Kenapa Harus Nahdhatul Ulama?

Dalam khazanah ke-Islaman, meringkas suatu perkara itu lebih disukai. Contohnya Mbah Hamid Pasuruan yang meringkas kitab Sulam At-Taufiq menjadi nadzom2, atau gampangnya lagi Al-Qur’an yang meringkas semua ajaran dari Nabi Adam AS sampai Nabi Isa AS, sekaligus penyempurna tentunya. Hal ini sangat penting, karena manusia itu terkenal makhluk yang rewel, lebih rewel daripada mercon. Manusia itu cenderung menyukai sesuatu yang tipis tapi padat, kurus tapi berisi, ringan tapi berbobot.

Suatu perkara apapun, bagi manusia, kalau bertele-tele pasti terasa membosankan dan terkesan membuang waktu. Itu yang kadang-kadang orang lupa, mentang-mentang ustadz, lalu memperpanjang khotbah. Atau yang sering di TV, mentang-mentang sinetronnya laris manis, episodenya diperpanjang dengan cerita yang bertele-tele, jadinya membosankan.

Namun ada kalanya sesuatu yang ringkas itu, terutama dalam hal beragama, mengandung pertanyaan, karena manusia itu ada yang butuh penjelasan baru paham. Itulah rewelnya manusia. Tapi itu tidak mengapa, malah jadi keuntungan, dengan begitu manusia jadi terdorong untuk mencari tahu, sehingga manusia menuntut dirinya sendiri untuk menghampiri para ulama. Dengan begitu kehidupan beragama pun hidup.

Bicara soal ringkas-meringkas, mungkin di sini ada yang penasaran, mengapa nama Nahdlatul Ulama itu namanya “Nahdlatul Ulama”? Ada anekdot mengenai hal tersebut dan ini kejadian nyata.

Suatu hari Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH. Maman Imanulhaq mendapatkan pertanyaan yang cukup menohok. Si penanya mengkritik tentang penamaan organisasi “Nahdlatul Ulama”, karena nama ini dianggapnya terbatas untuk kalangan ulama.
“Kenapa namanya harus Nahdlatul Ulama? bukankah itu artinya kebangkitan ulama? Jadi kalau begitu yang bangkitnya ulama saja? Bagaimana nasib yang bukan ulama?”

Tak berhenti sampai di situ, si “penanya” pun memberikan gagasan bahwa nama yang layak adalah bukan Nahdlatul Ulama, melainkan Nahdlatul Muslimin, sebab muslimin menyangkut seluruh umat islam, bukan hanya ulama saja.

Sebelum menjawab dengan serius, Kiai Maman mengawalinya dengan jawaban guyonan.

“Lho… kalau nanti namanya Nahdlatul Muslimin, nama organisasinya akan panjang sekali,” jawab Kiai yang sempat menemani Gus Dur selama kurang lebih enam tahun tersebut

“Maksudnya? Kok namanya bisa panjang?” si penanya tersebut panasaran

“ Ya iya, kalau namanya Nahdlatul Muslimin, tiap muktamar akan ada penambahan nama, muktamar pertama ibu-ibu ingin bergabung dan membentuk muslimat, jadi namanya Nahdlatul Muslimin wal Muslimat. Muktamar selanjutnya ada lagi usulan orang mu`min juga harus dimasukan, jadi namanya Nahdlatul Muslimina wal Muslimat wal Mu`minina wal mu`minat.

“Lalu sebab kita suka kirim doa kepada orang yang sudah meninggal, nah pada muktamar selanjutnya dimasukin lagi al-ahyai minhum walamwat, kan jadi panjang sekali tuh namanya, jadinya Nahdlatul Muslimina wal muslimat wal mu`minina wal mu`minat alahyai minhum wal amwat,” tukas Kiai Maman.

sumber : https://www.facebook.com/groups/ThoriqahSarkubiyah/permalink/1019172084776932/

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *