megengan

Pada Tanggal 7 Juli 2013 kemaren di pondok pesantren Manba’ul Falah diadakan acara istighosah dan pembagian rapot imtihan. dengan susunan acara, sholawat banjari, dilanjutkan pembukaan, doa untuk para ahli kubur, dzikir bersama, sambutan-sambutan, tausiah oleh pengasuh, sambutan tamu dari lapesdam nu surabaya, doa dan pembagian raport.

Ada yang menarik dari tausyiah yang disampaikan oleh pengasuh, KH. Muhammad Ali Maghfur SI, SPdI. yaitu mengenai apa itu megengan. di jawa ada budaya megengan menyambut datangnya bulan Romadlon. salah satunya adalah membagikan makanan (jajan) “apem”, menurut penjelasan pengasuh, “apem” berasal dari kata “afwan” yang dalam bahasa arab artinya permohonan maaf, karena lidah orang-orang jawa zaman dahulu sangat sulit mengucapkan kata “afwan” sehingga terucap “apem” dan turun-menurun sampai sekarang. Hal ini sangat baik untuk meminta maaf kepada orang-orang sebelum memasuki bulan romadlon, karena dosa kepada makhluk harus ditebus dengan meminta maaf dan sedang dosa kepada Alloh ditebus dengan istighfar dan ibadah.

Ada cerita lain yang disampaikan oleh pengasuh, bahwa beberapa hari sebelum acara, beliau mendatangi salah satu ustadz yang sebelumnya ia berpidato pada siaran radio bahwa megengan itu bid’ah dan sesat. Hal ini diketahui karena ada jama’ah pengajian beliau yang mendengar radio tersebut kemudian meminta data tentang ustad tersebut dan diberikan kepada pengasuh. Akhirnya pengasuh bersilaturrohmi ke ustad tersebut. Setelah ngobrol beberapa saat, pengasuh bertanya kepada ustad, “apakah benar megengan itu bid’ah?” Sang ustadz pun memberikan keterangan panjang lebar disertai dalil-dalil, bahwa tidak ada satupun kalimat didalam al Qur’an dan Hadist yang menyebutkan megengan, jadi megengan adalah hal baru, dan hukumnya bid’ah. mungkin karena sang ustad tidak mengetahui bahwa yang datang itu adalah seorang ulama hingga dengan gamblangnya menyebutkan semua dalalil tersebut.

Tapi kemudian pengasuh bertanya, “apakah seorang anak mendoakan orang tuanya yang meninggal itu diperbolehkan?” sang ustad menjawab “iya boleh, itu semua ada dalilnya”, “apakah seorang anak bershodaqoh untuk kedua orang tuanya itu diperbolehkan? ia menjawab ” boleh dan ada dalilnya” dll gitu. Kemudian pengasuh berkata “Anda tahu nggak kalau megengan itu hanya istilah saja, dan semua hal tersebut merupakan isi dari megengan” sang ustad kemudian berkata “apakah benar itu adalah megengan? kalau megengan itu seperti itu ya diperbolehkan, saya kira megengan itu memberikan sesajen atau apa?”

Pengasuh kemudian berkata, acara kumpul-kumpul kita seperti ini juga dapat dinamakan megengan, karena kita bersama-sama mendoakan ahli kubur kita yang telah meninggal serta dzikir-dzkir yang kita panjatkan, semua itu adalah megengan dan juga menunjukkan kebahagiaan kita dalam menyambut bulan Romadlon.

 

“barang siapa berbahagia akan datangnya bulan romadlon, maka dikharomkan jasadnya masuk neraka”

AllohuA’lam

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *