Mari ber-Halal Bi-halal dg makna

Nabi  ﷺ bersabda, “Apakah kalian tahu, siapakah yang dikatakan sebagai muflis (orang yang bangkrut) itu?  Seorang muflis dari umatku adalah orang yang pada Hari Kiamat datang dengan telah melaksanakan salat, puasa, dan mengeluarkan zakat.  Namun demikian, bersamaan dengan itu, ia telah menyakiti orang ini dan memfitnah orang itu, ia juga memakan dari milik orang ini dan menumpahkan darah orang itu secara tidak sah.  Orang-orang ini akan mengambil amal baik yang telah ia lakukan.  Jika amal baiknya tidak cukup, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya dan ia akan dilemparkan ke dalam Neraka.” (Muslim)

Ada suatu budaya yang sangat baik dilestarikan untuk menghindarinya …. HALAL BI HALAL

Budaya ini mungkin dahulu dimulai oleh Sunan Bonang yang mengumpulkan santri saat Idul Fitri, lalu berdiskusi tentang ampunan dosa bagi orang yang berpuasa dengan iman dan mengharap ganjaran.

Sunan Bonang mengatakan, “yang diampuni baru dosa yang menjadi hak-hak Allah seperti lupa menjalankan ibadah mahdhah. Belum termasuk dosa yang menjadi hak manusia, yang tidak bisa ditebus sebelum meminta maaf.”

Kemudian berikutnya suatu kegiatan yang dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

dan berlanjut, Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.
“Itu gampang”, kata Kiai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal'”, jelas Kiai Wahab.
Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah) . “

 

sumber :
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,6-id,53553-lang,id-c,taushiyah-t,Idul+Fitri+dan+Halahbihalal-.phpx
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,53537-lang,id-c,esai-t,Makna+dan+Hikmah+Idul+Fitri-.phpx
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,60965-lang,id-c,fragmen-t,KH+Wahab+Chasbullah+Penggagas+Istilah++ldquo+Halal+Bihalal+rdquo+-.phpx
https://percikanhikmah.wordpress.com/2014/12/10/siapakah-orang-yang-bangkrut/
http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/346859-syawal–momen-bersyukur-dan-saling-memaafkan

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *