Abu Bakar orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping Beliau dalam perjalanan menuju ke Madinah. Sayyidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan “Penuh Adab yang Bersungguh”, di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rosulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro (baca : tak sedikitpun) complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang (katanya menuju) Madinah, lha kok ngidul (kenapa lewat Tenggara). Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rosulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yang menjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang. Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rosulullah, karena di hati Beliau ada “CINTA” dan PERCAYA” dan sesuatu yang tidak lagi perlu “TAWAR MENAWAR”. Rosulullah, Al Amin, tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai. Pribadinya begitu rupa menimbulkan ‘desire’, suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk dijelaskan.

Beliau berjalan, dan Sayyidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, agak 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayyidina Abu Bakar sadar. “Ooo … mau istirahat ke Jabal/Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rosulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayyidina Abu Bakar, with no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Islam adalah tuntunan dari Allah Ta’ala. Pertama-tama kita bukan ‘ngerti’. Pertama yang harus kita buat adalah Cinta, menghargai, kesediaan mematuhi dengan sangka baik. Tanpa kaca mata tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi “The Matter of Transaction”, tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rosulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan “Oooo …Rosulullah mau istirahat di Gua Tsur.” Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan digunung, pasti ada ular berbisanya. Itu ‘Reason’, pikiran digunakan sesudah Cinta, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang Well Enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (pikiran liar), yang bisa bertingkah macam-macam menimbulkan problem. Beliau Abu Bakar kemudian mendekati Rosulullah “Kasih aku kesempatan masuk. Rosulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayyidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3 orang, Pak Joko, Pak Amin dan saya (Syaikh Mustafa), barangkali sudah kruntelan disitu, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayyidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang disitu. Beliau buka slippernya/ sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rosulullah. Beliau tidak mau Rosulullah digigit ular. Akhirnya kakinya di catel, digigit oleh ular. Kemudian Beliau bilang, Silakan Masuk Rosulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon. Rosul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rosulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rosulullah. “Nangis kamu, kata Rosulullah.” “Tidak, jawab Abu Bakar, kakiku digigit ular.” There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rosulullah membentak si Ular “ Hai…Tahu nggak kamu, jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, bulunya pun haram sama kau.” Dialog Rosulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar As Shidiq, berkat mukjizat Beliau. Jawab si Ular “Ya aku ngerti kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan “Barang siapa memandang kekasihKu-Muhammad- fi ainil mahabbah / dengan mata kecintaan”, Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga. Kata Ular “ Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. Aku (ular) ingin memandang wajah kekasihMu fi ainal mahabbah. Jawab Allah “ Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya. Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu kamu, ya Muhammad. “Lihatlah, ini lihatlah wajahku, kata Rosulullah.” Ular itu memandang Rosulullah dengan penuh kecintaan, sesudah itu matilah dia. Datang ajalnya yang ma’tub, meninggal dengan sempurna. Ular itu telah mendahului kita untuk menyimpan rindu untuk bertemu Rosulullah ribuan tahun yang lalu. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan “Assalamu’alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah”. Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rosulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akherat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi ‘abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita.

 

sumber : https://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg05038.html

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *