Karomah Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Kekaromahan Syekh Abdul Qodir Al Jilani ialah pakaiannya yang tdak pernah dihinggapi lalat, karena mewarisi eyangnya yaitu Nabi Muhammad saw. Maka ditanyakan kepadanya lantaran apa yang menyebabkan? Maka Syekh Abdul Qodir AL Jilani menjawab “untuk apa lalat higgap pada diriku, yang pada diriku tidak ada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan madunya akhirat (melaikan hanya semata-mata ikhlas karena Allah)

Dari sebagian karamahnya ialah “Suatu ketika beliau duduk mengambil Air wudlu, kemudian kejatuhan kotoran burung, lalu beliau mengangkat kepalanya, maka jatuhlah burung itu dan mati. Kemudian beliau melepas pakaiannya (untuk dicuci) lalu disedekahkan sebagai tebusan atas burung tadi. Dan beliau berkata “bila pada saya ada dosa, maka itulah sebagai tebusannya”

Dan diantara kekaromahannya lagi adalah ada seorang perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya untuk diserahkan kepada beliau agar menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Kemudian beliau menyuruh sang putra tadi memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukkan ulama-ulama salaf. SUatu hari ibunya datang menghadap beliau, dilihat anaknya menjadi kurus dan dilihatnya ia sedang makan roti, kemudian si ibu masuk ke kamar Syekh Abdul Qodir Al Jilani dan ia melihat didepannya tulang-tulang ayam dari sisa makanan Syekh Abdul Qodir Al Jilani. Maka ibu tadi menanyakan tentang arti semua itu. Syekh Abdul Qodir Al Jilani kemudian meletakkan tangannya di atas tulang-tulang ayam tadi sambil berkata “berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur”, maka berdirilah tulang-tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLH SYEKH ABDUL QODIR WALIYULLAH” (tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rosul Allah dan Syekh Abdul QOdir adalah salah seorang wali Allah), maka beliau berkata kepada si ibu “kalau anakmu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya”

Diantara kekaromahannnya lagi ialah: pada suatu hari ketika angina sedang berhembus kencang, ada seekor burung elang di atas majelis pengajian beliau dengan suara keras sehingga mengganggu orang-orang yang hadir di majelis itu. Maka beliau berkata “wahai angina, potonglah kepala burung itu”, maka seketika jatuhlah burung itu dalam keadaan terputus kepalanya. Kemudian beliau turun dari kursinya mengambil burung tadi dan mengelus-elusnya dengan membaca “Bismillahirrohmanirrohim”, maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi dengan izin Allah Ta’ala dan orang-orang yang hadir di majelis itu menyaksikan kejadian itu”

Diantara karomahnya lagi adalah bahwa Syekh Abu Umar Usman Ah Shoirafi dan Syekh Abu Muhammad Abdul Haqqi AL Harimy rahimahullah ta’ala berkata “kami pernah berdampingan dengan syekh Abdul Qodir Al Jilani berada di madrasahnya pada hari ahad tanggal 3 Shafar 555 H. Beliau berwudlu dengan klompennya lalu sholat dua roka’at, setelah salam beliau berteriak sekeras-kerasnya seraya melempar klompennya yang satu sejauh-jauhnya ke udara sampai tidak Nampak dari pandangan kami. Kemudian melakukan lagi seperti itu untuk kedua kalinya dengan kelompen yang satunya. Kemudian duduk dan tidak ada seorangpun yang berani menanyakan kejadian itu. Setelah dua puluh tiga hari dari kejadian itu, datanglah serombongan musafir dari luar negeri. Mereka berkata “kami mempunyai nadzar kepada Syekh Abdul Qodir AL Jilani, maka kami mohon diizinkan untuk menghadap beliau. Maka beliau berkata kepada kami berdua “ambillah nadzar yang dibawa mereka” kemudian mereka memberikan barang nadzarnya berupa emas, pakaian sutra, pakaian berbulu sutra dan kelompen milik Syekh Abdul QOdir Al Jilani. Maka kami bertanya kepada mereka, apa yang terjadi? Lalu mereka bercerita “pada hari Ahad tanggal 3 Shafar yang lalu kami dalam perjalanan, tiba-tiba ada serombongan manusia yang dipimpin dua orang. Mereka merampok harta kami dan kami akhirnya turun ke jurang, lalu kami berunding “ sekarang lebih baik kita berwasilah kepada Syekh Abdul Qodir AL Jilani, apabila kita selamat, dan harta kami yang terampas bisa kembali, maka kami bernadzar karena Allah, akan memberikan sebagian harta kami kepada Syekh Abdul QOdir Al Jilani”. Ternyata nadzar kami dikabulkan oleh Allah, tidak lama kemudian kami mendengar suara yang sangat keras sampai dua kali yang memekakkan telinga, berdesing memenuhi jurang, sampai kami melihat mereka lemas lunglai, gemetar ketakutan. Kami menduga mungkin ada perampok lain yang merebut hasil rampasan mereka. Tiba-tiba diantara mereka ada yang mendatangi kami dan berkata”kemarilah kalian, ambillah kembali hartamu dan periksalah apa yang membingungkan kami” kemudian mereka membawa kami kepada kedua pemimpinnya, ternyata kami dapatkan mereka berdua telah meninggal dan disampingnya masing-masing terdapatklompen yang masih basah dengan air. Dengan kejadian itu yang lain menjadi ketakutan sehingga harta yang dirampasnya dikembalikan kepada kami, sambil mereka mengatakan kepada kami “peristiwa  ini menggemparkan dan tidak pernah terjadi sebelumnya”

Dan diantara kekaromahan beliau lagi adalah pernah seorang laki-laki dari kota Asfihan berkunjung kepada beliau untuk mengobatkan seorang budak perempuannya yang sudah dimerdekakan, karena sering tidak sadarkan diri, dan sudah berobat ke mana-mana. Maka Syekh Abdul Qodir Al Jilani berkata “Budakmu ini diganggu jin dari lembah Sorondib, namanya jin Khonis. Apabila tidak sadar lagi, maka bacakan di telinganya “hai Jin Khonis, Syekh Abdul QOdir AL Jilani yang tinggal di Baghdad mengatakan kepadamu “jangan kembali (mengganggu lagi) jika kamu kembali, maka kamu pasti akan binasa” kemudian laki-laki Asfihan itu pulang dan tidak muncul lagi selama dua puluh tahun laman, kemudiian laki-laki itu datang lagi menghadap Syekh Abdul Qodir Al Jilani dan setelah ditanya ia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Syekh Abdul Qodir Al Jilani sudah dilaksnakan dan penyakit itu sudah tidak pernah kambuh lagi sampai sekarang. Sebagain tabib ahli jiwa mengatakan “selama kami menetap di Baghdad empat puluh tahun, ketika Syekh Abdul Qodir Al Jailani masih hidup, di bagdad tidak pernah terjadi seorangpun yang menderita sakit jiwa, Setelah beliau wafat maka terjangkitlah penyakit jia itu.”

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *