Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami’ah Bagian 31

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang mengumpulkan hati dan menyiraminya dengan rahmat dan kasih sayang, yang membuka hati dan mengisinya dengan cahaya iman lalu semakin terang hati tersebut dengan dzikrullah ketika hati itu mengenal Allah dan semakin asyik maka datang ia kepada mihrab dan kemudian menyembah Allah merasakan kelezatan munajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala , ya Hayyu ya Qayyum sirami hati hati kami di majelis malam hari ini dengan rahmatMu amin ya robbal ‘alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, telah kita baca tadi sabda sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam, hadits yang berkenaan dengan malam – malam mulia dan bulan mulia yang mendatangi kita, bulan dzulhijjah dan awwal sepuluh malam pertama dibulan dzulhijah, kemuliaannya disabdakan oleh Rasul dan diberitahukan kepada kita dimalam hari ini dalam majelis yang mulia ini, agar bisa membangkitkan kita punya sanubari untuk semangat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, disebutkan dalam hadits tersebut bahwa tidak ada hari hari yang lebih Allah mencintai amal sholeh dilakukan pada hari hari tersebut melebihi hari hari ini yaitu hari awal sepuluh di bulan dzulhijjah dan kita telah memasukinya,

Hari awal sepuluh bulan dzulhijjah inipun terjadi berpapasan dengan peristiwa Nabiallah Musa as. Dizaman beliau, menunjukan lebih dari kemuliaannya daripada bulan bulan yang lain dan hari hari yang lain, didalam al-quran Allah berfirman mengenai peristiwa tersebut……. “dan telah Kami janjikan Nabiallah Musa 30 malam,…..” ini peristiwa sebelum Nabiallah Musa AS bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala dan Allah ta’ala telah memberikanwahyu wahyu yang telah dijanjikanNya, sebelum bertemu dan berbicara dengan Allah , Nabiallah musa diperintahkan Allah sebagaimana disebutkan didalam tafsir Imam Baghawi,Allah perintahkan beliau untuk berpuasa sebelum bertemu dengan Allah, maka berpuasalah Nabiallah Musa 30 hari dan itu terjadi pada bulan dzulqo’dah yang telah kita lewati, selesai bulan Dzulqo’dah 30 hari beliau berpuasa, lalu beliau merasakan bau mulut yang keluar dari mulut beliau karena berpuasa 30 hari lamanya kurang enak dicium baunya lalu beliau bersiwak, maka Malaikatpun protes atas perbuatan Nabiallah Musa ketika menghilangkan bau yang dicintai oleh merka, karena bau yang dikeluarkan dari mulut orang yang berpuasa itu dicintai para malaikat bahkan dicintai Allah subhanahu wata’ala karena lebih harum daripada bau minyak misk, maka ketika Nabiallah Musa berpuasa 30 hari dan menghilangkan bau tersebut maka para Malaikat bertanya mengapa engkau hilangkan bau itu?bau yang sangat wangi bagi kami, maka Allah ta’ala pun menyuruh Nabiallah Musa menambahkan puasa sepuluh hari setelah 30 hari selesai karena perbuatannya berusaha menghilangkan bau mulut yang disebabkan berpuasa dengan siwak, maka ditambahlah 10 hari, “maka sempurnalah perjalanannya 40 hari”, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sepuluh hari puasa tambahan yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ini terjadi pada sepuluh awal bulan dzulhijjah yang kita alami ini pada zaman beliau,

Apa yang dapat kita ambil dari peristiwa Nabi Musa ketika menghilangkan bau mulut dengan siwak setelah 30 hari berpuasa, ini mengajarkan bahwa ibadah itu kita kerjakan bukan dengan semaunya kita, hadirin hadirat sekalian kita semua tau bahwa siwak memiliki fadhilah besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasul menyebutkan didalam hadits “ dua rakaat dengan siwak lebih baik drpd 70 rokaat tanpa siwak” dalam riwayat lain ,”shalat dengan siwak lebih baik daripada 70 sholat tanpa siwak “. Fadhilah siwak akan menganggkat pahala sholat yang kita kerjakan, satu banding 70, ketika diperintahkan oleh Allah dan Rasul maka jadi ibadah yang dicintai Allah siwak ini, tapi tiba tiba ketika perbuatannya dikerjakan ditempat yang tidak disukai Allah dan Rasul maka terbalik, sesuatu yang sama bendanya siwak yang tadinya mendatangkan keridhoan Allah tiba tiba Allah tidak suka kalau dilakukan bukan pada tempatnya, artinya ikuti ibadah sesuai perintah Allah dan RasulNya bukan dengan hawa nafsu dan kehendak kita, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, begitu pula seluruh ibadah, coba bayangkan jika seseorang ingin melakukan sholat lima waktu sebelum waktunya, kira kira sah atau tidak sholatnya? Tentu tidak sah, sholat dzhuhur jam 11, belum waktunya Allah belum perintahkan padahal sholat bagus, 4 rakaat dikerjakan sesuai dengan rukun dan syaratnya tapi ketika belum datang perintahnya maka sholat inipun bukannya mendatangkan keridhoanNya akan tetapi sebaliknya, begitu pula siwak, maka ibadahpun ternyata jika hanya mengikuti hawa nafsu dan mengikuti keinginan nafsunya jauh dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala tidak mendatangkan keberkahan dari Allah dunia akherat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, ketika Rasul sabdakan dalam hadits ini, ini hari awal sepluh bulan dzulhijjah memiliki fadhilah besar, amal sholeh yang dikerjakan tidak sebanding dengan amal sholeh lainnya, sahabat dalam pandangan mereka bahwa amal sholeh yang paling besar perjuangannya adalah jihad, maka mereka bertanya kepada Rasulullah, ya Rasulullah jihad itu apakah tidak bisa menandingi amal sholeh yang dikerjakan pada bulan ini?( Rasul menjawab) “ begitupun jihad di jalan Allah tidak dapat menandingi pahala amal sholeh yang dikerjakan seseorang pada awal bulan ini, kecuali jika ada seseorang yang keluar dijalan Allah membawa hartanya keluar dengan dirinya hadir dalam peperangan,kemudian terbunuh di medan perang,” itu baru amal sholeh yang bisa menandingi amal sholeh yang lain di bulan dzulhijjah. Di dalam riwayat ibn ‘uwanah dari sayyidina Abdullah ibn Umar RA menambahkan hadits ini,( walaupun dalam riwayat dh’if namun dalam kidah ilmu hadits dapat digunakan dlm amal fadhilah) “ perbanyak didalam hari hari tersebut takbir dan tahlil” untuk itu disunahkan jika kita melihat hewan hewan ternak sapi ataupun kambing pada hari hari ini disunahkan bagi kita bertakbir, dimanapun kita melihatnya dijalan ataupun ditempat yang lain maka kita bertakbir karena disitu ada sunah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, lalu puasa pun disunnahkan dalam tabahan hadits ini, puasa pada awal bulan dzulhijjah ingga tanggal 8 dzulhijjah yang disebut dengan hari tarwiyah disebutkan fadhilahnya puasa sehari bagaikan berpuasa setahun, kita jika ingin berpuasa setahun penuh tidak akan bisa dikarenakan ada hari hari yang diharamkan berpuasa oleh Allah seperti idul fitri dan idul adha serta hari hari tasyrik, tapi bagi yang berpuasa pada hari hari ini sama dengan berpuasa satu tahun itu adalah keberkahan bagi umat Sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam, maka hari hari ini menggambarkan bahwa hari ini besar dan memiliki fadhilah disis Allah subhanahu wa ta’ala dan jangan kita memandang hari ini sama dengan hari hari sebelum datangnya bula dzulhijjah, bangkitkan dibulan bulan ini , dirumah rumah kita dijalan jalan kita sunnah Sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam ta’zhim terhadap syiar syiar Allah sehingga terasa bahwa hari ini lain dengan hari hari lainnya dan begitulah tuntunan iman yang diinginkan oleh Rasul kepada umat Beliau salallahu ‘alaihi wa sallam.

Tausiyah Alhabib Jindan bin Nouvel bin Jindan
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami’ah Bagian 31, Allah SWT adalah Al Khalik (Sang Pencipta)

Assalamualaikum,wr,wb,

Di dalam kitab risalatul jamiah wa tatqiratun nafiah yang disusun oleh Al Arif Billah Al Alamah Al Imam Al Habib Ahmad Bin Zein Bin Aluwih Al Habsy, Beliau disini berbicara tentang permasalahan Tauhid,bahwasanya Allah SWT adalah Al Khalik (Sang Pencipta). Dan Allah SWT mencipatakan segala sesuatu yang ada di langit dan ada di bumi. Allah Ta’ala menciptakan langit.. Allah Ta’ala menciptakan bumi.. Allah Ta’ala meciptakan kematian..Allah Ta’ala menciptakan kehidupan.. Allah Ta’ala menciptakan ketaatan dan menciptakan kemaksiatan. Disebutkan dalam riwayat bahwasanya Allah SWT ketika menciptakan Nabi Adam,dan Allah meletakkan keturunan-2 Nabi Adam.. Seluruhnya itu dibentangkan dari umat Manusia yang kelak akan lahir di muka bumi. Ketika malaikat melihat betapa banyaknya jumlah mahluk2 tersebut Nabi Adam,maka Malaikat pun berkata “Ya Rabb,Dunia Tidak Akan Cukup Untuk Mereka Semua”..Allah Berfirman “Sesungguhnya AKU Juga Menciptakan Kematian,Sehingga Mereka AKU Matikan Silih Berganti” Jadi dunia cukup untuk mereka. Kalau sekaligus Bumi tidak akan cukup untuk mereka, lantas Malaikat berkata “Kalau Begitu Mereka Tidak Akan Menikmati Kehidupan?”

Maka Allah Ta’ala Mengatakan “AKU Menciptakan Rencana,Cita-2 Sehingga Dengan Cita-2 Tersebut Mereka Lupa Dengan Kematian”. Sesungguhnya jika seseorang apabila ia memakamkan saudaranya semua sahabatnya berada di sekitar maka Malaikat akan berkata kepada mereka yang hadir di pemakaman tersebut “Pulanglah Kalian Ke Dunia Kalian Ke Dalam Kesibukan Kalian,Maka Mudah-2’an Allah Ta’ala Membuat Kalian Lupa Kan Mayat Yang Kalian Makamkan”.

Al Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad mengatakan bahwa Malaikat tidak mendoakan hal-2 yang buruk,tetapi mendoakan hal-2 yang baik. Seandainya ingatan akan kematian tersebut terus menghantui manusia..maka kesibukan kehidupan duniawi akan hancur berantakan dan kacau balau. Akan tetapi kadar yang sedikit akan ingatan tentang kematian tersebut bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Allah Ta’ala menciptakan kematian dan Allah juga menciptakan kehidupan. Yang mana kehidupan manusia tersebut dikatakan bahwa manusia melalui 5 (lima) fase kehidupan.

Dimana fase yang pertama ketika Allah menciptakan Nabi Adam dan meletakkan anak keturunan beliau di dalam Sulbi Nabi Adam anak cucu keturunannnya hingga hari kiamat. Sehingga setiap individu terlahir ke dunia sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Itu adalah kehidupan kita yang pertama,dan kita semua yang ada disini sudah melalui fase kehidupan tersebut.

Fase kehidupan kedua adalah ketika dimulainya sesorang terlahir ke muka bumi,keluar dari perut ibunya sampai saat kematian. Dan ketika dia meninggal dunia mulailah fase kehidupan yang ketiga yaitu di Alam Barzah sana. Terus manusia di Alam Barzah tersebut hingga ditiupkannya Sangkakala yang pertama yang mana ketika itu seluruh mahluk yang pindah ke Alam Barzah ataupun yang masih di dunia dimatikan oleh Allah SWT. Ditidaksadarkan sampai tiupan Sangkakala yang kedua, dan itu merupakan fase kehidupan yang keempat. Yaitu yang disebut dengan Padang Mahsyar yang meliputi segala kejadian yang ada di dalamnya seperti Mizan,Shiroot,Telaga Rasulullah SAW..semuanya yang ada disitu sampai masuknya orang Surga ke dalam Surga,masuknya orang Neraka ke dalam Neraka.

Dan disitulah masuknya fase kehidupan yang terakhir,yaitu ketika masuknya penghuni Surga ke dalam Surga sampai kekal abadi. Dan penghuni Neraka ke dalam Neraka sesuai perbedaan mereka ada yang abadi dan ada yang sementara. Kemudian dalam kehidupan duniawi,Allah Ta’ala menciptakan kehidupan duniawi ini seperti dikatakan oleh Imam Aj Jauzi bahwa kehidupan manusia di dunia ini ada masa-2 fase-2 ketika dia masih masa kanak-2. Mulai mereka dari lahir hingga dia Baligh,ketika Bulugh masuklah ia fase kedua. Masa muda. Masa itu kira-2 umur 13-35 tahun,itu adalah masa-2 muda masa-2 produktif.

Kemudian setelah itu masuk pada kehidupan ketiga,yaitu masa yang sudah lebih matang. Ketika itu ditengah-2 usia atau ditengah-2 umur,sekitar usia 35 sampai lebih kurang 50 tahun. Kemudian setelah itu masuklah ia masa usia yang sudah lanjut, dari usia 50 sampai usia 70 tahun. Yaitu terjadi masa medan kematian yang umunya terjadi pada umur-2 tersebut. Rasulullah SAW mengatakan bahwa umur-2 umat-ku berada diantara umur 60 dan 70 tahun. Kemudian masuk fase yang terakhir,menurut ilmu Ibnu Jauzi yaitu masa usia lanjut tua renta. Itu antara usia 70 tahun sampai akhir dia meninggal wafat. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan hal-2 tersebut, menciptakan manusia dari satu tingkat ke tingkat yang lain hingga di wafatkan oleh SWT. Dan Allah Ta’ala menciptakan ketaatan dan kemaksiatan. Salah satu doa dari salah seorang Nabi Allah mengatakan “Tidaklah Taufik-ku Kecuali Dari Allah,Kepada-NYA’lah Aku ber-Tawakkal”

At Taufik adalah kekuatan yang diberikan Allah kepada Hamba sehingga Hamba tersebut melalukan ketaatan. Seseorang bisa taat itu dengan izin Allah. Imam Haddad mengatakan dengan Taufik dari Allah Ta’ala orang yang taat bisa menjadi taat. Kebalikan dari Taufik adalah Khuzdlan yaitu Allah Ta’ala menciptakan kekuatan kepada Hamba-NYA untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT. Dan begitu juga kemaksiatan diciptakan oleh Allah Ta’ala di dalah firman Allah “Dan Allah Yang Menciptakan Kalian Dan Amal Perbuatan Kalian”

Dengan itu sayyidina Ibrahim berkata “Ketika Aku Sakit,Maka DIA-lah yang menyembuhkan,yang mematikanku kemudian menghidupkanku” Dan Allah Ta’ala dengan izin-NYA menjadikan yang ini bermanfaat yang ini berguna yang ini menyembuhkan. Akan tetapi pada hakikatnya yang menyembuhkan adalah Allah. Allah yang memberikan manfaat dan Allah pula yang memberikan bahaya. Dan segala seuatu yang ada di alam semesta semuan diciptakan oleh Allah SWT yang baik ataupun yang tidak baik. Tidak ada yang terjadi di langit dan di bumi di alam semesta ini terkecuali dengan izin Allah. Di dalam ketentuan dari Allah SWT dan kekuasaan serta kehendak Allah Ta’ala. Allah yang menciptakan seluruh mahluk berikut amalan-2 mereka. Allah SWT telah menentukan Rizqi-2 setiap mahluk.

Di dalam Kitab Zubad disebutkan bahwa Rizki itu adalah sesuatu yang membawa manfaat. Itu adalah Rizqi dari Allah SWT, makanan, harta, jabatan, anak termasuk jodoh semua itu adalah Rizqi dari Allah SWT. Termasuk hadir di Majelis adalah Rizqi dari Allah SWT. Karunia dari Allah SWT. Guru kita Al Habib Anish Bin Aluwwy Al Habsyi itu ketika hadir di Majelis seperti ini di Solo, ketika dia merasakan kenikmatan apa yang Beliau dengar maka beliau berkata seperti Ayah dan Kakek beliau katakan “Segala Puji Bagi Allah Yang Telah Memberikanku ‘Makanan’ Ini”. Rizqi Batin karena kehadiran di Majelis ini. Dan Allah Ta’ala akan menjamin Rizqi seluruh mahluk yang ada di muka bumi ini. Tidak ada mahluk satupun di muka bumi ini melainkan Allah Ta’ala telah menjaminnya. Baik itu mahluk yang berjalan dengan 2 kaki,ataupun 4 kaki, 6 kaki, 1000 kaki ataupun yang tanpa kaki.. Semuanya telah dijamin oleh Allah Rizqi-nya. Namun khusus bagi mereka yang gemar hadir dalam majelis ilmu,menimba ilmu diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala memberikan jaminan khusu bagi mereka. Artinya yang lain dijamin dengan Allah satu jaminan,sedangkan yang menuntut ilmu oleh Allah dengan 2 jaminan. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mengeluh kepada Rasulullah di dalam riwayat ini sahabat tersebut memiliki saudara yang gemar hadir di Majelis Ilmu,kemudian dia mengeluh kepada Rasulullah agar menyarankan saudaranya untuk menghabiskan waktunya mencari uang membantunya. Maka Rasulullah berkata “Kamu mendapatkan Rizqi berkat Adikmu yang hadir di Majelis”. Rizqi tersebut telah ditentukan oleh Allah SWT.

Telah dikatakan oleh Al Habib Abdullah Bin Alwy Al Haddad “Allah Ta’ala Telah Menentukan Rizqi Seluruh Mahluk Dan Dicantumkan Di Dalam Al-Qur’an Maka Kita Ridho Dengan Rizqi Yang Telah Ditentukan Oleh Allah, Maka Itu Adalah Suatu Kewajiban”. Namun jika kita tidak puas dengan apa yang Allah berikan maka itu adalah termasuk Tamak, Rakus dan Serakah maka kita akan menjadi gila. Jangan terlalu menjadi beban bathin apa yang telah ditentukan oleh Allah. Rizqi yang telah ditentukan oleh Allah untuk orang lain tidak akan sampai ke hadapan kita. Rizqi yang buat kita pasti akan datang walaupun telat, seseorang tidak akan meninggal dunia hingga sebutir nasi yang merupakan Rizqi-nya telah berada di perutnya. Sebelum Rizqi orang itu tuntas maka tidak akan tuntas umurnya. Kalau Rizqi-nya sudah habis, maka habislah umurnya.

Tugas kita adalah menjalankan kewajiban kita kepada Allah Ta’ala, dalam beribadah dan bertaqwa. Allah Ta’ala pun telah mentakdirkan amalan manusia,rizqi manusia dan ajal mereka. Dan Allah Ta’ala berfirman “Dan Apabila Telah Datang Ajal Manusia Maka Tidak Dapat Ditunda Atau Dimajukan”. Allah SWT tidak akan menunda ajal seseorang jika telah datang kepadanya. Dan semua itu tidak dapat ditambah dan ataupun dikurangi, rizqi,ajal dan umur kita tidak dapat dikurangi. Semua itu telah ditentukan oleh Allah SWT tatkala kita ada di dalam perut Ibu kita. Sebelum kita dilahirkan dimuka bumi ini, semua itu telah tercatat di Lauful Mahfudz kemudian diberikan catatan kepada Malaikat ketika kita berada di kandungan.

Rasulullah SAW bersabda “Seseorang Itu Diawal Penciptaan-nya Di Dalam Perut Ibunya,40 Hari Sebagai Sekumpulan Air Mani. Kemudian Setelah Itu Menjadi Gumpalan Darah, Setelah Itu Menjadi Gumpalan Daging Dan Malaikat Tersebut Diutus Allah Menuliskan 4 Ketentuan. Umurnya Dia,Rezekinya Dia,Amalnya Dia Dan Ajalnya Dia”. Apakah dia orang yang beruntung ataupun sial telah ditentukan oleh Allah SWT. Sesungguhnya di dalam hal yang Ghaib disembunyikan oleh Allah Ta’ala 5 hal, berapa banyak kenikmatan yang dihasilkan dibalik terjadinya suatu musibah. Orang yang terlalu banyak berencana akan kecewa, sebab takdir Allah SWT tidak dapat dibatasi oleh pikiran. Apa yang ada di langit dan di bumi berdasarkan ketentuan Allah maka serahkanlah urusan tersebut pada Qodho dan ketentuan-NYA. Namun takdir tersebut misalkan seseorang melakukan kemaksiatan, mencuri atau bermaksiat kemudian ketika ditanya ia mengatakan bahwa itu adalah Takdir atau ketentuan dari Allah SWT. Maka ucapan orang tersebut lebih parah dan lebih besar dosanya dibandingkan kemaksiatan yang ia perbuat. Sebab hal tersebut menunjukkan bahwa keimanan orang tersebut cacat. Walaupun semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan pilihan kepada manusia untuk patuh untuk taat dan menjauhi larangan-2 Allah. Sesungguhnya para Ulama Aulia Wali Allah,walaupun mereka mengetahui segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah namun mereka tetap menuntut diri mereka untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan sejauh-2’nya. Namun dalam urusan musibah barulah mereka mengatakan bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala.

Imam Ali Bin Abi Tholib mengatakan ketika beliau ditanya mengenai Takdir, maka beliau mengatakan “Hal Itu Adalah Samudera Yang Sangat Dalam,Maka Janganlah Kau Menyelam Ke Dalamnya”. Dan itu adalah jalan yang gelap gulita,maka janganlah kau masuk ke dalamnya. Dan itu merupakan rahasia Allah SWT maka janganlah engkau bongkar.

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=444&Itemid=30

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *