Makna Kalimat وَسَلِّمْ

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Monday, 13 May 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami’ah Bagian 19
Makna Kalimat وَسَلِّمْ
Senin, 13 Mei 2013

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نَقُولُ التَّحِيَّةُ فِي الصَّلَاةِ وَنُسَمِّي وَيُسَلِّمُ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَسَمِعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَإِنَّكُمْ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَقَدْ سَلَّمْتُمْ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ( صحيح البخاري)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan rahasia kemegahan dalam kerajaan alam semesta sebagai tanda kemuliaanNya, sebagai tanda keluhuranNya, sebagai tanda kesucian dan kewibawaanNya yang muncul pada semua yang ada di langit dan di bumi, di udara, di darat, di atas tanah atau di bawah tanah, yang tidak kesemua itu dapat dipelajari oleh manusia, namun setiap kali manusia mempelajari sebagian kecil dari kesemua itu maka pastilah mereka akan menemukan rahasia yang menakjubkan dalam setiap penciptaan itu. Dimana jika kita dapat mendengar pembicaraan sebutir sel dari jutaan ribu sel yang ada di tubuh kita, niscaya ia akan berkata kepada kita agar kita tidak mempergunakannya dalam perbuatan hina, dan meminta kita untuk mempergunakannya dalam melakukan sesuatu yang luhur.

Namun butiran-butiran sel yang tidak terlihat oleh mata itu tidak Allah perdengarkan ucapan-ucapannya kepada manusia, dan jika manusia mendengar pembicaraan semua butiran sel itu bahkan segala sesuatu yang ada di alam semesta, maka kesemuanya akan menasihati manusia agar meninggalkan kehinaan dan menuju apda keluhuran dan kemuliaan ,meninggalkan kehinaan menuju kesucian, meninggalkan kehinaan menuju budi pekerti yang luhur, menuju kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat, demikianlah tuntunan sang pembawa risalah kedamaian dan kelembutan, makhluk ciptaan Allah Yang paling ramah dan paling berlemah lembut, yang paling berkasih sayang, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia yang paling berlemah lembut kepada siapa pun, baik itu adalah teman atau musuhnya, baik itu adalah orang yang dikenalnya atau tidak dikenal olehnya, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun, dan segala sesuatu ciptaan Allah subhanahu wata’ala.

Sungguh tiada yang lebih bersifat lemah lembut kepada semua makhluk Allah melebihi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala memberikan keluhuran kepada hamba-hambaNya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaih wasallam dimana disebutkan bahwa iman terbagi ke dalam beberapa bagian, dan bagian yang terendah adalah imaathah al adzaa (menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang dari jalan), dan bagian iman yang tertinggi adalah Laa ilaaha illallah. Dimana kalimat luhur Laa ilaaha illallah jika ditimbang dengan semua alam semesta maka ia akan jauh lebih berat, karena kalimat tersebut menampung rahasia keagungan Sang Pencipta alam semesta dari tiada, Yang Maha menciptakan kefanaan dan Maha Menciptakan keabadian, Yang senantiasa menuntun manusia menuju keluhuran dengan perantara hamba-hambaNya yang luhur yang pemimpin mereka adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dapat kita lihat bahwa ibadah yang paling ringan dan mudah adalah yang hal itu merupakan bagian dari iman adalah menyingkirkan suatu hal yang berbahaya di jalan, yang dapat mengganggu orang yang melewatinya, maka perbuatan itu mendatangkan pahala bagi yang mengerjakannya.

Dari hal ini dapat kita fahami bagaimana rahasia kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hambaNya yang berpijar pada perbuatan yang seakan tidak ada artinya yaitu sekedar menyingkirkan sesuatu yang berbahaya di jalan, namun Allah subhanahu wata’ala memandang bahwa orang yang melakukan hal tersebut memiliki sifat yang luhur, sehingga Allah melimpahkan pahala baginya dan mengampuni dosanya. Maka perbuatan baik sekecil apapun mampu menghapus dosa seseorang dengan maaf Allah subhanahu wata’ala. Demikian rahasia kedermawanan Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui bahwa hamba-hambaNya adalah makhluk banyak berbuat dosa, karena jika manusia tidak ada yang berbuat dosa maka untuk apa Allah subhanahu wata’ala memiliki sifat pemaaf pada dzatNya, justru Allah subhanahu wata’ala memilki sifat pemaaf karena Allah mengetahui bahwa manusia selalu berbuat dosa. Namun berbeda antara maaf dari Allah subhanahu wata’ala dan maaf dari makhluk, dimana perbuatan maaf dari makhluk terbatas, sedangkan maaf dari Allah subhanahu wata’ala tidak ada batas dan tidak ada yang menandinginya. Jika seseorang berbuat salah kepada orang lain, maka ia akan segera menjauh darinya untuk menghidari kemurkaannya, namun untuk menghindari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala bukanlah dengan menjauh dariNya akan tetapi dengan mendekat kepadaNya, dimana Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu untuk murka kepada hamba yang berbuat dosa justru Allah berlemah lembut kepada hamba yang berhak mendapat murka Allah, namun ia ingin mendekat kepadaNya. Dimana Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186 )

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. ( QS. Al Baqarah : 186 )

Dan firmanNya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ( الزمر : 53 )

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Az Zumar : 53 )

Sang Maha Mencintai dan Maha lemah lembut adalah Allah subhanahu wata’ala, tiada yang lebih berlemah lebut dan berkasih sayang melebihi Allah subhanahu wata’ala, dan Allah yang menciptakan sifat lemah lembut dan kasih sayang pada makhluk. Maka ketika seseorang telah memahami bahwa cara untuk menghindar dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala adalah dengan mendekat kepadaNya, karena kita selalu berbuat kesalahan, dimana mungkin kita sering mebicarakan keburukan atau aib orang lain, atau menghina orang lain dan perbuatan dosa yang lainnya, maka mendekatlah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan memperbanyak ibadah, baik berupa shalat, shadaqah, ibadah haji atau umrah dan lainnya, bahkan hanya sekedar dengan senyum kepada saudara seiman,

Disebutkan oleh guru mulia kita Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Hafizh dalam kitab Is’aaf Thaalibii Ridhaa Al Khallaq, beliau menukil salah satu hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa menggembirakan saudara seiman adalah lebih baik daripada beri’tikaf selama 20 tahun di masjid An Nabawi di Madinah Al Munawwarah, karena Allah subhanahu wata’ala menyukai hati hamba yang mempunyai sifat baik kepada makhluk yang lainnya, Allah mencintai hamba-hamba yang memiliki sifat-sifat baik, dan semakin seorang hamba memiliki sifat-sifat baik maka Allah subhanahu wata’ala akan semakin mencintai mereka. Sehingga yang layak kita fahami dari hadits yang tadi kita baca adalah agungnya rahasia kesejahteraan (As salaam) yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita untuk membacanya setiap selesai melakukan shalat bagi yang telah diberi taufiq oleh Allah subhanahu wata’ala dalam melakukan shalat, yaitu dengan mengetahui tata cara melakukan shalat dengan benar. Sehingga dalam hal ini As salam, Allah menjadikannya sebagai rukun (fardhu) di dalam shalat. Sebagaimana sayyidina Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Dahulu kami saling bersalam dan mendoakan kesejahteraan untuk sesama di dalam shalat, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar hal itu dan beliau berkata dan memrintahkan kami untuk mengucapkan:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Segala penghormatan hanya milik Allah, dan juga segala shalat dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang hak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”

Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fath Al Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa yang dimaksud hamba-hamba Allah yang shalih adalah mereka adalah para malaikat dan para nabi sebelum kita serta orang-orang shalih yang hidup sebelum kita. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang telah mengucapkan hal tersebut maka sungguh ia telah bersalam (mendoakan kesejahteraan) untuk semua hamba Allah yang shalih yang ada di langit dan bumi, mereka dari golongan malaikat yang di langit atau manusia dan jin yang di bumi. Sehingga kelak di akhirat mereka akan saling bertemu dan saling berterimakasih meskipun sebelumnya di dunia mereka tidak salig mengenal satu sama lain, karena Allah telah menyampaikan salam mereka ketika mereka ucapkan di waktu shalat, sehingga hubungan ruh dan hati tersambung, baik mereka yang kita kenal atau yang tidak kita kenal, baik yang hidupa sezaman dengan kita atau yang tidak sezaman dengan kita, baik mereka adalah dari golongan manusia atau bukan dari golongan manusia. Maka dengan salam tersebut Allah subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai rantai mutiara yang kuat yang tidak bisa dilepas dan dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga seseorang yang melakukan shalat maka ia telah menyambung hubungan baik dengan hamba-hamba yang shalih dengan salam yang mereka ucapkan di saat tasyahhud. Yang mana hal itu akan menjadikan hubungan mereka kelak akrab diantara satu dan lainnya, sebagaimana seseorang yang selalu mendoakan kebaikan untuk orang lain lima kali dalam sehari namun mereka belum pernah mengenal dan belum pernah berjumpa satu sama lain, dan setelah beberapa lama kemudian mereka bertemu, dan orang yang didoakan tersebut mendapat kabar bahwa orang tersebut selalu mendoakan kebaikan untuknya, maka pastilah orang tersebut akan sangat berterima kasih kepadanya dan memberikan sambutan yang sangat baik untuknya. Inilah ikatan kuat yang disambungkan dengan hati atau ruh diantara sesama hamba Allah yang tidak saling mengenal sebelumnya.

Adapun bersalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tasyahhud hal itu adalah menyambung hubungan ruh dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam minimal 9 kali dalam sehari dalam shalat wajib 5 waktu, dan minimal 9 kali juga kita mendoakan kesejahteraan untuk sesame hamba Allah yang shalih, dan tanpa kita sadari kelak kita akan bertemu dengan mereka dan sekelompok dengan mereka, demikian luhurnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian penjelasan ringkas dari kalimat وَسَلِّمْ dalam kitab Ar Risalah Al Jaami’ah.

Kalimat Salaam secara bahasa bermakna kesejahteraan atau keamanan. Adapun dalam istilah kalimat Salaam adalah keamanan atau perlindungan dari segala hal yang mencelakakan, maka ketika seseorang mengucapkan salam berarti ia telah mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang lain. Tuntunan kita dalam Islam adalah kedamaian dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan semua para nabi adalah pembawa kedamaian, mereka bukanlah orang yang bengis atau penguasa yang jahat, meskipun banyak orang yang salah faham bahkan kaum muslimin sendiri banyak yang terjebak dalam pemahaman sesat yang mengatakan bahwa nabi adalah orang yang keras dan bengis, maka sungguh hal tersebut adalah kekeliruan yang sangat besar yang sebagian orang ketahui dari buku-buku sejarah yang diterjemahkan. Dalam masalah ketegasan maka tidak ada yang lebih tegas dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga dengan keberanian maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orang yang pengecut, namun kesemua itu tertutupi oleh sifat lemah lembut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana kita ketahui dari kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diantaranya adalah ketika seseorang berkumpul (berjima’) dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan, yang mana hal itu adalah termasuk dosa besar yang dapat menghapus dosa tersebut diantaranya adalah dengan berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Kemudian orang tersebut datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Sungguh celaka aku, dan aku akan masuk ke dalam api neraka”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apa yang membuatmu berkata demikian?”, ia berkata : “Aku telah berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan maka pastilah aku akan celaka dan masuk neraka”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Berpuasalah selama 2 bulan berturut-turut”, maka orang itu berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah pekerja berat (kuli) sungguh aku tidak mampu untuk melakukan puasa selama 2 bulan berturut-turut”, lalu Rasulullah memerintahnya untuk memberi makan 60 orang miskin, dan ia pun kembali berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang sangat miskin jangankan untuk memberi makan 60 orang miskin, untuk memberi makan keluargaku saja aku masih belum mampu mencukupinya”, dan apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?, padahal hukum sudah jelas mengatakan bahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin, dan tentunya orang yang paling tegas terhadap hukum syariat Islam adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau lah pemimpin para muslimin. Namun karena sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat berlemah lembut, sehingga ketika mendapati orang tersebut tidak mampu melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumah beliau dan mengelurakan sekitar setengah karung kurma dan berkata kepada orang tersebut : “ Berikanlah kurma ini kepada orang yang paling miskin di Madinah Al Munawwarah”, lihatlah kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana orang lain yang berbuat dosa namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menebusnya. Kemudian orang tersebut berkata : “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akulah orang ynag paling miskin di Madinah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika demikian maka kurma itu untukmu”, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi hukum perlu kebijaksanaan, dan jangan kita memandang setiap hukum dari satu pihak dan langsung memutuskannya, namun semua itu harus kita ketahui bagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana ketika seseorang datang kepada sayyidina Umar bin Khattab Ra dan berkata : “Wahai Khalifah Umar, seorang tetanggaku telah mencuri maka potonglah tangannya”, sayyidina Umar berkata : “Apakah betul engkau telah mencuri dari rumah tetanggamu”, orang tersebut berkata : “Iya betul aku telah mencuri”, lantas sayyidina Umar berkata : “Apa yang membuatmu berbuat hal itu?”, maka orang itu menjawab : “Aku sangat merasa lapar dan tidak lagi mampu menahannya”, lantas sayyidina Umar berkata : “Jika demikian maka engkau (yang dicuri) yang akan diberi hukuman”, maka orang yang dicuri menolak dan berkata : “Wahai khalifah mengapa justru aku yang akan dihukum, sedangkan dialah yang telah mencuri dari rumahku”, maka sayydina Umar bin khattab RA berkata : “Iya karena engkau tidak mengetahui bahwa tetanggamu kelaparan, sehingga engkau telah menterlantarkannya”, demikian kebijakan para sahabat dalam menjalankan hukum syariat Islam.

Oleh sebab itu kita harus memahami dan mendalami semampu kita perbuatan-perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mudah tertipu dengan kejadian-kejadian yang sering kita temui dalam kehidupan kita, yang diantara mereka melakukan bom bunuh diri dimana hal ini merupakan perbuatan yang mengakibatkan pelukunya murtad dan jelas-jelas telah dilarang dalam syariat Islam, sehingga tidak ada satu madzhab pun yang memperbolehkan bom bunuh diri. Sebagaimana beberapa macam hal pembunuhan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alahihi wasallam seperti dilarang membunuh anak-anak, dilarang membunuh wanita, dilarang membunuh orang yang tidak bersenjata, dilarang membunuh orang yang tidak menyerang, namun kesemua larangan itu dilanggar dengan seseorang melakukan bom bunuh diri, yang mungkin mereka menganggap hal tersebut adalah sebuah keberanian, justru hal tersebut adalah sifat pengecut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengahadiri perang sebanyak 27 kali semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau tidak pernah memulai peperangan tersebut kecuali kelompok musuh lah yang memulai menyerang Islam, dan ketika terjadi perang pun maka beliau memerintah ummat Islam dalam peperangan tersebut diantaranya untuk tidak memukul atau membunuh wanita dan anak-anak, tidak pula memukul bagian wajah, tidak menyerang orang yang tidak bersenjata. Sebagaimana dalam perang Hunain ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bahwa para musuh telah berkumpul untuk menyerang Madinah Al Munawwarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar bersama kaum muslimin sebelum mereka sampai ke Madinah Al Munawwarah, dan ketika dalam peperangan para musuh mulai menyerang dari sela-sela, sehingga kaum muslimin bercerai-berai dan bukan karena takut namun karena mereka kebingungan menghadapi serangan musuh berupa anak panah, tombak dan lainnya yang berasal dari segala penjuru, maka melihat keadaan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memacu kuda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengarah kepada musuh dan berkata :

أنَا النبيُّ لاَ كَذِبْ أنَا ابْنُ عَبْدِ المُطَّلِب “

Aku adalah seorang nabi dan bukan suatu kebohongan, aku adalah cucu Abdul Mutthallib”. Para sahabat menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk maju karena khawatir terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan-serangan musuh. Demikian keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau juga bersifat lemah lembut dan berkasih sayang. Ketika perang Badr Al Kubra telah selesai, dimana ketika itu jumlah kaum muslimin 313 dan jumlah kaum kuffar adalah 3000 namun demikian kemenangan ada pada kaum muslimin, karena kaum muslimin adalah orang-orang yang penyabar, yang mana kemarahan orang yang penyabar sangat berbeda dengan orang yang pemarah, dimana orang yang penyabar ketika marah maka ia marah dengan kekuatan Allah subhanahu wata’ala, sehingga jumlah pasukan muslimin sebanyak 313 mampu mengalahkan kaum kuffar, sehingga sebagian dari kaum kuffar mundur dan sebagian yang lain tertangkap, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Mereka adalah orang sekampung kita, apakah kalian akan menangkap orang yang sekampung dengan kita?!”, indahnya budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpijar dalam setiap waktu dan zaman dari generasi ke generasi, dari guru ke guru, dari para penuntun keluhuran. Dan di saat ini kita berada pada bulan yang mengingatkan kita pada anugerah besar yang diberikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu bulan Rajab yang di bulan inilah diturunkannya perintah shalat ketika peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal 27 Rajab.

Hadirin yang dimuliakan Allah Selanjutnya kita bermunajat dan bedoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga acara akbar malam Isra’ Mi’raj di Monas dengan disertai dzikir Ya Allah sebanyak 1000 x semoga berlangsung sukses zhahir dan bathin. Telah disampaikan kabar tentang acara ini kepada guru mulia Al Habib Umar bin Hafizh dan beliau bersedia untuk memberi sambutan lewat streaming dari Tarim Hadramaut insyaallah. Kita berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni seluruh dosa kita dan dosa kedua orang tua kita, dan semoga Allah melimpahkan tuntunan hidayah dan tuntunan kebenaran bagi mereka yang berada dalam kerusakan aqidah atau ketidakfahaman dalam menjalankan syariat yang sebagaimana mestinya, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ( البقرة : 185 )

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. ( QS. Al Baqarah : 185 )

Allah subhanahu wata’ala senantiasa memberikan yang mudah untuk hamba-hambaNya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidah Aisyah Ra berkata bahwa jika dipilihkan kepada Rasulullah dua hal maka pastilah beliau akan memilih yang paling mudah untuk ummatnya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

يَسِّروا ولا تُعَسِّروا ، وبَشِّروا ولا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah jangan mempersulit, berilah kabar gembira jangan menakut-nakuti”

Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu membimbing masa depan kita dan melimpahkan kebahagiaan kepada kita di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=425&Itemid=30

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *