Menjadi Hamba yang Tawadlu’ dan toleran

Catatan Buram
Mawlana Syekh Hisyam, Eid Khtubah
ASIM, Michigan, 9 Agustus 2013

sumber https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10200883593026503&set=a.1059216595055.2011632.1065090530&type=1

Wahai hamba-hamba Allah, Ramadan telah melewati kita dan Syawwal telah tiba, sebuah bulan di mana banyak sekali perubahan yang akan terjadi di bumi, sebagaimana Nabi (s) bersabda, “Akan ada banyak sekali perubahan di bumi ini di mana orang yang membunuh tidak mengetahui mengapa ia membunuh dan orang yang dibunuh tidak mengetahui mengapa ia dibunuh.” Inilah yang kita saksikan sekarang ini, kita harus menjauh darinya dan tinggal bersama komunitas kita sendiri, dan tidak melibatkan diri pada apa yang salah dan apa yang benar. Kita berdoa agar Allah (swt) menerima puasa kita dan mengubahnya dari puasa imitasi menjadi puasa hakiki. Puasa kita bercampur dengan begitu banyak dosa dan menjadikannya sebuah sup. Semoga Allah menerima Ramadan kita dan mengubahnya sebagaimana yang Dia lakukan pada Ramadan sebelumnya, yaitu dari Ramadan imitasi menjadi Ramadan hakiki. Dan hari ini adalah Ied, di seluruh dunia kita merayakannya dengan semua orang pada hari ini dan ini merupakan hari yang penuh kebahagiaan dan kita merayakannya bersama keluarga dan…

Setiap hari kita melihat para ulama di seluruh dunia di mana kebanyakan dari mereka, jika mereka bukan ulama yang benar, mereka membuat berbagai hal untuk menyenangkan orang, dalam bahasa Arab kita menyebutnya mudahala, berpura-pura bahwa kalian mencintai seseorang, berusaha untuk bermanis-manis kepada mereka, tetapi di belakangnya kalian membuat fitnah terhadapnya. Kita harus berhati-hati dengan orang-orang semacam itu agar kita tidak jatuh ke dalam fitnah dan kebingungan yang mereka buat. Nabi (s) bersabda, “Fitnah dalam keadaan tidur, dan Allah akan mengutuk orang-orang yang membangunkannya.” Dan dalam berbagai komunitas, Setan membuat banyak sekali fitnah untuk merusak dan memecah belah lalu menyerangnya. Seperti parasit yang hidup di dalam darah manusia. Seperti bakteri, mereka tidak hidup sendiri tetapi menumpang pada seseorang. Mereka adalah tufayliyiin, mereka hidup dari orang lain dan melemparkan kata-kata, dan di dalam kata-kata mereka terdapat semacam tipu muslihat. Dan orang-orang ini akan mengatakan sesuatu yang tidak dapat diterima pada akhir Ramadan dan menyebabkan puasa kita menjadi batal.

Kita harus sangat berhati-hati dan saya akan menyampaikan sebuah hadits Nabi (s): Jabir (r) meriwayatkan bahwa Nabi (s) bersabda, innama ahabakum ilaya wa aqrabakum ilaya yawm al-qiyamah ahsanakum akhlaaqan. Orang-orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang akhlaknya baik, tidak bicara dengan kebencian, membuat orang-orang senang dan tidak membuat orang terpecah belah ke dalam sharzama, kelompok-kelompok, tetapi lebih baik bersatu, sebagaimana Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:
wa`tashimuu bi hablillahi jamii`an wa laa tafaraquu. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai berai. [3:103].

Setiap Ramadan kita diajarkan untuk menyemir ego kita dengan menjaga agar mulut kita tetap tertutup, karena setiap kali kita membuka mulut kita, sudah pasti sesuatu yang tidak diridai Allah akan muncul. Dan para malaikat akan membawa amal kita ke Hadirat Ilahi, jika amal itu murni, maka ia akan diterima; tetapi jika tidak, ia akan dilemparkan ke wajah kita.

Dan Nabi (s) melanjutkan, “wa inna min abghadakum, orang yang paling buruk, yang paling menjijikan, yang kupandang hina dan akan jauh dariku pada Hari Kiamat, dan aku tidak akan melihatnya, ia akan berada di barisan paling belakang ketika aku memberi syafaat, meskipun mereka akan masuk Surga. Aku membenci orang-orang ini. Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan dan mereka membuat setan sebagai sosok manusia yang terpandang dan dalam sosok awliyaullah. Menjadikannya sebagai setan terburuk yang dapat kalian bayangkan. Nabi (s) menyebut orang-orang semacam itu falfarkhuun. Mereka memalsukan dan membuat kesalahan ketika berbicara dengan orang-orang. Mereka mengulangi suatu frasa, dan mengatakannya berulang-ulang tetapi mereka tidak ingat dengan apa yang mereka katakan pada awalnya dan mereka mengkaitkan dengan Rasulullah (s). Nabi (s) melarang untuk berbohong, kalian tahu itu adalah strategi perang, untuk menyerang. Menipu musuh untuk menyerang. Orang-orang ini menipu orang yang jujur untuk kemudian ‘memecah belah lalu menguasai’. Orang-orang ini ‘memecah belah lalu menguasai’ walaupun mereka mengenakan pakaian sunnah dengan turban besar dan jubah.

Mereka adalah kaum munafiquun, sebagaimana Nabi (s) menggambarkan mereka: ketika berbicara mereka berbohong, ketika dipercaya mereka berkhianat dan khususnya orang yang pada akhir Ramadan meletakkan sesuatu yang tidak benar di internet. Nabi (s) bersabda, orang yang terjauh dariku … al-mutashadiquun, mereka adalah orang-orang yang tidak menjaga kehormatan hamba-hamba Allah. Mereka mengatakan hal-hal yang mempesona, tetapi di belakang mereka… lalu dan al-mutafayhiquun, mereka yang mengisi mulutnya, bersiap-siap untuk bicara dengan penuh sampah, dan ketika mereka bicara orang-orang akan mengetahui bahwa kata-katanya tidak benar tetapi hanya untuk memecah belah umat. Dan terakhir, al-mutakabirruun, orang-orang yang berbangga diri, mereka mengatakan bahwa kita sudah mati, kita berada dalam ruh kita. Mereka membayangkan berbagai hal dalam pikiran mereka karena mereka bipolar, dan menyebarkannya kepada umat dan mereka yang tidak mempunyai latar belakang dalam orde Sufi, mereka akan memecah belah umat dan mereka mulai berselisih.

Bahkan murid-murid dari keempat mazhab pun biasa berselisih satu sama lain. Sudah terkenal bahwa mereka yang arogan dalam keilmuannya akan mulai memerangi yang lain karena mereka tidak mengerti apa yang mereka katakan, tetapi semua jalan akan menuju satu tempat. Jadi bila kalian seorang Maliki, kalian harus menghormati Syafi’i, dan bila kalian Hanbali, hormatilah Hanafi, dan seterusnya.

Ketika Imam Syafi’i pergi ke Baghdad mengunjungi masjid dan makam Sayyidina Imam Abu Hanifa, kerena penghormatannya terhadap mazhabnya, di mana mereka biasanya tidak membaca qunut ketika salat Subuh, maka ketika menjadi imam di sana, beliau tidak membaca doa qunut. Kita tidak dapat mengatakan bahwa itu salah, tidak, kita percaya pada ijtihad mereka dan kita mengikutinya. Itulah yang diajarkan oleh Islam.

Islam tidak mengajarkan untuk bercerai berai. Tetapi mereka yang memasang di internet untuk membuat seseorang terlihat buruk, mereka telah berbohong kepada Nabi (s) dan mereka katakan bahwa Nabi (s) telah menandatanganinya, dan bila engkau benar, tunjukkan tanda tangannya.

Wahai Muslim, jangan dengarkan orang-orang yang muta syawiquun, mereka mengatakan hal-hal yang membuat orang terlihat gila.

Dan dalam hadits yang lain Nabi (s) bersabda, inna Allah awhaa ilayya an tawada`. Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menjadi tawaduk, untuk tidak memecah belah orang-orang dan memecah belah umat menjadi 2, 3 atau 4. Itu bertentangan dengan ajaran Islam, untuk pergi menemui orang-orang yang bagaikan hewan ternak dan memberi mereka sesuatu hingga mereka mengira bahwa engkau adalah seorang waliullah, padahal kau menipu mereka. Jangan katakan, “Aku mendapatkannya dari Nabi (s),” kau berbohong. Jangan katakan bahwa engkau menerimanya dari Sahabat, kau bohong. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menerima ilham dari Nabi (s) dan dari Sahabat, tetapi tidak mengatakan… tidak mengatakan bahwa “Kami adalah lingkar dalam” pusat dari apa yang kita yakini, tidak. Setiap Muslim berada di pusat dan setiap Muslim berada dalam hadirat Nabi (s). Tidak seorang pun yang boleh menyerang orang lain. Kita semua adalah bagian dari Ummat an-Nabi (s).

Di dalam hadits Bukhari dan Muslim, Nabi (s) bersabda, “laa yadkhul al-jannnat namaaman.” Seorang namam tidak akan masuk ke dalam Surga. Itu adalah orang di dalam suatu kelompok yang melihat bagaimana ia dapat menembus inti dari kelompok itu dan berada di sisinya dan…. Dengan menyebar rumor palsu dan tuduhan-tuduhan palsu. Allah akan menghukum orang yang menyebarkan fitnah di antara umat dan yang menzalimi orang yang tidak bersalah. Mereka melakukan hal itu untuk mempesona yang lain.

Dan akhirnya hadits ini, ini adalah penting bagi kalian, kalian akan ditanya mengenai hal ini, khususnya terkait dengan anak-anak kalian. Nabi (s) melewati 2 kuburan di mana kedua mayat itu sedang disiksa. Nabi (s) bersabda, mereka sedang dihukum karena suatu hal yang tidak besar tetapi besar. Allah menghukum mereka dengan membakarnya. Dan ada suatu makam yang saya ketahui, yang penuh sehingga orang yang meletakkan jenazah itu secara berdampingan. Jadi mereka menggali satu kuburan dan menemukan jasad yang sudah terbakar.

Nabi (s) bersabda, “Mereka sedang dihukum, yang satu karena menyebarkan rumor palsu dan berbohong di mana-mana, dan yang kedua karena suatu hal yang tidak besar, tetapi besar, Allah tidak menyukainya. laa yastatiluu min bawlihi. Ia tidak menutupi dirinya ketika buang air kecil, dan pakaiannya terkena air kencing itu, dan ia tidak membersihkan dirinya dengan air. Banyak Muslim sekarang ini yang tidak menyiram dengan air, tetapi langsung menarik (resleting?) lalu pergi, kemudian berwudu dan salat. Kalian harus mengajari anak-anak kalian untuk membersihkan diri mereka dari urin. Semoga Allah membuka mata kalian, kalian akan bertanggung jawab pada Hari Kiamat.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *