Jihad, antara sunnah nabi dan agenda iblis

Seorang Ulama pernah bertemu dengan seorang pemuda yang berpaham radikal.

kemudian Ia pun bertanya,

“Hai anak muda, jika kau melihat orang yang melanggar syariat Allah dan berbeda pandangan dengamu, apa yang kau lakukan?”

“Aku akan membunuhnya !” jawabnya.

“Setelah kau bunuh, mereka akan kemana?” tanya ulama’ tersebut.
“Jelas mereka akan masuk neraka !” jawabnya.

“Berarti kau telah membantu mensukseskan agenda Iblis yang ingin memenuhi neraka dengan anak Adam. Dan aku melihat kau berbeda dengan junjungan kita, Nabi Muhammad saw.” beliau menjelaskan.

“Apanya yang berbeda? Bukankah aku sedang memperjuangkan kebenaran dan syariat Allah?” bantah pemuda itu.

“Aku pernah membaca dalam sebuah riwayat, saat Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya, ada rombongan yang mengantar jenazah seorang yahudi lewat dihadapan beliau. Seketika Rasul berdiri melihat jenazah tersebut sambil menangis. Para sahabat pun bertanya kenapa beliau menangisi jenazah seorang yahudi. Rasul pun menjawab bahwa ia bersedih karena masih ada jiwa yang belum beliau selamatkan menuju surga.”

Kisah ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa ajaran Islam adalah menyelamatkan orang yang berada dalam jalan yang salah, bukan membunuh yang berbeda dan mengantarkannya ke neraka.
Melalui kisah ini kita dapat mengetahui siapa yang ingin memperjuangkan sunnah Nabi dan siapa yang ingin mensukseskan agenda Iblis.

Dalam satu kisah, Sayyidina Ali diberi bendera untuk keluar berperang dan dipesan untuk berjalan dengan tidak menoleh ke belakang lagi. Ketika berjalan, Sayyidina Ali berhenti bertanya tanpa menoleh ke belakang; “Ya Rasulullah, Atas dasar apa saya perangi mereka?” Yakni matlamat jihad bukan untuk membunuh, sekadar melawan orang yang menghalang tersebarnya agama Allah سبحانه و تعالى. Jawab Rasulullah ﷺ; “Perangilah mereka sehingga mereka mengucapkan Lailahaillallah.”

Diriwayatkan ketika berperang seorang musuh telah jatuh di hadapan Sayyidina Ali. Baginda pun ingin membunuhnya tetapi si kafir itu meludah mukanya. Sayyidina Ali lalu meninggalkan lelaki itu. Beliau sebenarnya takut niatnya membunuh kafir itu bukan lagi kerana Allah سبحانه و تعالى tapi mungkin karena nafsu marahnya karena diludahi. Beliau tidak ingin pedangnya digunakan kecuali untuk tujuan Allah سبحانه و تعالى.”

Bila ada dasar emosi dan nafsu bermain kepada nafsu orang yang berjihad, kena berhati-hati karena jangan sampai mengorbankan nyawanya, tapi tiada nilai apa-apa di sisi Allah سبحانه و تعالى. Jihad adalah kerana Allah سبحانه و تعالى, dan tidak boleh dilakukan kerana mengikut emosi atau karena semangat Asobiyah.”

Pesan Rasulullah ﷺ lagi kepada Sayyidina Ali ketika memegang bendera; “Dengan sebab engkau menjadi hidayah kepada walaupun satu orang adalah lebih baik daripada engkau mendapatkan dunia dan seisinya. Matlamat agama ini ialah memberi hidayah, dan bukannya membunuh kepada sesiapa saja.” Ini pesan terakhir Nabi ﷺ sebelum Sayyidina Ali keluar ke Perang Khaibar. Ini daripada perang dan jihad yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.”

Allah A’lam

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *