Mengenal dan mengolah Hati Nurani

Hati Nurani adalah Pusat perasaan, karena diri sejati kita yang adalah percikan tajalli dzat dari Sang Pencipta. Ia adalah Kunci hubungan kepada Tuhan YME, karena keberadaan Sang Pencipta selalu ada di dalam setiap hati (walaupun terkadang disangkal oleh otak dan ego kita). Otak dan tubuh fisik hanyalah sesuatu yang sementara Pusat penerimaan berkat Tuhan YME.
Pusat ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan sejati yang berasal dari berkat Tuhan YME diterima oleh hati.

Hati nurani yang penuh dengan cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya nurani mulai redup. Hal itu akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin karena senantiasa merasa terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.

Tuhan kita menciptakan dunia beserta segala isinya dari unsur tanah, dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita tidaklah cukup dengan berzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan yang sumbernya dari tanah pula.

Bila perut terasa lapar, maka kita santap beraneka makanan yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian yang bila ditelusuri ternyata unsur-unsurnya bersumber dari tanah. Demikian pula bila suatu ketika kita sakit, maka carilah obat-obatan yang juga diolah dari komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala macam keperluan tubuh, kita mencarikan jawabannya dari tanah.

Akan tetapi, qalbu ini ternyata tidak satu senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga ia akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. “Alaa bi dzikrillahi tathma’innul quluub”. Camkan selalu, hatimu hanya akan tenteram jika selalu ingat pada Allah. (QS. Ar-Ra’du: 28)

hati nurani ini adalah inspirasi dari Allah SWT kepada semua orang, satu bentuk wahyu, dalam kata lain: Dalam hal dimaksud, pada setiap makhluk hidup, menerima wahyu, meskipun bukan dalam bentuk secara langsung.Kebalikannya bahwa wahyu yang ditujukan kepada Nabi, secara alami berada di dalam di hati, diinspirasikan ke dalam hatinya. Allah berfirmandi dalam Al-Qur’an, bahwa Ia mengirimkan wahyu kepada makhluk hidup: Tuhanmu memberi wahyu kepada lebah: Buatlah sarang di pegunungan dan di pepohonan dan juga di bangunan yang dibuat oleh manusia (Qur’an , 16 ; 68).

Allah SWT menginspirasi lebah bagaimana membangun sarang dan bagaimana mencari makanan. Ia menunjukkan kepada semut bagaimanan mereka membuat koloni, bagaimana merawat anak-anak semut dan bagaimana membangun kota semut yang menakjubkan. Saat ia tunjukkan dalam ayatnya, semua makhluk hidup bergerak dan bagaimana apa yang  harus dikerjakan berdasarkan petunjuk Allah.

nspirasi dari Allah adalah berkah yang mengarahkan orang-orang beriman untuk kebaikan dan memungkinkan mereka untuk membedakan antara kebenaran dan kejahatan.

Karena Hati Nurani diinspirasikan oleh Allah, itu lumrah bagi semua orang dan dengan hati nurani, Allah memperlihatkan kepada semua orang perilaku yang paling baik dan paling mulia yang membuat Allah berkenan.

Semua kepribadian luhur merupakan sifat hati nurani. Cinta kasih, permakluman, bakti, setia, tenggang rasa, satria, rela berkorban dan memberi, semua ini adalah sifat hati nurani. Sedangkan semua kejahatan, keburukan, dosa, dan kegelapan bukanlah sifat hati nurani.

Pola pandang yang memandang semua manusia adalah sama dan bersaudara, tanpa membezakan suku, bangsa, agama, warna kulit, kaya-miskin, pintar-bodoh, indah-jelek dan sebagainya. Memandang semua binatang darat, laut, dan udara juga memiliki hati nurani yang sama dengan kita. Dengan pola pandang nurani seperti ini semua manusia dan makhluk hidup akan hidup berdampingan dengan damai dan harmonis, saling mengasihi dan saling menghormati.

Hati adalah kunci hubungan kepada Tuhan.

Hati adalah kunci ketenangan, kedamaian, kesehatan dan kebahagiaan sejati.

Hati adalah cerminan dari diri dan hidup kita secara keseluruhan. Semua pahala dan dosa akan tercermin pada hati kita.

Berdoa kepada Tuhan YME seharusnya dari hati dengan sepenuh kasih.

Saluran Kasih dalam berdoa kepada Tuhan YME dan berbuat baik kepada sesama, dimana Kasih itu sendiri berasal dari Berkat Tuhan yang berada di dalam hati.

Pendidikan yang kita dapati selama ini lebih mengarahkan kita kepada pendidikan untuk otak (seperti pelajaran matematika, fisika, ilmu bumi dll)

Dalam hidup sehari-hari, hampir setiap saat kita mempergunakan otak dan jarang sekali mempergunakan hati (itupun kalau ada)

Setiap kali kita mempunyai emosi negatif seperti marah, sedih, takut, kecewa dan sebagainya kita mengotori hati kita

Dengan semakin banyaknya kotoran yang menumpuk didalam hati, maka hati akan semakin tertutup

Setiap kali kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati, maka hati akan menjadi semakin lemah

Sebelum suatu keputusan yang harus kita ambil, kita mendengarkan suara yang menunjukkan  dan mengarahkan kita kepada pilihan yang tepat. Sejak awal kita bangun di pagi hari, kemanapun kita pergi dan apapun yang kita kerjakan, suara tersebut selalu menemani kita.

Tak ada seorang pun yang dapat mendengarkannya akan tetapi suara tersebut berbicara kepada kita tentang keadilan, nilai moral, kerendahan hati, kejujuran,ketulusan, secara singkat apapun yang memang baik.

Suara-suara tersebut yang menunjukkan kita dan memerintahkan kita untuk melakukan apa yang baik dan benar adalah suara hati nurani. Dalam salah satu ayat Qur’an, Allah SWT berfirman “dua jalur” (Qur’an, 90:10). Dengan kata lain, sebagai tambahan suatu suara yang memanggil kebaikan, satunya lagi memanggil kejahatan. Mengetahui keduanya, ada orang yang mengikuti jalan Tuhan, hati nurani mereka, atau mengikuti kejahatan, setan.

Allah SWT juga mengungkapkan dalam Al-Qur’an bahwa ia menampakkan kejahatan dan cara melindungi diri dari kejahatan tersebut: Demi jiwa dan penyempurnaan ciptaannnya , maka ia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. (Qur’an, 91:7-8).

Kata “ kejahatan” artinya “ dosa dan ketidakpatuhan, tidak beriman,pengabaian dari kebenaran, rutuhnya moral dan lawan dari kesalehan (Qur’an : 91:7-8). Dalam kata lain, konsep kejahatan termasuk semua atribut negatif keinginan syahwat yang rendah. Intinya , itu merupakan lawan dari hati nurani.

serta apa yang diatur olehnya dan menginspirasiinya dengan…..atau rasa kasihan (Qur’an 91:7-8) kata “perbuatan jahat” artinya adalah ‘dosa dan pembangkangan, tidak beriman, sebagai lawan dari patuh:. Dalam kata lain, konsep dari depravity termasuk di dalamnya segala bentuk atribut dari manusia yang hina, artinya, segala sesuatu yang berkebalikan dari hati nurani.

Tubuh kita sibuk dengan urusan dunia, tapi hati kita harus sibuk dengan Allah. Inilah tugas kita sebenarnya. Sekali saja kita salah dalam mengelola hati – tubuh dan hati sama-sama sibuk dengan urusan duniawi – kita akan dibuat stres dan ketidaktenteraman yang berkepanjangan. Hari-hari akan selalu diliputi kecemasan.

Kita takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut terjegal, dan sebagainya. Ini semua diakibatkan sibuknya seluruh jasmani dan ruhani kita dengan urusan duniawi semata. Hal ini sangat berpotensi meredupkan hati nurani kita. Bahkan, lebih jauh memungkinkan hati kita menjadi mati. Na’udzubillah. Kita perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini.

Tapi, bagaimana caranya agar kita mampu senantiasa membuat hati nurani tetap hidup dan bercahaya?

Secara umum solusinya adalah seperti yang telah disebutkan di atas. Kita harus berjuang semaksimal mungkin agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat Allah. Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita. “Barang siapa menngenali dirinya maka Ia akan dapat mengenali Tuhannya” Bertafakkur / meditasi islami, memikirkan setiap gerak diri kita, setiap detak jantung kita, apakah ada yang salah? maka kita wajib beristighfar, bila melakukan kebenaran maka kita bersyukur karena Allah memberi nikmat untuk kita dapat melakukannya. Tiap menarik nafas hati berdzikir “Allah” keluar nafas ” Allah” sehingga hembusan nafasnya “Allah-Allah-Allah-Allah…” dan bila telah terbiasa maka akan merasakan bahwa setiap detak jantungnya ia selalu berdzikir “Allah-Allah-Allah …” tidak pernah terputus walaupun fisik melakukan aktifitas apapun.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *