Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim

Oleh: Ust. Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita.

Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali Ra dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu’an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud (HR Ibnu ‘Asyakir dari Jabir RA)

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar Ra, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggung-jawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah SAW telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang “ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu.

Rasulullah SAW menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita.

Pertama

Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan.

Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama’ah/ Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat.

Kedua

Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu’an.

Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah SAW dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bjji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah SWT. Disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi.” (HR. Abu Ya’la)

Karena sifat ini jugalah maka ‘azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah SWT dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit?

Dikatakan dalam sebuah syair:

Tawadu’ lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi

Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga

Orang tawadhu’ ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.

Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu’an.

Ketiga

Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian).

Rasulullah SAW bergelar Al-Mu’allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.

Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Keempat

Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas.

Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah SWT. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi SAW. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah SWT.

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia.

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah SWT sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah SWT melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah SWT. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka.

Kelima

Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud.

Rasulullah adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah SAW mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya.

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah SAW kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita?

Demikianlah Rasulullah SAW mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah SAW akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90)

 

Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy via habaib.net

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *