marah

Rasulullah SAW bersabda : “Kekuatan itu tidak dibuktikan lewat perkelahian, tapi pada orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

Abdullah bin Amr ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Perbuatan apakah yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan Allah?” Rasul menjawab :”Jangan marah” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Abu Darda bertanya kepada Rasulullah :”Wahai Rasul, tunjukkan amal yang dapat memasukkan saya ke surga?” Rasulullah bersabda :”Jangan marah.” (HR. Ibnu Abi Dunia dan Thabrani dengan sanad jayyid)

Diriwayatkan oleh Wahb bin Munabih bahwa ada seorang rahib yang ahli ibadah. Syaithan berusaha menggodanya tetapi tak kunjung berhasil. Sampai akhirnya syaithan memanggilnya: “Bukalah pintu ini, karena jika aku pergi anda akan menyesal.” Tetapi sang rahib tetap tidak menoleh. Ketika syaithan itu akan pergi, rahib berkata: “Apakah anda mendengar? Beritahukanlah saya, perilaku apa dari bani Adam yang paling dapat menolongmu menggoda mereka?” Syaithan menjawab: “Marah, bila seseorang marah, kami bisa membolak-balikkannya sebagaimana anak kecil bermain bola.” (Ihya’, al-Ghazali, 3/345)

Sulaiman bin Shurd mengatakan bahwa pernah ada dua orang yang mencaci di dekat Nabi SAW, sedangkan kami pada waktu itu sedang duduk. Salah satu dari mereka menghina temannya dengan penuh marah dan wajah yang merah. Nabi kemudian berkata: “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, yang jika ia mengatakannya niscaya hilanglah kemarahannya : “A’udzubillahi minasysyaithani rajiim.” (HR. Bukhari)

Dari Abu wa’il al-Qash, berkata: “Kami mendatangi ‘Urwah bin Muhammad as-Sa’di. Ada salah seorang yang berkata kepada ‘Urwah hingga menyebabkan kemarahannya. Tapi kemudian ‘Urwah berdiri dan berwudhu’. Selesai berwudhu’ ia kembali dan berkata: “Ayahku berkata, dari kakekku ‘Athiyyah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaithan, dan syaithan itu diciptakan dari api. Api akan mati dengan air. Maka bila salah seorang kalian sedang marah, berwudhu’lah.” (HR. Abu daud, mursal)

Dari Abi Harb bin Abi Aswad, dari Abi Dzar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian marah, dan kalian dalam posisi berdiri, maka duduklah. Hal itu akan menghilangkan marah dari dirinya. Bila tidak hilang juga, maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mampu menahan marah,, padahal ia kuasa untuk melampiaskannya, maka Allah akan menyerunya di atas kepala semua makhluk, hingga ia dipersilahkan memilin bidadari Hurul’iin, untuk dinikahi siapa yang ia ingini.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Ahmad)

Imam Syafi’i rahimakumullah berkata: “Orang yang dibuat marah kemudian ia tidak marah maka ia adalah keledai.” (Ihya’ al-Ghazali) (maksudnya adalah kemarahan yang timbul bila larangan Allah dilanggar.

diambil dari : https://www.facebook.com/tarekat.khalwatiyahsamman/posts/400130303462703?stream_ref=10

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *