Implementasi kurikulum 2013

Sekedar urun rembuk saja, mungkin bisa dianggap omdo, tetapi saya harap ada manfaat yang dapat diambil.

Mengapa kurikulum baru K13 gagal? he3x jawabnya simpel, mengapa pakai angka 13? angka itu terkenal sial di dunia, kalau saja pelaksanaannya nunggu 2017  mungkin akan lebih berhasil ………. he3x …….. bercanda …… apa benar ya?

BTW

Dalam berita dikatakan bahwa Menteri yang sebelumnya, M. Nuh menjelaskan bahwa kurikulum 2013 terinspirasi oleh suatu kesempatan dimana beliau menunaikan umroh tahun 2006. “Dalam perjalanan ke Madinah saya menyempatkan mengaji. Pada saat itu saya menemukan surat yang menerangkan tentang tilawah, tazkiyah dan ta’alim ini, saya baca berulang-ulang surat ini. Saya pikir inilah yang saya cari-cari selama ini,” jelas Nuh.

yang kemudian ditafsirkan dengan

KI satu = spiritual dari tazkiyah

KI dua = sikap dari tazkiyah

KI tiga = pengetahuan dari tilawah

KI empat = ketrampilan dari ta’lim

konsep dasar tazkiyah (pembersihan hati), ta’lim (pembelajaran) dan tilawah (pengkajian) memang sangat revolusioner bagi sistem pendidikan formal kita, walaupun kalau mau jujur konsep tersebut sudah jauh dilaksanakan oleh pesantren-pesantren salaf dimana pembelajarannya telah bertahan dari generasi ke generasi lamanya. (mungkin ini juga masukan bagi pemerhati pendidikan, studi banding ndak perlu jauh-jauh plus menghabiskan anggaran, dan akan lebih bermanfaat studi banding kepada ulama-ulama “khos” yang telah mempertahankan konsep pendidikan tersebut tanpa melupakan perkembangan zaman)

Jika ingin mengadakan revolusi pendidikan, menurut saya, hendaknya dimulai dengan pendidikan calon guru yang ada pada perguruan tinggi, disanalah tempat guru dicetak.

bagaimana dapat mencetak peserta didik yang miliki sikap baik, bila calon gurunya diajarkan berdemo sambil teriak-teriak? bagaimana mencetak peserta didik yang memiliki spiritual yang baik, bila calon guru belajar debat dan tidak bersyukur?

akan lebih indah bila untuk mengajarkan tazkiyah kepada mahasiswa calon guru, dengan memasukkannya dalam pembimbing spiritual, seorang mursyid, dan sebisa mungkin masuk ke bilik suluk beliau yaitu camp training intensif dalam bimbingan mursyid (guru sipritual/ulama “khos”) selama beberapa waktu. sebelum nantinya dilepas ke masyarakat.

mau bilang wah ini pemaksaan agama? promosi agama tertentu? bukankah Indonesia sebagian masyarakatnya adalah beragama islam? dan lagian seorang mursyid bukanlah seperti kyai/ulama biasa yang memasukkan doktrin-doktrin agama. fokus mereka adalah  bagaimana orang dapat berhati baik dan bermanfaat bagi masyarakat dan ini bersifat universal.

dan untuk ta’lim, hal yang harus ditanamkan kepada calon guru dan peserta didik, adalah belajar untuk menghormati orang tua dan guru serta orang lain. ini cocok juga dengan “gerakan hormati guru” oleh bapak anies. karena modal dasar dari penghormatan itu akan menjadikan mau mengamati dan mencontoh yang kemudian mengembangkan menjadi yang lebih baik bila tazkiyahnya sudah jalan. dengan lebih banyak menghormati banyak orang, maka akan banyak contoh-contoh, hikmah-hikmah , ketrampilan produk maupun hidup yang akan didapat.

kemudian tilawah akan berhasil apabila tazkiyah dan ta’lim berjalan dengan baik. hingga yang timbul adalah diskusi, bukannya debat seperti yang marak belakangan ini. apa bedanya? bila debat tujuannya adalah untuk mencari pemenang atau hanya pengisi waktu untuk memperoleh keuntungan dari situ, makanya ada pro dan kontra. sedangkan diskusi adalah kajian keilmuan berdasarkan keilmuan untuk mencari kebenaran atau solusi tertentu yang disepakati. Hingga dengan diskusi maka akan keluar ilmu-ilmu yang tersembunyi dan pendiskusi akan dapat legowo menerima kesalahan dan mau merubah pendapatnya sesuai dengan kebenaran dan kebaikan yang terungkap dalam diskusi, hati yang bersih dan saling menghormati adalah dasarnya.  dengan ini maka ilmu akan lebih cepat berkembang.

Kalau pendidikan revolusioner dikatakan harus dilimpahkan kepada peserta didik, maka menurut saya, yang harus lebih dahulu adalah yang lebih dahulu dari peserta didik, yaitu konseptor pendidikan, calon guru dan calon orang tua. Karena peserta didik adalah hasil karya mereka.

kemudian bagaimana dengan pendidikan yang terlanjur ini????

PR besar bagi konseptor atau pemegang kebijakan.  mereka harus mulai belajar tazkiyah dengan datang kepada para ulama “khos”, para mursyid. diIndonesia ada JATMAN sebagai rujukan awal (saran). belajar ta’lim dengan blusukan keseluruh plosok desa dengan mencoba belajar mengajar disana serta menebarkan sedekah (dari uang pribadi dan perjalanan, sebagai contoh) untuk mengetahui kondisi real di masyarakat dan merumuskan ketrampilan dan standar pendidikan nasional, hingga tidak memaksa sekolah “curang”. dan belajar tilawah dengan berdiskusi dengan para pakar pendidikan yang telah kuat tazkiyah dan ta’limnya agar konsep pendidikan bukan hanya wacana tetapi dapat real terlaksana dengan baik.

Setelah tercipta kebijakan, maka sosialisasi kepada guru dan orang tua, kemudian persiapannya dan pelaksanaannya dalam proses belajar mengajar di sekolah.

but, menurut saya yang paling utamanya utama adalah bagaimana pemegang kebijakan, guru dan peserta didik dekat kepada para ahli tazkiyah yaitu para mursyid yang sesungguhnya.

salam pendidikan.

maaf atas carutan tulisan ini.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *