Mencari Wasilah (Perantara)

Mencari Wasilah (Perantara), Kisah Syaikh Ahmad Badawi dan Syaikh Magribi. (Dari Siapa Kita Dapat Mengambil Tariqah )

Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani qs
Senin 24 Agustus 2009 | Fenton USA

A`udzu billahi min ‘asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. `Athi Allah wa `athi’ur Rasul wa uli’ l-amri minkum.Taati Allah, taati Rasul dan orang yang diberikan otoritas atas diri kalian.

Kita membicarakan dari mana kita dapat mengambil tariqah; siapa yang dapat mengajar dan memberi bay’at’. Ada sebuah tanya-jawab antara Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu dan seorang tamunya, Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi dari Maroko, yang telah belajar di bawah bimbingan Sayyidina Nabi Khidir (as) selama sembilan tahun, menerima berbagai macam Ilmu Ilahi. Dan dari tanya-jawab mereka, kita dapat mempelajari karakteristik siapa seseorang itu dan dari mana kalian dapat belajar.

Ketika kalian ingin belajar tentang Al-Quran, kalian tidak dapat mengajari diri kalian sendiri; kalian dapat menghapalnya, tetapi itu bukanlah jalan yang benar. Kalian harus belajar dari seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengajar Al-Quran, seorang Qaari, karena mereka mengetahui cara pengucapan yang benar, tajwiid, tartiil, dan semua aturan pembacaan khusus lainnya, bagaimana setiap huruf diucapkan. Mereka telah dilatih melalui serangkaian pembaca Quran berijazah yang semuanya sampaii kepada para Imam Mazhab dan sampai kepada generasi Sahabat, yang belajar Al-Quran dari Nabi Muhammad (sallallahu alayhi wasalam).

Serupa dengan itu, dalam ajaran spiritual kalian harus mengambil dari seseorang yang telah mempelajarinya dari gurunya dan seterusnya hingga sampai pada Sahabat dan Nabi (saw). Kalian tidak bisa mengambilnya begitu saja dari seseorang; kalian harus mengambilnya dari seseorang yang telah merasakan dari Realitas, dan ia akan meletakkan (Ilmu Ilahiah) di lidah kalian dan di dalam hati kalian.

Sebagaimana yang kita katakan dalam sesi sebelumnya, Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya, “Dari mana engkau mengambil tariqah ini? Apakah dari seorang wali yang dapat bicara dengan orang-orang mati dari Timur ke Barat?” dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu menjawab, “Tidak!” Lalu ia bertanya, “Apakah dari wali yang tahu segala sesuatu di alam semesta, yang memuji dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta`ala dari Timur ke Barat? Dapatkah aku mengambil tariqah darinya? Dapatkah aku belajar dengannya?” Dan sekali lagi Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu menjawab,”Tidak.”

Lalu Abdur-Rahiim al-Maghribi tidak tahu lagi harus berkata apa. Jika kau tidak bisa mengambil dari wali itu dan tidak juga dari wali yang satunya lagi, lalu siapa yang memenuhi syarat untuk memberinya tariqah? Kita tidak bicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan ulama, di mana kalian dapat mengambil ilmu dari siapa saja. Di dalam tariqah ada batasan-batasan dan Wali yang tidak mempunyai
hak atau otoritas tidak dapat mengajar dan ia akan diam. Banyak awliya yang tidak diketahui atau dikenal orang-orang, mereka diam.

Apa manfaat dari ajaran seorang Wali bila ia tidak dapat mengangkat kalian sampai pada levelnya? Itulah sebabnya ketika Grandshaykh Abdullah faiz ad-Daghestani qs, semoga Allah memberkatinya, diminta untuk menerima tanggung jawab mneneruskan kepemimpinan bagi tariqah, beliau berkata, “Aku tidak menginginkan tanggung jawab itu.” Syekh beliau, Syekh Syarafuddin Qaddasallahu Sirrahu, berkata, “Tak seorang pun diperintahkan untuk membawa tariqah kecuali dirimu, mengapa kau mengatakan ‘tidak’?” Grandshaykh Abdullah berkata, “Apa manfaatnya ya Sayyidii, jika aku tidak dapat mengangkat murid-murid ke levelku ketika mereka duduk bersamaku?”

Jadi awliya tahu pentingnya memberikan tariqah. Saya akan mengutip di akhir bagaimana buruknya mendengar seseorang yang tidak mempunyai tanggung jawab untuk mengajar tariqah, karena semua ajarannya akan menjadi negatif pada diri kalian, karena ia tidak memenuhi persyaratan dalam memberikan tariqah.

Jadi kemudian Syekh Abdur-Rahiim Maghribi menanyakan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu pertanyaan ketiganya, “Dapatkah aku mengambil atau mempelajari tariqah dari seorang wali yang sanggup mencapai bagian bawah Arasy dan semua level di bawahnya?” Itu artinya bahwa wali itu telah mencapai kemampuan untuk sujud di bawah Singgasana Allah Subhanahu wa Ta`ala. Dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu tetap diam, lalu ia bertanya lagi, “Ya Sayyidi, demi Allah, dapatkah aku mengambil tariqah dari seseorang yang mampu mencapai level di bawah Arasy dan seluruh level di bawahnya?” Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu kembali melihatnya dan berkata, “Tidak.”

Jika ini “tidak”, dan ini “tidak”, dan yang ini “tidak”, dari mana ia akan mengambil ilmu itu? Itu artinya apapun yang kita bicarakan itu belum dari level yang benar untuk diajarkan, yang artinya kalian belum memenuhi syarat untuk mengajarkan dan orang-orang yang mendengar belum mendapat tariqah dari sisi yang benar–mereka mengambil dari nama ajarannya, tetapi belum mengambil rahasia darinya. Awliya berusaha untuk mendapat rahasia dari setiap kata yang mereka ucapkan, untuk dicurahkan ke dalam hati kalian!

Kemudian ia bertanya, “Bagaiama tentang orang yang telah mencapai alam semesta dan tujuh langit dalam sekejap tanpa berpindah dari posisinya, dan ia dapat berada di segala tempat yang Allah ciptakan? Dapatkah aku belajar darinya dan mengambil tariqah?” Bagaimana menurut kalian, apa yang Sayyidina Abdul-Khaliq Qaddasallahu Sirrahu katakan, ya atau tidak? Beliau berkata, “Tidak!” Jadi,
lalu dari mana ia dapat mengambil tariqah?! Kemudian Syekh Abdur-Rahiim Maghribi tidak mempunyai kata-kata lagi, dan ia bertanya kepada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu, “Lalu kepada siapa aku akan menyerahkan diriku sendiri? Siapakah orang itu yang dapat mengajarkan diriku?”

Sebelum sampai di sana, ia tidak menyerahkan dirinya. Ia terus mengajukan pertanyaan, menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu, dengan bertanya, “Dapatkah aku mengambil tariqah dari orang yang bisa menjangkau orang mati, atau dari orang yang mengetahui tasbih seluruh ciptaan kepada Allah?” Ia memuji egonya di sana. Ketika ia bertanya, “Dapatkah aku mengambil dari orang yang bertasbih di
bawah Arasy?” Ia memperlihatkan bahwa ia tahu semua level yang beragam dari para awliya Allah. Ketika Sayyidina Abdul-Khaliq Qaddasallahu Sirrahu mengatakan kepadanya, “tidak”, barulah ia menyerah. Ia sampai pada titik di mana ia sadar,”Ya Sayyidii, aku tidak tahu apapun.”

Melalui pelajaran itu, Sayyidina Abdul-Khaliq Qaddasallahu Sirrahu mengajarkan kepadanya, “Jangan tunjukkan pengetahuanmu di hadapanku.” Banyak orang yang bicara terus; dan mereka senang menunjukkan bahwa mereka tahu segala hal. Dalam kehidupan normal atau kehidupan spiritual, kita semua berusaha untuk mengatakan bahwa kita tahu sesuatu. Dalam kehidupan normal, hal itu tidak masalah, tetapi lebih baik diam dalam hadirat seorang Wali Allah. Jangan bicara! Jika kalian bicara,kalian membuat suatu kesalahan. Jika tidak bicara, kalian akan aman.

Orang yang memberi presentasi senang untuk menunjukkan kehebatan dirinya sendiri; mereka tidak berserah diri. Mereka bertanya, “Apakah kalian suka membuat presentasi?” dan mereka berlomba-lomba untuk itu, agar mendapat ketenaran. Jika kalian bertanya pada para Awliya Allah, “Apakah engkau ingin membuat presentasi atau sebuah wawancara?” maka mereka akan menjawab “tidak.” Mereka tidak suka berbicara kecuali terpaksa. Jadi Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya. “Apa yang akan kulakukan sekarang? Aku berusaha untuk mengerahkan semua pengetahuanku untuk mengetahuinya.”

Seperti halnya kisah dengan Syekh Ahmad al-Badawi dari Mesir. Kalian tahu ceritanya. Ia berdoa, “Bukalah Pintu-Mu, ya Rabbii!” dan seseorang datang dan berkata, “Aku mempunyai kunci-kuncimu, berserahdirilah padaku.” Ia menjawab,”Memangnya siapa aku musti berserah diri padamu?!” Berserah diri kepada Allah, baik, tetapi ada disiplinnya: pertama berserah diri dulu kepada gurumu, lalu kepada Nabi (saw) dan kemudian kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala.

Jadi ia menjawab, “Aku hanya akan mengambil kunci dari Sang Pembuat Kunci langsung!” Lalu orang itu pergi. Berbulan-bulan kemudian Syaikh Ahmad al-Badawi mendengar sebuah suara,”Apakah kau menginginkan kuncimu? Aku meninggalkannya pada seorang Wali yang dahulu kau usir!” Jadi sekarang ia tahu bahwa ia harus mengambilnya dari orang itu, tetapi egonya menghalanginya. Sayyidina Ahmad al-Badawi mencari wali itu, ia berlari, berlari, berlari selama enam bulan, dan itu mengajarkannya bersabar. Akhirnya wali itu muncul di hadapannya.

Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Wahai saudaraku! Dari mana saja engkau?” Wali itu menjawab, “Aku di sini, tetapi kau tidak bisa melihatku.””Bisakah aku mendapatkan kunci-kunciku?” “Tidak, sudah terlambat wahai saudaraku. Ketika aku datang dan menawarkannya kepadamu, kau menolak. Sekarang kau menginginkannya, tetapi aku tidak akan memberikannya; ada harga untuk itu.” Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Aku akan membayarnya dengan seluruh kekayaanku, hartaku dan rumahku.” “Kami tidak mengejar harta duniamu.” “Lalu apa yang harus kuberikan?”

“Aku menginginkan ilmumu, semua ilmu yang telah kau ajarkan dan yang telah kau pelajari dari buku-buku dan amal ibadah yang telah kau lakukan, Syaikh Ahmad Badawipun mengatakan ‘Aku bersedia, aku bersedia, aku bersedia.’ Kau selalu menggunakan egomu dan membandingkan segala sesuatu dengan dirimu. Aku menginginkan mengangkat keegoisan itu, keegoisan dalam ilmu yang telah kau bangun dengan egomu.”

Allah berfirman di dalam Alquran suci: “Afaman assasa bunyaanahu `ala taqwa mina Allahi wa ridwaanin khayrun am man assasa bunyaanahu `ala syafaa jurufin haarin fanhara bihi fii naari jahannama wa Allahu laa yahdi qawma azh-zhaalimiin”

Lalu manakah yang terbaik? – orang-orang yang mendirikan masjidnya atas dasar taqwa kepada Allah dan rida-Nya? – atau orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersamanya ke neraka Jahanam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Surat Tawbah [9:109]

Di tepi jurang itu akan jatuh ke neraka. Itu artinya kalian tidak dapat membangun ilmu kalian melalui ego kalian, karena ego akan dipotong bila kalian berada dalam tariqah. Karena ego akan runtuh, baik cepat ataupun lambat. Jadi Wali itu berkata padanya “Aku tidak dapat membiarkan kau memiliki ilmu ini.”

Ahmad al-Badawi saat itu merupakan Grand mufti di Tanta, daerah di Mesir, sangat terkenal, dan dua juta orang mengunjungi makamnya setiap tahun. Wali itu berkata, “Berikan ilmu itu kepadaku.” Ahmad al-Badawi berkata, “Baiklah.” Kemudian Ahmad Badawi melihat ke dalam mata wali itu dan wali itu menarik semua ilmunya keluar, bagaikan magnet menarik logam. Ia meninggalkan Ahmad al-Badawi tanpa mengetahui apa pun, bahkan satu kata pun, bahkan untuk membaca Surat al-Fatiha! Bila kalian melakukan kesalahan dalam membaca Surat al-Fatiha, itu artinya awliya mengambil pengetahuan itu. Jadi ia menarik segala sesuatu dari Ahmad al-Badawi sampai ia tidak mengetahui apa-apa, hingga anak-anak mengejar dia seperti orang gila, mengejeknya dengan berkata, “Dia tidak tahu apa-apa lagi!”

Jika kalian kehilangan akal kalian, kalian akan baik-baik saja. Setiap orang diseluruh dunia berpikir bahwa mereka mengetahui sesuatu. Lihatlah, ketika Mawlana Syekh Nazim qs, semoga Allah memanjangkan umurnya, memberikan nasihat harian melalui siaran langsung di sufilive.com, orang-orang juga senang untuk mendengarkan. Mereka menghentikan pekerjaan mereka, menghentikan semua kegiatannya hanya untuk mendengar beliau. Mengapa? Karena pesan beliau mencapai hati mereka dan mereka telah siap dalam menerima informasi itu.

Dan setiap orang begitu gembiranya dan memuji Mawlana Syaikh Nazim dengan pujian yang tinggi karena kecintaan mereka terhadapnya, karena mereka tahu tanpa beliau mereka bukanlah apa-apa! Jadi mereka yang menyaksikan siarannya setiap malam maka mereka sungguh beruntung. Bagi yang tidak menyaksikan; jika mereka mempunyai alasan seperti karena pekerjaannya, itu tidak apa-apa. Tetapi yang lainnya (tidak menyaksikan) karena sombong dengan diri mereka dan disibukan urusan dunia. Menurut kalian, memangnya kalian siapa? Apakah Mawlana membuang- buang waktunya untuk siaran itu?!! Berikanlah paling tidak setengah jam dari waktu duniawi kalian untuk melihat dan mendengar, itu lebih baik.

Jadi dalam setiap hal, wali itu mengambil segala sesuatu dari Syaikh Ahmad al-Badawi dan meninggalkannya selama enam bulan, dan anak-anak mengejar dia sambil berkata, “Grand mufti kita menjadi gila!” Dan Ahmad Badawi terus mencari wali itu, mencari dan mencari, sementara wali itu menyembunyikan dirinya lagi. Kemudian ia muncul dan berkata, “Ya Ahmad! Apakah engkau sudah siap?” Ia menjawab, “Aku siap.” Setelah perjuangan yang panjang. Ia mendengar suara yang mengatakan, “Ambil kunci itu darinya.” Jika ia menerimanya sejak awal, ia pasti telah mencapai level yang lebih tinggi lagi dan tidak membuang waktunya sedemikian lama!

Wali itu berkata, “Lihatlah mataku sekarang.” Lalu ia mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya ke dalam mata Ahmad al-Badawi sampai ia tidak bisa melihat lagi, hingga sorotan matanya bagaikan kilat, dan wali itu membukakan Enam Realitas dari Hati, yang sebelumnya telah kita bicarakan berulang kali: Realitas Daya Tarik (Haqiqatu Jazbah); Realitas Mengantarkan Berkah (Haqiqatul Fayd); Realitas Memfokuskan (Haqiqatu Tawajjuh); Realitas Perantaraan (Haqiqatu Tawassul); Realitas Bimbingan (Haqiqatu Irshad); dan Realitas Menggulung -Folded Space, bumi dan waktu terlipat (Haqiqatu at-Tayy). Setelah Wali itu mentransfer seluruh pengetahuan surgawi itu, maka tak seorang pun dapat melihat ke dalam mata Ahmad al-Badawi secara langsung, karena mereka akan pingsan bila melihatnya. Sehingga setelah itu Syaikh Ahmad Badawi selalu menuntup matanya dengan kain penutup kepalanya.

Abdur-Rahiim al-Maghribi paham bahwa setiap pertanyaan yang ia ajukan, Syekhnya selalu mengatakan “tidak”. Segala sesuatu yang ia tanyakan, Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu menjawabnya “tidak” untuk setiap pertanyaan. Ia mengajukan lima pertanyaan, dan semuanya ditolak. Lalu ia berkata, “Ya Sayyidii, ke mana aku harus memasrahkan diriku?” Ia lalu mengerti, dan kemudian menjadi pasrah. Di luar itu, tak ada yang dapat dicapai; jika kalian tidak berserah diri kepada kehendak syekh, kalian tidak bisa melangkah ke mana-mana atau mencapai sesuatu.

Misalnya, setiap hari Mawlana Syekh memberikan pelajaran dan banyak orang yang menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa, dan jika kalian mendengar, itu saja sudah cukup; jika kalian mengerti atau tidak, rahasianya terpancar ke dalam hati kalian! Seperti halnya ketika komputer sedang mengambil, memuat (upload) informasi, kalian melihat garis-garis hijau mentransfer data (menunjukkan progres dari proses upload yang sedang berjalan) atau kalian menulis pesan atau gambar atau suatu lampiran, dan ketika kalian membukanya, lambat laun ia terbuka.

Tetapi di lain waktu kalian ingin melihatnya lagi, dengan cepat ia terbuka, tidak memerlukan waktu lama. Sama halnya, Mawlana Syekh Nazim qs mengisi kalian dengan cahaya ini; kalian mungkin tidak memahaminya, tetapi ketika waktunya tiba untuk dibuka, ia sudah berada di sana (pada diri kalian). Kalian akan bergerak seperti roket menuju level yang mereka ingin kalian capai. Sekarang kalian belum bisa diangkat; kalian mungkin mendengar sebuah suhbah (ceramah) dan melupakannya, tetapi hati kalian tidak melupakannya, dan hati kalian telah mengunduh (download) informasi itu. Kalian telah mengunduhnya dan dalam waktu satu detik, kalian dapat mengecek dan melihatnya.

Ketika saat download / mengunduh tiba dan syekh memberi kalian kunci spiritual kalian, maka itu akan membuka seluruh kata-kata bercahaya, rahasia ilmu yang beliau telah sampaikan sebelumnya, dan kalian dapat melihat dari level mana beliau berkata, di mana beliau berdiri, dan mengucapkan salam kepada Nabi (saw) dan mengucapkan syahadah. Dari mana beliau berdiri? Di mana? Apakah Mawlana Syekh berdiri di Lefke, di samping kursinya? Ketika beliau berdiri mengucapkan salam kepada Nabi (saw), beliau berdiri di Hadirat Ilahiah dari Nabi (saw). Dan ketika waktunya tiba, kalian akan melihatnya, apa yang telah kalian dengar dari beliau akan tampak sebagai sebuah Realitas.

Itu akan muncul ketika kalian berserah diri, tetapi sekarang kita tidak berserah diri. Bahkan kalian melihat orang-orang melakukan chatting. Mengapa mereka melakukan hal itu ketika Mawlana Syekh sedang bicara? Lakukan chatting sebelum atau setelahnya. Bila kalian berserah diri, maka komputer kalian akan siap untuk menerima semua informasi yang dimasukkan (upload) ke dalam hati kalian.

Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi berkata, madha afal, “Aku berserah diri. Apa yang harus kulakukan; aku perlu jawaban. Aku datang kepadamu untuk berserah diri. Kepada wali yang mana aku harus berserah diri?” Ia masih melakukan kesalahan, karena ia belum menyadari: wali yang kau bicarakan adalah yang bertanggung jawab atas dirimu! Dengan mengatakan, “Wali yang mana,” lebih baik
menjadi seorang pengembala dari pada biri-birinya.

Kau menanyakan semua pertanyaan ini dan beliau terus mengatakan “tidak”, dan di saat akhir, ia masih bertanya, “Wali yang mana?” Banyak orang seperti itu saat ini, mereka tidak berserah diri. Kalian tidak merasa senang dengan Wali yang kalian bicarakan itu? Kita akan melanjutkannya besok, insyaAllah. Bi hurmati l-Habiib, bi hurmati ‘l-Fatiha.

Wa min Allah at Tawfiq

sumber : http://muslimsufi.blogspot.com/2013/05/mencari-wasilah-perantara-kisah-syaikh_9480.html

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *