Makna yang tersirat didalam Shalawat Nariyyah

dari Habib Ibra Assegaf

Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimi wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariim wa ‘ala aalihi wa shohbihi fii kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin lak.

Artinya :
Ya Allah limpahkanlah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Nabi Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, dan kesudahan yang baik, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-MU.

Catatan.

Sebagian orang menganggap Sholawat ini mengandung unsur kemusyrikkan yang bertentangan dengan syariah dengan alasan shalawat ini menyetarakan kedudukan Rasulullah shalallahu alayhi wasallam dengan Allah subhana huwa ta’ala berdasarkan kalimat “…yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan dan kesudahan yang baik.” Mereka berpikir Sholawat ini berarti berdo’a kepada Rasulullah, apalagi jika dilihat dari terjemahan redaksi kalimatnya padahal tidak demikian adanya, mereka salah total dalam memahami kalimat tersebut. Kalimat tersebut hanya sebuah kiasan saja bukan dalam arti yang sebenarnya.

Kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik dst….”, Sungguh maknanya sangat luas, kalimat ini adalah sekedar kiasan yang mengandung unsur ungkapan rasa syukur, bahagia, cinta, ds.

1) Yang dengan beliau terurai segala ikatan ini maksudnya adalah : Rasulullah shalallahu alayhi wasalam adalah Sang Pembawa Al Qur’an kepada ummatnya, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu lepaslah segala ikatan baik ikatan dosa, ikatan sihir, ikatan hubbuduniya (cinta dunia), ikatan hawa nafsu, dll,

Allah Ta’ala berfirman :

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (Qs Al Ahqaaf 31)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku, yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar 53)

2) Hilanglah segala kesedihan maksudnya adalah Rasulullah shalallahu alayhi wasalam adalah Sang Pembawa Al Qur’an kepada ummatnya, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu Allah memberikan pengampunannya lalu menurunkan rasa sakinah, khusyu, dsb, sehingga hilanglah rasa sedih di hati mereka yang mengikutinya.

Allah Ta’ala ber Firman :

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu, melainkan untuk memberi khabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman (padanya) dan mengadakan perbaikan, maka tak ada rasa kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al An’aam ayat 48)

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kaummu, yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al A’raf ayat 35)

,…..فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“…. maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Al Baqarah ayat 38)

يَا عِبَادِ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekuatiran terhadapmu pada hari ini, dan tidak pula kamu bersedih hati” (QS Az Zukhruf ayat 43)

3) Dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan : maksudnya adalah Rasulullah shalallahu alayhi wasalam adalah Sang Pembawa Al Qur’an kepada ummatnya, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu muncullah limpahan rahmat, limpahan karunia, dll.

Allah Ta’ala berfirman :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertaqwalah, agar kamu diberi rahmat (QS Al An’aam 155)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar, Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS Ath Thalaq 2-3)

4) dan kesudahan yang baik : Maksudnya adalah Rasulullah shalallahu alayhi wasalam adalah Sang Pembawa Al Qur’an kepada ummatnya, pembawa hidayah, pembawa risalah, memberi petunjuk dari Allah kepada Ummatnya yang dengan itu tenanglah jiwa mereka, inilah yang dimaksud dengan kesudahan yang baik.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu, dengan hati yang puas, lagi diridhoi-Nya, masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” – (QS. Al Fajr 27-30)

Ini hanyalah bentuk kiasan sastra balaghah arab dari cinta, syukur, taqwa yang jauh sekali dari kemusyrikkan seperti mana mereka sangkakan.

Sebagaimana pujian Sayyidina Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai Rasulullah saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah. Apakah Sayyidina Abbas lantas musyrik karena kalimat diatas?

Hadits lain sebagaimana di ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387),

“Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

Apakah mereka musyrik? tidak sama sekali. Semua orang yg mengerti akan memahami ini, cuma kalau mereka tak memahami makna yang tersirat akan langsung memvonis musyrik.
wallahu a’lam bishshowwab Subhaanaka laa ‘ilmalanaa ‘illaa maa ‘allamtanaa ‘innaka ‘antal’aliimul hakiim

 

https://www.facebook.com/abu.nawas.129/posts/353522781431475

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *