nur Nabi Muhammad dari nabi Ismail ke Sayyid Abdullah

Pada garis keturunan ‘Adnan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terdapat pribadi pribadi yang di sulbinya tersipan nur Nabi Muhammad saw.

Napak Tilas Nur Muhammad (bagian 2)  ...BERLABUH KEPADA MA’AD, SAATNYA SEMAKIN DEKAT...Istri Nabi Ibrahim As yang bernama Sarah tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya saat melihat jariyah-nya, Hajar, yang telah menjadi istri kedua Nabi Ibrahim, melahirkan anak lelaki, bernama Isma’il. Nabi Ibrahim As amat memahami perasaan sang istri. Karena itu, ia yang saat itu bermukim di Syam, berniat hendak menjauhkan putranya bersama Hajar dari Sarah. Ia pun membawa keduanya pergi hingga tiba di sebuah tempat yang dikehendaki Allah kelak menjadi tempat tinggal anak cucu Isma’il As , yaitu lembah gersang di tengah Makkah.

Setiba di tempat itu, Nabi Ibrahmim As meninggalkan Hajar bersama putranya, Isma’il As, dengan menunggang untanya berjalan pulang ke Syam.

Sambil mengemban sang putra, Hajar berjalan tergopoh gopoh mengikuti suaminya dari belakang unta seraya bertanya, “Kepada siapa engkau meninggalkanku bersama anakku ini?”

Ibrahim As menyahut singkat, “Kepada Allah Azza wa Jalla”

Jawaban itu sama sekali bukan karena ia ingin berlepas diri dari tanggung jawab seorang kepala keluarga, namun tak lain karena ia sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak, atas kehendak Allah.

Sejak saat itu Isma’il As tinggal di kota Makkah, hingga menurunkan banyak keturunan. Diantara keturunannya, terdapat kaum yang dikenal sebagai ‘Adnaniyyun, atau keturunan ‘Adnan. Karena berbagai kelebihan yang mereka miliki, kaum ini memiliki posisi istimewa di tengah tengah penduduk Makkah kala itu.

Di antara keistimewaan yang ada pada mereka adalah, pada garis keturunan ‘Adnan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terdapat pribadi pribadi yang didalam sulbinya tersimpan nur Muhammad Saw.

Siapa Menanam Keburukan…

Putra putra ‘Adnan tentunya menjadi generasi pertama kaum ‘Adnaniyyun. Di antara mereka ada yang bernama Ma’ad. Isyarat akan keberadaan nur agung pada dirinya terlihat dari namaya, Ma’ad, yang berasal dari a’addahu,  maksudnya ia dijadikan sebagai persiapan untuk suatu masa.

Ma’ad dikenal sebagai salah seorang yang memerangi Bani Israil. Disebutkan, bila ia berperang, tidaklah ia pulang kecuali dengan kemenangan. Dan itu disebabkan keberkahan nur Muhammad yang ada di dahinya.

Saat mengutus Bukhtanashshar kepada bangsa Arab, Allah perintahkan Nabi Armiya As untuk membawa Ma’ad diatas kendaraannya, agar Ma’ad tidak terkena kesengsaraan dan kebinasaan. dikatakan kepadanya, “Sungguh akan Ku-keluarkan dari sulbinya, seorang nabi mulia yang Ku-jadikan penutup para nabi.”

Armiya’ As pun mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya itu.

Saat istri Ma’ad tengah bersalin, Ma’ad melihat nur Muhammad berkilauan diantara kedua mata si bayi. Betapa bergembiranya ia. Kemudian ia menyalakan dupa dan memberikan makanan. Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya semua ini adalah nuzr (sedikit) untuk hak dari kelahiran ini’

Si bayi, yang nama sebenarnya adalah Khalid, kemudian dipanggil dengan sebutan Nizar, yang berasal dari kata an-nazr atau nuzr.

Saat Nizar beranjak dewasa dan mengetahui bahwa didalam dirinya bersemayam nur Muhammad, ia pun sangat bergahagia, hingga ia menyembelih hewan qurban dalam jumlah yang sangat banyak pada masa itu untuk dibagi bagikan.

Seperti ayahnya dan kakeknya, kehidupannya dan putra putra Ma’ad lainnya ada pada zaman Nabi Musa As. Sebagaimana diceritakan Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Abu Umamah al-Bahili. Saat itu, Rasulullah Saw bercerita, tatkala ada perselisihan antara putra Ma’ad bin ‘Adnan yang berjumlah hingga 40 orang dengan Nabi Musa As saat bersama pasukan nya, Nabi Musa As hendak menyumpahi mereka. Maka kemudian turunlah wahyu dari Allah, “Jangan kau sumpahi mereke, karena dari mereka itu kelak akan terlahir seorang nabi yang ummi dan pembawa kabar gembira, dan diantara mereka akan keluar umat yang dirahmati, yaitu umat Muhammad Saw…” saat wafat ia dimakamkan di suatu daerah bernama Dzat Al-Jaysy, dekat kota Madinah.

Sebelum wafat, ia mewasiatkan pejagaan kemuliaan nur Muhammad kepada salah seorang putranya, Mudhar. Nama sebenarnya Umar. Ia digelari ‘Mudhar’ karena ia menyukai minum al-madhir  atau susu asam (yoghurt). Versi lain mengatakan, ia dinamai Mudhar karena yamdhurul qulub, maknanya ‘banyak hati cenderung kepadanya’. Kecenderungan itu karena kecakapan dan ketampanannya, sebab, disebutkan, tidaklah seseorang melihatnyakecuali hatinya terpikat kepadanya.

Keberadaan nur Muhammad berbekas jelas dalam kepribadian Mudhar, hingga ia dikenal sebagai seorang yang memiliki firasat dan ucapan penuh hikmah. Diantara ucapanya, “Orang yang menanam suatu keburukan akan menuai penyesalan”

Sejumlah hadits menyebutkan namanya, seperti yang dikeluarkan oleh Ibn Sa’d didalam Ath-Thabaqat, bahwasanya Rasulullah mengatakan, “Jangan kalian mencela Mudhar, karena ia telah berserah diri (di jalan Allah)”. Sementara dalam sebuah hadits yang dikeluarkan As-Suhaili, “Jangan lah kalian mencela Mudhar dan Rabi’ah (saudara lelaki Mudhar), karena keduanya adalah orang orang yang beriman.”

Jangan Kalian memusuhinya

Menjelang usia senja, Mudhar masih belum mendapatkan anak, sehingga ia merasa putus asa. Namun, diakhir usianya, Allah menganugerahinya seorang putra, hingga digelarinyalah sang anak dengan sebutan Ilyas, atau Al-Ya’s, yang semakna dengan kata al-qunuth, ‘putus asa’. Adapun nama sebenarnya adalah Husain atau Habib.

Sebagaimana orang orang tuanya, postur badannya juga tinggi besar. Dikenal sebagai seorang ahli hikmah (memiliki kebijaksanaan), ia dihormati layaknya kedudukan Luqmanul Hakim ditengah tengah kaumnya. Ia juga dijuluki Sayyidul ‘asyirah,  atau ‘penghulu dari keluarga besar masyarakat’, pada saat itu. Disebutkan, gelar itu tidak diberikan kaumnya pada saat itu kecuali kepadanya.

Keberadaan nur Muhammad dalam dirinya amat terang sebagaimana dikabarkan pada hadits mutawatir bahwa dari sulbinya terdengar suara dzikir dan ucapan talbiyah Rasulullah saw sebagaimana talbiyah orang yang sedang naik haji.

Diriwayatkan, dialah orang yang pertama kali wafat kakrena penyakit TBC. Istrinya sangat bersedih atas wafatnya, hingga sang istri bernadzar tidak mau tinggal di kota tempat Ilyas wafat, tidak mau tinggal di rumah atau berteduh di bawah atap. Ia menangisinya sepanjang siang dan malam, sampai air matanya mengalir di tanah, dan kemudian wafat dalam kesedihan.

Mudrikah adalah salah seorang putra yang ditinggalkannya. Nama sebenarnya ‘Amr. Ia digelari Mudrikah karena adraka kulla fakhrin wa ‘izzin fi aba’ihi, mendapatkan semua kemuliaan datuk datuknya. Disebutkan pula bahwasanya nurul mushthofa Saw zhahiran wa bayyinan fi jabinihi, nur Muhammad saw tampak jelas didahinya.

Kemuliaan sifat sifat Mudrikah, berikut cahaya yang berada disulbinya, menurun kepada putranya yang bernama Khuzaimah. Salah satu pendapat mengatakan bahwa sebab penamaan ‘Khuzaimah’, liannahu khuzima,  adalah karena nur datuk datuknya dan nur Muhammad berkumpull dalam dirinya. Seorang penyair mengatakan, ‘Adapun Khuzaimah memiliki banyak kemuliaan akhlaq yang terdapat padanya dan tidak ada pertentangan tentang hal itu.”

Mengenai seorang putra Khuzaimah, disebutkan bahwasanya annahu fi kinni bayna qawmihi aw li annahu kana yukinnu asrarahum, “ia berada dalam penjagaan diantara kaumnya atau karena ia menjaga rahasia kaumnya.” Karena nya, ia dinamakan ‘Kinanah’. Kinanah dikenal sebagai seorang pemimpin yang baik dengan kedudukan yang agung. Orang orang Arab mendatanginya karena ilmu dan keutamaannya. Kalau hendak makan, ia selalu mencari kawan untuk makan bersama, tidak mau makan sendiri.

Isyarat akan kedatangan Nabi Muhammad saw pernah dilontarkannya, yaitu saat ia mengatakan, ‘Sungguh,akan datang seorang nabi yang mulia dari kota Makkah yang dipanggil ‘Ahmad’. Ia menyeru kepada Allah, kebaikan, dan akhlaq yang mulia. Ikutilah, niscaya akan bertambah kemuliaan kalian. Jangan kalian memusuhinya, karena sesungguhnya dia membawa kebenaran”.

Aku dilahirkan dari….

Diantara istri Khuzaimah (ayah Kinanah), ada yang bernama Barrah binti Udd bin Thabikhah. Setelah Khuzaimah wafat, sebagaimana kebiasaan pada masa jahiliyyah, istrinya itu dinikahi oleh putra tertuanya, yaitu Kinanah. Ada yang mengatakan bahwa An-Nadhr terlahir dari pasangan Kinanah dan Barrah binti Udd, janda ayah Kinanah sendiri. Pendapat tersebut adalah pendapat keliru.

Abu Utsman Al-Jahizh mengatakan, “Kinanah menikahi istri ayahnya itu, tapi kemudian istrinya itu wafat tanpa meninggalkan seorang anak laki laki atau perempuan baginya, maka ia menikahi keponakan istrinya yang telah wafat itu, yang bernama Barrah binti Murr bin Udd bin Thabikhah. Maka kemudian lahirlah An-Nadhr. Maka kebanyakan orang rancu dengan hal ini dikarenakan kesamaan nama kedua istrinya itu dan nasab keduanya yang dekat membuat susunan namanya pun hampir mirip.”

Ia menambahkan, “inilah kenyataan yang dipegang oleh para ahli ilmu dan ahli nasab, dan kita berlindung kepada Allah atas (pandangan yang menganggap adanya) cacat dalam nasab Rasulullah saw. Karena, Rasulullah saw mengatakan, ‘Aku dilahirkan dari orang tuaku senantiasa dari pernikahan seperti halnya pernikahan islam’.

Nama sebenarnya adalah Qays. An-Nadhr adalah gelarnya, linadharatihi wa husni wajhihi, karena keelokan dan ketampanan wajahnya.

Hingga kemudian sisilah suci itu berlanjut kepada salah seorang putra An-Nadhr yang bernama Malik. Nama itu diberikan karena suatu saat kelak ia akan menjadi seorang pemimpin. Memang keadaan sebenarnya membuktikan itu. Setelah dewasa, ia menjadi pemimpin bangsa Arab di zamannya.

Sedikit yang Ada ditanganmu..

Setelah An-Nadhr, tersebutlah nama salah seorang putranya yang tersohor, yaitu Fihr. Ia juga dinamakan Quraisy, li annahu yaqrusy, maknanya “ia meneliti hajat orang yang memiliki hajat, kemudian ia menutupi hajat orang tersebut”. Sehingga menjadi kebiasaan bagi keturunannya yang memiliki kebiasaan seperti itu, hingga seorang Quraisy dikenali orang baik karena nasabnya maupun karena sifat terpujinya itu.

Berdasarkan pendapat yang paling tepat, Fihr adalah leluhur suku Quraisy. Karena suku itu sendiri mengambil nama suku dari namanya. Yang lainnya mengatakan bahwa leluhur Quraisy adalah An-Nadhr bin Kinanah, atau Ilyas bin Mudhar, atau Mudhar bin Nizar.

Kelanjutan penjagaan nur Muhammad dari sulbinya diteruskan kepada sulbi sang putra yang bernama Ghalib. Diantara ucapan Fihr kepada anaknya itu, ‘Sedikit yang ada ditanganmu itu lebih mencukupi mu, daripada banyak tapi mencoreng wajahmu, sekalipun itu menjadi milikmu’. Ia menamakan putranya dengan ‘Ghalib’, bi an yashira ghaliban ‘ala a’da-ihi, karena ia akan menjadi orang yang menang terhadap musuh musuhnya.

Dari Ghalib, nur nan suci itu berpindah kepada putranya yang bernama Lu’ay. Kata lu’ay, yang merupakan perubahan berntuk dari kata la’ay, semakna dengan kata al-anah, “perlahan lahan”. Dinamakan ia dengan itu, li annahu kana ‘indahu ta’annin fil umur, karena ia perlahan lahan pada setian urusannya.

Segera datang pagi yang terang…

Lu’ay memiliki putra yang ia namakan Ka’ab. Lantaran memandang ketinggian dan kemuliaan nya ditengah tengah kaumnya, karena kullu syai’in ‘ala fahuwa ka’bun,  setiap sesuatu yang tinggi itu disebut ka’b. Sebagaimana juga Bait Al-Haram disebut ‘Al-Ka’bah’

Dialah yang pertama kali menyebutkan nama hari Jum’at , hari yang dulunya disebut sebagai hari ‘Arubah,  karena di hari itu kaum Quraisy berkumpul. Saat itu ia mengingatkan mereka akan kebangkitan Nabi Saw, memberi tahu mereka bahwa nabi itu dari keturunannya, dan menyerukan kepada mereka agar mengikutinya.

Berdasarkan penuturan Abdurrahman bin Auf Ra, seperti dikemukaan Ibnul Jauzi dalam Al-Qafa bi Ahwalil Mushthafa,  disebutkan bahwa Ka’ab bin Lu’ay mengumpulkan kaumnya disuatu tempat. Diantara yang dikatakannya adalah, “…Malam kelam perlahan lahan mulai hilang dan akan segera datang pagi yang terang dan terang benderang… hendaklah kalian menghias rumah suci kalian (Ka’bah) dan muliakanlah selalu. Kalian pun hendaknya tetap berpegang pada kesucian Ka’bah. Kelak akan datang berita besar bahwa dari tempat suci itu akan keluar seorang nabi yang amat mulia…”

Dia mengatakan, ‘Demi Allah, bila aku ada pada saat itu (saat keberadaan Nabi Muhammad) dalam keadaan penuh kesadaran, aku akan putuskan dengan mantap, dan kuikat seperti hal nya kuikat sebuah unta.’

Ia menegaskan kembali hal itu seakan ia telah mengetahui bahwa nanti, disaat kemunculan Nabi Saw, kaum kerabatnya sendiri banyak yang mengingkarinya. ‘Duhai seandainya aku dapat menyaksikan dakwahnya (Muhammad Saw) ketika kaum kerabatnya sendiri yang pada awalnya mengharap kan datangnya kebenaran tapi kemudian menjadi hina (karena mereka mengingkarinya)’

Imam Al-Mawardi mengatakan, ‘Inilah yang disebutkan sebagai fitrah fitrah dari ilham, yang ditampakkan akal lalu terbukti akan kebenarannya, dan digambarkan oleh jiwa lalu terwujud.’ Itu terjadi sekalipun jarak wafatnya ia dengan hijrahnya Nabi Saw adalah 232 tahun didalam hitungan tahun Masehi. Disebutkan, ia termasuk orang yang paling jelas keberadaan nur Muhamad pada dirinya.

Orang yang memuliakan orang hina…

Ka’ab meneruskan kepemimpinannya pada seorang putranya yang ia namakan ‘Murrah’. Ia dinamakan itu, li annahu yashiru murran ‘alal a’da’i,  karena putranya ini akan berjalan melewati atau melangkahi musuh musuhnya, maksudnya ia selalu dapat mengalahkan dan menundukkan musuhnya. Begitu pun putra Murrah yang dikenal bernama Kilab. Sebabnya adalah limukalabatihil a’da’a fil harbi, karena ia selalu mengalahkan musuh dalam peperangan. Sedangkan nama sebenarnya adalah Hakim atau ‘Urwah atau Al-Muhadzdzab.

Ia memiliki dua putra, Qushay dan Zuhrah. Qushai melanjutkan trah silsilah pewarisan bersemayamnya nur Muhammad, hingga kelak sampai pada ayah Nabi Muhammad Saw, Abdullah. Sedangkan, Zuhrah, menurunkan kabilah yang cukup disegani dimasa itu. Bani Zuhrah namanya. Diantara yang terlahir dari keluarga Bani Zuhrah adalah ibunda Nabi Muhammad saw, Siti Aminah. Karenanya, pada diri Kilab inilah bertemunya nasab kedua orang tua Nabi muhammad saw.

Mengenai Qushay putra Kilab, Abdul Muthalib, kakek Rasul Saw, pernah memujinya dengan sebuah qashidah, “Datuk kalian Qushay dipanggil Mujammi’ (orang yang mengumpulkan), dengan nya Allah mengumpulkan seluruh kabilah Quraisy setelah mereka mulai terpecah belah menjadi 12 kabilah. Sebagaimana datuknya dulu, Ka’ab bin Lu’ay, ia juga mengumpulkan mereka untuk mengingatkan akan dibangkitkannya seorang nabi yang mulia di tanah haram.

Sejarah mencatat, Qushay memainkan peranan besar dalam sejarah Makkah saat ia menciptakan berbagai ketentuan penting mengenai peziarahan ke Ka’bah tiap tahun. Dalam syari’at islam, ritus ziarah itu kemudian dikenal sebagai ibadah haji, setelah diadakan berbagai perubahan sesuai dengan prinsip prinsip ajaran islam. Diantara yang pernah dikatakannya, ‘Orang  yang memuliakan orang yang hina, maka ia akan berserikat dengan kehinaannya.’

Para sejarawan mencatat nama Abdu Manaf sebagai putra Qushay yang termulia, termasyhur, dan terkuat. Nama sebenarnya adalah Al-Mughirah, biannahu yughiru ‘alal a’da’,  karena ia membuat segan musuh musuhnya. Ia dita’ati oleh suku Quraisy. Karena keelokan nya, ia juga dijuluki Qamarul Bathha’,  ‘bulan yang indah’. Diriwayatkan, nur Muhammad memancar jelas dari wajahnya. Ia juga dikenal sebagai pemegang panji bendera Nizar dan tombak Ismail As.

Ia digelari ‘Abdu Manaf’ pada awal nya karena sewaktu kecilnya ibunya menjadikan ia sebagai pelayan berhala bernama Manat, hingga ia dikatakan ‘Abdu Manat’. Ayahnya melihat tanda tanda kemuliaan memancar pada dirinya, dan kemudian menggantinya dengan ‘Abdu Manaf’. Adapun apa yang diperbuat ibunya terhadap dirinya tidak mengurangi kemuliaan dirinya, karena disebutkan bahwa hal itu dikarenakan ia menjaga berhala itu karena mahalnya harga berhala tersebut, dan tidak terjadi peribadatan atau i’tiqad ketuhanan terhadap berhala itu. Dan saat itu adalah masa fatrah, mada kekosongan: para rasul sebelumnya sudah wafat, sedang rasul berikutnya belum ada.

Mengenai keyakinan yang ada pada dirinya, diantaranya tergambarkan dari beberapa batu di zaman dahulu yang menuliskan  perkataannya ‘Aku Al-Mughirah putra Qushay, kuwasiatkan kaum Quraisy untuk bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahim.’

Dikatakan tentang dirinya, ‘Sesungguhnya kaum Quraisy itu memiliki keturunan, maka meneteslah inti kemuliaannya kepada Abdu Manaf.’ Ia wafat di kota Makkah, ada pula yang mengatakan nya di kota Ghazzah.

Tidaklah aku menikah kecuali…

Napak Tilas Nur Muhammad ...BERLABUH KEPADA MA’AD, SAATNYA SEMAKIN DEKAT...Seorang putra Abdu Manaf, Hasyim, telah menampakkan jiwa kepemimpinannya sejak kecil. Bahkan dikatakan, ia telah memimpin kaumnya sejak masih kecil. Ia bernama Amr Al-‘Ula. Li’uluwwi martabatihi, karena ketinggian martabatnya. Disebutkan, setiap orang yang melihatnya akan mencium tangannya. Masyarakat Arab saat itu menyodorkan anak anak perempuan mereka kepadanya, agar ia berkenan menikahinya.

Ia seorang yang sangat mulia dan diagungkan di tengah tengah kaumnya. Dinamakan ‘Hasyim’ karena ia yahsyimu ats-tsarid li adh-dhaif, memotong motong (menghidangkan) roti kering untuk tamu tamunya. Hingga dikatakan perihal Hasyim itu, ‘Hidangannya selalu tersedia, tidak terangkat, baik pada saat kesusahan maupun saat kekenyangan.’ Sampai saat ini ada ungkapan yang sering dikatakan orang, Al-Karam ‘inda Bani Hasyim, ‘kemuliaan dimiliki oleh bani Hasyim’. Ungkapan itu terutama saat menggambarkan bagaimana keluarga Bani Hasyim hingga saat ini memiliki kemurahan tangan dan kebiasaan memuliakan tamu tamu mereka.

Ketika nur Muhammad sampai pada sulbi Hasyim, tersebarlah berita diseluruh penjuru dunia bahwa sudah dekat saat datangnya nabi akhir zaman, yang diutus untuk seluruh umat manusia.

Para pendeta Yahudi dan Nasrani dizamannya berlomba lomba mendapatkan silsilah mata rantai nur tersebut. Untuk tujuan itu, mereka menyodorkan putri putri mereka untuk dinikahinya, namun ia mengatakan , ‘Demi Allah, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam ini, tidaklah aku akan menikah kecuali dengan wanita tersuci di seluruh alam,’

Putra Hasyim yang bernama ‘Abdul Muthalib dilahirkan di Yatsrib, atau Madinah. Kulitnya sawo matang. Ia dibesarkan di Makkah, disisi pamannya, Al-Muthalib bin Abdu Manaf. Al-Muthalib, pamannya ini adalah leluhur Imam Syafi’i Ra. Sebelum ayahnya wafat, ia meminta kepada saudaranya, Al-Muthalib, ‘Adrik ‘abdak bi yatsrib.’ Artinya “ambillah hambamu (keponakanmu) di Yatsrib (Madinah).

Maka setelah Hasyim wafat, ia mengambil keponakannya itu dari ibunya di kota Madinah, untuk menyenangkannya. Maka kemudian ia disebut ‘Abdul Muthalib’

Saat dilahirkan, fi ra’sihi syaibah, ada uban dikepalanya, kelahirannya seakan  udhifa lil hamd, dipersiapkan untuk dipuji. Itu karena banyaknya orang yang memujinya. Karenanya, nama sebenarnya adalah Syaibah Al-Hamd.

Ia adalah tempat mengeluh Bani Quraisy di kala mereka susah. Ia seorang yang cerdas, lisannya fasih, hatinya hadhir, dan sangat dicintai kaumnya. Berkah nur Muhammad yang bersemayam dalam dirinya, kaumnya mengenal Abdul Muthalib akan doa doanya yang selalu dikabulkan Allah swt.

Sekalipun belum masuk pada masa kenabian cucunya, ia tidak digolongkan sebagai orang kafir. Ia termasuk dalam ahlul fatrah. Dalam perang Hunain, Rasulullah mengatakan dengan penuh kebanggaan, ‘Aku seorang nabi, tidak berdusta, aku adalah putra Abdul Muthalib’

H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini (alm.), seorang ulama dan sejarawan islam yang produktif menulis buku, mengatakan , ‘Tidak mungkin beliau membanggakan Abdul Muthalib jika ia seorang kafir, sebab hal itu tidak diperkenankan.”

Sebagai sesepuh Quraisy, yang merupakan mayoritas penduduk Makkah, ia berseru dan menganjurkan penduduk agar segera meninggalka Makkah, mengungsi ke daerah pegunungan yang aman. Sementara ia sendiri tidak pergi meninggalkan Mekkah dan hendak bertahan dengan cara apapun yang mungkin dapat ditempuh. Setiba bala tentara Abrahah di perbatasan Makkah, Abdul Muthalib berserah diri kepada Tuhan, penguasa Ka’bah. Seraya berpegang pada daun pintu Baitullah itu, ia menengadahkan tangan, ‘Ya Tuhan, hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa dan hanya Engkaulah yang dapat mengalahkan Abrahah beserta bala tentaranya. Engkau sajalah yang akan melindungi Rumah suci ini dari kejahatan manusia durhaka dan congkak.’

Kemudian terjadilah apa yang dikehendaki Allah. Belum sempat pasukan Abrahah menyerbu ke Makkah. Allah menghancurkan bala tentara itu dengan menurunkan burung burung Ababil, yang melontari mereka dengan batu sijjil. Itulah kenyataan sejarah yang disaksikan sendiri oleh penduduk Makkah dari tempat tempat pengungsian, dan yang langsung diderita oleh bala tentara Abrahah.

Abdul Muthalib wafat pada usia 82 tahun, versi sejarah lainnya mengatakan 110 atau 120 tahun, kala Muhammad berusia delapan tahun. Ummu Aiman, pengasuh Nabi, menceritakan, “Ketika saya melihat ia (Muhammad) duduk ditempat tidur Abdul Muthalib sampai menangis.” Dan ia masih terus menangis saat turut mengantar jenazah ke pekuburan Hajun, Makkah.

Abdul Muthalib mempunyai banyak putra, diantaranya adalah bernama Abdullah. Dan Abdullah inilah ayah Muhammad Shollallahu ‘alayhi wasallam, sang nabi akhir zaman yang sejak lama telah dinanti kedatangannya itu…….

Bersambung

Sumber: Majalah AlKisah no.06/Maret 2009

http://pecintahabibana.wordpress.com/sirah-nabawiyah/

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *