hukum shalat jum’at bagi wanita

 

  1. 1.     haram untuk shalat 

Assalamualaikum Wr.Wb

Habibana yang saya muliakan,semoga limpahan keridhaan Allah SWT selalu terlimpah atas habibana,keluarga dan para penegak Majlis Rasulullah SAW.

Ana ingin bertanya,ana baca di sebuah website bahwasanya di haramkan untuk shalat pada pukul 6 pagi sampai pukul 8 pagi,yang jadi permasalahan bagi saya kan di waktu tersebut ada yang namanya shalat israk lalu gimana hukumnya shalat tersebut.
walafu apabila ada pertanyaan ana yang salah,karena memang ana sangat minim pengetahuannya tentang agama,oleh karenanya ana memohon bimbingan dari habibana.

Wassalamualaikum Wr.Wb

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan rahmat Nya semoga selalu tercurah pada anda dan keluarga,

saudaraku, mengenai shalat Isyraq adalah kira kira 110 menit setelah adzan subuh, (1jam + 50 menit) berikhtilaf para fuqaha sahabat mengenai keberadaannya, ada dua pendapat, pendapat yg mengatakan shalat Isyraq adalah shalat dhuha dan diwaktu dhuha, pendapat kedua berpendapat shalat Isyraq adalah diwaktu Isyraq, dan Madzhab Syafii mengambil pendapat kedua, bahkan kita dan Guru Mulia kita mempunyai sanad kepada Nabi saw untuk shalat isyraq.

pendapat ini berpendapat bahwa memang diharamkan sujud atau shalat sunnah diwaktu selesai subuh hingga waktu dhuha, terkecuali shalat Isyraq, karena telah didasari nash hadits yg jelas.

demikian saudaraku,

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 2.     hukum shalat jum’at bagi wanita 

assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

shalawat serta salam semoga selalau tercurah limpah kepada baginda nabi Muhammad SWA , semoga habib yg di mulyakan oleh seluruh jamaah Majelis Rasulullah beserta keluarga selalu di rahmati oleh Allah SWT . amin

maaf kan saya bib klw saya banyak bertanya mudah mudahan ini dapat menolong diri saya yang di liputi oleh kebodohan . dan mudah – mudahan segala ilmu yg habib berikan pada saya membawa keberkahan dalam hidup saya .

bib saya ada pertanyaan lagi nih ?
1. apakah hukum nya sahalat jum’at bagi wanita boleh , sunah atau wajib ? trus ada yg bilang sunah mu’akadah jadi nggak perlu melakukan shalat dzuhur lagi , ada yg bilang boleh – boleh saja tapi tetap harus melaksanakan shalat jum’at karena shalat jum’at itu hanya untuk kaum laki – laki saja . mohon penjelasannya duhai habib

2 . untuk batasan aurat bagi wanita pada bagian tangan pada saat shalat , apakah bagian atas telapak tangan atau punggung tangan boleh terlihat . mohon penjelasan nya habib yg saya mulyakan

wassalam

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya kemuliaan semoga selalu menerangi hari hari anda dan keluarga,

saudaraku yg kumuliakan,
1. shalat jum’at bagi wanita hukumnya sunnah. dan bila mereka melakukannya maka tak perlu melakukan shalat dhuhur lagi sesudahnya

2 . untuk batasan aurat bagi wanita pada bagian tangan pada saat shalat bagian atas telapak tangan dan punggung tangan bukan aurat.

demikian saudaraku yg kumuliakan.

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 3.     tata cara shalat 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Shalawat dan salam tercurah atas Nabi Besar Muhammad bin Abdillah SAW, beserta para pewaris risalah yang mulia.. wabil khusus Hbb Umar dan Hbb Mundzir..

Bib, ana mau tanya tentang gerakan tangan ketika i’tidal yang seperti “menyapukan angin ke arah badan” seperti ketika mengamini doa. Bagaimanakah keterangan tentang hal tersebut bib ??

Ana juga aa masukan nih bib, bagaimana kalau di web ini ada satu bagian yang menerangkan tentang fiqih shalat. Karena ana selama ini berpikir apakah cara shalat ana sudah benar atau belum ?
Tapi habib updatenya tidak usah cepat-cepat tidak apa-apa, karena saya yakin habib sibuk sekali…. namun alangkah bagusnya kalau nanti selesai juga bisa habib jadikan buku panduan shalat 😀

masykur bib..
Wassalam

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan keluhuran semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan, mngenai gerakan i’tidal itu adalah kembali kepada posisi sebelum ruku, sebagaimana posisi sebelum ruku adalah berdiri tegak dg membaca alfatihah dan surat, lalu mengangkat kedua tangan dan mensejajarkan kedua ibu jari dengan kedua telinga dan menghadapkan telapak tangan kearah kiblat seraya brtakbir untuk ruku’, lalu setelah ruku’ ia kembali seperti posisinya itu yaitu mensejajarkan kedua ibu jari di samping telinga dan menghadapkan kedua telapak tangan kekiblat, untuk kemudian bersujud.
demikianlah yg diperbuat oleh Beliau saw, dan berpegang pada hadits beliau saw : shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat.

ada pendapat para fuqaha bahwa gerakan itu menandakan taslim (lambang penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah).

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 4.     ADZAN dan SUARA IMAM 

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Semoga Habib dan Keluarga selalu diberikan limpahan Rahmat-Nya, Karunia, dan Kesehatan , serta Kesempatan. ( Amiiin yaa Robbal ‘almin )

Begini Bib ana mau sharing sedikit, kali ini mengenai tentang suara adzan , yang mau ana tanyakan disini adalah Apakah ada sedikit perbedaan antara suara adzan baik itu(volume., nada , intonasi panjang- pendeknya, dan lain-lain ) di waktu-waktu sholat 5 waktu , jika ada mohon dijelaskan ya Bib.

Yang ke-2 ana mau nanya, nih !!! Kenapa pada waktu sholat dzuhur dan ashar suara imam tak boleh dikeraskan Bib , mohon sedikit dijelaskan ya Bib mengenai hal itu ????

Sekian pertanyaan dari ana , jazakumullah khairan katsiran,

Wabillahit taufiq wal hidayah wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Limpahan kasih sayang Nya semeoga selalu tercurah pada anda dan keluarga,

saudaraku yg kumuliakan,
adzan bila untuk sendiri maka disyaratkan hanya terdengar oleh dirinya sendiri, bila ia mengeraskannya maka sunnah, namun adzan untuk umum maka disyaratkan dengan suara keras, dan intonasi nada yg sangat panjang makruh hukumnya.

shalat jahriyyah (Isya, magrib, Subuh) memang dibedakan dari shalat sirriyyah (dhuhur dan ashar), karena bacaan suratnya dikeraskan bagi wktu jahriyyah dan disembunyikan saat sirriyyah, awal muasalnya adalah ketika kewajiban shalat di makkah, orang2 qureisy akan mencelakakan Rasul saw dan semua muslimin yg shalat bila mereka mendengar, maka diperintahkan untuk menyembunyikan suaranya, namun disaat subuh, magrhib dan isya, mereka sudah tidak lagi berkeliaran di jalan jalan, maka diperintahkan shalat mengeraskan suara.
ini hikmah munculnya bacaan sirriyyah dan jahriyyah, dan hal ini diteruskan oleh rasul saw dan tak merubahnya saat beliau di Madinah, maka sahabatpun tak ada pula yg merubahnya hingga wafatnya Rasul saw, dan dfiteruskan hingga kini.

demikian saudaraku yg kumuliakan

wallahu ‘lam

 

 

 

  1. 5.     khotib yang tidak tumaninah

assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada junjungan nabi Muhamad S AW
semoga habib beserta keluarga selalau di rahmati oleh ALLAH , amin

Habib Munzir yg saya mulyakan , Bib ane mau tanya nih bib guru saya dulu pernah menerangkan bahwasannya 2 khutbah itu adalah pengganti 2rakaat shalat , lalu dia menerangkan bahwasannya apabila khotib pada saat membacakan khutbah itu mengangkat tangan nya seperti orang ceramah biasa , itu adalah makruh besar , dan guru saya menyarankan agar kita shalat dzuhur sebagai tanda usaha kita . menurut habib gimana tuh bib

semoga ilmu yg telah habib berikan kepada kami menjadi salah satu jalan keberkahan bagi umat islam , amin

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarkatuh,

Limpahan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

maaf jawaban saya terlambat menjawab karena hari hari ini saya sangat sibuk berhubungan kedatangan guru mulia.

mengenai 2 khutbah itu bukanlah pengganti dua rakaat, tapi bahwa Rasul saw melakukannya demikian sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari hadits no.886, mengenai apakah itu pengganti 2 rakaat atau bukan itu adalah kias dari para ulama,

mengenai khatib yg banyak bergerak, memang merupakan hal yg makruh oleh sebagian ulama syafii, namun sesekali tidak membatalkan khutbah, maka tidak sepantasnya hal yg makruh merujuk untuk melakukan shalat dhuhur setelah jum’at,

karena dhuhur selepas jum’at hanyalah dilakukan bila khatib atau dalam pelaksanaan jumat itu terjadi hal hal yg membatalkan jum’at, misalnya risau kalau jumlah hadirin dibawah 40 orang penduduk setempat, atau hal hal lain yg dirisaukan dapat membatalkan jumat, maka sebaiknya dilakukan shalat dhuhur untuk ihtiyath,

dan shalat dhuhur setelah jum’at menjadi wajib bila jelas jelas terjadi hal hal yg membatalkan sarat sah jumat, misalnya Khotib tak bershalawat pada nabi saw, atau tak mewasiatkan takwa, atau hal hal yg membatalkan sah nya jumat.

namun tak ada alasan untuk melakukan shalat dhuhur bila khotib berbuat hal yg makruh.

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 6.     batal ketika sholat ied – 2007/02/02 21:02Assalamualaikum,

    Bieb, saya mau tanya…
    bagaimana jika kita menjadi masbuk dalam sholat ied? apakah saya harus mengejar sisa takbir dalam sholat ?
    Bila saya batal ditengah sholat, apakah saya melakukan sholat sendiri ?
    Mohon penjelasannya…
    Wassalam,

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarkatuh,

Limpahan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

maaf jawaban saya terlambat menjawab karena hari hari ini saya sangat sibuk berhubungan kedatangan guru mulia.

saudaraku, mengenai shalat ied bi9la anda masbuq maka tidak perlu menambah takbir pada rakaat kedua untuk meng qadha takbir, dan pula bila anda batal dalam shalat ied itu maka boleh mengulangnya sendiri, karena shalat ied boleh dilakukan sendiri, tidak wajib berjamaah.

demikian saudaraku yg kumuliakan,

wallahu a’lam

 

 

 

  1. 7.     Sholat Sunah padahal ada qodho Solat Fardu 

Assalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokaatuh..
Habib.. saya mau tanya apakah kita boleh mengerjakan sholat sunah padahal kita punya qodho sholat wajib ?

Catatan :
Qodho yang saya maksudkan disini adalah qodho sholat yang dulu², dalam arti dulunya saya adalah orang yang meninggalkan sholat.
tapi sekarang saya sadar bahwa meninggalkan sholat itu bukan ciri orang yang beriman dan merupakan dosa besar.

Mohon pencerahannya dari habib, sebab saya sudah pernah bertanya kepada beberapa ustadz jawabannya berbeda², tapi saya pernah baca buku Taudhilul Adillah karangan dari Al-Magfurlah Hadrotussyaikh Buya KH.M Syafi’i Hadzami disitu beliau menerangkan beberapa dalil yang menyebutkan bahwa hutang kepada alloh itu wajib dibayar.
Dan ada qoul yang mengatakan dalam keterangan itu bahwa haram melakukan pekerjaan sunah karena berarti kita memperhatikan yang rendah dari pada yang tinggi

Sekali lagi saya mohon maaf bila ada keterangan pertanyaan saya yang salah
wassalam

 

 

HABIB Munzir menjawab :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

limpahan kelembutan Nya dan kebahagiaan semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
memang pendapat jumhur adalah Qadha Fauran (segera di Qadha secara keseluruhan), namun tentunya bila shalat yg ditinggalkan itu banyak akan sangat menyulitkan untuk mengqadha nya secara keseluruhan, apalagi bila bertahun tahun misalnya,

ada Qaul bahwa bila ia bertobat dengan sungguh sungguh, dan tak lagi meninggalkan shalatnya maka Allah mengampuni shalat2nya yg telah lama ia lewatkan,

namun pendapat ini lemah, maka jalan tengah antara keduanya adalah :

wajib meng qadha shalat yg kita tinggalkan, namun boleh kapan saja, misalnya suatu saat kita ingin shalat sunnah maka boleh boleh saja, suatu saat ingin mengqadha shalatnya maka boleh saja meninggalkan shalat sunnahnya,

tak ada larangan untuk tak boleh shalat sunnah, karena larangan itu adalah bila kita meninggalkan shalat sedikit, misalnya kita tak shalat dhuhur hari ini dengan sengaja, maka wajib mengqadha nya saat ini sebelum kita melakukan shalat sunnah, namun bila shalat yg ditinggalkan berminggu minggu dan puluhan banyaknya atau bahkan ratusan.., maka sungguh Rasul saw tak menyukai kesulitan dan pemaksaan diri atas ummatnya saw.

ketika mengadu seorang sahabat pada beliau seraya berkata : wahai Rasulullah saw.., sungguh aku tak sempat mengerjakan aktifitasku gara gara imam yg membaca surat panjang dalam shalatnya”, maka rasul saw murka, hingga diriwayatkan belum pernah Rasul saw ceramah dg kemurkaan seperti saat itu, seraya bersabda : “sungguh ada diantara kalian ini Munaffirin..!! (orang yg membuat ummat meninggalkan dari syariah), bila kalian menjadi imam maka ringankanlah, sungguh diantara kalian ada orang tua renta, ada yg sakit, ada yg punya hajat..!” (shahih Bukhari).

demikian Rasul saw menjaga ummatnya agar selalu dalam hal yg asri dan mudah, tentunya bukan meremehkan,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a’lam

 

 

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *